cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Karakteristik Pasien Age-related Macular Degeneration (AMD) pada Fasilitas Kesehatan Tersier di Masa Pandemi Covid 19 Nursalim, Ade J.; Simanjuntak, Elbetty; Sumual, Vera
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.35645

Abstract

Abstract: Age-related macular degeneration (AMD) is a neurodegenerative disease that affects the macula and is characterized by age-related loss of the central visual field. AMD contributes greatly to blindness for people over 50 years old in the world. The prevalence of AMD is increasing from year to year. Albeit, during the Covid-19 pandemic the number of patient visits to health facilities tends to decrease. This study was aimed to report the clinical characteristics of patients with AMD in tertiary health facilities during the covid 19 pandemic and to compare them with previous reports. This was a retrospective and descriptive study using medical record data of the Ophthalmology Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from March 2020 to June 2021. There were 12 patients in this study consisting of 10 males and two females. Age range of 56-75 years had the highest percentage (58%). The non-neovascular subtype were found in 7 patients (58.3%) meanwhile the neovascular type in 5 patients (41.7%). The identified risks were hypertension (50%), diabetes mellitus (DM) (8.3%), and DM associated with hypertension (16,7%), meanwhile no risk factor was found in 8.3% of patients. The number of patient visits decreased in the study period compared to previous reports conducted before the pandemic. In conclusion, the majority of AMD patients were male, age group of 56-75 years, and had non-neovascular subtype. The identified risk factors were hypertension and diabetes mellitus.Keywords: age related macular degeneration (AMD); characteristics of patients Abstrak: Age-related macular degeneration (AMD) adalah penyakit neourodegeneratif yang mengenai bagian makula dan ditandai dengan hilangnya lapang pandang sentral yang berhu-bungan dengan usia. AMD berkontribusi besar terhadap angka kebutaan untuk usia di atas 50 tahun di dunia. Prevalensi AMD pun semakin meningkat dari tahun ketahun. Pandemi Covid 19 diketahui mengurangi angka kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan karakteristik klinik pada pasien AMD pada fasilitas kesehatan tersier di masa pandemi covid 19 dan membandingkannya dengan laporan sebelumya. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik di Poliklinik Mata RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Maret 2020-Juni 2021. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 12 pasien AMD; sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (83,3%), berada dalam rentang usia 56-75 tahun (58%), dengan subtipe AMD non neovaskular (58,3%). Faktor risiko yang teridentifikasi ialah hipertensi (50%), diabetes melitus (DM) (8,3%), dan DM disertai hipertensi (16,7%), sedangkan yang tanpa faktor risiko hanya 8,3%. Jumlah kunjungan pasien berkurang di periode waktu penelitian dibandingkan dengan laporan yang dilakukan sebelum masa pandemi. Simpulan penelitian ialah mayoritas pasien AMD berjenis kelamin laki-laki, usia 56-75 tahun, dengan subtipe non neovaskular. Faktor risiko teridentifikasi ialah hipertensi dan diabetes melitus.Kata kunci: age-related macular degeneration (AMD); karakteristik pasien
Lupus Eritematosus Sistemik (LES) pada Kehamilan Suparman, Erna
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.35375

