cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
PROFIL MUSCULI FACIALIS PADA EKSPRESI WAJAH DAN EMOSI DENGAN MENGGUNAKAN FACIAL ACTION CODING SYSTEM PADA CALON PRESIDEN PRABOWO ., Supriadi; Pasiak, Taufiq F.; Wangko, Sunny
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6504

Abstract

Abstract: Limbic system consists of several subsystems with their own roles to back-up human emotion. Human emotion can be observed through facial expression which is controlled by musculi facialis. One of the tools that are used to determine basic emotion of human through facial expression is Facial Action Coding System (FACS) and its action units (AUs). This study aimed to obtain musculi facialis that oftenly and rarely be used by Prabowo and his emotion duringthe first session of 2014-Presidential election debate. This was a retrospective descriptive study. Samples were 30 photos of Prabowo’s emotional expression. The observation was performed by using FACS. The results showed that the most commonly used AU was AU 4 (26.92%), meanwhile the most rarely used AUs were AU 9 and AU 29, both were 0.96%. The obtained emotional expressions were happy (6.67%), sad (6.67%), fear (6.67%), angry (46.67%), surprised (3.33%), and disgusted (3.33%). Conclusion: The most commonly used musculus facialis was corrugator supercilii whereas the most rarely used ones were levator labii superioris alaquae nasi and masseter. The emotional expressions, consecutively from the most commonly to the most rarely observed, were angry; happy, as well as sad and fear, and surprised as well as disgust.Keywords: emotion, facial expression, musculi facialis, FACS, AUAbstrak: Sistem limbik terdiri dari sejumlah subsistem dengan peranannya masing-masing untuk mem-back up emosi manusia. Emosi manusia dapat diketahui melalui ekspresi wajah yang dihasilkan oleh kontraksi musculi facialis. Salah satu alat yang digunakan untuk menentukan emosi dasar manusia melalui ekspresi wajah ialah Facial Action Coding System (FACS) dan action units (AUs). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui musculi facialis yang paling sering dan paling jarang digunakan serta ekspresi emosi Prabowo pada debat calon presiden putaran pertama 2014. Penelitian ini bersifat deskriptif melalui pendekatan retrospektif dengan sampel penelitian berjumlah 30 foto ekspresi wajah Prabowo. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dengan menggunakan FACS didapatkan AU yang paling sering digunakan ialah AU 4 (26,92%), sedangkan yang paling jarang digunakan ialah AU 9 dan AU 26 masing-masing 0,96%. Ekspresi emosi yang didapatkan ialah bahagia (6,67%), sedih (6,67%),takut (6,67%), marah (46,67%), terkejut (3,33%), dan jijik (3,33%). Simpulan: Musculi facialis yang paling sering digunakan ialah corrugator supercilii dan yang paling jarang ialah levator labii superioris alaquae nasi dan masseter. Ekspresi emosi dari yang paling sering sampai paling jarang tampak secara berturut-turut ialah marah; bahagia, sedih, dan takut; dan terkejut dan jijik.Kata kunci: emosi, ekspresi wajah, musculi facialis, FACS.
Hasil diagnostik Mycobacterium tuberculosis dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen pada penderita batuk ≥2 minggu di Puskesmas Ranotana, Puskesmas Wenang, dan Puskesmas Sario Manado Waworuntu, Ireine S.; Porotu'o, John .; Waworuntu, Olivia A.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.11699

