cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 43 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC" : 43 Documents clear
Akurasi Gambaran CT Scan Tulang Temporal Preoperatif dalam Menilai Kolesteatoma pada Penderita Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) Muhibbah, A. Fitrah; Muis, Mirna; Idris, Nurlaily; Zainuddin, Andi A.; Gaffar, Masyita; Ilyas, Muhammad
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32437

Abstract

Abstract: This study was aimed to determine the accuracy of preoperative temporal bone CT-scan ini assessing cholesteatoma in chronic suppurative otitis media (CSOM) patients. This was a diagnostic test study conducted by comparing the findings of the preoperative temporal bone CT-scan with the intraoperative findings of 54 CSOM patients who had a temporal bone CT-scan followed by surgery at the Hasanuddin University Hospital and the Jaury Academic Hospital. Assessment of cholesteatoma on a preoperative temporal bone CT-scan was performed when soft tissue density was found in the middle ear accompanied by bone erosion. In addition, an assessment was also carried out for the presence of ossicular, scutum, tympanic tegmen, facial nerve canal and mastoid tegmen erosions. The results indicated that the accuracy of preoperative temporal bone CT-scan in assessing cholesteatoma in CSOM patients was 87.04% with a sensitivity of 85%, specificity of 88.23%, a positive predictive value of 80.95%, and a negative predictive value of 90.91%. The sensitivity of the preoperative temporal bone CT-scan in assessing the highest erosion of cholesteatoma in the erosion of the scutum and tympanic tegmen (100%) with the specificity and accuracy of the preoperative temporal bone CT scan of the in assessing erosions in cholesteatoma highest on mastoid tegman erosion  (100% and 96.29%). In conclusion, preoperative CT scan of temporal bone has high accuracy, sensitivity, and specifity values in assessing cholesteatoma and erosions of surrounding structures.Keywords: cholesteatoma, chronic suppurative otitis media (CSOM), temporal bone CT-Scan  Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akurasi gambaran CT-scan tulang temporal preoperatif dalam menilai kolesteatoma pada penderita otitis media supuratif kronis (OMSK). Jenis penelitian ialah uji diagnostik yang membandingkan temuan pada CT scan tulang temporal preoperatif dengan hasil temuan intraoperatif pada 54 penderita OMSK yang menjalani pemeriksaan CT scan tulang temporal dilanjutkan dengan tindakan operasi di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin dan Rumah Sakit Akademis Jaury. Penilaian kolesteatoma pada CT Scan tulang temporal preoperatif ketika ditemukan densitas jaringan lunak di telinga tengah yang disertai dengan erosi tulang. Selain itu, dilakukan penilaian adanya erosi osikula, skutum, tegmen timpani, kanalis nervus fasialis, dan tegmen mastoid. Hasil penelitian mendapatkan akurasi CT scan tulang temporal preoperatif dalam menilai kolesteatoma pada penderita OMSK sebesar 87,04% dengan sensitivitas 85%, spesifisitas 88,23%, nilai prediksi positif 80,95%, dan nilai prediksi negatif 90,91%. Sensitivitas CT scan tulang temporal preoperatif dalam menilai erosi pada kolesteatoma tertinggi pada erosi skutum dan tegmen timpani (100%) dengan spesifisitas dan akurasi CT scan tulang temporal preoperatif dalam menilai erosi pada kolesteatoma tertinggi pada erosi tegmen mastoid (100% dan 96.29%). Simpulan penelitian ini ialah CT scan tulang temporal preoperatif memiliki nilai akurasi, sensitivitas, serta spesifisitas yang cukup tinggi dalam menilai kolesteatoma serta erosi pada struktur di sekitarnya.Kata kunci: kolesteatoma, otitis media supuratif kronis (OMSK), CT scan tulang temporal
Pengaruh Kualitas Tidur terhadap Kejadian Akne Vulgaris Dumgair, Deshinta; Pandeleke, Herry EJ; Kapantow, Marlyn G
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32733

