cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Universa Medicina
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 19073062     EISSN : 24072230     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Universa Medicina (univ.med) is a four-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Universa Medicina Online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 4 (2007)" : 6 Documents clear
Hubungan antara status kesehatan mulut dan kualitas hidup pada lanjut usia Wangsarahardja, Kartika; Dharmawan, Olly V.; Kasim, Eddy
Universa Medicina Vol 26, No 4 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.186-194

Abstract

LATAR BELAKANGProporsi lanjut usia bertambah lebih cepat dibandingkan dengan kelompok usia lain terutama di negara yang sedang berkembang, dan usia harapan hidup juga meningkat. Kesehatan mulut yang buruk berdampak negatif terhadap kualitas hidup pada usia lanjut, dan membutuhkan program kesehatan mulut secara intensif.METODEPenelitian ini menggunakan rancangan potong silang dan dilaksanakan di kelurahan Cideng, Tomang, dan Jati Pulo. Tigaratus enampuluh delapan lanjut usia (umur > 60), mampu berjalan, mampu berkomunikasi, bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini dambil sebagai sampel. Informasi tentang umur, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, status sosio-ekonomi (penghasilan), dan kualitas hidup telah dikumpulkan oleh 6 orang pewawancara yang sudah dilatih. Status kesehatan mulut dikumpulkan melalui pemeriksaan gigi-mulut oleh 3 orang dokter gigi.HASILIndeks kesehatan gigi (DMFT) rata-rata pada lanjut usia > 70 adalah 15,57 + 10,36, lebih tinggi dibandingkan dengan usia < 70 (12,31 + 9,72). DMFT berhubungan lemah secara bermakna dengan domain persahabatan dan cinta kasih (intimacy) (domain 6) (r=0,151; p<0,05) dan kualitas hidup secara keseluruhan (r=0,135; p<0,05). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kesehatan gigi dan mulut dengan setiap domain kualitas hidup pada lansia.KESIMPULANBerdasarkan tingginya indeks DMFT pada lanjut usia yang berdampak negatif terhadap kualitas hidup, maka diperlukan intervensi yang bertujuan memperbaiki kesehatan mulut.
Clinical manifestations of upper respiratory tract infection in children at Kalideres Community Health Center, West Jakarta Widagdo, Widagdo; Mawardi, Harmon; Gandaputra, Ellen P; Fairuza, Firda; Pou, Rudy; Bukitwetan, Paul
Universa Medicina Vol 26, No 4 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.168-178

Abstract

ntroduction The National Household Health Survey showed that the incidence of upper respiratory tract infection (URI) in Indonesia was high. The objectives of the study were to investigate the clinical manifestations of URI, its bacterial spectrum and sensitivity. MethodsA cross sectional study was carried out involving one hundred children with symptoms of URI i.e. fever, cough and or runny nose. The data of demography, physical sign, hematology, bacterial spectrum and sensitivity were collected. ResultsThe prevalence of URI was higher in male, younger age, smoker family, low educated, low income family, and polluted environment. The manifestations of URI were rhinopharyngitis (52%), pharyngitis (18%), rhinitis (12%), tonsilopharyngitis (10%), and tonsillitis (8%). The isolated bacteria were S. aureus, S. b hemolyticus, K. pneumoniae, C. diphtheriae, S. albus and S. anhemolyticus. S. aureus was higher in male than in female (p<0.01), while S. aureus, S. â hemolyticus, and C. bacterium diphtheriae were higher in preschool age children (p<0.01), and K. pneumoniae were higher in infants (p<0.01). S. aureus, and S. â hemolyticus were higher in children with under-nutrition, while in normal nutrition were of K. pneumonia and C diphtheriae (p<0.01). Most bacteria were intermediate and resistant to fourteen tested antibiotics.ConclusionThe manifestations of URI were rhinopharyngitis (52%), pharyngitis (18%), rhinitis (12%), tonsilopharyngitis (10%), and tonsillitis (8%), each of which could be associated with the complication and accompanying disease. The pathogenic bacterial spectrum of the throat consisted of S. aureus, S. â hemolyticus, K. pneumonia, and C. diphtheriae.
Obesitas sentral, sindroma metabolik dan diabetes melitus tipe dua Pusparini, Pusparini
Universa Medicina Vol 26, No 4 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.195-204

