cover
Contact Name
Indri Astrina Fitria Indrarani
Contact Email
risetarsitektur@unpar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
risetarsitektur@unpar.ac.id
Editorial Address
Gedung PPAG 1, Lantai 1A Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung, 40141, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal RISA
ISSN : 25488074     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.26593/risa
Core Subject : Engineering,
Jurnal RISA aims to contribute to scientific research, practice, and education by publishing national and international studies. The scope of this journal includes the dissemination of research findings, ideas, and reviews in the following subject areas: 1. History, Theory, and Philosophy of Architecture; 2. Housing and Settlements; 3. Architecture and Urban Design; and 4. Building Management Technology.
Articles 430 Documents
FUNGSI STRUKTURAL DAN ARSITEKTURAL PADA KONSTRUKSI BAMBU BANGUNAN AMFITEATER TAMAN BUAH MEKARSARI Julya
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i1.3689.81-98

Abstract

Abstrak- Struktur pada bangunan merupakan hal yang penting dan mendasar untuk mewujudkan terbangunnya sebuah bangunan dalam arsitektur. Penentuan sistem struktur bangunan terkait jenis material tertentu yang dapat memampukan struktur bangunan menanggung beban dan mendukung bentuk bangunan serta sistem bangunan. Salah satu material lokal yang dimiliki oleh negara Indonesia dan berpotensi bersaing sebagai elemen struktur yang banyak digunakan untuk kehidupan sehari-hari masyarakat sejak masa lampau adalah bambu. Seperti pada bangunan Amfiteater Taman Buah Mekarsari yang berlokasi di Kota Bogor,  konstruksi bambu pada atap yang juga merupakan pelingkup ruang tidak hanya memiliki fungsi struktural sebagai penyalur beban, akan tetapi memiliki fungsi arsitektural yang memengaruhi ruang, aktivitas, dan pensuasanaan ruang dengan kekhasannya sebagai material alam yang memberi kesan menarik dan indah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan struktural juga keindahan arsitektural yang optimal dan fungsional pada bangunan Amfiteater Taman Buah Mekarsari. Metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif dengan cara memperoleh data melalui studi literatur, pengamatan langsung terhadap bangunan dan lingkungannya, melakukan dokumentasi visual, wawancara dengan arsitek bangunan, penggunaan software simulasi struktur, serta model analog.Melalui penelitian dapat disimpulkan bahwa pemilihan struktur rafter roof mampu mempertahankan bentuk bangunan Amfiteater Taman Buah Mekarsari yang simetris dan juga memberikan pensuasanaan melalui susunan strukturnya terhadap ruang dalam dan mempertahankan pesan yang terdapat pada konsep bangunan.
EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI LUASAN, PENZONAAN, SIRKULASI INTERNAL, DAN RUANG GERAK PADA UNIT APARTEMEN TIPE 2 KAMAR TIDUR Prajogo
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3801.120-137

Abstract

Abstrak- Penelitian ini membahas bagaimana efektivitas dan efisiensi luasan, penzonaan, sirkulasi internal, dan ruang gerak pada unit apartemen tipe 2 kamar tidur dalam rentang 5 tahun sejak 1994-2018 karena berdasarkan data yang didapat, angka pertumbuhan dan harga apartemen meningkat pesat sehingga keberadaan apartemen di masa depan diperkirakan akan terus meningkat. Pertumbuhan apartemen seharusnya menghasilkan unit yang efektif dan efisien pula untuk menarik peminat. Karena itulah dibutuhkan penelitian ini untuk menghasilkan unit yang lebih efektif dan efisien lagi di masa mendatang. Berdasarkan literatur dan data perolehan berbagai apartemen, unit 2 kamar adalah unit yang paling banyak dirancang dan selalu ada pada apartemen.Untuk menentukan efektivitas dan efisiensi pada unit 2 kamar apartemen tersebut maka digunakan metode perhitungaan floor efficiency ratio dan perhitungan netto–bruto. Selain itu digunakan juga standard-standard minimum yang ada untuk menunjang persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah unit 2 kamar tidur pada apartemen. Pada penelitian ini dilihat perubahan faktor-faktor luasan, zoning, tata letak, sirkulasi internal, dan juga ruang gerak terhadap lembar kerja unit 2 kamar tidur objek penelitian dengan membandingkan apartemen tersebut dari tahun ke tahun hingga didapatkan pola yang terjadi. Objek penelitian yang dipilih adalah Apartemen Taman Rasuna yang merupakan pelopor bertumbuhnya apartemen Indonesia, lalu apartemen Wisma Gading Permai, The Majesty, The Summit, Galeri Ciumbuleuit 2, Scientia Residences, M Town Residences dan Branz BSD.Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor luasan, zoning dan tata letak, sirkulasi internal, dan juga ruang gerak sangat memengaruhi efektivitas dan efisiensi sebuah unit 2 kamar tidur pada apartemen. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa angka tertinggi pemenuhan efektif maupun efisien luasan, penzonaan, sirkulasi internal, dan ruang gerak adalah 75% yang berada pada tahun 1998-2012 dan terendah 50% di 1994 dan 2018. Dari 8 apartemen tidak ada unit yang mencapai 100% efektif maupun efisien karena berdasarkan faktor pun tidak ada yang mencapai keefektifan dan efisiensi tersebut.
TRANSFORMASI TATA RUANG DALEM DI SEKITAR KAWASAN JERON BETENG, YOGYAKARTA Arvisista
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3802.138-154

