cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Determinant of Complete Blood Count on Long Bone Diaphysis Fractures of Lower Extremity Indrowiyono, Hanny R.; Noersasongko, A. Djarot; Lengkong, Andriessanto; Oley, Maximillian Ch.; Hatibie, Mendy J.; Langi, F.L. Fredrik G.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34537

Abstract

Abstrak: Fraktur ekstremitas bawah memiliki prevalensi yang tinggi di antara jenis fraktur lainnya akibat kecelakaan. Pemeriksaan darah lengkap berperan penting dalam proliferasi osteoblas yang merupakan langkah awal dalam penyembuhan tulang. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan antara penyembuhan tulang dengan determinan darah lengkap dan hubungan determinan darah lengkap dengan jenis fraktur, lokasi fraktur, faktor-faktor demografik, dan parameter darah tepi pada pasien fraktur diafisis tulang panjang ekstremitas bawah. Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado menggunakan studi kohort (analitik observasional) dengan 10 pasien fraktur terbuka (grade I-II) dan 14 pasien fraktur tertutup. Semua pasien dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium darah lengkap. Hasil penelitian mendapatkan pasien laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, median usia 30 tahun. Hasil analisis regresi mendapatkan perbedaan hasil darah lengkap pada fraktur terbuka dan fraktur tertutup (leukosit dan neutrofil batang) dan hasil bermakna pada perbedaan lokasi fraktur di femur dan tibia. Simpulan penelitian ini ialah penderita fraktur diafisis ekstremitas bawah terbuka memiliki infeksi lebih tinggi dengan ditandai peningkatan leukosit dan neutrofil batangKata kunci: kadar darah lengkap; fraktur diafisis; tulang panjang Abstract: Lower limb fracture has a high prevalence among other types of fractures due to accidents. Complete blood count has an important role in the proliferation of osteoblasts which is the first step in bone healing. This study was aimed to prove the relationship between bone healing and determinants of complete blood count and to prove the relationship between determinants of complete blood count and fracture type, fracture location, demographic factors, and peripheral blood parameters in patients with diaphysis fractures of the long bones of lower extremities. This study was conducted at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado using a cohort study (observational and analytical) with 10 open fracture patients (grade I-II) and 14 closed fracture patients. All patients were subjected to physical examination and complete blood count laboratory. The results showed that male subjects were predominant and the median age was 30 years. The regression analysis showed that there were differences in complete blood count between open fractures and closed fractures (leukocytes and band neutrophil) and significant differences in the location of fractures in the femur and tibia. In conclusion, leukocyte and segmented neutrophils levels are increased in patients with open lower limb diaphysis fracturesKeywords: complete blood count; long bone; diaphysis fracture
Embolisasi Preoperatif pada Operasi Dekompresi Tulang Belakang Pali, Nathaniel; Prasetyo, Eko; Suharso, Tommy; Sumangkut, Richard; Karundeng, Billy; Lampus, Harsali
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.35549

Abstract

Abstract: Embolization is an effective way of controlling bleeding. This study was aimed to provide some information about preoperative spinal embolization, embolization materials, and complications. This was a literature review study using an online journal database and Google Scholar. The keywords used were Preoperative Spinal Embolization. The feasibility of the selected studies were case reports. The results showed that all studies used the same technique and approach to achieve different goals. The difference among them was the choice of embolan material. The complications that arose were few and could be managed. In conclusion, preoperative spinal embolization is the choice of therapy that give more benefit and safety.Keywords: preoperative spinal embolization; spinal decompression surgery; embolan  Abstrak: Embolisasi merupakan cara yang efektif dalam mengontrol perdarahan. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi mengenai embolisasi tulang belakang, bahan embolan, dan komplikasi yang ditimbulkan. Jenis penelitian ialah suatu literature review menggunakan database jurnal online dan Google Scholar. Pencarian data menggunakan kata kunci Preoperative Spinal Embolization. Kelayakan penelitian yang dipilih bersifat case report. Hasil penelitian mendapatkan bahwa semua penelitian menggunakan teknik dan pendekatan yang sama untuk mencapai tujuan yang berbeda. Perbedaannya ialah dalam hal pemilihan bahan embolan. Komplikasi yang terjadi hanya sedikit dan dapat diatasi. Simpulan penelitian ini ialah preoperative spinal embolization merupakan terapi pilihan yang menguntungkan dan aman.Kata kunci: embolisasi preoperatif; operasi dekompresi tulang belakang; embolan
Trauma Okular oleh Serangan Kerbau – Laporan Kasus Supit, Wenny
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.33847

