cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
Hubungan kinerja otak dan spiritualitas manusia diukur dengan Indonesia Spiritual Health Assessment pada tokoh agama Islam di Kabupaten Bolaang Mongondow Pakaya, Putra; Pasiak, Taufiq F.; Kalangi, Sonny J.R.
e-Biomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i1.15889

Abstract

Abstract: Human brain contains about 100 billion cells that have complex functions as the central control of all activities. The brain is an organ in which the interaction of soul and body (mind body interaction) occurs and is very influential on human spirituality. Spirituality is built by four observable aspects, as follows: spiritual experience, positive emotion, meaning of life, and ritual. Health Law of the Republic of Indonesia Number 36 Year 2009 Chapter I Article 1 Paragraph 1 defines health by integrating the spiritual aspect as part of the definition of health. Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA) is a neuroscience-based test that includes human spirituality profile so it can find spirituality and its relation to brain performance. This study was aimed to determine the relationship of brain performance and human spirituality among Islamic religious leaders in Bolaang Mongondow. This was an observational study with a cross sectional design. There were 57 Islamic religious leaders as respondents. Data were retrieved by distributing questionnaires ISHA to the respondents. The statistical analysis showed that the correlation between temporal lobes and spiritual experience had an r value = 0.304 and p value = 0.022. Conclusion: There was a relationship between the performance of the brain and human spirituality in particular the relationship between the temporal lobe and spiritual experience among Islamic religious leaders in Bolaang MongondowKeywords: brain performance, spirituality Abstrak: Otak manusia berisi sekitar 100 miliar sel yang memiliki fungsi kompleks sebagai pusat pengendali seluruh aktivitas manusia. Otak merupakan organ tubuh dimana terjadinya interaksi ‘jiwa’ dan ‘badan’ (mind body interaction) yang sangat berpengaruh terhadap spiritualitas manusia. Spiritualitas dibangun oleh empat aspek yang dapat diamati yaitu pengalaman spiritual, emosi positif, makna hidup, dan ritual. Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Bab I Pasal 1 ayat 1mendefinisikan kesehatan, yaitu dengan memasukkan aspek spiritual sebagai bagian dari batasan sehat. Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA) merupakan uji berbasis neurosains yang memuat tentang profil spiritualitas manusia sehingga dapat mengetahui spiritualitas dan kaitannya dengan kinerja otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kinerja otak dengan spiritualitas manusia pada tokoh agama Islam di Kabupaten Bolaang Mongondow. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang. Terdapat 57 orang tokoh agama Islam di Kabupaten Bolaang Mongondow sebagai responden. Data diambil dengan cara membagikan kuisioner ISHA kepada responden. Hasil analisis statistik menunjukkan korelasi antara lobus temporalis dengan pengalaman spiritual (r=0,304; p=0,022). Simpulan: Pada tokoh agama Islam di Kabupaten Bolaang Mongondow terdapat hubungan antara kinerja otak dengan spiritualitas manusia khususnya hubungan one to one antara lobus temporalis dan pengalaman spiritual.Kata kunci: kinerja otak, spiritualitas
PENGARUH PEKERJAAN KOKI DENGAN TERJADINYA DISFUNGSI EREKSI Bongkriwan, Marshella; Wantouw, Benny; Satiawati, Lusiana
e-Biomedik Vol 2, No 2 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i2.5078

