Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology (JPU) is a peer-reviewed scientific journal that stands as a forum to facilitate communication, dissemination, and enhancement of ideas within scholars in the field of psychology and social sciences by showcasing high-quality works while acknowledging its relevance in the indigenous perspective. The journal is published in print (p-ISSN: 2088-4230) and electronic (e-ISSN: 2580-1228) formats. JPU is published bi-annually (every June and December) by Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara. We welcome submissions from scholars, including students, whose work shares relevance to our focus and scope. JPU adheres to the high standard of publication process by abiding to the double-blind peer review process to maintain fair and indiscriminatory submission process. Submissions are open at any time.
Articles
24 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1 No 1 (2012)"
:
24 Documents
clear
Pengaruh stres internal dan stres eksternal pada coping diadik negatif
Goei, Yonathan Aditya
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu26
Banyak penelitian menemukan pengaruh buruk stres terhadap kemampuan pasangan melakukan coping. Penelitian ini mencoba lebih lanjut meneliti fenomena tersebut dengan membedakan sumber stres dan menggunakan analisa diadik. Penelitian ini menguji pengaruh stres internal dan stres eksternal terhadap coping diadik negatif pasangan. Data dikumpulkan dari 203 pasangan, dan metode statistik dilakukan mengikuti Actor-Partner Interdependence Model (APIM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres eksternal tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap coping diadik negatif, tapi stres eksternal akan mempengaruhi stres internal yang kemudian akan mempengaruhi coping diadik negatif. Stress internal mempunyai orientasi pasangan, oleh karena itu stress internal suami bukan hanya mempengaruhi coping suami tapi juga istri. Implikasi dari hasil ini juga didiskusikan.
Pengajaran nilai toleransi usia 4-6 tahun
Patnani, Miwa
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu28
Tahun 1995 dideklarasikan sebagai tahun toleransi oleh UNESCO. Hal ini dipicu oleh makin meningkatnya konfl ik dan kekerasan yang mengindikasikan adanya penurunan sikap toleransi. Dengan demikian, toleransi merupakan hal yang sangat diperlukan untuk mencapai kehidupan bersama yang damai. Kegiatan pengajaran nilai toleransi ini dirancang untuk anak usia 4-6 tahun, mengingat sikap tidak toleran mulai dikembangkan sejak anak berusia dini. Kegiatan pengajaran ini mudah untuk dilakukan baik di rumah maupun sekolah. Aktivitas dalam kegiatan pengajaran ini disimpulkan dari materi program pendidikan toleransi yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Living Values dan Education for Mutual Education Program. Materi yang diajarkan dalam kegiatan ini adalah: penghargaan terhadap diri sendiri, penghargaan terhadap orang lain, penghargaan terhadap perbedaan budaya, dan penyelesaian konflik secara damai. Keempat materi ini kemudian dijabarkan dalam 16 aktivitas dengan memperhatikan perkembangan anak secara sosial emosional, bahasa kognitif, fisik estetis dan motivasi. Semua aktivitas dalam kegiatan ini menggunakan metode bermain yang sangat dekat dengan kehidupan anak. Evaluasi terhadap kegiatan ini menggunakan metode observasi sistematis yang dikombinasikan dengan checklist yang dilakukan oleh pengajar.
Resiliensi dan altruisme pada relawan bencana alam
Gloria Gabriella Melina;
Aully Grashinta;
Vinaya Vinaya
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu1
Indonesia is among countries that are vulnerable to natural disasters. Volunteer is someone who has a desire to help others without expecting reward or known as altruism (Myers, 1999). If you see the volunteers, which is expected of individuals who have the capacity to survive even in a difficult situation in a state of disaster. Capacity is referred to as resilience (Maddi & Khoshaba, 2005). Therefore, this study aims to determine the relationship between altruism with resilience. Participants in this study were 100 volunteers who are members of an Non Government Organization (NGO). Methods of data collection use a scale of resilience and altruism. By using a quantitative approach and the concept of descriptive correlation study Pearson product moment correlation, the result showed that there is a positive and significant correlation between resilience and altruism (r = .448, p < .01) of volunteer. This is means that the higher the resilience, the higher the altruism, vice versa, the lower the resilience, the lower the altruism that is owned by a natural disaster volunteer.
