cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
CHEMISTRY PROGRESS
ISSN : 19795920     EISSN : 27158365     DOI : -
Core Subject : Science,
Majalah Ilmiah Chemistry Progress merupakan media untuk menyebarkan informasi ilmiah dan sarana komunikasi bagi para ilmuan dan cendekiawan melalui tulisan-tulisan ilmiah. Majalah Ilmiah Chemistry Progress terbit dua nomor dalam satu tahun (Mei dan November) berisi kajian penelitian dalam lingkup ilmu kimia (organik, anorganik, analitik, biokimia, fisika, bahan alam, lingkungan, pangan, kelautan, pertambangan, farmasi dan komputasi). Jumlah halaman pervolume adalah 55-65 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 275 Documents
PENENTUAN DAYA JERAP BENTONIT DAN KESETIMBANGAN ADSORPSI BENTONIT TERHADAP IONCu(II) Sahan, Yusnimar; Despramita, Kiki; Sultana, Yulfiana
CHEMISTRY PROGRESS Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.5.2.2012.773

Abstract

Bentonit alam asal Riau secara kualitas tidak bisa dimanfaatkan sebagai adsorben karena daya jerapnya rendah dibandingkan dengan bentonit komersial. Pada prinsipnya, daya jerap bentonit tersebut akan meningkat jika diaktivasi baik secara fisika maupun kimia. Bentonit yang telah diaktivasi dapat digunakan sebagai penjerap logam berat yang ada dalam cairan. Pada penelitian ini, prosesaktivasi bentonit alamdilakukan dengan cara pemanasan pada suhu 400oC sampai beratnya konstan. Setelah diaktivasi ditentukan daya jerapnya terhadap ion Cu(II). Optimalisasi daya jerap bentonit dilakukan dengan perlakuan kondisi yang berbeda yaitu variasi waktu adsorpsi (20, 40, 60,80, 100, 120, 180 & 240 menit), variasi berat bentonit (0,5, 1,0, 1,5, 2,0 & 2,5 g) dan konsentrasi ion Cu(II) yaitu 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 ppm. Berdasarkan data yang diperoleh ditentukan waktu dan model keseimbangan adsorpsi. Pada penelitian ini diperoleh daya jerap bentonit yang diaktivasi paling maksimal adalah 32,75 mg Cu(II)/g bentonit pada kondisi perlakuan berat bentonit 2,5 g, waktu adsorpsi 180 menit dan konsentrasi ion Cu(II) 60 ppm. Pada kondisi tersebut bentonit menyebabkan kadar ion Cu(II) dalam cairan turun dari 60 ppm menjadi 32,75 ppm, penurunannya sekitar 54,58%. Sedangkan daya jerap bentonit pada waktu adsorpsi 240 menit lebih rendah dibandingkan dengan daya jerapnya pada waktu adsorpsi 180 menit. Keseimbangan adsorpsi ion Cu(II) oleh bentonit tercapai pada waktu 180 menit, dan model kesetimbangan adsorpsinya sesuai dengan Isotherm Langmuir, artinya adsorpsi ion Cu(II) oleh bentonit terjadi secara kimia yaitu mungkin terjadi reaksi pertukaran ion dengan panas reaksi 21,038 kcal/mol.oK.Bentonit alam asal Riau secara kualitas tidak bisa dimanfaatkan sebagai adsorben karena daya jerapnya rendah dibandingkan dengan bentonit komersial. Pada prinsipnya, daya jerap bentonit tersebut akan meningkat jika diaktivasi baik secara fisika maupun kimia. Bentonit yang telah diaktivasi dapat digunakan sebagai penjerap logam berat yang ada dalam cairan. Pada penelitian ini, prosesaktivasi bentonit alamdilakukan dengan cara pemanasan pada suhu 400oC sampai beratnya konstan. Setelah diaktivasi ditentukan daya jerapnya terhadap ion Cu(II). Optimalisasi daya jerap bentonit dilakukan dengan perlakuan kondisi yang berbeda yaitu variasi waktu adsorpsi (20, 40, 60,80, 100, 120, 180 & 240 menit), variasi berat bentonit (0,5, 1,0, 1,5, 2,0 & 2,5 g) dan konsentrasi ion Cu(II) yaitu 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 ppm. Berdasarkan data yang diperoleh ditentukan waktu dan model keseimbangan adsorpsi. Pada penelitian ini diperoleh daya jerap bentonit yang diaktivasi paling maksimal adalah 32,75 mg Cu(II)/g bentonit pada kondisi perlakuan berat bentonit 2,5 g, waktu adsorpsi 180 menit dan konsentrasi ion Cu(II) 60 ppm. Pada kondisi tersebut bentonit menyebabkan kadar ion Cu(II) dalam cairan turun dari 60 ppm menjadi 32,75 ppm, penurunannya sekitar 54,58%. Sedangkan daya jerap bentonit pada waktu adsorpsi 240 menit lebih rendah dibandingkan dengan daya jerapnya pada waktu adsorpsi 180 menit. Keseimbangan adsorpsi ion Cu(II) oleh bentonit tercapai pada waktu 180 menit, dan model kesetimbangan adsorpsinya sesuai dengan Isotherm Langmuir, artinya adsorpsi ion Cu(II) oleh bentonit terjadi secara kimia yaitu mungkin terjadi reaksi pertukaran ion dengan panas reaksi 21,038 kcal/mol.oK.
EKSTRAKSI KOMPONEN ANTIOKSIDAN TEPUNG KOMPOSIT BERBASIS PISANG GOROHO DAN LABU KUNING DENGAN BANTUAN ULTRASONIK Pasanda, Immanuel M.; Suryanto, Edi; Rumayar, Adisti A.
CHEMISTRY PROGRESS Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.12.1.2019.27917

