cover
Contact Name
Andri Restiyadi
Contact Email
sangkhakala.balarsumut@kemdikbud.go.id
Phone
+6282160904164
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Balai Arkeologi Sumatera Utara Jalan Seroja Raya, Gang Arkeologi No. 1, Tanjung Selamat, Medan Tuntungan, Medan 20134
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Berkala Arkeologi SANGKHAKALA
ISSN : 14103974     EISSN : 25808907     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
"SANGKHAKALA" refers to the shell horns that blown regularly to convey certain messages. In accordance with the meaning, this journal expected to become an instrument in the dissemination of archaeological information to the public which is published on an ongoing basis. Berkala Arkeologi Sangkhakala is a peer-reviewed journal published biannual by the Balai Arkeologi Sumatera Utara in May and November. The first edition was published in 1997 and began to be published online in an e-journal form using the Open Journal System tool in 2015. Berkala Arkeologi Sangkhakala aims to publish research papers, reviews and studies covering the disciplines of archeology, anthropology, history, ethnography, and culture in general.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 15 No 1 (2012)" : 9 Documents clear
Jejak Teknik Pemahatan Relife di Biara Mangaledang, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara Andri Restiyadi
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2616.105 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.133

Abstract

AbstractPadang Lawas is the largest Hindu-Buddha complex site in North Sumatra that includes Padang Lawas and North Padang Lawas districts. Biara Mangaledang, an exciting site in Padang Lawas, indicates the traces of stone relief work. The inductive frame of thought will reveal an answer to the subject matter by comparing it to a similar finding of Karmawibangga relief of Borobudur Temple, Central Java.AbstrakPadang Lawas merupakan kompleks situs bercorak Hindu-Buddha terbesar di Sumatera Utara yang wilayahnya meliputi Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara. Salah satu situs menarik di Padang Lawas adalah Biara Mangaledang berkaitan dengan adanya indikasi jejak pengerjaan relief pada batu. Melalui kerangka pikir induktif akan diungkapkan jawaban atas permasalahan tersebut dengan membandingkan temuan serupa di relief Karmawibangga di Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Obyek-Obyek Ideofak dari Situs Kota Cina: Refleksi Kehidupan Religi Penghuninya Ery Soedewo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4281.646 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.138

Abstract

AbstractThe variety of aspects of life of the people settling in the Kota Cina in the past is reflected through the archaeological data gathered through a number of observations and people findings. One of the aspects revealed is the religious aspect. The existing diverged ideofac indicates the diversified religius background as well as the people. The Hindus (Siva and VaisnavaI, Buddhists, and Animists coexisted in harmony in the Kota Cina in its heydey as an international port.AbstakRagam aspek kehidupan manusia pendukung peradaban Kota Cina di masa lalu tercermin pada data arkeologis yang dihimpun melalui sejumlah penelitian dan temuan masyarakat. Salah satu aspek yang terungkap adalah kehidupan religinya. Keragaman ideofak yang ada mencerminkan keragaman latar belakang religinya, sekaligus asal pendukung budayanya. Penganut Hindu (Śaiwa dan Waiṣṇawa), Buddha, dan penganut animisme hidup berdampingan di Kota Cina pada masa jayanya dahulu sebagai suatu bandar internasional.
Prasasti Sitopayan 1 & 2: Tinjauan Aspek Ekstrinsik dan Intrinsik Churmatin Nasoichah
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4360.931 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.134

Abstract

AbstractSitopayan 1 & 2 inscriptions that were discovered at Biaro Sitopayan complex are currently stored at North Sumatra State Museum.The review of the inscription from both intrinsic and extrinsic aspects reveals material, shape, palaeography or language (extrinsic) and content and other aspects related with Biaro Sitopayan (intrinsic). An analysis is then conducted through those primary and additional data, external/extrinsic and internal/intrinsic criticism acquisition a result of which is a conclusion.AbstrakPrasasti Sitopayan 1 dan Prasasti Sitopayan 2 merupakan prasasti yang ditemukan di Komplek Biaro Sitopayan. Kedua prasasti tersebut saat ini disimpan di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Banyak hal yang dapat diungkap dalam menelaah sebuah prasasti baik itu dilihat dari aspek ekstrinsik, yaitu yang berkaitan dengan bahan, bentuk, paleografi, maupun bahasanya, serta aspek intrinsik yaitu yang berkaitan dengan isi serta hal-hal lain yang berkaitan misalnya kaitannya dengan Biaro Sitopayan. Melalui data primer tersebut kemudian dilakukan analisis yang didukung dengan beberapa data penunjang lainnya serta kritik ekstern (ekstrinsik) dan kritik intern (intrinsik) lalu di dapat sebuah kesimpulan.
Indikasi Pembauran Budaya Hoabinh dan Austronesia di Pulau Sumatera Bagian Utara Ketut Wiradnyana
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4354.243 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.139

