cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi" : 36 Documents clear
Efektivitas Ekstrak Daun Mangrove Bruguiera Gymnorrhiza Terhadap Bakteri Enterococcus Faecalis sebagai Alternatif Larutan Irigasi Perawatan Saluran Akar Wicaksono, Dinar A.; Suling, Pieter L.; Mumu, Jeremia Y.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.51497

Abstract

Abstract: Enterococcus faecalis is often found in infected and after complete treatment root canals. Currently, there is still no effective root canal irrigants, therefore, other alternatives are needed. Bruguiera gymnorrhiza mangrove leaves contain active compounds such as flavonoids, tannins, phenols, saponins and alkaloids which are capable of inhibiting several types of bacteria. This study aimed to determine the effectiveness of inhibition of Bruguiera gymnorrhiza mangrove leaf extract on the growth of Enterococcus faecalis. This was a true experimental and laboratory study with a post test control group design. The test method used was the modified method of Kirby-Bauer. Samples were divided into four groups with several concentrations (60 %, 70%, 80%, 90%), NaOCl 2,5% as the positive control, and aquadest as the negative control. Bruguiera gymnorrhiza mangrove leaf samples were extracted using maceration method with 96% ethanol solvent. Enterococcus faecalis bacteria were rejuvenated in the Laboratory of Microbiology Farmasi FMIPA Unsrat. The normality test showed a p-value of >0.05, which meant that the data were normally distributed. The one-way ANOVA test showed a p-value of <0.05, meaning that there was a difference in each treatment. The Tukey's HSD test showed a significant difference between treatments. In conclusion, Bruguiera gymnorrhiza mangrove leaf extract is capable to inhibit Enterococcus faecalis at concentrations of 60%, 70%, 80%, and 90%, especially at concentration of 90%. Keywords: Bruguiera gymnorrhiza mangrove leaves; Enterococcus faecalis; root canal treatment   Abstrak: Enterococcus faecalis sering ditemukan pada saluran akar terinfeksi dan setelah selesai perawatan. Dewasa ini belum ada bahan irigasi yang efektif membersihkan saluran akar, sehingga diperlukan alternatif lain. Daun mangrove Bruguiera gymnorrhiza mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, fenol, saponin dan alkaloid yang mampu menghambat beberapa jenis bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas daya hambat ekstrak daun mangrove Bruguiera gymnorrhiza terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalis. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik murni dengan post test control group design. Metode pengujian yang digunakan yaitu modifikasi Kirby-Bauer menggunakan sumuran. Sampel dibagi dalam empat kelompok masing-masing diberi konsentrasi 60%, 70%, 80%, 90%, kontrol positif (NaOCl 2,5%), dan kontrol negatif (akuades). Sampel daun mangrove Bruguiera gymnorrhiza diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Enterococcus faecalis diambil dan diremajakan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Unsrat. Hasil uji normalitas menunjukkan p>0,05 yang berarti data terdistribusi normal. Uji one way ANOVA menunjukkan p<0,05 yang berarti terdapat perbedaan dari setiap perlakuan. Uji Tukey’s HSD menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar perlakuan. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak daun mangrove Bruguiera gymnorrhiza mampu menghambat bakteri Enterococcus faecalis pada konsentrasi 60%, 70%, 80%, dan 90%, terlebih pada konsentrasi 90%. Kata kunci: daun mangrove Bruguiera gymnorrhiza; Enterococcus faecalis; perawatan saluran akar
Analisis Kandungan Mineral Air Tanah dan Gambaran Status Karies Gigi pada Masyarakat Desa Mala Kepulauan Talaud Sagemba, Pascal G.; Mintjelungan, Christy N.; Kepel, Billy J.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.51498

