cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pharmacon@unsrat.ac.id
Editorial Address
Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Science, Sam Ratulangi University, Manado, North Sulawesi, Indonesia, 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
PHARMACON
ISSN : 23022493     EISSN : 27214923     DOI : 10.35799
Core Subject : Health,
Pharmacon is the journal published by Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University, Indonesia (P-ISSN: 2302-2493 E-ISSN: 2721-4923). Pharmacon was established in 2012 and published four times a year. Pharmacon is an open access journal and has been indexed by main indexing Google Scholar, GARUDA, Crossref.
Arjuna Subject : -
Articles 1,131 Documents
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAN FRAKSI KARANG LUNAK (Sarcophyton sp.) DARI PERAIRAN PULAU BANGKA LIKUPANG TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA Staphylococcus aureus, Salmonella tyhpimurium, DAN Candida albicans Eda, Mochamad I.; Wewengkang, Defny S.; Sumantri, Surya
PHARMACON Vol 9, No 3 (2020): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.9.2020.30034

Abstract

ABSTRACTSarcophyton sp. is able to produce bioactive materials, the bioactive material contained in Sarcophyton sp., is sarcophine. The purpose of this study is to find out whether the extracts from soft coral Sarcophyton sp., in Bangka Island waters Likupang performed antimicrobial activity against several pathogenic microbes, such as Staphylococcus aureus, Salmonella typhimurium, and Candida albicans. Samples were extracted by maceration method with ethanol solvent and the fractionation method used was liquid-liquid.The antimicrobial activity testing method used in this study is the Kirby and Bauer disc diffusion method. The results obtained from the antimicrobial activity test on Staphylococcus aureus, fractions of n-hexane with result 8.27mm and fractions of chloroform 8.41mm. In Candida albicans , the n-hexane fraction has an 8.18mm and the chloroform fraction 8.06. While for Salmonella typhimurium has no activity. The conclusion of this study it was found that only some fractions have antimicrobial activity and categorized as moderate, such as the fractions of n-hexane and chloroform that only have moderate inhibiting activity against Stapphylococcus aureus and Candida albicans while for Salmonella typhimurium, the extracts and fractions of Sarcophyton sp., has no activity to the way to inhibit these bacteria. Keywords: Sarcophyton sp., Antimicrobial, Staphylococcus aureus, Salmonella tyhpimurium, Candida albicans ABSTRAK Sarcophyton sp. mampu menghasilkan bahan bioaktif, bahan bioaktif yang terdapat pada Sarcophyton sp adalah sarcophine. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah ekstrak dari Karang Lunak Sarcophyton sp.,di Perairan Pulau Bangka Likupang memiliki aktivitas antimikroba terhadap beberapa mikroba patogen Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, dan Candida albicans. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi dengan pelarut etanol dan metode fraksinasi yang digunakan yaitu fraksinasi cair – cair. Metode pengujian aktivitas antimikroba yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode difusi agar (disc diffusion Kirby and Bauer). Hasil yang didapat dari uji aktivitas antimikroba pada bakteri Staphylococcus aureus, fraksi n-heksan mendapatkan hasil 8.27mm dan pada fraksi kloroform 8.41mm. Pada jamur Candida albicans, fraksi n-heksan mendapatkan hasil 8.18mm dan pada fraksi kloroform 8.06mm, sedangkan pada bakteri Salmonella typhi tidak memiliki aktivitas. Kesimpulan dari penelitian ini, hanya sebagian fraksi yang memiliki aktivitas untuk penghambat antimikroba dengan dikategorikan sedang, seperti pada fraksi n-heksan dan klorofom pada bakteri Stapphylococcus aureus dan jamur Candida albicans, sementara untuk bakteri Salmonella tyhpi ekstrak dan fraksi sampel Karang Lunak Sarcophyton sp. tidak memiliki aktivitas untuk menghambat bakteri tersebut. Kata Kunci : Sarcophyton sp., antimikroba, Staphylococcus aureus, Salmonella tyhpimurium, Candida albicans
GAMBARAN KECEMASAN PASIEN EKSTRAKSI GIGI DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT (RSGM) UNSRAT Yahya, Nurrany Brany
PHARMACON Vol 5, No 1 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.11222

Abstract

GAMBARAN KECEMASAN PASIEN EKSTRAKSI GIGI DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT (RSGM) UNSRAT Nurrany Brany Yahya1), Michael Andreas Leman1), Bernart S.P Hutagalung1) 1) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran, UNSRAT   ABSTRACT Anxiety is a normal response that frequently and experience by everyone when dealing with something that is considered in threatening and can be affect a person’s behavior. Anxiety can occur in various situations and coditions, one of  which is dental anxiety. So that, needed for the approach and good communication from the dentist to the patient to reduce anxiety in order not to cause problems in the dental extractions in Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Unsrat in age category early adults, mid adults and elderly. This type of research is a descriptive with a qualitative approach (individual interviews). This research was conducted in the fourth week in August to the third week of September 2015. Sampling by using total sampling. The results showed that the age category most anxious is early adulthood. Results found also showed that of the 13 sampels, most of which were most worried are female. There are several factors that influence anxiety, but the most influential is the anxiety of samples of the onset of pain when action tooth extraction. Lack of information regarding the action to be performed dental health wokers about dental extractions can also cause anxiety to the patient. Key words: dental Anxiety, tooth extraction, adult patients ABSTRAK Kecemasan merupakan respon normal yang sering terjadi dan dialami semua orang ketika menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Kecemasan dapat terjadi dalam berbagai situasi dan kondisi, salah satunya ialah kecemasan dental (dental anxiety). Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kecemasan pasien ekstraksi gigi di Rumah Sakit Gigi Mulut (RSGM) pada pasien kategori usia dewasa awal (18-40 tahun), dewasa pertengahan (40-60 tahun) dan lanjut usia (< 60 tahun).Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif (wawancara perorangan).Penelitian ini dilakukan pada minggu ke empat dibulan agustus sampai dengan minggu ke tiga dibulan september. Pengambilan sampel dengan menggunakan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan kategori usia yang paling banyak merasa cemas yaitu dewasa awal. Hasil yang ada juga menunjukkan bahwa dari 13 subjek penelitian, sebagian besar yang paling banyak merasa cemas adalah perempuan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan salah satu diantaranya yang paling berpengaruh yakni kecemasan subjek terhadap timbulnya rasa sakit saat dilakukan tindakan pencabutan gigi.Kurangnya informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada subjek mengenai perawatan yang akan dilakukan khususnya ekstraksi gigi juga dapat menjadi salah satu faktor pencetus timbulnya rasa cemas. Kata kunci: kecemasan dental, ektraksi gigi, pasien dewasa
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI AMPAS HASIL PENGOLAHAN SAGU (Metroxylon sagu Rottb) Talapessy, Selvian; Suryanto, Edi; Yudistira, Adithya
PHARMACON Vol 2, No 3 (2013): pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.2.2013.2373

