cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
AGREGAT
ISSN : 25412884     EISSN : 25410318     DOI : -
Core Subject : Engineering,
AGREGAT is a journal of Department of Civil Engineering, University of Muhammadiyah Surabaya. The journal will be published in every May and November yearly. The journal consists of result of research, literature review, and case reports created as realization of Tridharma college.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2023)" : 14 Documents clear
ANALISA PERKUATAN LERENG PADA TANAH LUNAK YANG DIPENGARUHI OLEH KEMIRINGAN LERENG DAN JUMLAH LAPIS GEOTEKSTIL Irwandy Muzaidi; Elia Anggarini
AGREGAT Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v8i1.18494

Abstract

Kondisi lereng dengan beban yang besar dan kemiringan yang curam dapat menyebabkan terjadinya kelongsoran sehingga diperlukan suatu perkuatan lereng, salah satunya dengan menggunakan geotekstil. Geotekstil sering digunakan karena memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah mudah dalam pelaksanaan dan dapat meningkatkan stabilitas lereng dengan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemiringan lereng dan jumlah lapis geotekstil terhadap angka keamanan lereng (SF) dengan menggunakan program geoslope. Hasil analisis yang didapatkan dari program Geoslope dengan kemiringan lereng 45° tanpa adanya perkuatan didapatkan nilai SF adalah 0,784 dan tegangan air pori 32,415 dan pada kemiringan lereng 65° tanpa adanya perkuatan nilai SF adalah 0,714 dan tegangan air pori 39,686, Sedangkan untuk perkuatan 1 lapis pada kemiringan 45° didapatkan nilai SF 0,923 dan tegangan air pori 61,786 dan pada kemiringan lereng 65° didapatkan nilai SF 0,813 dan tegangan air pori 61,786, dengan perkuatan 2 lapis pada kemiringan lereng 45° didapatkan nilai SF 0,979 dan tegangan air pori 61,786 pada kemiringan lereng 65° didapatkan nilai SF 0,866 dan tegangan air pori 61,786, kemudian dengan perkuatan 3 lapis pada kemiringan 45° didapatkan nilai SF 1,022 dan tegangan air pori 61,786,  pada kemiringan lereng 65° didapatkan nilai SF 0,917 dan tegangan air pori 61,786. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kenaikan pada kemiringan lereng 45° dan 65° setelah adanya perkuatan geotekstil seiring dengan bertambahnya lapisan geotekstil.
ANALISIS KERUSAKAN SALURAN IRIGASI PRIMER DAERAH IRIGASI (D.I) CIKAHURIPAN KABUPATEN SUKABUMI Farida Azzahra; Nia Kartika; Siti Muawanah Robial; Tahadjuddin Tahadjuddin
AGREGAT Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v8i1.18615

Abstract

Strategi pemeliharaan yang tepat diperlukan untuk meningkatkan kondisi saluran agar dapat mengairi lahan pertanian secara efisien. Saluran primer kanan di daerah irigasi Cikahuripan mengairi area pertanian seluas 354 ha dengan panjang saluran 3,6 km. Kerusakan di sepanjang saluran menyebabkan kondisi irigasi tidak optimal. Tujuan pada penelitian ini mengetahui jenis dan penyebab dan mengetahui bagaimana analisis kerusakan saluran irigasi sebagai dasar operasi dan pemeliharaan. Jenis Penelitian ini dilakukan dengan metode Survei yang dilakukan dilapangan di dasarkan pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomer 12/PRT/M/2015 Tentang eksploitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi yang menjelaskan tentang Kondisi Kerusakan Jaringan Irigasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Saluran Irigasi Primer Kanan Cikahuripan mengalami 55% kerusakan ringan, 27% rusak sedang, dan 9% rusak berat. Sementara pada bangunan di saluran pembawa terbagi menjadi bangunan pengatur dan bangunan pelengkap, pada bangunan pengatur memiliki kondisi 56% rusak ringan  dan 25% rusak sedang, sedangkan pada bangunan pelengkap memiliki kondisi 57% rusak ringan, 9% rusak sedang, dan 4% rusak berat. Jenis kerusakan ringan disebabkan oleh plesteran/siaran terkelupas, retak, dan lubang <0.40 m, sedangkan kerusakan berat disebabkan oleh kondisi tanah (erosi buluh), tanggul putus/roboh dan pintu air. Adapun hasil analisis kerusakan pada saluran dan bangunan di saluran primer kanan menunjukkan adanya kerusakan dalam kondisi ringan sehingga berdasarkan persentase tingkat kerusakan termasuk dalam kelompok baik maka diperlukan pemeliharaan perawatan yaitu Operasi dan Pemeliharaan (OP) rutin, perawatan berkala bersifat perbaikan.
Analisis Pengawasan Ketertiban Lalu Lintas Pada Daerah Rawan Kemacetan dan Kecelakaan di Kabupaten Gresik R Endro Wibisono; Fitroh Maulana Rizki
AGREGAT Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v8i1.17440

