e-GIGI
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Articles
17 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi"
:
17 Documents
clear
Uji daya hambat getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus
Rante, Bayu K.;
Assa, Youla A.;
Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17127
Abstract: Abscess is a chronic inflammatory condition formed by localized infections. In oral cavity abscess, the causal bacteria oftenly found is Staphylococcus aureus. Goroho banana (Musa acuminafe L.) is a typical plant in North Sulawesi. The sap of goroho banana peel contains phytochemicals inter alia flavonoids, saponins, and tannins. This study was aimed to find out whether the sap of goroho banana peel (Musa acuminafe L.) had an inhibitory effect on the growth of Staphylococcus aureus. This was an experimental laboratory study with a post-test only control group design. A modified Kirby-Bauer using paper disk was used as the analytical laboratory method. We used 100% goroho banana peel sap, clindamycin antibiotics as the positive control, and CMCs as the negative control. Staphylococcus aureus bacteria was obtained from the Laboratory of Microbiology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University, Manado. The results showed that the mean diameter of inhibition zones of goroho banana peel sap was 10.9 mm and was classified as strong inhibition. Conclusion: Goroho banana peel sap had a strong inhibitory effect on the growth of Staphylococcus aureus.Keywords: goroho banana peel sap (Musa acuminafe L.), Staphylococcus aureus, inhibition zone Abstrak: Abses merupakan suatu kondisi inflamasi kronik yang terbentuk dari hasil infeksi yang terlokalisasi. Salah satu bakteri penyebab abses yang sering ditemukan pada rongga mulut ialah Staphylococcus aureus. Pisang goroho merupakan salah satu tanaman khas Sulawesi Utara. Getah kulit buahnya memiliki kandungan fitokimia seperti flavonoid, saponin, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik dengan post test only control group design. Metode yang digunakan ialah modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan paper disk. Konsentrasi getah buah pisang goroho yang digunakan yaitu 100%, kontrol positif menggunakan antibiotik klindamisin, dan kontrol negatif menggunakan CMC. Bakteri Staphylococcus aurues diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Unsrat Manado. Hasil penelitian menunjukkan diameter rerata zona hambat dari getah kulit buah pisang goroho yang terbentuk ialah 10,9 mm dan digolongkan sebagai zona hambat kuat. Simpulan: Getah kulit buah pisang goroho memiliki daya hambat yang kuat terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.Kata kunci: getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.), Staphylococcus aureus, zona hambat
Gambaran Kecemasan Anak Usia 6-12 Tahun terhadap Perawatan Gigi di SD Kristen Eben Haezar 2 Manado
Sanger, Seily E.;
Pangemanan, Damajanty H.C.;
Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17394
Abstract: Dental anxiety is a condition of fear to visit a dentist even for preventive care or therapy and uncertainity anxiety to dental care. This study was aimed to describe the anxiety of children 6-12 years old for the dental care at SD Kristen Eben Haezar 2 Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Samples were 44 students of 6-12 years old at SD Eben Haezar 2 Manado who had dental care experience, obtained by using total sampling. Data were obtained by filling the questionnaire of Children Dental Fear Survey Schedule-subscale (CFSS-DS). The results showed that most students with high levels of anxiety were at the age of 6-8 years (20.48%), while most students with low level of anxiety were at the age of 9-12 years old (47.74%). Of the 44 students, 27 students (61.36%) had low level of anxiety whereas 17 students (38.64%) had high level of anxiety. Based on gender, the percentages of students with high level and low level of anxiety were higher in females than in males. Conclusion: In general, students with low level of anxiety were at the age of 9-12 years old meanwhile students with high level of anxiety were at the age of 6-8 years. Either high or low level of anxiety was most found in females.Keywords: anxiety, children, dental care Abstrak: Kecemasan dental merupakan suatu ketakutan terhadap kunjungan ke dokter gigi untuk perawatan pencegahan ataupun terapi dan rasa cemas tidak beralasan terhadap