Abstract

Sudah diketahui secara luas bahwa seseorang dengan obesitas mempunyai risiko tinggi untuk mengalami resistensi insulin dan komplikasi metaboliknya seperti diabetes melitus tipe 2 (T2DM), hipertrigliseridemia, penurunan kolesterol high density lipoprotein, hipertensi dan penyakit kardiovaskuler. Akumulasi jaringan adiposa pada bagian tertentu di tubuh seperti di rongga perut menyebabkan peningkatan risiko terjadinya resistensi insulin sampai terjadinya sindroma metabolik. Sindroma metabolik merupakan suatu abnormalitas metabolik yang melibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan serta merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner yang paling penting pada populasi modern. Pengaturan produksi adipositokin berperan penting pada homeostasis metabolisme glukosa dan lipid. Disregulasi produksi adipositokin pada obesitas sentral terlibat langsung pada patogenesis sindroma metabolik. Penurunan berat badan atau pencegahan peningkatan berat badan merupakan cara terbaik mencegah terjadinya obesitas terutama obesitas sentral yang juga merupakan suatu cara mencegah terjadinya T2DM. Edukasi mengenai komplikasi obesitas dan keterlibatan keluarga dalam pengobatan T2DM sangat penting.
Dietary zinc intake and zinc status differences between male and female elderls of South Jakarta community Kusumaratna, Rina K.; Salim, Oktavianus Ch.; Sudharma, Novia I
Universa Medicina Vol 26, No 4 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.179-185

Abstract

IntroductionThe elderly have a greater risk of zinc deficiency compared to younger adults. This condition may be reflected by a lowered zinc intake and reduced zinc absorption in the elderly. The aim of the study was to explore the dietary zinc intake and zinc status differences between male and female elderly.MethodsA cross-sectional study was conducted included eighty-nine free-living subjects, aged above 60 years, apparently healthy and ambulatory. A two day and non consecutive diet record was used to assess energy and nutrient intake of the elderly. It was combined with a semi-quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ), with food model that was also used to quantify the food pattern on each food frequency item. Serum zinc concentrations were measured by using atomic absorption spectrum photometry. ResultsThe total energy intake and normal serum zinc concentration in both genders of free-living elderly were mostly below the recommended dietary allowance. The mean serum zinc concentration did not differ significantly between female (13.7 µmo/l) and male elderly (13.9 µmo/l). Mostly the intake of zinc was below two thirds of the RDA it presented on intake of zinc in males was much less compared to female. Overall, the prevalence of zinc deficiency appeared low among the free-living elderly in South Jakarta.ConclusionsThe prevalence of zinc deficiency was relatively low in healthy elderly. Prevalence of zinc deficiency and zinc intake were lower in female compared to male elderly.
Perlemakan hati non alkoholik Nurman, A
Universa Medicina Vol 26, No 4 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.205-215

Abstract

Spektrum patologi klinik dari perlemakan hati non alkoholik (PHNA) terentang dari simple steatosis sampai non alkoholic steatohepatitis (NASH). Simple steatosis memiliki perjalanan klinik yang relatif jinak, namun NASH dapat berkembang ke sirosis dan karsinoma hepatoseluler. PHNA umumnya asimtomatik dan harus dicurigai pada pasien-pasien dengan obesitas abdominal dan diabetes melitus tipe 2. Peningkatan alanine aminotransferase (ALT) serum dan/atau gambaran perlemakan hati pada USG sering kali merupakan temuan pertama yang mengarahkan diagnosis ke PHNA. Diagnosis PHNA ditegakkan setelah menyingkirkan penyakit hati kronis yang lain; diagnosis definitif hanya dibuat dengan biopsi. Peningkatan ALT umumnya tidak melebihi 5 kali batas atas nilai normal. Adanya ikterus, bilirubinuria dan demam juga menyingkirkan diagnosis PHNA. Sebagian besar steatosis hepatik tidak berkembang menjadi fibrosis atau steato hepatitis, 30-40% akan menjadi fibrosis dalam periode 4 tahun dan +15% akan berkembang menjadi sirosis. Penatalaksanaan PHNA tidak ditargetkan pada hepar saja, melainkan harus holistik, berpusat pada perbaikan resistensi insulin dan gangguan metabolisme terkait, yang dimulai dengan modifikasi gaya hidup. Berat badan harus diturunkan secara bertahap.Vitamin E dan asam ursodeoksikolat diberikan karena dapat menurunkan ALT. Metformin dan/atau rosiglitazone dapat diberikan pada pasien tanpa diabetes yang nyata, karena obat-obat ini tidak menyebabkan hipoglikemia, dan dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Perburukan fungsi hati juga harus dicegah dengan menghindari zat-zat hepatotoksik.
Studi kasus : stroke iskemik dengan infark luas pada pasien laki-laki muda dengan stenosis mitral berat Muljadi, Sendjaja; Sutrisno, Alfred; Lison, Linda
Universa Medicina Vol 26, No 4 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.160-167