Abstract

Abstrak- Dalem atau rumah bangsawan adalah rumah yang diberikan oleh Keraton Yogyakarta kepada saudara atau kerabat Sultan. Dalem berada di dalam dan sekitar kawasan Jeron Beteng, Yogyakarta. Saat ini dalem sudah mengalami banyak perubahan terutama dari tata ruang dalem. Perubahan tersebut dipengaruhi dari peningkatan kepadatan penduduk dan perubahan pola pikir masyarakat menjadi lebih modern di lingkungan kawasan Jeron Beteng. Perubahan-perubahan yang muncul pada dalem terutama dalam aspek tata ruanganya menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami perubahan yang terjadi pada tata ruang dalem dan aspek yang mendominasi terjadinya perubahan pada dalem.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan mengkaji dari aspek sejarah kawasan dan budaya masyarakat Jawa. Kedua aspek tersebut menjelaskan adanya adat atau ritual yang dilakukan secara terus menerus dan menjadi dasar pembentukkan tata ruang dengan ruang-ruang yang dibutuhkan pada rumah masayarakat Jawa. Data diperoleh dengan melakukan observasi ke lapangan dan wawancara serta studi literatur. Analisis dalem dikaji dengan mempelajari budaya dan sejarah Yogyakarta serta prinsip arsitektur Yogyakarta.Penelitian ini mencoba mengungkap bagaimana perubahan yang terjadi terhadap tata ruang dalem dengan membandingkan kondisi tata ruang berdasarkan prinsip arsitektur Yogyakarta dengan kondisi dalem saat ini. Aspek tata ruang yang dibahas adalah orientasi, fungsi, bentuk bangunan, zonasi ruang, dan susunan massa dalem. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa perubahan yang terjadi pada dalem diawali dari peningkatan kepadatan penduduk dan pola pikir modern sehingga terjadinya perubahan fungsi pada dalem untuk pemanfaatan ruang, perubahan bentuk bangunan, perubahan zonasi ruang pada kawasan, dan penambahan massa pada susunan massa.
PEMAKNAAN RUMAH BERDASARKAN ASPEK KOSMOLOGI DALAM KEBUDAYAAN SUMBA BARAT OBJEK STUDI: RUMAH TARA MANU DI KAMPUNG WEE LEWO Aaron Rosimin
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3803.155-172

Abstract

Abstrak- Kampung adat Wee Lewo merupakan salah satu kawasan konservasi kebudayaan yang masih memegang erat tradisi dan budaya yang diterapkan secara turun-temurun. Di kampung adat Wee Lewo ditemukan adanya keunikan pada rumah adat tradisionalnya yang penggunaannya tidak dikhususkan untuk mencukupi kebutuhan penggunanya saja, namun juga melingkupi kebutuhan teologis dan kebutuhan tradisi yang melingkupi relasi manusia secara horizontal dan secara vertikal. Rumah adat Tara manu dipilih karena memiliki data yang lengkap dan memiliki tatanan ruang berbeda dari rumah adat lainnya yang ada di kampung adat Wee LewoMetode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan memaparkan analisa objek berdasarkan kosmologi yang ada di dalam budaya Sumba, yang kemudian dijelaskan melalui keberadaan elemen arsitektur yang ada di dalamnya. Data-data yang diambil sebagai bahan analisa merupakan data fisik dan data objek yang bisa didapatkan melalui survey lapangan dan wawancara narasumber yang berkaitan. Proses analisa dilakukan dengan cara meneliti seluruh aktifitas dan pemahaman lokal tentang rumah adat yang kemudian dikaji secara komprehensif menggunakan teori kosmologi dari budaya Sumba.Analisa kosmologi dalam budaya Sumba terhadap elemen-elemen arsitektur yang ada di dalam rumah adat Sumba dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa rumah adat merupakan tempat untuk berkumpul bagi penggunanya baik secara berkeluarga dan berkoloni; rumah adat juga merupakan perwujudan dari Marapu yang senantiasa hadir diantara pengguna rumah adat; di rumah adat juga terdapat keseimbangan yang saling berhubungan satu sama lain namun keduanya tidak bisa dipisahkan.
KETERHUBUNGAN SENSOR INDRA ANAK DENGAN ELEMEN ARSITEKTURAL TAMAN LALU LINTAS ADE IRMA SURYANI NASUTION Koestantijo
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3804.173-189