Abstract

ABSTRAK Tanaman-tanaman lokal yang mengandung antioksidan, yaitu pisang goroho dan labu kuning, digunakan untuk mengembangkan tepung komposit.  Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi efek pencampuran tepung pisang goroho dengan tepung labu kuning terhadap kandungan fitokimia antioksidan (total fenolik dan beta karoten) dan kapasitas antioksidan (kemampuan menangkal radikal DPPH dan daya reduksi) dari tepung komposit yang dihasilkan dengan menggunakan bantuan ultrasonik pada tahapan ekstraksi. Formulasi tepung komposit yang digunakan (tepung pisang goroho:tepung labu kuning) adalah 75:25, 50:50, dan 25:75. Kandungan total fenolik tepung komposit berkisar antara 98,2- 78,8 mg/kg GAE, dan kandungan beta karoten tepung komposit berkisar antara 186,1-497,8 µg/g. Hasil penelitian menunjukkaan peningkatan  kandungan fitokimia antioksidan dan kapasitas antioksidan pada tepung komposit terjadi dengan meningkatnya proporsi tepung labu kuning. ABSTRACT Locally grown crops with antioxidant content i.e. goroho plantain dan yellow pumpkin were used to develop composite flours. The current study aimed to investigate the effect of mixing goroho plantain flour with yellow pumpkin flour on phytochemical content (total phenolic and beta carotene) and antioxidant capacity (DPPH assay and reducing power assay) of developed composite flours, assisted by ultrasound in the extraction step. Flour formulations (goroho plantain flour: yellow pumpkin flour) used were 75:25, 50:50, and 25:75.  Total phenolic content of composite flours ranged from 98.2-178.8 mg/kg GAE, and beta carotene content of composite flours ranged from 186,1-497,8 µg/g. The study showed that increased in phytochemical antioxidant content and antioxidant capacity of composite flours were due to increasing in yellow pumpkin flour proportion in composite flour. 
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN GULA AREN Suoth, Elly Juliana; Herowati, Rina; Pamudji, Gunawan
CHEMISTRY PROGRESS Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.13.1.2020.28840

