cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
KALANGWAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni Pertunjukan Kalangwan merangkum berbagai topik seni pertunjukkan, baik yang menyangkut konsepsi, gagasan, fenomena maupun kajian. Kalangwan memang diniatkan sebagai penyebar informasi seni pertunjukan sebab itu dari jurnal ini kita memperoleh dan memtik banyak hal tentang seni pertunjukan dan permasalahannya
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2016): Desember" : 6 Documents clear
Pertunjukan Panebusing Kembar Mayang Pada Upacara Perkawinan Adat Jawa Hendro, Dru
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 2 (2016): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11306.072 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i2.124

Abstract

Panebusing Kembar Mayang  adalah merupakan warisan budaya nenek moyang yang biasa dipakai dalam rangkaian upacara perkawinan adat Jawa. Pada zaman sekarang ini tradisi tersebut sudah mulai jarang ditampilkan tetapi masih survive dalam kehidupan masyarakat jawa. Sebelum melaksanakan pernikahan, kebiasaan orang Jawa melakukan upacara panebusing kembar mayang sebagai syarat ataupun permintaan calon penganten wanita yang harus dilaksanakan oleh orang tuanya. Upacara panebusing  kembar mayang ini merupakan sebuah seni pertunjukan yang melibatkan para pemain layaknya fragmen yang diiringi karawitan dan dipandu oleh seorang dalang. Tradisi ini bukan hanya sekedar pertunjukan yang ditonton saja, tetapi juga mengandung fungsi, makna dan nilai-nilai seni  budaya yang bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi calon penganten. Fungsi sosial dalam kegiatan tersebut adalah sebagai alat pemersatu ditunjukkan adanya keterlibatan  seluruh masyarakat dalam mendukung upacara panebusing Kembar Mayang tersebut. Disamping itu juga mengandung nilai pendidikan yang terdapat didalamnya, yaitu; mengembangkan  sikap toleransi, demokratis, dan hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk, Mengembangkan  pengetahuan, sikap, imajinasi, dan keterampilan melalui proses pembuatan kembar mayang, Menanamkan pemahaman tentang dasar-dasar kemandirian untuk bekerja dan berkarya.
Gamelan Angklung Sebagai Pengiring Paket Seni Pertunjukan Wisata Suharta, I Wayan; Sutirta, I Wayan; Widyarto, Rinto
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 2 (2016): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10212.345 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i2.130

Abstract

Ketika terjadi hubungan antara masyarakat pemilik seni dengan masyarakat wisata, maka akan tercipta produk seni pertunjukan yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi yang dimiliki. Sifat memberikan pengaruh yang demikian adalah peluang untuk menjadikan gamelan Angklung, lahir sebagai bentuk seni pertunjukan wisata. Merupakan adaptasi berdasarkan kondisi, disposisi, dan reprensi kultural masyarakat untuk mencapai keadaan sesuai tuntutan perkembangan masyarakat masa kini. Produk kesenian berupa paket seni pertunjukan wisata yang diiringi gamelan Angklung adalah kemasan bentuk kesenian bernuansa baru, agar gamelan Angklung memiliki fungsi yang lebih proporsional. Bentuk kreativitas dengan pembaharuan yang terjadi, masih tetap mengacu kepada bentuk serta kaidah-kaidah seni yang telah ada, tidak terlepas dari selera estetis seniman dan selera para wisatawan.
Estetika Sastra Kidung Bima Swarga Wicaksana, I Dewa Ketut
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 2 (2016): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20109.441 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i2.125

Abstract

Tulisan ini mengkaji Estetika Sastra Kidung Bima Swarga yang mengisahkan tentang Bima pergi ke Kawah (nerakaloka) membebaskan ayahnya (Pandu) serta ibu tirinya (Madri) dari siksaan Yamadipati, dan dinaikkan kedua orang tuanya ke sorga (swargaloka). Untuk kepentingan penulisan ini naskah-naskah yang dijadikan sebagai obyek kajian adalah hanya 2 (dua) naskah yang berbentuk puisi (tembang), atas dasar; pertama, teks kidung  Bima Swara (karya tulis Sri Reshi Ananda Kusuma) sudah diterbitkan dan yang satu lagi didokumentasikan (alih aksara) oleh Disbud Bali (1995), namun keduanya belum diterjemahkan, sehingga sulit dimengerti; kedua, secara dramatikal, alur ceritanya merupakan satu kesatuan yang utuh (bulat) sehingga mudah diketahui dan dipahami; ketiga, teks dalam bentuk metrum (pupuh)  disusun berdasarkan aturan­ aturan tertentu sehingga memungkinkan diedesi secara kritis berdasarkan aturan-aturan tersebut; keempat, naskah  tersebut  dalam  konteksnya  sering  dijadikan  pedoman  atau  rujukan  oleh  seniman-seniman (khususnya dalang) untuk dijadikan sumber lakon dalam melakukan aktivitasnya 'ngwayang'; dan kelima, naskah tersebut juga digunakan sebagai media ungkap oleh masyarakat Bali ketika ada orang yang meninggal, dengan resitasi (menembangkan) lewat aktivitas 'mabebasan'. Perspektif hermeneutik dan semiotik, jenis kidung Bima Swarga membentuk struktur global yang mempunyai fungsi dan makna bagi penghayatan dan pengkajian budaya Bali (Indonesia) sebagai sumber inspirasi garapan tema dan amanat. Tema lakon ini adalah 'rna/utang'dengan amanatuya hutang seorang anak kepada orang tuannya karena ia dilahirkan dan dibesarkan, maka ia harus berkewajiban membayar dengan cara bhakti baik secara fisik (mengupacarai) maupun spiritual dengan mencakupkan tangan 'nyumbah'. Nilai­ nilai budaya yang terkandung dalam kidung Bima Swarga meliputi, nilai ajaran dharma  (kewajiban dan kebajikan); nilai yajnya (korban suci dan ketulusan); dan nilai kesetiaan (satya wacana dan suputra). Visi estetiknya, kidung Bima Swarga tercermin lewat keabsahan fungsinya sebagai seni ritual (pitrayadnya), karena mengandung nilai penyerahan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), sehingga muncul rasa tenang, tentram, damai, dan nyaman, terutama bagi masyarakat pendukungnya.
Faktor-faktor Penyebab Praktik Glokalisasi Musik Pop Bali Ardini, Ni Wayan
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 2 (2016): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12668.797 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i2.127