Abstract

Abstract: Of the many ocular blunt traumas, trauma due to typical buffalo attack thrrough leverage has not been reported. We reported a 65-year-old man attacked by a buffalo on his left eye. The patients complained of pain of his left eye associated with swelling, bleeding, and blurred vision. Eye examination revealed that visual acuity of the left eye was classified as hand motion (HM), limited ocular motility, blepharospasm, and a crescent-shaped anterior lamella laceration with lateral canthal involvement. Anterior segment examination revealed bullous subconjunctival hemorrhage, corneal edema, and rosette-shaped opacification (RSO) of the lens. Head-CT showed traumatic cataract and periorbital haemorrhage; no abnormalities in the right eye. Ovular trauma score (OTS) of the patient was three indicating that the possible visual prognosis was 2% as no light perception (NLP), 11% as light perception (LP) or hand motion (HM), 15% as 1/200-19/200, 31% as 20/200-20/50, and 41% as >20/40. Literature data showed that the visual sensitivity of OTS prediction in NLP, 20/200-20/50, and 20/40 was 100%. The specificity of OTS in predicting vision in LP/HM 1/200-19/200 was 100%. After a recovery period of approximately two months and the sutured wound healed, the patient came to the eye clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. After a cataract surgery was performed on the left eye of the patient, his visual acuity improved to 20/40.Keywords: ocular trauma, buffalo attack, ocular trauma score (OTS)  Abstrak: Dari sekian banyaknya trauma tumpul, trauma akibat rudapaksa tipikal serangan kerbau yang menggunakan gaya ungkit belum pernah dilaporkan. Kami melaorkan seorang laki-laki berusia 65 tahun yang mendapat serangan kerbau pada mata kiri dengan keluhan nyeri disertai pembengkakan, pendarahan, dan penglihatan kabur. Pemeriksaan mata menunjukkan ketajaman visual mata kiri dengan gerakan tangan, motilitas okular terbatas, blefarospasme, dan laserasi lamela anterior berbentuk bulan sabit dengan keterlibatan kantal lateral. Pemeriksaan segmen anterior menunjukkan perdarahan subkonjungtiva bulosa, edema kornea, dan rosette-shaped opacification (RSO) pada lensa. Hasil CT-kepala menunjukkan katarak traumatik dan perdarahan periorbital, tanpa kelainan pada mata kanan. Skor trauma okular pasien (OTS) ialah tiga yang menandakan kemungkinan prognosis pada visual pasien ialah 2% menjadi no light perception (NLP), 11% menjadi light perception (LP) atau hand motion (HM), 15% menjadi 1/200-19/200, 31% menjadi 20/200-20/50, dan 41% menjadi >20/40. Penggunaan OTS pada kasus ini karena data literatur menunjukkan bahwa sensitivitas penglihatan prediksi OTS di NLP, 20/200-20/50, dan 20/40 ialah 100%. Kekhususan OTS dalam memrediksi visi di LP/HM 1/200-19/200 ialah 100%. Setelah masa pemulihan sekitar dua bulan dan luka penjahitan sembuh, pasien datang kontrol ke poliklinik mata RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Setelah dilakukan operasi katarak pada mata kiri didapatkan tajam penglihatan mata kiri pasien 20/40.Kata kunci: trauma mata, serangan kerbau, ocular trauma score (OTS)
Pendekatan Diagnostik Refluks Laring Faring Rompas, Karin I.; Mengko, Steward K.; Palandeng, Ora Et Labora I.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34596