Abstract

Abstract: Acne vulgaris is a chronic pilosebaceous follicle inflammation andi its highest prevalence is on 16-17-year-olds. Factors influencing or triggering acne vulgaris are sebum, genetics, hormones, diet, stress, and cosmetics. Inadequate and unqualified sleep may disrupt physiological and psychological balances, and is estimated to increase androgen hormone activities. This study was aimed to obtain the effect of sleep quality on acne vulgaris incidence. This was a literature review using three databases, as follows: PubMed, ClinicalKey, and Google Scholar. Keywords used were “Kualitas Tidur” DAN “Akne Vulgaris” (Indonesian), and “Sleep quality” AND “Acne Vulgaris” (English). The results obtained 10 literature matching the inclusion and exclusion criteria. The number of samples suffered from acne vulgaris with poor sleep quality was higher than of samples with good sleep quality. There were more male samples than female samples in all literatures in the study. In conclusion, poor sleep quality could trigger and contribute in the development of acne vulgaris.Keywords: sleep quality, acne vulgaris, severity degree  Abstrak: Akne vulgaris merupakan peradangan kronis folikel polisebasea dengan prevalensi tertinggi pada usia 16-17 tahun. Faktor yang memengaruhi atau mencetuskan akne vulgaris yaitu sebum, genetik, hormon, diet, stres, dan kosmetik. Tidur yang tidak adekuat dan berkualitas dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan fisiologis, dan psikologis, serta diperkirakan dapat menyebabkan aktivitas hormon androgen meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas tidur terhadap kejadian akne vulgaris. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu “Kualitas Tidur” DAN “Akne Vulgaris” (Bahasa Indonesia), serta “Sleep quality” AND “Acne Vulgaris” (Bahasa Inggris). Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Sampel yang memiliki kualitas tidur buruk dan menderita akne vulgaris lebih banyak daripada sampel yang memiliki kualitas tidur baik dan menderita akne vulgaris. Derajat keparahan akne vulgaris paling banyak derajat sedang. Total sampel laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan pada semua literatur yang digunakan dalam penelitian. Simpulan penelitian ini ialah kualitas tidur yang buruk dapat mengakibatkan timbulnya akne vulgaris dan juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi dalam perkembangan akne vulgaris.Kata kunci: kualitas tidur, akne vulgaris, tingkat keparahan
Gaya Hidup sebagai Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 Murtiningsih, Made K.; Pandelaki, Karel; Sedli, Bisuk P.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32852

Abstract

Abstract: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a metabolic disease caused by insulin resistance and beta cell dysfunction. It is ranked as the seventh of top 10 causes of death worldwide, and the highest prevalence of cases is T2DM. The dominant lifestyle that triggers T2DM is diet and physical inactivity. This study was aimed to determine whether lifestyle was a risk factor of T2DM. This was a literature review study using two databases, namely Pubmed and Google Scholar. The keywords used were "lifestyle risk factors and type 2 diabetes mellitus". There were 10 literatures obtained based on inclusion and exclusion criteria. The results showed that lifestyle such as unhealthy eating pattern and less physical activity significantly influence the risk factors of T2DM. In conclusion, lifestyles such as unhealthy foods and less physical activity are at high risk of suffering from T2DM.Keywords: risk factors, lifestyle, type 2 diabetes mellitus (T2DM)  Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolisme yang disebabkan karena resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas. DM berada diperingkat ke tujuh sebagai 10 penyakit penyebab kematian di dunia, denganDMT2 sebagai prevalensi kasus tertinggi. Pola hidup yang dominan menjadi pencetus DMT2 ialah pola makan dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya hidup sebagai faktor risiko DMT2. Jenis penelitian ialah literature review. Pencarian data menggunakan dua database yaitu Pubmed dan Google Scholar. Dengan kata kunci yaitu “faktor risiko gaya hidup dan diabetes melitus tipe 2”. Setelah diseleksi, didapatkan 10 literatur berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian mendapatkan bahwa gaya hidup seperti pola makan yang tidak sehat dan pola aktivitas fisik kurang secara bermakna berpengaruh terhadap terjadinya faktor risiko DMT2. Simpulan penelitian ini ialah gaya hidup dengan mengonsumsi makanan tidak sehat dan aktivitas fisik yang kurang memiliki risiko tinggi mengalami DMT2.Kata kunci: faktor risiko, gaya hidup, diabetes melitus tipe 2 (DMT2)
Gambaran Luka pada Kecelakaan Lalu Lintas Khususnya Pengendara Kendaraan Roda Dua yang Tidak Memakai Helm Lintang, Richard D; Mallo, Johannis F; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32706

