cover
Contact Name
Alex Denny Kambey
Contact Email
-
Phone
+6282196305145
Journal Mail Official
sdperairan@unsrat.ac.id
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado Indonesia 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS
ISSN : 2302609X     EISSN : 23026081     DOI : https://doi.org/10.35800/jpkt
Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis merupakan terbitan berkala ilmiah yang bertujuan menjadi sarana penyebarluasan hasil penelitian dan ilmu pengetahuan dalam bidang Perikanan dan Kelautan di daerah Tropis. Hasil penelitian akan diutamakan untuk diterbitkan. Namun demikian, redaksi juga menerima ulasan ilmiah berupa tinjauan teori, ulasan buku baru, komunikasi singkat dan karya ilmiah lainnya. Artikel bisa ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2013)" : 7 Documents clear
KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG WISATA BAHARI DI PERAIRAN BANDENGAN KABUPATEN JEPARA JAWA TENGAH Juliana, .; Sya’rani, Lachmuddin; Zainuri, Muhammad
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.763 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.9.1.2013.1067

Abstract

Bandengan waters are marine tourism area which should be preserved, so that it is necessary to analyze the suitability and carrying capacity of the area. This study aims to determine the suitability of marine tourism using tourism suitability indices method based on biophysical parameters. Biophysical-water para­meters used as suitability criteria are coral reef coverage, harmful biota, depth, brightness, current velocity, bottom substrate, slope and width of the beach, land cover and type of beach and the availability of fresh water. Analysis of the carrying capacity of the area was conducted to determine the width of the area and the carrying capacity for each category of marine tourism. Based on the analysis of the suitability of marine tourism and the carrying capacity of the region, there are two categories of tourism which are very suitable to be developed in Bandengan waters. The first category is recreation and swimming with total area of 52.46 hectares and a capacity of 27,978 visitors. The second category is boating, banana boat and jet ski with a total area of 99.68 hectares and a capacity of 11,961 visitors. Kata kunci: marine tourism, suitability analysis, carrying capacity.   Perairan Bandengan merupakan kawasan wisata bahari yang harus dijaga kelestariannya, sehingga perlu dilakukan analisa kesesuaian dan daya dukung kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian wisata bahari dengan metode indeks kesesuaian wisata berdasarkan parameter biofisik perairan. Parameter biofisik perairan yang dijadikan kriteria yaitu tutupan terumbu karang, biota berbahaya, kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, material dasar perairan, kemiringan dan lebar pantai, penutupan lahan dan tipe pantai serta ketersediaan air bersih. Analisa daya dukung kawasan dilakukan untuk mengetahui luas kawasan dan daya tampung untuk masing-masing kategori wisata bahari. Berdasarkan hasil analisa terhadap kesesuaian wisata bahari dan daya dukung kawasan, ada dua kategori wisata yang sangat sesuai untuk dikembangkan pada perairan Bandengan. Kategori wisata bahari yang pertama yaitu rekreasi dan renang dengan luas kawasan 52,46 ha dan daya tampung 27,978 wisatawan. Kategori kedua yaitu berperahu, banana boat dan jet ski dengan luas kawasan 99,68 ha dan daya tampung 11.961 wisatawan. Keywords: wisata bahari, analisis kesesuaian, daya dukung.
HUBUNGAN UKURAN DAN KEMAMPUAN MUAT KAPAL PUKAT CINCIN KECIL PADA BEBERAPA DAERAH DI SULAWESI UTARA Pamikiran, Revols DCh
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.148 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.9.1.2013.3450

Abstract

Kapal pukat cincin kecil merupakan kapal ikan yang umum digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil pada beberapa lokasi perairan di Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sesama dimensi ukuran utama dan antara dimensi ukuran utama dengan kemampuan muat pada 41 sampel kapal pukat cincin yang tersebar di beberapa lokasi di Sulawesi Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara dimensi utama kapal pukat cincin memiliki model persamaan B=1,855+1,149L dengan r=0,74; D=-3,817+9,277L dengan r=0,70, dan hubungan antara panjang (L) dan kapasitas muat (GT) kapal pukat cincin menuruti model persamaan GT pukat cincin=2,154L0,043L dengan r=0,95. Kata kunci: muatan kotor, kapal pukat cincin, Sulawesi Utara.   Small Purse-Seiner is a fishing vessel which is commonly used in catching small pelagic fish in several locations in North Sulawesi. The purpose of this study was to determine the relationship between the principle dimensions and between principle dimension with loading capacity (Gross Tonnage, GT).  This research was conducted on 41 purse seiners from several locations in North Sulawesi. The results showed that relationship bet­ween the principle dimensions followed the equation models B=1.855+1.149L, with r=0.74; D=-3.817+9.277L, with r=0.70, and the relationship between the length (L) and load capacity (GT) purse seiner is fitted by the following mathematical model: GT purse seiner=2.154L0.043L with r=0.95. Keywords: gross tonnage, small purse-seiner, North Sulawesi.
MINUTE ROTIFER DARI PERAIRAN ESTUARI SULAWESI UTARA DAN POTENSINYA SEBAGAI PAKAN LARVA IKAN Lahope, Hety B; Wullur, Stenly; Rimper, Joice; Pangkey, Henneke; Rumengan, IFM
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.307 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.9.1.2013.3446