Abstract

Abstract: Lifestyle and behavior changes can have bad impacts on our health. One of the diseases that can be caused by lifestyle changes is pharyngeal larynx reflux. Pharyngeal laryngeal reflux is a state of return of the contents of the stomach to the larynx and pharynx causing an inflammatory reaction to the mucous membranes of the larynx and pharynx. In an attempt to diagnose pharyngeal larynx reflux, a follow-up examination is required. In this case there are several examinations that can be done to confirm the diagnosis of pharyngeal larynx reflux. This study was aimed to obtain the diagnostic approaches in laringopharyngeal reflux cases. This was a literature review study using two databases namely PubMed and ClinicalKey. The keywords used were laringophaingeal reflux and laryngopharyngeal reflux disease. After being selected based on inclusion and exclusion criteria, nine literatures using experimental research methods. were obtained. The results showed that several examinations that could be performed in diagnosing laringofaringeal reflux, as follows: anamnesis, physical examination, pH-monitoring, reflux findings score, reflux symptom score, PEP-test, reflux sign assessment, reflux symptom score, immunohistochemistry, and fiber-optic laryngoscopy. In conclusion, supporting examinations are needed to confirm the diagnosis of pharyngeal larynx reflux.Keywords: refluks laring faring; laryngopharyngeal reflux disease. Abstrak: Perubahan gaya hidup dan perilaku dapat berdampak pada kesehatan tubuh. Salah satu penyakit yang dapat diakibatkan oleh perubahan gaya hidup yaitu refluks laring faring. Refluks laring faring merupakan keadaan kembalinya isi lambung ke laring dan faring sehingga menyebabkan reaksi inflamasi pada selaput lendir laring dan faring. Untuk menegakkan diagnosis refluks laring faring dibutuhkan pemeriksaan lanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendekatan diagnosis yang dapat dilakukan dalam pemeriksaan kasus refluks laring faring. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan dua database yaitu PubMed dan ClinicalKey. Kata kunci yang digunakan yaitu refluks laring faring and laryngopharyngeal reflux disease. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan sembilan literatur yang menggunakan metode penelitian eksperimental. Hasil peneli-tian mendapatkan pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan dalam menegakkan diagnosis refluks laring faring ialah: anamnesis, pemeriksaan fisik, pH-monitoring, skor temuan refluks, skor gejala refluks, PEP-test, reflux sign assessment, reflux symptom score, immunohistochemistry, dan fiber-optic laryngoscopy. Simpulan penelitian ini ialah pemeriksaan penunjang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis refluks laring faring.Kata kunci: refluks laring faring; laryngopharyngeal reflux disease
Merokok dan Gangguan Fungsi Ginjal Setyawan, Yuswanto
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.33991

Abstract

Abstract: Smoking increases the production of angiotensin II as an effect of renin secretion stimulated by the efferent sympathetic system through beta-1 adrenergic stimulation of the juxtaglomerular apparatus. Angiotensin II will cause tubular and glomerular injuries through the mechanism of pressure-induced renal injury and ischemia-induced renal injury as a secondary result of intrarenal vasoconstriction and decreased renal blood flow. In addition, there is secondary tubular injury due to angiotensin-induced proteinuria. Angiotensin II activates renal fibroblasts to undergo differentiation into myofibroblasts, stimulates TGF-ß profibrotic cytokines, induces oxidative stress, stimulates chemokines and osteopontin which can cause local inflammation, and stimulates mesangial cell proliferation and hypertrophy. Glomerular capillary hypertension causes an increase in glomerular permeability resulting in an increase in albumin filtration which will further trigger kidney damage through various pathways, including induction of tubular chemokine expression and activation of complement leading to infiltration of inflammatory cells in the interstitium and trigger fibrogenesis. This phenomenon involves endothelial cells and glomerular podocytes and will trigger exacerbation of proteinuria and glomerulosclerosis with the end result in the formation of kidney scar tissue and a decrease in glomerular filtration rate (GFR).Keywords: smoking; renal function; TGF-ß; glomerular filtration rate (GFR)  Abstrak: Merokok akan meningkatkan produksi angiotensin II sebagai efek dari sekresi renin yang distimulasi oleh sistim simpatik eferen melalui stimulasi beta-1 adrenergik pada aparatus jukstaglomerular. Angiotensin II akan menyebabkan cedera tubulus dan glomerulus melalui mekanisme pressure-induced renal injury dan ischemia-induced renal injury sebagai akibat sekunder dari vasokonstriksi intrarenal dan penurunan aliran darah ginjal. Selain itu terjadi cedera tubulus sekunder dari proteinuria yang diinduksi angiotensin. Angiotensin II akan mengaktifkan fibroblas ginjal berdiferensiasi menjadi miofibroblas, menstimulasi sitokin profibrotik TGF-ß, menginduksi stres oksidatif, menstimulasi kemokin dan osteopontin yang dapat menyebabkan inflamasi local, dan menstimulasi proliferasi dan hipertrofi sel mesangial. Hipertensi kapiler glomerulus akan menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus sehingga terjadi peningkatan filtrasi albumin yang selanjutnya memicu kerusakan ginjal melalui berbagai jalur, diantaranya induksi ekspresi kemokin tubulus dan aktivasi komplemen yang akan mengarah pada infiltrasi sel-sel inflamasi pada interstisium dan memicu fibrogenesis. Fenomena ini melibatkan sel endotel dan podosit glomerulus dan akan mencetuskan eksaserbasi proteinuria dan glomerulosklerosis dengan hasil akhir berupa terbentuknya jaringan parut ginjal dan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG).Kata kunci: merokok; fungsi ginjal; TGF-ß; laju filtrasi glomerulus (LFG)
Hubungan Faktor-faktor yang Berperan untuk Terjadinya Dismenore pada Remaja Putri di Era Normal Baru Kojo, Nancy H.; Kaunang, Theresia M. D.; Rattu, Angelheart J. M.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34433