Abstract

Latar belakang Meskipun terdapat kecenderungan peningkatan insidens stroke pada usia dewasa muda, namun tetap lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan usia pertengahan dan usia yang lebih tua. Penyebab stroke iskemik pada pasien-pasien usia muda lebih heterogen dibandingkan dengan pasien-pasien yang lebih tua.Deskripsi kasus Kami melaporkan sebuah kasus, seorang laki-laki berusia 39 tahun yang mengalami kejang-kejang selama kurang lebih 30 menit dan terjadi kira-kira 1 jam sebelum pasien tersebut dibawa ke rumah sakit. Dan pada saat itu pasien dalam keadaan somnolen, hasil pemeriksaan dengan pencitraan tomografi komputer kepala (brain CT Scan) saat itu tidak menunjukkan adanya infark. Akan tetapi 12 jam kemudian, dilakukan pemeriksaan pencitraan tomografi komputer kepala yang kedua, ternyata menunjukkan adanya infark yang luas di hemisfer kanan. Pada pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan adanya pelebaran atrium kiri, stenosis mitral pada katup-katup mitral, dengan luas area 0,94 cm2 dan skor mitral 14. Elektro kardiografi (EKG) menunjukkan sinus ritmik.Kesimpulan Pasien tersebut di atas memiliki masalah besar dengan jantungnya dan menyebabkan terjadinya oklusi pada pembuluh darah di otak (pemeriksaan dengan pencitraan tomografi komputer kepala yang kedua menunjukkan adanya infark yang luas). Pasien tersebut akhirnya meninggal setelah menjalani perawatan selama 6 hari di rumah sakit. Prognosis seorang berusia muda dengan kelainan mitral bila menderita stroke iskemik tidak begitu baik.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol. 44 No. 3 (2025): Ahead Of Print Vol. 44 No. 2 (2025) Vol. 44 No. 1 (2025) Vol. 43 No. 3 (2024) Vol. 43 No. 2 (2024) Vol. 43 No. 1 (2024) Vol. 42 No. 3 (2023) Vol. 42 No. 2 (2023) Vol. 42 No. 1 (2023) Vol. 41 No. 3 (2022) Vol. 41 No. 2 (2022) Vol. 41 No. 1 (2022) Vol. 40 No. 3 (2021) Vol. 40 No. 2 (2021) Vol. 40 No. 1 (2021) Vol. 39 No. 3 (2020) Vol 39, No 3 (2020) Vol. 39 No. 2 (2020) Vol 39, No 2 (2020) Vol. 39 No. 1 (2020) Vol 39, No 1 (2020) Vol 38, No 3 (2019) Vol 38, No 2 (2019) Vol 38, No 2 (2019) Vol 38, No 1 (2019) Vol 38, No 1 (2019) Vol 37, No 3 (2018) Vol 37, No 3 (2018) Vol 37, No 2 (2018) Vol. 37 No. 2 (2018) Vol 37, No 2 (2018) Vol 37, No 1 (2018) Vol 37, No 1 (2018) Vol 36, No 3 (2017) Vol. 36 No. 3 (2017) Vol 36, No 3 (2017) Vol 36, No 2 (2017) Vol 36, No 2 (2017) Vol 36, No 1 (2017) Vol 36, No 1 (2017) Vol 35, No 3 (2016) Vol 35, No 3 (2016) Vol 35, No 2 (2016) Vol 35, No 2 (2016) Vol 35, No 1 (2016) Vol 35, No 1 (2016) Vol. 35 No. 1 (2016) Vol 34, No 3 (2015) Vol 34, No 3 (2015) Vol. 34 No. 2 (2015) Vol. 34 No. 1 (2015) Vol. 33 No. 3 (2014) Vol. 33 No. 2 (2014) Vol. 33 No. 1 (2014) Vol. 32 No. 3 (2013) Vol. 32 No. 2 (2013) Vol. 32 No. 1 (2013) Vol. 31 No. 3 (2012) Vol. 31 No. 2 (2012) Vol 31, No 1 (2012) Vol. 31 No. 1 (2012) Vol 31, No 1 (2012) Vol 30, No 3 (2011) Vol 30, No 3 (2011) Vol 30, No 2 (2011) Vol 30, No 2 (2011) Vol 30, No 1 (2011) Vol 30, No 1 (2011) Vol 29, No 3 (2010) Vol 29, No 3 (2010) Vol 29, No 2 (2010) Vol 29, No 2 (2010) Vol 29, No 1 (2010) Vol 29, No 1 (2010) Vol 28, No 3 (2009) Vol 28, No 3 (2009) Vol 28, No 2 (2009) Vol 28, No 2 (2009) Vol 28, No 1 (2009) Vol 28, No 1 (2009) Vol 27, No 4 (2008) Vol 27, No 4 (2008) Vol 27, No 3 (2008) Vol 27, No 3 (2008) Vol 27, No 2 (2008) Vol 27, No 2 (2008) Vol 27, No 1 (2008) Vol 27, No 1 (2008) Vol 26, No 4 (2007) Vol 26, No 4 (2007) Vol 26, No 3 (2007) Vol 26, No 3 (2007) Vol 26, No 2 (2007) Vol 26, No 2 (2007) Vol 26, No 1 (2007) Vol 26, No 1 (2007) More Issue