Abstract

Gula aren dengan dosis 200 mg/kg BB dan 400 mg/kg BB diberikan pada tikus putih yang kemudian diinduksi CCl4 1,5 ml/kg BB. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kadar enzim antioksidan yaitu SOD dan GPx setelah diinduksi CCl4 serta kerusakan yang ditimbulkan oleh CCl4 lewat pengukuran kadar MDA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar SOD dan GPX pada tikus kontrol negatif berbeda dengan kadar SOD dan GPx pada tikus yang diberikan gula aren. Kadar enzim antioksidan pada tikus yang diberikan gula aren hampir sama dengan tikus normal (kelompok yang tidak diinduksi CCl4). Hal tersebut berhubungan dengan kadar MDA dimana pada tikus kelompok kontrol negatif menunjukkan kadar MDA yang tinggi sedangkan pada tikus normal dan tikus yang diberikan gula aren menunjukkan kadar MDA rendah yang artinya bahwa enzim antioksidan pada tikus normal dan tikus yang diberikan gula aren mengadakan peredaman terhadap reaksi oksidasi yang disebabkan oleh CCl4 sehingga peroksidasi lipid yang terjadi sangat kecil.ABSTRACT Palm sugar with a dose of 200 mg/kg BB and 400 mg/kg BB given to white rats which then induced CCl4 1.5 ml/kg BB. This study aims to look at the levels of antioxidant enzymes namely SOD and GPx after CCl4 induction and the damage caused by CCl4 through MDA level measurements. The results showed that SOD and GPX levels in negative control rats differed from SOD and GPx levels in rats given palm sugar. The levels of antioxidant enzymes in rats given palm sugar were almost the same as those in normal rats (CCl4-induced groups). This is related to MDA levels where in the negative control group rats showed high MDA levels while in normal rats and group rats given palm sugar showed low MDA levels which means that the antioxidant enzymes in normal rats and group rats given palm sugar made damping against oxidation reactions which is caused by CCl4 so that the lipid peroxidation that occurs is very small.
SINTESIS NANOPARTIKEL AG/COFE2O4 MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA (TEN) STEENIS) DAN APLIKASINYA SEBAGAI FOTOKATALIS UNTUK MENDEGRADASI ZAT WARNA METHYLENE BLUE Tjiang, David; Aritonang, Henry F.; Koleangan, Harry S. J.
CHEMISTRY PROGRESS Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.12.2.2019.27924

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan penelitian tentang kemampuan fotodegradasi zat warna sintetik Methylene Blue dengan menggunakan nanopartikel Ag/CoFe2O4 dengan variasi perbandingan mol AgNO3:(Co(NO3)2.6H2O): (Fe(NO3)3.9H2O)= 0,3:0,7:2 dan jumlah ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) yang ditambahkan 10 mL. Material tersebut dikarakterisasi menggunakan X-Ray Diffractometry (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM) dan spektroskopi UV-vis. Kemampuan fotodegradasi dilakukan melalui penentuan konsentrasi Methylene Blue (konsentrasi awal 5 ppm) yang tersisa setelah berinteraksi dengan nanopartikel Ag/CoFe2O4 yang disinari sinar UV-A selama 30, 60, 120 dan 150 menit. Penentuan konsentrasi dihitung berdasarkan absorbansi yang didapatkan dari hasil pembacaan uji Spektrofotometri UV-vis, lalu digunakan rumus menghitung persen degradasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang memiliki kemampuan fotodegradasi paling baik adalah nanopartikel Ag/CoFe2O4 (0,3 : 0,7 : 2) mol dengan waktu kontak 120 menit, yaitu dengan nilai persen degradasi sebesar 44,84 %. ABSTRACTA research on photodegradation ability Methylene Blue dye synthetic by using Ag/CoFe2O4 nanoparticles with a mole ratio variation AgNO3 : (Co(NO3)2.6H2O) : (Fe(NO3)3.9H2O)= 0,3:0,7:2 and the amount of binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) leaf extract added 10 mL. These materials were characterized using X-Ray Diffractometry (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM) and UV-vis Spectroscopy. Ability photodegradation done by determining the concentration of Methylene Blue is residue after the interaction with Ag/CoFe2O4 nanoparticles with irradiated UV-A for 30, 60, 120 and 150 minutes. Determining the concentration is calculated based on the absorbance obtained from the results of the analysis of UV-vis Spectrophotometry and then used a formula calculating the percent degradation. The results showed that the ability is best photodegradation Ag/CoFe2O4 nanoparticles (0,3: 0,7: 2) moles with a contact time of 120 minutes with a degradation value of 44.84%.
PENGARUH SUHU, KADAR GARAM DAN WAKTU PENGOLAHAN BAKASANG IKAN CAKALANG (KATSUWONUS PELAMIS) TERHADAP PARAMETER FREE FATTY ACID Syamsi, Ibnu Darmawan; Fatimah, Feti; Wuntu, Audy Denny
CHEMISTRY PROGRESS Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.12.2.2019.27928