Abstract

ABSTRACTThe study aimed to determine the phenolic content and antioxidant activity of sago wasteprocessing results. Results of processing sago pulp esxtraction was conducted using 1 x 24hour maceration using solvents ethanol with a concentration of 20, 40, 60 and 80%. Phenoliccontent was determined by Folin Ciocalteu method and determination of antioxidant activityusing the DPPH free radical scavengers. The results showed that the extract with the solventconcentration of 40% has a higher total phenolic 83,26 μg/mL followed by solvent extractconcentration of 20, 60 and 80% respectively 70,01; 60,58; 22,04 μg/mL. extract with 60%solvent concentration has free radical scavengers activity the highest of 82,75% followed byconcentration of solvent extracts 80, 20 and 60% are respectively 80,45; 76,62; 62,83%.These results suggest that the processing of sago pulp extract contains phenolic antioxidantsand can be potentially as.Keywords : pulp extract sago precessing results, phenolic compend, antioxidants.
HUBUNGAN ANTARA SUPERVISI DAN PEKERJAAN ITU SENDIRI DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DI BALAI KESEHATAN MATA MASYARAKAT PROVINSI SULAWESI UTARA Sanda, Feiby M.
PHARMACON Vol 5, No 1 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.11245

Abstract

HUBUNGAN ANTARA SUPERVISI DAN PEKERJAAN ITU SENDIRI DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DI BALAI KESEHATAN MATA MASYARAKAT PROVINSI SULAWESI UTARA Feiby Monica Sanda1), Sulaemana Engkeng1), Adisti A, Rumayar1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi ABSTRACT Community Eye Health Center of North Sulawesi Province is a health care institution that can implement intervention specialist medical services and public health effortscan be particularly eye health care. Sipervision and the work it self are all factors that can affect a person’s job statifaction. The purpose of this study was to determine the relationship between supervision and the work it self with the job statisfaction of employees in Community Eye health Center of North Sulawesi Province. This type of method used is analytic survey with cross sectional study involving 47 employes. The data collected was analyzed by univariate and bivariat. Data obtained from kuesioner primary and secondary data obtained from the Center for Community Eye Health profile of North Sulawesi Province. Statistical test used is Chi-square test. The results showed that as many as 28 employees or 59,6% of employees were statisfied and 19 other employees or 40,4% were less stastified. Results of this study suggest a link between supervision and job statisfaction of employees p value of 0.005 (p<0.05) and there was no relionship between the work it self and job statisfaction of employees p value 0.694 (p>0.05). Key words : Job Statisfaction, Supervision, and Job Itself ABSTRAK Balai Kesehatan Mata Masyarakat Provinsi Sulawesi Utara adalah institusi pelayanan kesehatan yang dapat melaksanakan intervensi pelayanan medis spesialistik dan dapat melakukan upaya kesehatan masyarakat khususnya pelayanan kesehatan mata. Supervise dan Pekerjaan Itu Sendiri merupakanfaktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara supervise dan pekerjaan itu sendiri dengan kepuasan kerja pegawai di Balai Kesehatan Mata Masyarakat Provinsi Sulawesi Utara. Metode Penelitian yang digunakan yaitu survey analitik dengan rancangan Cross Sectional Study dengan melibatkan 47 pegwai. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara Univariat dan Bivariat. Data Primer didaptkan dari kuesioner dan data sekunder didapatkan dari profil Balai Kesehatan Mata Masyarakat Provinsi Sulawesi Utara. Uji Statistik yang digunakan adalah uji Chi Square dengan bantuan program computer. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyk 28 pegawai atau 59,6% pegawai merasa puas dan 19 pegawai lainnya atau 40,4% merasa kurang puas. Hasil Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara supervise dengan kepuasan pegawai yaitu p value 0,005 (p<0,05) dan tidak ada hubungan antara pekerjaan itu endiri dengan kepuasan kerja pegawai yaitu p value 0,694 (p>0,05)     Kata Kunci : Kepuasan Kerja, Supervisi, dan Pekerjaan Itu Sendiri  
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TABIR SURYA FRAKSI FENOLIK DARI LIMBAH TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.) Wungkana, Injilia
PHARMACON Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.2.2013.3278

Abstract

The purpose of this study was to determine the antioxidant activity and sunscreens of phenolicfraction of waste corn cobs (Zea mays L.). Corn cob that has been extracted using the winddried reflux for 2 hours. Furthermore corncob extract liquid successively fractionated using nhexane, ethyl acetate, butanol and ethanol 70%. Analysis of total phenolic content, freeradical scavengers activity determination using DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazil) andsunscreen effectiveness by determining in vitro SPF values by spectrophotometric method.The results of this study indicate that the ethyl acetate fraction has a higher content of totalphenolic fraction followed by butanol, 70% ethanol and n-hexane. Total phenolic content of arow is 96.42;35.81;19.18 and 11.52 mg/mL. Ethyl acetate fraction also has a free-radicalscavengers activity is higher than the other factions. The research concludes phenolic fractionof ethyl acetate can act as an antioxidant as well as a sunscreen with the highest SPF valuefollowed fraction 70% ethanol, n-hexane and butanol. The research obtained that phenolicfraction of waste corn cob as antioxidant and sunscreenKey words : Antioxidant, Phenolic fraction, Sunscreen, Waste Corn Cob
UJI EFEK AFRODISIAK EKSTRAK ETANOL BUAH PARE (Momordica charantia L.) TERHADAP LIBIDO TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus) Sarapi, Vini Alvionita
PHARMACON Vol 4, No 3 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.8853