Abstract

Abstract: Since Covid-19 is still a pandemic worldwide, people are required to familiarize themselves with new normal lifes or new normal conditions that have been implemented in Indonesia. Observation at Tincep Village of Minahasa during April to October 2020 revealed that the village government was very strict in implementing social restrictions; therefore, teenagers or young people were rarely doing physical activity outdoors. Moreover, teenagers with low physical activity tended to prefer indoor activities. This study was aimed to analyze the relationship between influencing factors of dysmenorrhea in female teenagers in the new normal era. This was a quantitative analytical and descriptive study with a cross sectional design. This study was conducted from November to December 2020 at Tincep Village. Subjects were 40 female teenagers aged 12-18 years. Independent variables were physical activity, nutritional status, age of menarche, length of menstruation, and depression meanwhile dependent variables was dysmenorrhea. Data were statistical analyzed univariately and bivariately. The results showed that significant relationships were only obtained between physical activity and depression and dysmenorrhea among female teenagers at Tincep Village, Minahasa in the new normal era. In conclusion, factors associated with dysmenorrhea were physical activity (most dominant) and depression meanwhile factors that were not associated with dysmenorrhea included nutritional status, age of menarche, and duration of menstruation. Keywords: new normal; dysmenorrhea; Covid-19  Abstrak: Covid-19 masih menjadi wabah yang belum dapat diatasi di seluruh dunia. Oleh karena itu masyarakat dituntut untuk membiasakan diri dengan hidup new normal atau keadaan normal baru yang sudah diterapkan di Indonesia. Dari hasil pengamatan di desa Tincep Kabupaten Minahasa selama bulan April sampai Oktober 2020, ternyata pemerintah desa sangat ketat menjalankan kebijakan yaitu pembatasan sosial sehingga jarang remaja atau pemuda melakukan aktivitas fisik di luar rumah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor-faktor yang berperan untuk terjadinya dismenore pada remaja desa di era normal baru. Jenis penelitian ialah kuantitatif deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tincep Kabupaten Minahasa pada November - Desember 2020. Subyek penelitian ini yaitu 40 remaja putri yang berusia 12-18 tahun. Variabel bebas penelitian ini yaitu aktivitas fisik, status gizi, usia menarche, lama menstruasi, dan depresi dan variabel terikat ialah dismenore. Data hasil penelitian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Penyajian data dibuat dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan bermakna hanya didapatkan antara aktivitas fisik dan depresi dengan dismenore pada remaja putri di Desa Tincep Kabupaten Minahasa di era normal baru. Simpulan penelitian ini ialah faktor-faktor yang berhubungan dengan dismenore ialah aktivitas fisik (yang terutama) dan depresi. Faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan dismenore meliputi status gizi, usia menarche, serta lama menstruasi.Kata kunci: new normal; dismenore; Covid-19
Analisis Hubungan Ca 15-3 dan Respon Kemoterapi Neoadjuvan pada Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal Rusli, Lie V.; Merung, Marselus; Pontoh†, Victor; Manginstar, Christian; Hatibie, Mendy J.; Langi, F. L. Fredrik G.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34659