Abstract

Abstract: Erectile dysfunction is a problem experienced by many men in the world. Spermatogenesis in the tubules seminiferi influenced by various factors for example, hormonal factors, inhibiting the function of epididymis, radiation and temperature. Spermatogenesis will be disrupted in the event of an increase in testicular temperature a few degrees of normal testicular temperature, that is 35ºC. The same effect can be found in daily activities when there is an increase in the heat of the environment such as a restaurant chef. This study is a descriptive study conducted in November 2013 to January 2014 with a sample size of 66 respondents. Interpretation of the 66 samples, obtained chef with normal erectile function by 7 people (10.6%), mild dysfunction none, mild-moderate dysfunction as many as 40 people (60.6%), moderate dysfunction 19 people (28.8%), and no severe dysfunction. The conclution of this study found that the chef job can cause erectile dysfunction, prevalence of erectile dysfunction in a chef that 89.4% with mild-moderate and the longer the men exposed to high temperatures can cause persistent erectile dysfunction. Keywords: chef jobs, erectile dysfunction.     Abstrak: Disfungsi ereksi merupakan masalah yang dialami oleh banyak pria di dunia.  Proses spermatogenesis didalam tubuli seminiferi dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain, faktor hormonal, penghambatan fungsi epididimis, radiasi dan faktor suhu. Spermatogenesis akan terganggu atau terhambat apabila terjadi peningkatan suhu testis beberapa derajat saja dari temperatur normal testis, yaitu 35ºC. Dampak yang sama dapat ditemukan pada rutinitas dan aktivitas sehari-hari ketika terjadi peningkatan panas dari lingkungan seperti koki restoran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dapat terjadi disfungsi ereksi pada koki dan pengaruh pekerjaan koki terhadap terjadinya disfungsi ereksi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang dilakukan pada bulan November 2013 sampai Januari 2014 dengan besar sampel sebanyak 66 responden. Interpretasi dari 66 sampel, didapatkan koki dengan fungsi ereksi normal sebanyak 7 orang (10.6%), disfungsi ringan tidak ada, disfungsi ringan-sedang sebanyak 40 orang (60.6%), disfungsi sedang 19 orang (28.8%), dan disfungsi berat tidak ada. Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan bahwa pekerjaan koki memiliki pengaruh terhadap disfungsi ereksi, prevalensi disfungsi ereksi pada koki yaitu 89.4% dengan derajat ringan-sedang hingga sedang dan semakin lama pria terpapar suhu tinggi terus-menerus dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Kata kumci: pekerjaan koki, disfungsi ereksi.
Uji daya hambat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas sp. Pangemanan, Andrew; ., Fatimawali; Budiarso, Fona
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10840

Abstract

Abstract: Turmeric (Curcuma longa) is a plant that is known to have medicinal properties, especially the rhizome. The active compound that contained in the rhizomes are able to work as an antibacterial. This study aimed to measure the inhibitory of turmeric rhizome (Curcuma longa) extract against the growth of Staphylococcus aureus and Pseudomonas sp. This was an experimental laboratory study. The polar extract of turmeric rhizome (Curcuma longa) was tested by well method with concentration of 40%, 20%, 10%, and 5%. The result showed that the polar extract of turmeric rhizome (Curcuma longa) with a concentration of 40%, 20%, 10%, 5% can inhibit the growth of Staphylococcus aureus with the average of each is 15,0 mm, 14,5 mm, 13,5 mm and 11,0 mm while Pseudomonas sp with a mean diameter of each is 13,1 mm, 11,1 mm, 9,3 mm and 8,8 mm. Conclusion: The polar extract of turmeric rhizome (Curcuma longa) has an inhibitory effect against the growth of Staphylococcus aureus and Pseudomonas sp.Keywords: curcuma longa, inhibition, staphylococcus aureus, pseudomonas spAbstrak: Kunyit (Curcuma longa) merupakan salah satu tanaman yang dikenal berkhasiat sebagai obat terutama bagian rimpangnya. Senyawa aktif yang terkandung dalam rimpang mampu bekerja sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur daya hambat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa) terhadap pertumbuhan bakteri Staphyococcus aureus dan Pseudomonas sp. Jenis peneitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorik. Kadar ekstrak polar rimpang kunyit (Curcuma longa) yang diujikan dengan metode sumuran yaitu 40%, 20%, 10% dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak polar rimpang kunyit (Curcuma longa) dengan konsentrasi 40%, 20%, 10%, 5% dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan rerata masing-masing 15,0 mm, 14,5 mm, 13,5 mm, dan 11,0 mm sedangkan Pseudomonas sp dengan masing-masing rerata yaitu 13,1 mm, 11,1 mm, 9,3 mm, dan 8,8 mm. Simpulan: Ekstrak polar rimpang kunyit (Curcuma longa) mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas sp.Kata kunci: curcuma longa, daya hambat, staphylococcus aureus, pseudomonas sp
PENGARUH ORALIT WHO TERHADAP KADAR NATRIUM DAN KALIUM PLASMA PADA ANAK DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI Jacobs, Christin; Manoppo, Jeanette I.Ch.; Warouw, Sarah
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.1609