Abstract

Abstract: According to WHO data, the Global status report on road safety 2018, Indonesia in 2018, with a population of 261,115,456 people reported 31,282 deaths due to traffic accidents, with an estimated mortality rate of 12.2 per 100,000 people. From the number of deaths, 73.6% were two-wheeled-vehicle riders. It is also stated in this report that even though Indonesia has implemented regulations regarding the need to wear head protection while riding, it is estimated that only 71% wear helmets. This study was aimed to obtain the description of injuries that occurred among two-wheeled-vehicle riders who had traffic accidents with and without wearing helmets. The results showed that the wound description of two-wheeled riders who did not wear helmets was not much different from the riders who wore helmets when they had traffic accidents, however, it could be differed from the severity of the injuries. In conclusion, there was a difference in wound description of traffic accidents between two-wheeled drivers with and without wearing helmets. Keywords: wound, traffic accident, two-wheeled riders, helmet  Abstrak: Menurut data WHO “Global status report on road safety 2018”, pada tahun 2018, Indonesia dengan populasi 261.115.456 penduduk dilaporkan mengalami 31.282 jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas, dengan estimasi angka kematian 12,2 per 100.000 orang. Dari jumlah kejadian kematian tersebut, 73,6% ialah pengendara kendaraan roda dua. Dikatakan juga bahwa dari semua pengendara tersebut, walaupun Indonesia telah menerapkan peraturan akan keperluan memakai alat pelindung kepala selagi berlalu lintas, terestimasi hanya 71% yang memakai helm. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran luka pada kecelakaan lalu lintas khususnya pengendara kendaraan roda dua yang tidak memakai helm. Jenis penelitian ialah literature review, menggunakan data yang diperoleh dari database Pubmed, Clinical Key, dan Google Scholar. Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta lolos tahap seleksi dari 1.321 literatur. Gambaran luka yang didapat pada pengendara roda dua yang tidak dan yang memakai helm saat mengalami kecelakaan lalu lintas dapat dibedakan dengan melihat tingkat keparahan dari luka dan cedera yang dialami oleh pengendara tersebut. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan gambaran luka akibat kecelakaan pada pengendara roda dua yang memakai helm dan yang tidak memakai helm.Kata kunci: luka, kecelakaan lalu lintas, pengendara roda dua, helm
Osteoporosis: Diagnosis and Management Rawung, Rangga; Bagy, Raynald G.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32967

Abstract

Abstrak: Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang paling sering dijumpai dan memiliki hubungan erat dengan risiko fraktur sehingga merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang besar. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada perempuan usia lanjut dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tulisan ini merupakan suatu kajian pustaka dengan tujuan untuk menyampaikan konsep dasar dan pemahaman yang lebih baik yang dibutuhkan dalam pengelolaan penyakit ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan penyakit ini membutuhkan strategi tatalaksana yang harus disesuaikan pada setiap pasien, yang meliputi modifikasi gaya hidup, pengelolaan faktor risiko dan terapi farmakologis agar dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas serta komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini. Dibutuhkan penelitian lanjut untuk memberikan bukti dan memberikan pedoman agar pengelolaan penyakit dapat menjadi lebih baik.Kata kunci: osteoporosis, risiko fraktur, densitas mineral tulang Abstract: Osteoporosis is the most commonly bone disease and is highly associated with an increased risk of future fracture furthermore makes it a major public health problem. The disease is most prevalent in older females with multifactorial etiology. This was a literature review using relevant articles. The aim of this study was to provide basic concept and better understanding which is needed to manage the disease. This review showed that individualized treatment strategy is needed. Lifestyle modification, risk factor management, and pharmacological treatment are required to deal with the condition as well as reduced morbidity and mortality caused by the disease and its complication. Further study of this disease needs to be conducted to provide more evidences and guidelines to achieve better management of the disease.Keywords: osteoporosis, fracture risk, bone mineral density
Pengaruh Menstruasi terhadap Akne Vulgaris Hartono, Lusiane M; Kapantow, Marlyn G; Kairupan, Tara S
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32732