Abstract

Abstract: Neoadjuvant chemotherapy is one of the therapeutic modalities used in the management of locally advanced breast cancer. Therapeutic response can be objectively assessed with RECIST and Ca 15-3 could be used to monitor response to breast cancer (BC) treatment. This study was aimed to prove the relationship between Ca 15-3 and response to neoadjuvant chemotherapy in locally advanced BC. The study was carried out at the Departement of Surgery Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado using a single-arm pre-post trial. Each patient would be performed Ca 15-3 test and clinical assessment (RECIST) pre and post chemotherapy for two sessions. There were 11 BC patients with invasive ductal carcinoma.  The average age was 60 years old and the majority had anemia and lymphocytopenia. There was a decrease in Ca 15-3 in each patient by a baseline of 21.8 U/mL pre-treatment and a decrease in the lesion size by 30.3 mm using RECIST. The results showed that changes in RECIST and Ca 15-3 level were correlated with each unit change in RECIST was associated with a decrease in Ca 15-3 level by 0.03 units (p=0.019). In conclusion, there was a decrease in Ca 15-3 level in response to chemotherapy, followed by a decrease in RECIST. There was a relationship between Ca 15-3 level and chemotherapy response assessed with RECIST after the second chemotherapy.Keywords: Ca 15-3, chemotherapy response, neoadjuvant chemotherapy, RECIST, breast cancer  Abstrak: Kemoterapi neoadjuvan masih merupakan pilihan utama terapi untuk kanker payudara (KPD) stadium lanjut local. Respon suatu kemoterapi dapat dinilai secara objektif dengan RECIST dan Ca 15-3 dapat digunakan untuk memantau respon terhadap pengobatan KPD. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan antara Ca 15-3 dengan respon kemoterapi neoadjuvan RECIST pada pasien KPD stadium lanjut lokal. Penelitian dilaksanakan di Bagian Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado dengan menggunakan single-arm pre-post trial. Setiap individu yang terlibat akan diperiksa kadar Ca 15-3, serta penilaian RECIST sebelum dan sesudah mereka menerima kemoterapi selama dua sesi. Hasil penelitian mendapatkan 11 pasien KPD dengan karsinoma duktal invasif. Rerata usia 60 tahun, umumnya dengan anemia dan limfositopenia. Terdapat penurunan Ca 15-3 pada tiap pasien sebesar awal 21,8 U/mL pra pengobatan dan penurunan lesi 30,3 mm saat dinilai menurut RECIST. Didapatkan bahwa perubahan RECIST dan Ca 15-3 memiliki keterkaitan dengan setiap unit perubahan RECIST berhubungan dengan penurunan kadar Ca 15-3 sebesar 0,03 unit (p=0,019). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara kadar Ca 15-3 dengan respon kemoterapi setelah kemoterapi siklus ke dua.Kata kunci: Ca 15-3; respon kemoterapi; neoadjuvan kemoterapi; RECIST; kanker payudara
Kematian akibat Kekerasan Tumpul Kepala pada Korban Anak yang Ditemukan di Dalam Sumur: Laporan Kasus Priyambodo, Dewanto Y.; Pidada, IBG Surya P.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34016

