cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi" : 36 Documents clear
Hubungan status gingiva dengan kebiasaan menyirih pada masyarakat di Kecamatan Manganitu Hontong, Cheny; Mintjelungan, Christy N.; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14157

Abstract

Abstract: Oral health is very important for every individual. Gingivitis is an inflammation of the gingiva caused by the interaction of microorganisms in plaques and bad habits inter alia the habit of chewing betel. This study was aimed to determine the relationship of gingival status and chewing habits based on the duration of betel chewing and chewing frequencies per day among Manganitu district community. This was a descriptive-analytical study with a cross-sectional design. Samples were taken by using purposive sampling. There were 39 respondents as samples. Clinical data of the gingival status was measured by using gingival index (GI) of Loe and Sillnes. The results of chi-square analysis showed a significant correlation between the gingival status and the betel chewing habit based on the duration of betel chewing habit (p = 0.000) and the frequency of betel chewing per day (p = 0.001). Conclusion: Gingival status of Manganitu district community who had betel chewing habit was classified in the severe category.Keywords: Status gingiva, chewing habits, Manganitu districts. Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut sangat penting bagi setiap individu. Gingivitis merupakan inflamasi pada gingiva yang disebabkan oleh interaksi mikroorganisme pada plak dan kebiasaan buruk, salah satunya ialah kebiasaan menyirih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gingiva dengan kebiasaan menyirih berdasarkan lama menyirih dan frekuensi menyirih perhari pada masyarakat kecamatan Manganitu. Jenis penelitian ialah deskriptif-analitik dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling sebanyak 39 responden. Data klinis tentang status gingiva diukur menggunakan gingival index (GI) menurut Loe dan Sillnes. Berdasarkan hasil uji analisis chi-square terdapat hubungan bermakna antara status gingiva dengan kebiasaan menyirih berdasarkan lama menyirih (p=0,000) dan frekuensi menyirih (p=0,001). Simpulan: Status gingiva masyarakat kecamatan Manganitu yang memiliki kebiasaan menyirih tergolong dalam kategori berat. Kata kunci: status gingiva, kebiasaan menyirih
Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan index of orthodontic treatment need pada siswa usia 12-13 tahun di SMP Negeri 1 Wori Kolonio, Fanessa E.; Anindita, P. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14164

Abstract

Abstract: Malocclusion is a form of occlusal disorders caused by irregular teeth growthas well as sizes and position of teeth. Malocclusion could create some disturbances in both physical and mental health of a person including problems in oral function, mastication, highly risk of trauma, periodontal diseases, and caries. Esthetically, malocclusion could affect a person’s appearances and psychological development especially in adolescent. Orthodontic treatment is performed to fix the malocclusion that could affect one’s oral health. The needs of orthodontic treatment itself can be leveled by using Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). This study was aimed to obtain the needs of orthodontic treatment based on IOTN among students aged 12-13 years old at SMPN 1 Wori. This was an observational descriptive study with a cross sectional design. There were 30 respondents obtained by using purposive sampling technique. The need of treatment was leveled by using IOTN consisted of two components: aesthetic component (AC) and dental health component (DHC). The needs of orthodontic treatment measured with AC, 27 person (90%) were as follows: no need or little need for treatment in 27 students (90%); borderline need in 2 students (6.7%); and treatment required in 1 student (3.3%). The needs of orthodontic treatment based on DHC were as follows: no need or little need for treatment in 18 students (60%); borderline need in 8 students (26.7%); and treatment required in 4 students (13.3%).Keywords: malocclusion, needs of orthodontic treatment, IOTN. Abstrak: Maloklusi merupakan penyimpangan oklusi akibat tidak teraturnya pertumbuhan, posisi, serta ukuran gigi. Maloklusi dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik dan psikis, antara lain dapat mengganggu fungsi oral, mastikasi, berisiko tinggi terhadap trauma, penyakit periodontal, dan karies. Maloklusi secara estetis juga dapat memengaruhi penampilan wajah seseorang dan perkembangan psikologis terutama pada remaja. Perawatan ortodonsi ditujukan untuk memperbaiki maloklusi yang dapat memengaruhi kesehatan gigi dan rongga mulut. Perawatan ortodonsi yang tepat dapat dilihat dari tingkat kebutuhan perawatan ortodonsi yang diukur dengan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan IOTN pada siswa berusia 12 - 13 tahun di SMP N 1 Wori. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian berjumlah 30 siswa diperoleh dengan teknik purposive sampling. Kebutuhan perawatan ortodonsi menggunakan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) dengan dua komponen, yaitu Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC). Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan AC yaitu: 27 orang (90%) tidak atau butuh perawatan ringan; 2 orang (6,7%) perawatan borderline; dan 1 orang (3,3%) sangat butuh perawatan. Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan DHC yaitu: 18 orang (60%) tidak atau butuh perawatan ringan; 8 orang (26,7%) perawatan borderline, dan 4 orang (13,3%) sangat butuh perawatan. Kata kunci: maloklusi, kebutuhan perawatan, IOTN
Status gingiva siswa tunagrahita di sekolah luar biasa santa anna tomohon Ratulangi, Marly H.R.; Wowor, Vonny N.S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13928

