cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Nonformal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2021): September" : 6 Documents clear
RELATIONSHIP OF LIFE SKILLS EDUCATION WITH INTEREST IN LEARNING AND ENTREPRENEUR MOTIVATION OF EQUALITY PROGRAM STUDENTS IN PKBM, PAITON DISTRICT, PROBOLINGGO REGENCY Endang Sri Wahyuni; I Ketut Atmaja; Soedjarwo Soedjarwo
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 16, No 2 (2021): September
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v16i2p77-85

Abstract

Life skills education is thought to have a contribution to learning interest and entrepreneurial motivation in equivalence students. The concept of life skills education applied to equivalence students is based on the ability to be independent and able to solve problems. The concept is suspected to have an indirect effect on interest in learning and entrepreneurship. The purpose of the study was to prove the relationship between life skills and interest in learning and entrepreneurial motivation. The study used a descriptive correlational approach to data collection methods using a questionnaire. The data analysis technique uses the SPSS application with the Pearson correlation product moment test. 250 students of equivalence package C from PKBM Al Fatih and Nurul Falah were selected as research samples. The results of the Pearson correlation on life skills education with learning interest are 0.360 with a value of sig.(2-tailed) 0.000 <0.005. This means that there is a positive and significant relationship between life skills education and interest in learning. In the life skills education variable with entrepreneurial motivation, the Pearson correlation value is 0.585 with a sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005. This means that there is a positive and significant relationship between life skills education and entrepreneurial motivation. The conclusion of this study is that there is a positive relationship between life skills education with learning interest and entrepreneurial motivation. Therefore, it is necessary to have a scheduled life skills education program for equivalence students.  
PERAN PEMBINA DALAM MENUMBUHKAN MOTIVASI WARGA BINAAN DI PELATIHAN PERTANIAN LAPAS KELAS IIA KARAWANG Zia Zalzilah Mazfufah; Dadang Danugiri
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 16, No 2 (2021): September
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v16i2p124-135

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pembina dalam menumbuhkan motivasi warga binaan di pelatihan penanaman padi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Karawang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari enam subjek yaitu seorang sebagai informan kunci dan lima orang sebagai informan pendukung. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan langkah koleksi data, reduksi data, display data, dan verifikasi. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Peran pembina dalam memotivasi warga binaan di pelatihan pertanian LAPAS Kelas IIA Karawang melingkupi karakteristik menawarkan keahlian, kepemilikan sifat empati, kepemelikan sikap antusiasme, menampakkan kejelasan, dan memberikan reinforcement negative (hukuman) pada warga binaan; (2) Peran pembina dalam memotivasi warga binaan belum memenuhi karakteristik pemberian pujian dan pemberian evaluasi bagi warga binaan sebagai feedback bagi warga binaan ketika telah melaksanakan pelatihan atau telah mencapai hasil pekerjaan yang baik. Hal tersebut dinilai dapat mengurangi motivasi warga binaan dalam pelatihan penanaman padi di LAPAS Kelas IIA Karawang
PEWARISAN BUDAYA SAPI SONOK SEBAGAI AKTIVITAS BELAJAR INFORMAL BAGI MASYARAKAT MADURA Achmad Nauvalul Ikbar; Hardika Hardika; Ellyn Sugeng Desyanty
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 16, No 2 (2021): September
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v16i2p86-93