Abstract

Abstract: Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis). In Indonesia, there are about 430.000 new cases, of which 61.000 cases ended in death. This disease has many clinical varieties, therefore, a gold standard for the right and exact diagnosis is needed. The examination of sputum by using Ziehl-Neelsen staining must be more improved for public health service. This study aimed to determine the profile of Mycobacterium tuberculosis (acid-fast bacteria) among patients with coughing ≥2 weeks at Ranotana, Wenang and Sario Primary Health Cares (PHCs) by using Ziehl-Neelsen staining. This was a descriptive study with a cross sectional design. Samples were obtained by using total sampling method during the period of September 2015 - December 2015. The results showed that there were 38 cases of coughing ≥2 weeks as follows: 15 cases at Wenang PHC, 13 cases at Ranotana PHC, and 10 cases at Sario PHC. The examination of acid-fast bacteria from the 38 cases of three PHCs showed that 1 case (2.7%) had acid-fast bacteria (++). Conclusion: In this study, there was only one case (2,7%) with positive Mycobacterium tuberculosis. Keywords: cough more than two weeks, tuberculosis, BTA Abstrak: Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis). Indonesia memiliki sekitar 430.000 kasus baru dimana 61.000 kasus berakhir dengan kematian. Penyakit ini memiliki gejala klinis yang bervariasi sehingga perlu ditetapkan standar baku untuk menegakkan diagnosis lebih cepat dan akurat. Pemeriksaan sputum dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen harus lebih ditingkatkan pada pelayanan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran Mycobacterium tuberculosis (basil tahan asam, BTA) dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen pada pasien batuk ≥2 minggu di Puskesmas Wenang, Puskesmas Ranotana, dan Puskesmas Sario Kota Manado. Jenis penelitian ini deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan cara total sampling pada kurun waktu September 2015 - Desember 2015. Hasil penelitian mendapatkan 38 kasus batuk ≥2 minggu yaitu 15 kasus di Puskesmas Wenang, 13 kasus di Puskesmas Ranotana dan 10 kasus di Puskesmas Sario. Pada pemeriksaan (BTA) di Puskesmas Wenang, Puskesmas Ranotana dan Puskesmas Sario didapatkan BTA (++) 2,7% sedangkan BTA (-) 97,3%.Simpulan: Pada penelitian ini didapatkan 1 kasus (2,7%) Mycobacterium tuberculosis positif
PENGARUH PENYAKIT GINJAL KRONIK TERHADAP DISFUNGSI EREKSI PRIA Simanjuntak, Boni N.
e-Biomedik Vol 2, No 1 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i1.3642

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease is decreased in kidney function that persistent and irreversible. Chronic kidney disease can lead to problems in the erectile function of men because of disorders on some factors, that are the endocrine system, the vascular system, psychological factor, and neurogenic disorder. WHO estimated that there will be an increasing number of patients with chronic kidney disease by 41.4% between the years 1995-2025 in Indonesia. Research on erectile dysfunction in patients with chronic kidney disease has not been done yet in Indonesia, especially in Manado. The Aim of this research is to know the effect of chronic kidney disease to erectile dysfunction of men. The research design for this study is observasional descriptive. The number of samples obtained as many as 34 samples of patients with stage 5 chronic kidney disease, be found 18 people (52.95%) suffering from mild erectile dysfunction, 12 people (35.29%) suffering from mild-moderate erectile dysfunction, a man (2.94%) suffering from moderate erectile dysfunction, 2 people (5.88%) suffering from severe erectile dysfunction, and a man (2.94%) with no erectile dysfunction. The conclusion is patients with chronic kidney disease can lead to problems in the erectile function, because of influence from the above factors. Suggestion on this research is necessary to check blood testosterone levels and find more samples. Key word : Chronic kidney disease, erectile dysfunction   Abstrak: Penyakit ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel. Penyakit ginjal kronik dapat mengakibatkan masalah pada fungsi ereksi pria karena gangguan pada beberapa faktor, yaitu sistem endokrin, sistem vaskuler, faktor psikologis, dan kelainan neurogenik. WHO memperkirakan di Indonesia akan terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit ginjal kronik sebesar 41,4% diantara tahun 1995-2025. Penelitian tentang disfungsi ereksi pada penderita penyakit ginjal kronik belum banyak dilakukan di Indonesia terutama di Manado. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyakit ginjal kronik terhadap disfungsi ereksi pria. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif. Jumlah sampel yang didapat sebanyak 34 sampel penderita ginjal kronik stadium 5, didapatkan 18 orang (52,95%) menderita disfungsi ereksi ringan, 12 orang (35,29%) menderita disfungsi ereksi sedang-ringan, 1 orang (2,94%) menderita disfungsi ereksi sedang, 2 orang (5,88%) menderita disfungsi ereksi berat, dan 1 orang (2,94%) tidak disfungsi ereksi. Kesimpulan yang diperoleh adalah dapat terjadi gangguan fungsi ereksi pada penderita penyakit ginjal kronik, karena dipengaruhi oleh faktor diatas. Saran pada penelitian ini adalah perlu dilakukan pemeriksaan kadar testosteron darah dan mencari sampel yang lebih banyak. Kata kunci : Penyakit ginjal kronik, disfungsi ereksi
GAMBARAN NILAI HEMATOKRIT DAN LAJU ENDAP DARAH PADA ANAK DENGAN INFEKSI VIRUS DENGUE DI MANADO Kamuh, Sitti S. P.; Mongan, Arthur E.; Memah, Maya F.
e-Biomedik Vol 3, No 3 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i3.9517

