cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik" : 33 Documents clear
Hubungan IPK Sarjana dan Profesi dengan Nilai CBT, OSCE, dan Hasil UKMPPD Di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Periode Mei dan Februari 2017 Febrianti, Winda; Memah, Maya F.; Manoppo, Firginia P.
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18519

Abstract

Abstract: The average graduation rate of Competency Test for Medical Student Profession Program (UKMPPD) of Sam Ratulangi University (Unsrat) is still below the national average passing rate in the period of May from year 2015 to 2017, as follows: 30.5%, 35.4%, and 36.3% respectively. This study was aimed to determine whether the results of computer based test (CBT), objective structured clinical examination (OSCE), and UKMPPD were correlated with undergraduate and profession grade point average (GPA), which is one of the benchmarks of students’ success in their study. This was a quantitative retrospective study with a cross sectional design. The required data were obtained from students’ data during education and results of UKMPPD FK Unsrat data (secondary data). The data were analyzed by using Spearman correlation test and Mann Whitney test. Statistical analysis showed that there was a significant correlation (P = 0.001) between undergraduate GPA with CBT (r = 0.770), OSCE (r = 0.544), and UKMPPD results. The professional GPA showed a significant correlation (P = 0.001) with the CBT (r = 0.553), OSCE (r = 0.556), and UKMPD results. Conclusion: There were significant correlations between the undergraduate and professional GPA with the value of CBT, OSCE, and UKMPPD results.Keywords: GPA, CBT, OSCE, UKMPPD Abstrak: Rerata angka kelulusan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) masih di bawah rerata angka kelulusan nasional yaitu secara berturut-turut dari tahun 2015 sampai tahun 2017 periode Mei, 30,5%, 35,4%, dan 36,3%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah nilai computer based test (CBT), objective structured clinical examination (OSCE), maupun hasil UKMPPD memiliki hubungan dengan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) sarjana dan profesi, yang menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan seorang mahasiswa dalam pendidikan. Jenis penelitian ialah kuantitatif retrospektif dengan desain potong lintang. Data penelitian diperoleh dari data sekunder berupa data mahasiswa selama menempuh pendidikan dan data hasil UKMPPD FK Unsrat. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan uji Mann Whitney. Hasil penelitian mendapatkan hubungan bermakna (P=0,001) antara IPK sarjana dengan nilai CBT (r=0,770), nilai OSCE (r=0,544), dan hasil UKMPPD; serta hubungan bermakna (P=0,001) antara IPK profesi dengan nilai CBT (r=0,553), OSCE (r=0,556), dan hasil UKMPPD. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna dari IPK sarjana dan profesi dengan nilai CBT, OSCE, dan hasil UKMPPD.Kata kunci: IPK, CBT, OSCE, UKMPPD
Hubungan Merokok dengan Kadar Hemoglobin dan Trombosit pada Perokok Dewasa Wibowo, Devina V.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18510

Abstract

Abstract: Smoking is one of the leading causes of death world wide. that cause death. The World Health Organization (WHO) shows that 6 millions of people died as active smokers and 890.000 as passive smokers. Several studies suggest that smoking can influence blood components, such as erythrocytes, leukocytes, and platelets. This study was aimed to determine the correlation between smoking to hemoglobin and platelet levels in adult smokers. This was an analytical descriptive study with a cross sectional design that was conducted on 30 students of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, Sam Ratulangi University Manado. Data were analyzed with the One Way Anova test on hemoglobin levels and the Kruskall-Walis test on thrombocyte levels. The results showed that of the 30 respondents, 21 (70%) had normal hemoglobin levels and 9 (30%) had high hemoglobin levels. The One Way Anova test obtained a P value of 0.634. All respondents (100%) had normal platelet counts.The Kruskall-Walis test obtained a P value of 0.471. Conclusion: There was no significant relationship between smoking with hemoglobin and platelet levels.Keywords: smoking, hemoglobin level, platelet level. Abstrak: Merokok merupakan salah satu penyebab masalah kesehatan terbanyak di dunia yang menyebabkan kematian. World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa 6 juta orang meninggal sebagai perokok aktif dan 890 ribu orang meninggal sebagai perokok pasif. Beberapa penelitian menyatakan bahwa merokok dapat memengaruhi komponen – komponen darah, misalnya eritrosit, leukosit dan trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan merokok dengan kadar hemoglobin dan trombosit pada perokok dewasa. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 30 mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado. Uji statistik menggunakan One Way Anova pada kadar hemoglobin dan uji Kruskall-Walis pada kadar trombosit. Responden terbanyak memiliki kadar hemoglobin normal yaitu 21 orang (70%) dan kadar hemoglobin tinggi sebanyak 9 orang (30%). Hasil uji One Way Anova mendapatkan nilai P = 0,634. Seluruh responden (100%) memiliki kadar trombosit normal. Hasil uji Kruskall-Walis mendapatkan nilai P = 0,471. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara merokok dengan kadar hemoglobin dan trombosit.Kata Kunci : merokok, kadar hemoglobin, kadar trombosit
Gambaran EKG pada Individu dengan Kebiasaan Makan Ayam KFC Sijabat, Ristina R.; Ticoalu, Shane H.R.; Tanudjaja, George N.
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.17735