Abstract

Abstract: Mental retardation means delayed mental development which is far below average. Students with mental retardation have difficulty to study, communicate, and socialize. They also have limited physical abilities even in daily activities, such as brushing their teeth themselves; therefore, they have higher risk of tooth decay and periodontal tissue disorders such as gingivitis compared with normal individuals. This study aimed to determine the gingival status of students with mental retardation at SLB Santa Anna Tomohon. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Population of this study was all of mentally retarded students as many as 51 students obtained by using total sampling method. Data consisted of checking sheets of gingival indexes. The results showed that the gingival status of 39 mentally retarded students (76.5%) was in mild inflammation category. Conclusion: Most students of SLB Santa Anna Tomohon had gingival status of mild inflammation category.Keywords: gingival status, tunagrahita student. Abstrak: Siswa tunagrahita atau retardasi mental ialah siswa yang mengalami keterlambatan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam belajar, berkomunikasi, maupun bersosialisasi. Kemampuan fisik yang terbatas membuat tunagrahita kurang mampu untuk menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari secara normal contohnya dalam hal membersihkan rongga mulutnya sendiri. Hal ini menyebabkan tunagrahita berisiko lebih tinggi dibandingkan dengan individu normal terhadap kerusakan gigi geligi dan kelainan jaringan periodontal seperti gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gingiva siswa tunagrahita di SLB Santa Anna Tomohon. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa tunagrahita berjumlah 51 siswa. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar pemeriksaan status gingiva dengan indeks gingiva. Hasil penelitian menunjukkan status gingiva siswa tunagrahita Sekolah Luar Biasa Santa Anna Tomohon sebagian besar termasuk kategori inflamasi ringan (indeks gingiva 0,7) yaitu sebanyak 39 responden (76,5%). Simpulan: Status gingiva sebagian besar siswa tunagrahita Sekolah Luar Biasa Santa Anna Tomohon termasuk dalam kategori inflamasi ringan. Kata kunci: status gingiva, siswa tunagrahita.
Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan lepasan pada masyarakat Desa Kema II Kecamatan Kema Kaliey, Inda P.; Wowor, Vonny N. S.; Lampus, Benedictus S.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13653