Abstract

Abstract: Dengue is a major public health problem that can be found throughout the tropical and subtropical countries around the world. Spectrum of clinical manifestations of dengue virus infection varies greatly. In addition to clinical symptoms, the diagnosis of dengue virus infection need to be supported by blood tests such as hematocrit and erythrocyte sedimentation rate. This study aimed to determine the hematocrit value and erythrocyte sedimentation rate (ESR) in children with dengue virus infection in Manado. This study used a cross-sectional design and was conducted from Desember 2014 to January 2015 at GMIM Pancaran Kasih, Advent, and Robert Wolter Mongisidi hospitals in Manado. There were 37 patients that fulfilled the inclusion criteria, consisted of 17 males and 20 females. The results showed that of 37 patients, there were 36 with hematocrit within normal limits. Moreover, of 37 patients only 6 patients performed the ESR examination; only 1 child had a rapid ESR result (> 15mm/h). Conclusion: In this study, most of the pediatric patients with dengue virus infection in Manado had normal hematocrit. Of 6 patients who had performed ESR test, only 1 had rapid ESR.Keywords: dengue, hematocrit, erythrocyte sedimentation rateAbstrak: Dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama dan dapat ditemui diseluruh daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia. Spektrum manifestasi klinis infeksi virus dengue sangat bervariasi. Selain gejala klinis, diagnosis infeksi virus dengue perlu ditunjang hasil uji darah di laboratorium antara lain hematokrit dan laju endap darah (LED). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai hematokrit dan LED pada anak dengan infeksi virus dengue di Manado. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang, dilakukan pada bulan Desember 2014 sampai Januari 2015 di RSU GMIM Pancaran Kasih Manado, RS Advent Manado, dan RSAD Robert Wolter Mongisidi Teling17 anak laki-laki dan 20 anak perempuan. Hasil penelitian memperlihatkan 36 dari 37 pasien mempunyai hematokrit normal. Dasri 37 pasien, hanya 6 anak yang menjalani pemeriksaan LED; hanya 1 anak dengan LED cepat (> 15mm/jam). Simpulan: Pada studi ini, sebagian besar pasien anak dengan infeksi virus dengue di Manado mempunyai nilai hematokrit normal. Dari 6 pasien yang dilakukan pemeriksaan LED, 1 anak mempunyai hasil LED cepat.Kata kunci: dengue, hematrokrit, laju endap darah.
Pengaruh pemberian ekstrak biji kakao (Theobroma cacao) terhadap jumlah pigmen melanin kulit tikus Wistar (Rattus novergicus) yang dipapar sinar matahari Yonathan, Koernia H.; Lintong, Poppy M.; Durry, Meilany F.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14710