Abstract

Abstract: Elements present in ground water can be influenced by the surrounding environment. High levels of fluorine and calcium in ground water can have an impact on public health, including dental health. The most common dental and oral health problem in people of all age groups is dental caries. This study aimed to analyze the mineral content of ground water and to describe the status of dental caries in the community at Desa Mala. This was a descriptive study with a cross-sectional design using total sampling of age group of 20-50 years with a population of 110 people. Water samples were tested in the laboratory for its fluoride content and hardness. The results obtained 74 people as subjects according to the inclusion and exclusion criteria. Fluorine content in drinking water samples was 0.36 mg/L and the hardness (CaCO3) was 294 mg/L. The average of DMF-T index measurement of dental caries of subjects was 7.6. In conclusion, the fluoride level and hardness of the well water in the Desa Mala community is suitable for drinking, however, the dental caries profile in the community is very high. Keywords: mineral content of groundwater; dental caries status; fluor; calcium    Abstrak: Unsur-unsur yang ada dalam air, dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Kadar fluor dan kalsium yang tinggi dalam air dapat berdampak pada kesehatan masyarakat termasuk kesehatan gigi. Masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling banyak ditemui pada masyarakat dengan berbagai golongan umur ialah karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan mineral air dalam tanah dan mengetahui gambaran status karies gigi pada masyarakat di Desa Mala. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang dengan total sampling pada golongan usia 20–50 tahun dengan jumlah populasi 110 orang serta melakukan uji sampel air di laboratorium untuk menguji fluor dan kesadahan dalam air. Hasil penelitian mendapatkan 74 orang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Kandungan fluor dalam air minum sebesar 0,36 mg/L dan kesadahan (CaCO3) sebesar 294 mg/L. Hasil pengukuran indeks DMF-T karies gigi pada sampel penelitian sebesar 7,6. Simpulan penelitian ini ialah kadar fluor dan kesadahan air sumur di Desa Mala masih layak untuk diminum sedangkan gambaran karies gigi pada masyarakat tergolong masih sangat tinggi. Kata kunci: kandungan mineral air tanah; status karies gigi; fluor; kalsium
Pengaruh Berkumur Air Kelapa (Cocos nucifera) terhadap Laju Aliran Saliva Wowor, Vonny N. S.; Mariati, Ni Wayan; Depthios, Richard F.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.51499

Abstract

Abstract: Decreased salivary flow rate can be caused by many things, inter alia age, consumption of certain drugs, and psychological effects. The benefits of coconut water have been widely studied, one of which is related to dental and oral health. However, there are still not many studies about the effects of various varieties of coconut water in increasing the flow rate of saliva, especially old coconut water which is often thrown away as waste. This study aimed to determine whether there was an effect of coconut water (Cocos nucifera) gargling on the rate of salivary flow. This was an experimental and analytical study with a quasi-experimental design, and pre-test and post-test control group design approaches. Samples were dentistry undergraduate students of Universitas Sam Ratulangi taken by simple random sampling. Samples were divided into two groups: treatment group (gargling with old coconut water) and control group (gargling with mineral water). The results showed that in the treatment group, there was an increase of salivary flow rate from 0.7114 to 1.1248 after gargling with old coconut water. Meanwhile, in the control group, there was an increase of salivary flow rate from 0.7962 to 0,8495 after gargling with mineral water. Since research data were normally distributed and homogenous, the statistical analysis was continued with the unpaired T-test which obtained a p-value of <0.001 (p<0.05). In conclusion, coconut water (Cocos nucifera) gargling can influence the salivary flow rate. Keywords: coconut water; salivary flow rate; gargling   Abstrak: Laju aliran saliva yang menurun dapat diakibatkan oleh berbagai hal antara lain faktor usia, mengonsumsi obat-obatan tertentu, dan efek psikis. Manfaat air kelapa terhadap kesehatan antara lain kesehatan gigi dan mulut telah diteliti namun belum banyak penelitian mengenai efek air kelapa dari berbagai varietas dalam hal meningkatkan laju aliran saliva terutama air kelapa tua yang masih sering dibuang sebagai limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berkumur air kelapa (Cocos nucifera) terhadap laju aliran saliva. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan rancangan quasi eksperimental, dan pendekatan pre test dan post test control group design. Sampel penelitian ialah mahasiswa S1 PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi yang diambil secara simple random sampling dan dibagi atas dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan (berkumur air kelapa tua) dan kelompok kontrol (berkumur air mineral). Hasil penelitian mendapatkan pada kelompok perlakuan rerata laju aliran saliva sebelum dan setelah berkumur air kelapa naik dari 0,7114 menjadi 1,1248 sedangkan pada kelompok kontrol rerata laju aliran saliva sebelum dan setelah berkumur air mineral naik dari 0,7962 menjadi 0,8495. Oleh karena data penelitian berdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan dengan uji t tidak berpasangan yang mendapatkan nilai p<0,001 (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah berkumur air kelapa (Cocos nucifera) dapat meningkatkan laju aliran saliva. Kata kunci: air kelapa; laju aliran saliva; berkumur
Efek Antifungi Sediaan Pasta Gigi Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis L.) dan Peppermint (Menthapiperita) terhadap Candida albicans Wangguai, Vannia; Sugiaman, Vinna K.; Widowati, Wahyu
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.51629

