cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,101 Documents
Karakteristik Pasien dengan Benda Asing Esofagus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Karokaro, Yose L. F. H.; Mengko, Steward K.; Najoan, Rizki R.
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.65856

Abstract

Abstract: Esophageal foreign bodies represent a medical emergency that may lead to serious complications in adults and children. Esophagoscopy serves as the main modality for identifying the location and removing the foreign body, either using rigid or flexible instruments. This study aimed to determine the characteristics of patients with esophageal foreign bodies at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado. This was a descriptive and retrospective study using medical record data of patients diagnosed with esophageal foreign bodies at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado for the years 2020–2024. The results showed that out of 56 samples, 55.35% were male patients. The highest percentages were found in childhood age group (48.21%), odynophagia (32.14%), and dysphagia (30.36%) as the primary symptoms, inorganic foreign bodies (85.71%), and cervical esophagus (80.36%) as the site of impaction. Rigid esophagoscopy was the most commonly used extraction method (96.42%). In conclusion, esophageal foreign bodies are more commonly found in males, predominantly in children. Odynophagia was the most frequently reported symptom. Most foreign bodies causing impaction were inorganic in nature, and the cervical esophagus was the most common site of lodgment. Rigid esophagoscopy remains the primary modality used in management. Keywords: esophageal foreign body; esophagoscopy management; rigid esophagoscopy   Abstrak: Benda asing esofagus merupakan salah satu kegawatdaruratan medis yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius baik pada anak maupun dewasa. Esofagoskopi menjadi modalitas utama dalam menentukan lokasi dan sekaligus mengekstraksi benda asing, baik dengan esofagoskopi kaku maupun fleksibel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien dengan benda asing esofagus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif, menggunakan data rekam medis pasien dengan diagnosis benda asing esofagus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2020-2024. Hasil penelitian mendapatkan 56 sampel penelitian; 55,35% ialah pasien laki-laki. Persentase tertinggi didapatkan pada kelompok usia anak-anak (48,21%), gejala utama odinofagia (32,14%) dan disfagia (30,36%), jenis benda asing anorganik (85,71%), lokasi impaksi pada segmen servikal (80,36%), dan esofagoskopi kaku sebagai metode ekstraksi (96,42%). Simpulan penelitian ialah kejadian benda asing esofagus lebih sering ditemukan pada laki-laki, terutama kelompok usia anak-anak, dengan keluhan odinofagia, benda asing anorganik, lokasi pada segmen servikal esofagus, dan penatalaksanaan menggunakan esofagoskopi kaku. Kata kunci: benda asing esofagus; tatalaksana esofagoskopi; esofagoskopi kaku
Perbedaan Luaran Maternal dan Perinatal pada Preeklamsia Onset Dini dan Onset Lambat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Natan Arikalang; Erna Suparman; John J. E. Wantania
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.65895