Abstract

Abstract: Acne vulgaris is a common inflammatory condition of pilosebaceous follicles that affects 85-100% of the human population. Patients usually complain of the appearance of acne vulagaris on the predilection areas such as face and neck (99%), back (60%), chest, shoulders and upper arms (15%). One of the factors that influence or trigger acne vulgaris is hormonal factor. During menstruation there is an increase and hormonal changes that can trigger acne. This study was aimed to determine the effect of menstruation on acne vulgaris. This was a literature review study using three databases named PubMed, ClinicalKey and Google Scholar. Keywords used were “Menstruasi” DAN “Akne Vulgaris” (Indonesia), and “Menstruation” AND “Acne Vulgaris” (English). In this study, there were 12 literatures that match the inclusion and exclusion criteria. The result was dominated by samples stating that there was a connection between menstruation and the appearance of acne vulgaris. The effect of hormonal instability during menstruation was one of the causes of acne vulgaris in women, which showed the effect of menstruation on the emergence of acne vulgaris, mostly during pre-menstruation. In conclusion, menstruation influences the occurrence and the severity of acne vulgaris.Keywords: menstruation, acne vulgaris  Abstrak: Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu kondisi inflamasi umum pada folikel pilosebasea yang dialami oleh 85-100% populasi manusia. Penderita biasanya mengeluh kemunculan AV pada predileksi wajah dan leher (99%), punggung (60%), dada (15%) bahu, dan lengan bagian atas. Faktor yang memengaruhi atau mencetuskan akne vulgaris salah satunya ialah faktor hormonal. Saat menstruasi terjadi peningkatan dan perubahan hormon yang dapat memicu akne. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh menstruasi terhadap akne vulgaris. Penelitian ini berbentuk literature review. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan “Menstruasi” DAN “Akne Vulgaris” (Bahasa Indonesia) serta “Menstuation” AND “Acne Vulgaris” (Bahasa Inggris). Pada penelitian ini didapatkan 12 literatur yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian didominasi oleh sampel yang menyatakan adanya pengaruh antara menstruasi dengan munculnya AV. Pengaruh ketidakstabilan hormon (estrogen dan progesteron) saat menstruasi merupakan salah satu penyebab munculnya akne vulgaris pada perempuan yang menunjukan adanya pengaruh dari menstruasi terhadap kemunculan AV, terlebih pada saat pre-menstruasi. Simpulan penelitian ini ialah menstruasi memengaruhi kemunculan dan keparahan akne vulgaris.Kata kunci: menstruasi, akne vulgaris
Penyebab Kematian Mendadak di Sulawesi Utara Periode Tahun 2017-2019 Suwu, Anastaisya M; Siwu, James F; Mallo, Johannis F
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32849