Abstract

Abstract: Fast food contains high fat and sodium but limited or low nutrients such as calcium, riboflavin, vitamins, magnesium, vitamin C, folate, and fiber; therefore it is classified as poor-vegetable food. Excessive consumption of Kentucky fried chicken (KFC), a kind of fast food, can lead to obesity and further to various degenerative diseases such as coronary heart diseases, diabetes mellitus, and hypertension. This study was aimed to obtain the electro-cardiography profile of people who used to consume KFC. This was a descriptive study using a cross sectional study. There were 21 subjects in this study. The ECG examination showed that of the 21 subjects, 11 had abnormal ECG result. Conclusion: In this study, half of the subjects showed abnormal ECG.Keywords: fast food, KFC, ECG Abstrak: Makanan cepat saji (fast food) mempunyai kandungan lemak dan natrium yang cukup tinggi tetapi nilai zat gizinya terbatas atau rendah misalnya: kalsium, riboflavin, vitamin A, magnesium, vitamin C, folat, dan serat; oleh karena itu makanan cepat saji tergolong miskin sayur. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, antara lain Kentucky fried chicken (KFC) secara berlebihan dapat menimbulkan masalah kegemukan yang berkelanjutan akan menimbulkan berbagai macam penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes melitus, dan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran elektrokardiografi (EKG) pada individu dengan kebiasaan mengonsumsi KFC. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Hasil pemeriksaan EKG memperlihatkan dari 21 subyek penelitian didapatkan 11 orang dengan hasil EKG tidak normal. Simpulan: Separuh dari subyek penelitian memperlihatkan gambaran EKG yang abnormal.Kata kunci: makanan cepat saji, KFC, EKG
Hasil Diagnostik Mycobacterium tuberculosis pada Pasien Batuk 2 Minggu dengan Pewarnaan Ziehl Neelsen di Poliklinik Interna RSU Pancaran Kasih Manado Pomandia, Natasha M.; Waworuntu, Olivia A.; Homenta, Heriyannis
eBiomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.2.2017.18605

