Articles
98 Documents
Melacak Pemikiran Masyarakat sebagai Jiwa Agama
Purwanto, Purwanto
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 1 No 2 (2011): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (349.497 KB)
Being understood of human life included in the way of thinking and behavior basically need to rely on three elemental points or social dimensions of society; social structure, social interaction and social institutions. The whole activities of human life, morality and laws, Jobs and relaxation, family and personality, knowledge, art and everything named as religion come and pass through those social dimensions. Religion is considered as the essential value that controls behavior of each individual of society. Functionalism says that superstructure of ideology is the main standard which affects the framework in social structure and infra-structure. To understand religiosity of a certain society depends on how we deeply know the life style of them. Later, it also depends on their social structure. In this context religion is commonly seen as the agent of moral socialization. Religion becomes the principal values that organize the attitude of society. To perform their activities, religious people will attempt to unify three elements of beliefs, symbols and rituals. This article tries to describe how the role of religion plays on the level of social through which elemental aspects of human life following and joining in shaping the condition of human life, behavior, ethic, culture, tradition and etcetera.
The Light History of Protestantism and the Emerging of Nationalism and Protestantism in South Korea
Hakam, Saiful
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 3 No 2 (2013): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (284.531 KB)
Artikel ini mengulas kebangkitan Kristen Protestan di Korea untuk mengukur sejauh mana hubungan antara agama dan nasionalisme di Korea, serta mencoba untuk mengkaji hubungan kuat antara agama dan nasionalismnasionalisme. Untuk mengulas hal tersebut, artikel ini memfokuskan diri pada telaah historis masa pendudukan Jepang, yakni pada rentang waktu antara tahun 1910 hingga 1945. ArikelArtikel ini berusaha untuk menjawab pertanyaan sederhana: mengapa Kristen Protestan berhasil menjadi agama yang kuat dan penting di Korea? Jawaban atas pertanyaan tersebut juga akan mengantarkan kita untuk bisa memahami nasionalisme Korea. Dengan kata lain, jelas bahwa perkembangan Protestan di Korea adalah sangat terkait dengan ketidakpuasan yang mendalam dan keputusasaan yang dirasakan oleh orang-orang Korea diakibatkan oleh masa pendudukan Jepang. Selain dikarenakan faktor nasionalisme, berkembangnya agama Protestan di Korea juga sangat terkait dengan pendidikan. Para misionaris bertindak cepat untuk melibatkan diri dalam pendidikan. Hal tersebut dikarenakan mereka memahami tentang semangat Korea dalam hal pendidikan dan juga keterbukaan mereka terhadap ide-ide Barat. Selain itu, artikel ini juga mengkaji mengenai dampak dari adanya para missionarismisionaris untuk menyebarkan agama protestanProtestan. Salah satunya adalah dalam hal ekonomi. Beberapa orang di Korea menegaskan bahwa konversi ke Protestan menyebabkan peningkatan ekonomi. Mereka percaya bahwa peningkatan ini disebabkan penolakan mereka terhadap kebiasaan merokok dan minum, judi, serta hal yang berbau kemewahan
The Dynamics of Muslims’ Perspectives on the Ceremony of Nawu Sendang Saliran in Yogyakarta
Nurindah Sari, Sulfia Lilin
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 6 No 1 (2016): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (319.554 KB)
Artikel ini menyajikan studi kasus tentang konflik yang terjadi karena perbedaan perspektif di kalangan umat Islam mengenai acara Nawu Sendang Saliran. Sendang Saliran merupakan kolam bersejarah, dan tujuan dari upacara ini adalah untuk membersihkan kolam tersebut dengan melakukan rangkaian acara budaya. Acara yang hanya bertujuan mempertahankan tradisi untuk membersihkan kolam dan mempromosikan tradisi itu sendiri dan untuk menarik wisatawan, telah menimbulkan kontroversi di kalangan umat Islam dan menimbulkan konflik antara abdi dalem sebagai pelaksana acara dan Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam yang mencoba untuk menentangnya. Muhammadiyah menentang acara tersebut karena mereka takut acara semacam ini akan menyebabkan bidah dalam Islam. Untuk mengatasi konflik, para pelaksana acara dan Muhammadiyah mengatur mediasi. Artikel ini menemukan bahwa perbedaan dalam cara-cara Muslim memahami budaya dan peran agama dalam budaya menawarkan penjelasan tentang sikap Muhammadiyah yang masih menentang dilaksanakannya acara Nawu Sendang Saliran.