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan minute rotifer (rotifer berukuran kecil) yang ada di perairan Sulawesi Utara yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai pakan awal larva ikan laut. Sampling rotifer dilakukan di tujuh lokasi estuari yang berbeda dengan menggunakan plankton net (mata jaring 40 mm). Prosedur identifikasi rotifer didasarkan pada tampakan morfologi. Morfometri dilakukan di bawah mikroskop pembesaran 40-100x yang terhubung dengan sebuah komputer untuk visualisasi dan pengukuran. Tiga spesies minute rotifer berhasil diisolasi dari tiga lokasi estuari berbeda. Colurella sp. diisolasi dari sebuah kolam payau (salinitas 25 ppt) yang dipenuhi sampah rumah tangga di Tumpaan Kabupaten Minahasa. Lecane sp. cf Lecane quadridentata (Lecane) diisolasi dari sebuah tambak payau (salinitas 17 ppt) di Meras Kota Manado dan Lecane sp. cf Lecane papuana di muara sebuah sungai kecil (salinitas <3 ppt) di Tateli Kabupaten Minahasa. Semua minute rotifer yang ditemukan ini berhasil didomestikasi dan menunjukkan adaptasi positif dalam pemeliharaan berbasis mikroalga. Colurella sp, Lecane sp. cf L. quadridentata dan Lecane sp. cf L. papuana memiliki ukuran panjang lorika (PL) masing-masing (97,10 ± 3,58 mm, 130,83 ± 12,06 mm dan 118,70 ± 5,46 mm) sedangkan lebar lorika (55,37 ± 2,04 mm, 91,95 ± 10,58 mm dan 101,28 ± 6,623 mm) yang secara signifikan lebih kecil dari B. rotundi­formis (PL 167,41 ± 9,10 mm dan LL 122,44 ± 7,29 mm) (p<0,05), sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan seba­gai pakan awal larva ikan laut yang membutuhkan pakan berukuran lebih kecil. Kata kunci: minute rotifer, Lecane sp, Colurella sp, larva   This study aims to get minute rotifers (small rotifers) in the waters of North Sulawesi which has the potential to be used as starting food for marine fish larvae. The sampling for rotifers was conducted in seven different estuarine locations using plankton net (mesh size 40 mm). Rotifer identification proce­dure was based on morphological appearances. Morphometric observations were conducted under 40-100x magnification microscope connected to a computer for visualization and measurement. Three roti­fer species were able to be isolated from three different estuarine locations. Colurella sp. was isolated from a brackish pond (salinity of 25 ppt) which were filled with household garbage in Tumpaan, Mina­hasa regency. Lecane sp. cf Lecane quadridentata (Lecane) was isolated from a brackish pond (salinity of 17 ppt) in Meras-Manado and Lecane sp. cf Lecane papuana at the estuary of a small river (salinity <3 ppt) in Tateli, Minahasa regency. All minute rotifers were successfully domesticated and showed po­sitive adaptation in microalgae-based rearing. Colurella sp, Lecane sp. cf L. quadridentata and Lecane sp. cf L. papuana have lorica length (PL) of 97.10 ± 3.58 mm, 130.83 ± 12.06 mm, and 118.70 ± 5.46 mm, respectively, and lorica width (LL) of 55.37 mm ± 2.04, 91.95 ± 10.58 mm, and 101.28 ± 6.623 mm. They were significantly smaller than B. rotundiformis (PL of 167.41 ± 9.10 mm and LL 122.44 ± 7.29 mm) (p<0.05), which are commonly used in larva rearing. Thus these rotifers have potentials to be used as starting food for marine fish larvae that need a smaller size food. Keywords: Minute rotifer, Lecane sp, Colurella sp, larva
MUTU IKAN KAKAP MERAH YANG DIOLAH DENGAN PERBEDAAN KONSENTRASI LARUTAN GARAM DAN LAMA PENGERINGAN Reo, Albert R
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.026 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.9.1.2013.3451