Abstract

Abstract: The main purpose of using denture is to restore the aesthetic function, speech function, and masticatory function which are disturbed due to tooth loss. Unclean oral condition can cause the oral cavity become susceptible to caries and periodontal disease. Poor behavior to maintain dental and oral hygiene of removable denture users plays an important role in the occurrence of these two diseases. Removable denture that is kept unclean is harmful to the hard tissue as well as the soft tissue of the oral cavity. This study aimed to determine the behavior of removable denture maintenance among Kema II villagers in Kema. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 62 respondents as samples. The results of the behavior score of denture hygiene maintenance were as follows: score of knowledge was 552; score of attitude was 581; and score of action was 572. Conclusion: The behavior to maintain the removable denture hygiene of Kema II villagers which included knowledge, attitude, and action was classified as poor category.Keywords: behavior, maintenance of hygiene dentures, removable dentureAbstrak: Tujuan utama penggunaan gigi tiruan yaitu untuk memulihkan fungsi estetik, fungsi bicara, serta fungsi pengunyahan yang terganggu akibat kehilangan gigi. Kondisi rongga mulut yang kurang terjaga kebersihannya dapat menyebabkan rongga mulut rentan terhadap karies dan penyakit periodontal. Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut yang kurang baik dari pengguna gigi tiruan lepasan berperan penting pada terjadinya kedua penyakit tersebut. Gigi tiruan lepasan yang kurang terjaga kebersihannya bukan saja menimbulkan gangguan pada jaringan keras gigi namun juga pada jaringan lunak mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan lepasan pada masyarakat Desa Kema II Kecamatan Kema. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel berjumlah 62 responden. Hasil penelitian menunjukkan skor pengukuran perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan yang terdiri dari skor pengetahuan sebesar 552; skor sikap sebesar 581; dan skor tindakan sebesar 572. Simpulan: Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan lepasan masyarakat Desa Kema II Kecamatan Kema yang meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan kesemuanya tergolong kurang baik.Kata kunci: perilaku, pemeliharaan kebersihan gigi tiruan, gigi tiruan lepasan
Gambaran temporomandibular disorders pada lansia di kecamatan wanea Gabrila, Johannis; Tendean, Lydia; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13489

Abstract

Abstarct: Elderly was the final phase of the development of human life. The elderly will experience a reduction of posterior or anterior teeth, degeneration, thinning of the oral mucosa, hyposalivation, decreased activity and muscle mass, setbacks of many body functions including temporomandibular joint (TMJ) function. Arthritis and osteoporosis that occur in TMJ due to excessive load as well as tooth loss lead to temporomandibular disorders (TMD). Elderly who has TMD will experience discomfort in eating and drinking. This study aimed to obtain the description of TMD among the elderly at Wanea district. This was a descriptive study with a cross sectional design conducted in June 2016. Samples were obtained by using purposive sampling. The elderly were interviewed by using the Fonseca's questionnaire and were checked for clicking sound and teeth loss. The results showed that of 98 respondents, there were 54 elderly with mild TMD, 12 elderly with moderate TMD, and 5 elderly with severe TMD; 28 elderly had no TMD. Clicking sound was found in 70 elderly, partial tooth loss in 78 ederly, and whole tooth loss in 20 ederly. Conclusion: Most elderly in Wanea had TMD. The most frequent that had TMD was age 60-70 years old and females. The most common classification of TMD was mild TMD.Keywords: elderly, temporomandibular disorders.Abstrak: Lanjut usia (Lansia) merupakan tahap akhir perkembangan dari kehidupan manusia. Lansia umumnya mengalami pengurangan jumlah gigi geligi posterior maupun anterior, terjadi degenerasi, penipisan mukosa oral, hiposalivasi, penurunan aktivitas dan massa otot, serta terjadi kemunduran banyak fungsi tubuh termasuk fungsi sendi temporomandibular (TMJ). Artritis dan osteoporosis yang dapat terjadi pada TMJ akibat beban berlebihan serta kehilangan gigi pada lansia mengakibatkan terjadinya temporomandibular disorders (TMD). Lansia yang mengalami TMD akan mengalami ketidaknyamanan dalam hal makan dan minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran TMD pada lansia di Kecamatan Wanea dan dilaksanakan pada bulan Juni 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pada penelitian ini dilakukan wawancara pada lansia menggunakan Fonseca’s Questionnaire, serta pemeriksaan bunyi clicking dan pemeriksaan kehilangan gigi. Hasil penelitian mendapatkan dari 98 responden, 54 lansia mengalami TMD ringan, 12 lansia TMD sedang, 5 lansia TMD berat; 28 lansia tanpa TMD. Bunyi clicking terdapat pada 70 lansia, kehilangan gigi sebagian sebanyak 78 lansia, dan kehilangan gigi seluruhnya sebanyak 20 lansia. Simpulan: Sebagian besar lansia di Kecamatan Wanea mengalami TMD. Yang tersering ditemukan ialah kelompok usia 60-70 tahun, jenis kelamin perempuan dan klasifikasi TMD ringan.Kata kunci: lansia, temporomandibular disorders
Uji daya hambat ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus Pormes, Oktovianus; Pangemanan, Damajanty H.C.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14452