Abstract

UJI EFEK AFRODISIAK EKSTRAK ETANOL BUAH PARE (Momordica charantia L.) TERHADAP LIBIDO TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus) Vini Alvionita Sarapi1), Widdhi Bodhi1), Gayatri Citraningtyas1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115       ABSTRACT   Bitter melon fruit is a plant that used to treat impotence and increased libido but has not been studied scientifically. This research aimed to determine the aphrodisiac effect of ethanol extract bitter melon fruit against libido of male rats and the relationship between extract dose and libido increase in male rats. This research design was experimental laboratory with a completely randomized design. It used 15 male rats so do the female rats. Samples of male rats were divided into 5 groups: K (-) (2 ml distilled water), EEPDose1 (dose extract of 0.035 g / 200 g BW), EEPDose2 (dose extract of 0.07 g / 200 g BW), EEPDosis3 (dose extract of 0.14 g / 200 g BW) and EEPDosis4 (dose extract of 0.28 g / 200 g BW). The research were analyzed using Kruskal-Wallis and Mann-Whitney test to determine the significant differences among treatments. The results showed the ethanol extract of bitter melon fruit has an aphrodisiac effect against libido male rats and 0.28 g / 200 g BW was the optimal dose, 0.14 g / 200 g BW dose of ethanol extract bitter melon was not significant difference with the negative control.   Keywords: Momordica charantia L., aphrodisiac, libido       ABSTRAK   Buah pare merupakan tanaman yang digunakan dalam mengatasi impotensi, meningkatkan libido dan dalam bidang ginekologi akan tetapi belum diteliti secara ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek afrodisiak ekstrak etanol buah pare terhadap libido tikus jantan dan hubungan antara dosis ekstrak terhadap peningkatan libido tikus jantan. Desain penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan rancangan acak lengkap. Sampel yang digunakan tikus putih jantan galur wistar sebanyak 15 ekor dan tikus putih betina sebanyak 15 ekor untuk melihat aktivitas seksual tikus jantan. Sampel tikus jantan dibagi dalam 5 kelompok : K (-) (aquades 2 ml), EEPDosis1 (ekstrak dosis 0,035 g/200 g BB), EEPDosis2 (ekstrak dosis 0,07 g/200 g BB), EEPDosis3 (ekstrak dosis 0,14 g/200 g BB) dan EEPDosis4 (ekstrak dosis 0,28 g/200 g BB). Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol buah pare memiliki efek afrodisiak terhadap libido tikus dan dosis yang paling optimal adalah 0,28 g/200 g BB. Ekstrak etanol buah pare dosis 0,14 g/200 g BB tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan kontrol negatif.   Kata kunci : Momordica charantia L., afrodisiak, libido.  
GAMBARAN KUALITAS BAKTERIOLOGIS DAN KONDISI FISIK SUMUR GALI DI LINGKUNGAN III KELURAHAN MANEMBO-NEMBO TENGAH KECAMATAN MATUARI KOTA BITUNG TAHUN 2015 Hardyanti, Tiya
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12172

Abstract

GAMBARAN KUALITAS BAKTERIOLOGIS DAN KONDISI FISIK SUMUR GALI DI LINGKUNGAN III KELURAHAN MANEMBO-NEMBO TENGAH KECAMATAN MATUARI KOTA BITUNG TAHUN 2015 Tiya Hardyanti1), Grace. D. Kandou 1), Woodford B.S Joseph 1) 1)Fakultas Kesehatan MasyarakatUniversitas Sam Ratulangi, Manado ABSTRACT The drilling well is one of the sources study about water it was supply for people who lives in rural and uban areas. The driliing wells provide water from soil layers that are relatively close to the soil surface, therefore easily contaminated by seepage from manure humans, animals, as well as for domestic households. The Purpose of this study was to to describe the bacteriological quality and physical condition of the wells in the Manembo- Nembo village, neighborhood III District of Bitung in 2015. Methods: This research is a descriptive survey. In this study population was divided into the 15 drilling wells, and the sample size in this study is total population of 15 drilling wells. The result of the study, the bacteriological quality of the 15 wells in the Manembo village, neighborhood III, District of Bitung and physical conditions which include the location of the drilling well, the drilling well lining and floor of the drilling wells doesn’t meet health requirement. Conclusion: that the quality of bacteriological and physical conditions of the drilling wells are not eligible. Suggestion: Through of this research, necessary to do some treatment for the water of the drilling well that are not qualified by the addition of chlorine and should be made an example of making the drilling wells that meet health requirements. Keywords : Bacteriological Quality, Physical Condition, Drilling Well ABSTRAK Sumur gali merupakan salah satu sumber penyediaan air bersih bagi masyarakat di pedesaan maupun perkotaan. Sumur gali menyediakan air yang berasal dari lapisan tanah yang relatif dekat dengan permukaan tanah, oleh karena itu mudah terkontaminasi melalui rembesan yang berasal dari kotoran manusia, hewan, maupun untuk keperluan domestik rumah tangga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kualitas bakteriologis dan kondisi fisik sumur gali di Lingkungan III Kelurahan Manembo- Nembo Tengah Kecamatan Matuari Kota Bitung. Metode: Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif. Populasi dalam penelitian ini terbagi menjadi populasi sumur gali yakni 15 sumur gali , dan jumlah sampel pada penelitian ini adalah total populasi.Hasil. Hasil penelitian, kualitas bakteriologis dari 15 sumur gali di Lingkungan III Kelurahan Manembo – Nembo Tengah Kecamatan Matuari Kota Bitung dan kondisi fisik yang meliputi lokasi sumur, dinding sumur, bibir sumur dan lantai sumur tidak memenuhi syarat  kesehatan. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa kualitas bakteriologis dan kondisi fisik sumur gali tidak memenuhi syarat. Saran: Perlu dilakukan pengolahan air sumur yang tidak memenuhi syarat dengan penambahan kaporit dan sebaiknya dilakukan contoh pembuatan sumur gali yang memenuhi syarat kesehatan. Kata Kunci : Kualitas Bakteriologis, Kondisi Fisik, Sumur Gali  
UJI EFEK ANTIPIRETIK EKSTRAK ETANOL DAUN PRASMAN (Eupatorium triplinerve Vahl.) PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR (Rattus Norvegicus L.) YANG DIINDUKSI VAKSIN DTP HB Kalay, Stefany
PHARMACON Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.3.2014.5362