Abstract

Ikan adalah salah satu sumber protein hewani yang tinggi (18-20%)untuk memenuhi nutrisi dan kesehatan yang baik untuk tubuh manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar air, lemak dan protein, serta mengetahui preferensi panelis level untuk ikan kakap merah asin. Hasil analisis kadar air produk dengan konsentrasi larutan garam 15% pengeringan 12 jam adalah 37,38% juga konsentrasi larutan garam 17% dengan pengeringan 12 jam adalah 33,71%. Itu berarti memiliki nilai kadar air dapat diterima dan memiliki kualitas yang baik. Hasil kadar protein produk kakap merah asin konsentrasi larutan garam 15% dengan pengeringan 8 jam si 17% dengan pengeringan 10 jam adalah 39,73% memiliki nilai kadar protein dapat diterima dan memiliki kualitas yang baik. Hasil uji organoleptik seperti tekstur, oder, preferensi dan konsentrasi memiliki nilai tinggi dengan konsentrasi larutan garam 15–17%, pengeringan 12 jam. Kata kunci: kakap merah, konsentrasi larutan garam, waktu pengeringan.   Fish is the one of animal protein it means have a importance in nutrition and health. Fish also one the resource animal protein most as a food. Fish have a high protein content is around 18-20%, that is why good for human body. The objective of this research is to know the water content, fat, protein and know the level preference panelis to the salted fish red snapper. The result of water content analysis product with con­centration salted solution 15% with during 12 hours is 37, 38% also concentration salted solution 17% with drying 12 hours is 33,71%. That means have water content value can accepted and have a good quality. The result of protein content the product red snapper salted concentration solution 15% with drying 8 hours si 17% with drying 10 hours is 39,73% have a protein content value can accepted and have a good quality. The result of organoleptic test like texture, oder, preference and concentration the average score have a highest value which the concentration 15–17% salted solution with drying 12 hours because for that treatment organoleptic mostly panelis like it. Keywords: red snapper, salt concentration, drying time.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG DI PERAIRAN TERUMBU KARANG TAMAN NASIONAL BUNAKEN, SULAWESI UTARA Setiawan, Fakhrizal; Kusen, Janny D; Kaligis, Georis JF
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.22 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.9.1.2013.3447

Abstract

Penelitian ini dilakukan di area Taman Nasional Bunaken (TNB) pada 6 lokasi dengan 26 tapak pe­ngamatan. Ke 6 lokasi tersebut adalah Pesisir Selatan TNB, Pesisir Utara TNB, Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua, Pulau Mantehage dan Pulau Nain. Penelitian ini mencatat adanya total 368 spesies yang berasal dari 46 famili ikan karang. Pengelompokan berdasarkan kategori ikan karang ikan indikator dijumpai dari famili Chaeto­dontidae sebanyak 30 spesies, ikan mayor grup dari 32 famili sebanyak 238 spesies dan ikan target dari 15 famili sebanyak 100 spesies. Nilai persentase tutupan karang dan kelimpahan ikan menunjukkan Pulau Bunaken paling baik dibandingkan lokasi lainnya. Struktur komunitas, dilihat dari indeks ekologi keanekara­gaman (H’) yang berkategori sedang, kemerataan (E) yang berkategori labil dan dominansi (C) yang berkategori rendah) menunjukkan kondisi komunitas ikan karang masih baik. Perbandingan antar lokasi menunjukkan tingkat kesamaan spesies ikan karang mengelompok di lokasi Pesisir Selatan TN Bunaken berbeda dengan lokasi lainnya. Kata kunci: Taman Nasional Bunaken, terumbu karang, struktur komunitas ikan karang, Sulawesi Utara   This study was conducted in Bunaken National Park (TNB) area on six locations with 26 observation sites. The locations were Southern shore of TNB, Northern shore of TNB, Bunaken island, Manado Tua island, Mantehage island and Nain island. As many as 368 species of 46 families of coral reef fish were recorded in this study. Grouping into categories, those fish were 30 species indicator fish from Chaetodontidae family, 238 major group fish species from 32 families and 100 target fish species from 15 families. The coral co­verage percentage and fish abundance showed that Bunaken Island has the best condition compared to other locations. Based on the characteristics ecological indices such as medium diversity (H'), labile evenness (E) and low dominance, the condition of reef fish communities could be considered is good. Based on the similarity index, the group of fish species in the south shore of TNB was different from other locations. Keywords: Bunaken National Park, coral reef, reef fish community structure, North Sulawesi
KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA LAUT DI PERAIRAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN, SULAWESI UTARA Adipu, Yulianty; Lumenta, Cyska; Sinjal, Hengky J
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.57 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.9.1.2013.3448