Abstract

Abstract: According to the World Health Organization, sudden death occurs within 24 hours of symptom appearing. In forensic cases, most sudden deaths occur within minutes or even seconds after the first symptoms appear and occur unexpectedly. Causes of sudden deaths could be any disease classified according to the body systems. This study was aimed to determine the causes of sudden deaths in North Sulawesi during the period of 2017-2019. This was a retrospective and descriptive study using sudden death data of Visum et Repertum at the Forensic and Medicolegal Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during 2017-2019. The results showed that there were 9 cases of sudden death that were autopsied. Most cases were in the middle age group of 40-60 years with a total of 6 cases, followed by 2 cases at the age of 13-21 years, and 1 case at the age of >60 years. Ratio of male to female cases was 8:1. There were 4 cases of cardiovascular diseases, 2 cases of respiratory diseases, 2 cases of central nervous diseases, 1 case of digestive system; no cases of urogenital diseases. In conclusion, most sudden death cases in North Sulawesi during the period of 2017-2019 were males, aged 40-60 years, and caused by cardiovascular diseases.Keywords: causes of sudden death  Abstrak: Menurut World Health Organization, kematian mendadak adalah kematian yang terjadi pada 24 jam sejak gejala-gejala timbul. Pada sebagian besar kasus forensik, kematian terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik sejak gejala pertama timbul dan terjadi secara tidak terduga. Penyebab kematian mendadak dapat disebabkan oleh berbagai penyakit yang diklasifikasikan menurut sistem tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kematian mendadak di Sulawesi Utara periode tahun 2017-2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data Visum et Repertum jenazah dengan kematian mendadak di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2017-2019. Hasil penelitian mendapatkan 9 kasus kematian mendadak yang diautopsi; 6 kasus pada kelompok tengah usia 40-60 tahun; 2 kasus pada usia 13-21 tahun; dan 1 kasus pada usia >60 tahun. Jenis kelamin didominasi oleh laki-laki dibandingkan perempuan (8:1). Didapatkan 4 kasus dengan penyakit sistem kardiovaskuler, 2 kasus dengan penyakit sistem pernapasan, 2 kasus dengan penyakit sistem susunan saraf pusat, dan 1 kasus dengan sistem saluran cerna; tidak ditemukan kasus dengan penyakit sistem urogenitalia. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar kasus kematian mendadak di Sulawesi Utara periode tahun 2017-2019 berjenis kelamin laki-laki, usia 40-60 tahun, dan disebabkan oleh penyakit sistem kardiovaskuler.Kata kunci: penyebab kematian mendadak
Profil Pembunuhan di Kota Manado Tahun 2018-2019 Langelo, Andrew P; Kristanto, Erwin G; Mallo, Nola T. S.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32848

Abstract

Abstract: The total risk of death due to homicide shows a tendency to decline in the past quarter century. However, the global homicide rate counted as a population proportion declines simply due to the incline of global population. This study was aimed to obtain the profile of homicides in Manado from 2018 to 2019. This was a descriptive and retrospective study with a cross sectional design using homicide case reports from 2018 to 2019. The results showed that there were 17 cases of homicides in 2018-2019 in Manado, predominated by violence in 15 cases (88%). Most of the prepetrators were males (94%), aged 17-25 years (59%). Moreover, all victims were males (100%), aged 17-25 tahun (53%). Of 17 cases, 13 cases were autopsied (76%). In conclusion, homicides in Manado tends to decrease, but the death rate due to violence is still high enough. Moreover, most of the victims and perpetrators are students, therefore, a preventive action from the government as well as from the community and related institutions is needed.Keywords: homicide profile  Abstrak: Keseluruhan risiko yang mengalami kematian akibat pembunuhan terus menurun pada seperempat abad terakhir ini, namun, penurunan tingkat pembunuhan global yang dihitung sebagai proporsi populasi hanya disebabkan karena peningkatan populasi global. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil pembunuhan di Kota Manado tahun 2018-2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang dengan menggunakan laporan kasus pembunuhan di Polresta Kota Manado pada tahun 2018-2019.  Hasil penelitian mendapatkan kasus pembunuhan pada tahun 2018-2019 di Kota Manado berjumlah 17 kasus, dengan kekerasan yang paling banyak terjadi ialah kekerasan tajam sebanyak 15 kasus (88%). Pelaku terbanyak berjenis kelamin laki-laki (94%) dan usia 17-25 tahun (59%). Korban terbanyak berjenis kelamin laki-laki (100%) dan dengan usia 17-25 tahun (53%). Darii 17 kasustersebut, terdata 13 kasus yang diautopsi (76%). Simpulan penelitian ini ialah angka pembunuhan di Kota Manado cenderung menurun, namun angka kematian akibat kekerasan tajam masih cukup tinggi serta mayoritas korban dan pelaku tergolong pelajar berjenis kelamin laki-laki. Untuk itu diperlukan suatu tindak pencegahan baik dari pemerintah maupun dari masyarakat dan institusi terkait.Kata kunci: profil pembunuhan
Hubungan Kadar Vitamin D dan Kadar C-Reactive Protein dengan Klinis Pasien Coronavirus Disease 2019 Berhandus, Catrien; Ongkowijaya, Jeffrey A.; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.33043

Abstract

Abstract: COVID-19 patients could experience many respiratory symptoms accompanied with increased inflammatory markers, such as C-reactive protein (CRP). Vitamin D is known to have a positive effect on immune system by decreasing inflammatory process. This study was aimed to evaluate the relationship between vitamin D and CRP concentration and clinical severity, and the correlation between vitamin D concentration and CRP concentration in COVID-19 patients. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design conducted at Prof. dr. R. D. Kandou hospital. A total of 40 subjects with COVID-19 were included. Clinical severity was classified into moderate and severe. All subjects underwent vitamin D and CRP concentration examination. The results showed that there was a significant relationship between vitamin D level and clinical severity of patients with COVID-19 (p=0.0001). There was a significant relationship between CRP level and clinical severity of patients with COVID-19 (p=0.0001). Moreover, there was a negative correlation between vitamin D concentration and CRP concentration (r=-0.49, p=0.001). In conclusion, vitamin D insufficiency or deficiency is related to CRP increament and clinical severity of patients with COVID-19.Keywords: coronavirus disease 2019, vitamin D, C-reactive protein (CRP), clinical severityAbstrak: Penderita COVID-19 mengalami berbagai gejala pernapasan disertai dengan pening-katan beberapa penanda inflamasi, salah satunya C-reactive protein (CRP). Vitamin D diketahui memiliki efek positif terhadap sistem imun tubuh dengan cara meredam proses inflamasi berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kadar vitamin D dan kadar CRP dengan klinis COVID-19, dan korelasi antara kadar vitamin D dengan kadar CRP. Jenis penelitian ini ialah studi analitik observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou. Total sampel sebanyak 40 pasien dengan diagnosis COVID-19. Gejala klinis pasien dibagi menjadi sedang dan berat. Pemeriksaan kadar vitamin D dan kadar CRP dilakukan pada seluruh sampel. Hasil penelitian mendapatkan hubungan bermakna antara kadar vitamin D dengan klinis pasien COVID-19 (p=0,0001), dan antara kadar CRP dengan klinis pasien COVID-19 (p=0,0001). Terdapat korelasi negatif antara kadar vitamin D dengan kadar CRP (r=-0,49, p=0,001). Simpulan penelitian ini ialah insufisiensi atau defisiensi vitamin D berhubungan dengan peningkatan CRP dan klinis pasien COVID-19.Kata kunci: coronavirus disease 2019, vitamin D, C-reactive protein (CRP), gejala klinis
Terapi Pemberian Besi pada Penderita Anemia Defisiensi Besi Kapoh, Sabatika R; Rotty, Linda W. A.; Polii, Efata B. I.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32863

Abstract

Abstract: Iron deficiency anemia (IDA) is caused by deficiency of iron needed for hemoglobin synthesis. Based on WHO data 2011, of 100% cases of patients with severe anemia, there were 50% of pregnant women, 49% of non-pregnant women, and 42% of children suffered from iron deficiency. Other literatures mentioned about 2-5% of adult men and post menopause women were diagnosed as iron deficiency anemia in developed countries. This study was aimed to determine the relationship between iron therapy in patients and iron deficiency anemia. This was a literature review study, summarizing the results of studies that included iron therapy to iron deficiency anemia patients. The results showed a positive result of iron therapy among iron deficiency anemia patients. In conclusion, there is an increase in hemoglobin among iron deficiency anemia patients after being given iron therapy.Keywords: iron deficiency anemia, iron therapy  Abstrak: Anemia defisiensi besi (ADB) disebabkan oleh kekurangan zat besi yang dibutuhkan untuk sintesis hemoglobin. Berdasarkan data dari WHO (World Health Organization) tahun 2011, dari 100% kasus penderita anemia berat yang dilaporkan, diperkirakan 50% wanita hamil, 49% wanita tidak hamil, dan 42% kasus anak penderita anemia didapatkan berkaitan dengan kekurangan zat besi. Data lain menyebutkan sekitar 2-5% pria dewasa dan wanita pasca menopause mengalami ADB di negara maju. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian besi pada pasien anemia defisiensi besi. Jenis penelitian ialah literature review. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil positif pemberian terapi besi pada pasien anemia defisiensi besi. Simpulan penelitian ini ialah terdapat peningkatan hemoglobin pada pasien anemia defisiensi besi setelah diberikan terapi besi.Kata kunci: anemia defisiensi besi, terapi besi