Abstract

Abstract: Systemic lupus erythematosus (SLE) is a multi-organ autoimmune disease that can affect women of childbearing age. Pregnancy causes alterations of the immune and neuroendocrine systems. Moreover, SLE in pregnancy is associated with prematurity and preeclampsia. Confirmation of the SLE diagnosis based on anamnesis, physical examination, and laboratory results is essential to differ the similar symptoms of normal pregnancy from pregnancy with SLE, such as preeclampsia, to lupus nephritis due to differences in treatment. The management of SLE in pregnancy has begun to be well understood; therefore, immunosuppressive drugs can be administered according to the indications and fetal safety. It is essential to educate women with SLE to not get pregnant before the 6-months remission period and explain the relative contraindications to pregnancy.Keywords: systemic lupus erythematosus; pregnancy; immunosuppressive  Abstrak: Lupus eritematosus sistemik (LES) merupakan suatu penyakit autoimun multi-organ yang dapat menyerang wanita usia reproduktif. Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem imun dan neuroendokrin. LES pada wanita hamil dihubungkan dengan kejadian kelahiran prematuritas dan preeklamsia. Penentuan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang penting untuk membedakan gejala-gejala yang mirip pada kehamilan normal dengan kehamilan yang disertai LES seperti preeklamsia dengan lupus nefritis karena tatalaksana yang diberikan berbeda. Tatalaksana LES pada kehamilan telah mulai dipahami sehingga pemberian obat-obatan imunosupresif dapat diberikan sesuai dengan indikasi dan keamanan pada janin. Penting untuk mengedukasi wanita dengan LES untuk tidak hamil sebelum melewati masa remisi enam bulan dan menjelaskan kontraindikasi relatif pada kehamilan.Kata kunci: lupus eritematous sistemik; kehamilan; imunosupresif
Hubungan Kadar Laminin Serum dengan Tingkat Kesadaran Menurut Skor FOUR pada Pasien Cedera Otak Akibat Trauma Putera, Akbar S.; Prasetyo, Eko; Oley, Maximillian Ch.; Langi, Fima L. F. G.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.35901

Abstract

Abstract: Traumatic brain injury (TBI) could result in disorders of central nervous system (CNS). Serum laminin level and the FOUR score have both been suggested as predictors for the outcomes after TBI. This study was aimed to evaluate the relationship between serum laminin level and the FOUR score in TBI patients. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Subjects were 32 patients with TBI and FOUR scores of 0-16 admitted at the Emergency Surgery Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. Venous blood sample for laminin was taken less than 24 hours after trauma. Assessment of the level of consciousness was determined by using the FOUR score at Emergency Surgery Installation admission <24 hours and observation after >24 hours. Proportional regression model was used to assess changes in FOUR score associated with laminin level. The results obtained 32 patients with TBI, mean laminin level was 818.4 pg/mL with range IQR 597.4-1235.4 pg/mL. In final regression model, each increase of one unit of pre-24 hours FOUR score decreased serum laminin level by 54.4 pg/mL (95% CI -76.3; 32.1 pg/mL, p<0.001). Same as the relationship occurred for the FOUR score after 24 hours, but the decrease was slightly smaller, at 37.2 pg/mL (95% CI -50.2; -24.3 pg/mL, p<0.001). FOUR scores with a high risk of mortality were more likely to be found in relatively high serum laminin levels. In conclusion, there is a relationship between serum laminin level and the FOUR score. Increase in serum laminin level is a potential alternative to lower FOUR score and to predictof poorer outcome in patient with TBI.Keywords: laminin; FOUR score; traumatic brain injury (TBI) Abstrak: Pada cedera otak akibat trauma (COT) sering terjadi gangguan saraf pusat. Laminin serum dan skor FOUR disarankan sebagai prediktor luaran setelah COT. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara kadar laminin serum dan skor FOUR pada pasien COT. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Penelitian dilaksanakan pada 32 pasien dengan COT dan skor FOUR 0-16 yang masuk ke Instalasi Rawat Darurat Bedah (IRDB) RSUP Prof. Dr.R. D. Kandou, Manado. Sampel darah vena untuk pemeriksaan serum laminin diambil kurang dari 24 jam setelah trauma. Penilaian tingkat kesadaran ditetapkan dengan skor FOUR saat masuk IRDB <24 jam dan observasi setelah >24 jam. Model regresi proporsional digunakan untuk menilai hubungan kadar laminin serum dengan skor FOUR. Hasil penelitian mendapatkan 32 pasien dengan COT. Rerata kadar laminin serum 818,4 pg/mL dengan range IQR 597,4-1.235,4 pg/mL. Pada model regresi akhir, setiap peningkatan satu unit skor FOUR pra 24 jam rata-rata menurunkan kadar laminin serum sebesar 54,4 pg/mL (95% CI -76,3; 32,1 pg/mL, p<0,001). Hubungan sejenis terjadi untuk skor FOUR pasca 24 jam, tetapi nilai penurunannya sedikit lebih kecil, yakni 37,2 pg/mL (95% CI -50,2; -24,3 pg/mL, p<0,001). Skor FOUR dengan risiko mortalitas tinggi lebih cenderung ditemukan pada kadar laminin serum relatif tinggi. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara kadar laminin serum dengan skor FOUR. Peningkatan kadar laminin serum merupakan alternatif potensial skor FOUR yang lebih rendah untuk memrediksi luaran yang lebih buruk pada pasien COT.Kata kunci: laminin; skor FOUR; cedera otak akibat trauma (COT)
GAMBARAN KORBAN MENINGGAL DENGAN CEDERA KEPALA PADA KECELAKAAN LALU LINTAS DI BAGIAN FORENSIK BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2011-2012 Lumandung, Feibyg Theresia; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3608