Abstract

Abstract: Tuberculosis (TB) is a contagious disease caused by various strains of mycobacteria, commonly Mycobacterium tuberculosis. This disease can occur in children as well as in adults. The most common complaint in TB patients is cough. The gold standard of tuberculosis diagnosis is the culture of TB bacteria. However, Ziehl-Neelsen staining is the most frequently used method. It gives positive result if there are more than 103 bacteria per ml sputum. This study was aimed to find out the existence of M. tuberculosis in the sputum of patients coughed ≥2 weeks at the Internal Polyclinic of Pancaran Kasih Hospital Manado by using Ziehl-Neelsen staining. This was a descriptive study using 30 patients as samples. Of 30 samples, all (100%) had negative results of acid resistant bacili. Conclusion: In this study, all patients with cough ≥2 weeks in the Internal Polyclinic of Pancaran Kasih Hospital Manado had negative results of M. Tuberculosis based on Ziehl-Neelsen staining.Keywords: tuberculosis, cough ≥2 weeks Abstrak: Tuberkulosis (TB) ialah penyakit menular yang disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat terjadi pada anak atau orang dewasa. Keluhan yang sering ditemukan pada pasien TB ialah batuk. Dalam menegakkan diagnosis TB, baku emas pemeriksaan ialah kultur kuman TB. Selain kultur dapat digunakan metode pewarnaan basil tahan asam (BTA) Ziehl-Neelsen. Metode ini yang paling sering digunakan dan memberikan hasil positif bila terdapat lebih dari 103 kuman/ml sputum. Penelitian bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya bakteri M. tuberculosis dengan menggunakan pewarnaan Ziehl-Neelsen pada pasien dengan batuk ≥2 minggu di Poliklinik Interna RSU Pancaran Kasih Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan mengunakan sebanyak 30 sampel. Hasil penelitian mendapatkan pada seluruh sampel (100%) tidak ditemukan BTA positif. Simpulan: Pada pasien dengan batuk ≥2 minggu di Poliklinik Interna RSU Pancaran Kasih Manado tidak ditemukan BTA positif berdasarkan pewarnaan Ziehl-Neelsen.Kata kunci: tuberkulosis (TBC), batuk ≥ 2 minggu
Uji Daya Hambat Ekstrak Spons Laut (Callyspongia Aerizusa) terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella Typhi dan Streptococcus Pyogenes Rumampuk, Yuki B.J.; Wowor, Pemsi M.; Mambo, Christy D.
eBiomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.2.2017.18480

Abstract

Abstract: Indonesia has the greatest marine biodiversity due to its coral reef ecosystem. Callyspongia aerizusa is a type of sponges that has bioactive potential as antibacterial, anticancer, and antifungal that has not been widely used. This study was aimed to determine whether sea sponge Callyspongia aerizusa had inhibitory activity against Salmonella typhi and Streptococcus pyogenes. This was an experimental laboratory study with Kirby-Bauer well method. Two types of bacteria were used and each of them was repeated 3 times. The first well formed on the agar medium in 6 Petri dishes was filled with concentrated extract of sea sponge. The second well was filled with ciprofloxacin as the positive control. The third well was filled with aquadest as the negative control. The results showed that the total inhibitory zone diameter of Callyspongia aerizusa extract to Salmonella typhi was 12 mm (mean of 4 mm) and to Streptococcus pyogenes the total inhibitory zone diameter was 18 mm (mean of 6 mm). Conclusion: Sea sponge extract of Callyspongia aerizusa could inhibit the growth of Salmonella typhi and Streptococcus pyogenes but were categorized as weak and moderate respectively. Moreover, their inhibitory activities were weaker than the antibiotic cyprofloxacin.Keywords: inhibition, Kirby-Bauer, sea sponges Callyspongia aerizusa Abstrak: Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut terbesar karena memiliki ekosistem terumbu karang. Callyspongia aerizusa merupakan salah satu jenis spons yang berpotensi bioaktif sebagai antibakteri, antikanker, antijamur yang belum banyak dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya daya hambat spons laut Callyspongia aerizusa terhadap Salmonella typhi dan Streptococcus pyogenes. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode sumuran Kirby-Bauer. Pada penelitian ini digunakan 2 jenis bakteri dan tiap bakteri dilakukan pengulangan 3 kali. Sumur pertama yang sudah terbentuk pada media agar di 6 cawan Petri diisi dengan larutan ekstrak pekat spons laut Callyspongia aerizusa. Sumur kedua diisi dengan kontrol positif yaitu siprofloksasin. Sumur ketiga diisi dengan kontrol negatif yaitu akuades. Hasil penelitian memperlihatkan diameter zona hambat total dari ekstrak Callyspongia aerizusa terhadap Salmonella typhi sebesar 12 mm (rerata 4 mm) dan terhadap Streptococcus pyogenes diameter zona hambat total sebesar 18 mm (rerata 6 mm). Simpulan: Ekstrak spons laut Callyspongia aerizusa dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dan Streptococcus pyogenes, namun masih dikategorikan lemah dan sedang, juga masih lebih lemah dibandingkan dengan obat antimikroba siprofloksasin.Kata kunci: daya hambat, Kirby-Bauer, spons laut Callyspongia aerizusa
Persepsi mahasiswa terhadap lingkungan pembelajaran di Universitas Sam Ratulangi Manado Tompodung, Linda M.
eBiomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.2.2017.17072