Abstract

Abstract: Excessive exposure of sunlight may cause hyperpigmentation. Cocoa is a beneficial plant to the skin. This study was aimed to reveal the effect of cocoa bean extracts on the number of melanin pigments in rat skin after sun exposure. This was an experimental study using 25 Wistar rats (Rattus norvegicus) divided into one control group and four treatment groups. The treatment consisted of sunlight exposure for one hour/day and application of cocoa bean extract 1600 mg/day that varied among treatment groups. Group A was the negative control group (terminated at day 21). Group B, the treatment group 1, was exposed to sunlight for 30 days (terminated at day 31). Group C, the treatment group 2, was exposed to sunlight for 20 days (terminated at day 31). Group D, the treatment group 3, was divided into group D1 consisted of 2 rats and group D2 consisted of 3 rats. Group D1 was exposed to sunlight 30 minutes after the application of cocoa bean extract for 20 days (terminated at day 21). Group D2 was exposed to sunlight 30 minutes after the application of cocoa bean extract for 30 days (terminated at day 31). Group E was exposed to sunlight for 20 days and continued with the application of cocoa bean extract for the next 10 days (terminated at day 3). The results showed that sunlight exposure increased the number of melanin pigments in group B and C compared to group A. Group D showed fewer melanin pigments than group B and C. Group E showed fewer melanin pigments than group B, C, and D. Conclusion: Cocoa bean extract could reduce the number of skin melanin pigments in rats exposed to sunlight.Keywords: cocoa beans extract, sunlight, melanin pigment, skin Abstrak: Paparan sinar matahari yang berlebihan dapat menyebabkan hiperpigmentasi. Kakao merupakan tanaman yang berkhasiat untuk pemeliharaan kesehatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengolesan ekstrak biji kakao dan pemaparan sinar matahari terhadap jumlah pigmen melanin kulit tikus Wistar. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan menggunakan 25 tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi satu kelompok kontrol dan empat kelompok perlakuan. Perlakuan yang diberikan ialah paparan sinar matahari selama 1 jam/hari dan aplikasi ekstrak biji kakao dosis 1600 mg/hari yang bervariasi untuk masing-masing kelompok perlakuan. Kelompok A merupakan kontrol negatif (diterminasi hari ke-21). Kelompok B ialah kelompok perlakuan 1, diberi paparan sinar matahari selama 30 hari (diterminasi pada hari ke-31). Kelompok C ialah kelompok perlakuan 2, diberi paparan sinar matahari selama 20 hari (diterminasi hari ke-31). Kelompok D ialah kelompok perlakuan 3 yang dibagi menjadi kelompok D1 terdiri dari 2 tikus dan D2 dari 3 tikus. Kelompok D1 diberi paparan sinar matahari setelah diolesi ekstrak biji kakao 30 menit sebelumnya selama 20 hari (diterminasi hari ke-21). Kelompok D2 diberi paparan sinar matahari selama 1 jam setelah diolesi ekstrak biji kakao 30 menit sebelumnya selama 30 hari (diterminasi pada hari ke-31). Kelompok E ialah kelompok perlakuan 4 yang diberi paparan sinar matahari 20 hari dan dilanjutkan dengan pengolesan ekstrak biji kakao untuk 10 hari berikutnya (diterminasi hari ke-31). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelompok B dan C menunjukkan peningkatan jumlah pigmen melanin dibandingkan kelompok A. Kelompok D menunjukkan jumlah pigmen melanin yang lebih sedikit dibandingkan kelompok B dan C. Kelompok E menunjukkan jumlah pigmen melanin yang lebih sedikit dibandingkan kelompok B, C, dan D. Simpulan: Ekstrak biji kakao dapat mengurangi jumlah pigmen melanin kulit tikus Wistar yang dipapar sinar matahari. Kata kunci: ekstrak biji kakao, sinar matahari, pigmen melanin kulit
HUBUNGAN INFESTASI CACING YANG DITULARKAN MELALUI TANAH DAN EOSINOFILIA PADA SISWA SD GMIM BUHA MANADO Matei, Yeti Teresia; Rampengan, Novie; Warouw, Sarah M.
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4614

Abstract

Abstract: Infestation of soil transmitted helminth is often found among communities in developing countries. This helminthic infestation can affect nutritional state, physical growth, mental, cognition, and intellectual deterioration in children. Increased eosinophils (eosinophilia) is often associated with diseases caused by worms and allergy. This study aimed to determine the links between investastion of soil transmitted helminth and esinophilia among students in SD GMIM Buha Manado. This was a prospective observational study with a cross-sectional approach. According to exclusive and inclusive criteria, 80 samples were obtained. Data were analyzed by using the Fisher Exact and Phy correlation coefficient analysis. The resluts showed that 17.5 % students were infected by Ascaris lumbricoides, meanwhile Trichuris trichiura and hookworm were not evident. The corelation test showed that there was a significant relationship between infestation of soil transmitted helminth and eosinophilia with a P-value = 0.001. Conclusion: There was a high significant relationship between infestation of soil transmitted helminth and eosinophilia among students of SD GMIM Buha Manado. The most frequent found was Ascaris lumbricoides and its infestation was marked by eosinophilia. Keywords: Soil transmitted helminth, eosinophilia, students of SD GMIM Buha Manado.   Abstrak: Infestasi cacing yang ditularkan melalui tanah banyak ditemukan pada masyarakat di negara berkembang. Infestasi cacing bisa berdampak terhadap gizi, pertumbuhan fisik, mental, kognitif, dan kemunduran intelektual pada anak. Peningkatan eosinofil sering  dikaitkan dengan penyakit yang disebabkan oleh cacing dan alergi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan infestasi cacing yang ditularkan melalui tanah dan eosinofilia pada siswa SD GMIM Buha Manado. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional dengan pendekatan potong lintang.cross – sectional. Berdasarkan kriteria eksklusi dan inklusi diperoleh 80 sampel. Analisis korelasi yang digunakan ialah uji Fisher Exact dan analisis koefisien korelasi Phi. Hasil penelitian memperlihatkan 17,5% siswa terinfestasi cacing Ascaris lumbricoides, sedangkan Trichuris trichiura dan cacing tambang tidak ditemukan. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat bermakna antara infestasi cacing yang ditularkan melalui tanah dan eosinofilia dengan P = 0,001. Simpulan: Terdapat hubungan yang sangat bermakna antara infestasi cacing yang ditularkan melalui tanah dan eosinofilia Cacing yang paling banyak menginfestasi siswa SD GMIM Buha Manado ialah Ascaris lumbricoides. Adanya infestasi Ascaris lumbricoides ditandai dengan peningkatan eosinofil. Kata Kunci: Infestasi cacing yang ditularkan melalui tanah, eosinofilia, siswa SD GMIM Buha Manado.
Perbandingan Saturasi Oksien Sebelum dan Sesudah Melakukan Latihan Fisik Akut pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsrat Angkatan 2019 Rompas, Sweety E.; Pangkahila, Erwin A.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.27142

Abstract

Abstract: During physical exercise, several adaptations will occur in the body, inter alia ventilation speed, diffusion speed, and hemoglobin-oxygen affinity among others. These can influence the oxygen saturation level in the blood, depends on the type of the physical exercise. This study was aimed to compare oxygen saturation before and after acute physical exercise. This was a field experimental study with the pre-post one group test design. Samples were batch 2019 students of the Faculty of Medicine Sam Ratulangi University Manado obtained by using purposive sampling method. The results showed that of 140 students, only 36 students fulfilled the inclusion criteria. Measurement of oxygen saturation was performed before and after a 100-meter sprint using a pulse oximetry device. Data were analyzed by using the Wilcoxon signed rank test was used in the statistical test analysis. The results showed that the average oxygen saturation before and after running were 98.25% and 98.53% respectively, with a p-value of 0.111 (p>0.05). It indicated that there was no significant difference in oxygen saturation levels of pre-test and post-test. The distribution of oximeter levels measured showed that 9 subjects had decreased oxygen saturation, 16 subjects had increased oxygen saturation, and 11 subjects had constant oxygen saturation. In conclusion, there was no significant difference in oxygen saturation before and after acute physical exercise among students of the Faculty of Medicine Sam Ratulangi UniversityKeywords: acute physical exercise, oxygen saturation Abstrak: Pada saat melakukan latihan fisik, akan terjadi berbagai adaptasi di dalam tubuh antara lain, kecepatan ventilasi, kecepatan difusi, dan afinitas hemoglobin-oksigen. Hal ini dapat berpengaruh pada kadar saturasi oksigen dalam darah, sesuai dengan jenis latihan fisik yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar saturasi oksigen sebelum dan sesudah melakukan latihan fisik akut. Jenis penelitian ialah eksperimental lapangan dengan rancangan pre-post one group test. Pemilihan sampel menggunakan purposive sampling pada mahasiswa angkatan 2019 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado yang memenuhi kriteria inklusi. Pengukuran saturasi oksigen dilakukan sebelum dan sesudah melaku-kan lari sprint 100 meter menggunakan alat pulse oximetry. Analisis uji statistik yang digunakan ialah Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian mendapatkan 36 dari 140 mahasiswa yang berpartisipasi dalam penelitian ini dan memenuhi kriteria inklusi. Nilai rerata saturasi oksigen pada subjek sebelum lari ialah 98,25% dan sesudah lari 98,53% dengan nilai p=0,111 (p > 0,05) yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna dari nilai saturasi oksigen pre-test dan post-test. Distribusi nilai oksimeter yang diukur pada 36 subjek menunjukkan penurunan saturasi oksigen pada 9 subjek, peningkatan saturasi oksigen pada 16 subjek, dan saturasi oksigen yang menetap pada 11 subjek. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan bermakna saturasi oksigen sebelum dan sesudah melakukan latihan fisik akut pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam RatulangiKata kunci: latihan fisik akut, saturasi oksigen
GAMBARAN KADAR KALSIUM SERUM PADA USIA 60-74 TAHUN Limawan, Desmon; Mewo, Yanti M.; Kaligis, Stefana H.M.
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6731

Abstract

Abstract: In 2010, Indonesia is among the top five countries with the highest number of elderly people in the world that reached 18.1 million or 9.6 percent of the population. One of health problems in the elderly that needs serious attention is osteoporosis, a disease characterized by decreased in bone density. Calcium is the main mineral in bone formatting. It is also needed to regulate the contraction and relaxation of the muscles, involve in nerve transmission, blood cothing, and regulation of hormones and growth factors. The purpose of this study is to discover the description of serum calcium levels at age 60-74 years old. Twenty six elderly participated in this cross-sectional observation study. From the results of laboratory tests, 21 respondents has normal serum calcium levels, one respondent has low serum calcium levels, and four has high serum calcium levels. Conclusion: Most Calcium serum levels at age 60-74 years old at BPLU Senja Cerah were in normal range.Keywords: Calcium serum levels, ages 60-74 years old.Abstrak: Pada tahun 2010, Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah penduduk lanjut usia terbanyak di dunia yang mencapai 18,1 juta jiwa atau 9,6 persen dari jumlah penduduk. Salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius pada lanjut usia ialah osteoporosis yang merupakan penyakit yang ditandai dengan penurunan kepadatan tulang. Kalsium merupakan mineral utama pembentuk tulang yang juga diperlukan untuk mengatur kontraksi dan relaksasi otot, terlibat dalam transmisi saraf, membantu pembekuan darah, serta mengatur hormon-hormon dalam tubuh dan faktor pertumbuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana gambaran kadar kalsium serum pada usia 60-74 tahun. Dua puluh enam orang lanjut usia berpartisipasi dalam penelitian yang merupakan studi observasional dengan pengamatan sewaktu (cross-sectional). Dari hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh 21 responden memiliki kadar kalsium serum yang normal, satu responden memiliki kadar kalsium serum yang rendah, dan empat responden memiliki kadar kalsium serum yang tinggi. Simpulan: Sebagian besar kadar kalsium serum pada usia 60-74 tahun di BPLU Senja Cerah berada dalam batas normal.Kata kunci: kadar kalsium serum, usia 60-74 tahun.
Faktor risiko yang berhubungan dengan timbulnya nyeri punggung bawah pada guru SD di Kecamatan Tuminting Haumahu, Yanty; Doda, Diana V. D.; Marunduh, Sylvia R.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.12656

Abstract

Abstract: Work-related musculoskeletal disorder (WMSD) is one of the biggest problems in developing countries. According to the Department of Health of Indonesia about health problems in Indonesia in 2005, 40.5% of illness were work-related. A study on 9482 workers in 12 districts in Indonesia reported that 16% of common illness was musculoskeletal diseases. This study aimed to determine the musculoskeletal disease (low back pain) during the last 7 days among elementary school teachers at Tuminting. This was a field study with a cross sectional design. Instruments were Nordic Body Map Question, physical exposure, and psychosocial questionnaire. The results showed that were 282 respondents in this study. The respond rate was 78%. There were 81% of respondents withg low back pain. Significant associated risk factors were as follows: class level taught by respondents (p = 0.008); bending while arms were below the knees more than 30 minutes (p = 0.049); leisure time activities during last 7 days (p = 0.024); disruption/interruption (p = 0.003); low job promotion (p = 0.032); unpleasant changes in workplace (p = 0.003); and work-environment satisfaction (p = 0.003). Conclusion: Risk factors associated with low back pain among elementary school teachers at Tuminting were individual, physical, and psychosocial factors.Keywords: low back pain, risk factor, elementary school teacherAbstrak: Penyakit muskuloskeletal terkait pekerjaan merupakan salah satu masalah terbesar di negara industri. Studi Departemen Kesehatan RI tentang profil masalah kesehatan di Indonesia tahun 2005 menunjukkan bahwa sekitar 40,5% penyakit yang diderita berhubungan dengan pekerjaan. Studi yang dilakukan terhadap 9482 pekerja di 12 kabupaten di Indonesia mendapatkan 16% dari penyakit yang diderita secara umum ialah penyakit muskuloskeletal. Jenis penelitian ini ialah survei lapangan dengan desain potong lintang. Kuesioner yang digunakan ialah Nordic Body Map Question, paparan fisik, dan psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyakit muskuloskeletal (nyeri punggung bawah) dalam 7 hari terakhir pada guru SD di kecamatan Tuminting. Sebanyak 282 responden berpartisipasi dengan respond rate 78%. Ditemukan 81% responden mengalami nyeri punggung bawah. Faktor-faktor yang berhubungan signifikan antara lain kelas yang diajar (p = 0,008), membungkuk dengan tangan dibawah lutut lebih dari 30 menit (p = 0,049), aktivitas waktu senggang dalam 7 hari terakhir (p = 0,024), adanya interupsi/gangguan (p = 0,003), harapan kenaikan pangkat yang buruk (p = 0,032), perubahan tidak menyenangkan di tempat kerja (p = 0,003), dan kondisi lingkungan fisik (p = 0,008). Simpulan: Faktor risiko yang berhubungan dengan nyeri punggung bawah dalam penelitian ini meliputi faktor individu, faktor fisik, dan faktor psikososial.Kata kunci: nyeri punggung bawah, faktor risiko, guru sekolah dasarFaktor risiko yang berhubungan dengan timbulnya nyeri punggung bawah pada guru SD di Kecamatan Tuminting
HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN BERJALAN PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 6 MANADO Sorongan, Christian H.
e-Biomedik Vol 2, No 1 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i1.3757