Abstract

Abstract: Synthetic antibiotics have certain side effects, therefore, it is necessary to find alternative natural antibacterial materials which is easily available and to be cultivated, inter alia Amaranthus hybridus L. Its leaves contain active compounds, so they might have antibacterial potential. This study was aimed to determine the inhibitory effect of Amaranthus hybridus leaf extract on the growth of Staphylococcus aureus. This was a true experimental study using post test only control group design. This study was conducted at the Microbiology Laboratory of Faculty of Medicine and the Natural Phytochemical Laboratory of Faculty of Mathematics at Sam Ratulangi University. The modified Kirby-Bauer method was used with three wells, containing Amaranthus hybridus leaf extract, the positive control, and the negative control; and with 5 repetitions. The results showed that the average diameters of the inhibition zone of Amaranthus hybridus leaf extract and of the negative control were 0 mm meanwhile of erythromycin as the positive control was 38.8 mm. Conclusion: Amaranthus hybridus leaf extract had no inhibitory effect on Staphylococcus aureus. Keywords: inhibitory zone, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus Abstrak: Bahan antibiotik sintetik memiliki efek samping, sehingga perlu dicari bahan alternatif yaitu bahan alami yang mudah didapat dan dibudidayakan, salah satunya ialah bayam petik (Amaranthus hybridus L.). Daun bayam petik memiliki potensi antibakteri karena memiliki kandungan senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun bayam petik terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Labaratorium Fitokimia Fakultas MIPA Unsrat. Metode pengujian yang digunakan ialah modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan tiga buah sumuran yang diberi ekstrak daun bayam petik, kontrol positif, dan kontrol negatif, sebanyak 5 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan diameter rerata dari zona hambat yang terbentuk pada sumur dengan ekstrak daun bayam petik dan pada sumur dengan kontrol negatif ialah 0 mm, sedangkan pada sumur yang diberi kontrol positif amoksisilin terjadi resistensi sehingga diganti dengan eritromisin dan didapatkan rerata zona hambat ialah 38,8 mm. Simpulan: Ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) tidak memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci: daya hambat, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus
Perbandingan indeks plak gigi setelah mengunyah buah stroberi dan buah apel pada siswa SMK Negeri 6 Manado Koagouw, Marco S.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14160

Abstract

Abstract: Oral health plays an important role in human life. One effort to maintain oral health is plaque control. Plaque is a layer that is formed from food residues on the teeth that reacts with saliva, bacteria, enzymes, and acids. Strawberry and apple are juicy and fibrous fruit that are able to clean the dental plaque. This study was aimed to compare the plaque indexes after chewing strawberry and then apple. This was a quasi experimental study with a pre-post design group. This study was performed on students of 10th pharmaceutical grade SMK Negeri 6 Manado. Samples were obtained by using proportionate stratified simple random sampling of 3 classes of 10th grade. There were 55 students as respondents. The results showed that based on dental plaque index, chewing strawberries had a declined average of 0.74 meanwhile chewing apples had a declined average of 0.78. The unpaired T-test showed a p value of 0.58 (p> 0.05). Conclusion: Strawberries and royal gala apples could reduce dental plaque index, however, there was no significant difference between the two of them. Keywords: munching strawberry, munching apple, plaque indeks Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal penting dalam hidup manusia. Salah satu upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut ialah dengan kontrol plak. Plak merupakan lapisan yang terbentuk dari sisa makanan, menempel pada gigi, dan bereaksi dengan ludah, bakteri, enzim, dan asam. Buah stroberi dan buah apel yaitu buah berair dan berserat yang mampu membersihkan plak gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan indeks plak setelah mengunyah buah stroberi dan apel. Jenis penelitian quasi experimental dengan rancangan pre-post design group terhadap siswa kelas X Farmasi SMK N 6 Manado. Untuk pengambilan sampel digunakan proportionate stratified simple random sampling pada 3 kelas X Farmasi dengan jumlah responden 55 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengunyah buah stroberi mempunyai rerata penurunan indeks plak gigi 0,74 dan mengunyah buah apel mempunyai rerata penurunan indeks plak gigi 0,78. Uji T tidak berpasangan menunjukkan nilai p = 0,58 (p > 0,05). Simpulan: Buah stroberi dan buah apel royal gala dapat menurunkan nilai indeks plak gigi tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna antara keduanya.Kata kunci: mengunyah, buah stroberi, buah apel, plak gigi
Hubungan tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan status karies gigi pada penyandang tunanetra Marimbun, Betrix E.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13924