Abstract

RINGKASANIkbar, A.Nauvalul. 2020. Pewarisan Budaya Sapi Sonok Sebagai Aktivitas Belajar Informal Bagi Masyarakat Madura. Tesis. Program Studi S-2 Pendidikan Luar Sekolah. Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hardika, M.Pd., (2) Dr. Ellyn Sugeng Desyanty, M.Pd.Kata Kunci: Pewarisan, Budaya Sapi Sonok, Aktivitas Belajar InformalBudaya sapi sonok merupakan budaya asli masyarakat Madura yang berlangsung turun-temurun dari leluhur di keluarga pemilik sapi sonok. Budaya sapi sonok dicetuskan pertama kali oleh H. Achmad Hairudin pada tahun 1940. Dalam pelaksanaan budaya sapi sonok terdapat beberapa proses yang harus dilakukan oleh ketua paguyuban, panitia pelaksana, dan pemilik sapi sonok. Orang tua (ayah) memiliki peran penting dalam memperkenalkan sekaligus mewariskan budaya kepada anak sebagai generasi penerus di dalam keluarga.Penelitian ini bertujuan yaitu menganalisis pewarisan budaya sapi sonok sebagai aktivitas belajar informal yang dilakukan oleh orang tua pemilik sapi sonok kepada anak sebagai generasi penerus.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih informan penelitian. Informan dalam penelitian ini meliputi Kepala Desa Dempo Barat yang juga menjadi Ketua Paguyuban sapi sonok, pemilik sapi sonok, dan anak pemilik sapi sonok. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan miles dan huberman.Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa awal mula terbentuknya budaya sapi sonok berawal dari kebiasaan para petani Madura yang sering kali tidak melepas pengonong (kayu perangkai sapi) yang digunakan membajak sawah mulai dari ladang hingga ke rumah, pada tahun 1940 H. Achmad Hairudin melihat kebiasaan petani tersebut dirasa menyenangkan dan memiliki nilai seni, kemudian dikemas sebagai pesta rakyat yang dikenal dengan kontes sapi sonok hingga saat ini. Kontes sapi sonok pertama kali secara resmi diadakan pada tahun 1967 oleh Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan. Pelaksanaan kontes sapi sonok diadakan oleh paguyuban-paguyuban di Pulau Madura yaitu mulai dari Kabupaten Bangkalan Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep. Dalam pelaksanaan kontes sapi sonok diawali dengan beberapa proses yaitu (1) musyawarah akbar paguyuban,(2) pendataan anggota paguyuban, (3) pembentukan panitia, (4) persiapan teknis, (5) pelaksanaan budaya kontes sapi sonok selama satu hari dimulai jam 08:00 pagi hingga jam 16:00 sore. Proses pewarisan budaya sapi sonok yang dilakukan oleh orang tua pemilik sapi sonok kepada anak sebagai generasi penerus memiliki 5 tahapan belajar, yaitu: (1) Ngabes aghi (melihat), (2) Malae (motivasi) (3) Ngajhar aghi (menjelaskan) dan nyonto aghi (memberi contoh), (4) Nguddhi aghi (Praktik dibawah pengawasan orang tua), (5) Nerros aghi (Meneruskan).  Anak meneruskan budaya sapi sonok dengan diberikan kepercayaan oleh orangtua untuk mengurus sapi saat memasuki usia 20 tahun atau sesuai kesepakatan masing-masing keluarga, semua dilakukan secara mandiri tanpa didampingi orang tua untuk melanjutkan keterampilan yang telah diwarisi oleh orang tua kepada anak dalam mengurus sapi sonok mulai proses merawat sapi sonok hingga sapi bisa mengikuti kontes.
RISK TAKING CAPACITY AND ENTREPRENEURSHIP INCLINATION OF GRADUATES AMONG POSTGRADUATE STUDENTS IN PUBLIC UNIVERSITIES IN LAGOS STATE, NIGERIA John Oluwaseun Ajamobe
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 16, No 2 (2021): September
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v16i2p94-103

Abstract

The study examined risk-taking capacity and entrepreneurship inclination of graduates among postgraduate students in public universities, Lagos state, Nigeria. The study specifically examined the extent of relationship that exists between the risk-taking capacity factors namely: government regulatory policies, economic factors and business related factors as well as entrepreneurship inclination of graduates. Literature of related importance was reviewed. Three research questions were raised and three null hypotheses were tested to guide the study at .05 significant levels. The descriptive survey research design was adopted in the study. Simple random sampling technique was adopted to select 340 postgraduate students in public universities in Lagos State. A researcher designed questionnaire titled “Risk-Taking Capacity and Entrepreneurship Inclination Questionnaire” (RTCEIQ) was the validated instrument used to gather data in the study at r=.80 reliability value. The data collected was analyzed using descriptive statistics such as frequency coefficient, percentage, mean and standard deviation while Pearson Product Moment Correlation was used to test the three hypotheses generated for the study at p<0.05 level of significance. Findings of the study showed that government regulatory policies (r=.54; df= 328; P<.05), economic factors (r=.48; df= 328; P<.05) and business-related factors (r=.57; df= 328; P<.05) respectively were significantly correlated with entrepreneurship inclination of university graduates. The study recommends that graduates who are entrepreneurial driven should strive for proper assessment of risks and prioritizing them appropriately so as to ensure that resources are utilized profitably to tackle risks that are likely to emerge in infant business through provision of attractive packages and policies from insurance companies.
PERAN LITERASI MEDIA DALAM PERUBAHAN PERILAKU BELANJA PADA PEREMPUAN DI KABUPATEN JEMBER fitri lestari; Deditiani Tri Indrianti; Linda Fajarwati
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 16, No 2 (2021): September
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v16i2p104-112