Abstract

Abstract: Violence against women and children still occurs in Indonesia. Some of them resulted in serious injuries and deaths. We reported a 13-year-old woman found dead in a well after missing for two days. The victim was buried immediately by the family after being found since there was no suspicion of homicide. Albeit, the police investigation developed into a homicide suspicion, therefore, an exhumation was carried out seven days after the death. There was no sign of violence on external inspection. Internal examination revealed bruising on the right cranium, reddened right brain tissue, and incomplete fracture at the base of the right cranium confirmed as intravital injury by microscopic examination. The pulmonary diatom examination showed negative result, therefore, the victim was pronounced dead before being put into the well. Spermatozoa’s heads were found on the vaginal swab microscopic examination. In conclusion, the cause of death was a blunt trauma to the head by homicide. The victim died more than 24 hours from the time of examination.Keywords: violence against woman; advantage of exhumationAbstrak: Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih banyak terjadi di Indonesia. Beberapa di antaranya berakibat luka berat dan kematian. Seorang perempuan berusia 13 tahun ditemukan meninggal di dalam sumur setelah dinyatakan hilang selama 2 hari. Korban awalnya diduga meninggal karena bunuh diri. Korban dimakamkan segera oleh keluarga setelah ditemukan dan tidak ada kecurigaan pembunuhan. Penyidikan oleh polisi berkembang menjadi dugaan pembunuhan, sehingga dilakukan ekshumasi pada tujuh hari pasca kematian. Tidak terdapat tanda kekerasan pada pemeriksaan luar. Pemeriksaan dalam menunjukkan memar pada cranium sebelah kanan, jaringan otak sebelah kanan yang berwarna lebih merah dan retak pada basis cranii bagian kanan dan dikonfirmasi sebagai luka intravital melalui pemeriksaan mikroskopik. Pemeriksaan diatom paru menunjukkan hasil negatif sehingga korban dinyatakan meninggal sebelum dimasukkan ke dalam sumur. Pada pemeriksaan swab vagina didapatkan adanya kepala spermatozoa. Simpulan laporan kasus ini ialah sebab kematian korban oleh trauma tumpul pada kepala dengan cara dibunuh. Jenazah meninggal lebih dari 24 jam dari saat pemeriksaan.Kata kunci: kekerasan terhadap perempuan; manfaat ekshumasi 
Efek Terapi Adjuvan Extracorporal Shockwave terhadap Penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Penanda Vascular Endothelial Growth Factor Tampubolon, Harris J.; Tangkilisan, Adrian; Sukanto, Wega; Korompips, Grace E. C.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.36158

Abstract

Abstract: Diabetic foot ulcer (DFU) prevalence tends to increase every year. Within 30 seconds it is predicted that one leg will be amputated due to DFU. New blood formation triggered by adjuvant extracorporeal shock wave therapy (ESWT) on increasing VEGF level is expected to promote DFU healing. This study was aimed to prove whether ESWT as an adjuvant therapy could stimulate DFU healing by increasing VEGF serum level. This was a quasi-experimental study using two groups, the ESWT and the control groups. Two repeated measurements of VEGF levels and PEDIS scores were performed. The ESWT group (17 patients) received the adjuvant ESWT and the control group (7 patients) received conventional wound care therapy. Both groups received 8-time treatment for 4 weeks. Measurements of VEGF levels and PEDIS scores were performed at baseline and after 4 weeks. The results showed that the PEDIS score of the ESWT group decreased, albeit, not in the control group. The VEGF level of the ESWT group significantly increased (mean rank=13.24) compared to the control group (mean rank=7.33). The Wilcoxon signed-ranks test indicated that the PEDIS score in ESWT group had a significant decrease compared to the control group (mean rank=7.50), Z=-3.372, p=<.001. The Pearson correlation test showed a significant relationship between VEGF value and the PEDIS score reduction (81.4%).  In conclusion, the adjuvant ESWT therapy could promote DFU healing (reduced PEDIS score) and increase VEGF levels in DFU patients.Keywords: ESWT; VEGF; diabetic foot ulcer (DFU) Abstrak: Prevalensi ulkus kaki dibetik (UKD) terus meningkat setiap tahunnya dan dalam 30 detik diprediksi terdapat satu kaki yang diamputasi karena UKD. Pembentukan pembuluh darah baru yang dipicu oleh penggunaan adjuvan ESWT terhadap peningkatan kadar VEGF diharapkan dapat memper-cepat penyembuhan UKD. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan terapi adjuvan ESWT dapat meningkatkan kadar VEGF dalam penyembuhan UKD. Jenis penelitan ialah kuasi-eksperimental yang membandingkan dua kelompok perlakuan (ESWT vs kontrol) melalui dua pengukuran berulang terhadap kadar VEGF dan skor pedis. Kelompok ESWT (17 pasien) mendapatkan terapi adjuvan ESWT dan kelompok kontrol (7 pasien) mendapatkan terapi konvensional perawatan luka. Kedua kelompok mendapatkan perlakuan 2 kali per minggu selama 4 minggu. Pengukuran kadar VEGF dan skor pedis pada baseline dan setelah selesai 4 minggu perlakuan. Hasil penelitian mendapatkan penurunan skor PEDIS hanya pada kelompok ESWT (14 pasien), Kadar VEGF kelompok perlakuan didapatkan meningkat bermakna (mean rank=13,24) dibandingkan kelompok kontrol (mean rank=7,33) (p<0,001). Wilcoxon Signed-Ranks Test mengindikasikan bahwa nilai skor PEDIS kelompok ESWT mengalami penurunan bermakna dibandingkan kelompok kontrol (mean rank=7,0), Z=-3,372, p=<0,001. Uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan bermakna antara perubahan nilai VEGF dengan skor pedis (81,4%). Simpulan penelitian ini ialah terapi adjuvan ESWT dapat memicu penyembuhan UKD (menurunkan skor PEDIS) dan meningkatkan kadar VEGF pada pasien UKDKata kunci: ESWT; VEGF; ulkus kaki diabetik (UKD)
Analisis Hubungan Tingkat Kesejahteraan Tanggung Jawab dan Motivasi terhadap Kepuasan Kerja Perawat dan Bidan Mokodompit, Hafsia K. N.; Tendean, Lydia E. N.; Mantik, Max F. J.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.36066