Abstract

Abstract: Acute diarrhea causes loss of large amounts of water and electrolytes especially sodium and potassium, which if not replaced can cause dehydration. In 2006, WHO recommended ORS with osmolarity 245 mmol/l as the administration of acute diarrhea with mild to moderate dehydration. The research objective is to determine the effect of WHO ORS to plasma sodium and potassium levels in children with acute diarrheal dehydration.Pre-experimental study with pre-post test approach absence of a control group, was conducted from  November, 2012 until January, 2013 at Pediatric section RSUP.Prof.DR.RD.Kandou Manado. Sample 20 patients acute diarrhea mild to moderate dehydration. Pasien blood samples were taken to measure sodium and potassium plasma level before and after treatment with WHO ORS 75 cc/kg for three hours. Results electrolyte levels when dehydration 60% isonatremia and 85% isokalemia Electrolyte level when rehydration  70% isonatremia and 70% isokalemia. Sodium mean levels  when dehydration  136.1±5.2 mmol/l and when rehydration 136.1±3.45 mmol/l with p=0.5. Potassium mean levels when dehydration 3.99±0.78 mmol/l and when rehydration 3.84±0.85 mmol/l with p=0.183. Conclusions: Most electrolyte levels before and after rehydration isonatremia and isokalemia. There is no significant differences in plasma sodium and potassium levels before and after rehydration with WHO ORS. Keywords Dehydration, Diarrhea, Potassium, Sodium, WHO ORS   Abstrak: Diare akut menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit terutama natrium dan kalium yang apabila tidak diganti dapat menyebabkan dehidrasi.Tahun 2006, WHO merekomendasikan oralit dengan osmolaritas 245 Mmol/l sebagai tata laksana diare akut dengan dehidrasi ringan sedang. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh oralit WHO terhadap kadar natrium dan kalium plasma pada anak diare akut dengan dehidrasi. Penelitian pra-eksperimental dengan pendekatan pre-post test tanpa adanya kelompok kontrol, berlangsung selama November 2012 sampai Januari 2013 di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado. Sampel 20 pasien diare akut dehidrasi ringan sedang. Pasien diambil sampel darah untuk memeriksa kadar natrium dan kalium plasma sebelum dan sesudah terapi dengan oralit WHO 75 cc/kgbb selama tiga jam. Hasil didapatkan gambaran elektrolit saat dehidrasi terbanyak adalah isonatremia 60 % dan isokalemia 85%. Gambaran elektrolit saat rehidrasi terbanyak adalah isonatremia 70% dan isokalemia 70%. Rerata kadar Natrium saat dehidrasi adalah 136,1±5,2 mmol/L dan saat rehidrasi adalah 136,1±3,45mmol/l dengan p=0,5. Rerata kadar Kalium saat dehidrasi adalah 3,99±0,78mmol/l dan saat rehidrasi adalah 3,84±0,85mmol/l dengan p=0,183. Simpulan: Gambaran elektrolit sebelum dan sesudah rehidrasi terbanyak adalah isonatremia dan isokalemia.Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar natrium dan kalium plasma sebelum dan sesudah rehidrasi dengan oralit WHO. Kata kunci Dehidrasi,Diare,Kalium,Natrium,Oralit WHO
POLA BAKTERI AEROB YANG BERPOTENSI MENYEBABKAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI RUANG ICU BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Londok, Prilly V.; Homenta, Heriyannis; Buntuan, Velma
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7423

Abstract

Abstract: Infections that can be found during the treatment in the ICU are due to contamination of pathogenic bacteria as the source of nosocomial infections. This nosocomial infections appear and show symptoms in patients treated or after being treated in the hospital. This study aimed to determine the sources and patterns of aerobic bacteria that could potentially cause nosocomial infections: in the walls, floors, medical equipment, and in the ambient air of ICU Room, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. This was a descriptive study designed with a prospective approach. Samples were bacteria in the walls, floors, medical equipment, and the ambient air of the ICU Room. The results showed that of the 27 samples taken, there were 24 bacteria found: Enterobacter agglomeranse (25%), Bacillus subtilis (25%), Enterobacter cloacae (16.7%), Staphylococcus sp. (8.4%), Gram-negative cocci (16.4%), Serratia rubidaea (4.1%), and Klebsiella pneumonia (4.1%).Keywords: ICU, nosocomial infections, patterns of aerobic bacteriaAbstrak: Infeksi yang dapat ditemukan pada perawatan di ICU karena terkontaminasi dengan sumber bakteri patogen yaitu infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang muncul dan menunjukkan gejala selama pasien dirawat atau setelah dirawat di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber dan pola bakteri aerob yang berpotensi menyebabkan infeksi nosokomial di dinding, lantai, peralatan medis, dan udara di ruang ICU BLU RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Desain penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan prospektif. Sampel penelitian ialah bakteri pada dinding, lantai, peralatan medis, dan udara di ruang ICU BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan dari 27 sampel yang diambil, terdapat 24 bakteri yaitu Enterobacter agglomerans (25%), Bacillus subtilis (25%), Enterobacter cloacae (16,7%), Staphylococcus sp. (8,4%), Kokus Gram negatif (16,4%), Serratia rubidaea (4,1%), dan Klebsiella pneumonia (4,1%).Kata kunci: ICU, infeksi nosokomial, pola bakteri aerob
Profil status gizi pada remaja di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Lampus, Christania; Manampiring, Aaltje; Fatimawali, .
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14602