Abstract

Sejak dasawarsa 1990-an, musik pop Bali mengalami industrialisasi di wilayah Provinsi Bali. Di dalamnya, praktik glokalisasi berlangsung melalui pemaduan elemen-elemen kemusikan lokal dengan elemen-elemen global, meskipun keadaannya belum ideal, sehingga dalam sejumlah kasus, musik pop Bali kehilangan rasa Balinya. Permasalahan studi ini dirumuskan ke dalam pertanyaan: faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya praktik glokalisasi musik pop Bali di Bali. Sebagai studi yang bersifat kualitatif, analisis data dilakukan secara kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan, dengan menggunakan secara eklektik beberapa teori terkait. Hasil studi ini menunjukkan bahwa, sejak era industrialisasinya, telah teljadi praktik glokalisasi musik pop Bali dari banyak musisinya, sehingga elemen - elemen lokal dan global saling memerkuat dan mengayakan musik pop Bali itu sendiri. Di sisi  Jain, harus diakui di sana-sini masih ada kecenderungan dominasi elemen-elemen global-modern(-isasi). Praktik glokalisasi tersebut disebabkan adanya fenomena glokalisasi yang meIanda Bali dan masuknya kekuasaan kapital musik. Selain itu, penyebabnya adalah kesadaran politik identitas kebalian dan kepemilikan modal budaya di kalangan musisi pop Bali. Praktik glokalisasi tersebut juga berlangsung sebagai pengungkapan kulturalisme masyarakat Bali, yaitu perayaan kehidupan sehari-hari masyarakat. Praktik glokalisasi musik pop Bali bekerja melalui kekuasaan kapital, yaitu pemilik rumah produksi dan studio rekam, kekuasaan budaya, yaitu para musisi pop Bali, dan kekuasaan media, yaitu media elektronik (radio, televisi, dan internet) yang mewujudkan produksi, distribusi, dan konsumsi.
Filsafat Wayang Basis Patung Ikonik Pantai Pandawa, Kabupaten Badung Widnyana, I Kadek
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 2 (2016): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15162.83 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i2.128

Abstract

Patung  Panca  Panca  Pandawa  sebagai  ikon adalah  penunjang  destinasi  pantai  Pandawa, Kabupaten Badung. Filsafat wayang tentang tokoh Pandawa yang dipahami sehagai tokoh satria yang selalu memancarkan sifat-sifat agung dan mulia. Sifat dharma, keadilan dan kejujuran serta ajaran ketuhanan sejati selalu melekat pada tokoh ini. Catur Purusa Artha menjadi tujuan utama, kemakmuran  rakyat dan melindungi  yang lemah  menjadi  harga mati bagi  tokoh  Pandawa.  Filosafi inilah  dijadikan  suri tauladan  hidup  masyarakat  Kutuh  untuk  selalu  berusaha  mendapatkan yang  terbaik  dengan  jalan Dharma.   Dipilihnya  tokoh Pandawa sebagai  ikon dikarenakan  tokoh dan isi lakon yang dipetik  dari mutiara epos  Mahabrata  memberikan  santapan  rohani  yang tidak  temilai  tingginya. Secara filosofi Tokoh ini dianggap merefleksikan kehidupan masyarakat Kutuh dan mewakili nilai kemanusiaan yang tidak ada taranya, yang selalu dijadikan obor dan suri teladan oleh masyarakat Kutuh. Oleh sebab itu, Pantai Pandawa dikelola dan ditetapkan sebagai KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional)
Tari Rejang Wastra Di Desa Demulih Kabupaten Bangli Kajian Bentuk Dan Fungsi Suandewi, Gusti Ayu Ketut
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 2 (2016): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6105.473 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i2.129

Abstract

Tulisan ini adalah hasil penelitian yang di lakukan di Desa Demulih Kabupaten Bangli. Desa Demulih adalah salah satu desa yang terdapat di Kabupaten Bangli yang kaya akan warisan budaya berupa tari-tarian wali yang jumlahnya kurang lebih 72 tari wali. Tari Rejang adalah sebuah tarian yang memiliki gerak-gerak tari yang sangat sederhana dan lemah gemulai. Tari Rejang Wastra adalah salah satu tari Rejang yang terdapat di Desa Demulih Kecamatan Susut Kabupaten Bangli. Tarian ini berkaitan erat dengan upacara atau Piodalan Karya Ngusaba Gede di Pura Pucak Demulih. Penelitian ini berparadigma tentang budaya secara realitas yg pendekatannya menekankan pada bentuk dan fungsi dari tari rejang dengan menggunakan metode kualitatif.

Page 1 of 1 | Total Record : 6