Abstract

Abstract: Timing of preeclampsia onset, early-onset (<34 weeks) and late-onset (≥34 weeks), is known to be associated with varying degrees of severity and pregnancy outcomes. This study aimed to determine the differences in maternal and perinatal outcomes between early-onset and late-onset preeclampsia at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado during years 2022–2024. This was an analytical and observational study with a cross-sectional approach. Data were collected retrospectively from medical records using a total sampling technique. Data were analyzed using the chi-square test or Fisher’s exact test. The results obtained 488 patients that met the inclusion criteria, consisting of 159 patients with early-onset preeclampsia and 329 patients with late-onset preeclampsia. Maternal outcomes such as eclampsia (13.2% vs 1.8%; p<0,001), HELLP syndrome (33.3% vs 4.9%; p<0.001), and maternal mortality (5.0% vs 0.9%; p=0.007) were significantly higher in the early-onset group. Meanwhile, pulmonary edema and placental abruption showed no significant difference. For perinatal outcomes, early-onset preeclampsia demonstrated a markedly higher rate of complications, including prematurity (91.8%), low birth weight (92.5%), neonatal asphyxia (58.5%), IUGR (34.0%), and perinatal mortality (54.7%), all with p<0.001 compared to the late-onset group. In conclusion, there are significant differences in maternal and perinatal outcomes between early-onset and late-onset preeclampsia at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado, with early-onset preeclampsia being associated with poorer maternal and perinatal outcomes. Keywords: preeclampsia; early-onset; late-onset; maternal outcomes; perinatal outcomes   Abstrak: Waktu munculnya preeklamsia, yaitu onset dini (<34 minggu) dan onset lambat (≥34 minggu), diketahui berkaitan dengan variasi tingkat keparahan dan luaran kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan luaran maternal dan perinatal pada preeklamsia onset dini dan onset lambat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2022–2024. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan secara retrospektif melalui rekam medis menggunakan teknik total sampling Hasil penelitian mendapatkan 488 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari 159 pasien dengan preeklamsia onset dini dan 329 pasien dengan onset lambat. Analisis statistik menggunakan uji chi-square atau Fisher’s Exact. Luaran maternal seperti eklampsia (13,2% vs 1,8%; p<0,001), sindrom HELLP (33,3% vs 4,9%; p<0,001), serta mortalitas maternal (5,0% vs 0,9%; p=0,007) secara bermakna lebih tinggi pada kelompok onset dini, sedangkan edema paru dan solusio plasenta tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Pada luaran perinatal, onset dini memiliki proporsi komplikasi yang jauh lebih tinggi, mencakup prematuritas (91,8%), BBLR (92,5%), asfiksia neonatorum (58,5%), IUGR (34,0%), dan mortalitas perinatal (54,7%), seluruhnya dengan nilai p<0,001 dibanding onset lambat. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan bermakna antara luaran maternal dan perinatal pada pasien preeklamsia onset dini dan onset lambat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, dimana onset dini berkaitan dengan luaran maternal dan perinatal yang lebih buruk. Kata kunci: preeklamsia; onset dini; onset lambat; luaran maternal; luaran perinatal
Evaluasi Luaran Labioplasti Menggunakan Indeks Asher-McDade Tulandi, Prayvie S. F.; Hatibie, Mendy J.; Lampus, Harsali F.
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.65953

Abstract

Abstract: The Asher-McDade Index is one of the most widely used international methods for evaluating postoperative aesthetic outcomes in cleft lip patients. However, local studies assessing labioplasty outcomes using this index remain limited. This study aimed to evaluate the aesthetic results of labioplasty at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital using the Asher-McDade Index in years 2022-2025. Aesthetic evaluation was performed on postoperative photographs by a single assessor. The analysis was conducted descriptively. The results obtained a total of six samples. The overall mean scores ranged from 1 to 2.75, with median values per patient between 1 and 2.5. The components that most frequently demonstrated higher scores were nasal profile and vermilion border, while nasal form and deviation consistently scored 1. In conclusion, the aesthetic outcomes of labioplasty in these samples were generally classified as good, although variations were observed particularly in the vermilion and nasal profile components. Keywords: cleft lip; cleft lip and palate; Asher-McDade Index   Abstrak: Indeks Asher-McDade merupakan metode yang paling banyak digunakan secara internasional untuk mengevaluasi hasil estetika pascaoperasi bibir sumbing, namun, penelitian lokal yang menilai luaran labioplasti menggunakan indeks ini masih sangat terbatas. Peneltian ini bertujuan untuk menilai luaran estetika labioplasti di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado menggunakan indeks Asher-McDade tahun 2022-2025. Analisis dilakukan secara deskriptif. Evaluasi estetika dilakukan pada foto pascaoperasi oleh satu penilai. Hasil penelitian mendapatkan total enam sampel. Skor rerata keseluruhan berkisar antara 1-2,75, dengan nilai median per pasien berada pada rentang 1-2,5. Komponen yang paling sering menunjukkan skor lebih tinggi ialah profil hidung dan batas vermilion, sementara bentuk dan deviasi hidung konsisten berada pada skor 1. Simpulan penelitian ini ialah luaran estetika labioplasti pada sampel penelitian umumnya berada pada kategori baik, meskipun variasi terlihat terutama pada komponen vermilion dan profil hidung. Kata kunci: celah bibir; celah bibir dan langit-langit; indeks Asher-McDade
Pengaruh Pemberian Kafein terhadap Luaran Klinis Penyakit Parkinson Skor UPDRS Adinata, Daniel N.; Sekeon, Sekplin A. S.; Warouw, Finny
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.66057