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peran literasi media dalam perubahan perilaku belanja pada perempuan di Kabupaten Jember. Penelitian ini meggunakan pendekatan kuantitatif. Responden dalam penelitian ini sebangayak 30 orang yang tergabung dalam PKK RW 35 Kelurahan Sumbersri, Kabupaten Jember. Pemilihan responden menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data sendiri menggunakan regresi linier sederhana yang dihitung penggunakan aplikasi SPSS versi 22. Berdasarkan hasil temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi media perempuan dapat mempengaruhi perilaku belanjanya. Dibuktikan dengan hasil penghitungan melalui regreasi linier sederhana bahwa terdapat peningkatan sebesar 0,867 perubahan perilaku belanja perempuan pada setiap 1 % literasi media yang diberikan. Hal ini juga dapat dikatakan bahwa peran literasi media memiliki kontribusi terhadap perubahan perilaku belanja perempuan sebesar 64,3%, sedangkan 35,7% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil perhitungan menunjukkan nilai konstanta sebesar 14,996, dengan koefisien regresi sebesar 0,867 pada signifikansi 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulakn bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Artinya terdapat pengarh yang signifikan anatara peran literasi media terhadap perubahan perilaku belanja perempuan di Kabupaten Jember, khususnya di Kelurahan Sumbersari RW 35. Hasil analisis lapangan menunjukkan bahwa semakin tinggi pengetahuan serta kemampuan perempuan dalam bermedia, maka semakin bagus pula perempuan dalam memanfaatkan media tersebut. Seperti halnya pemanfaatan media sebagai sarana belanja, dimana dengan melakukan belanja online cukup membantu mempermudah kegiatan sehari-hari perempuan dengan tetap memiliki kotrol diri pada saat melakukan belanja online.
MOTIVASI BERPRESTASI PENDAMPING SOSIAL PROGRAM KELUARGA HARAPAN (STUDI KASUS PELAKSANAAN FAMILY DEVELOPMENT SESSION DI KABUPATEN GRESIK) Endah Setiyowati; Umi Dayati; Sri Wahyuni
Jurnal Pendidikan Nonformal Vol 16, No 2 (2021): September
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um041v16i2p113-123

Abstract

Social Assistants for Family Hope Program (hereinafter referred to PKH / Program Keluarga Harapan) are individuals who have gone through a selection or recruitment process and a series of education and training as professionals in carrying out program assistance activities held by the Ministry of Social Affairs. Social Assistants for PKH who have high motivation are expected to be able to utilize all natural and human resources in the area where they do this sosial assistance. They play a role as an medium in intervening the economic issues of Beneficiary Families (KPM) in each activity of Family Development Session (FDS). Thus, the implementation of PKH, especially FDS has been one of the transfer of learning both knowledge and skills among its social assitants and beneficiary families in the realization of independence and prosperity.            The focus of this research is to find out how the achievement motivation and actualization of PKH social assistants in the implementation of FDS. This research used a qualitative approach with a case study type. Data were collected using interview, observation, and documentation techniques. Data validity was tested using technique and source triangulations. The data were then analyzed using Spradely’s domain and taxonomy model.            The results showed that: (1) PKH social assistants, in addition to providing daily assistance to beneficiary families’ social issues, also carry out their main duties and functions every month, one of which is FDS as an activity performed in a structured manner in accordance with the modules provided. In prior, PKH social assistants are educated and trained so that their assistance works as expected. (2) PKH social assistants carry out a number of self-actualization activities in several ways, namely (a) PKH implementation; (b) FDS module implementation, and (c) self-capacity. (3) There are 2 main factors influencing the growth of PKH social assistants’ achivement-motivation, namely instrinsic and extrinsic. Intrinsic factors consist of ideals and interests whereas extrinsic factors consist of (a) appreciation; (b) work environment; (c) independence, and (d) parenting

Page 1 of 1 | Total Record : 6