Abstract

Abstrack: Traffic accidents lately occur anywhere and are already familiar. Most accidents are motor accident with head injury, where it can lead to death. This research isto describe the victim died with a head injury in a traffic accident forensics section BLU Prof.Dr.R.D.Kandou Hospital Manado period 2011-2012. In this study, researcher uses retrospective descriptive method. Datawere collected from medical records of all cases of accidents in the years 2011-2012. The conclusion ofthis research, cases of traffic accidents with head injuries are more prevalent than others, most especially in the region of the temporal head injury can effect to death. Researcher suggests that tightened regulations in traffic and further enhanced prevention efforts from the government, police, and medical teams. Keyword : head injury, traffic accident    Abstrak: Kecelakaan lalu lintas akhir-akhir ini terjadi dimana saja dan sudah tidak asing lagi. Kasus kecelakaan terbanyak adalah kecelakaan bermotor dengan cedera kepala, dimana hal ini dapat mengakibatkan kematian. Penelitian ini untuk mengetahui gambaran korban meninggal dengan cedera kepala pada kecelakaan lalu lintas dibagian forensik BLU RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado periode tahun 2011-2012. Dalam penelitian ini peniliti, menggunakan metode deskriptif retrospektif. Data penelitian dikumpulkan dari rekam medik seluruh kasus kecelakaan di tahun 2011-2012.Kesimpulan dari penelitian ini, kasus kecelakaan lalu lintas dengan cedera kepala lebih banyak terjadi dari cedera lainnya, khusunya paling banyak cedera kepala di regio temporalis yang dapat mengakibatkan kematian. Peneliti menyarankan agar lebih diperketat lagi peraturan-peraturan dalam berlalu lintas dan lebih ditingkatkan lagi berbagai usaha pencegahan dari pihak pemerintah, kepolisian, dan tim medis. Kata kunci :Cedera kepala, kecelakaan lalu lintas.
Gambaran kadar troponin T berdasarkan waktu pemeriksaan dan lokasi infark pada pasien infark miokard akut di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou periode Januari-Desember 2015 Sagala, Shendy G.L.; Pangemanan, Janry A.; Djafar, Dewi U.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14465