Abstract

Abstract: This is caused by factors that affect normal human walking speed i.e., sex, fitness level, body height and weight. People with long strides could walk faster than those with short steps if they take the same number of steps per minute because they can travel a distance further in every step of their feet. But some said that the shorter leg is not a reason for a slow walking speed. The purpose of this research is to find out whether or not there is a relationship between the length of the legs with walking speed. This study was carried out with the design of cross sectional study. The population taken all SMAN 6 Manado grade 3 by the number of samples of 40 people, the determination of sample by random sampling techniques by means of a lottery. Data obtained from the results of measurements of the length of the limb and walking speed is done by the researcher themselves. Acquired long limbs with an average rating of 98 cm, 3,79608 cm, standard deviation value for a minimum of 90 cm and a maximum of 105 cm, While the walking speed obtained average value of 1,2983 m/s, the standard deviation 0.14007 m/s, the minimum value of 1.06 m/s and maximum 1,93 m/s. Conclusion, there is a significant correlation between leg length and walking speed with the value of the Pearson correlation coefficient analysis was obtained value of r = 0.262 and p = 0.051 in the direction of a positive correlation.Keywords: the length of the legs, walking speed Abstrak: Tidak semua orang berjalan dengan kecepatan berjalan rata-rata manusia. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan berjalan normal manusia yaitu, jenis kelamin, tingkat kebugaran tubuh, tinggi dan berat badan. Orang dengan langkah panjang bisa berjalan lebih cepat daripada orang-orang dengan langkah pendek jika mereka mengambil jumlah langkah yang sama per menit karena mereka dapat menempuh jarak lebih jauh dalam setiap langkah kaki mereka. Tapi ada yang mengatakan bahwa kaki yang lebih pendek tidak menjadi alasan kecepatan berjalan yang lambat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara panjang tungkai dengan kecepatan berjalanPenelitian ini dilaksanakan dengan desain cross sectional study. Populasi yang diambil semua siswa SMA Negeri 6 Manado kelas 3 dengan jumlah Sampel 40 orang, penentuan sampel dengan teknik random sampling dengan cara undian. Data diperolehdari hasil pengukuran panjang tungkai dan kecepatan berjalan yang dilakukan oleh peneliti sendiri. Diperoleh panjang tungkai dengan nilai rata-rata 98 cm, standar deviasi 3,79608 cm, nilai minimum 90 cm dan maksimum 105 cm sedangkan kecepatan berjalan diperoleh nilai rata-rata 1,2983 m/s, standar deviasi 0,14007 m/s, nilai minimum 1,06 m/s dan maksimum 1,93 m/s. Kesimpulan, terdapat hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dan kecepatan berjalan dengan nilai analisis koefisien korelasi Pearson diperoleh nilai r = 0,262 dengan p = 0,051 dengan arah korelasi positif.Kata kunci: Kecepatan Berjalan dan Panjang Tungkai