Abstract

ABSTRAK Bakasang adalah produk fermentasi yang dibuat dari jeroan ikan. Dalam penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu, kadar garam dan waktu terhadap pengolahan bakasang ikan cakalang dibuat dengan berbagai kondisi pengolahan. Analisis yang dilakukan dengan menggunakan parameter FFA pada setiap sampel. Berdasarkan penelitian yang dilakukan kadar FFA tertinggi yaitu dengan suhu 30 ℃, kadar garam 10% dan waktu fermentasi selama 15 hari dengan kadar FFA sebesar 4,888 % dan kadar FFA terendah yaitu dengan suhu 50 ℃, kadar garam 20% dan waktu fermentasi 1,6 hari dengan kadar FFA sebesar 1.156 %. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh suhu, kadar garam dan waktu pengolahan (variabel independen) terhadap parameter FFA (variabel dependen), maka diperlukan beberapa metode statistika, pertama yaitu uji korelasi suhu, kadar garam dan waktu (variabel independen) terhadap kadar FFA (variabel dependen) dengan hasil penelitian, berturut-turut 56,6%; 29,6%; dan 60,1%, selanjutnya adalah uji analisis varians (ANOVA), ANOVA dilakukan pada 95% confidence interval dengan nilai signifikansi α=0,05, hasil signifikansi untuk variabel suhu, kadar garam dan waktu adalah 0.00. ABSTRACT Bakasang is a fermented product made from fish innards. This research aims to determine the effect of temperature, salinity and time on the processing of Skipjack Tuna Fish bakasang made with various processing conditions. The analysis was carried out using FFA parameters in each sample. Based on the research, the highest FFA level is at 30 ℃ temperature, 10% salinity and 15 days of fermentation time with FFA level of 4.888 % and the lowest FFA level is at 70 ℃ temperature, 20% salinity and 1.6 day of fermentation time with FFA level of 1.156 %. The aim of this research is to determine the effect of temperature, salinity and processing time (independent variables) on the FFA parameter (dependent variable), so some statistical methods are needed, first, the correlation test of temperature, salinity and processing time (independent variable) on FFA level (dependent variable) with the research results, respectively 56.6%; 29.6%; and 60.1%, next is the analysis of variance (ANOVA) test, ANOVA was carried out at 95% confidence intervals with a significance value of α = 0.05, variable significance for temperature, salinity and time was 0,00. 
KARAKTERISASI FISIKOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SERAT PANGAN DARI AMPAS EMPULUR SAGU BARUK (Arenga Microcarpha B.) ., Nova; Suryanto, Edi; Momuat, Lidya I.
CHEMISTRY PROGRESS Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.13.1.2020.28931