perawatan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kecemasan anak usia 6-12 tahun terhadap perawatan gigi di SD Kristen Eben Haezar 2 Manado. Jenis penelitian deskriptif dengan desain potong lintang, mengunakan metode pengambilan sampel total. Terdapat 44 siswa aktif SD Kristen Eben Heazer 2 Manado berusia 6-12 tahun dan pernah mendapatkan perawatan gigi. Data diambil berdasarkan pengisian kuesioner Children Fear Survey Schedule-Dental Subscale (CFSS-DS). Hasil penelitian menunjukkan responden dengan tingkat kecemasan tinggi ditemukan paling banyak pada usia 6-8 tahun (20,48%), sedangkan yang dengan tingkat kecemasan rendah ditemukan pada usia 9-12 tahun (47,74%). Tingkat kecemasan rendah ditemukan pada 27 responden (61,36%) dan tingkat kecemasan tinggi ditemukan pada 17 reponden (38,64%). Berdasarkan jenis kelamin, responden dengan tingkat kecemasan tinggi maupun rendah lebih banyak ditemukan pada responden perempuan. Simpulan: Responden dengan tingkat kecemasan rendah lebih banyak didapatkan pada rentang usia 9-12 tahun sedangkan responden dengan tingkat kecemasan tinggi lebih banyak didapatkan pada rentang usia 6-8 tahun. Baik tingkat kecemasan tinggi maupun rendah lebih banyak ditemukan pada responden perempuan.Kata kunci: kecemasan, anak, perawatan gigi
Pengaruh rendaman cuka (asam asetat) terhadap kekerasan amalgam
Taneh, Rigel N.V.;
Leman, Michael A.;
Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.16926
Abstract: Amalgam filling has been used since the 19th century. The hardness of a filling material in the mouth may be affected by acidic drinks or foods. One of the foods normally consumed by the Indonesian is acidic due to its vinegar content. This study was aimed to determine the effect of vinegar on the change of amalgam hardness. This was a laboratory experimental study with a post test only control group design. There were 30 samples of amalgam plates with a diameter of 5 mm and 2 mm of thickness. The samples were divided into two groups with three different immersion times, as follows: 5, 10, and 20 minutes. After immersion, the samples’ hardness was measured by using the Micro Vickers Hardness Tester. Data normality was tested with Shapiro-Wilk test, then the data were statistically analyzed with independent sample t-test. The results showed a significant effect of vinegar immersion on changes in amalgam hardness (P <0.05). Conclusion: Vinegar immersion affected the hardness of amalgam.Keywords: amalgam, vinegar, surface hardness Abstrak: Amalgam merupakan bahan tumpatan yang digunakan sejak abad ke-19. Sifat keras suatu bahan tumpatan di dalam rongga mulut dapat dipengaruhi oleh minuman asam atau makanan yang dikonsumsi. Salah satu makanan yang biasanya dikonsumsi oleh orang Indonesia bersifat asam dan mengandung bahan cuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rendaman cuka terhadap perubahan kekerasan amalgam. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik dengan desain post test only control group. Sampel penelitian ini ialah lempeng amalgam berbentuk lingkaran dengan ukuran diameter 5 mm dan tinggi 2 mm sebanyak 30 buah. Sampel dibagi menjadi dua kelompok dengan tiga durasi waktu perendaman yang berbeda yaitu 5, 10, dan 20 menit. Setelah perendaman, sampel diukur nilai kekerasannya menggunakan Micro Vickers Hardness Tester, kemudian dilakukan uji normalitas data menggunakan uji Shapiro-Wilk. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh bermakna dari perendaman cuka terhadap perubahan kekerasan amalgam (P < 0.05). Simpulan: Perendaman cuka memengaruhi kekerasan amalgam.Kata kunci: amalgam, cuka, kekerasan permukaan
Gambaran Status Karies Berdasarkan Indeks DMF-T dan Indeks PUFA pada Orang Papua di Asrama Cendrawasih Kota Manado
Jotlely, Fernando B.;
Wowor, Vonny N.S.;
Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17364
Abstract: Caries is one of the dental and oral health problems in Indonesia. Caries is a multifactorial disease, mainly caused by the lack of awareness to keep and maintain dental health. Papuan people are more likely to use areca nuts to clean their teeth instead of brushing their teeth in correct order. This study was aimed to obtain the caries index among Papuan people who lived in Manado based on DMF-T index and PUFA index. This was a descriptive study with a cross-sectional design conducted at Asrama Cendrawasih in Manado. There were 114 Papuan people as the study population. Subjects were 54 Papuan people (males and females) obtained by using purposive sampling method. The results showed that the average DMF-T indexes were 5 in males and 5.9 in females. Based on the average index of DMF-T (5.3), the caries status was categorized as high. Additionally, the untreated caries status had PUFA index of 0.3; in both sexes the average index was 0.3. Conclusion: Based on DMF-T index and PUFA index, the caries status of Papuan people at Asrama Cendrawasih Manado was categorized as high.Keywords: caries, PUFA index, DMF-T index Abstrak: Karies merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Karies disebabkan oleh beberapa factor, antara lain kurangnya kesadaran tentang kebersihan gigi dan mulut. Masyarakat Papua lebih mengutamakan menggunakan pinang sebagai bagian dan rutinitas membersihkan rongga mulut dibanding menyikat gigi dengan baik dan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat karies gigi pada orang Papua yang ada di kota Manado berdasarkan indeks DMF-T dan indeks PUFA. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian di Asrama Cendrawasih di Kota Manado berjumlah 114 orang Papua. Subyek penelitian sebanyak 54 orang Papua, diperoleh dengan menggunakan purposive sampling method. Hasil penelitian memperlihatkan rerata indeks DMF-T pada laki-laki sebesar 5 dan pada perempuan sebesar 5,9. Berdasarkan rerata indeks DMF-T sebesar 5,3 status karies subyek penelitian termasuk kategori tinggi. Status karies yang tidak dirawat pada subyek penelitian berdasarkan indeks PUFA sebesar 0,3 dengan rerata pada laki-laki dan perempuan masing-masing sebesar 0,3. Simpulan: Berdasarkan indeks DMF-T dan indeks PUFA, status karies pada orang Papua di Asrama Cendrawasih Kota Manado termasuk kategori tinggi.Kata kunci: karies, indeks PUFA, indeks DMF -T
mbaran Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Pengguna Alat Ortodontik Cekat di SMA Negeri 7 Manado
Mararu, Wahyu P.;
Zuliari, Kustina;
Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17128
Abstract: Oral and dental health is a part of the body health that can not be separated from each other because it can affect the whole body. Fixed orthodontic appliance has a more complex design that makes it more difficult to be cleaned compared to the removable orthodontic appliance. Therefore, people who use fixed orthodontic appliance are more difficult to maintain their oral hygiene. This study was aimed to obtain the oral and dental hygiene status of students at SMA Negeri 7 Manado (senior high school) that used fixed orthodontic appliance. This was a descriptive study with a cross-sectional design. This study was conducted at SMA Negeri 7 Manado with a total of 43 respondents obtained by using total sampling method. The results showed that the mean OHI-S of the respondents was 1.73 classified as moderate category. Conclusion: Oral and dental hygiene status of students at SMA Negeri 7 Manado that used fixed orthodontic appliance was categorized as moderate.Keywords: OHI-S, fixed orthondontics appliance, high school students Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya karena akan memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Alat ortodontik cekat memiliki desain yang lebih sulit untuk dibersihkan dibandingkan dengan alat ortodontik lepasan, sehingga pasien pengguna ortodontik cekat lebih sulit untuk memelihara kebersihan mulut selama perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut pada siswa SMA Negeri 7 Manado yang menggunakan alat ortodontik cekat. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMA Negeri 7 Manado dengan reponden sebanyak 43 siswa diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata indeks OHI-S dari 43 responden yang menggunakan alat ortodontik cekat di SMA Negeri 7 Manado sebesar 1,73 yang berada dalam kategori sedang. Simpulan: Status kebersihan gigi dan mulut siswa/i pengguna alat ortodontik cekat di SMA Negeri 7 Manado tergolong pada kriteria sedang.Kata kunci: OHI-S, ortondotik cekat, siswa SMA
Persepsi pengguna gigi tiruan lepasan terhadap fungsi estetik dan fonetik di komunitas lansia Gereja International Full Gospel Fellowship Manado
Tulandi, Joshua D.G.;
Tendean, Lydia;
Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17069
Abstract: Elderly is the final step of evolution in human life in which the function of oral cavity starts to degrade and impact life, as well as to reduce the aesthetic and phonetic functions. However, the loss of aesthetic and phonetic functions in the elderly stage can be restored by using dentures. This study was aimed to assess the perception about denture aesthetic and phonetic functions among elderly people at International Full Gospel Fellowship Church in Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 73 respondents in this study obtained by using total sampling method and consisted of elderly people who used dentures and agreed to fill the questionnaires. Data were analyzed descriptively and presented in tables. The results showed that based on satisfaction of using denture, the perception of the respondents had the highest score of 361 points (good category). Based on the aesthetic function, the perception of the respondents had the score of 330.3 points (good category); and based on the phonetic function, the perception of the respondents had the score of 334 points (good category). Conclusion: The perception of aesthetic and phonetic functions of dentures among the elderly people at International Full Gospel Fellowship Manado belonged to good category.Keywords: elderly, perception, denture, aesthetics, phonetics Abstrak: Lansia (lanjut usia) merupakan tahap akhir perkembangan dalam kehidupan manusi dimana mulai terjadinya penurunan fungsi pada rongga mulut yang berdampak pada kehidupan lansia dan penurunan fungsi estetik dan fonetik. Kehilangan fungsi estetik dan fonetik pada lansia dapat dikembalikan dengan pemasangan gigi tiruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi lansia terhadap fungsi estetik dan fonetik gigi tiruan lepasan di komunitas Gereja International Full Gospel Fellowship Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pada penelitian ini digunakan 73 responden yaitu lansia yang memakai gigi tiruan, diperoleh dengan metode total sampling, dan bersedia mengisi kuesioner. Data yang diperoleh diolah secara deskriptif kemudian disajikan berdasarkan distribusi dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan persepsi lansia berdasarkan kepuasan pada penggunaan gigi tiruan memiliki skor tertinggi yaitu 361 termasuk kategori baik, persepsi lansia berdasarkan fungsi estetik memiliki skor sebanyak 330,3 termasuk kategori baik,dan persepsi lansia terhadap fungsi fonetik sebanyak 334 termasuk kategori baik. Simpulan: Persepsi lansia terhadap fungsi estetik dan fonetik gigi tiruan lepasan di komunitas Gereja International Full Gospel Fellowship Manado termasuk kategori baik.Kata kunci: persepsi, lansia, gigi tiruan, estetik, fonetik
Analisis Kualitas Hidup Pasien Usia Produktif Pengguna Gigi Tiruan Sebagian Lepasan di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
Siagian, Krista V.;
Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17985
Abstract: Working-age population has a great potential in terms of productivity and creativity of work as well as health problems including oral and dental health that will affect the quality of life (QoL). This study was aimed to analyze the QoL of the productive age patients who wore partial removable dentures made at Dental and Oral Hospital (RSGM) Sam Ratulangi University in Manado. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. This study was conducted at Dental and Oral Hospital from March to October 2017. We used OHIP 14 questionnaire to assess the QoL. Data were statistically analyzed by using univariate, bivariate, and multivariate analysis. There were 30 respondents of working age (16-54 years) wearing partial removable dentures obtained by purposive sampling. The results of OHIP-14 showed that 25 respondents (83.3%) had good QoL and 5 respondents (16.7%) had moderate QoL. The chi-square test showed a significant relationship between the duration of wearing denture and QoL (P-value of 0.041). Conclusion: In this study, the quality of life of most working-age patients wearing partial removable dentures was good. There was a significant correlation between the duration of wearing denture and the quality of life based on OHIP-14.Keywords: productive age, partial removable denture, OHIP-14 Abstrak: Populasi usia produktif memiliki potensi besar dalam hal produktivitas dan kreativitas bekerja, namun juga masalah kesehatan termasuk kesehatan gigi dan mulut yang akan memengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas hidup pasien usia produktif pengguna gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) yang dibuat di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Penelitian dilaksanakan di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi sejak bulan Maret sampai Oktober 2017. Instrumen penelitian ialah kuesioner OHIP 14 untuk menilai kualitass hidup. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Responden dalam studi ini berjumlah 30 pasien usia produktif (16-54 tahun) pengguna GTSL yang dibuat di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, diperoleh dengan metode purposive sampling. Hasil penilaian dimensi OHIP-14 memperlihatkan 25 responden (83,3%) dengan kualitas hidup baik dan 5 responden (16,7%) dengan kualitas hidup sedang. Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara lama pemakain GTSL dan kualitas hidup pasien pengguna GTSL mendapatkan nilai P=0,041. Simpulan: Kualitas hidup pasien pengguna GTSL di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi berdasarkan OHIP-14 tergolong baik. Terdapat hubungan antara lama pemakaian GTSL dan kualitas hidup berdasarkan OHIP-14 pada pasien pengguna GTSL.Kata kunci: usia produktif, gigi tiruan sebagian lepasan, kualitas hidup OHIP-14
Pengaruh obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva
Rawung, Feiby;
Wuisan, Jane;
Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.16538
Abstract: Mouthwash is one of the accessible oral healthcare and practical for use by the community. Various commercial products contain more than one active ingredient; the most common one is alcohol with varied concentrations from 6% to 26%. Mouthwash with high concentration of alcohol can cause some effects to some users, like burning and dry sensation of the oral mucosa. Dry oral mucosa caused by reduced saliva production will be more susceptible to irritation. Reduced amount of saliva also causes lower oral pH which leads to increased growth of cariogenic bacteria. This study was aimed to investigate the influence of alcoholic mouthwash to salivary flow and salivary pH. This was a quasi-experiment study with before and after treatment groups. The population study was students of Dental Medical Education Program of Medical Faculty of University of Sam Ratulangi, Manado, batch 2012, with a total of 30 respondents obtained by using purposive sampling method. The T test showed that salivary flow rate before and after treatment had no significant difference (p >0.05) based on T test. Moreover, the Wilcoxon test showed that there was no significant difference of salivary pH between before and after treatment (p >0.05). Conclusion: There was no effect of rinsing with alcoholic mouthwash on salivary flow and salivary pH.Keywords: alcoholic mouthwash, salivary flow rate, salivary pHÂ Abstrak: Obat kumur merupakan salah satu produk perawatan kesehatan gigi dan mulut yang mudah diperoleh dan praktis digunakan sendiri oleh masyarakat. Berbagai produk komersial mengandung lebih dari satu bahan aktif; salah satunya yaitu alkohol dengan konsentrasi bervariasi dari 6% hingga 26,9%. Kandungan alkohol yang tinggi dapat menimbulkan efek bagi sebagian pengguna, seperti sensasi terbakar dan kering di area mukosa mulut disebabkan berkurangnya saliva yang memudahkan terjadinya iritasi. Berkurangnya saliva juga menyebabkan pH mulut rendah sehingga pertumbuhan bakteri kariogenik meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva. Jenis penelitian ialah eksperimen semu dengan kelompok sebelum dan sesudah perlakuan. Populasi penelitian yaitu mahasiswa Angkatan Tahun 2012 Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sam Ratulangi Manado yang berjumlah 30 responden, diperoleh dengan purposive sampling. Hasil uji T berpasangan mennunjukkan data laju aliran saliva sebelum dan sesudah perlakuan tidak memiliki perbedaan bermakna (p >0,05). Berdasarkan uji Wilcoxon, data pH saliva sebelum dan sesudah perlakuan tidak memiliki perbedaan bermakna (p >0,05). Simpulan: Tidak terdapat pengaruh berkumur dengan obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva.Kata kunci: obat kumur beralkohol, laju aliran saliva, pH saliva
Gambaran Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Pengidap HIV/AIDS di Yayasan Batamang Plus Bitung
Kinontoa, Fitrisya C.;
Mintjelungan, Christy N.;
Tambunan, Elita
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17512
Abstract: Human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/ AIDS) is an infectious disease that attacks the immune system, therefore, the individual becomes more susceptible to opportunistic infections. The lower the dental and oral hygiene status are, the more susceptible an individual to opportunistic infections in the oral cavity due to the presence of HIV/AIDS. This study was aimed to obtain the status of oral and dental hygiene in individuals with HIV/AIDS at the Batamang Plus Foundation in Bitung. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Data were obtained by examination of oral and dental hygiene status using OHI-S index. There were 30 respondents obtained by using total sampling method. The results showed that the highest percentage of the oral and dental hygiene status of the respondents (68% of male respondent and 57% of female respondents) was at moderate category. The average OHI-S was 2,2, categorized as moderate. Conclusion: Most respondents in this study had moderate category of oral and dental hygiene status.Keywords: human immunodeficiency virus, dental and oral hygiene status Abstrak: Human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) merupakan penyakit menular yang menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang sehingga lebih mudah terserang infeksi oportunistik. Semakin rendah status kebersihan gigi dan mulut seorang pengidap HIV/AIDS akan lebih memudahkannya terserang infeksi oportunistik pada rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut pada pengidap HIV/AIDS di Yayasan Batamang Plus Bitung. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Data diperoleh dari hasil pemeriksaan status kebersihan gigi dan mulut menggunakan indeks OHI-S. Terdapat 30 responden yang diperoleh mengunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa persentase tertinggi dari status kebersihan gigi dan mulut responden berada pada kategori sedang yaitu 68% responden laki-laki dan 57% responden perempuan. Rerata OHI-S yang diperoleh ialah 2,2 yang tergolong kategori sedang. Simpulan: Sebagian besar responden memiliki status kebersihan gigi dan mulut kategori sedang.Kata kunci: pengidap HIV/AIDS, kebersihan gigi dan mulut
Uji daya hambat ekstrak biji buah alpukat (Persea americana Mill.) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans
Bujung, Anggriana H.;
Homenta, Heriyannis;
Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.16535
Abstract: In addition to daily consumption, avocado is also used to treat oral diseases. Scientific studies showed that avocado seed contained flavonoids, tannins, and alkaloid which were expected to inhibit bacterial growth. This study was aimed to obtain the bacterial inhibitory effect of avocado seed (Persea americana Mill.) extract on Streptococcus mutans as the primary cause of dental caries. This was a true experimental study with the post test only control group design. This study used a modified Kirby-Bauer method with paper disk. The positive control was erythromycin and the negative control was aquadest. Avocado seeds were extracted by using maceration method with 96% ethanol. The Streptococcus mutans bacteria were obtained from pure stock of Microbiology Laboratory of Pharmacy Study Program University of Sam Ratulangi Manado. The results showed that the mean diameter of inhibition zone of avocado seed extract was 21.8 mm which was classified as very strong inhibition. Conclusion: Persea Americana Mill. seed extract had a very strong inhibitory effect on the growth of Streptococcus mutans.Keywords: avocado seed (Persea americana Mill.), Streptococcus mutans, inhibition effectAbstrak: Selain menjadi bahan konsumsi masyarakat yang lezat, ternyata alpukat telah lama dipercaya dapat mengobati penyakit di dalam rongga mulut. Di dalam buah alpukat terdapat biji yang terbukti melalui penelitian ilmiah mengandung flavonoid, alkaloid, dan tannin yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak biji buah alpukat (Persea americana Mill.) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Metode yang digunakan ialah modifikasi Kirby-Bauer dengan paper disk. Kontrol positif menggunakan antibiotik eritromisin dan kontrol negatif menggunakan akuades. Biji buah alpukat diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Streptococcus mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian menunjukkan diameter rerata zona hambat dari ekstrak biji buah alpukat yang terbentuk ialah 21,8 mm dan digolongkan sebagai zona hambat sangat kuat. Simpulan: Ekstrak biji buah alpukat memiliki daya hambat sangat kuat terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.Kata kunci: biji buah alpukat (Persea americana Mill.), Streptococcus mutans, daya hambat