Abstract

Abstract: Nutritional problem occurs because there is an imbalance in nutritional need fulfillment from food. If the nutrition intake is less then the need, malnutrition happens, and if it exceeds the needs, someone will be overweight/obese. Underweight prevalance in Indonesia is quite high, 12.,1% and the prevalance of obesity is 7.3%. The prevalance in North Sulawesi, underweight is 5.56%, 53.90% normal, 16.47% overweight and 24.7% obese. Teenegers is one of the age groups that are vulnerable to malnutrition. This research design is cross-sectional descriptive research with the aim to find out the nutritional status based on Body Mass Index (BMI). The population of this study is SMP/MTs, SMA, SMK student of North Bolaang Mongondow district in 2016, with the sample of teenager with age range of 12-20 years old. From all respondents, it was found that 798 (51%) of them is underweight, 704 (45%) of them is normal, 37 (2%) of them is overweight, and 30 (2%) of them is obese, with the total respondent of 1.571 students. Advice that could be given from this research is to give counseling to students and parents regarding healthy and nutritional food.Keywords: teenagers, nutritional status, underweight Abstrak: Masalah gizi timbul oleh karena tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Jika konsumsi gizi kurang dari kecukupan gizinya, seseorang akan menderita gizi kurang, sebaliknya jika konsumsi melebihi kecukupan gizinya maka seseorang akan menderita gizi lebih.Di Indonesia prevalensi underweight tergolong tinggi, yaitu sebesar 12,1% dan prevalensi overweight sebesar 7,3%. Di provinsi Sulawesi Utara sendiri terdapat 5,56% gizi kurang, 53,90% gizi normal, 16,47% gizi lebih dan 24,07% mengalami obesitas.Usia remaja merupakan salah satu kelompok umur yang rentan terhadap gizi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan cara cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui profil status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Populasi pada penelitian adalah seluruh siswa SMP/MTs, SMA Negeri dan SMK Negeri yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tahun 2016, sampel yang diambil adalah usia remaja 12-20 tahun. Dari seluruh responden yang menjadi sampel penelitian ditemukan 798 responden (51%) memiliki status gizi kurang, 706 responden (45%) memiliki status gizi normal, 37 responden (2%) memiliki status gizi lebih, dan 30 responden (2%) memiliki status gizi obesitas, dengan total responden 1.571 orang. Dari hasil yang ditemukan salah satu saran adalah dengan memberikan penyuluhan tentang gizi pada anak, remaja serta orang tua agar lebih memperhatikan lagi pola makan agar bisa seimbang. Kata kunci: remaja, status gizi, underweight
PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG DEMAM BERDARAH DENGUE DI DESA MAEN KECAMATAN LIKUPANG TIMUR KABUPATEN MINAHASA UTARA Sarif, Indra Setiawan; Siagian, Iyone E. T.; Kaunang, Wulan P. J.
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4372