Abstract

Telah dilakukan pengujian potensi aktivitas antioksidan serat pangan dari ampas empulur sagu baruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antioksidan dari ampas empulur sagu baruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ampas empulur sagu baruk tidak mengalami perubahan mendasar pada komponen utama selama penggilingan ditunjukkan pada hasil spektra Fourier Transform Infra Red (FT-IR). Hasil analisis Particle Size Analysis (PSA) menunjukkan ukuran partikel dari ampas empulur sagu baruk sebesar 92,89 µm. Analisis X-ray Difraction (XRD) menunjukkan adanya karakteristik dari selulosa yang merupakan bagian dari serat pangan tak larut. Hasil pengujian serat pangan didapatkan bahwa ampas empulur sagu baruk memiliki serat pangan total sebesar 68,71% yang meliputi 66,58% serat pangan tak larut dan 2,12% serat pangan larut. Kadar serat pangan tak larut meliputi kadar selulosa, hemiselulosa dan lignin yaitu 50,7%; 29,16%; dan 11,67% secara berturut-turut. Hasil pengujian aktivitas antioksidan metode DPPH dari ekstrak fenolik terikat (EFT) dan fenolik bebas (EFB) ampas empulur sagu baruk menunjukkan aktivitas antioksidan sebesar 66,20% EFB dan 50,97% EFT. Adapun kemampuan penangkal ion nitrit dari sampel ampas sagu baruk kering angin memiliki potensi menangkal ion nitrit sebesar 55,20% EFB dan 50,15% EFT.ABSTRACT Potential antioxidant activity of food fiber from barley sago pith pulp has been tested. This research studies the antioxidant potential of barley sago pith pulp. Fourier Transform Infra Red (FT-IR). The results showed the fact that the barley sago pith pulp did not change the basis of the main components during grinding evaluating the spectral results. The results of the analysis of Particle Size Analysis (PSA) showed that the particle size of the pith sago waste was 92.89 μm. X-ray Difraction (XRD) analysis shows the characteristics of cellulose which is part of insoluble dietary fiber. Food fiber test results were obtained from barley sago pith pulp having a total food fiber of 68.71% which contained 66.58% insoluble food fiber and 2.12% soluble food fiber. Insoluble dietary fiber content includes cellulose, hemicellulose and lignin levels that is 50.7%; 29.16%; and 11.67% consistently. The results of testing the antioxidant activity of DPPH method from phenolic extracts (EFT) and free phenolic (EFB) barley pith pulp showed antioxidant activity of 66.20% EFB and 50.97% EFT. Whereas the ability to prevent nitrite ions from dried barago sago pulp samples has the ability to counteract nitrite ions by 55.20% EFB and 50.15% EFT.
AKTIVITAS PENANGKAL RADIKAL BEBAS DAN PENSTABIL OKSIGEN SINGLET DARI EKSTRAK BIJI JAGUNG MANADO KUNING (ZEA MAYS L.) Waworuntu, Mutiara G.; Suryanto, Edi; Momuat, Lidya I.
CHEMISTRY PROGRESS Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.11.1.2018.27912