Abstract

Abstract: Parkinson’s disease is the second most common neurodegenerative disorder worldwide and still lacks of a disease-modifying therapy. Caffeine, an A2AR antagonist, may provide neuroprotection and modulate the dopaminergic system, potentially improving both motor and non-motor symptoms of this disease. This study aimed to evaluate the association of caffeine administration with Unified Parkinson’s Disease Rating Scale (UPDRS) score changes in patients with Parkinson’s disease through a meta-analysis of clinical trials. This meta-analysis showed that caffeine was associated with a statistically significant reduction in UPDRS III scores at enam weeks with moderate certainty, statistically insignificant reductions on UPDRS I, II, III (beyond six weeks), and IVFluctuations with moderate certainty, and statistically insignificant increases in UPDRS IVDyskinesia with low certainty. All UPDRS subscale changes might not be clinically meaningful. In conclusion, caffeine likely reduces UPDRS I, II, III, and IVFluctuation scores and may increase UPDRS IVDyskinesia, but may not be clinically meaningful. Nonetheless, caffeine remains a potential adjuvant candidate warranting further trials incorporating drug holidays to prevent tolerance Keywords: Parkinson’s disease; caffeine; Unified Parkinson’s Disease Rating Scale    Abstrak: Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif kedua tersering di dunia dan masih belum memiliki terapi yang dapat memodifikasi progresifitasnya. Kafein, antagonis A2AR, diduga memiliki efek neuroprotektif dan modulasi sistem dopaminergik yang berpotensi memperbaiki gejala motorik maupun non-motorik penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan pemberian kafein terhadap perubahan skor Unified Parkinson’s Disease Rating Scale (UPDRS) pada pasien penyakit Parkinson melalui meta-analisis uji klinis. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa pemberian kafein secara statistik bermakna menurunkan skor UPDRS III durasi intervensi enam minggu dengan keyakinan sedang, tidak secara statistik bermakna menurunkan skor UPDRS I, II, III (selain durasi intervensi enam minggu), dan IVFluktuasi dengan keyakinan sedang, serta tidak secara statistik bermakna meningkatkan skor UPDRS IVDiskinesia dengan keyakinan rendah. Semua perubahan luaran subskala UPDRS mungkin tidak bermakna secara klinis. Simpulan penelitian ini ialah pemberian kafein kemungkinan besar menurunkan skor UPDRS I, II, III, dan IV bagian fluktuasi, serta mungkin meningkatkan skor UPDRS IVDiskinesia, tetapi mungkin tidak bermakna secara klinis. Meskipun demikian, terdapat potensi kafein sebagai adjuvan yang masih memerlukan penelitian lanjutan dengan drug holiday untuk mencegah toleransi. Kata kunci: penyakit Parkinson; kafein; Unified Parkinson’s Disease Rating Scale
Hubungan Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner dengan Jumlah Lesi Arteri Koroner Berdasarkan Sullivan Vessel Score pada Pasien STEMI Sarjono, Bezalel T.; Rampengan, Starry H.; Jim, Edmond L.
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.66604