Abstract

Abstract: Learning environment in any medical school is an important factor to determine the quality and success of curriculum. Students’ experience about their learning environment in medical education is related to their achievement, satisfaction, and success. It is important to get reguler feedback from the students on how they experience their learning environment as basis of strategic planning for futher improvement. This study was aimed to assess the educational environment of Sam Ratulangi University (Unsrat) undergraduate medical program based on the students’ perspection and also to identify the difference in perception between genders. This was an analytical study with a cross-sectional design conducted in October 2016 among undergraduate students of academic year 2016/2017. Data about the learning environment were obtained by using questionnaire of Dundee Ready Educational Environment Measure (DREEM) and further analyzed with the Mann-Whitney test to identify the significance between genders. The total DREEM score indicated more positive than negative perception with rooms of improvement (127/200). The scores for all the five subscales of DREEM indicated a more positive perception. The overall mean DREEM score of the females (128,16) was higher compared to males (126,13) but not statistically significant. Conclusion: The medical students of Sam Ratulangi University showed a positive perception about their undergraduate educational environment. Continuous quality improvement and innovation are essentially needed.Keywords: educational environment, medical education, DREEM Abstrak: Lingkungan pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas dan keberhasilan kurikulum pendidikan kedokteran. Persepsi mahasiswa terhadap lingkungan pembelajaran terbukti memengaruhi prestasi, kepuasan dan kesuksesan mahasiswa. Penting untuk mendapatkan umpan balik berkala dari mahasiswa tentang yang mereka rasakan terkait lingkungan pembelajaran sebagai dasar strategi perencanaan untuk peningkatan di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai lingkungan pembelajaran melalui persepsi mahasiswa dan mengidentifikasi perbedaan jenis kelamin di Fakultas kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang, dilakukan pada bulan Oktober 2016 terhadap mahasiswa TA 2016/2017. Data persepsi terhadap lingkungan pembelajaran didapat dari kuesioner Dundee Ready Educational Environment Measure (DREEM). Analisis data dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney untuk mengidentifikasi perbedaan antara jenis kelamin. Hasil nilai total DREEM menunjukkan lingkungan yang lebih positif daripada negatif dengan ruang untuk perbaikan (127/200). Nilai skor dari kelima subskala DREEM mengindikasikan persepsi yang lebih positif. Nilai total rerata DREEM mahasiswa perempuan (128,16) lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki (126,13) namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara persepsi terhadap lingkungan pembelajaran berdasarkan jenis kelamin. Simpulan: Mahasiswa kedokteran Unsrat memiliki persepsi positif terhadap lingkungan pembelajaran. Peningkatan kualitas secara berkala dan inovasi merupakan hal yang esensial dalam pendidikaan kedokteran.Kata kunci: lingkungan pembelajaran, pendidikan kedokteran, DREEM
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil di Puskesmas Lolak Wiraprasidi, I P.A.; Kawengian, Shirley E.; Mayulu, Nelly
eBiomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.2.2017.18602

Abstract

Abstract: The first 1000 days of early life nutrition is the golden period of growth and development that does not occur in other age groups. During pregnancy, energy needs and nutrient intake have to be improved. Inadequate nutrition and some factors that influence hemoglobin level in this period may increase the risk for both mother and fetus. This study was aimed to determine the factors associated with hemoglobin levels among pregnant women at Lolak Primary Health Center. This was an analytical study with a cross-sectional design. Samples were obtained by using total sampling method and the target population was pregnant women in the area of Lolak Primary Health Center. The results showed that each variable had no significant relationship with hemoglobin level of pregnant women (P >0.05). Conclusion: There was no statistically significant relationship between hemoglobin level and the age of pregnant women, gestational age, inter-pregnancy interval, mid upper arm circumference (MUAC), occupational status, educational level, family income as well as consumption pattern.Keywords: pregnant women, hemoglobin level, consumption pattern Abstrak: Periode 1000 hari pertama nutrisi awal kehidupan merupakan periode emas terjadinya proses tumbuh kembang yang sangat cepat yang tidak terjadi pada kelompok usia lain. Pada masa kehamilan, kebutuhan energi dan asupan gizi pada diet perlu ditingkatkan. Tidak adekuatnya nutrisi serta beberapa faktor yang memengaruhi kadar hemoglobin pada periode ini dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan pada ibu hamil maupun janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kadar hemoglobin ibu hamil di Puskesmas Lolak. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan populasi target ibu hamil di wilayah Puskesmas Lolak. Dari hasil penelitian diperoleh nilai P >0,05 untuk masing-masing variabel. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar hemoglobin dengan usia ibu, usia kehamilan, jarak kehamilan, ukuran LILA, status pekerjaan, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, dan pola konsumsi.Kata kunci: ibu hamil, kadar hemoglobin, pola konsumsi
Pengaruh Asupan Susu terhadap Tinggi Badan dan Berat Badan Anak Sekolah Dasar Matali, Valentino J.; Wungouw, Herlina I.S.; Sapulete, Ivonny
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18512

Abstract

Abstract: Milk, a sustenance containing nutrition such as carbohydrate, protein, fat, and mineral, is beneficial in the growth and development of a child. The level of milk consumption in Indonesia is still categorized as low. According to Statistic Center Agency, consumption of milk in Indonesia only reached as much as 12.1 L/ capita each year, much lower from Finland that reached 361 L/capita. Nationwide prevalence of short stature (according to Height/Age) among children aged 5-12 year old is 30.7% (12.3% very short and 18.4% short). Prevalence of thin stature among children aged 5-12 year old is 11.2% (4.0% very thin and 7.2% thin). This study was aimed to determine the effect of milk intake towards the growth of height and weight of elementary school children. This was an experimental study performed on 40 subjects divided into 20 experimental subjects of SD GMIM 34 Manado and 20 control subjects of SD GMIM Betlehem Manado. All experimental subjects were given 250 ml UHT low fat high calcium milk intake for 60 days while control subjects were not given any milk intake. Data were analyzed with the independent T test for the effect of milk towards height and the Mann Whitney U test for the effect of milk towards weight. The independent T test showed a P value of 0.000 meanwhile the Mann Whitney U test showed a P value of 0.989. Conclusion: Milk intake influenced height growth but did not significantly influence weight gain in elementary school children.Keywords: milk, height growth, weight gain Abstrak: Susu merupakan bahan pangan yang mengandung zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak dan mineral yang bermanfaat dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Tingkat konsumsi susu di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi susu di Indonesia hanya 12,1 L/ kapita per tahun, jauh lebih rendah dari Finlandia yang mencapai 361 L/kapita. Secara nasional prevalensi pendek (menurut TB/U) pada anak usia 5-12 tahun ialah 30,7% (12,3% sangat pendek dan 18,4% pendek). Prevalensi kurus pada anak usia 5-12 tahun ialah 11,2%, terdiri dari 4,0% sangat kurus dan 7,2% kurus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asupan susu terhadap pertumbuhan tinggi badan dan berat badan anak sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental pada 40 subyek yang terbagi menjadi 20 orang subjek perlakuan yang berasal dari SD GMIM 34 Manado dan 20 orang subjek kontrol dari SD GMIM Betlehem Manado. Subjek perlakuan diberikan asupan 250 ml susu UHT low fat high calcium setiap hari selama 60 hari sedangkan subjek kontrol tidak diberikan asupan. Penelitian ini menggunakan uji T independen untuk pengaruh susu terhadap tinggi badan dan uji Mann Whitney U untuk pengaruh susu terhadap berat badan. Pada uji T indepenen didapatkan P=0,000 sedangkan pada uji Mann Whitney U didapatkan P=0,989. Simpulan: Asupan susu berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi badan namun tidak berpengaruh secara bermakna terhadap berat badan anak sekolah dasar.Kata kunci: susu, pertumbuhan tinggi badan, pertumbuhan berat badan
Indikator yang Membedakan Gejala Psikotik dengan Pengalaman Spiritual dalam Perspektif Neurosains (Neuro-Anatomi) Lumingkewas, Priscilla E.; Pasiak, Taufiq F.; Ticoalu, Shane H.R.
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18515

Abstract

Abstract: Psychotic disorder is a mental disorder characterized by hallucinations, delusions, catatonic behavior, chaotic behavior, chaotic speaking and are generally accompanied by poor performance. Spirituality is a belief related to the Almighty and the Creator. Current neuroscience approaches have touched the spiritual dimension, well-known as spiritual neuroscience. This term is used to describe human spirituality in terms of health and medicine perspectives. People with advanced spiritual personality are often regarded as those who have mental illness by the people around them. This study was aimed to determine the difference between psychotic symptoms and spiritual experience in the perspective of neuroscience. This was a descriptive study with a retrospective approach. We used research articles in journals pertaining to psychotic symptoms, spiritual experiences, and neuroscience, in addition searching for indicators that could help to differentiate the psychotic symptoms and spiritual experiences using a systematic review technique. Conclusion: There is a difference in brain activity between people who had spiritual experiences and those with psychotic symptoms.Keywords: neuroscience, spiritual, psychotic Abstrak: Gangguan psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya halusinasi, waham, perilaku kataton, perilaku kacau, pembicaraan kacau yang pada umumnya disertai tilikan yang buruk. Spiritualitas merupakan keyakinan yang berkaitan dengan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta. Saat ini pendekatan neurosains telah menyentuh dimensi spiritual, yang lebih dikenal dengan istilah neurosains spiritual. Istilah ini dipakai untuk menjelaskan spiritualitas manusia dipandang dari sisi perspektif kesehatan dan kedokteran. Orang dengan kepribadian spiritual yang maju sering dianggap memiliki penyakit mental oleh orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara gejala psikotik dengan pengalaman spiritual dalam perspektif neurosains. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan cara mempelajari penelitian-penelitian yang telah dimuat dalam jurnal-jurnal yang membahas tentang gejala psikotik, pengalaman spiritual, dan neurosains serta mencari indikator yang dapat membedakan, dengan teknik telaah sistematik. Simpulan: Terdapat perbedaan aktivitas otak pada orang yang sementara mengalami pengalaman spiritual dengan orang yang mengalami gejala psikotik.Kata kunci: neurosains, spiritual, psikotik
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Resisten Merkuri pada Plak Gigi dan Urin Lumanto, Priscilla R.; Manampiring, Aaltje; Budiarso, Fona
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18479

Abstract

Abstract: Mercury toxic effects could be reduced by the presence of mercury resistant microorganisms, such as mercury resistant bacteria. These bacteria possess mercury resistant gene, the operon mere gene. Resistance could also occur through genes that code mercury resistant characteristics and of other heavy metal compounds that generally located within the plasmid. This study was aimed to obtain the profile of bacteria in dental plaque and urine that were resistant to mercury. This was a descriptive prospective study with a cross-sectional design. Isolation and identification of the bacteria were conducted at Microbiology Laboratory of Pharmacy Department, Sam Ratulangi University. The results obtained bacteria of Bacillus sp. which were sensitive to antibiotics ciprofloxacin, erythromycin, and doxycyclin. Conclusion: Mercury resistent bacteria in dental plaque and urine were sensitive to antibiotics ciprofloxacin, erythromycin, and doxycyclin.Keywords: mercury resistent bacteria, dental plaque, urine Abstrak: Toksisitas merkuri dapat berkurang oleh adanya mikroorganisme resisten merkuri, misalnya bakteri resisten merkuri. Hal ini terjadi karena bakteri memiliki gen yang resisten terhadap merkuri, yaitu gen operon mer. Resistensi juga dapat melalui gen yang mengkode sifat resisten terhadap merkuri dan senyawa logam berat lainnya yang umumnya terletak pada plasmid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bakteri dari plak gigi dan urin yang resistensi terhadap merkuri. Jenis penelitian ialah deskriptif prospektif dengan desain potong lintang. Isolasi dan identifikasi bakteri dari plak gigi dan urin yang resisten terhadap merkuri dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Unsrat. Hasil penelitian mendapatkan bakteri dari sampel gigi dan urine ialah bakteri Bacillus sp. yang sensitif terhadap antibiotik siprofloksasin, eritromisin, dan doksisiklin. Simpulan: Bakteri resisten terhadap merkuri dalam sampel plak gigi dan urin ialah Bacillus sp. yang sensitif terhadap antibiotik siprofloksasin, eritromisin, dan doksisiklin.Kata kunci: bakteri resisten merkuri, plak gigi, urin

Page 1 of 4 | Total Record : 33