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas penangkal radikal bebas, dan penstabil singlet oksigen dari ekstrak biji jagung Manado kuning dengan berbagai ekstrak. Ekstrak fenolik bebas dibuat dibuat dengan teknik maserasi selama 24 jam dengan pelarut etano 80%l. Residu dari sisa ekstraksi, diambil 1g dihidrolisis dengan HCl untuk mendapatkan ekstrak fenolik terikat. Ekstrak asam ferulat diambil 0,5 mL dari ekstrak fenolik bebas. Dan untuk ekstrak karotenoid didegesti dengan pelarut etanol:petroleum eter pada suhu 75oC  selama 5 menit. Selanjutnya, ditentukan kandungan total fenolik, aktivitas penangkal radikal bebas, dan aktivitas penstabil oksigen singlet. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak fenolik terikat memiliki nilai total fenolik dan aktivitas antiokisdan yang paling tinggi. Sedangkan untuk penstabil oksigen singlet ekstrak karotenoid mempunyai aktivitas penstabil oksigen yang lebih baik dari pada ekstrak lainnya. Kata kunci:  ABSTRACT The aim of study was to determine the free-radical scavengers activity,  and singlet oxygen quenching of various extracts Manado yellow corn kernels. Free phenolic extract were prepared by maseration technique for 24 hours with 80 % ethanol.  1 g Residual of extraction, hydrolyzed with HCl to obtain a bound phenolic extract. For the ferulic acid extract is taken of 0.5 mL from the free phenolic extract. And the carotenoid extract digested with ethanol: petroleum ether at temperature 75OC for 5 minutes. And then, determined of total phenolic content, free-radical scevengers, and singlet oxygen quenching activity. Results of the research shows that bound phenolic extract has the highest total phenolic and antioxidant values. As for the singlet oxygen stabilizer carotenoid extract has better oxygen stabilizer activity than other extracts. Keywords: Corn kernels, free-radical scavengers, phenolic, singlet oxygen quenching
PENGARUH SUHU KADAR GARAM DAN WAKTU PENGOLAHAN BAKASANG IKAN TERI (Stolephorus Sp.) TERHADAP PARAMETER ANGKA PEROKSIDA Nainggolan, Verengki A; Fatimah, Feti; Kamu, Vanda
CHEMISTRY PROGRESS Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.13.1.2020.28794

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu, kadar garam dan waktu terhadap pengolahan bakasang ikan teri dibuat dengan berbagai kondisi pengolahan. Analisis yang dilakukan dengan menggunkan parameter Angk Peroksida (AP) pada setiap sampel. Berdasarkan penelitian yang dilakukan nilai AP tertinggi yaitu dengan suhu 70 oC, kadar garam 30% dan waktu fermentasi selama 10 Hari dengan nilai AP sebesar 6,181 meq ekivalen O2/Kg dan nilai AP terendah yaitu pada suhu 50 oC, kadar garam 20% dan waktu fermentasi selama 3,29 Hari dengan nilai AP sebesar 0,966 meq ekivalen O2/Kg. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh suhu, kadar garam dan waktu pengolahan (Variabel independen) terhadap parameter AP (Variabel dependen), maka diperlakukan beberapa metode statistika, pertama yaitu uji korelasi suhu, kadar garam dan waktu (variabel independen) terhadap nilai AP (variabel dependen) dengan hasil penelitian, berturut-turut 51,3%; 33,3%; dan 53,9%. Selanjutnya adalah uji analisis varians (ANOVA), ANOVA dilakukan pada 95% confidence interval dengan nilai signifikansi α=0,05, hasil signifikansi untuk variabel suhu, kadar garam dan waktu adalah 0,00.ABSTRACTThis research aims to determine the effect of temperature, salinity and time on the processing of anchovy Bakasang made with various processing conditions. The analysis was carried out using (Peroxide Value) PV parameters in each sample. Based on the research, the highest PV is at 70 oC temperature, 30% salinity and 10 days of fermentation time with PV of 6.181 meq ekivalen O2/Kg, and the lowest PV is at 50 oC temperature, 20% salinity and 3.29 day of fermentation time with PV of 0.966 meq ekivalen O2/Kg. The aim of this research is to determine the effect of temperature, salinity and processing time (independent variables) on the PV parameter (dependent variable), so some statistical methods are needed, first, the correlation test of temperature, salinity and processing time (independent variable) on PV (dependent variable) with the research results, respectively 51.3%; 33.3%; and 53.9%, next is the analysis of variance (ANOVA) test, ANOVA was carried out 95% confidence intervals with a significance value of α=0.05, variable significance for temperature, salinity and time was 0.00.
SKRINING FITOKIMIA DAN UJI EFEK SEDATIF PELARUT DARI DAUN TAKOKAK (Solanum Turvum Swartz) PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR Aliwu, Indriwati; Rorong, Johnly Alfrets; Suryanto, Edi
CHEMISTRY PROGRESS Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.13.1.2020.28795