Abstract

Abstract: ST-elevation myocardial infarction (STEMI) is a clinical manifestation of coronary heart disease (CHD) with a high mortality rate. The anatomical severity of coronary artery disease (CAD) varies and is influenced by the burden of cardiovascular risk factors. This study aimed to analyze the relationship between CHD risk factors and the number of coronary artery lesions based on the Sullivan Vessel Score in STEMI patients at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital in Manado. This was an analytical and retrospective study with a cross-sectional design using electronic medical records with total sampling technique. The results showed that among 204 included patients, there were statistically significant relationships (p<0.05) between gender, smoking (38.2%), hypertension (77.5%), dyslipidemia (66.7%), diabetes mellitus (37.3%), and obesity (46.1%) with the number of coronary artery lesions. No statistically significant relationship (p >0.05) was found for the variables of age and family history (2.9%). In conclusion, there is a relationship between gender, smoking, hypertension, dyslipidemia, diabetes mellitus, and obesity with the number of coronary artery lesions, however, there is no relationship with age and family history. Keywords: coronary heart disease; risk factors; coronary artery lesion   Abstrak: Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) ialah manifestasi klinis penyakit jantung koroner (PJK) dengan tingkat mortalitas yang tinggi. Derajat keparahan anatomi penyakit arteri koroner bervariasi dan dipengaruhi oleh beban faktor risiko kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko PJK dan jumlah lesi arteri koroner berdasarkan Sullivan Vessel Score pada pasien STEMI di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif dengan desain potong lintang, menggunakan rekam medis elektronik dengan teknik total sampling. Hasil penelitian mendapatkan bahwa di antara 204 pasien, terdapat hubungan bermakna secara statistik (p<0,05) antara jenis kelamin, merokok (38,2%), hipertensi (77,5%), dislipidemia (66,7%), diabetes melitus (37,3%), dan obesitas (46,1%) dengan jumlah lesi arteri koroner. Tidak ditemukan hubungan bermakna secara statistik (p>0,05) untuk variabel usia dan riwayat keluarga (2,9%). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara jenis kelamin, merokok, hipertensi, dislipidemia, diabetes melitus, dan obesitas dengan jumlah lesi arteri koroner, namun, tidak terdapat hubungan dengan usia dan riwayat keluarga. Kata kunci: penyakit jantung koroner; faktor risiko; lesi arteri koroner
Luaran Klinis dan Tantangan Teknis Total Hip Replacement pada Pasien Muda dengan Dislokasi Panggul yang Terabaikan Sadi, Fadilla N. R.; Kambey, Stefan A. G. P.; Wagiu, Angelica M. J.
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.66621

Abstract

Abstract: Neglected hip dislocation in young patients often leads to severe deformity, soft-tissue contractures, avascular necrosis, and secondary osteoarthritis. Total hip replacement (THR) has become a viable reconstructive option, although the available evidence remains limited and is primarily derived from small case series. This study aimed to evaluate the clinical and functional outcomes of THR in young patients with neglected hip dislocation. A structured search was conducted across six predetermined databases for studies published between 2015 and 2025, following PRISMA and PICOS guidelines. 18 studies met the inclusion criteria and were appraised using the OCEBM 2011 and JBI 2020 tools. Most studies reported substantial postoperative improvement, including marked pain reduction and significant increases in functional scores—particularly the Harris Hip Score, with average gains of 40–50 points. Major complications were uncommon, and uncemented THR was more frequently employed to preserve bone stock. The main surgical challenges included acetabular deformity, soft-tissue fibrosis, limb-length discrepancy, and risk of recurrent dislocation. In conclusion, THR appears effective in restoring function and improving quality of life in young patients with neglected hip dislocation, although larger prospective studies are required to strengthen the long-term evidence base. Keywords: total hip replacement; neglected hip dislocation; young patients   Abstrak: Dislokasi panggul terabaikan pada pasien muda sering menyebabkan deformitas berat, kontraktur jaringan lunak, avaskular nekrosis, dan osteoartritis sekunder. Total hip replacement (THR) telah menjadi pilihan rekonstruksi yang layak, meskipun bukti yang ada masih terbatas dan terutama berasal dari seri kasus kecil. Penelitian ini bertujuan untuk menilai luaran klinis dan fungsional dari THR pada pasien muda dengan dislokasi panggul terabaikan. Pencarian terstruktur dilakukan pada enam basis data yang telah ditentukan untuk studi yang dipublikasikan antara tahun 2015 hingga 2025, mengikuti pedoman PRISMA dan PICOS. Terdapat 18 studi memenuhi kriteria inklusi dan dinilai menggunakan alat penilaian OCEBM 2011 dan JBI 2020. Sebagian besar studi melaporkan perbaikan pascaoperasi yang substansial, termasuk penurunan nyeri yang jelas dan peningkatan bermakna pada skor fungsional—terutama Harris Hip Score, dengan kenaikan rerata 40–50 poin. Komplikasi mayor jarang terjadi, dan THR uncemented lebih sering digunakan untuk mempertahankan cadangan tulang. Tantangan bedah utama mencakup deformitas asetabulum, fibrosis jaringan lunak, ketidaksamaan panjang tungkai, dan risiko dislokasi ulang. Simpulan penelitian ini ialah THR tampak efektif dalam memulihkan fungsi dan meningkatkan kualitas hidup pada pasien muda dengan dislokasi panggul terabaikan, meskipun studi prospektif yang lebih besar diperlukan untuk memperkuat bukti jangka panjang. Kata kunci: total hip replacement; dislokasi panggul terabaikan; pasien muda
Analisis Pengaruh Budaya Kerja, Kepemimpinan, serta Komunikasi Terhadap Kinerja Perawat Kontrak di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. III Manado Wangko, William S.; Jak, Yanuar; Rumengan, Grace
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.64242