Abstract

Abstract: Candida albicans are normal flora of the oral cavity that are opportunistically pathogenic and becomes the main causative agent of oral candidiasis. The addition of herbal ingredients to toothpaste is a solution to resistance and synthetic antifungal side effects. Green tea and peppermint extracts are known to have an antifungal role with various active ingredients such as catechins, tannins, flavonoids, terpenoids, alkaloids, and saponins. This study aimed to determine the antifungal effect of toothpaste preparations of green tea extract and peppermint on C. albicans. This study used the agar diffusion method at several concentrations of green tea and peppermint extracts in toothpaste preparations, namely 1000 mg/ml, 500 mg/ml, 250 mg/ml, 125 mg/ml, 62,5 mg/ml and 31,25 mg/ml. The results showed that there was an antifungal effect of green tea and peppermint extract toothpaste against C. albicans at a concentration of 1000 mg/ml with an average inhibition zone diameter of 7.19 mm. The smallest inhibition zone was 125 mg/ml with a diameter of 1.16 mm. In conclusion, green tea and peppermint extract toothpastes have antifungal effects. The higher the concentration of the extract used in the toothpaste preparation, the greater the antifungal inhibition zone formed. Keywords: Candida albicans; antifungal toothpaste; green tea; peppermint    Abstrak: Candida albicans merupakan flora normal rongga mulut yang bersifat patogen oportunistik dan menjadi agen penyebab utama kandidiasis oral. Penambahan bahan herbal pada pasta gigi mikroba merupakan solusi terhadap resistensi dan efek samping antijamur sintetik. Ekstrak teh hijau dan peppermint diketahui memiliki peran sebagai antijamur dengan berbagai kandungan aktifnya seperti katekin, tanin, flavonoid, terpenoid, alkaloid dan saponin. Mengetahui efek antifungi sediaan pasta gigi ekstrak teh hijau dan peppermint terhadap C. albicans. Penelitian ini menggunakan metode difusi agar dengan beberapa konsentrasi ekstrak teh hijau dan peppermint dalam sediaan pasta gigi yaitu 1000 mg/ml, 500 mg/ml, 250 mg/ml, 125 mg/ml, 62,5 mg/ml dan 31,25 mg/ml. Hasil penelitian memperlihatkan adanya efek antifungi pada pasta gigi ekstrak teh hijau dan peppermint terhadap C. albicans pada konsentrasi 1000 mg/ml dengan diameter zona hambat rata-rata sebesar 7,19 mm. Zona hambat terkecil dari konsentrasi 125 mg/ml dengan diameter 1,16 mm. Simpulan penelitian ini ialah pasta gigi ekstrak teh hijau dan peppermint memiliki efek antijamur. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam sediaan pasta gigi maka semakin besar zona hambat antijamur yang terbentuk. Kata kunci: Candida albicans; pasta gigi antifungi; teh hijau; peppermint
Pengaruh Edukasi Tentang Pemanfaatan Teledentistry terhadap Peningkatan Pengetahuan Pegawai Puskesmas Andayani, Lia H.; Nusantara, Mutiara A.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.52593