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengkaji tingkat kesesuaian lahan budidaya laut, khususnya budidaya rumput laut dan budidaya ikan di Kurungan Jaring Apung (KJA) di perairan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara. Penentuan stasiun pengambilan sampel dilakukan berdasarkan identifikasi adanya aktivitas budidaya rumput laut dan budidaya ikan pada KJA di lokasi tersebut. Lima stasiun pengamatan yakni lokasi budidaya rumput laut desa Matandoi, dan lokasi budidaya ikan dalam KJA di desa Deaga, Torosik, Matandoi dan Pinalantungan. Pada tiap stasiun ditentukan satu titik pengambilan sampel air untuk pengukuran parameter kualitas air, serta aspek fisik lain seperti kecepatan arus dan beda pasang-surut air laut. Parameter kualitas air seperti amoniak, pH, suhu, nitrit dan turbiditas diukur menggunakan Water Test Kit AYI-10 in ScienPro, sementara salinitas dan oksigen terlarut (DO) diukur menggunakan Water Tester Horiba. Data yang diperoleh ditabulasi dan ditampilkan dalam histogram. Untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan, data dibandingkan dengan baku mutu persyaratan untuk lokasi budidaya rumput laut dan budidaya ikan di KJA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan desa Matandoi sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut. Perairan desa Pinalantungan, desa Torosik, dan desa Matandoi sesuai untuk lokasi budidaya ikan di KJA, sedangkan perairan desa Deaga kurang sesuai untuk lokasi budidaya KJA. Kata kunci: kesesuaian lahan, budidaya, rumput laut, KJA, Bolaang Mongondow Selatan.   This study was aimed to study the suitability level of waters in South Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi Province, for seaweed culture and fish culture in floating net cage (KJA). The stations for water sampling were appointed based on the occurrence of the seaweed culture and finfish culture in KJA in the area. Five stations were appointed, where one station representing seaweed culture area (Matandoi village waters), while four stations representing the floating net cage culture areas (Deaga, Torosik, Matandoi and Pinalantungan village waters). At each station, one point was appointed for sampling of waters for the measurement of water quality parameters and for assessment of other physical features of waters body such as, current velocity, wave height and tide level. The other water quality parameters such as, ammonia, pH, temperature, nitrite, and turbidity were measured using Water Test Kit AYI-10 in ScienPro, whereas dissolve oxygen (DO) and salinity were measured using Horiba Water Tester. The collected data were then tabulated and presented in histogram. To analyze the level of the suitability of the area for seaweed culture and floating net cage culture, the obtained data were compared to the standard water quality for the location of seaweed culture and floating net cage culture. The results show that, the territorial waters of Matandoi village is suitable for seaweed culture area. The territorial waters of Pinalantungan village, Torosik village and Matandoi village are suitable for floating net cage culture area, while territorial waters of Deaga village is less-suitable for floating net cage culture area. Keywords: area suitability, culture, seaweed, floating net cage, South Bolaang Mongondow.
TUNGGANG AIR PASANG SURUT DAN MUKA LAUT RATA-RATA DI PERAIRAN SEKITAR KOTA BITUNG, SULAWESI UTARA Rampengan, Royke M
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.003 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.9.1.2013.3449

Abstract

Tunggang air pasang surut dan muka laut rata-rata merupakan variabel penting pada oseanografi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan tunggang pasang surut dan muka laut rata-rata di perairan sekitar kota Bitung. Kisaran pasang surut dihitung dari perbedaan ketinggian tingkat pasang tinggi hingga surut terendah. Berarti permukaan laut diperoleh dengan menerapkan rumus Doodson filter dan metode admiralti. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata kisaran pasang surut di air perbani adalah 63,4 cm dan 155,2 cm pada pasang purnama. Permukaan laut rata-rata tahunan adalah 154,5 cm. Kata kunci: Bitung, pasang surut, muka laut rata-rata.   Tidal range and mean sea level are important oceanographic variables. This research was carried out with the aim of describing tidal range and mean sea level in the waters around Bitung city. Tidal range was calculated from the differences in height of successive high and low tide levels. Mean sea level was obtained by applying filter Doodson formula and admiralty method. The results show that the average tidal range at neap tide was 63,4 cm and 155,2 cm at spring tide. The annual mean sea level was 154,5 cm. Keywords: Bitung, tidal range, mean sea level.

Page 1 of 1 | Total Record : 7