cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17 No 2 (2019)" : 7 Documents clear
IDENTIFIKASI AWAL DAN REKONSTRUKSI ASPEK BIOLOGIS TEMUAN RANGKA MANUSIA LJ-1 SITUS LEANG JARIE, MAROS, SULAWESI SELATAN nfn Fakhri; Budianto Hakim
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.344

Abstract

The purpose of this study is to provide an explanation of the physical aspect reconstruction effort one of the human skeletal findings that once bathed the Maros karst area. The results of excavations in 2018 and 2019 found a human skeleton at the Leang Jarie Site (LJ-1) associated with the Toalian techonology stone tools and Austronesian earthenware, with age 2700 BP. Morphometric analysis of the LJ-1 framework on the skeletal part that remains and can be recognized, known that the sex is a male aged 35-40 years with a height of 166 cm, originating from the Austronetian nation. This framework is considered as important data and evidence of human presence as ancestors of the inhabitants of the Maros cultural region, which provides evidence of the relationship between the Austromelanes race (the Toalian people) and the Mongoloid race (Austronesian people). the technology found in one context with this framework is bone artifacts in the form of Bone point, Maros point, mollusca shell kitchen waste and some pottery fragments. The results of this study can provide a new perspective on racial interactions (Austromelanesoid  with Austronesian) in the past. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi penjelasan tentang usaha rekonstruksi aspek fisik salah satu temuan rangka manusia yang pernah mendiami kawasan karst Maros. Hasil ekskavasi  tahun 2018 dan 2019 menemukan rangka manusia di Situs Leang Jarie (LJ-1) berasosiasi dengan alat batu teknologi Toalian dan gerabah Austronesia, dengan umur 2700 BP. Analisis morfometri terhadap rangka LJ-1 pada bagian rangka yang masih tersisa dan dapat dikenali, diketahu bahwa berjenis kelamin adalah laki-laki, berusia 35-40 tahun dengan tinggi badan 166 cm, berasal dari bangsa Austronesia. Rangka ini dianggap sebagai data dan bukti penting kehadiran manusia sebagai leluhur penghuni wilayah budaya Maros, yang memberikan bukti terjadinya relasi antara ras Austromelanesoid (bangsa Toalian) dengan ras Mongoloid (bangsa Austronesia. Adapun teknologi yang ditemukan dalam satu konteks dengan rangka ini adalah artefak tulang berupa lancipan (bone point), artefak batu (maros point), sampah dapur cangkang moluska dan beberapa fragmen tembikar. Hasl penelitian ini dapat memberikan perspektif barun tentang intereaksi antara ras (Austromelanesoid dengan Austronesia) yang melahirkan suatu bentuk akulturasi buadaya yang terjadi pada masa lampau.
PERKERETAAPIAN MASA KOLONIAL BELANDA DI WILAYAH INDRAMAYU: PEMETAAN JALUR DAN BUKTI TINGGALAN ARKEOLOGIS Revi Mainaki; Iwan Hermawan
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.222 KB) | DOI: 10.24832/wln.v17i2.388

Abstract

The development of railways in Indonesia is related to the exploration and exploitation of the Dutch Colonial Government. This mode of transportation is used for the transport of agricultural commodities so that a compilation of enforced planting politics is enforced. Indramayu is one of the areas on the island of North Java which is traversed by the construction of this route, so it has archaeological remains, everything related to trains or is called railways. This remains a fact and basis in colonial history. The difficulty of preserving the railroad relics in the Indramayu Region is difficult to find and approve. Through qualitative and exploratory methods, this study further discusses railways that have archaeological values on the track built by the Dutch colonial government, namely (1) the non-active Jatibarang - Indramayu railway line; (2) Jatibarang - Karangampel non-active train line; (3) Haurgeulis - Arjawinangun Lane which is an active route at this time. Data collected through literature studies, documentation studies, observations collected by interviews. The results showed some relics in this region which are found in several districts namely Jatibarang, Karangampel, Haurgeulis Districts and along the Jatibarang-Indramayu, Jatibarang-Karangampel and Jatibarang-Arjawinangun subdistricts. Also around the former station Kadokangabus Station, Terisi and Telagasari. Besides that, it was located in the center of Cimanuk economic activity during the colonial period. Perkembangan kereta api di Indonesia, terkait dengan eksplorasi dan eksploitasi Pemerintah Kolonial Belanda. Mode transportasi ini digunakan untuk pengangkutan komoditas pertanian, sehingga menguat ketika diberlakukannya politik tanam paksa. Indramayu adalah salah satu wilayah di Utara Pulau Jawa yang dilalui oleh pembangunan jalur ini, sehingga memiliki tinggalan arkeologis, segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta api atau disebut dengan perkretaapian. Tinggalan tersebut menjadi fakta dan dasar dalam mengidentifikasi sejarah masa kolonial. Kurangnya kesadaran pelestarian tinggalan perkretaapian di Wilayah Indramayu, membuatnya sulit dicari dan di identifikasi. Melalui pendekatan kualitatif dan metode eksploratif, penelitian ini mengidentifikasi tinggalan perkeretaapian yang memiliki nilai arkeologis di jalur yang dibangun pemerintah kolonial belanda yakni jalur (1) Jalur kereta api non aktif Jatibarang – Indramayu; (2) Jalur kereta api non aktif Jatibarang – Karangampel; (3) Jalur Haurgeulis – Arjawinangun yang merupakan jalur aktif saat ini. Data dikumpulkan melalui studi literatur, studi dokumentasi, observasi yang diperkuat oleh wawancara. Hasil penelitian menunjukan beberapa peninggalan di wilayah ini yang terdapat di beberapa kecamatan yakni Kecamatan Jatibarang, Karangampel, Haurgeulis serta di sepanjang jalur penelusuran Jatibarang-Indramayu, Jatibarang-Karangampel dan Jatibarang-Arjawinangun. Juga di sekitar bekas stasiun Stasiun Kadokangabus, Terisi dan Telagasari. Selain itu terdapat tinggalan di pusat aktivitas ekonomi Cimanuk pada masa kolonial.
KONSEP PENGEMBANGAN MUSEUM BALLA LOMPOA SUNGGUMINASA DI KABUPATEN GOWA: MEDIA PUBLIKASI ARKEOLOGI Nurul Adliyah Purnamasari
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.805 KB) | DOI: 10.24832/wln.v17i2.374

Abstract

Museum Balla Lompoa Sungguminasa is one of the museum with archaeological resource that is interesting enough to be published to the public. This museum is very able to represent the greatness of the Gowa Kingdom  in the past with collection of objects. However, there are still many problems of Museum Balla Lompoa Sungguminasa has, such as ehuman resources are not yet complete, the exhibition models that need to be updated, the information labels must be included, facilities and infrastructure of exhibitions, and also the concept of promotions and publications. Therefore, this study was conducted to determine the condition of Museum Balla Lompoa Sungguminasa, then it’s evaluated to choose the best development concept that can be used for this  better museum. This research used survey and observation techniques, qualitatives descriptive method with an inductive approach.Museum Balla Lompoa Sungguminasa adalah salah satu museum dengan koleksi arkeologis yang cukup menarik untuk dipublikasikan kepada masyarakat. Museum khusus Kerajaan Gowa ini mampu merepresentasikan kebesaran Kerajaan Gowa di masa lampau melalui benda koleksinya. Namun, berdasarkan hasil observasi pada Museum Balla Lompoa Sungguminasa masih banyak permasalahan yang ditemukan di dalamnya. Seperti sumber daya manusia yang belum lengkap, model penataan koleksi yang perlu dibenahi, label informasi yang harus dilengkapi, sarana dan prasarana pameran hingga bentuk promosi dan publikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi Museum Balla Lompoa Sungguminasa saat ini, kemudian berdasarkan kondisi tersebut penulis melakukan evaluasi untuk menentukan konsep yang bisa digunakan dalam pengembangan Museum Balla Lompoa Sungguminasa ke depannya. Penelitian ini menggunakan teknik survei dan observasi, dengan metode deskriptif dan penalaran induktif.
ISLAM PEREKAT SUKU BANGSA INDONESIA : JEJAK ULAMA PERINTIS AGAMA ISLAM DAN INTEGRASINYA TERHADAP MASYARAKAT DI DAERAH MAJENE SULAWESI BARAT makmur makmur
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1300.731 KB) | DOI: 10.24832/wln.v17i2.392

Abstract

The Indonesian nation consists of 1,340 tribes spread over 17,504 islands framed by "Bhinneka Tunggal Ika". One that knits neatly with the ethnic diversity in the archipelago is Islam. The purpose of this study is to trace the actors who spread Islam since hundreds of years ago in the Mandar tribe, especially in Majene districts. To achieve these objectives using a descriptive qualitative approach with a survey method of archeological objects to see the shape, space, and time, then classify and interpret the findings of artifacts related to the topic. In the pattern of the distribution of the tombs of the Ulama in Banggae, the tombs of the Ulama Sheikh Abd. Manan and Tuan Dicolang, in the Pamboang area, there are Suryodilogo and Sheikh Muhammad Ali's tombs, while in Sendana there are the tombs of Sheikh Zakaria, Tuan Dimelayu, and Tosalama in Salobulo named Sheikh Syain. The pioneers of the Islamic religion succeeded in becoming the glue of the tribe and made Islam a communal identity of the Mandar tribe, as well as being a driving force in socioeconomic and cultural life. Bangsa Indonesia terdiri dari 1.340 suku yang tersebar di 17.504 pulau yang dibingkai oleh “Bhinneka Tunggal Ika”. Salah satu yang merajut dengan apik keberagaman suku bangsa di Nusantara ialah Islam. Tujuan penelitian ini ialah mencari jejak aktor yang menyebarkan agama Islam sejak ratusan tahun yang lalu di suku Mandar khususnya di Kabupaten Majene. Untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode survei benda-benda arkeologi untuk melihat bentuk, ruang, dan waktu, kemudian mengklasifikasi dan menginterpretasikan temuan artefak yang terkait dengan topik. Di dapat pola persebaran makam para ulama di Banggae yakni makam ulama Syekh Abd. Manan dan Tuan Dicolang, di wilayah Pamboang terdapat makam Suryodilogo dan Syekh Muhammad Ali, sedangkan di Sendana ada makam Syekh Zakaria, Tuan Dimelayu, dan Tosalama di Salobulo yang bernama Syekh Syain. Para ulama perintis agama Islam berhasil menjadi perekat suku bangsa dan menjadikan Islam sebagai identitas komunal bagi suku Mandar, serta menjadi motor penggerak dalam kehidupan sosial ekonomi dan budaya.
NEW FIND OF STEGODON SOMPOENSIS MAXILLA FROM CANGKANGE, SOPPENG, SOUTH SULAWESI Unggul Prasetyo Wibowo; Budianto Hakim; Andi Muhammad Saiful
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.366

Abstract

AbstractSulawesi is an island located in the Wallacean region of Indonesia. Geologically its lying midway between the Asian (Sunda) and Greater Australian (Sahul) continents. As a part of Wallacea islands, Sulawesi is an island that shows complexity either in biology or geology perspective. Though the distinctive quaternary vertebrate faunas has been described from Sulawesi,  historical pattern of biogeography still poorly understood due to the lack of the fossil specimens. This paper describes a maxilla fragment with molar root teeth M1 from an archaic proboscidae called Stegodon that found in the conglomeratic sandstone layer, at Cangkange Area, 4 km to the east of Cabenge Archeological site of South Sulawesi, Indonesia. Based on the comparation measuring data between this specimen with the Stegodon sompoensis and the Stegodon trigonocephalus it can be concluded that this Stegodon maxilla fragment is belong to the Stegodon sompoensis, a dwarf Stegodon from Sulawesi Island. The specimen is a surface collected sample. Based on the attached matrix on the maxilla fragment,  this specimen interpreted to be derived from subunit A of Beru Member, Walanae Formation. This Stegodon sompoensis is likely to be lived near the coastal-lagoon around 2,5 million years ago or Late Pliocene to Early Pleistocene. This estimated specimen age is based on the vertebrate fauna biostratigraphy of South Sulawesi. ABSTRAKPulau Sulawesi di Indonesia terletak di daerah Wallacea. Secara geologi pulau ini berada di antara Asia (paparan Sunda) dan Australia (paparan Sahul). Sebagai bagian dari kepulauan Wallacea, Pulau Sulawesi merupakan pulau yang memiliki kompleksitas baik dari segi biologi maupun geologinya. Meskipun fauna-fauna vertebrata kuarter Sulawesi sudah dideskripsi, tetapi sejarah dan pola biogeografi di pulau ini masih sangat kurang dikarenakan sedikitnya fosil-fosil yang ditemukan. Tulisan ini mendeskripsikan fragmen maxilla dari gajah purba jenis Stegodon dengan akar gigi molar M1 yang ditemukan di perlapisan batupasir konglomeratan, di daerah Cangkange, sekitar 4 km ke arah timur dari situs arkeologi Cabenge, Sulawesi Selatan, Indonesia. Berdasarkan  perbandingan data pengukuran spesimen ini dengan Stegodon sompoensis dan Stegodon trigonocephalus maka disimpulkan bahwa fragmen maksila Stegodon ini berasal dari Stegodon sompoensis, jenis Stegodon kerdil dari Pulau Sulawesi. Spesimen ini merupakan temuan permukaan, tetapi berdasarkan matriks sedimen yang masih menempel di maxilla, spesimen ini diinterpretasikan berasal dari Anggota Beru subunit A. Stegodon sompoensis ini diperkirakan dahulu hidup di lingkungan lagoon dekat pantai pada sekitar 2,5 juta tahun yang lalu atau Pliosen Akhir sampai Pleistosen Awal. Penentuan umur ini didasarkan pada boistratigrafi  fauna vertebrata  Sulawesi Selatan.
Reviewer Acknowledgement Tim Redaksi
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.415

Abstract

Index Penulis Tim Redaksi
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.411

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 7