Abstract

Abstract: Acute myocardial infarction (AMI) causes high mortality and morbidity rates. AMI must be dealt quickly and efficiently for prolonged ischemia can cause irreversible damage and worsen the prognosis. The American College of Cardiology decided that the diagnosis of AMI required a combination of ischemic symptoms and/or electrocardiographic changes accompanied by myocardial necrosis markers, the biomarkers. Previous studies showed that there were variations in troponin levels based on examination time and location of infarction. This study was aimed to obtain the profile of troponin T levels based on time of troponin T examination and location of infarction in AMI patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from January to December, 2015. This was a descriptive observational study with a retrospective approach. Samples were AMI patients with complete data that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. The results showed that of the total 61 AMI patients there were 26 samples that fulfilled the criteria. The majority of samples were males, age group 55-64 years, and the risk factor was a combination of some of the major risk factors. Most infarctions of NSTEMI were dominated by anteroseptal and anterolateral infarct locations and levels of troponin T were in the range of >100-2000 ng / L (the average value of 475 ng / L). Levels of troponin T were influenced by the time of examination, but not by the location of the infarct.Keywords: acute myocardial infarction, troponin T, examination time, infarct location Abstrak: Infark miokard akut (IMA) menyebabkan angka mortalitas dan morbiditas tinggi. IMA harus ditangani dengan cepat dan efisien karena iskemia yang berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan yang ireversibel dan menentukan prognosis. The American College of Cardiology menetapkan bahwa untuk diagnosis infark miokard akut diperlukan kombinasi antara gejala iskemik dan/atau perubahan elektrokardiografi disertai penanda nekrosis infark yaitu biomarker. Berdasarkan penelitian sebelumnya didapatkan variasi troponin berdasarkan waktu pemeriksaan dan lokasi infark. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar troponin T berdasarkan waktu pemeriksaan troponin T dan lokasi infark pada pasien infark miokard akut di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode Januari-Desember 2015. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan pendekatan studi retrospektif. Sampel ialah pasien infark miokard akut dengan data lengkap yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, diambil dari rekam medik. Hasil penelitian memperlihatkan dari total 61 pasien IMA didapatkan 26 sampel yang memenuhi kriteria. Mayoritas sampel ialah laki-laki, kelompok usia 55-64 tahun, faktor risiko yaitu kombinasi dari beberapa faktor risiko mayor, jenis infark NSTEMI didominasi oleh lokasi infark anteroseptal dan anterolateral dengan lebih dari setengah jumlah sampel memiliki kadar troponin T pada rentang >100-2000 ng/L (nilai rerata 475 ng/L). Kadar troponin T dipengaruhi oleh waktu pemeriksaan tetapi tidak dipengaruhi oleh lokasi infark. Kata kunci: infark miokard akut, troponin T, waktu pemeriksaan, lokasi infark
PROFIL PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI POLIKLINIK PARU RSUP PROF. Dr. R.D. KANDOU MANADO Puspitasari, Putri
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3716

Abstract

Abstract: Pulmonary tuberculosis in Indonesia is a global health problem and including the third leading cause of death after India and China. In 1992, the WHO has declared TB as a global emergency. The high prevalence of pulmonary tuberculosis caused by a variety of reasons, namely: low socioeconomic, health protection is not sufficient, the lack of public knowledge about pulmonary tuberculosis, treatment cost and the lack of control of tuberculosis cases, the presence of the HIV epidemic, especially in developing countries. Tuberculosis is currently common in productive age and increased mortality, especially in developing countries. This study aims to determine the profile of  pulmonary tuberculosis patients in Polyclinics of Pulmonary RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado using descriptive observational method. Total sample of 52 patients. Most are between the age range 41 – 50 years. Most clinical symptoms of tuberculosis patients was cough on 51 patients. Hemoptysis was found in 17 patients, 12 patients fever and weight loss obtained in 23 patients. Based on work status and patient education obtained samples with the highest education is high school with 23 patients and self-employed with a number of 19 patients. Only 3 patients had a BMI <18.5 (underweight) and 35 patients with normal level of albumin. Based on the classification of the highest tuberculosis patient is an overview of category I and laboratory sputum results obtained for 34 patients with smear positive. Keywords: tuberculosis, clinical symptoms, nutritional status, laboratory sputum results.    Abstrak: Tuberkulosis paru di Indonesia merupakan suatu masalah kesehatan dunia dan termasuk penyebab kematian ketiga setelah India dan China. Pada tahun 1992,WHO telah mencanangkan TB sebagai kedaruratan global. Tingginya prevalensi tuberkulosis paru disebabkan oleh berbagai alasan yaitu: sosioekonomi rendah, perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit tuberkulosis paru, kurangnya biaya pengobatan dan pengawasan kasus tuberkulosis, adanya epidemi HIV terutama di negara berkembang. Tuberkulosis saat ini banyak menyerang usia produktif dan meningkatkan angka kematian terutama di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien tuberkulosis paru di poliklinik paru RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado dengan menggunakan metode deskriptif observasional. Jumlah sampel 52 orang pasien. Pasien laki-laki lebih banyak dibanding dengan pasien perempuan. Rentang usia terbanyak adalah antara 41-50 tahun. Gejala klinis pasien tuberkulosis terbanyak adalah batuk yaitu pada 51 pasien. Hemoptisis didapatkan pada 17 pasien, dispneu terdapat pada 16 pasien, keringat malam 24 pasien, demam 12 pasien dan penurunan berat badan didapat pada 23 pasien. Berdasarkan status pekerjaan dan pendidikan pasien didapatkan sampel dengan pendidikan terakhir terbanyak yaitu SMA dengan jumlah 23 orang pasien dan pekerjaan terbanyak yaitu wiraswasta dengan jumlah 19 orang pasien. Hanya 3 orang pasien yang memiliki IMT <18,5 (underweight) dan 35 orang pasien dengankadar albumin normal. Berdasarkan klasifikasi pasien tuberkulosis terbanyak adalah kategori I dan hasil gambaran laboratorium sputum didapatkan sebanyak 34 orang pasien dengan BTA positif. Kata kunci: tuberkulosis, gejala klinis, status gizi, gambaran laboratorium sputum.
Tumor jinak kulit pada wajah Mawu, Ferra O.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11488