Abstract

Abstract: Blind people have limited ability to receive any knowledge through their sight. A false perception can lead to wrong actions including the act of oral health maintenance, therefore, the risk of oral diseases such as caries, is higher in blind people than in normal ones. This study was aimed to determine the relationship between the level of oral health knowledge and caries status. Respondents were selected by using total sampling technique. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaires and caries status examination, the DMF-T (Decay, Missing, Filling - Teeth), and were presented in frequency distribution tables. The results showed that of 31 respondents aged 18-45 years old, there were 18 (58.1%) with poor knowledge and 13 (41.9%) with good knowledge. There were also 25 respondents (80.6%) with high caries status and 6 (19.4%) with low caries status. The Chi-Square showed a significant relationship between the level of oral health knowledge and caries status (p=0,022). Conclusion: There was a significant relationship between the oral health knowledge and caries status among blind people.Keywords: oral heath knowledge, caries status, blind people Abstrak: Penyandang tunanetra memiliki keterbatasan dalam penglihatan yang memengaruhi kemampuan untuk memperoleh pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut. Persepsi yang salah dapat menghasilkan tindakan yang keliru dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sehingga resiko penyakit mulut antara lain karies diprediksikan lebih tinggi pada tunanetra. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan status karies penyandang tunanetra. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan status karies menggunakan DMF-T (Decayed, Missing, Filled - Teeth) dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Responden penelitian diperoleh menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 31 responden pada kelompok usia 18-45 tahun. Sejumlah 18 responden (58,1%) dengan tingkat pengetahuan kurang dan 13 responden (41,9%) dengan tingkat pengetahuan baik. Terdapat 25 responden (80,6%) dengan status karies tinggi dan 6 responden (19,4%) dengan status karies rendah. Hasil uji Chi Square mendapatkan hubungan bermakna antara pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan status karies (p = 0,022). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan status karies pada penyandang tunanetra. Kata kunci: pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, status karies, tunanetra.
Perbedaan efektivitas DHE dengan media booklet dan media flip chart terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut siswa SDN 126 Manado Bagaray, Felisa E. K.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13487

Abstract

Abstract: Oral health is still a problem in Indonesia, including Manado. General sources of dental health problems are closely related to the behavior of dental and oral hygiene maintenance. Although Dental Health Education (DHE) could change the bad behavior, it still depends on the media or educational tools. This study aimed to analyze the differences in the effectiveness of DHE with booklet and flipchart media on the improvement of dental health knowledge of students in SDN 126 Manado. This was a quasi experiment with two group pre-test post-test design. Samples were students of SDN 126 aged 8-10 years obtained by using total sampling method. The samples were divided into two treatment groups: booklet media and flip chart media. Data were statistically analyzed by using the Mann-Whitney test with a confidence level of 95% (p<0.05). The results showed that in improving dental health knowledge of students the DHE using booklet media had a p-value = 0.025 and the DHE using flip chart media had a p-value = 0.008. The statistical test comparing the effectiveness of DHE using both media showed a p-value = 0.688. Conclusion: DHE using booklet media was as effective as DHE using flip chart media in improving the oral health knowledge of students of SDN 126 Manado.Keywords: DHE, booklet media, flipchart media, students’ knowledgeAbstrak: Kesehatan gigi dan mulut hingga kini masih menjadi masalah di Indonesia, termasuk di kota Manado. Sumber masalah kesehatan gigi umumnya berkaitan erat dengan perilaku pemeliharan kebersihan gigi dan mulut. Untuk merubah perilaku yang buruk, salah satunya dengan melakukan intervensi melalui pendidikan, yaitu melalui Dental health education (DHE). Keberhasilan DHE antara lain dipengaruhi oleh adanya media atau alat bantu pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efektivitas DHE dengan media booklet dan media flip chart terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut siswa SDN 126 Manado. Jenis penelitian ini yaitu quasi experiment, dengan two group pre-test post-test design. Sampel penelitian yaitu siswa SDN 126 Manado yang berusia 8-10 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Sampel dibagi menjadi dua kelompok perlakuan yaitu kelompok yang menggunakan media booklet dan kelompok yang menggunakan media flip chart. Penelitian ini menggunakan uji hipotesis Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% (p< 0,05). Hasil penelitian menunjukkan nilai p=0,025 pada DHE menggunakan media booklet dan p=0,008 pada DHE menggunakan media flip chart terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak. Hasil uji statistik perbandingan efektivitas DHE dengan menggunakan kedua media tersebut, mendapatkan p= 0,688. Simpulan: DHE menggunakan media booklet dan flip chart keduanya sama efektif terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak SDN 126 Manado.Kata kunci: DHE, media booklet, media flip chart, pengetahuan anak
Pengaruh tingkat pendidikan masyarakat terhadap upaya pemeliharaan gigi tiruan di Kelurahan Upai Kecamatan Kotamobagu Utara Mokoginta, Randy S.; Wowor, Vonny N.S.; Opod, Hendri
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14158