Abstract

Kabupaten Gresik merupakan salah satu kabupaten dengan tingkat kemacetan dan kecelakaan yang cukup tinggi sehingga perlu adanya analisis mengenai langkah kerja hingga penilaian pengawasan ketertiban lalu lintas. Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui survei pengamatan, wawancara dan studi pustaka serta pengolahan data. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui langkah kerja, pelaksanaan, permasalahan dan solusi pengawasan dan penilaian pengawasan pada daerah rawan kemacetan dan kecelakaan di Kabupaten Gresik. hasil pengamatan adalah Langkah kerja dan K3 yang menjadi pedoman oleh petugas pengawasan. Dalam pelaksanaan pengawasan terdapat beberapa data yang perlu diperoleh, diantaranya data lingkungan, data lalu lintas, data geometri, dll. Dalam perhitungan Kinerja ruas jalan perkotaan dengan menggambil salah satu lokasi dan diperoleh nilai derajat kejenuhan 0.43, kecepatan kendaraan ringan rata-rata dan indeks tingkat pelayanan jalan adalah B yaitu lalu lintas masih stabil. Namun, untuk peramalan untuk 5 tahun mendatang diperoleh nilai derajat kejenuhan 3.49, kecepatan rata – rata kendaraan dan indeks tingkat pelayanan adalah F yaitu kondisi lalu lintas buruk. Permasalahan kerap kali muncul namun, akan diselesaikan dengan solusi yang berdasar pada hasil diskusi. Kriteria penilaian pelaksanaan pengawasan terdiri atas penilaian ketepatan, kedisiplinan, Kesesuaian Petugas dalam melaksanakan tugas pengawasan ketertiban lalu lintas dan keakuratan.
Penggunaan Batu Bronjong Sebagai Alternatif dinding penahan tanah tower bts (base transceiver station) pada kontur tanah miring Kevin Candra Darmawan; Muhammad Shofwan Donny Cahyono; Yoanita Eka Rahayu
AGREGAT Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v8i1.18493

Abstract

Pada pembangunan tower BTS di tanah berkontur miring perlu diperhatikan bagaimana kondisi tanah pada daerah tersebut sehingga solusi yang diberikan dapat aman secara struktur. Berdasarkan permasalahan yang ada ditetapkan batu bronjong sebagai alternatifnya. Batu bronjong adalah hasil anyaman kawat yang dibentuk balok atau prisma yang kemudian diisi dengan batu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, penulis menganalisis secara manual dan dengan bantuan aplikasi untuk menghitung perencanaan struktur berdasarkan kondisi di lapangan. Berdasarkan hasil analisis direncanakan digunakan kawat bronjong dengan ukuran setiap baloknya sebesar 2 m x 1 m x 1 m dan 2 m x 1 m x 0,5 m dengan bentang 35 m dan ketinggian 4 m. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai Safety Factor (SF) untuk kestabilan dari DPT batu bronjong tersebut sebesar 4,89 (> 1,50), nilai SF terhadap guling sebesar 2,11 (> 1,50) dan nilai SF terhadap geser sebesar 2,29 (> 1,50). Hasil analisis dengan Plaxis diperoleh nilai SF kelongsoran saat diaplikasikan batu DPT batu bronjong saja sebesar 17,754 , nilai SF kelongsoran saat DPT batu bronjong dibebani oleh pondasi rakit yaitu 17,960 , dan nilai SF kelongsoran saat DPT batu bronjong dibebani oleh pondasi rakit beserta tower BTS yaitu 6,98. Desain struktur tersebut memiliki nilai extreme total displacement 70,80 mm (> 50 mm) maka perlu diberi tiang pancang berjumlah 6 x 6 dengan diameter tiang 20 cm, di tanamkan dengan kedalaman 10 meter. Dengan penambahan tiang pancang diperoleh nilai extreme total displacement 41,03 mm  (< 50 mm) sehingga dikatakan aman.

Page 2 of 2 | Total Record : 14