Abstract

ABSTRACT Prasman leaves (Eupatorium triplinerve Vahl.) empirically efficacious as treatment of fever. This study aims to prove the antipyretic effects of ethanol extract of leaves Prasman against white male rats Wistar strain vaccines induced DTP HB. This study used 15 male rats were divided into 5 groups, namely, negative control (CMC), the treatment group (administration of leaf extracts Prasman 0.03 g/kgBB, 0.06 g/kgBB and 0.12 g/kgBB) and positive control (Paracetamol). Rat fever induced with vaccine DTP HB intramuscularly 0.08 ml/100 KgBB. Rectal temperature of mice was measured every 1 hour for 4 hours after oral administration. The decrease in temperature of mice were analyzed by one-way ANOVA and LSD (α = 0.05%). The results showed that the ethanol extract of the leaves prasman with a dose of 0.03  g/kgBB, 0.06 g/kgBB and 0.12 g/kgBB has an antipyretic effect on white male rats Wistar strain induced vaccine DTP HB.   Key words : Antipyretics, Eupatorium triplinerve Vahl., vaccine  DTP HB       ABSTRAK Daun Prasman (Eupatorium triplinerve Vahl.) secara empiris berkhasiat sebagai  pengobatan demam. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikanefek antipiretik ekstrak etanol daun Prasman terhadap tikus putih jantan galur wistar yang diinduksi vaksin DTPHB. Penelitian ini menggunakan 15 ekor tikus jantan dan dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu, kontrol negatif (CMC), kelompok perlakuan (pemberian ektrak daun Prasman 0,03 g/kgBB, 0,06 g/kgBB dan 0,12 g/kgBB) dan kontrol positif (Parasetamol). Tikus diinduksi demam dengan vaksin DTP HB dosis 0,08 ml/100 gBB secara intramuskular. Suhu rektal tikus diukur setiap 1 jam selama 4 jam setelah pemberian per oral. Penurunan suhu tikus dianalisis dengan uji ANOVA satu arah dan LSD (α = 0,05%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun prasman dengan dosis 0,03 g/kgBB, 0,06 g/kgBB dan 0,12 g/kgBB mempunyai efek antipiretik terhadap  tikus putih jantan galur wistar yang diinduksi vaksin DTP HB.   Kata kunci : Antipiretik, Eupatorium triplinerve Vahl., Vaksin DTP HB
ANGKA KEJADIAN STOMATITIS YANG DIDUGA SEBAGAI DENTURE STOMATITIS PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN DI KELURAHAN BATU KOTA MANADO Lahama, Lingkan
PHARMACON Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.4.2015.10195