Abstract

Abstract: Denture appliances is not just as a replacement for any kind of tooth loss but it is also a necessary to keep the hygiene and maintenance of the denture appliance, therefore, the denture appliances will not cause any bad effects on oral health. Knowledge of how to keep the denture appliance clean could be represented by a positive attitude through cleaning one’s denture appliance. This study was aimed to analyze the effect of education level on the maintenance efforts of denture appliances among denture users in Upai, North Kotamobagu.This was an analytical descriptive study with a cross-sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. The instrument of this study was a valid and reliable questionnaire. Data were analyzed with the Chi-Square test. This study was conducted from February to August 2016. The results showed that 41.9% of the samples had moderate level of education; 47.1% had low education; and 11% had high education. In keeping their denture appliances clean, there were 74.2% that had moderate efforts; 13,6% had bad efforts; and 12.2% had good efforts. The Chi-square test showed a p value of 0.001 (p<0.05). Conclusion: Most of the denture users were low-level educated, however, most of them had moderate efforts in keeping their dentures clean.Keywords: education level of society, maintenance efforts of denture appliances. Abstrak: Penggunaan gigi tiruan tidak hanya sebatas penggantian gigi yang hilang tetapi harus memperhatikan pemeliharaan kebersihannya agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan rongga mulut. Pengetahuan yang baik dari masyarakat akan membentuk sikap positif dan diwujudkan melalui tindakan pemeliharaan gigi tiruan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat pendidikan masyarakat terhadap upaya pemeliharaan gigi tiruan di Kelurahan Upai Kecamatan Kotamobagu Utara. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian yakni masyarakat pengguna gigi tiruan lepasan (GTL) di Kelurahan Upai Kecamatan Kotamobagu Utara sebanyak 155 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis hasil penelitian digunakan uji statistic Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan 41,9% masyarakat kelurahan Upai memiliki tingkat pendidikan sedang, 47,1% memiliki tingkat pendidikan rendah, dan 11% memiliki tingkat pendidikan tinggi. Terdapat 74,2% memiliki upaya yang cukup dalam pemeliharaan gigi tiruan, 13,6% buruk, dan 12,2% baik. Hasil uji Chi Square mendapatkan p=0,001 (p<0,05). Simpulan:: Tingkat pendidikan masyarakat pengguna gigi tiruan umumnya tergolong rendah tetapi memiliki upaya yang cukup dalam pemeliharaan gigi tiruan. Juga terdapat pengaruh bermakna dari tingkat pendidikan masyarakat terhadap upaya pemeliharaan gigi tiruan. Kata kunci: tingkat pendidikan masyarakat, upaya pemeliharaan gigi tiruan.

Page 2 of 4 | Total Record : 36