Abstract

Abstract: Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an infectious disease caused by the dengue virus. As known, DHF is still one of the potentially infectious disease that can cause an outbreaks/extraordinary events (KLB). The main vector of dengue is Aedes aegypti were found both in Indonesia and other subtropical countries. One of the ways to prevent this disease is to break the chain of disease transmission by mosquito nest eradication program (PSN). This study aimed to determine the knowledge of the community in the village of Maen About Dengue Fever. In this study, the method used is the survey method with a descriptive approach. Furthermore, data collected through interviews using questionnaires. The population is all households in the village Maen totaling 365 households. Numbers of samples is determined by simple random sampling with a sample of 90 households. From this study it can be concluded that the knowledge of the people in the village Maen About Dengue overall scores 72.2% and categorized as having good knowledge. Keywords: community, dengue fever, Knowledge, Maen village.     Abstrak: Demam berdarah dengue (DBD) ialah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Seperti diketahui bersama, DBD masih merupakan salah satu penyakit menular yang berpotensi wabah / kejadian luar biasa (KLB). Vektor utama DBD ialah aedes aegypti yang ditemukan baik di Indonesia dan negara-negara subtropis lainnya. Salah satu cara mencegah penyakit ini ialah dengan memutus rantai penularan penyakit dengan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengetahuan masyarakat di Desa Maen Tentang Demam Berdarah Dengue. Pada penelitian ini, metode yang digunakan ialah metode survey dengan pendekatan secara deskriptif. Selanjutnya,  Pengambilan data dilakukan dengan  wawancara menggunakan kuisioner. Populasi ialah seluruh kepala keluarga di desa Maen yang berjumlah 365 KK. Banyak sampel ditetapkan secara simple random sampling dengan jumlah sampel 90 KK. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan masyarakat di Desa Maen Tentang Demam Berdarah Dengue  secara keseluruhan mendapatkan nilai 72,2% dan dikategorikan baik. Kata Kunci : demam berdarah dengue, desa Maen, masyarakat, Pengetahuan.
Hasil Diagnostik Mycobacterium Tuberculosis pada Pasien dengan Batuk 2 Minggu Menggunakan Pewarnaan Ziehl-Neelsen Di Poliklinik Paru Rumkit Tingkat III Robert Wolter Mongisidi Djakaria, M. Y.I.; Rares, Fredine E.S.; Porotu'o, John
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18604

Abstract

Abstract: Mycobacterium tuberculosis is the causal bacteria of lung tuberculosis in human. These bacteria are classified into acid-resistant bacilli. The diagnosis of pulmonary tuberculosis can be established by microscopic examination of sputum with acid resistant bacilli dyes inter alia Ziehl-Neelsen which has high sensitivity and specificity. This was a descriptive experimental study to determine the existence of M. tuberculosis in the sputum of patients suffering from cough  2 weeks at Pulmonary Polyclinic of Rumkit Tingkat III Robert Wolter Mongisidi. The results obtained 74 samples consisting of 47 males and 27 females. Based on the age group, there were 2 samples of 15-24 years; 3 samples of 25-34 years; 5 samples of 45-54 years; 5 samples of 55-64 years; 2 samples of  65 years; none of 35-44 years old. There were 17 TB positive samples and 57 TB negative samples. Most of the TB positive samples were females (11 of 17 samples) and of age group 45-54 years as well as of 55-64 years. Conclusion: Most of the TB positive patients were female, and aged 45-64 years old.Keywords: Cough of more than 2 weeks, Mycobacterium tuberculosis, lung tuberculosis Abstrak: Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri agen penyebab penyakit tuberkulosis (TB) pada manusia yang sering menginfeksi paru-paru. Bakteri ini digolongkan ke dalam basil tahan asam (BTA). Untuk menegakkan diagnosis TB dapat dilakukan dengan fasilitas sederhana dan memberi sensitivitas serta spesifisitas yang cukup tinggi yaitu pemeriksaan sputum dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen. Jenis penelitian ini ialah deskriptif eksperimental untuk menentukan ada tidaknya Mycobacterium tuberculosis pada sputum pasien batuk 2 minggu di Poliklinik Paru Rumkit Tingkat III Robert Wolter Mongisidi. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Oktober-November 2017. Hasil penelitian mendapatkan 74 sampel terdiri dari 47 laki-laki dan 27 perempuan. Berdasarkan kelompok usia didapatkan 2 sampel usia 15-24 tahun; 3 sampel usia 25-34 tahun; 5 sampel usia 45-54 tahun; 5 sampel usia 55-64 tahun; dan 2 sampel usia 65 tahun. Tidak ada sampel pada usia 35-44 tahun. Pada pemeriksaan sputum ditemukan BTA positif pada 17 sampel dan BTA negatif pada 57 sampel. Pemeriksaan sputum dengan BTA positif terbanyak didapatkan pada jenis kelamin perempuan (11 dari 17 sampel), serta kelompok usia 45-54 tahun dan 55-64 tahun. Simpulan: Sebagian besar pengidap tuberkulosis berjenis kelamin perempuan dan berusia 45-64 tahun.Kata kunci: batuk 2 minggu, Mycobacterium tuberculosis, TB paru
GAMBARAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH PADA MAHASISWA ANGKATAN 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI DENGAN INDEKS MASSA TUBUH 18,5-22,9 kg/m2 Malik, Mega Amaliah
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.3310

