Pendidikan karakter di sekolah dasar Indonesia lebih sering dibicarakan sebagai program, padahal anak belajar watak pertama-tama dari cara orang dewasa memperlakukannya. Sistem among Ki Hadjar Dewantara menempatkan relasi itu di pusat pendidikan melalui ngemong, yaitu membimbing anak dengan kasih tanpa paksaan. Artikel ini membaca ngemong di sebuah SD Tamansiswa di Yogyakarta dengan kerangka seni mencintai Erich Fromm, yang terdiri atas kepedulian, tanggung jawab, pengetahuan, dan penghormatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan ketua yayasan, kepala sekolah, dan pamong kelas I sampai VI, observasi partisipan, serta dokumentasi, lalu dianalisis secara abduktif. Kepedulian dan tanggung jawab hadir kuat dan konsisten: pamong menolong anak dari kelas mana pun, menunggui anak yang belum dijemput, dan meninggalkan hukuman yang mereka nilai tidak mendidik. Pamong juga berusaha mengenal anak satu per satu. Penghormatan hadir dalam banyak praktik, tetapi paling mudah goyah ketika anak belum mengikuti tuntutan kelas atau ketika tekanan dari luar meningkat. Pola ini kami jelaskan melalui dua arah hormat, yaitu dari anak kepada yang tua dalam etika Jawa dan dari pendidik kepada anak menurut Fromm dan Ki Hadjar. Artikel ini menawarkan empat pertanyaan reflektif bagi guru dan mengusulkan agar pendidikan sopan santun dikembangkan menjadi hormat dua arah.
Copyrights © 2026