Sardiyanto Sardiyanto
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Self Disclosure dalam Proses Pemulihan Klien Rehabilitasi BNN Provinsi Jawa Tengah Sufiana Nurlintang; Dini Rakhmawati; Farikha Wahyu Lestari; Sardiyanto Sardiyanto; Dian Ayu Kusumawardani; Sufiana Nurlintang; Dini Rakhmawati; Farikha Wahyu Lestari; Sardiyanto Sardiyanto; Dian Ayu Kusumawardani
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065.v6.i2.2026.2

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana self disclosure berperan dalam proses pemulihan bagi klien yang menerima rehabilitasi dari penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya di Badan Narkotika Nasional Jawa Tengah. Penelitian dilakukan melalui program Intervensi Berbasis Masyarakat Mekar Berseri yang berlokasi di Kelurahan Purwosari. Dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan desain studi kasus, data diperoleh dari tiga klien yang diwawancarai secara mendalam, dengan rentang usia 15-23 tahun. Data tersebut dianalisis menggunakan perangkat lunak MAXQDA berdasarkan lima aspek self disclosure yaitu kuantitas, valensi, akurasi, intensi, dan keintiman. Untuk memvalidasi data hasil penelitian dengan menggunakan triangulasi sumber data. Temuan penelitian menunjukkan adanya variasi dalam pengungkapan diri, di mana klien cenderung fokus pada hal-hal positif atau aspek tertentu yang berkaitan dengan pengalaman mereka dengan narkoba. Terdapat juga beberapa hambatan yang muncul, seperti kecenderungan untuk menyembunyikan masalah dan kurangnya kejujuran. Aspek kuantitas, keluasan, dan keintiman menjadi yang paling dominan, ditandai dengan kejujuran dan penilaian terhadap pengungkapan. Selain itu, ditemukan juga pengaruh kepribadian masing-masing individu. Kesimpulan dari penelitian ini menyoroti bahwa self disclosure adalah proses yang dinamis, yang memberikan dukungan bagi pemulihan melalui pengendalian diri, dukungan emosional, dan pengurangan rasa cemas. Rekomendasi diberikan untuk pemberian intervensi konseling yang lebih baik agar pengungkapan diri dapat dilakukan secara optimal.  
Resiliensi Keluarga dalam Mendampingi Pemulihan Penyalahgunaan Narkoba di BNN Provinsi Jawa Tengah Dea Putri Anggraeni; Dini Rakhmawati; Farikha Wahyu Lestari; Sardiyanto Sardiyanto; Dian Ayu Kusumawardani; Dea Putri Anggraeni; Dini Rakhmawati; Farikha Wahyu Lestari; Sardiyanto Sardiyanto; Dian Ayu Kusumawardani
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065.v6.i2.2026.7

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana keluarga mampu bertahan, bangkit, dan mendukung klien yang sedang menjalani pemulihan penyalahgunaan narkoba di BNN Provinsi Jawa Tengah, khususnya dalam program Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) Mekar Berseri di Kelurahan Purwosari, Kota Semarang. Penelitian ini berfokus pada bentuk, proses, dan faktor-faktor yang membentuk ketahanan keluarga saat mendampingi anggota keluarga yang sedang menjalani rehabilitasi narkoba. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan tiga orang ibu yang menjadi pendamping klien rehabilitasi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MAXQDA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga mampu menunjukkan berbagai dimensi resiliensi, seperti kemampuan menerima situasi sulit dengan cara positif, menjaga komunikasi yang baik, serta membangun dukungan dan struktur keluarga yang saling mendukung. Selain itu, penelitian ini juga menemukan hal baru yang tidak tercakup dalam model resiliensi menurut Walsh, yaitu spiritualitas sebagai sumber utama kekuatan dan harapan bagi keluarga dalam menghadapi kesulitan. Nilai-nilai spiritual seperti doa, ibadah, dan keyakinan kepada Tuhan menjadi faktor penting dalam menjaga emosi keluarga tetap stabil serta mendorong keluarga agar tetap optimis dalam mendampingi klien hingga mereka pulih. Dengan demikian, resiliensi keluarga tidak hanya mencakup aspek struktural dan emosional, tetapi juga dimensi spiritual yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses pemulihan anggota keluarga.