cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Hubungan antara lingkar pinggang dengan kadar hematokrit pada pria dewasa muda Villarsi, Devinda; Rotty, Linda W.A.; Pandelaki, Karel; Wantania, Frans E.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14460

Abstract

Abstract: Central obesity plays an important role in the changes of blood circulation that can lead into several chronic diseases. The changes of blood circulation can be detected as earlier as possible by checking the hematocrit levels regularly. This study was aimed to determine the correlation between waist circumference and hematocrit levels in young adult males, This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Respondents were young adult males aged 20-28 years. This study was conducted from October 13 until November 11, 2016. Respondents were 38 young adult males consisting of 27 males with central obesity and 11 males without central obesity. The result of Spearman’s rho analysis of the correlation between waist circumference and hematocrit level resulted in r=0.156 and p=0.350. Conclusion: There was a weak positive correlation between waist circumference and hematocrit levels in young adult males but was not statistically significant.Keywords: central obesity, hematocrit, young adult men. Abstrak: Obesitas sentral berperan penting terhadap terjadinya perubahan aliran darah dalam tubuh manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan beberapa penyakit kronik. Perubahan aliran darah dapat dideteksi sedini mungkin dengan melakukan pemeriksaan kadar hematokrit secara teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkar pinggang dengan kadar hematokrit pada laki-laki dewasa muda. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah mahasiswa laki-laki berusia 20-28 tahun. Penelitian ini berlangsung dari tanggal 13 Oktober - 11 November 2016 dengan responden berjumlah 38 orang yang terdiri dari 27 mahasiwa obes sentral dan 11 mahasiswa non-obes sental. Hasil analisis uji Spearman’s rho antara lingkar pinggang dengan kadar hemoglobin dari 38 responden diperoleh koefisien korelasi r = 0,134 dengan nilai p = 0,422. Simpulan: Terdapat hubungan positif lemah yang tidak bermakna antara lingkar perut dan hemoglobin. Kata kunci: obesitas sentral, hematokrit, pria dewasa muda
GAMBARAN NILAI VAS (Visual Analogue Scale) PASCA BEDAH SEKSIO SESAR PADA PENDERITA YANG DIBERIKAN TRAMADOL Jaury, Daniel Francis
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3713

Abstract

Abstract: Visual Analogue Scale (VAS) is an instrument use to measure pain intensity. It is considered as the most efficient and it has been used in research and sensitivity test of analgesic drug. VAS is usually presented as a horizontal line numbered 0 to 10. Tramadol in an opioid analgesic, acts centrally, which has a moderate µ receptors. This drug has been used to treat light to moderate pain.The aim of this study is to find out the VAS score of the postoperative caesarean section patients, treated with tramadol as the pain reliever. This study is a prospective descriptive study which is done in recovery room of Central Surgical Installation Prof. DR. R. D. Kandou Manado general hospital. As much as 18 women who met the inclusion criteria were observed during this study. Result shows that the mean of VAS I score (2 hours post administered) is 2.4, the mean of VAS II score (4 hours post administered) is 3, and the mean of VAS III score (6 hours post administered) is 3.4. Keywords: VAS, tramadol   Abstrak: Visual Analogue Scale (VAS) merupakan alat pengukuran intensitas nyeri yang dianggap paling efisien yang telah digunakan dalam penelitian dan uji sensitivitas suatu obat analgetik. VAS umumnya disajikan dalam bentuk garis horisontal dan diberi angka 0-10. Tramadol adalah analgetik golongan opioid yang bekerja sentral yang memiliki afinitas sedang pada reseptor µ yang lemah. Obat ini digunakan sebagai penghilang rasa sakit derajat ringan sampai sedang. Tujuan  penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran nilai VAS (Visual Analogue Scale) pasca bedah seksio sesar pada penderita yang diberikan tramadol. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif prospektif yang dilakukan pada ruang pasca bedah (recovery room) Instalasi Bedah Sentral RSUP. Prof. DR. R. D. Kandou Manado dengan subjek penelitian berjumlah 18 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi. Dapat disimpulkan bahwa rerata gambaran nilai VAS I (2 jam setelah pemberian obat) adalah 2,4. Nilai VAS II (4 jam setelah pemberian obat) adalah 3. Nilai VAS III (6 jam setelah pemberian obat) adalah 3,4. Kata kunci: VAS, tramadol
GAMBARAN ANGKA KEMATIAN IBU DI RSUP. Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2014 – SEPTEMBER 2015 Andini, Ria Mariani; Sondakh, Joice; Laihad, Bismarch J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11038

Abstract

Abstract: Maternal mortality is a complex problem that is caused by a variety of causes that can be distinguished on the determinant of near, intermediate and far. Maternal mortality or maternal death is one indicator to see the progress of the health of a country, especially with regard to maternal and child health issues. The research objective was to determine the description of Maternal Mortality Rate (MMR) in RSUP Prof. Dr. dr. R. D. Kandou Manado period January 2014 - September 2015. Methods: This study is a retrospective descriptive study. The population is all deliveries in RSUP Prof. Dr. dr. R. D. Kandou Manado period January 2014 - September 2015. The samples is 20 persons, sampling with total sampling technique. Results: based on this research, the highest number of births was in 2014 that as many as 3,347 people (70.8%), while in 2015 as many as 1,380 people (29.2%). Maternal Mortality Ratio (MMR) was 298 per 100,000 live births in 2014 and 725 per 100,000 live births in 2015. The number of maternal deaths in the period from January 2014 through September 2015 respectively by 10 people (50%). The most diagnosis entry patients is eclampsia by 10 persons (50.0%) Based on the causes of maternal mortality, that most because of hemorrhagic stroke by 7 people (35.0%).. Conclusion: Maternal Mortality Ratio (MMR) was 298 per 100,000 live births in 2014 and 725 per 100,000 live births in 2015. By entering the patient's diagnosis, most of the patients with the diagnosis of eclampsia and cause most maternal deaths are patients who died because stroke hemorrhagic period January 2014 through September 2015.Keyword: Maternal Mortality RateAbstrak: Kematian ibu merupakan salah satu indikator untuk melihat kemajuan kesehatan suatu negara, khususnya yang berkaitan dengan masalah kesehatan ibu dan anak. Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran Angka Kematian Ibu (AKI) di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2014 – September 2015. Metode: penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif retrospektif. Populasi yang diambil adalah semua persalinan di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2014 – September 2015. Jumlah sampel adalah 20 orang, penentuan sampel dengan teknik total sampling. Hasil: berdasarkan hasil penelitian, jumlah persalinan terbanyak adalah pada tahun 2014 yaitu sebanyak 3.347 orang (70,8%) sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 1.380 orang (29,2%). Rasio Angka Kematian Ibu (AKI) 298 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014 dan 725 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.Sedangkan jumlah Jumlah Kematian Ibu pada periode januari 2014 sampai september 2015 masing-masing sebanyak 10 orang (50%). Diagnosa masuk pasien terbanyak yaitu eklamsia sebesar 10 orang (50,0%) Berdasarkan penyebab kematian ibu, yang tebanyak karena stroke hemoragik sebesar 7 orang (35,0%). Kesimpulan: Rasio Angka Kematian Ibu (AKI) adalah 298 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014 dan 725 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Berdasarkan diagnosis masuk pasien, terbanyak adalah pasien dengan diagnosa eklampsia dan penyebab kematian ibu terbanyak adalah pasien yang meninggal karena stroke hemoragik periode januari 2014 sampai september 2015.Kata kunci: Angka Kematian Ibu
Perbedaan Rerata Feritin Serum antara Pria Obesitas Sentral dengan Non Obesitas Sentral Wowor, Ribka
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.2.2020.29627

Abstract

Abstract: Inflammation process that occurs in obese people plays a crucial role for cardiovascular events in the future. Animal studies found an association between macrophage and ferritin as a proinflammatory marker. This study was aimed to determine the difference in serum ferritin level between central obese and non central obese individuals. This was a cross sectional study using consecutive sampling mnethod. Subjects were residents of Medical Faculty, Sam Ratulangi University, consisted of 41 young males divided into two groups: 25 subjects with central obesity and 16 subjects without central obesity. Blood pressure, peripheral blood, serum ferritin, creatinine, and fasting blood sugar tests were performed on all subjects. The results showed that of 25 subjects with central obesity, there were 15 subjects with hyperferritinemia, meanwhile only 3 subjects with hyperferritinemia in non central obesity group. There was a significant difference of mean serum ferritin levels between central obesity and non central obesity groups (303.03±171.53 mcg/dL vs 128.24±66.79 mcg/dL; p=0.000). In conclusion, serum ferritin level in male subjects with central obesity was higher than those without central obesity.Keywords: serum ferritin, central obesity Abstrak: Inflamasi yang terjadi pada obesitas berperan penting terhadap kelainan metabolisme yang menjadi dasar terjadinya kelainan kardiovaskular. Pada hewan coba didapatkan adanya hubungan antara makrofag dengan feritin yang merupakan salah satu protein penanda inflamasi akut dan kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan rerata ferritin serum pada individu dengan dan tanpa obesitas sentral. Desain penelitian ialah potong lintang dengan menggunakan konsekutif sampling. Subyek penelitian ialah mahasiswa PPDS Sp1 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado terdiri dari 41 pria usia dewasa muda berusia kurang dari 40 tahun yang dibagi atas dua kelompok: 25 subyek dengan obesitas sentral dan 16 subyek non obesitas sentral sebagai kontrol. Pemeriksaan tekanan darah, darah perifer lengkap, dan kadar feritin serum dilakukan pada semua subyek. Uji statistik menggunakan uji beda rerata antara kadar feritin pada kedua kelompok. Hasil penelitian mendapatkan pada kelompok obesitas sentral, 15 dari 25 subyek mengalami peningkatan kadar feritin serum, sedangkan pada kelompok non obesitas sentral hanya 3 dari 16 subyek yang mengalami peningkatan kadar feritin serum. Rerata feritin serum pada kelompok obesitas sentral ialah 303,03±171,53 mcg/dL; sedangkan pada kelompok non obesitas sentral ialah 128,24±66,79 mcg/dL (p=0,000). Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan rerata feritin serum antara subyek dengan obesitas sentral dibandingkan subyek non obesitas sentral pada pria dewasa muda.Kata kunci: feritin serum, obesitas sentral, dewasa muda
HUBUNGAN ANTARA KADAR ASAM URAT DENGAN TEKANAN DARAH PADA MAHASISWA PRIA OBESITAS SENTRAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Mansur, Siti N.; Wantania, Frans E.; Surachmanto, Eko
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.7392

Abstract

Abstract: Inflammation plays an important role in hypertension process and central obesity. Recent studies found that hyperuricemia was also related to inflammation. This study aimed to find out the relation between uric acid level with blood pressure among central-obese-male students in the Faculty of Medicine Unsrat. Methods: This was an analytical study with a cross section design. There were 37 people as samples. Data were obtained by measuring the waist size, blood pressure, and uric acid. The data were analyzed with the Statistical Product and Service Solution (SPSS) and Pearson correlation test. The results showed that most respondents were 19 years old (12 respondents, 32.4%) and the lowest were 17, 22 and 23 years old, each of them was 1 person (2.7%). The mean systolic blood pressure was 130.54 mmHg (SD ± 10.259). The mean diastolic blood pressure was 88.11 mmHg (SD ± 7.760). The mean level of uric acid was 7.514 mg/dL (SD ± 1.65). This study showed that there was some significant relation between the systolic blood pressure and uric acid level (p=0.019), as well as between the diastolic blood pressure and uric acid level (p=0.022). Conclusion: There was a significant correlation between the uric acid level and blood pressure in male students with central obesity.Keywords: obesity, uric acid, blood pressureAbstrak: Inflamasi berperan penting dalam proses terjadinya hipertensi dan obesitas sentral. Pada penelitian terkini ditemukan bahwa hiperurisemia juga berhubungan dengan proses inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar asam urat dengan tekanan darah pada mahasiswa pria obesitas sentral Fakultas Kedokteran Unsrat. Penelitian ini bersifat analitik menggunakan rancangan potong lintang dengan sampel berjumlah 37 orang. Data diperoleh melalui pemeriksaan lingkar perut, tekanan darah, dan asam urat. Data dianalisis dengan menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS) dan uji Pearson correlation. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori umur 19 tahun (12 responden, 32,4%) dan terendah umur 17, 22, dan 23 tahun masing-masing sejumlah 1 orang (2,7%). Berdasarkan nilai mean dapat dilihat bahwa rerata tekanan darah sistol 130,54 mmHg (SD ± 10,259). Rerata tekanan darah diastol 88,11 mmHg (SD ± 7,760). Rerata kadar asam urat responden 7,514 mg/dL (SD ± 1,65). Hasil penelitian menunjukkan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna, baik antara tekanan darah sistol dan asam urat (p=0,019) maupun antara tekanan darah diastol dan kadar asam urat (p=0,022). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara kadar asam urat dan tekanan darah pada mahasiswa pria obesitas sentral.Kata kunci: obesitas, asam urat, tekanan darah
KUALITAS HIDUP WANITA MENOPAUSE YANG MENGGUNAKAN TERAPI SULIH HORMON DINILAI DENGAN MENQOL DI RSU PROF. DR. R. D KANDOU MANADO Qamariah, Sitti
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.3287

Abstract

Abstract: the increasing age of the life expectancy of women led to an increased number of women in Indonesia. There is a major problem confronting the elderly woman is menopause. On menopausal women will develop a variety of complaints. Complaints arising in menopausal women is a result of lack of estrogen, the hormone treatment by administering hormone is also known as Hormone Replacement Therapy Dubbed. The above things that encourage writers to research about the quality of life of menopausal women who use Hormone Replacement Therapy Dubbed rated with MENQOL (The Menopause Specific Quality of Life Questionnaire) was General Hospital Prof. Dr. r. d. Kandou Manado. This research is a descriptive cross sectional design using a MENQOL questionnaire consists of four domains, namely vasomotor menopausal symptoms, psychosocial, physical and sexual abuse. This research was conducted on menopausal women who use hormone therapy in English was Prof. Dr. R.D. Kandou Manado in November 2012. Of the 19 Research Subjects, obtained 52,63% experienced disruption of quality of life. Based on the symptoms, physical disorder group is the largest intrusion on the natural subjects of 84,21%. There was 52,63% of women who use Hormone Replacement Therapy in English was General Hospital Prof. Dr. R. D. Kandou Manado still experiencing disruption of quality of life based on measurement results using MENQOL.Keywords: Quality of life, menopause, hormone replacement therapy, MENQOLAbstrak: Meningkatnya usia harapan hidup wanita Indonesia menyebabkan peningkatan jumlah wanita lanjut usia. Ada masalah pokok yang dihadapi wanita lanjut usia yaitu menopause. Pada wanita menopause akan timbul berbagai keluhan. Keluhan yang timbul pada wanita menopause adalah akibat dari kekurangan hormone estrogen, maka pengobatannya pun adalah dengan pemberian hormone pengganti yang dikenal dengan Terapi Sulih Hormon. Hal-hal diatas yang mendorong penulis untuk meneliti tentang kualitas hidup wanita menopause yang menggunakan Terapi Sulih Hormon dinilai dengan MENQOL (The Menopause Spesific Quality of Life Questionnaire) di RSU Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional menggunakan kuesioner MENQOL yang terdiri dari empat domain gejala menopause yaitu vasomotor, psikososial, fisik dan seksual. Penelitian ini dilakukan pada wanita menopause yang menggunakan terapi sulih hormon di RSU Prof. DR. R.D. Kandou Manado pada bulan November 2012. Dari 19 Subyek Penelitian, didapatkan 52,63% mengalami gangguan kualitas hidup. Berdasarkan kelompok gejala, gangguan fisik merupakan gangguan terbanyak yang di alami subyek 84,21%. Terdapat 52,63% Wanita yang menggunakan terapi sulih hormon di RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado masih mengalami gangguan kualitas hidup berdasarkan hasil pengukuran menggunakan MENQOL.Kata Kunci : Kualitas hidup, wanita menopause, Terapi Sulih Hormon, MENQOL
PREVALENSI SINDROM KORONER AKUT DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI 2014 - 31 DESEMBER 2014 Tumade, Biancha; Jim, Edmond L.; Joseph, Victor F. F.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10959

Abstract

Abstract: Acute Coronary Syndrome (ACS) is a syndrome that occurred due to pathological changes inside the coronary artery wall which cause myocardial ischemic, Unstable Angina Pectoris (UAP), and Acute Myocardial Infarct (AMI) such as Non ST Elevation Myocardial Infarct (NSTEMI) and ST Elevation Myocardial Infarct. The prevalence of coronary heart disease (CHD) in Indonesia is 0.5% from the total sample of non-communicable diseases and from the total sample diagnosed with CHD the highest is in Middle Sulawesi (0.8%) followed by North Sulawesi (0.7%). This study aimed to obtain the prevalence of ACS in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from 1 January to 31 December 2014. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained from the medical record and Cardiovascular and Brain Center (CVBC) of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in Manado. The results showed that there were 126 cases of ACS, 72 cases (57.1%) of UAP, 35 cases (37.8%) of NSTEMI, and 19 cases (15.1%) of STEMI. From the 126 cases there were 90 males (71.4%) and 36 females (28.6%). Based on age there were 2 cases (1.6%) of 31-40 years old, 15 cases (11.9%) of 41-50 years old, 42 cases (33.3%) of 51-60 years old, 48 cases (38.1%) of 61-70 years old,  16 cases (12.7%) of 71-80 years old, and 3 cases (2.4%) of over 80 years old. Based on histories of ACS assisted diseases, there were 87 (69.0%) cases of hypertension, 32 cases (25.4%) of diabetes mellitus, 37 cases (29.4%) of dyslipidemia, 7 cases (5.6%) of obesity, 19 cases (15.1%) of smokers, and 122 cases (96.8%) of ACS patients had more than one risk factor. Conclusion: In this study, the most prevalence of ACS was UAP, males, aged 61-70 years, and had hypertension history. Keywords: acute coronary syndrome, prevalence   Abstrak: Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan keadaan terjadinya perubahan patologis dalam dinding arteri koroner, sehingga menyebabkan iskemik miokardium dan menimbulkan Unstable Angina Pectoris (UAP) serta Infark Miokard Akut (IMA) seperti Non ST Elevation Myocardial Infarct (NSTEMI) dan ST Elevation Myocardial Infarct (STEMI). Di Indonesia prevalensi penyakit jantung koroner (PJK) sebesar 0,5% dari total sampel penyakit tidak menular dan tertinggi di Sulawesi Tengah sebanyak 0,8% diikuti Sulawesi Utara 0,7% dari total pasien terdiagnosis PJK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi penderita SKA yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2014 sampai 31 Desember 2014. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan menggunakan data Bagian Rekam Medik dan Cardivascular and Brain Center (CVBC) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan 126 kasus SKA, kasus UAP sebanyak 72 kasus (57,1%), NSTEMI 35 kasus (37,8%), dan STEMI 19 kasus (15,1%). Laki-laki sebanyak 90 kasus (71,4%) dan perempuan 36 kasus (28,6%). Kelompok umur 31-40 tahun sebanyak 2 kasus (1,6%), 41-50 tahun 15 kasus (11,9%), 51-60 tahun 42 kasus (33,3%), 61-70 tahun 48 kasus  (38,1%), 71-80 tahun 16 kasus (12,7%), dan >80 tahun 3 kasus (2,4%). Riwayat hipertensi sebanyak 87 kasus (69,0%), diabetes melitus 32 kasus (25,4%), dislipidemia 37 kasus (29,4%), obesitas 7 kasus (5,6%), dan merokok 19 kasus (15,1%). Simpulan: Prevalensi kasus SKA terbanyak adalah kasus UAP, berjenis kelamin laki-laki, berumur 61-70 tahun, serta memiliki riwayat hipertensi.Kata kunci: sindrom koroner akut, prevalensi
GAMBARAN STATUS BESI PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS Patambo, Kurniawan K.; Rotty, Linda W. A.; Palar, Stella
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.2.2014.5049

Abstract

Abstract: Chronic Kidney Disease (CKD) is a process of patofisiologis with multiple etiology, resulting in decline kidney function that is progressive and generally ending with kidney failure. The incidence of the patients with CKD in developing countries, is estimated to be around 40-60 cases per 1 million citiziens per year. The World Health Organization (WHO) estimated that there will be an increase in patients with kidney disease in Indonesia as much as 41.4% between 1995-2025. In Indonesia, from data in some parts of Nephrology, estimated incidence of CKD range 100-150 per 1 million citiziens. This research aims to know the description of iron status in Chronic Kidney Disease who undergoing Hemodialysis in Intalation of Hemodialysis was BLU Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital. Method: This study uses descriptive retrospective method based on primary data from research period November 2013 - December 2013 in the Installation of Hemodialysis was BLU. Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. Research variables used are age, sex, the results of the laboratory test, the cause of CKD, undergoing long-term of Hemodialysis. Result: The results are from 57 total patient who included in research criterion there 41 (72%) men  and 16 (28%) woman, based on the age group, group of age 41-64 38 (67%), the distribution of laboratory results based on hemoglobin levels in men at levels of 8-8.9 g/ dL, 15 (37%), as well as the women in the highest levels of hemoglobin levels of 8-8.9 g/ dL 5 (32%), based on hematocrit levels in men - most men in levels of 24-26.9% 14 (34%), and women most at levels of 21-23.9% 5 (32%), based on the highest value of serum iron value of 59-158 ug/ dL 33 (58%), based TIBC value most in the value <250 ug / dL 52 (91%), based on the highest value of transferrin saturation values​​ >50% 27 (48%), based on the most cause of CKD due Nefrosclerosis Hypertension 56 (98%). Conclusion: On this research most on sex men and age group 20-64. Keywords: Chronic Kidney Disease, Iron serum, TIBC, Transferrin saturation.     Abstrak: Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Insidens penderita PGK di  negara-negara berkembang, diperkirakansekitar 40 - 60 kasus perjuta penduduk per tahun. World Health Organization (WHO) memperkirakan akan terjadi peningkatan pasien dengan penyakit ginjal di Indonesia sebesar 41,4% antara tahun 1995-2025. Di Indonesia, dari data di beberapa bagian nefrologi, diperkirakan insidens PGK berkisar 100-150 per 1  juta penduduk.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status besi pada Penyakit Ginjal Kronik yang menjalani Hemodialisis di Instalasi Tindakan Hemodialisis BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Metode: Penelitian ini menggunakan metode retrospektif deskriptif berdasarkan data primer pada periode November 2013 – Desember 2013 di Instalasi Tindakan Hemodialisis BLU RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou dengan variabel penelitian yang digunakan yaitu umur, jenis kelamin, hasil laboratorium, penyebab PGK, lama menjalani Hemodialisis. Hasil: Hasil dari peneltian ini adalah dari 57 pasien yang memenuhi kriteria inklusi berdasarkan jenis kelamin, laki – laki 41 (72%) dan perempuan 16 (28%), berdasarkan kelompok umur terbanyak pada usia 41-64 tahun 38 (67%), distribusi hasil laboratorium berdasarkan kadar hemoglobin, laki – laki terbanyak pada kadar 8-8,9 g/dL 15 (37%), sama halnya pada perempuan 5 (32%), berdasarkan kadar hematokrit pada laki – laki terbanyak pada kadar 24-26,9% 14 (34%), dan perempuan pada kadar 21 – 23,9% 5 (32%), berdasarkan nilai serum iron terbanyak nilai 59-158 ug/dL 33 (58%), berdasarkan nilai TIBC terbanyak nilai <250 ug/dL 52 (91%), berdasarkan nilai saturasi transferin ter-banyak nilai >50% 27 (48%), berdasarkan penyebab PGK terbanyak akibat Hipertensi nefrosklerosis 56 (98%). Simpulan:pada penelitian ini terbanyak pada jenis kelamin laki – laki dan kelompok umur 20 – 64 tahun. Kata kunci: Penyakit ginjal kronik, Serum iron, TIBC, Saturasi transferin.
PERAN TINGKAT PENDIDIKAN TERAKHIR ORANG TUA TERHADAP PENYAKIT JANTUNG REMATIK PADA ANAK Tumbel, Cynthia M.; Kaunang, David; Rompis, Johnny
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.7655

Abstract

Abstract: Rheumatic heart disease (RHD) is an inflammatory process of the heart and scarring formation due to an autoimmune reaction against beta-hemolytic streptococcus class A infection. RHD is the most serious complication of rheumatic fever (RF). Rheumatic fever and its other complications including RHD, is a type of acquired heart disease that mostly found in children and young adult population. Acute rheumatic fever occurrs in 0.3 % of pharyngitis cases caused by beta-hemolytical streptococcus class A in children. In epidemiological view, the school age children (6-15 years) is the most often that experienced pharyngitis caused by Beta-hemolytic Streptococcus class A. In some developing countries, including Indonesia, RF and RHD are still important medical problems and public health problems. The high incidence of this disease in developing countries is related to the lack of public knowledge, education level, socioeconomic status, overcrowded, and lack of adequate health care. Conclusion: The parents’ education level is one of the factors that influence the occurence of RHD in children.Keywords: education level, rheumatic heart diseaseAbstrak: Penyakit jantung rematik (PJR) adalah peradangan jantung dan jaringan parut dipicu oleh reaksi autoimun terhadap infeksi streptokokus beta hemolitikus grup A. PJR merupakan komplikasi yang paling serius dari demam rematik. Penyakit DR dan gejala sisanya, yaitu PJR, merupakan jenis penyakit jantung didapat yang paling banyak dijumpai pada populasi anak-anak dan dewasa muda. DR akut terjadi pada 0,3% kasus faringitis oleh Streptokokus beta hemolitikus grup A pada anak. Secara epidemiologis kelompok umur yang paling sering mengalami faringitis yang disebabkan oleh Streptokokus beta hemolitikus grup A adalah usia sekolah (6-15 tahun). Di beberapa negara berkembang temasuk Indonesia, DR dan PJR masih merupakan masalah medis dan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Tingginya angka kejadian di negara berkembang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, kepadatan penduduk, serta kurangnya pelayanan kesehatan yang memadai. Simpulan: Tingkat pendidikan terakhir orang tua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kasus PJR pada anak.Kata kunci: tingkat pendidikan, penyakit jantung rematik
PROFIL SKABIES DIPOLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2012 Gunawan, I Made Erik Sastra; Kandou, Renate T.; Pandaleke, Herry E. J.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3606

Abstract

Abstract: Scabies is a skin disease caused by sentization of Sarcoptes scabiei var. hominis and its products. Scabies affects skin and highly contagious in humans and animals, affects all races and classes in all over the world. Risk factors of this disease is low socioeconomic, individual’s poor hygiene, dirty environment, unhealthy behaviour, and high population density. The purpose of this study was to evaluate the profile of scabies patients in Dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during the period from January – December 2012. The Method used in this study was descriptive retrospective. The result showed that among 41 scabies patients (3.74%), the highest rate was from age group between 15 – 24 years (29.26%), male (63.41%), most occupation was students (48.78%), most location affected was generalized (80.48%) and most therapy used was anti-scabies combined with antihistamine (60.98%) Keywords: scabies, profile   Abstract: Skabies adalah penyakit kulit yang di sebabkan oleh sensitisasi terhadap sarcoptes scabiei varietas hominis dan produknya. Skabies menyerang kulit dan mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Faktor risiko penyakit  ini adalah sosial ekonomi yang rendah, higiene perorangan yang jelek, lingkungan yang tidak bersih, perilaku yang tidak sehat, serta kepadatan penduduk. Tujuan penelitian untuk mengetahui profil pasien skabies di poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari  – Desember 2012. Metode penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Hasil penelitian memperlihatkan dari 41 penderita skabies (3,74%) terbanyak dari kelompok umur 15 – 24 tahun (29,26%), jenis kelamin laki – laki (63,41%), pekerjaan sebagai pelajar (48,78%), lokasi secara generalisata (80,48%) dan terapi antiskabies yang di kombinasikan dengan antialergi (60,98%). Kata kunci: skabies, profil

Page 69 of 108 | Total Record : 1074