Abstract

AbstractHoabinh sites are often linked with the periodization of Mesolithic culture to its Australomelanesoid people. The existence of Hoabinh sites either in the coast or in the mountain are always finalized with a layer of culture in the form of fragments of pottery, which is the typical of the peridization of Neolithic cultue. The Neolithic culture is always linked with the Mongoloid. The facts indicate that different two races had used the same site despite the obscure difference of activities. Other cultural aspects indicate similarities, which reflected a sustainability of religion (flexed burial), technology of stone tools and livelihood. The sustainability of those aspects may describe a blending between those two races, which later also indicate contacts between them in the form of coextistence of men and their culture. This interpretation is derived from a cultural evolution concept.AbstrakSitus-situs Hoabinh kerap dikaitkan dengan pembabakan budaya Mesolitik dengan ras pendukungnya Australomelanesoid. Keberadaan situs Hoabinh baik di pesisir maupun di pegunungan selalu diakhiri dengan lapisan budaya berupa fragmen gerabah yang merupakan ciri dari pembabakan budaya Neolitik. Budaya Neolitik dikaitkan dengan ras pendukungnya Mongoloid. Hal tersebut memberikan gambaran akan adanya dua ras yang berbeda yaitu Australomelanesoid dan Mongoloid memanfaatkan situs yang sama, sekalipun aktivitasnya tidak nampak tegas berbeda. Beberapa aspek budaya lainnya yang mengindikasikan kesamaan, mencerminkan sebuah keberlanjutan diantaranya religi (flexed burial), teknologi alat batu dan matapencaharian hidup. Keberlanjutan aspek-aspek itu mencerminkan adanya pembauran diantara ke dua ras tersebut. Adanya pembauran itu mengindikasikan terjadinya kontak antarkelompok dan dimungkinkan juga hidup saling berdampingan atau bahkan ada percampuran antarmanusia dan budayanya. Hal tersebut merupakan interpretasi yang didasarkan atas konsep evolusi kebudayaan.
Jembatan Kebajikan ( Chen Tek ): Objek Bersejarah Perekat Antaretnis di Kota Medan Deni Sutrisna
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3533.462 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.135

Abstract

AbstractA city, an essentially gathering place of a society with various activities, must include such aspects of spaciousness, density, social heterogeneity, market, administrative function, a source of life, and culture elements that differentiate it from other social groups outside it. Medan is a city with a diverged cultural element, which is not only observable from the people life but also building heritage. The bridge of wholesome is a structure that describes an inter-ethnic unity, which is realized in an inscription containing a variety of language and alphabets on its fence. Pioneered by a Chinese benefactor, the bridge is now in a very pathetic condition being threatened by the modernization of Medan. This research, using qualitative and inductive reasoning, is aimed at solving a question of how the architecture and the spirit of multi-ethnicity of the bridge came into existence. Data investigation is conducted through library data research and field observation.AbstrakSebuah kota hakekatnya adalah tempat bagi berkumpulnya masyarakat dengan beragam aktivitasnya. Selain itu kota juga mencakup unsur-unsur keluasan, kepadatan, heterogenitas sosial, pasar, fungsi administratif, sumber kehidupan, dan unsur budaya yang membedakan dengan kelompok sosial yang ada di luarnya. Salah satu kota dengan keragaman unsur budaya adalah Kota Medan, dan unsur tersebut bukan hanya tercermin dari kehidupan masyarakatnya, juga ada pada tinggalan materi bangunannya. Jembatan Kebajikan merupakan jembatan yang menggambarkan pembauran antar etnis yang terwujud dalam bentuk prasasti dengan ragam huruf dan bahasa pada bagian pagarnya. Jembatan yang digagas pembangunannya oleh tokoh dermawan etnis Tionghoa yaitu Tjong Yong Hian kini kondisinya mengkhawatirkan terdesak oleh derap pembangunan kota Medan. Bagaimana arsitektur dan semangat multi etnis bisa muncul pada jembatan objek sejarah itu, merupakan permasalahan dalam penelitian ini. Metode penelitian kualitatif dengan alur penalaran induktif diterapkan dalam penelitian. Adapun penelusuran data dilakukan dengan pemanfaatan data kepustakaan dan observasi di lapangan.
Sisa Tradisi Megalitik Pada Budaya Materiil Masyarakat Mandailing Nenggih Susilowati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5297.034 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.140

Abstract

AbstractMegalithic culture or tradition is generally accepted as an animism mixed with the long-disapeared Hindu-Buddha beliefs remains as Islam penetrated. The megalithic concept or cultural elements that have existed and rooted in the followers still show a connection with the past. The material culture contains positive values related with the people. Such values are traditional value, law, democracy, togetherness, and wisdom of the surrounding. Explorative-descriptive reseach method with inductive reasoning is used in this paper.AbstrakSecara umum budaya atau tradisi megalitik yang sering dikaitkan dengan kepercayaan animisme, yang sebagian bercampur dengan sisa-sisa kepercayaan Hindu-Buddha telah lama menghilang dalam kehidupan masyarakat Mandailing, bersamaan dengan masuknya pengaruh Islam. Namun demikian konsep maupun unsur budaya yang pernah ada dan mengakar pada masyarakatnya, menyebabkan sebagian bentuk budaya material maupun tradisinya masih menampakkan hubungan dengan budaya masa lalunya. Di dalam budaya materiil tersebut terkandung nilai-nilai budaya yang positif berkaitan dengan kehidupan masyarakatnya. Nilai-nilai itu meliputi nilai adat, hukum, demokrasi, gotong-royong, dan kearifan terhadap alam lingkungannya. Penulisan bertipe eksploratif-deskriptif menggunakan alur penalaran induktif.
Pemaknaan Lasara dalam Mitologi Nias Dyah Hidayati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4855.004 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.136