Abstract

ANGKA KEJADIAN STOMATITIS YANG DIDUGA SEBAGAI DENTURE STOMATITIS PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN DI KELURAHAN BATU KOTA MANADO Lingkan Lahama1), Vonny N.S Wowor1), Olivia Amelia Waworuntu2) 1) Program Studi Pendidikan Dokter  Gigi Fakultas Kedokteran 2Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran ABSTRACT A long and continuous usage of denture and the ignorance of oral hygiene can cause inflammation to mucosa tissues under the denture. One of the damages that can happen is denture stomatitis. Denture stomatitis is an inflammatory on the mouth mucosa caused by the usage of denture. This is a kind of descriptive study with cross-sectional design, which the population are 81 samples of Batu Kota society who are using denture. The data is gained by interview and by filling the examination form. The way of taking sample is by puposive sampling method. The result of this study shows a high Percentage that is 83.95% respondents who are expected have denture stomatitis, which 40.74% respondents have been using denture for more than 5 years, 83.5% respondents are still using the denture while sleeping at night, and 64.19% respondents have 3 clinical symptom of denture stomatitis. The conclution of this study is that stomatitis which is expected as denture stomatitis is suffered by most of the removable denture users in Batu Kota.   Keyword : insidensi, denture stomatitis   ABSTRAK Penggunaan gigi tiruan yang lama dan terus menerus serta mengabaikan kebersihan rongga mulut bisa menyebabkan terjadinya peradangan pada jaringan mukosa di bawah gigi tiruan. Salah satu dampak buruk yang dapat terjadi yakni denture stomatitis. Denture stomatitis merupakan keradangan pada mukosa mulut yang diakibatkan oleh pemakaian gigi tiruan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan di Kelurahan Batu Kota. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross-sectional study., dimana populasi penelitian yaitu  masyarakat Kelurahan Batu Kota yang menggunakan gigi tiruan lepasan dengan jumlah sampel sebanyak 81 sampel. Data diperoleh melalui wawancara dan pengisian formulir pemeriksaan. Cara pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian yang tinggi yaitu sebesar 83,95% responden yang diduga menderita denture stomatitis, dimana 40,74% responden telah menggunakan gigi tiruan lebih dari 5 tahun, 83,95% responden yang tetap menggunakan gigi tiruannya saat tidur dimalam hari, dan 64,19% responden memiliki 3 gejala klinis denture stomatitis. Kesimpulan dari penelitian ini stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis diderita oleh sebagian besar pengguna gigi tiruan lepasan di kelurahan Batu Kota.   Kata Kunci : angka kejadian, denture stomatitis         PENDAHULUAN Gigi merupakan salah satu bagian tubuh yang tergolong penting bagi manusia. Gigi dengan bentuknya yang berbeda-beda memiliki tiga fungsi utama, yaitu mastikasi (pengunyahan), estetika dan fonetik (fungsi bicara). Hilangnya gigi dapat menimbulkan masalah atau gangguan pada fungsi tersebut. Gigi yang hilang dan tidak digantikan dapat menyebabkan seseorang tidak bisa mengunyah makanan dengan baik serta kemampuan berbicara terganggu.  Kehilangan gigi juga dapat menganggu estetik atau penampilan seseorang, sehingga banyak orang merasa tidak nyaman bahkan kehilangan rasa percaya dirinya. Pada kasus kehilangan gigi baik pada rahang atas maupun rahang bawah dapat menggunakan gigi tiruan sebagai penggantinya.1,2 Data survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan tahun 2010 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang mendapat pelayanan pencabutan gigi sebesar 79,6%. Kondisi ini menggambarkan kebutuhan akan pembuatan gigi tiruan. Gigi tiruan dibuat untuk mengatasi gigi yang hilang atau rusak. Tujuan pembuatan gigi tiruan, baik itu tiruan sebagian lepasan, gigi tiruan cekat maupun gigi tiruan lengkap pada hakekatnya untuk memperbaiki fungsi pengunyahan, pengucapan, estetis, menjaga kesehatan jaringan serta mencegah kerusakan lebih lanjut dari struktur organ mulut. 3,4 Masyarakat Indonesia pada umumnya menggunakan gigi tiruan lepasan, dan hanya sebagian kecil yang menggunakan gigi tiruan cekat. Gigi tiruan lepasan yang umum digunakan berupa gigi tiruan berbasis akrilik. Gigi tiruan ini memiliki keuntungan dari segi estetik karena basisnya memiliki warna serupa dengan mukosa mulut, tetapi di sisi lain memiliki kekurangan sebagai akibat dari bahan basisnya. Basis gigi tiruan akrilik memiliki sifat porus karena pori-porinya yang banyak dan dapat menyerap cairan mulut. Sifat porositasnya menyebabkan mudah terjadi akumulasi sisa makanan dan plak, yang dapat berdampak pada kesehatan jaringan mukosa di bawah gigi tiruan. Pada pemakaian gigi tiruan yang lama dan terus-menerus serta mengabaikan kebersihan rongga mulut bisa menyebabkan terjadinya peradangan pada jaringan mukosa di bawah gigi tiruan. 5 Denture stomatitis adalah keradangan pada mukosa mulut yang diakibatkan oleh pemakaian gigi tiruan. Tanda khasnya berupa erythema, edema dan berwarna lebih merah dari jaringan sekitarnya. Intensitas pemakaian yang terus-menerus sepanjang hari atau gigi tiruan yang tidak pernah dilepas selama bertahun-tahun antara lain menjadi penyebab terjadinya inflamasi atau denture stomatitis pada rongga mulut.  Prevalensi denture stomatitis di Indonesia cukup tinggi meskipun belum  ada data resmi dari pemerintah. Menurut penelitian oleh Marwati pada tahun 2003 hampir 50% penderita yang memakai gigi tiruan dilaporkan terdeteksi candida albicans sedangkan penelitian oleh Sudarmawan pada tahun 2009 dinyatakan bahwa 32,3% dari 30 pemakai gigi tiruan terdeteksi adanya candida albicans yang merupakan salah satu penyebab utama terjadinya denture stomatitis.5,6,7 Kebersihan gigi dan mulut yang kurang terjaga pada pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik memiliki potensi besar terbentuknya plak pada basis gigi tiruan yang menghadap ke mukosa mulut serta berkembangnya mikroorganisme lainnya seperti jamur candida albicans sebagai penyebab utama denture stomatitis. Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik, mengingat pengguna gigi tiruan jenis ini cukup banyak di masyarakat. Penulis memilih lokasi kelurahan Batu Kota kecamatan Malalayang Manado sebagai lokasi penelitian, oleh karena  sudah pernah ada penelitian sebelumnya pada pengguna gigi tiruan ditempat ini tetapi bukan tentang denture stomatitis, dan memudahkan penulis dari segi waktu, biaya dan keterjangkauan.       METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional study. Penelitian ini dilakukan pada suatu waktu tertentu dan hasil penelitian yang didapatkan hanya menggambarkan atau mendeskripsikan suatu situasi, dalam hal ini angka kejadian stomatitis yang diduga denture stomatitis. Penelitian ini dilakukan dikelurahan Batu kota Kecamatan Malalayang Manado. Penelitian ini dilakukan selama bulan Juli sampai bulan September tahun 2015. Populasi dalam penelitian ini ialah pasien pengguna gigi tiruan di kelurahan Batu kota Kecamatan Malalayang yang diperoleh berdasarkan perhitungan prevalensi pengguna gigi tiruan di Sulawesi Utara sebesar 7,1% didapatkan 355 orang dari 5804 jiwa. Sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 81 sampel yang didapatkan dengan menggunakan rumus slovin : N n   = N (d)2 + 1 Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling method yakni teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan criteria inklusi dan ekslusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu menggunakan gigi tiruan minimal 1 tahun, bersedia dan sukarela untuk menjadi subjek dalam penelitian, bersifat kooperatif selama pengambilan data. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini yaitu Sampel yang memiliki penyakit sistemik, tidak bersedia menandatangani informed consent. Variabel penelitian ini yaitu angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis. Angka kejadian stomatitis, yaitu banyaknya kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada masyarakat pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik di kelurahan Batu Kota kecamatan Malalayang Manado pada tahun 2015.  Stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis, yaitu stomatitis yang terdapat pada jaringan mukosa di bawah basis gigi tiruan yang digunakan responden yang diperkirakan sebagai denture stomatitis berdasarkan tanda-tanda atau gejala klinis yang nampak berupa jaringan mukosa mulut di bawah gigi tiruan lepasan berwarna merah terang, pembesaran pada permukaan mukosa di bawah gigi tiruan, terdapat lesi berupa bintik-bintik putih yang berbatas jelas pada permukaan mukosa di bawah basis gigi tiruan, gigi tiruan lepasan berbasis akrilik, yaitu gigi tiruan lepasan yang basisnya terbuat dari bahan akrilik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yakni formulir pemeriksaan yang dipadukan dengan wawancara. Pengumpulan data ini dibagi dari data primer diperoleh secara langsung dari reponden melalui wawancara dan menggunakan formulir pemeriksaan pada masyarakat di kelurahan Batu Kota yang langsung ditemui di rumah masing-masing, data sekunder diperoleh dari profil kelurahan Batu Kota berupa identitas , jaga dan jumlah masyarakat. Data diolah menggunakan Microsoft Excel kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. HASIL Responden dalam penelitian ini dibedakan menurut jenis kelamin, usia, lamanya pemakaian, frekuensi pembersihan gigi tiruan, waktu pembersihan gigi tiruan serta cara pemakaiannya.     Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin. Jenis kelamin Jumlah (n) Persentase (%) Laki-laki 18 22,23 Perempuan 63 77,77 Total 81 100   Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat jumlah terbanyak berjenis kelamin perempuan (77,77%) responden.   Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia. Usia (tahun) Jumlah (n) Persentase (%) 25-34 6 7,41 35-44 21 25,93 45-54 42 51,85 > 55 12 14,81 Total 81 100   Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa responden terbanyak berusia 45-54 tahun (51,85% ) responden. Tabel 3. Distribusi frekuensi responden berdasarkan lama pemakaian gigi tiruan. Lama pemakaian (tahun) Jumlah (n) Persentase (%) < 5 17 20,99 5-10 33 40,74 11-15 24 29,63 > 15 7 8,64 Total 81 100   Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa responden yang menggunakan gigi tiruan lepasan dengan jumlah terbanyak  5-10 tahun berjumlah 33 responden (40,74%)   Tabel 4. Distribusi frekuensi responden berdasarkan frekuensi pembersihan gigi tiruan dibersihkan. Frekuensi Pembersihan Gigi Tiruan Jumlah (n) Persentase (%) 1 kali (sehari) - 0 2 kali (sehari) 26 32,10 3 kali (sehari) 21 25,92 > 3 kali (sehari) 34 41,98 Total 81 100     Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa responden terbanyak (41,97%) membersihkan  gigi tiruan sebanyak  > 3 kali sehari.   Tabel 5. Distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu pembersihan gigi tiruan. Waktu Pembersihan Gigi Tiruan Jumlah (n) Persentase (%) Sebelum makan 53 65,43 Sesudah makan 28 34,57 Total 81 100   Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa responden yang membersihkan gigi tiruannya sebelum makan berjumlah 53 responden (65,43%) dan yang membersihkan gigi tiruannya sesudah makan berjumlah 28 responden (34,57%).   Tabel 6. Distribusi frekuensi responden berdasarkan cara pemakaian gigi tiruan. Cara pemakaian Jumlah (n) Persentase (%) Terus menerus tanpa dilepas 68 83,95 Dilepas saat tidur 13 16,05 Total 81 100     Data pada Tabel 6 menunjukkan bahwa responden yang menggunakan gigi tiruan secara terus-menerus tanpa dilepas saat tidur berjumlah 68 responden (83,95%) dan responden yang melepas gigi tiruan saat tidur berjumlah 13 responden (16,05%). Angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis Tabel 7 hingga Tabel 9  menyajikan distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis gejala klinis dan jumlah gejala klinis stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis, serta distribusi frekuensi responden berdasarkan stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis.   Tabel 7. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis gejala klinis stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis Gejala klinis Jumlah (n) Persentase(%) Mukosa di bawah gigi tiruan berwarna merah terang 68 83,95   Pembesaran permukaan mukosa di bawah gigi tiruan 47 58,02   Terdapat lesi berupa bintik-bintik putih dan berbatas jelas di bawah gigi tiruan 48 59,25   Adanya rasa terbakar pada mukosa mulut 3 3,70   Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa gejala klinis terbanyak berupa jaringan dibawah gigi tiruan berwarna merah terang berjumlah 68 responden (83,95%).   Tabel 8. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jumlah gejala klinis stomatitis yang diduga denture stomatitis Gejala klinis Jumlah (n) Persentase (%) Memiliki 4 gejala klinis 16 19,75 Memiliki 3 gejala klinis 52 64,19 Memiliki 2 gejala klinis 14 17,28 Memiliki 1 gejala klinis 4 4,93 Total 81 100   Data pada Tabel 8 menunjukkan bahwa responden terbanyak (64,19%) memiliki 3 gejala klinis.         Tabel 9. Distribusi frekuensi responden berdasarkan stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis yang diderita. Stomatitis yang diduga Denture Stomatitis Jumlah (n) Persentase (%)   Ya 68 83,95 Tidak 13 16,05 Total 81 100   Data pada Tabel 9 menunjukkan bahwa responden yang diduga menderita stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis berjumlah 68 responden (83,95%) dan yang bukan denture stomatitis berjumlah 13 responden (16,05%).   PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan tentang angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan lepasan akrilik di kelurahan Batu Kota kecamatan Malalayang Manado, diperoleh responden terbanyak berjenis kelamin perempuan yaitu berjumlah 63 responden atau 77,77%, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki hanya berjumlah 18 responden atau 22,23% (Tabel 1). Banyaknya responden yang berjenis kelamin perempuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada populasi yang diteliti ditemukan banyak perempuan yang menggunakan gigi tiruan lepasan. Penulis berpendapat bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan ditemukan lebih banyak menggunakan gigi tiruan, oleh karena perempuan cenderung lebih memperhatikan penampilan dibandingkan laki-laki. Pemakaian gigi tiruan merupakan salah satu cara untuk memperbaiki penampilan dari segi estetik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Baran yang menyatakan pengguna gigi tiruan lebih banyak pada perempuan karena perempuan cenderung lebih mementingkan estetis dari pada laki-laki.26 Pada penelitian ini juga diperoleh hasil yaitu responden terbanyak berada pada rentang usia 45-54 tahun yaitu berjumlah 51,85% (Tabel 2). Menurut penulis banyaknya responden pada rentang usia ini yang mengalami kehilangan gigi, karena semakin bertambah usia seseorang maka gigi geligi juga akan semakin rentan terhadap kerusakan, karena lebih banyak digunakan atau difungsikan. Pendapat ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin bertambahnya usia, maka semakin banyak pula jumlah gigi yang hilang. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan fisiologis pada proses penuaan jaringan yang mengakibatkan penyusutan tulang alveolar serta kondisi gigi yang mudah tanggal akibat resobrsi tulang alveolar.27 Di sisi lain kelompok usia tersebut masih tergolong usia produktif yang membutuhkan kesehatan serta penampilan yang baik untuk melakukan aktivitas. Gambaran karakteristik responden berkaitan dengan lamanya pemakaian gigi tiruan, menunjukkan hasil 40,74% telah menggunakan gigi tiruan selama 5-10 tahun (Tabel 3). Penulis berpendapat bahwa lamanya pemakaian gigi tiruan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya denture stomatitis, terlebih pada responden yang kurang memperhatikan kebersihan gigi dan mulut. Penelitian sebelumnya oleh Hardiyanti di FKG UNHAS membuktikan adanya hubungan lama penggunaan gigi tiruan terhadap terjadinya denture stomatitis.28 Hasil penelitian pada Tabel 4 memperlihatkan 41,98% responden  (terbanyak) memiliki karakteristik melakukan pembersihan gigi tiruan > 3 kali sehari. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden sudah memiliki perilaku yang baik berkaitan dengan frekuensi pembersihan gigi tiruan yang digunakan. Namun  hal ini belum dapat menjamin kondisi kebersihan rongga mulut sudah dalam keadaan baik, karena kebersihan rongga mulut tidak hanya ditentukan dari frekuensi pembersihan gigi dan mulut termasuk gigi tiruan yang digunakan. Kebersihan gigi dan mulut juga ditentukan oleh waktu pembersihan dan cara pembersihan yang dilakukan, dalam hal ini penyikatan gigi yang dilakukan. Pendapat ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Barbosa, yang menyatakan bahwa cara (kualitas) pembersihan gigi tiruan lebih penting dari pada frekuensi pembersihan gigi tiruannya.29 Hasil penelitian tentang karakteristik responden berdasarkan waktu pembersihan, menunjukkan 65,43% responden membersihkan gigi tiruan sebelum makan dan 34,57% responden membersihkan gigi tiruan sesudah makan (Tabel 5). Penulis berpendapat bahwa sebagian besar responden belum membersihkan gigi tiruan pada waktu yang tepat, di mana hal ini dapat meningkatkan resiko terjadinya denture stomatitis. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Sipayung yang menyatakan bahwa waktu yang baik untuk membersihkan gigi tiruan seharusnya sesudah makan. Tujuan pembersihan gigi tiruan sebenarnya untuk membersihkan gigi tiruan dari sisa makanan yang dapat menyebabkan penumpukan plak pada basis gigi tiruan yang berpengaruh pada peningkatan resiko terjadinya denture stomatitis.30 Berdasarkan data pada Tabel 6 diperoleh gambaran karakteristik responden tentang cara pemakaian gigi tiruan. Sebanyak 83,95% responden memakai gigi tiruan secara terus menerus tanpa dilepas, sedangkan hanya 16,05% responden melepas gigi tiruan saat tidur. Penulis berpendapat bahwa sebagian besar responden belum mengetahui cara pemakaian gigi tiruan yang baik, di mana hal ini juga turut memengaruhi resiko terjadinya denture stomatitis. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kebersihan rongga mulut  yang kurang baik serta pemakaian gigi tiruan secara terus menerus tanpa dilepas dapat menjadi tempat yang sangat rentan bagi pertumbuhan mikroorganisme. Pemakaian gigi tiruan secara terus menerus sepanjang hari tanpa dilepas merupakan pemicu terjadinya stomatitis yang seringkali merupakan kandidiasis atrofik kronis. Penyebab stomatitis ini adalah jamur candida.31 Menurut penelitian Elizabeth ditemukan penyebab terbesar terjadinya denture stomatitis adalah jamur candida albicans. Penggunaan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik merupakan salah satu faktor resiko peningkatan  jumlah candida albicans dalam rongga mulut, terlebih pada pengguna gigi tiruan yang kurang memperhatikan kebersihan rongga mulut. Jamur ini merupakan flora normal dalam rongga mulut, namun pada kondisi tertentu dapat mengalami peningkatan dan bersifat patogen.15,16,17 Pada Tabel 7 tentang gejala klinis stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis, diperoleh tanda-tanda klinis yang paling banyak terlihat (83,95%), yaitu berupa jaringan mulut di bawah gigi tiruan responden berwarna merah terang. Tanda ini merupakan salah satu ciri yang menggambarkan adanya radang (inflamasi) pada mukosa di bawah gigi tiruan. Tanda-tanda utama radang berupa rubor (kemerahan), calor (panas), dolor (rasa sakit), tumor (pembengkakan) dan function laesa (perubahan fungsi). Umumnya rubor (kemerahan) merupakan hal pertama yang terlihat pada daerah yang mengalami peradangan, oleh karena terjadinya peningkatan suplai darah ke daerah yang mengalami peradangan.32 Pada keadaan saat terjadi peradangan terjadi juga pembesaran mukosa (tumor) yang juga merupakan salah satu ciri adanya radang. Pada penelitian ini 58,02% responden juga mengalami pembesaran pada mukosa di bawah basis gigi tiruan. Pembesaran ini merupakan salah satu ciri adanya radang pada lokasi tersebut. Salah satu penyebabnya adalah pengiriman cairan dan sel-sel sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial dan oleh adanya hiperemi.32,33 Pada penelitian ini ditemukan juga sebanyak 59,25% responden   memiliki lesi berupa bintik-bintik putih pada permukaan mukosa yang tertutup gigi tiruan dan berbatas jelas. Menurut penulis, hal ini dapat dikaitkan dengan kondisi kebersihan mulut yang buruk. Saat penelitian ditemukan gambaran klinis rongga mulut responden umumnya kurang baik. Kondisi kebersihan rongga mulut yang kurang baik bisa berdampak pada terjadinya infeksi candida albicans. Munculnya lesi berupa bintik-bintik atau bercak putih berbatas jelas pada mukosa mulut yang tidak dapat dihapus atau diangkat, menurut penulis  merupakan tanda adanya infeksi jamur. Pendapat ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Gimon di PSPDG UNSRAT yang menyatakan bahwa adanya lesi putih yang berbatas jelas di bawah gigi tiruan merupakan tanda klinis terjadinya denture stomatitis.34 Candida albicans sebagai flora normal dalam rongga mulut dapat menyebabkan infeksi jika ada faktor predisposisi. Faktor prediposisinya adalah daya tahan jaringan setempat yang mengalami iritasi kronis karena pemakaian gigi tiruan lepasan. Permukaan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik yang kasar, serta adanya porositas pada permukaannya mendukung terjadinya iritasi kronis pada muoksa di bawah basis gigi tiruan. Keadaan ini dapat diperparah dengan  kebersihan mulut yang kurang baik akibat penumpukan plak sehingga menyebabkan inflamasi yang sifatnya kronis.6,12,35 Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 64,19% responden memiliki 3 (tiga)  gejala klinis denture stomatitis. Kondisi ini memperkuat dugaan penulis bahwa terjadinya denture stomatitis dipicu oleh lamanya penggunaan gigi tiruan, frekuensi pembersihan gigi tiruan dan waktu pembersihan gigi tiruan yang tidak tepat yang dapat mempengaruhi terjadinya infeksi pada rongga mulut. Selain itu, cara pembersihan gigi tiruan dan pemakaian gigi tiruan secara terus menerus dapat berpengaruh pada terjadinya inflamasi yang juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya denture stomatitis. Berdasarkan hasil penelitian ini didapati angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada responden yang diteliti sebanyak 83,95%. Angka ini didasarkan jumlah gejala klinis yang didapati pada responden, dimana responden yang minimal memiliki 3 gejala klinis didiagnosa sebagai penderita denture stomatitis. Besarnya angka kejadian ini menurut penulis oleh karena sebagian besar responden telah menggunakan gigi tiruannya minimal 5 tahun. Di samping itu waktu pembersihan yang salah, cara pembersihan yang kurang tepat dan pemakaian gigi tiruan secara terus menerus mempengaruhi resiko terjadinya denture stomatitis. Keterbatasan penelitian ini yakni diagnosa ditegakkan tanpa adanya pemeriksaan mikrobiologis swab dan hanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang tampak.   KESIMPULAN Angka kejadian stomatitis yang diduga sebagai denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan dikelurahan Batu Kota pada tahun 2015 berjumlah 68 (83,95%). SARAN Bagi Pemerintah Pemerintah dalam hal ini yakni Dinas Kesehatan, harus memperhatikan lagi lebih lanjut derajat kesehatan gigi dan mulut, khususnya pada pasien pengguna gigi tiruan, melalui program-program peningkatan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat, dan juga penyediaan sarana dan prasarana untuk menunjang pelaksanaan program tersebut. Bagi pengguna gigi tiruan Diharapkan dapat lebih menjaga kesehatan dan kebersihan gigi dan mulut dalam penggunaan gigi tiruan, karena akan memberikan dampak yang baik kepada kesehatan dan pemeliharaan jaringan rongga mulut.     Bagi Mahasiswa Diharapkan dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya.   DAFTAR PUSTAKA Gunadi HA, Margo A, Burhan LK, Suryatenggara F, Setiabudi I. Buku ajar ilmu geligi tiruan sebagian lepasan jilid 1.Jakarta: Hipokrates; 1991. h. 30-50, 134-142 Harshanur I.W. Buku ajar anatomi gigi. Jakarta: EGC, 1991. h. 28-30. Tarigan S. Pasien prostodonsia lanjut usia: Beberapa pertimbangan dalam  perawatan [skripsi] Universitas Sumatera Utara. 2005. Agtini DM. Presentase Pengguna Protesa di indonesia. [serial online] 2010; [diakses pada 11 maret 2014]. Diambil pada: URL: http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/viewFile/782/870 Sugianitri NI. Ekstrak biji buah pinang (areca catechu L.) dapat menghambat pertumbuhan koloni candida albicans secara in vitro pada resin akrilik heat cured. [thesis]. Bali. Universitas Udayana. 2011Dental School University of Milan. Denture related stomatitis. 2005. http://www.eaom.net/app/prvt/VediNotizia.d/Notizia-72Bram H. Gigi tiruan sebagian lepasan. [serial online] 2012. [diakses pada 12 maret 2015]. Diambil dari: URL: http://hanifbram.wordpress.com/2013/02/04/gigi-tiruan-sebagian-lepasan/Petersen PE, Yamamoto T. Improving the oral health of older people: the approach of the WHO Global oral health programme. Community dent oral epidemologi 2005; 3;81-92Barbeu J, Seguin J, Goulet JP, et al. Reassesing the oresence of candida albicans in denture stomatitis, streptococcus mutans and candida albicans. Journal of oral rehabilitation 2004; 31: 453-9Shay K. Oral infection in the elderly-part II: fungal and viral infections; systemic impact of oral bacteria infectio. Clinical Geriatrics 2006; 14: 37-45Fernatubun CA. Gambaran Kerusakan Gigi Penyangga pada Pengguna Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Di Kelurahan Batu Kota. Manado. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. 2014.Baran I, Nalcaci R. Self-repoted deture hygiene habbits and oral issue condition of complete denture wearers. Arch Gear 2009; 49 (2); 237-41.Rahardjo TB. Antisipasi pelayanan prostodonsia sehubungan dengan peningkatan populasi lansia tahun 2020. Kumpulan makalah KPPIKG X. 1994 : 4 111-4. Hardiyanti AR. Hubungan lama pemakaian gigi tiruan penuh terhadap terjadinya denture stomatitis pada penderita di RSGMP drg.Hj.Halima.Makasar. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanudin. 2012.Barbosa LC, Ferreira MRM, Calabrich CFC, Viana AC, de Lemons MCL, Lauria RA. Edentulous patiens knowledge of dental hygiene and care of prostheses. Gredontology 2008; 25: 99-106.Sipayung BI. Kebiasaan memelihara kebersihan gigi tiruan pada masyarakat pemakai gigi tiruan sebagian lepasan di kelurahan tanjung rejo kejamatan medan. Universitas Sumatera Utara. 2012.Sato M. Tsuchiya H, Akagiri M, Takagi N, Iinuma M. Growth inhibition of oral bacteria related to denture stomatitis by anti-candidal chalcones. Australian dental journal 1997; 42 (5); 343-6.Shafie FM. Mekanisme terjadinya proses inflamasi. [serial online] 2011; [diakses pada 14 agustus 2015]. Diambil dari : URL : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24568/3/Chapter%20II.pdfAli T. Tanda-tanda terjadinya inflamasi. [serial online] 2011; [diakses pada 14 agustus 2015]. Diambil dari : URL : http://dentosca.wordpress.com/2011/04/17/radang-inflamasi/Gimon FI. Gambaran lesi yang diduga sebagai denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan lepasan akrilik di desa Treman kecamatan Kauditan. PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Manado. 2014.Ernawaiti DS. Kelainan jaringan lunak rongga mulut akibat proses menua. Dental Journal. 1997; 30 (3) : 111-4
Pengaruh Jus Buah Apel Merah (Pyrus malus L.) Terhadap Kadar Kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) Darah Tikus Putih Jantan Galur Wistar (Rattus norvegicus) Nelwan, Gabriel N; Wullur, Adeanne C; Bodhi, Widdhi
PHARMACON Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.1.2012.511