Abstract

Abstract: The government of Indonesia has issued technical guidelines for dental and oral health services at first-level health facilities using teledentistry. Knowledge regarding teledentistry among health care workers in first-level health facilities, especially in community health centers has been considered essential. This study aimed to determine the effect of education regarding teledentistry on increasing the knowledge of Cipanas Community Health Center, Garut Regency. This quasi-experimental study involved 44 health care workers of the Health Center. The questionnaire used consists of 15 items which have been tested for validity and reliability. Pre-test was conducted before receiving material regarding the teledentistry in the form of power point text (PPT), meanwhile, post-test was conducted immediately after material delivery was completed. Paired Sample T-test was carried out to see the difference between pre-test and post-test scores. ANOVA test was carried out to evaluate the difference between pre-test and post-test scores based on respondent characteristics. There was a significant difference between pre-test mean score of 7.5 and post-test mean score of 12.3 (p=0.000). There was a significant difference between pre-test mean score based on educational level (p=0.028) and occupation (p=0.018). There was a significant difference between post-test mean score based on educational level (p=0.009). In conclusion, there is an increase in the knowledge of  healthcare workers of Cipanas Community Health Center after receiving educational material regarding teledentistry. Keywords: Covid-19; dentist; community health center; health workers; teledentistry    Abstrak: Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan petunjuk teknis pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dengan menggunakan teledentistry. Pengetahuan terkait teledentistry dianggap penting bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan FKTP, terutama pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi tentang teledentistry terhadap peningkatan pengetahuan pegawai Puskesmas Cipanas Kabupaten Garut. Studi kuasi eksperimental ini melibatkan 44 pegawai Puskesmas Cipanas Kabupaten Garut. Kuesioner yang digunakan terdiri dari 15 item yang telah diuji validitas serta reliabilitasnya. Pre-test diberikan sebelum mendapatkan materi mengenai teledentistry dalam bentuk power point text (PPT) sedangkan post-test dikerjakan segera setelah pemberian materi selesai.  Uji paired sample t-test dilakukan untuk melihat perbedaan nilai pre-test dan post-test. Hasil penelitian mendapatkan perbedaan bermakna antara rerata nilai pre-test sebesar 7,5 dan post-test sebesar 12,3 (p=0,000). Uji ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna nilai rerata pre-test responden berdasarkan variabel tingkat pendidikan (p=0,028) dan pekerjaan (p=0,018). Terdapat perbedaan bermakna nilai rerata post-test responden berdasarkan variabel tingkat pendidikan (p=0,009). Simpulan penelitian ini ialah terdapat peningkatan pengetahuan pegawai Puskesmas Cipanas Kabupaten Garut setelah mendapatkan materi edukasi mengenai teledentistry. Kata kunci: Covid-19; dokter gigi; puskesmas; tenaga kesehatan; teledentistry
Penggunaan Metode Game Interaktif untuk Edukasi Menggosok Gigi terhadap Kebersihan Gigi dan Mulut serta Kesehatan Gingiva pada Anak Tunanetra Jatmiko, Ignatius S.; Kuswandari, Sri; Talida, Latifa G. S.; Ningrum, Syahra H.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.52942

Abstract

Abstract: Visually impaired children need special care in maintaining their oral health. This study aimed to determine the impact of interactive games for tooth brushing education on the oral hygiene status and gingival index of children with visual impairments. This was a quasi-experimental study design with a pretest and post-test design. Subjects were 32 visually impaired Childrens aged 12–15 years old in SLB Yaketunis Yogyakarta, SLBN 1 Bantul Yogyakarta dan SLB-A YAAT Klaten. This study used the scoring of oral health status with PHP-M and gingival index with Loe and Silness method. Dental health education regarding tooth anatomy was done on day 2,3 and 4 with braille puzzle. Subjects would be able to feel the teeth models while listening to audio containing modified songs to educate them about tooth brushing method. Tooth brushing education was carried out again on days 8, 9 and 10. The subjects were then evaluated on the 14th day. Data on the difference of oral hygiene scores and gingival index before and after the education were analyzed using the paired T-test. The results showed there were significant differences in oral hygiene scores and the Gingival Index based on paired T-test (p<0.05).  The mean and standard deviation of the difference in oral hygiene scores was 0.629±0.297 and the gingival index was 0.242±0.117. In conclusion, the use of interactive game methods for tooth brushing education could improve oral hygiene and gingival health in visually impaired children. Keywords: interactive game, visually impaired children, oral hygiene, gingival health    Abstrak: Anak tunanetra memerlukan pelayanan khusus sesuai keterbatasannya agar mendapatkan kemudahan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode game interaktif untuk edukasi menggosok gigi  terhadap kebersihan gigi dan mulut serta kesehatan gingiva pada anak tunanetra. Jenis penelitian ialah eksperimental semu dengan pretest-posttest design. Subyek penelitian sejumlah 32 anak tunanetra usia 12–15 tahun yang bersekolah di SLB Yaketunis Yogyakarta, SLB N 1 Bantul Yogyakarta dan SLB-A YAAT Klaten. Pada hari pertama penelitian dilakukan skoring kebersihan gigi dan mulut menggunakan PHP-M dan dilakukan skor kesehatan gingiva menggunakan indeks gingiva menurut Loe dan Silness. Hari ke 2, 3, dan 4 dilakukan edukasi menggunakan puzzle Braille sebagai media bermain sambil belajar tentang anatomi gigi sambil diperdengarkan audio berisi lagu yang dimodifikasi untuk edukasi menggosok gigi yang baik,dan benar. Edukasi dilakukan kembali pada hari ke 8, 9 dan 10. Pada hari ke 14 dikakukan skoring kembali seperti yang dilakukan pada hari pertama. Data selisih skor kebersihan gigi dan mulut dan indeks gingiva sebelum dan sesuadah perlakuan dilakukan analisis menggunakan uji paired T-test. Hasil penelitian menunjukkan rerata dan standar deviasi selisih skor kebersihan gigi dan mulut 0,629± 0,297 dan indeks gingiva 0,242±0,117. Hasil analisis uji paired T-test mnunjukkan perbedaan bermakna pada skor kebersihan gigi dan mulut maupun Indeks Gingiva (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah penggunaan metode game interaktif untuk edukasi menggosok gigi dapat meningkatkan keberihan gigi dan mulut serta kesehatan gingiva pada anak tunanetra. Kata kunci:  metode game interaktif, anak tunanetra, kebersihan gigi dan mulut, kesehatan gingiva
Pengaruh Tingkat Keparahan Karies terhadap Kebiasaan Mengunyah Satu Sisi pada Anak Usia 12-14 Tahun Mahendra, Putri K. W.; Wulandari, Veronica; Makmur, Shoimah A.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.52980

Abstract

Abstract: Unilateral chewing can cause tooth malposition and abnormalities in jaw growth and development. This study aimed to determine the influence of caries severity as the etiology of unilateral chewing habits. This was an analytical study with a cross sectional design. Subjects were junior high school students at Gamping District, Sleman, Special Region of Yogyakarta obtained by using simple random sampling as many as 211 subjects. Unilateral chewing assessment was carried out using the direct method by letting the child chewed gum. Measurement of caries severity was carried out using the index introduced by Shimono. Data analysis was carried out using the chi-square test to compare the severity of caries in the two chewing groups. The results showed that 129 (61.14%) out of 211 subjects had unilateral chewing habit. The severity of caries in the unilateral chewing group was moderate (21.33%), high (20.85%), and low (18.96%), respectively. Meanwhile, in the bilateral chewing group, the severity of caries was low (17.54%), moderate (11.85%), and high (9.54%). There was no significant difference (p>0.05) between the severity of caries in the unilateral and the bilateral chewing groups. In conclusion, children with unilateral chewing habits tend to have a higher level of caries severity, although this was not significant. The result is expected to provide knowledge and as a basis for predicting the risk of unilateral chewing due to caries condition. Keywords: unilateral chewing; bilateral chewing; caries severity; children   Abstrak: Mengunyah satu sisi dapat menyebabkan terjadinya malposisi gigi hingga kelainan tumbuh kembang rahang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat keparahan karies sebagai etiologi terjadinya kebiasaan mengunyah satu sisi. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Subyek penelitian ialah 211 siswa Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diambil secara simple random sampling. Penilaian mengunyah satu sisi dilakukan dengan metode langsung (direct), yaitu dengan membiarkan anak mengunyah permen karet. Pengukuran keparahan karies dilakukan dengan indeks Shimono. Analisis data menggunakan uji chi-square untuk membandingkan tingkat keparahan karies pada kedua kelompok mengunyah. Hasil penelitian mendapatkan 129 dari 211 anak (61,14%) memiliki kebiasaan mengunyah satu sisi. Tingkat keparahan karies pada kelompok mengunyah satu sisi paling banyak pada tingkat keparahan karies sedang (21,33%), diikuti tinggi (20,85%), dan rendah (18,96%). Pada kelompok mengunyah dua sisi, tingkat keparahan karies paling banyak pada tingkat keparahan karies rendah (17,54%), diikuti sedang (11,85%), dan tinggi (9,54%). Tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) antara tingkat keparahan karies kedua kelompok. Simpulan penelitian ini ialah kelompok anak dengan kebiasaan mengunyah satu sisi cenderung memiliki tingkat keparahan karies lebih tinggi, meskipun secara statistik tidak bermakna. Hasilnya diharapkan dapat memberikan manfaat berupa pengetahuan dan sebagai dasar prediksi risiko terjadinya mengunyah satu sisi karena kondisi karies. Kata kunci: mengunyah satu sisi; mengunyah dua sisi; tingkat keparahan karies; anak
Stainless Steel Crown pada Perawatan Pendahuluan Gigi Molar Pertama Permanen Muda: Keunggulan versus Kekurangan Warizky, Nanda T.; Jeffrey, Jeffrey
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.53402