Abstract

AbstractLasara is a mytological object being that is often symbolized in Nias material culture such as osa-osa, sarcofagus, wooden coffin, grave, lasara on village gate, traditional house ornaments, and sword handle. This comparative study-enhanced descriptive-analytical research method is aimed at finding connection between lasara, which is a part of Nias people mythology, and its interpretation through the outlying elements to obtain a complete understanding of lasara. The analysis reveals that in a society where mythology is an innate value, lasara is understood as a symbol of a ride related with religious and social aspects. Lasara is symbolized as a boat used in the migration of Nias people through the sea, as well as a spiritual ride in its religious life.AbstrakLasara merupakan makhluk mistis yang banyak diwujudkan dalam budaya materi di Nias seperti osa-osa, sarkofagus, peti jenazah kayu, bangunan kubur, lasara pada gerbang desa, ornamen rumah adat, dan hulu pedang. Untuk menjawab permasalahan mengenai pemaknaan lasara dalam pemahaman masyarakat Nias digunakan metode deskriptif analitik yang diperkuat oleh studi komparatif yang bertujuan untuk menarik benang merah antara objek yang dikenal sebagai lasara yang menjadi bagian dari mitologi masyarakat Nias dengan pemaknaannya melalui aspek-aspek yang melatarbelakanginya sehingga dapat diperoleh pemahaman yang utuh terhadap salah satu bentuk kebudayaan di daerah Nias tersebut. Dari analisis tersebut dapat terjawab bahwa dalam pemahaman masyarakatnya yang masih sangat terikat oleh mitologi, lasara dimaknai sebagai simbol yang berkaitan dengan struktur sosial serta simbol wahana terkait dengan aspek religi dan sosial. Lasara sebagai wahana dikaitkan dengan bentuk perahu yang berhubungan dengan proses migrasi orang Nias melalui jalur lautan, serta sebagai kendaraan arwah dalam kehidupan religinya.
Restoran Tertua Tip Top : Representasi Kuliner Masa Kolonial di Kota Medan Eny Christyawaty
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4268.356 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.137

Abstract

AbstractTip-top is the oldest restaurant in Medan that has existed since the colonial era. This restaurant has uniquely occupied the same building and served the same food and beverages menu as they did in the past with exactly the old recipe and taste, as well as the use of uncahnging cooking utensils. The consistency of process and taste with the atmosphere of the colonial period is the added value this restaurant offers, which is hard to beat by its competitors. Tip-Top restaurant is a part of Medan culinary history. This paper describes the old building of the restaurant as well as the colonial culinary tracesin Medan.AbstrakTip Top merupakan restoran tertua di Kota Medan yang berdiri sejak masa Kolonial, selain masih menempati gedung yang sama, juga masih menyajikan menu makanan dan minuman seperti masa kolonial dengan resep dan cita rasa yang sama. Bahkan peralatan yang digunakan untuk membuat makanan dan minuman pun masih mempergunakan peralatan kuno yang dipakai sejak dulu kala ketika restoran ini berdiri. Konsistensi pengolahan dan cita rasa dengan nuansa masa kolonial merupakan nilai lebih dari restoran ini yang mungkin sulit ditemukan pada restoran lain. Restoran Tip Top merupakan bagian dari sejarah kuliner di Kota Medan. Tulisan ini menjelaskan tentang jejak kuliner di Kota Medan pada masa kolonial.
Sisa Struktur Bangunan di Samudera Pasai (Tinjauan Konstruksi dan Fungsinya) Repelita Wahyu Oetomo; Heddy Surachman
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3342.923 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.141

Abstract

AbstractAs a centre of administration, Samudera Pasai must have archaeological remains ofbuildings. The fact, however, shows very few data except tombs. Recently,information of a strcuture remain has come into existence. It is predicted to be asurrounding wall of a bulding inside.AbstrakSebagai sebuah pusat pemerintahan, Samudera Pasai seharusnya memiliki tinggalanarkeologis berupa bangunan. Namun sampai sejauh ini belum banyak data bangunanditemukan di Pasai, selain makam. Belakangan didapatkan informasi adanya strukturbangunan. Diperkirakan struktur bangunan tersebut adalah merupakan tembokkeliling dari sebuah bangunan di dalamnya

Page 1 of 1 | Total Record : 9