Abstract

The aims of this research were to study the effect of red apple juice (Pyrus malus L.)on Blood HDL cholesterol (High Density Lipoprotein) of white male mice strain wistar(Rattus norvegicus).This research using experimental method,and Pre and Post testRandomized Controlled Group Design. The subjects in these research were 25 mices, whichpossess 180-200g weight. Mices were divided into 5 groups, namely negative control(aquadest), positive control (Simvastatin) and Pyrus malus juice treatments concentration 2ml per day treatment (P1), 4 ml/day treatment (P2) and 8 ml/day treatment (P3). Every groupconsists of five mices.Treatment starts by feds mices with high content of lipids diet for tendays.At day eleven, all mices were analyzedits HDL cholesterol (pre-test).Thenall miceswere feds with high content of lipids diet and its treatment.After ten days of treatment, posttestwere conducted.Data were analyzed using spss ver.19. The differences betweentreatmentswere analyzed usingone way ANOVA. The results shows that 8 ml/day Pyrusmalus juice significantly increase HDL cholesterol of white male wistar(p<0,05). Pyrusmalus juice(P3)possess activity as simvastatin.Keywords: Pyrus malus L., Rattus norvegicus L., HDL cholesterol

Page 70 of 114 | Total Record : 1131


Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): PHARMACON Vol. 13 No. 3 (2024): PHARMACON Vol. 13 No. 2 (2024): PHARMACON Vol. 13 No. 1 (2024): PHARMACON Vol. 12 No. 3 (2023): PHARMACON Vol. 12 No. 2 (2023): PHARMACON Vol. 12 No. 1 (2023): PHARMACON Vol. 11 No. 4 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 3 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 2 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 1 (2022): PHARMACON Vol. 10 No. 4 (2021): PHARMACON Vol 10, No 3 (2021): PHARMACON Vol 10, No 2 (2021): PHARMACON Vol 10, No 1 (2021): PHARMACON Vol 9, No 4 (2020): PHARMACON Vol 9, No 3 (2020): PHARMACON Vol 9, No 2 (2020): PHARMACON Vol 9, No 1 (2020): PHARMACON Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 4 (2019): PHARMACON Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 3 (2019): PHARMACON Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 2 (2019): PHARMACON Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019): Pharmacon Vol 7, No 4 (2018): Pharmacon Vol 7, No 3 (2018): Pharmacon Vol 7, No 2 (2018): Pharmacon Vol 7, No 1 (2018): Pharmacon Vol 6, No 4 (2017): Pharmacon Vol 6, No 3 (2017): Pharmacon Vol 6, No 2 (2017): Pharmacon Vol 6, No 1 (2017): Pharmacon Vol 5, No 4 (2016): Pharmacon Vol 5, No 3 (2016): Pharmacon Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon Vol 5, No 1 (2016): Pharmacon Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon Vol 4, No 3 (2015): Pharmacon Vol 4, No 1 (2015): pharmacon Vol 3, No 4 (2014): pharmacon Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013): pharmacon Vol 2, No 2 (2013): pharmacon Vol 2, No 1 (2013): pharmacon Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue