cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Medicine and Health
ISSN : 24425227     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Journal of Medicine and Health (JMH) is an open access journal (OAJ), a periodic scientific publication biannually online published on February and August; using review and screening system by peer group reviewer. JMH receives original research articles which related to medicine, health, new developing therapy from traditional medicine or herbs and developing clinical therapy. JMH also receives otiginal review articles, case report, continuing medicine and health study. Articles should be written in good English or Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 264 Documents
Perbandingan Kemampuan Klasifikasi Citra X-ray Paru-paru menggunakan Transfer Learning ResNet-50 dan VGG-16 Tasya Berliani; Enggalwiguno Rahardja; Lina Septiana
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6116

Abstract

Di masa pandemi Covid-19, foto rontgen menjadi umum digunakan untuk memeriksa pasien diduga Covid-19. Pada citra x-ray paru-paru yang terkena Covid-19 ditemukan adanya bercak putih atau flek. Namun, paru-paru yang memiliki flek ini tidak selalu disebabkan oleh Covid-19. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengklasifikasikan beberapa jenis penyakit paru-paru dari citra x-ray, yaitu paru-paru dengan Covid-19, paru-paru dengan pneumonia, dan paru-paru yang memiliki flek dibandingkan dengan yang normal. Proses klasifikasi data pada penelitian ini dilakukan dengan membandingkan dua model yaitu CNN VGG-16 dan ResNet-50 dengan model yang telah dilatih sebelumnya. Metrik evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari akurasi, presisi, sensitivitas, spesifisitas, skor F1, dan kecepatan waktu inferensi. Hasil menunjukkan bahwa VGG-16 lebih unggul dari ResNet-50 dalam hal kecepatan inferensi namun tidak dalam hal metrik evaluasi lainnya. Perubahan parameter juga menunjukkan hasil yang berbeda, epoch 200 adalah nilai optimal. Untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan finetuning dengan menyesuaikan kondisi data yang digunakan. Sebagai simpulan, VGG-16 memiliki kemampuan klasifikasi yang lebih baik dibandingkan ResNet-50, namun perlu terus dikembangkan dengan memperbanyak data klinis yang aktual.
Soy Protein Diet Improves Nutritional Status of Offspring with Intrauterine Growth Restriction: A Scoping Review Rimonta F Gunanegara; Rafhani Rosyidah; Agung Dewanto; Sunarti Sunarti
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6175

Abstract

The intake of a low-protein diet during pregnancy can lead to alteration of fetal programming with long-term postnatal consequences exposing offspring with malnutrition to metabolic syndrome in adulthood. Accordingly, a more affordable alternative source of protein, such as soy, is used to improve nutrition. The objective of this study was to examine the advantages and disadvantages of soy as an alternative protein source to improve offspring nutrition with Intrauterine Growth Restriction (IUGR). The method used was a scoping review, and the design was selected to provide coverage on a certain topic with the concepts from available literature. Systematic searches were performed in six databases: PubMed, EBSCO, ScienceDirect, SCOPUS, Sage Journals, and Cochrane Library. Data collection included reports published from January 2013 to January 2023. Nine articles meeting the inclusion criteria were obtained and analyzed for review. Protein from a plant source is considered a good alternative in restoring nutrition to malnourished offspring in early life. Furthermore, the dietary deficiency of soy can be corrected with close monitoring. As a conclusion, the quality of life of offspring with IUGR is improved through a well-planned supplementation.
Waktu Pajanan Layar dan Keterlambatan Perkembangan pada Anak Balita di Tanjung Duren – Jakarta Barat Fina Azlina; Lily M Surjadi
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6360

Abstract

Waktu pajanan layar adalah waktu yang dihabiskan secara pasif menatap hiburan ataupun permainan berbasis layar (TV, komputer, perangkat seluler). Kondisi ini banyak terjadi terutama pada masa pandemi Covid-19. Semakin tinggi waktu pajanan layar maka kemungkinan akan meningkatkan pula dampak negatif pada perkembangan anak yang akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu pajanan layar dengan keterlambatan perkembangan pada anak balita yang melibatkan 138 balita pada bulan Agustus sampai dengan November 2022. Penelitian ini didesain sebagai penelitian cross sectional dan dilakukan di Posyandu yang terdapat di wilayah Puskesmas Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, dengan menggunakan kuesioner waktu pajanan layar dan Kuesioner Pra skrining Perkembangan (KPSP) untuk menilai perkembangan balita. Data menunjukkan bahwa sebanyak 74 subjek (53,6%) memiliki waktu pajanan layar lebih dari 1 jam per hari (dikategorikan sebagai waktu pajanan layar tinggi) dan sisanya tergolong waktu pajanan layar rendah. Dari nilai KPSP yang diperoleh, 10 subjek (7,2%) diduga mengalami keterlambatan perkembangan, dan uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p 0,000. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lamanya waktu pajanan layar dengan kemungkinan keterlambatan perkembangan pada anak balita.
Kasus Pure Red Cell Aplasia Sebagai Komplikasi Terapi Tuberkulosis Pulmonal Abram P Tanuatmadja; Limdawati Kwee; Fellicia Tan; Ardo Sanjaya; Julia W Gunadi
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6682

Abstract

Pure red cell aplasia (PRCA) is a rare disorder caused by failure or abnormalities in erythropoiesis only, among all cell lines of the bone marrow. Patients with PRCA usually present with no specific clinical presentation, thus its recognition depends on a clinician’s high index of suspicion, to facilitate early diagnosis and treatment to provide a better prognosis. Tuberculosis (TB) is the infectious disease with the highest casualty rate worldwide and is still a problem in many countries, including Indonesia. This study is a case report of a pulmonary TB patient with PRCA as a complication. PRCA was confirmed by the bone marrow puncture (BMP) examination as the gold standard. In this case, PRCA was inferred to occur due to the use of Isoniazid in the TB treatment regimen. The discontinuation of Isoniazid administration subsequently results in the normalization of Hb levels. In this paper we would highlight PRCA as a differential diagnosis that should be taken into consideration in symptomatic anemia in patients with tuberculosis under standard treatment.
Pengaruh Ekstrak Kunyit dan Kulit Manggis Terhadap Ekspresi Gen PPARα Pada Retina Model Tikus yang Dinduksi DTL Yenny Noor; Diana K Jasaputra; Julia W Gunadi; Ronny Lesmana; Riska A Safira
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6684

Abstract

A long-term high-fat diet (HFD) was proven to induce metabolic dysfunction and causes various organ inflammation, including the retina. As the regulator of lipid metabolism, PPARa plays a role in retinal lipid metabolism and served as one of the targets for decreasing lipid deposition in the retina. Turmeric and mangosteen peel are Indonesian medicinal herbs with enormous health effects, including antiinflammation and hypolipidemic properties. This study aims to determine the effect of ethanol extract from turmeric and mangosteen peel on PPARa  gene expression in the retina of an HFD-induced rat model. Twenty male Wistar rats were divided into 5 groups: negative control, positive control, turmeric, mangosteen, and fibrate. At the end of the study, total cholesterol and triglyceride levels from the blood were measured. The retina was extracted to conduct Realtime PCR for PPARα gene expression. The result showed a significant difference in triglyceride levels between positive control and turmeric groups, and PPARa gene expression in the retina between the control negative, positive, and turmeric groups, but no significant difference was found in other groups. This study concludes that the extract of turmeric increases the expression of the PPARa gene expression in the retina in an HFD-induced rat model.
AN OVERVIEW OF HIV POSITIVE PATIENTS IN MIMIKA REGENCY PAPUA ON 2019 Rosa YA Faot; July Ivone; Limdawati Kwee
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i1.4604

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is an infection that attacks and damages our body's immune system, resulting in immune deficiency. According to UNAIDS report, in 2018 approximately around 640,000 people in Indonesia live with HIV, of whom there were 46,000 people newly infected by HIV and 38,000 died because of AIDS. This research aims to determine the characteristic of HIV patient in Mimika, Papua in 2019 according to age, sex, marital status, pregnancy status, education, occupation, risk category, visitation status, spouse's HIV status, mode of transmission, and comorbid. This is a descriptive observational and retrospective studies using medical records of HIV patient with whole sampling method. The result showed that the prevalence of HIV patient was 345 cases with 337 among them fulfilled the criteria. As conclusion, highest incidence acquired at age 25-49 (69.7%), the most sex was women (50.4%), most marital status was married (57%), most pregnancy status was not pregnant (84.7%), latest education was senior high school (45.7%) most occupation was private employee (24.9%) the most risky group was high risk couple (65%), most visit status was unaccompanied (98.8%), most spouse's HIV status was unknown (91.4%), most mode of transmission was sexually (97.3%), and the most patient's comorbid was none (26.1%).
SYSTEMATIC REVIEW: PEMODIFIKASI GENETIK β-THALASSEMIA Mutia Syafira; Yunia Sribudiani; Ani M Maskoen
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i1.4788

Abstract

Thalassemia merupakan penyakit herediter yang diturunkan secara autosomal resesif. Thalassemia dibedakan berdasarkan variasi mutasi pada gen globin yaitu gen α-globin (HBA) pada α-Thalassemia dan β-globin (HBB) pada β-Thalassemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pemodifikasi genetik pada penderita β-Thalassemia. Data sistimatika review dengan pengumpulan jurnal terkait pada cangkupan kata kunci yang dikomplikasikan prinsip PRISMA. Beberapa hasil studi melaporkan polimorfisme dan atau mutasi pada gen KLF1, BCL11A dan region intergenik HBS1L-MYB sebagai pemodifikasi genetik pada β-Thalassemia, didapatkan sembilan jurnal yang masuk ke dalam kriteria inklusi. Berdasarkan hasil review yang dapat ditelaah bahwa pemodifikasi genetik pada kasus β-Thalassemia diketahui adanya mutasi atau polimorfisme pada gen-gen berikut KLF1, BCL11A, dan HBS1L-MYB cenderung meningkatkan produksi HbF dengan mengatur ekspresi γ-globin dan memperbaiki gejala klinis pasien β-Thalassemia. Simpulan dari kasus tersebut menjadikan peluang di kemudian hari untuk perawatan pasien yang dipersonalisasi disesuaikan dengan fenotipe yang meringankan gejala penderita β-Thalassemia.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Common Cold pada Mahasiswa (Studi Kasus: Mahasiswa Farmasi Universitas Tanjungpura) Muhammad A Yuswar; Syifa N Musyafak
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i1.5628

Abstract

Swamedikasi yakni upaya mandiri seseorang dalam mengobati dirinya sendiri, khususnya dari penyakit ringan seperti common cold. Kurangnya pengetahuan mengenai informasi obat dapat menyebabkan swamedikasi yang tidak tepat dan berdampak negatif pada kesehatan individu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi korelasi pengetahuan dan perilaku swamedikasi common cold pada mahasiswa Farmasi angkatan 2021 di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, dilakukan penelitian menggunakan metode cross sectional dan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 105 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Spearman rank pada SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen kuesioner valid dan reliabel, serta terdapat hubungan positif antara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi common cold dengan koefisien korelasi sebesar 0,556. Disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka perilaku swamedikasi common cold akan semakin baik.
Uji Diagnostik Virus Hepatitis B dan CRISPR-Cas Sebagai Alternatif: Sebuah Tinjauan Pustaka Jeanne E Christian; Hartiyowidi Yuliawuri; Natalia Gunawan; Yolanda Charlotte
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i1.5959

Abstract

Infeksi virus hepatitis B (VHB) kronis ditandai dengan keberadaan covalently closed circular DNA (cccDNA) VHB. Metode diagnostik VHB umumnya berbasis molekuler dan serologi, tetapi metode ini memiliki kekurangan terutama di dalam mendeteksi jumlah cccDNA VHB yang rendah, mendeteksi VHB di awal tahapan infeksi, dan membedakan cccDNA dari relaxed circular DNA (rcDNA). Artikel ini bertujuan untuk membandingkan sistem diagnostik konvensional (molekular dan serologi) dengan sistem diagnostik berbasis CRISPR-Cas yang dapat menjadi alternatif uji diagnostik VHB. Metode penelitian menggunakan studi literatur mengenai diagnostik VHB secara konvensional dan metode CRISPR-Cas untuk VHB yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Prinsip metode CRISPR dalam sistem penyuntingan genom melibatkan CRISPR-associated nuclease (Cas) dalam memodifikasi nukleotida asing yang bekerja dalam tiga tahapan yaitu adaptasi, ekspresi, dan intervensi. Beberapa penelitian penggunaan CRISPR-Cas dalam diagnostik VHB menunjukkan bahwa CRISPR-Cas dapat mendeteksi cccDNA VHB dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Simpulan adalah metode CRISPR-Cas dapat dikembangkan sebagai alternatif uji diagnostik infeksi VHB.
Preoperative Oral Health Screening Prior to Cardiovascular Intervention: A Case Report Stephani Dwiyanti; Benyamin Benyamin; Maria Zita; Maria RM Ole; Jennifer Wiranatha
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i1.6606

Abstract

Valvular heart disease causes impaired function and decreases the quality of life. This condition could be managed surgically, but preoperative oral health screening is needed to eliminate oral infection. This paper aims to review common clinical findings in oral examination procedures, give an overview of the relationship between oral health and cardiovascular disease, and differentiate between pathological and typical findings in the oral cavity. A 34-year-old woman with valvular heart disease was referred for oral health evaluation and treatment before elective heart valve surgery. She was routinely medicated with Warfarin. She needed extraction of a fractured tooth, restoration of carious teeth, and scaling. Less urgent findings such as abfractions, gingival recession, malposed, and missing teeth could be treated after heart surgery. It was suggested that she not stop Warfarin and take Amoxicillin before dental procedures. In conclusion, general practitioners (GPs) play a significant role in the early detection of commonly found dental problems, especially in patients with cardiovascular disease who are about to undergo surgical intervention. GPs should be able to perform basic oral examinations, provide basic oral health education, know when to use antibiotic prophylaxis or discontinue anticoagulants wisely, and make timely referrals for patients requiring further dental management.