cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Angka Kejadian Akne Vulgaris pada Siswa-siswi di SMA Frater Don Bosco Manado Kristiani, Ni M.S.; Kapantouw, Marlyn G.; Pandaleke, Thigita A.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18457

Abstract

Abstract: Acne vulgaris is a chronic inflammatory disease of the pilosebasea follicle. Although the cause of acne vulgaris is not known for certain but there are several pathogenesis suspected to have some effects on the occurrence of acne vulgaris, inter alia the increase in sebum production which is controlled by androgen hormones. Stimulation of androgen hormone production is associated with elevated level of insulin-like growth factor-1 (IGF-1). Increased IGF-1 is correlated positively with body mass index (BMI). In general, acne vulgaris begins at age 12-15 years and most occur in adolescents aged 15-18 years. This study was aimed to determine the relationship between BMI and the incidence rate of acne vulgaris in students at SMA Frater Don Bosco Manado (senior high school). This was an analytical survey observation with a cross sectional design. Subjects were 69 students obtained by using systematic random sampling. Of the 69 students suffered from acne vulgaris, there were 8 (11.6%) with thin BMI; 50 (72.5%) with normal BMI; and 11 (15.9%) with fat and obese BMI. Conclusion: There was no significant association between BMI and the incidence of acne vulgaris among the students at SMA Frater Don Bosco Manado.Keywords: body mass index, acne vulgaris Abstrak: Akne vulgaris adalah penyakit radang kronis pada folikel pilosebasea. Walaupun penyebab dari akne vulgaris belum diketahui pasti namun terdapat beberapa patogenesis yang diduga berpengaruh pada timbulnya akne vulgaris, salah satunya yaitu peningkatan produksi sebum di bawah kontrol hormon androgen. Stimulasi produksi hormon androgen berhubungan dengan peningkatan kadar insulin-like growth factor-1 (IGF-1). Peningkatan IGF-1 berkorelasi positif dengan indeks massa tubuh (IMT). Umumnya akne vulgaris dimulai pada usia 12-15 tahun dan terbanyak pada remaja usia 15-18 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dan angka kejadian akne vulgaris pada siswa-siswi di SMA Frater Don Bosco Manado. Jenis penelitian ialah observasi analitik survei dengan desain potong lintang. Subyek penelitian ialah siswa-siswi di SMA Frater Don Bosco Manado diperoleh dengan pengambilan sampel secara acak sistematis. Pada 69 subyek dengan akne vulgaris, terdapat 8 orang (11,6%) dengan IMT kurus; 50 orang (72,5%) dengan IMT normal; dan 11 orang (15,9%) dengan IMT gemuk dan obesitas. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara IMT dan angka kejadian akne vulgaris pada siswa-siswi di SMA Frater Don Bosco Manado.Kata kunci: indeks massa tubuh, akne vulgaris
SURVEI KESEHATAN HIDUNG PADA MASYARAKAT PESISIR PANTAI BAHU Tumbol, Andreas R.; Tumbel, R. E. C.; Palandeng, Ora I.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6512

Abstract

Abstract: Human’s health can be affected by environment and human’s behaviour. Nose is an important part of human that can be a shield of environmental disadvantages. Thisa study aimed to obtain nose health of people of Bahu coastal area. This was a descriptive observasional study with a cross sectional design. The subjects of this study were people living at Bahu coastal area. There were 31 respondents consisting of 12 men and 19 women. Nose examination showed normal result in 19 respondents and abnormality in 12 respondents. In nasal passage examination, 3.2% respondents showed narrow nasal cavities. In nasal turbinate examination, swollen conchae were found in 6.5% of respondents; swollen and pale conchae 6.5%; swollen, pale, and hypertrophic conchae in right turbinate 3.2% meanwhile in left turbinate 6.5%; and swollen, hyperemic, and hypertrophic conchae in right and left turbinate 3.2%. Hypertrophic conchae in right turbinate was 3.2% while in left turbinate was 6.5%. Pale and hypertrophic conchae in right and left turbinate was 3.2%. In nasal mucosa examination, hyperemic mucosa was 3.2% and bluish mucosa was 16.1%. In secretion examination, serous and mucoid secretion was found among 3.2% of respondents. In nasal septum examination, septum deviation was found 6.5% to the right and 3.2% to the left. Conclusion: Most of the respondents showed normal resultKeywords: health survey, nose examinationAbstrak: Kesehatan pada manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan perilaku manusia. Hidung merupakan salah satu organ penting yang menjadi pelindung tubuh terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan hidung pada masyarakat pesisir pantai Bahu. Desain yang digunakan ialah penelitian deskriptif survei dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian ialah masyarakat pesisir pantai Bahu. Jumlah responden yang mengikuti penelitian ini 31 orang, terdiri dari 12 laki-laki dan 19 perempuan. Pada hasil pemeriksaan hidung didapatkan hasil normal pada 19 orang dan kelainan pada 12 orang. Pada pemeriksaan kavum nasal, kavum sempit ditemukan 3,2%. Pada pemeriksaan konka nasal, udim konka nasal 6,5%; udim dan pucat pada konka nasal 3,2%; udim, pucat, dan hipertrofi konka nasal kanan 3,2% dan konka nasal kiri 6,5%; udim, hiperemis, dan hipertrofi konka nasal 3,2%; hipertrofi konka nasal kanan 3,2% dan konka nasal kiri 6,5%; pucat dan hipertrofi konka nasal 3,2%. Pada pemeriksaan mukosa nasal, hiperemis mukosa 3,2%, dan livide mukosa 16,1%. Pada pemeriksaan sekret, serous dan mukoid 3,2%. Pada pemeriksaan septum nasal, deviasi septum ke kanan 6,5% dan ke kiri 3,2%. Simpulan: Sebagian besar responden penelitian ini memperlihatkan hasil normalKata kunci: survei kesehatan, pemeriksaan hidung
GAMBARAN EUTIROID PADA PASIEN STRUMA MULTINODUSA NON-TOKSIK DI BAGIAN BEDAH RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI 2012 – JULI 2014 Assagaf, Syaugi M.; Lumintang, Nico; Lampus, Harsali
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.3.2015.9422

Abstract

Abstract: Goitre is a thyroid gland enlargement due to the increase of thyroid tissue. Goitre can be classified from several aspects: physiological (euthyroidsm, hypothyroidsm, and hyperthyroidism), morphological (diffuse and nodular goitre), and clinical (toxic and non toxic goitre) aspects. Patients with euthyroid goitre have no symptoms because there is no abnormality with the thyroid function. This study aimed to obtain the profile of the non toxic multinodosa goitre patients with euthyroidism in Surgery Department Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado period from July 2012 to July 2014. This was a descriptive retrospective study using the medical record of the Surgery Department Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Of 25 non toxic goitre multinodosa patients, there were 21 (84%) female patient and 4 (16%) male patient. Patients with euthyroidism were 21 cases (84%) and with hypothyroidism 4 cases (16%). Therapy of euthyroid goitre was surgery. The types of surgery for this 25 patient were as follows: 14 (56%) total thyroidectomy, 9 (36%) isthmolobectomy, 1 (4%) nearly total thyroidectomy, and 1 case (4%) subtotal thyroidectomy. Patients with enlargements in the neck should be checked for their thyroid glands and hormones even if they do not have any symptoms, especially if they come from iodine deficiency endemic area.Keywords: goitre, euthyroidAbstrak: Struma adalah pembesaran kelenjar tiroid karena terjadi penambahan jaringan kelenjar tiroid. Struma dapat diklasifikasikan berdasarkan fisiologis (eutirodisme, hipotiroidisme, dan hipertiroidisme), morfologi (struma difus dan nodular) serta berdasarkan klinis (struma toksik dan non toksik). Penderita struma yang eutiroid tidak mempunyai keluhan karena tidak terdapat gangguan fungsi tiroid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien struma multinodusa non-toksik yag eutiroid di Bagian Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2012 – Juli 2014. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan catatan medik di Bagian Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Dari 25 pasien struma multinodusa non-toksik ditemukan bahwa jenis kelamin perempuan sebanyak 21 pasien (84%) dan jenis kelamin laki-laki 4 pasien (16%). Jumlah pasien yang eutiroid sebanyak 21 kasus (84%) dan hipotiroid 4 kasus (16%). Terapi struma eutiroid ialah pembedahan. Dari 25 kasus struma multinodusa non-toksik didapatkan 14 kasus (56%) tiroidektomi total, 9 kasus (36%) istmolobektomi, 1 kasus (4%) tiroidektomi hampir total, dan 1 kasus (4%) tiroidektomi subtotal. Pasien dengan pembesaran di daerah leher sebaiknya langsung dilakukan pemeriksaan kelenjar dan hormon tiroid walaupun tanpa gejala apapun, terutama yang berasal dari daerah endemis kekurangan yodium.Kata kunci: struma, eutiroid
Gambaran pasien gagal jantung akut yang menjalani rawat inap di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou periode September-November 2016 Haris, Devina E.; Rampengan, Starry H.; Jim, Edmond L.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14471

Abstract

Abstract: Acute Heart Failure is marked by a fast/rapid attack or sudden changes in symptoms or signs of Heart Failure. Heart failure has become a main issue in cardiology, because of an increasing number of Heart Failure patients and frequent re-hospitalization and death and disability. The most common cause of heart failure is coronary artery disease and hypertension. Patients with heart failure have typical symptoms, such as shortness of breath at rest or activity, easily tired, leg edema, and also tachycardia, tachypnea, pulmonary ronkhi, pleural effusion, increased jugular venous pressure, peripheral edema, hepatomegaly, and structural abnormalities or functional heart symptoms at rest, such as cardiomegaly, third heart sound, and increased levels of natriuretic peptides.Keywords: acute heart failure, inpatients care Abstrak: Gagal jantung akut adalah serangan yang cepat/rapid onset atau terjadinya perubahan mendadak dari gejala atau tanda gagal jantung. Gagal jantung telah menjadi masalah yang utama pada bidang kardiologi, karena bertambahnya jumlah penderita gagal jantung dan seringnya terjadi rawat ulang serta kematian dan kecacatan. Penyebab tersering gagal jantung di adalah penyakit arteri koroner dan hipertensi. Pasien yang mengalami gagal jantung memiliki gejala yang khas yaitu sesak napas saat istirahat atau aktifitas, mudah lelah, edema tungkai, dan terdapat juga tanda-tanda khas yaitu takikardi, takipnea, ronkhi paru, efusi pleura, peningkatan tekanan vena jugularis, edema perifer, hepatomegali, dan terdapat kelainan struktural atau fungsional jantung saat pasien istirahat yaitu kardiomegali, suara jantung ketiga, meningkatnya kadar peptida natriuretik. Kata kunci: gagal jantung akut, rawat inap
ANGKA KEJADIAN BATU GINJAL DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2010 – DESEMBER 2012 Tondok, Martha Elsy Banne
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3722

Abstract

Abstract: Kidney stones or nephrolithiasis is condition where occures one or more stones in pelvis or calyces of kidney, this is the most problems in urinary tract. The cause of stones appeared wasn’t accurately known but this disease can be varies attack populations in the world depend on their ages, sex, clan, geography locations and developed levels of a country. Purpose: The research is aimed to know incidence ofkidney stones in RSUP Prof. Dr. R. D. KandouManado January 2010-December 2012 periods, to know distributions explain depends on sex, age groups, stones position, complications, and any handles. Method: This research used descriptive retrospective methode by collecting data in the Section of Surgery and Medical Record department of RSUP Prof. Dr. R. D. KandouManado. Conclusion: The result of the research has showed that incidence of kidney stones in January 2010 until December 2012 was highest in 2012 (48,6%) on 36-50 group of ages. The number of male patients was more common than female patients (3:2). Pyelum was location that always appeared the stones (85,7%), and hydronephrosis has most complications (68,6%). Patients always got pyelolithotomy for their handles (34,3%). Keywords : Incidence, kidney stones, Manado, nephrolithiasis   Abstrak: Batu ginjal atau nefrolithiasis adalah suatu keadaan dimana terdapat satu atau lebih batu di dalam pelvisatau kaliksdari ginjal dan merupakan penyebab terbanyak kelainan di saluran kemih. Penyebab terbentuknya batu belum diketahui secara pasti, namun penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia dan bervariasi tergantung umur, jenis kelamin, ras, lokasi geografis dan tingkat kemajuan suatu bangsa. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian batu ginjal di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2010 - Desember 2012, serta mengetahui gambaran distribusi berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, letak batu, komplikasi, dan penanganan yang diberikan. Metode: Metode yang digunakan adalah metode deskriptif retrospektif, dengan mengumpulkan data di bagian Bedah dan bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian batu ginjal selama periode Januari 2010 – Desember 2012 tertinggi pada tahun 2012 (48,6%) dan pada kelompok umur 36-50 tahun (48,6%). Jumlah pasien laki-laki lebih banyak ditemukan daripada perempuan (3:2). Sedangkan lokasi tersering ditemukannya batu adalah di pielum (85,7%), dan komplikasi terbanyak adalah hidronefrosis (68,6%). Penanganan yang paling sering diberikan pada pasien adalah pielolitotomi (34,3%). Kata kunci: Angka kejadian, batu ginjal, Manado, nefrolithiasis
Hubungan pemberian imunisasi BCG dengan kejadian TB paru pada anak di Puskesmas Tuminting periode Januari 2012 – Juni 2012 Susanto, Christian K.; Wahani, Audrey .; Rompis, Johnny .
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11691

Abstract

Abstract: Pulmonary Tuberculosis (Tb) is still a public health problem. The prevalence of pulmonary Tb from year to year in Manado is still high even though the management of strategy is relatively the same- prevention by immunization, case finding, and treatment strategy with supervision and with DOT directly. Prevention with immunization results in better body resistance. Immunization against Tb is required in some countries and is recommended in several other countries. Although the majority of toddlers are already BCG vaccinated there are still many pulmonary Tb cases among children in Manado. This study aimed to obtain the relationship between the BCG immunization and pulmonary TB occurence in children in Tuminting Primary Health Care, Manado. The results showed that at Tuminting Primary Health Care most of the toddlers had been BCG immunized. Tuberculosis was found among toddlers aged >3 years and there was a significant correlation between BCG immunization and the occurence of tuberculosis with an OR 0.804. Keywords: immunization BCG, occurence of TB  Abstrak: Penyakit TB paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Prevalensi TB paru dari tahun ke tahun di Kota Manado tetap tinggi meskipun strategi penanganan yang diterapkan relative sama, yaitu pencegahan dengan imunisasi. penemuan penderita, dan pengobatan dengan strategi DOT atau dengan pengawasan minum obat secara langsung. Pencegahan dengan imunisasi merupakan tindakan yang mengakibatkan seseorang mempunyai ketahanan tubuh yang lebih baik. Imunisasi terhadap penyakit TB telah diwajibkan di beberapa negara serta direkomendasikan di beberapa negara lainnya. Penyakit TB banyak terjadi pada anak di Kota Manado padahal anak balita tersebut sebagian besar sudah divaksinasi BCG. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian imunisasi BCG dengan kejadian TB Paru pada anak di Puskesmas Tuminting Manado. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar anak balita yang berobat di Puskesmas Tuminting telah diberikan imunisasi BCG. Kejadian tuberkulosis ditemukan pada umur >3 tahun dan terdapat hubungan bermakna antara pemberian imunisasi BCG dengan kejadian tuberkulosis paru dengan nilai OR 0,804.Kata kunci: imunisasi BCG, kejadian TB paru
HUBUNGAN PENGGUNAAN RANSEL DENGAN NYERI PUNGGUNG DAN KELAINAN BENTUK TULANG BELAKANG PADA SISWA DI SMP NEGERI 2 TOMBATU Dumondor, Stefany V.; Angliadi, Engeline; Sengkey, Lidwina
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6824

Abstract

Abstrak: Tas jenis ransel sangat diminati oleh anak sekolah.Banyaknya peminat yang menggunakan ransel disebabkan karena tas ini lebih praktis dan memiliki daya tampung yang lebih besar. Meskipun banyak diminati, penggunaan ransel yang tidak sesuai dari segi desain, berat beban, maupun cara pemakaiannya memiliki dampak negatif yang cukup besar bagi anak sekolah karena dapat meningkatkan stres pada struktur tulang belakang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Penggunaan ransel yang tidak sesuai dapat menyebabkan nyeri punggung, perubahan postur tubuh dan gaya berjalan dan jika dilakuan terus menerus dapat mengakibatkan perubahan yang bersifat irreversible karena ligamen dan tulang belakang terus mengalami proses degeneratif sejalan dengan usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan ransel dengan nyeri punggung dan kelainan bentuk tulang belakang pada siswa yang dilakukan di SMP Negeri 2 Tombatu. Penelitian ini bersifat obsevasional analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu dengan melakukan pengamatan langsung kepada subjek penelitian dengan penyebaran kuesioner dan pemeriksaan tulang belakang dengan teknik adam forward bending test. Hasil penelitian dari 30 sampel, didapati 25 orang pernah merasakan nyeri di daerah leher, bahu, punggung bagian atas, maupun punggung bagian bawah. Berdasarkan pemeriksaan tulang belakang, dari 30 sampel 12 orang memiliki tulang belakang normal, sedangkan 18 orang didapati memiliki kelainan tulang belakang yaitu 6 orang dengan skoliosis, 10 orang kifosis dan 2 orang lordosis. Analisis statistik yang digunakan adalah Chi-Square karena salah satu variabel yang diuji berskala nominal dan uji Spearman karena kedua variabel yang diuji berskala ordinal dengan menggunakan α = 5% atau 0,05.Kata Kunci: ransel, nyeri punggung, kelainan bentuk tulang belakang, anak sekolah
Gambaran enzim transaminase pada pasien tuberkulosis paru yang diterapi dengan obat-obat anti tuberkulosis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Clarasanti, Inez; Wongkar, Marthen C.P.; Waleleng, Bradley J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.12102

Abstract

Abstract: Pulmonary tuberculosis is a chronic infection and still a major worldwide health problem. Data from World Health Organization in 2013 showed that Indonesia was the fifth country with the highest prevalence of TB in the world. Treatment of TB in Indonesia is using the antituberculosis medication guide. One of the side effects of treatment is hepatotoxicity. Liver function tests commonly used are the transaminase enzymes (SGOT and SGPT). Levels of SGOT and SGPT will increase in case of damage or inflammation of the liver tissue. The results showed that after administration of the antituberculosis medication 26% of patients had high levels of transaminase enzymes meanwhile 74% of patients had normal levels of transaminase enzymes.Keywords: Pulmonal Tuberculosis, OAT, hepatotoxicity, transaminase enzymes, SGOT, SGPT Abstrak: Tuberkulosis paru adalah infeksi kronik yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia yang utama. Data WHO tahun 2013 menunjukkan bahwa Indonesia menempati negara kelima dengan prevalensi TB tertinggi di dunia. Pengobatan TB di Indonesia menggunakan panduan obat antituberkuolosis (OAT) dan salah satu efek samping pengobatan ialah hepatotoksisitas. Tes fungsi hati yang umum digunakan ialah pemeriksaan enzim transaminase yakni kadar SGOT dan SGPT yang akan menunjukkan peningkatan jika terjadi kerusakan atau radang pada jaringan hati. Hasil penelitian memperlihatkan terdapat 26% pasien TB dengan kadar enzim transaminase yang tinggi setelah pemberian OAT, dan 74% pasien TB yang memiliki kadar enzim transaminase yang normal setelah pemberian OAT.Kata kunci: tuberkulosis paru, OAT, hepatotoksisitas, enzim transaminase, SGOT, SGPT
GAMBARAN PENOLAKAN MASYARAKAT TERHADAP PUNGSI LUMBAL DI BAGIAN NEUROLOGI BLU RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Pasomba, Selvyani; Khosama, Herlyani; Sampoerno, Junita M.P.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.1180

Abstract

Abstract: The examination of cerebrospinal fluid obtained by a lumbar puncture is important in the diagnosis of CNS infection. There have been no reports of refusals of lumbar punctures in Manado. This study is a descriptive preliminary using interviews and questionnaires. The subjects were all patients or families of patients in the inpatient unit at the Department of Neurology BLU. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in November 2012. The results showed that of the total number of 60 respondents, 27 (45%) under advice, agreed to undergo lumbar punctures; 30 (50%) refused, and 3 (5%) were not able to decide and thus abstained. While 93.3% of respondents knew the definition and indications of lumbar puncture, 86.7% refused eventhough they knew that the lumbar puncture procedure was important in the management of the disease; 86.7% assumed that the lumbar puncture was a dangerous procedure; 80% felt unsure enough to refuse; and 86.7% were afraid to have the lumbar puncture procedure done. All respondents knew that lumbar puncture had complications. Conclusion: nearly all respondents who refused knew that the lumbar puncture procedure is important in the management of the disease, yet they assumed the lumbar puncture was dangerous, uncomfortable, and felt fearful. Keywords: lumbar puncture, neurology, refusal description, society. Abstrak: Pemeriksaan cairan serebrospinal yang diperoleh melalui tindakan pungsi lumbal penting untuk mendiagnosis infeksi susunan saraf pusat. Meskipun demikian, sering terjadi penolakan terhadap pemeriksaan ini. Sampai saat ini belum ada laporan tentang gambaran penolakan pungsi lumbal di Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan wawancara menggunakan kuesioner. Subjek penelitian ialah semua pasien atau keluarga pasien di ruang rawat inap Bagian Neurologi BLU RSUP. Prof. Dr. R.D. Kandou Manado bulan November 2012. Hasil penelitian memperlihatkan jumlah responden sebanyak 60 orang, 27 (45%) setuju jika seandainya disarankan untuk menjalani pungsi lumbal, 30 (50%) menolak, dan tiga (5%) tidak dapat memutuskan setuju atau menolak (abstain). Sebanyak 93,3% responden mengetahui definisi dan indikasi pungsi lumbal, 86,7% responden yang menolak menganggap pungsi lumbal penting dalam penatalaksanaan penyakit, 86,7% menganggap pungsi lumbal merupakan tindakan yang berbahaya, 80% responden merasa tidak nyaman, dan 86,7% takut terhadap pungsi lumbal. Simpulan: hampir seluruh responden yang menolak mengetahui bahwa tindakan pungsi lumbal penting dalam penatalaksanaan penyakit, dan menganggap pungsi lumbal sebagai tindakan berbahaya, tidak nyaman dan merasa takut pada tindakan ini. Kata kunci: pungsi lumbal, neurologi, gambaran penolakan, masyarakat.
SURVEI KESEHATAN HIDUNG ANAK PASAR BERSEHATI KOMUNITAS DINDING MANADO Iwawo, Rosari; Mengko, Steward; Dehoop, Julied
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8607

Abstract

Abstract: Health problems that occur in children can be considered as a manifestation of lack of knowledge and poor attitudes of parents in taking care of their children. It is suspected that the main triggers of those problems are negative condition and circumstance. This study aimed to obtain the nose health status of children at Bersehati Market Dinding Manado Community. This was a descriptive study with a cross sectional design. Nose health status was determined by examining the nasal cavity, conchae, mucous layer, secret, septum, and post nasal drip. The results showed that most of the children had normal nose health examination. Conclusion: Nose health status of most children at Bersehati Market Dinding Manado Community was good.Keywords: nose health, nasal examinationAbstrak: Masalah kesehatan pada anak-anak dapat dipandang sebagai perwujudan dari rendahnya pengetahuan dan sikap orang tua tentang pola asuh anak. Pemicu utamanya diduga ialah situasi dan kondisi yang negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan status kesehatan hidung anak-anak Pasar Bersehati Komunitas Dinding Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain potong lintang. Gambaran kesehatan hidung setiap sampel dilihat dengan memeriksa kavum nasi, konka, mukosa, sekret, septum, dan post nasal drip. Hasil pemeriksaan hidung menunjukkan bahwa sebagian besar gambaran kesehatan hidung pada anak-anak Pasar Bersehati Komunitas Dinding Manado normal. Simpulan: Sebagian besar anak di Komunitas Pasar Bersehati Dinding Manado memiliki status kesehatan hidung baik.Kata kunci: kesehatan hidung, pemeriksaan hidung

Page 68 of 108 | Total Record : 1074