Abstract

Abstract: Consuming high cholesterol food has risks in increasing blood cholesterol level. The increase of blood cholesterol level is associated with the incident of heart disease. Hypercholesterolemia usually occurs in overweight and elderly but also may occur in normal or underweight and young age. The purpose of this study was to find out the description of blood total cholesterol level at students year 2011 Faculty of Medicine Sam Ratulangi University with Body Mass Index (BMI) from 18.5 to 22.9 kg/m2. This descriptive study was followed by 31 respondents (9 men and 22 women) and was selected using purposive sampling methode. From this study was to found 23 respondents (74.20%) have normal blood total cholesterol level and 8 respondents (25.80%) have borderline high blood total cholesterol level.Conclusion: the description of blood total cholesterol at students year 2011 Faculty of Medicine Sam Ratulangi University mostly in normal level.Keyword: Total cholesterol, students year 2011, BMI 18,5-22,9 kg/m2.Abstrak : Mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi berisiko meningkatkan kadar kolesterol darah atau hiperkolesterolemia. Kenaikan kolesterol darah sangat berhubungan dengan terjadinya penyakit jantung. Hiperkolesterolemia biasanya terjadi pada orang gemuk atau lanjut usia tetapi tidak dapat menutup kemungkinan gangguan metabolisme ini dapat terjadi pada orang kurus bahkan usia muda. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran kadar kolesterol total darah pada mahasiswa angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) 18,5-22,9 kg/m2. Penelitian ini bersifat deskriptif. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling. Penelitian diikuti oleh 31 orang responden yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 22 orang perempuan dengan IMT 18,5-22,9 kg/m2. Hasil penelitian ditemukan 23 orang (74,20%) memiliki kadar kolesterol darah normal dan 8 orang (25,80%) memiliki kadar kolesterol total darah dalam ambang batas tinggi. Simpulan: gambaran kadar kolesterol total darah pada mahasiswa angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Unsrat dengan IMT 18,5-22,9 kg/m2 sebagian besar memiliki kadar kolesterol total normal.Kata Kunci: Kolesterol total, mahasiswa angkatan 2011, IMT 18,5-22,9 kg/m.
GAMBARAN KADAR SERUM SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE (SGOT) PADA PEROKOK AKTIF USIA > 40 TAHUN Lomanorek, Vani Y.; Assa, Youla A.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.11046

Abstract

Abstract: Smoking has become habit and lifestyle for most of the people in daily life. Negative effects of smoking are abundant and no limit at all. Three dangerous compounds in cigarette could cause damage to liver and heart. When liver and heart cells damaged, Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) enzyme releases in blood and became an indicator of liver and heart damage. The purpose of this study was to identify the level of SGOT serum of smokers aged > 40 years old. Twenty eight smokers were eligible to this criteria and participated in this study. Cross sectional design with a descriptive method was employed in this study. Sanples were analysed in laboratory for SGOT serum levels. Research results showed that all respondents participated in the present study had a normal serum SGOT. It can be concluded that serum SGOT level of > 40 years old smokers in Kolombo village, West Bitung 2 were all normal.Keywords: serum SGOT level, smoker, age > 40 yearsAbstrak: Merokok sudah menjadi kebiasaan dan gaya hidup bagi sebagian orang dalam kehidupan sehari-hari. Dampak negatif dari menghisap rokok sangat banyak dan tidak terbatas. Tiga zat berbahaya utama yang terdapat dalam rokok dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati dan jantung. Saat sel-sel hati dan jantung mengalami cedera sel, enzim Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) akan dilepaskan ke dalam darah dan menjadi penanda adanya gangguan pada hati dan jantung. Tujuan dari penelitan untuk mengetahui gambaran kadar serum SGOT pada perokok aktif usia > 40 tahun. Dua puluh delapan orang yang telah memenuhi kriteria inklusi berpartisipasi dalam jenis penelitian deskriptif dengan pengamatan sewaktu (cross-sectional). Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan semua responden memiliki kadar serum SGOT yang normal. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa gambaran kadar serum SGOT pada usia > 40 tahun di Desa Kolombo lingkungan 4 RT 4, Kecamatan Maesa Kelurahan Bitung Barat 2 semua berada dalam batas normal.Kata kunci: kadar serum SGOT, perokok aktif, usia > 40 tahun