Abstract

Abstrak- Ruang publik memegang peranan penting bagi suatu wilayah. Sebagai wadah aktivitas komunal, ruang publik perlu diintegrasikan pada perancangan kota secara menyeluruh. Sayangnya, para arsitek dan perancang kota sering melupakan bahwa subjek pengguna ruang publik tidak hanya orang dewasa. Anak-anak juga memerlukan adanya ruang publik sebagai tempat mereka untuk tumbuh dan berkembang. Proses perkembangan awal manusia atau lebih dikenal sebagai fase kanak-kanak perlu diakomodasi oleh wadah yang memadai, salah satu caranya adalah dengan perancangan area publik yang ramah anak. Area publik anak perlu menumbuhkan minat anak dalam mengenal lingkungan tanpa melupakan pengalaman yang menyenangkan selama berkegiatan di dalamnya. Area bermain dianggap sebagai bentuk ruang publik yang baik untuk anak-anak, terutama dalam tahapan pengenalan interaksi sosial serta stimulasi sensor indra. Tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh peran sensor indra, terutama indra peraba dan penglihatan. Dua hal ini menjadi titik fokus penelitian penyesuaian anak dengan elemen arsitektural ruang publik ramah anak.Pada lingkup Bandung, Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution merupakan salah satu ruang publik ramah anak yang terletak di tengah kota dan kerap kali ramai dikunjungi keluarga serta anak-anak. Pada tahun 2017 silam, taman ini mengalami revitalisasi besar oleh Labo+ Architecture and Design yang menajamkan kembali visi Yayasan Taman Lalu Lintas mengenai edukasi pejalan kaki dan pengendara. Ruang publik ramah anak ini menjadi elemen kota yang penting untuk dibahas dan diteliti lebih lanjut. Penelitian dilakukan dengan mendata karakteristik material area bermain anak, kemudian dilanjutkan dengan analisis perilaku dan preferensi anak-anak. Teknik observasi dipilih dalam proses penelitian, dengan jumlah sampel 30 balita dan atau anak-anak.Proses pembelajaran anak berlangsung pada area bermain. Pengalaman anak dalam mempelajari lingkungannya sangat dipengaruhi oleh penampilan visual serta bentuk dan tekstur material sarana bermain yang tersedia. Stimulus lingkungan fisik baik alami maupun buatan rupanya sangat berpengaruh pada respon anak-anak yang terlihat dari ekspresi wajah. Rupanya, pengalaman bermain pada Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution meninggalkan kesan yang positif pada anak-anak yang datang.
KAJIAN TERITORIALITAS KERATON KANOMAN Nugrahadi
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3806.190-204

Abstract

Abstrak - Keraton Kanoman merupakan salah satu bangunan yang penting dalam sejarah terbentuknya Kota Cirebon. Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1678, keraton berfungsi sebagai bangunan pemerintah serta penyebar agama Islam pada Tanah Sunda. Teritori Keraton Kanoman diperkuat dengan keberadaan Masjid Kanoman pada sisi Barat keraton, serta Pasar Kanoman pada sisi Timur, sementara pada sisi Utara terdapat alun-alun keraton. Terdapat area permukiman pada sektiar bangunan Keraton Kanoman. Permukiman sekitar keraton dihuni oleh keluarga dan abdi dalem keraton, permukiman tersebut dinamakan magersari. Magersari berfungsi sebagai pagar yang menandakan teritori kawasan keraton, serta melindungi keraton dari serangan pihak luar. Magersari terletak dalam radius 100 meter dari bangunan Keraton Kanoman.Area Keraton Kanoman mengalami perkembangan pesat pada sekitar tahun 1900. Pada  tahun 1924 pemerintah belanda membangun Pasar Kanoman pada sisi Utara keraton, sehingga area komersil berkembang pesat bersama dengan area pecinan. Pada tahun 1970 area permukiman mengalami perkembangan yang besar dan tidak terencana, perkembangan permukiman diisi dengan pendatang baru. Perkembangan besar yang terjadi sepenuhnya menutupi bangunan keraton dari jalan utama. Meskipun terjadi perkembangan area yang menutupi bangunan keraton, Keraton Kanoman masih dapat berdiri dan mempertahankan eksistensinya sebagai bangunan sejarah dan kebudayaan.Bangunan Pasar Kanoman serta perkembangan area permukiman keraton menyebabkan bangunan Keraton Kanoman menjadi tersembunyi dan tidak terlihat dari jalan utama. Perkembangan pembangunan menyebabkan terjadinya invasi terhadap area teritori keraton, invasi yang terjadi berupa peralihan fungsi lahan dan aktivitas.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk teritorialitas Keraton Kanoman pada tatanan fisik eksisting didalam lokasi penelitian. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik place centered mapping. Data yang dikumpulkan untuk menunjang penelitian berasal dari observasi pada tatanan fisik dan aktivitas penghuni kawasan Keraton Kanoman.Bentuk teritori bangunan dikaji melalui tipe teritori yang ada pada kawsan keraton serta perilaku teritorial yang terjadi didalamnya. Hasil penelitian menunjukan teritori keraton terbagi kedalam empat tipe yaitu teritori central, supporting, attached, serta peripheral. Teritori central keraton terletak pada komplek bangunan keraton. Teritori supporting dan attached terletak pada area sekitar keraton yang ditandai dengan personalisasi ruang keraton serta perilaku teritorial penghuni Keraton Kanoman. Teritori peripheral terletak pada jursidiksi area kawasan Keraton Kanoman.
VISIBILITY MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT SEBAGAI LANDMARK KOTA BANDUNG Pangestu
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i02.3807.99-119