Abstract

Abstract: Benign skin tumors are commonly found in every individual. There are various benign tumors occur on the skin surface including facial skin. The main problems of these tumors are cosmetic concerns and the possibility of malignancy. Benign skin tumors frequently found on the face are inter alia seborrheic keratoses, skin tag, syringoma, nevus pigmentosus, xanthelasma, sebaceous hyperplasia, and cyst. Several benign facial skin lesions can be diagnosed clinically as long as it is supported by careful examination with good anamnesis and proper lighting. Physicians as well as specialists must have the ability to categorize and diagnose accurately the growing lesions or tumors as benign, malignant, or undetermined in order to take further step for planning and providing treatment properly.Keywords: seborrheic wart, skin tag, syringomaAbstrak: Hampir semua orang memiliki satu atau lebih tumor kulit yang pada umumnya adalah tumor jinak. Tumor jinak kulit dapat terjadi di seluruh permukaan kulit termasuk kulit wajah. Tumor kulit pada wajah umumnya menimbulkan masalah kosmetik dan kemungkinan pertumbuhan ke arah keganasan. Tumor jinak pada wajah yang sering ditemukan antara lain ialah keratosis seboroik, skin tag, siringoma, nevus pigmentosus, xantelasma, hiperplasia sebasea, dan kista. Secara klinik beberapa tumor jinak kulit pada wajah dapat langsung terdiagnosis, dengan syarat pemeriksaan dilakukan dengan teliti, mulai dari anamnesa sampai pemeriksaan fisik yang dilakukan di bawah penerangan yang baik. Dokter atau dokter ahli harus mampu mengategorikan tumor kulit sebagai tumor jinak/benigna, ganas/maligna, atau tidak jelas, sehingga kemungkinan penatalaksanaan dapat ditetapkan.Kata kunci: keratosis seboroik, skin tag, siringoma
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS TRAMADOL 1,5 MG/KGBB IV DENGAN KETOROLAK 30 MG IV TERHADAP TINGKAT NYERI PASCA OPERASI SEKSIO SESAREA Yosieto, Aldy; Kumaat, Lucky; Posangi, Iddo
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6763