Abstract

Abstract: Nursing is a very vital part of the healthcare service system in hospitals and directly affects the quality of the service itself. This study aimed to analyze the influence of work culture, leadership, and communication on the performance of contract nurses in the Inpatient Installation of Rumah Sakit Bhayangkara Tk. III Manado. This was an explanatory study using a quantitative approach. The research population includes 110 contract nurses, and samples were randomly selected with a total of 86 respondents. Data were collected through structured questionnaires. Data analysis was conducted using multiple linear regression to test the influence of independent variables on the dependent variable. The results showed that work culture, leadership, and communication had significant influence on the performance of contract nurses, both individually and collectively. A strong work culture enhances work efficiency, effective leadership motivates nurses to achieve higher standards, and good communication improves team coordination. In conclusion, improving the performance of contract nurses can be achieved through strengthening a positive work culture, implementing supportive leadership styles, and fostering effective communication. This study recommends that hospital management strengthen leadership training programs, build a work culture that supports innovation, and improve communication channels to support nurse performance. Keywords: work culture; leadership; communication; nurse performance    Abstrak: Keperawatan merupakan bagian yang sangat vital dalam sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit serta secara langsung berdampak pada kualitas layanan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh budaya kerja, kepemimpinan, serta komunikasi terhadap kinerja perawat kontrak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Bhayangkara Tk. III Manado. Metode penelitian ialah eksplanatori melalui pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian mencakup 110 perawat kontrak, serta sampel diambil secara acak dengan jumlah 86 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan dengan regresi linier berganda sebagai penguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil penelitian mendapatkan bahwa budaya kerja, kepemimpinan, serta komunikasi memberikan pengaruh bermakna terhadap kinerja perawat kontrak, baik secara terpisah ataupun bersama-sama. Budaya kerja yang kuat meningkatkan efisiensi kerja, kepemimpinan yang efektif mendorong perawat untuk mencapai standar yang lebih tinggi, serta komunikasi yang baik memperbaiki koordinasi tim. Simpulan penelitian ini ialah peningkatan kinerja perawat kontrak dapat dicapai melalui penguatan budaya kerja positif, penerapan gaya kepemimpinan yang mendukung, serta komunikasi yang efektif. Penelitian ini merekomendasikan agar manajemen rumah sakit memperkuat program pelatihan kepemimpinan, membangun budaya kerja yang mendukung inovasi, serta meningkatkan alur komunikasi untuk mendukung kinerja perawat. Kata kunci: budaya kerja; kepemimpinan; komunikasi; kinerja perawat
Kasus Tonsilitis Akut dan Tonsilitis Kronik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2022-2024 Sabastian L. P. Gultom; Olivia C. P. Pelealu; Valentini M. Pontoh
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.65894