Psikologi ulayat
Sarlito Wirawan Sarwono
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu2
Classical psychology tends to be conservative. It deals merely with universal theories concerning individual processes. The trend towards more social oriented paradigms started when European psychologists Serge Moscovici raised the issue of social representation (1961), and Henrri Tajfel and Turner published their theories on Social Identity (1979). Psychology is no longer individual. It is related to social and cultural environment. Each group, race or ethnic has its own psychology, which is relevant to their respective context. In 1933, an Asian Psychologist, Uichol Kim and his European colleague John Berry initiate the term indigenous psychology that is defined as ”the scientific study of human behavior or mind that is native, that is not transported from other regions, and that is designed for its people”. Since there is no matching Indonesian word for “indigenous”, in an Indonesian Social Psychology Association Conference held at the University of Indonesia, Jakarta, in 1999, I coined the word “ulayat”. I borrowed the term from anthropology and the adat (traditional) law that means almost similar to Kim and Berry definition of “indigenous”. This article discusses the history, the development of theories and application of this new field in psychology in Indonesia.
Analisis hope pada atlet bulutangkis indonesia juara dunia era 70 & 90
Esther Widhi Andangsari;
Pingkan C.B. Rumondor
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu3
The present study analyzed a profiling of hope of Indonesian badminton athletes with international achievements. Previous studies have shown that hope was positively related to various outcomes such as sport, academics, physical health, psychological adjustment, and psychotherapy. The participants were consisted of athletes who used to play between 70’s and 90’s. This study utilized a qualitative approach with interpretative phenomenological analysis. Nine mental skills of athletes were used as a guideline of semi-structured interview. The verbatim of interview then analyzed with hope components. Hope was constructed by three components: goals, pathways, and agency thinking. The analysis of participant’s experience showed nine major themes that are: attitude, motivation, goals and commitment, people skills, self talk, mental imagery, managing anxiety, managing emotion, and concentration, with twelve subordinates themes. These themes are similar with high-hope people’s characteristics.
Perilaku inovatif
Rusdijanto Soebardi
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu4
Perilaku kerja inovatif dapat mendorong kinerja dan mengembangkan kompetensi organisasi dalam upayanya mencapai sasaran yang ditetapkan. Sebagai salah satu aspek perilaku organisasi, perilaku kerja inovatif pada dasarnya merupakan hasil interaksi antara individu sebagai pekerja, kelompok sebagai suatu proses kerja, dan proses organisasional sebagai praktek manajemen yang biasa dilakukan di dalam organisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek ekspektasi kinerja pekerja dalam memberikan makna terhadap perilaku pemimpin dalam memunculkan perilaku inovatif di dalam pelaksanaan tugas. Populasi penelitian dilakukan pada kelompok perusahaan logistik yang secara praktek manajemen mendorong seluruh jajaran pekerja untuk dapat mengembangkan perilaku inovatif dalam pelaksanaan pekerjaan. Pemilihan sampel pada populasi yang melibatkan sepuluh perusahaan diperoleh 199 subyek penelitian dengan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Dengan skala perilaku inovatif yang dikembangkan De jong dan dengan teknik analisis jalur diperoleh total efek sebesar 0,47. Ada pengaruh ekspektasi kinerja baik secara langsung maupun tidak langsung dalam memediasi perilaku pemimpin terhadap perilaku inovatif pekerja.
Pengaruh gaya berpikir, integritas dan usia pada perilaku kerja yang kontraproduktif
Mira Permatasari
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu5
Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh gaya berpikir (cognitive-experiential self-theory/CEST), integritas (theory of moral identity) dan usia pada perilaku kerja yang kontraproduktif (counterproductive work behavior / CWB). Menggunakan desain penelitian between subject dengan sampel 122 pekerja dewasa muda dan 68 pekerja dewasa madya. Alat ukur menggunakan rational experiential inventory (REI) untuk gaya berpikir dan kuesioner self-report untuk perilaku kerja yang kontraproduktif dan integritas. Hasil menunjukkan bahwa integritas dan usia mempengaruhi perilaku kontraproduktif. Sedang tipe gaya berpikir yang berinteraksi dengan integritas dalam mempengaruhi perilaku kerja yang kontraproduktif adalah tipe gaya berpikir high-rational high-experiential.