Abstract

Abstract: Surgery lead to pain manifestation that could occur after surgery (post-operative pain). The purpose of this study is to compare the analgesic efficacy of tramadol with ketorolac for preventing post-operative pain in caesarean section patients. This study was performed on 26 female patients, aged 17-64 years old, American Society of Anesthesiologist (ASA) physical state I-II, had 18,5-29,9 Body Mass Index (BMI), who underwent caesarean section surgery in Prof. R. D. Kandou Manado General Hospital from December 2014 to January 2015. The subjects was divided into two groups, who would receive either 1,5 mg/BW intravenous tramadol (drips) or 30 mg intravenous ketorolac, 1,5 hours after the anesthesia induction. Systolic and diastolic blood pressure, heart rate, respiration rate, and Visual Analogue Scale (VAS) score were taken for 8 hours with 2 hours interval (0, 2nd, 4th, 6th, 8th hours). The statistical analysis was done using T-test and Mann-Whitney test.Conclusion: The result is the systolic and diastolic blood pressure, heart rate, respiration rate, and VAS score between the two groups have no significant differences (p>0,05). Therefore, 1,5 mg/BW intravenous tramadol and 30 mg intravenous ketorolac have same analgesic efficacy in preventing post-operative pain in caesarean section patients.Keywords: tramadol, ketorolac, post-operative pain, caesarean sectionAbstrak: Pembedahan dapat menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang bisa muncul setelah pembedahan (nyeri pasca operasi). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektifitas tramadol dengan ketorolak terhadap tingkat nyeri pasca operasi seksio sesarea. Penelitian dilakukan pada 26 pasien wanita (17-64 tahun), status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I-II, dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) 18,5-29,9 yang menjalani bedah seksio sesarea di Rumah Sakit Prof. R. D. Kandou Manado di bulan Desember 2014 – Januari 2015. Pasien dibagi menjadi dua kelompok yaitu yang menerima tramadol 1,5 mg/kgBB secara intravena (IV) lewat tetesan infus (drips) atau ketorolak 30 mg IV, 1,5 jam setelah induksi anestesia dilakukan. Data yang diambil adalah nilai tekanan darah sistolik dan diastolik, nadi per menit, respirasi per menit, dan skor Visual Analogue Scale (VAS) setiap 2 jam setelah tramadol atau ketorolak diberikan (jam ke 0, 2, 4, 6, 8). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji-t dan uji Mann-Whitney.Simpulan: Ditemukan bahwa nilai tekanan darah sistolik, diastolik, nadi, respirasi, dan skor VAS dari kedua kelompok penelitian tidak memberikan perbedaan yang bermakna (p>0,05). Simpulan penelitian adalah tramadol 1,5 mg/kgBB IV memberikan efek yang sama dengan ketorolak 30 mg IV terhadap nyeri pasca operasi seksio sesarea.Kata kunci: tramadol, ketorolak, nyeri pasca operasi, seksio sesarea
Karakteristik kehamilan dengan luaran asfiksia saat lahir di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2014 Pangemanan, Eunike A.; Wantania, John J.E.; Wagey, Freddy W.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11694

Abstract

Abstract: Asphyxia is a condition when a newborn baby does not breath spontaneously soon after birth. Maternal, labor, and fetal factors such as premature rupture of membrane, sectio caesarea, and fetal distress can cause asphyxia.. According to World Health Organization, in each year 3,6 million of 120 million newborns had asphyxia, and nearly one million babies died. According to data from the Indonesian Health Profile, low birth weight has the highest mortality risk (40,15%) in newborn, followed by asphyxia during birth (25,13%) in all hospitals in Indonesia. This study aimed to obtain the characteristics of pregnancy with asphyxia during birth in the Obstetric and Gynecology Department at Prof. Dr. R. D. Kandou Hosppital Manado during the period of January 2014 to December 2014. This was a descriptive retrospective study using medical record data of characteristics of pregnancy with asphyxia during birth in the labour room. The results showed that of 1273 cases of infant with asphyxia, pregnancies with complications had higher cases than pregnancies without complication. Among pregnancies without complication, there were 25% moderate asphyxia and 30% severe asphyxia newborns. Newborns with asphyxia were more common in primigravida than in multigravida. Based on age of mothers, asphyxia occured the most among mothers with the age range of 20-35 years (17.4%). Based on gestational age, aterm pregnancy had the highest incidence rate in newborn asphyxia (20%). Fetal distress was the highest cause of asphyxia in complicated pregnancy (18.3%). Asphyxia occured more common in pregnancies with complications than in pregnancies without complications. Among pregnancies without complications, primigravida, age of mothers 20-35 years, and aterm pregnancy had the highest rate of newborn asphyxia. Fetal distress was the highest cause of asphyxia in complicated pregnancy. Keywords: pregnancy, asphyxia Abstrak: Asfiksia adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernapas spontan dan teratur segera setelah lahir. Faktor yang dapat menyebabkan asfiksia ialah faktor ibu, persalinan, dan janin; sebagai contoh ketuban pecah dini, seksio sesarea, dan gawat janin. Berdasarkan data World Health Organization, setiap tahunnya 3,6 juta bayi (3%) dari 120 juta bayi baru lahir mengalami asfiksia, hampir satu juta bayi ini meninggal. Menurut data dari Profil Kesehatan Indonesia dari semua rumah sakit di Indonesia didapatkan kematian terbanyak ialah berat badan lahir rendah resiko kematian pertama tertinggi 40,15% dan kedua tertinggi asfiksia saat lahir yaitu 25,13%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kehamilan dengan luaran asfiksia saat lahir di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2014. Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif menggunakan catatan rekam medik di ruang VK Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan dari 1273 kasus bayi asfiksia, kehamilan dengan penyulit lebih banyak menderita asfiksia dibandingkan kehamilan tanpa penyulit. Penyulit kehamilan pada asfiksia derajat sedang 75% dan asfiksia derajat berat 70%. Tanpa penyulit kehamilan yaitu pada asfiksia derajat sedang 25% dan asfiksia derajat berat 30%. Didapatkan data tanpa penyulit kehamilan, primigravida(14,5%) lebih banyak menderita asfiksia dibandingkan multigravida. Berdasarkan umur ibu, bayi yang mengalami asfiksia terbanyak pada umur ibu 20-35 tahun (17,4%). Berdasarkan usia kehamilan, usia kehamilan aterm merupakan angka kejadian tertinggi pada bayi asfiksia (20%). Data penyulit kehamilan didapatkan gawat janin merupakan angka tertinggi menderita asfiksia (18,3%). Penyulit kehamilan lebih banyak menderita asfiksia dibandingkan tanpa penyulit kehamilan. Kehamilan tanpa penyulit didapatkan primigravida, umur ibu 20-35 tahun, dan usia kehamilan atterm merupakan penderita asfiksia terbanyak. Kehamilan dengan penyulit didapatkan gawat janin merupakan penderita asfiksia terbanyak. Kata kunci: kehamilan, asfiksia
Deteksi dini skoliosis menggunakan skoliometer pada siswa kelas VI SD di Kecamatan Mapanget Manado Parera, Amy C.; Sengkey, Lidwina S.; Gessal, Joudy
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10831