Abstract

Abstract: Tonsillitis is an inflammation of the palatine tonsils that is commonly found in healthcare services and can be acute or chronic. Acute tonsillitis is generally self-limiting, while chronic tonsillitis is often associated with recurrent infections and impaired quality of life. This study aimed to determine the distribution of tonsillitis cases at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital in Manado. This was a retrospective and descriptive study using total sampling method. The results showed 30 patients with acute tonsillitis (18.2%) and 135 patients with chronic tonsillitis (81.8%) at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado during the years 2022–2024. Males were the majority in both diseases (60% acute, 53.3% chronic tonsillitis). The adult age group dominated in both diseases (36.7% acute, 52.6% chronic tonsillitis). Fever was the most common symptom found in acute tonsillitis (73.3%), and painful swallowing (71.1%) in chronic tonsillitis. The most common tonsil size in acute tonsillitis was T2-T2 (53.3%) and T3-T3 (35.6%) in chronic tonsillitis. Medical management in the form of antibiotics was the most common treatment for both diseases (90% acute, 91.1% chronic tonsillitis), and tonsillectomy was the most common surgical procedure performed on patients with chronic tonsillitis (53.3%). In conclusion, chronic tonsillitis is more common than acute tonsillitis. There are differences in clinical and demographic characteristics between the two groups, which emphasize the importance of describing epidemiological profiles in optimizing the management of tonsillitis. Keywords: acute tonsillitis; chronic tonsillitis; clinical profile                                   Abstrak: Tonsilitis merupakan inflamasi tonsil palatina yang sering ditemukan pada layanan kesehatan dan dapat bersifat akut maupun kronik. Tonsilitis akut umumnya bersifat self-limiting, sedangkan tonsilitis kronik sering berhubungan dengan infeksi berulang dan gangguan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi kasus tonsilitis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 30 pasien tonsilitis akut (18,2%) dan 135 pasien tonsilitis kronik (81,8%) di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2022-2024. Jenis kelamin laki-laki yang terbanyak pada kedua penyakit (60% akut, 53,3% kronik). Kelompok usia dewasa mendominasi pada kedua penyakit (36,7% akut, 52,6% kronik). Demam merupakan gejala terbanyak ditemukan pada akut (73,3%), dan nyeri menelan (71,1%) pada kronik. Ukuran tonsil tersering pada tonsilitis akut ialah T2-T2 (53,3%) dan pada kronik T3-T3 (35,6%). Tatalaksana medikamentosa berupa antibiotik yang terbanyak pada kedua penyakit (90% akut, 91,1% kronik), dan tonsilektomi merupakan tindakan operatif terbanyak yang dilakukan pada tonsilitis kronik (53,3%). Simpulan penelitian ini ialah tonsilitis kronik lebih banyak ditemukan dibanding yang akut. Terdapat perbedaan karakteristik klinis dan demografis pada kedua kelompok, yang menegaskan pentingnya pendeskripsian profil epidemiologis dalam optimalisasi penatalaksanaan tonsilitis. Kata kunci: tonsilitis akut; tonsilitis kronik; profil klinis
Stenosis Trakea Distal Jinak Berat Pasca Trakeostomi dengan Gagal Napas Hiperkapnik: Dilatasi Bougie Terpandu Bronkoskopi dan Trakeostomi Distal Terarah Ronald D. Tampubolon; Barry I. Kambey; Mordekhai L. Laihad; Efata B. I. Polii
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.65878