Abstract

Hewan uji yang digunakan untuk pengujian sebanyak 15 ekor tikus putih jantan galur wistar dibagi dalam 5 kelompok yaitu CMC 1% (kontrol negatif), Diazepam (kontrol positif), ekstrak fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air dosis 300 mg/KgBB, 400 mg/KgBB dan 500 mg/KgBB perlakuan yang tiap kelompok terdiri dari 3 ekor. Semua tikus diaklimatisasi terhadap lingkungan minimal 1 minggu. Sebelum dilakukan pengujian hewan uji dipuasakan selama 18 jam (minum tetap diberikan) sebelum pengujian. Hasil penelitian menunjukkan hasil skrining fitokimia dari fraksi n-heksan, etil asetat dan air dari daun takokak diketahui mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, steroid, saponi, dan tanin. Dari ketiga sampel yang diuji, sampel fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air dosis yang paling bagus atau dosis yang memiliki potensi efek sedative yaitu dosis 500 mg/kgBB. Pada Uji BNT (LSD), kelompok uji fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksiair daun takokak pada dosisi 500 mg/kgBB berbeda secara bermakna dengan kelompok uji kontrol positif (Diazepam) dan ekstrak fraksi lainnya pada taraf uji 0,05.
KANDUNGAN TOTAL FENOLIK DAN UJI TOKSISITAS DAUN MUHARANG BAWINE (Dendrophthoe falcate (Lf) Etinggsh) DENGAN METODE BLST (Brine Shrimp Lethality Test) ., Merlin; Runtuwene, Max; Kamu, Vanda
CHEMISTRY PROGRESS Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.13.1.2020.28830

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk,menentukan kandungan total fenolik, dan mengetahui tingkat toksisitas ekstrak muharang bawine (Dendrophthoefalcate (Lf) Etinggsh) dengan Metode BLST (Brine shrimp lethality test) dari beberapa pelarut.Uji toksisitas dengan menggunakan udang A. salina leach.Serbuk daun muharang bawine diekstraksi dengan cara maserasi bertingkat dengan menggunakan pelaut n-heksan, etil asetat dan metanol selama 3 x 24 jam sehingga diperoleh ekstrak kental. Penentuankandungan total fenolik diukur dengan metode Folin-Ciocalteu dan nilai LC50 dihitung dengan menggunakan SPSS 15.0.Kandungan total fenolik tertinggi terdapat pada hasil maserasi bertingkat ekstrak metanol, diikuti dengan hasil maserasi bertingkat ekstrak etil asetat dan hasil maserasi bertingkat ekstrak n-heksan. Hasil LC50 paling terbaik terdapat pada hasil maserasi bertingkat ekstrak metanol, kemudian diikuti dengan hasil maserasi bertingkat ekstrak etil asetat dan hasil maserasi bertingkat ekstrak n-heksan. ABSTRACT This study aims to determine the total phenolic content, and determine the toxicity level of muharang bawine extract (Dendrophthoe falcate (LF) Ettingsh) with the BLST (Brine Shrimp Lethality Test) method of several solvents. Toxicity test using A. salina Leach shrimp. Leaf Extract Muharang Bawine was extracted by multilevel maceration using n-hexane, ethyl acetate and methanol for 3 x 24 hours for thick extracts. Determination of total phenolic content was measured by the Folin-Ciocalteu method and LC50 valueswere calculated using SPSS 15.0. The highest total phenolic content was found in the results of maceration of methanol extract multilevel, followed by maceration results of multilevel ethyl acetate extract and maceration results of n-hexane extract. The best LC50 results were found in the results of maceration of methanol extract multilevel, then followed by maceration results of multilevel extract of ethyl acetate and maceration results of n-hexane extract.Â