Abstract

Abstract: Health worker is everyone who devotes him/herself in the health sector and has knowledge and skills through education in the health sector, such as nurse and midwife. The maximum service of a health worker can be achievd if the level of satisfaction is good. Various factors can affect the satisfaction of nurses and midwives working in an hospital organization, such as welfare, responsibility, and work motivation. This study was aimed to assess the relation-ship between welfare, responsibility, work motivation and satisfaction among nurses and mid-wives. This was an analytical, observational, and quantitative study with a cross sectional design. There were 119 health workers of General Hospital GMIBM Monompia Kotamobagu involved in this study consisting of 107 nurses and 12 midwives obtained by using the total sampling method. The multiple linear test showed that the level of welfare affected job satisfaction (p=0.000), while responsibility and motivation did not affect job satisfaction (p=0.371 and p=0.415). The simultaneous test resulted in an F-value of 6.112 where welfare/income, respon-sibility, and motivation simultaneously affected the job satisfaction of nurses and midwives. In conclusion, welfare significantly influenced the satisfaction of nurses and midwives meanwhile responsibility and motivation did not.Keywords: level of welfare; responsibility; motivation and job satisfaction Abstrak: Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan seperti perawat dan bidan. Pemberian pelayanan yang maksimal dari tenaga kesehatan dapat tercapai bila tingkat kepuasan kerja perawat dan bidan baik. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kepuasan kerja pada perawat dan bidan dalam suatu organisasi rumah sakit, di antaranya tingkat kesejahteraan, tanggung jawab, dan motivasi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kesejahteraan, tanggung jawab, dan motivasi dengan kepuasan kerja pada perawat dan bidan. Jenis penelitian ialah kuantitatif dan analitik observasional dengan desain potong lintang. Subyek penelitian berjumlah 119 orang tenaga kesehatan Rumah Sakit Umum GMIBM Monompia Kotamobagu, terdiri dari 107 perawat dan 12 bidan diperoleh dengan teknik total sampling. Hasil penelitian uji linear berganda mendapatkan tingkat kesejahteraan memengaruhi kepuasan kerja (p=0.,00), sedangkan tanggung jawab dan motivasi tidak meme-ngaruhi kepuasan kerja (p=0,371 dan p=0,415). Pada hasil uji simultan didapatkan nilai F=6,112 dimana kesejahteraan/pendapatan, tanggung jawab, dan motivasi secara serempak memengaruhi kepuasan kerja. Simpulan penelitian ini ialah kesejahteraan/pendapatan mempunyai pengaruh bermakna terhadap kepuasan kerja perawat dan bidan sedangkan tanggung jawab dan motivasi tidak mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja perawat dan bidan.Kata kunci: kesejahteraan; tanggung jawab; motivasi kerja dan kepuasan kerja

Page 81 of 108 | Total Record : 1074