Abstract

Abstract: Tracheal stenosis is a progressive upper-airway obstruction, most commonly occurring after intubation or tracheostomy in adults. We reported a 24-year-old man with a history of tracheostomy and prior bronchoscopy presented with acute worsening dyspnea and inspiratory stridor. Pre-intubation arterial blood gas demonstrated compensated hypercapnia (pH 7.347; pCO₂ 80 mmHg) despite oxygen saturation of 100%. Chest X-ray showed no significant parenchymal abnormality, and neck CT excluded external compression, while bronchoscopy revealed benign granulation tissue occluding >90% of the distal tracheal lumen, consistent with severe distal tracheal stenosis (Cotton–Myer grade 3–4) complicated by hypercapnic respiratory failure. Management consisted of emergency airway stabilization with orotracheal intubation and ICU care, followed by bronchoscopic bougie dilatation and targeted tracheostomy distal to the stenosis. This case highlights the need for high clinical suspicion and a multidisciplinary, stepwise approach to secure ventilation and bridge to definitive therapy. Keywords: tracheal stenosis; bronchoscopy; tracheostomy; hypercapnic respiratory failure   Abstrak: Stenosis trakea merupakan obstruksi jalan napas atas yang dapat progresif dan pada pasien dewasa paling sering terjadi pasca-intubasi atau pasca-trakeostomi. Kami melaporkan seorang laki-laki 24 tahun dengan riwayat trakeostomi dan bronkoskopi sebelumnya, datang dengan sesak mendadak memberat disertai stridor inspirasi dan rasa tercekik. AGD pra-intubasi menunjukkan hiperkapnia terkompensasi (pH 7,347; pCO₂ 80 mmHg) dengan saturasi oksigen 100%. Foto toraks tidak menunjukkan kelainan parenkim bermakna dan CT colli tidak menemukan kompresi eksternal, sedangkan bronkoskopi memperlihatkan jaringan granulasi jinak yang menutup >90% lumen trakea distal. Pasien didiagnosis stenosis trakea distal jinak derajat berat setara Cotton–Myer 3–4 dengan gagal napas hiperkapnik. Tata laksana dilakukan secara bertahap melalui intubasi darurat dan stabilisasi di ICU, dilatasi bougie terpandu bronkoskopi, serta trakeostomi terarah distal dari lesi, sudah sesuai dengan prinsip penatalaksanaan obstruksi jalan napas sentral. Pendekatan ini berhasil menstabilkan ventilasi, namun pasien tetap memerlukan tindak lanjut berupa rujukan untuk terapi definitif seperti pemasangan stent trakea. Kasus ini menekankan pentingnya kewaspadaan klinis dan pendekatan multidisiplin untuk stabilisasi jalan napas serta pemantauan restenosis sebagai jembatan menuju terapi definitif. Kata kunci: stenosis trakea; bronkoskopi; trakeostomi; gagal napas hiperkapnik
Profil Pasien Dewasa dengan Gangguan Pendengaran di Poliklinik THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Yves Villeneuve; Moudi M. Mona; Steward K. Mengko
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.65954

Abstract

Abstract: Hearing loss can affect individuals of all ages and has significant impacts on communication, social functioning, and overall quality of life. Its prevalence continues to rise with advancing age and exposure to various risks factors. This study aimed to obtain the profile of patients with hearing loss at the ENT clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital during the 2023 to 2024 period. This was a descriptive retrospective study using electronic medical record data that met the inclusion criteria. The analyzed variables included age, sex, residence, occupation, diagnosis, type of hearing loss, severity of hearing loss, and management. Data were presented as frequency and percentage distributions. The results obtained a total of 134 patients that met the inclusion criteria. The highest percentages of distribution were adult age group (50.75%), male patients (52.24%), from outside of Manado City (67.16%), occupation as housewife (29.10%), diagnosed as hearing loss (38.81%), followed by chronic suppurative otitis media (21.64%) and impacted cerumen (11.19%). Mixed hearing loss was the predominant type (48.51%), and severe level of hearing loss (34.32%). The most frequent management provided was hearing aids (59.70%). In conclusion, the majority of hearing loss cases were mixed hearing loss with severe level. The majority of patients were male in the adult age group and recieved hearing aids. Keywords: types of hearing loss; mixed hearing loss   Abstrak: Gangguan pendengaran dapat dialami semua kelompok usia dan berdampak pada komunikasi, fungsi sosial, serta kualitas hidup. Prevalensi kondisi ini terus meningkat dengan bertambahnya usia dan paparan faktor risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil pasien gangguan pendengaran pada orang dewasa di Poliklinik THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2023-2024. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis elektronik pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang dianalisis ialah usia, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, diagnosis, jenis gangguan pendengaran, derajat keparahan, dan penatalaksanaan. Data dipresentasikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 134 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Persentase penyebaran tertinggi didapatkan pada kelompok usia dewasa (50,75%), jenis kelamin laki-laki (52,24%), dan berasal dari luar Kota Manado (67,16%), pekerjaan mengurus rumah tangga (29,10%), diagnosis hearing loss (38,81%), diikuti OMSK (21,64%) dan impacted cerumen (11,19%). Jenis gangguan dominan ialah mixed hearing loss (48,51%) dan keparahan derajat berat (34,32%). Penatalaksanaan terbanyak berupa pemberian alat bantu dengar (59,70%). Simpulan penelitian ini ialah mayoritas gangguan pendengaran yaitu mixed hearing loss dengan derajat keparahan berat. Mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki dalam kelompok usia dewasa dan mendapatkan alat bantu dengar. Kata kunci: jenis gangguan pendengaran; mixed hearing loss