Abstract

Abstract: Most of scoliosis has been diagnosed in 10 to 15 year old children. Untreated scoliosis may become worse and may affect the cardiopulmonary function, limited mobilitiy for people and have a negative impact on posture. Early detection of scoliosis plays an important role in preventing deformity and damages. This study aimed to obtain the number of the sixth grader students who were potentially scoliosis in Mapanget Manado. This was an observational descriptive study. Data were collected by measuring the Angle of Trunk Rotation of 81 students of sixth grade who met the inclusion criteria by using scoliometer. The results showed that there were three students (4%) aged 11 years who were highly potential scoliosis. There were 28 of the 37 female students (76%) categorized as intermediate and highly potential scoliosis groups. All students with highly potential scoliosis were from independent school. Conclusion: The percentage of the sixth grader students in Mapanget Manado who were detected as highly potential scoliosis was 4%.Keywords: early detection, scoliosis, scoliometerAbstrak: Sebagian besar skoliosis terdiagnosis pada anak dengan rentang usia 10 hingga 15 tahun. Skoliosis yang tidak ditangani dapat menjadi lebih buruk, berpengaruh pada fungsi kardiopulmoner, keterbatasan mobilitas bagi penderita dan berdampak buruk pada postur tubuh. Deteksi dini skoliosis berperan penting dalam mencegah kelainan dan kerusakan yang bertambah parah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah siswa kelas VI SD yang dideteksi berpotensi skoliosis di Kecamatan Mapanget Manado. Metode: Penelitian ini bersifat observasional deskriptif. Data diperoleh melalui pengukuran langsung Angle of Trunk Rotation pada 81 siswa kelas VI SD yang memenuhi kriteria inklusi dengan menggunakan alat skoliometer. Hasil penelitian mendapatkan tiga siswa (4%) berusia 11 tahun yang berpotensi tinggi skoliosis. Terdapat 28 dari 37 orang (76%) siswa perempuan termasuk dalam golongan intermediate dan potensi tinggi skoliosis Semua siswa berpotensi tinggi skoliosis berasal dari sekolah swasta. Simpulan: Persentase jumlah siswa kelas VI SD di Kecamatan Mapanget yang dideteksi berpotensi tinggi skoliosis sebanyak 4%.Kata kunci: deteksi dini, skoliosis, skoliometer.

Page 82 of 108 | Total Record : 1074