Strategi coping perempuan korban pelecehan seksual ditinjau dari Tipe Kepribadian Eysenck
Devi Jatmika
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu7
Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja, setiap waktu dan terutama terhadap perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan strategi coping perempuan korban pelecehan seksual ditinjau dari tipe kepribadian “Eysenck” (ekstrovert- introvert). Strategi coping meliputi dua jenis yaitu: a) problem focused coping dan b) emotion focused coping . Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner yang diperuntukkan bagi perempuan dewasa muda (20-40 tahun). Subyek penelitian sebanyak 192 orang. Perempuan bertipe kepribadian introvert memiliki nilai rata-rata pada dimensi problem focused coping 42.14 (SD=7.64), sementara dimensi emotion focused coping memiliki nilai rata-rata 37.02 (SD=4.19). Perempuan bertipe kepribadian ekstrovert memiliki nilai rata-rata pada dimensi problem focused coping 48.60 (SD=6.69) sementara dimensi emotion focused coping memiliki nilai rata-rata 38.02 (SD=4.02). Hipotesis penelitian tidak terbukti, ?2 (1)= 0.537, sig/p 0.449> 0.05 yang berarti tidak ada perbedaan strategi coping pada perempuan korban pelecehan seksual bertipe kepribadian ekstrovert dan tipe kepribadian introvert.
Pengaruh perspektif waktu (time perspective) terhadap kualitas relasi sosial
Evanytha Evanytha
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu20
Salah satu pengalaman subyektif terpenting bagi manusia adalah waktu. Para eksistensialis menyatakan bahwa manusia adalah makhluk (being) yang ada dalam hubungannya dengan waktu dan tempat tertentu, serta makna tertentu. Waktu merupakan elemen dari eksistensi manusia, yang mendasari dan mengatur perilaku sosial individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perspektif waktu (time perspective) terhadap kualitas relasi sosial. Partisipan penelitian ini adalah 96 mahasiswa. Penelitian ini menggunakan skala Zimbardo Time Perspective Inventory dan Positive Relations with Others. Perspektif waktu meliputi lima dimensi, yaitu Past-Positive, Past-Negative, Present-Hedonistic, Present-Fatalistic dan Future. Analisis data menggunakan multiple regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima dimensi perspektif waktu secara bersama-sama berpengaruh terhadap kualitas relasi sosial. Secara parsial, dimensi Past- Positive dan Future berpengaruh signifi kan terhadap kualitas relasi sosial.
Self efficacy dan kecemasan pegawai negeri sipil menghadapi pensiun
Christian Christian;
Clara Moningka
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu21
Pensiun merupakan salah satu momok yang menakutkan bagi para individu dewasa madya, apalagi bila individu tersebut sedang berada di puncak karirnya. Ketakutan akan pensiun tersebut menimbulkan kecemasan. Mengatasi kecemasan dapat berbeda tergantung pada kemampuan untuk mengatasi kecemasan tersebut (Cheung & Sun dalam Pajares, 2006) dan ditingkatkan melalui kemampuan dan kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan, atau mengatasi hambatan yang kuat yang disebut self efficacy. (Bandura dalam Baron & Byrne, 2004). Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dengan kecemasan menghadapi pensiun pada pengawai negeri sipil. Adapun sampel dari penelitian ini adalah 87 orang yang akan menjelang pensiun hingga akhir tahun 2013 pada kementrian X. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan dua buah skala sebagai alat ukur, yaitu skala Self Effi cacy dan skala Kecemasan menghadapi pensiun yang diadaptasi dan dikembangkan oleh peneliti dengan menggunakan skala Likert berdasarkan komponen self effi cacy (Bandura, 1986) dan bentuk kecemasan menghadapi pensiun (Bucklew, 1980). Dari hasil analisa diperoleh diperoleh hubungan yang negatif antara self effi cacy dengan kecemasan menghadapi pensiun pada pegawai negeri sipil dengan nilai r = -.409 (p = .01). Artinya adalah semakin tinggi self effi cacy maka semakin rendah tingkat kecemasan pegawai negeri sipil yang akan menghadapi pensiun, dan sebaliknya semakin rendah self effi cacy maka semakin tinggi tingkat kecemasan pegawai negeri sipil yang akan menghadapi pensiun.