Abstract

Abstract: Stainless steel crown (SSC) is a type of crown made from a dental alloy or stainless steel anatomically shaped and easily adaptable to extensively damaged teeth. This SSC can be utilized not only for deciduous teeth but also for young permanent teeth. This literature review aimed to further discuss the role of SSC as a preliminary treatment for young permanent first molars. Data search was conducted on electronic databases such as Google Scholar, NCBI (Pubmed), and Science Direct using the keywords "Stainless Steel Crown" and "Young Permanent Dentition." Previous research suggests that the use of SSC as a preliminary treatment for young permanent first molars is considered highly effective and suitable as a temporary restoration before definitive treatment was performed. In conclusion, it is proven that stainless steel crowns can maintain the function of severely damaged molars in children and adolescents until definitive treatment can be performed. This is attributed to the high success rate and long-term durability of stainless steel crown. Keywords: stainless steel crown; preliminary treatment; young permanent teeth   Abstrak: Stainless steel crown (SSC) adalah jenis mahkota yang terbuat dari paduan logam dental (alloy) atau baja tahan karat berbentuk anatomi gigi dan mudah dibentuk untuk diadaptasikan pada gigi yang mengalami kerusakan luas. Jenis restorasi ini tidak hanya dapat digunakan pada gigi sulung, namun juga untuk gigi permanen muda. Tujuan pembuatan literature review ini untuk membahas lebih lanjut mengenai peran SSC sebagai perawatan pendahuluan pada gigi molar pertama permanen muda. Penelusuran data dilakukan pada basis data elektronik seperti Google Scholar, NCBI (Pubmed), dan Science Direct dengan penentuan kata kunci “Stainless Steel Crown” dan “Young Permanent Dentition”. Penelitian sebelumnya mengemukakan bahwa penggunaan SSC sebagai perawatan pendahuluan pada gigi molar pertama permanen muda dinilai sangat baik dan layak digunakan sebagai restorasi sementara sebelum perawatan definitif dilakukan. Simpulan review ini ialah terbukti bahwa stainless steel crown dapat mempertahankan fungsi gigi molar yang mengalami kerusakan parah baik pada anak maupun remaja sampai perawatan prostetik defnitif dapat dilakukan. Hal ini disebabkan karena stainless steel crown memiliki keberhasilan yang tinggi dan ketahanan jangka panjang. ​Kata kunci: stainless steel crown; perawatan pendahuluan; gigi permanen muda
Ektopik Gigi 18 Simtomatik pada Sinus Maksilaris: Laporan Kasus Istadi, Didit; Trihandoko, Feri
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.53703