Kebudayaan dan Agama Jawa dalam Perspektif Clifford Geertz
Nasruddin, Nasruddin
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 1 No 1 (2011): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (288.083 KB)
Talking about Javanese culture, anthropologist will often refer to Geertz’s thesis of santri-abangan-priyayi. Geertz’s book, Religion of Java, has been a “holy book” for those who concerns for observing and researching Javanese culture and society. In this context, Geertz has acknowledged a theory of social system of Javanese people. In his another book, Interpretation of Culture, Geertz identifies culture based on the last-concept of Kluckholn. He sets culture as a text which has to be meaningfully interpreted, not only as a concrete manner. In addition, he sets religion as cultural values within is embodied within the meanings. Everyone can interpret and experience those meanings in his own approach. Since Geertz conducted a study on The Religion of Java, the study continues, either agree or disagree with him. This article deliberately take the starting point of Geertz’s studies related to the concept of trichotomies; students, abangan and priyanyi. Although this has led to the concept of trichotomies to pros and cons among scientists, but the thing that needs to be underlined is that Geertz's conception of Islam of Java are a source of inspiration for the study of Islam in Indonesia. In addition, this article not only discusses about Geertz’s concept of religion, but also the concept of Islamic Religion in Indonesia.
The Changing Pattern of Terrorism
Khairi, Akhmad Najibul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 3 No 1 (2013): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (356.707 KB)
Tidak dapat dipungkiri bahwa perang melawan terorisme dipercaya sebagai salah satu bentuk perang dunia yang imbasnya merambah ke berbagai negara. Hal ini dapat dipahami setelah apa yang sudah terjadi apalagi pasca tragedi 9/11 yang semakin mengkristalkan perlawanan terhadap aksi terorisme. Sekilas melihat perkembangan persoalan tersebut, terorisme diyakini lahir dari ketidakpuasan dan ketidakadilan di masyarakat. Namun, pada perkembangan selanjutnya, terorisme juga diartikan sebagai suatu bentuk simbol dari kebencian terhadap Barat. Menurut analisa Peter Berger, gerakan terorisme semakin hari semakin sulit untuk dilacak dan diantisipasi karena sifatnya yang sering kali berubah-ubah. Artikel ini ingin mengulas perubahan-perubahan yang terjadi dalam gerakan terorisme dunia, sekaligus mengurai evolusi tujuan dan misi dari gerakan tersebut. Kesimpulan yang diperoleh dari artikel ini adalah bahwa gerakan terorisme itu mempunyai banyak bentuk dari gerakan teroris non-Negara, kelompok-kelompok ideologis, kelompok-kelompok politik berbasis agama. Semua gerakan ini mempunyai taktik, strategi, organisasi, dan garis komando yang terdesentralisasi dengan baik. Temuan dalam artikel ini juga menunjukkan bahwa gerakan konter-terorisme dengan membombardir pusat-pusat teroris seperti Afganistan, dan Iraq dan menangkap dan atau membunuh petinggi-petinggi teroris seperti Al-Qaeda ataupun JI tidak menghentikan gerakan terorisme karena mereka akan bermetamorfosis ke dalam bentuk gerakan lain.
Perubahan Paradigma Studi Agama pada Program Studi Perbandingan Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya
Hamdi, Ahmad Zainul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 5 No 2 (2015): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (315.634 KB)
This article is aimed to assess the progress of Islamic and religious studies at State Islamic University (UIN) Sunan Ampel Surabaya throughout the view of new paradigm on Islamic studies. It attempts to seek whether there is a shifting paradigm from parochial Islamic studies to dialogical Islamic studies that could accommodate contemporary social scientific instruments. It is based on one core question, “is the Islamic studies at UIN Sunan Ampel—especially the Department of Comparative Study of Religions—still based on normative-doctrinal studies or based on historical critics?” This paper took four undergraduate theses as a sample, starting from 2011 back to forty years before. Each thesis represents one-decade period. In order to analyze religious studies at the Department of Comparative Study of Religions will be a strategic stage to observe methodological perspective, namely insider-outsider perspective. Having examined all of these theses, this article concludes that Islamic religious studies at the Department of Comparative Study of Religions have not changed at all. It shows signs of stagnating after four decade of teaching religious studies in this department.
Contextualizing Kymlicka’s Multicultural Citizenship in Surabaya
Afdillah, Muhammad
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 2 No 1 (2012): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (309.409 KB)
Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki daya tarik yang luar biasa dalam proses urbanisasi, yang secara tidak langsung telah menanamkan benih-benih keragaman di kota ini. Warga kota Surabaya adalah penduduk yang egaliter dan terbuka. Selain penduduk asli yang biasa disebut arek soerabaya, ada juga penduduk pendatang yang berasal dari Madura, Arab, Cina, Ambon, Bugis, dan Melayu. Kelompok-kelompok ini hidup berdampingan secara damai di Surabaya. Artikel ini berangkat dari riset yang penulis lakukan melalui wawancara dengan penduduk lokal, kaum migran, politisi dan intelektual. Riset tersebut bermuara pada pertanyaan bagaimana para pendatang bisa bertahan hidup di Surabaya dalam nuansa keragaman dan keberagaman; serta bagaimana mereka melihat program-program pemerintah seputar multikulturalisme. Dengan merujuk pada konsep multicultural citizenship dari Kymlicka, artikel ini menunjukkan bahwa meski terkesan “damai,” terdapat resistensi antara penduduk lokal dan migran khususnya yang berkaitan dengan politik dan ekonomi. Sebagian kelompok mayoritas, penduduk lokal termarjinalkan dalam urusan politik dan ekonomi akibat kalah bersaing dengan penduduk migran yang ada di Surabaya. Hal ini semakin diperparah dengan program festival multikulturalisme pemerintah Surabaya yang terkesan seremonial tahunan tanpa melibatkan penduduk lokal.
The Different Challenges of al-T{arîqah al-Naqsabandîyah in Indonesia and Turkey
Usman, Usman
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 4 No 2 (2014): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (316.835 KB)
Artikel ini mencoba untuk merefleksikan pemahaman saya mengenai tantangan yang dihadapi oleh Naqsabandî di Turki dan Indonesia. Untuk menganalisis hal tersebut, penulis memulai pembahasan dengan menjelaskan konsep sekularisasi dan bagaimana konsep itu direspons oleh masing-masing citizen. Di Indonesia, konsep sekularisasi berjalan secara pasif, sedangkan di Turki sekularisasi berjalan secara asertif. Dari sini, penulis menganalisis perbedaan tantangan tarekat Naqsabandî di masing-masing negara, bahwa di Indonesia tantangan itu berasal dari kelompok reformis yang banyak melakukan kritik terhadap tarekat atas perilaku sosialnya yang dianggap menyimpang (bid‘ah dan shirk). Sedangkan di Turki, tantangan tarekat Naqsabandî justru berasal dari institusi negara. Sekularisme tampak dimanfaatkan oleh penguasa untuk meredam gerakan tarekat Naqsabandî yang dipandang sebagai ancaman terhadap kekuasaan. Selain itu, sekularisme juga menjadikan negara ‘polisi’ peradaban setempat dengan menjustifikasi tarekat Naqsabandî hanya akan membawa masyarakat menjadi semakin terbelakang dan tidak mampu menghadapi tantangan modernitas. Artikel ini akan melihat perbedaan masing-masing tantangan ini dan bagaimana kelompok Naqsabandî bisa bertahan.
Konflik Bernuansa Agama dalam Perspektif Sufisme Ibn ‘Arabî
Khadijah, Khadijah
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 4 No 1 (2014): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (377.039 KB)
Along the history of religions, no religion in this world teaches the follower to bring turmoil toward others. All religion thought have many differences either in terms of the way of worships and teachings principally mean for creating the perfect being (al-Insân al-Kâmil) with the good character (akhlâq al-karîmah). However, some turbulence and conflict in the name of religion sometimes happen in several areas in this country. It seems that such problems constitute an accumulative problem of Indonesia national state on the transitional era occurred in the local government. For this matter, this research is based on religious and social care-ness to elucidate and solve what is so called as “religious violence”. Principally we still have problem with how to deal with religious pluralism. As a plural and multicultural society, the majority of Indonesia people did not literally and culturally understand how to solve social conflict using religious (Islamic) approach. The question “how to deal with religious conflict and make reconciliation” is still difficult to be answered. This article aims to explore the concept of Ibn ‘Arabi’s approach for reconciliation. There are at least two questions tried to be described in this paper: (1) what is the Ibn ‘Arabi’s concept of religious approach for conflict reconciliation, and (2) what are the ideal approaches to solve religious conflict.
Teologi Kontekstual Pelaksanaan Jalan Hadat Perkawinan Dayak Ngaju di Gereja Kalimantan Evangelis (GKE)
Telhalia, Telhalia
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 6 No 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (231.057 KB)
The encounter between Christianity and Dayak culture since its inception has created a controversy. The main problem is the difficult to separate between religion and culture. The customs indeed have a close relationship with the religious structure of the Dayak people. Their live and mind follow the customs, traditions, and the provisions that have been inherited from their ancestors. Apparently, the Gereja Kalimantan Evangelis (GKE)/The Kalimantan Evangelical Church face this problem in dealing with the practice of marriage in the Ngaju Dayak culture. Some groups regard the cultural practice as a sin against the teachings of Christianity, while others consider that it is acceptable in the Christian faith. This article finds that contextual theology allows GKE accommodate Dayak customary practice in the context of the theology of Christianity. Wedding custom of Dayak people of Ngaju has rooted from their tradition but the meaning behind the process refers to the Christian values.
[Pertemuan antara Kristen dan Dayak budaya sejak awal telah menciptakan kontroversi. Masalah utama adalah sulitnya memisahkan antara agama dan budaya. Kebiasaan memang memiliki hubungan dekat dengan struktur keagamaan masyarakat Dayak. Mereka hidup dan pikiran mengikuti adat istiadat, tradisi, dan ketentuan yang telah diwarisi dari nenek moyang mereka. Rupanya, Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) menghadapi masalah ini dalam menangani praktik pernikahan dalam budaya Dayak Ngaju. Beberapa kelompok menganggap praktik budaya sebagai dosa terhadap ajaran Kristen, sementara yang lain menganggap bahwa hal itu dapat diterima dalam iman Kristen. Artikel ini menemukan bahwa teologi kontekstual memungkinkan GKE mengakomodasi praktik adat Dayak dalam konteks teologi Kristen. Kebiasaan pernikahan orang Dayak Ngaju telah berakar dari tradisi mereka tetapi makna di balik proses mengacu pada nilai-nilai Kristen