Abstract

Abstract: Ectopic tooth locations outside the normal jaw arch such as on the maxillary sinus are rare. The presence of ectopic signs is often found accidentally by dentists during oral cavity examinations. This is due to the absence of symptoms or complaints in the early days. An understanding of the complications that may occur due to ectopic teeth is very necessary for dentists in providing oral health education. We reported a 26-year-old woman complaining of swelling in her right cheek which had become increasingly painful one week before the examination. Orthopantomograph (OPG) x-ray showed that the right upper third molar was positioned on the right maxillary sinus. A CT scan was carried out to determine the position and boundaries of the third molar teeth. Surgery was performed to remove the upper right third molar tooth under general anesthesia using the Caldwell-Luc approach. The final control results showed significantly reduced pain and swelling. In conclusion, surgical excision using the Caldwell-Luc approach for an ectopic tooth into the maxillary anthrum with symptoms shows good results without significant complaints after the procedure. Good wound healing is observed in the 2nd and 3rd months after surgery. Keywords: ectopic tooth; complications; upper third molar; maxillary sinus    Abstrak: Lokasi gigi ektopik di luar lengkung rahang normal seperti pada sinus maksilaris merupakan kasus jarang. Adanya tanda-tanda ektopik sering kali ditemukan tidak sengaja oleh dokter gigi saat pemeriksaan rongga mulut. Hal ini disebabkan tidak adanya gejala ataupun keluhan pada masa-masa awal. Pemahaman tentang komplikasi yang mungkin terjadi akibat gigi ektopik sangat perlu bagi dokter gigi dalam memberi edukasi kesehatan mulut. Kami melaporkan seorang perempuan berusia 26 tahun, dengan keluhan bengkak di pipi kanan yang bertambah nyeri sejak satu minggu sebelum diperiksa. Rontgen ortopantomograf (OPG) menunjukkan gigi molar ketiga atas kanan posisi berada pada sinus maksilaris kanan. Selanjutnya dilakukan CT-scan untuk menentukan posisi dan batas-batas gigi molar ketiga tersebut. Pembedahan dilakukan untuk mengambil gigi molar ketiga kanan atas, di bawah pengaruh bius total, dengan pendekatan Caldwell-Luc. Hasil kontrol akhir menunjukkan nyeri dan bengkak berkurang secara signifikan. Simpulan laporan kasus ini ialah tindakan eksisi bedah dengan pendekatan Caldwell-Luc pada kondisi gigi ektopik ke dalam antrum maksilaris dengan gejala menunjukkan hasil yang baik dan tidak disertai keluhan berarti setelah tindakan, dengan hasil penyembuhan luka yang baik pada bulan ke-2 dan 3 pasca operasi. Kata kunci: gigi ektopik; komplikasi; molar ketiga atas; sinus maksilaris
Efektivitas Waktu Perubahan Perilaku Lanjut Usia Pengguna Gigi Tiruan Lengkap dengan Menggunakan Video Pembersihan Gigi Tiruan Lengkap : (Kajian di Panti Jompo Pusaka 41 Yayasan Al-Madiniyah) Falatehan, Niko; Johannis, Stefano D.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.54020

Abstract

Abstract: Aging process brings about several problems, particularly in the realm of oral health inter alia tooth loss in elderly. Dental prosthetic treatments, such as complete denture treatment can be employed to restore aesthetic, masticatory, and phonetic functions. The timing of follow-up appointments significantly influences the success of complete denture treatments. This study aimed to determine the effectiveness of using educational videos of cleaning complete dentures on time of behavior change among the elderly residents at Panti Jompo Pusaka 41 Yayasan Al-Madiniyah. This was an experimental study with a cross-sectional design using a questionnaire consisting of 15 questions. The results obtained 22 elderlies as subjects. Data collection was performed four times: before the video intervention; control I (one day after the video intervention); control II (one week after control I); and control III (two weeks after control II). Changes in elderly behavior were tested using the Friedman test. The results showed that the most significant change of behavior was during control I, which was one day after receiving instructions in the form of a video. The Friedman test resulted in a p-value of 0.001. In conclusion, the best follow-up time that resulted in the most significant improvement in behavior is control I, which is one day after the administration of instructional videos. Keywords: elderly; complete denture; control time; educational videos; behaviour   Abstrak: Bertambahnya usia akan menimbulkan beberapa permasalahan, khususnya di bidang kesehatan gigi dan mulut; salah satunya ialah kehilangan gigi pada kelompok lanjut usia (lansia). Pada kehilangan gigi dapat dilakukan perawatan gigi tiruan lengkap (GTL) untuk mengembalikan fungsi estetik, mastikasi, dan fonetik. Waktu kontrol memiliki pengaruh besar dalam keberhasilan perawatan GTL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan video edukasi pembersihan GTL terhadap waktu perubahan perilaku lansia pengguna GTL di Panti Jompo Pusaka 41 Yayasan Al-Madiniyah. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan desain potong lintang dan menggunakan kuesioner berisi 15 pertanyaan. Pengambilan data dilakukan sebanyak empat kali, yaitu sebelum diberikan video; kontrol I, sehari setelah pemberian video; kontrol II, satu minggu setelah kontrol I; dan kontrol III, dua minggu setelah kontrol II. Perubahan perilaku lansia diuji menggunakan uji Friedman. Hasil penelitian ini mendapatkan 22 lansia sebagai subjek penelitian. Perilaku lansia mengalami perubahan paling bermakna pada saat kontrol I dengan hasil uji p=0,001. Simpulan penelitian ini ialah waktu kontrol terbaik yang memberikan peningkatan perilaku paling bermakna ialah kontrol I, yaitu sehari setelah pemberian instruksi berupa video. Kata kunci: lanjut usia; gigi tiruan lengkap; waktu kontrol; video edukasi

Page 1 of 4 | Total Record : 36