Abstract

Abstrak - Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (MPRJB) adalah sebuah elemen kota yang dibangun untuk menjadi landmark kota. Elemen kota tersebut dibangun dengan tujuan memperingati perjuangan rakyat Jawa Barat melawan penjajah. Monumen ini merupakan salah satu Primary Element of Bandung dalam kawasan Gedung Sate – Lapangan Gasibu – MPRJB. Kawasan tersebut merupakan ruang kota yang sangat unik yang mampu mengarahkan orientasi menuju Gunung Tangkuban Parahu karena terbentuk axis imajiner yang ditarik dari Gedung Sate menuju MPRJB, sehingga Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat tidak bisa lepas dari kawasan ini dan berpotensi dalam menandakan kawasan tersebut atau sering disebut sebagai landmark.Seiring berkembangnya kota, terjadi perubahan fisik pada kawasan Gedung Sate – MPRJB seperti; tumbuhnya intensitas bangunan menjadi tinggi serta muncul infrastruktur seperti jembatan dan pelebaran jalan yang menyebabkan pergerakan dalam kota menjadi cepat. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap terhalangnya visual MPRJB akibat perkembangan fisik kota serta perubahan cara pengamat dalam mengamati kota dari diam menjadi bergerak. Isu tersebut menjadi menarik untuk diteliti seberapa jauh perkembangan fisik kota dan elemen di dalamnya dalam menghalangi visual MPRJB. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi seberapa besar visibility MPRJB sebagai landmark dan elemen kota apa saja yang mampu menghalangi atau mendukung visibility MPRJB.Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif terhadap visibility fisik massa MPRJB. Penelitian ini mendeskripsikan keadaan eksisting MPRJB melalui rekaman gambar titik-titik sekuensial (serial vision) lalu disegmentasikan untuk mendapatkan perbandingan siluet MPRJB dengan objek sekitarnya dalam scene tersebut. Setelah itu diberi skor dari tiap masing-masing titik dan dibandingkan dengan teori visibility suatu objek dalam berperan menjadi landmark. Data kawasan MPRJB dikumpulkan dengan cara observasi lapangan dan studi pustaka. Data yang dikumpulkan berupa foto dokumentasi pada titik sekuensial, data objek pelingkup yang berada di kawasan MPRJB, dan data kegiatan pengamat yang berpotensi dapat melihat MPRJB yang digunakan untuk mencari tahu seberapa besar visibility MPRJB dan objek apa saja yang menghalangi atau mendukung visibility MPRJB.Hasilnya adalah tingkat visibility MPRJB di titik-titik sekuensial mayoritas di rendah dalam perannya sebagai landmark Kota Bandung karena banyaknya objek yang menghalangi visual dari MPRJB. Semakin tinggi visibility suatu objek maka semakin tinggi peran suatu objek menjadi landmark untuk diingat dan dijadikan orientasi oleh pengamat kota. Temuan lain berupa daftar identifikasi objek penghalang dan pendukung visibility MPRJB yang dapat digunakan dalam penelitian selanjutnya untuk meningkatkan visibility MPRJB.
EKSPLORASI KONSTRUKSI BAMBU RECIPROCAL-DEPLOYABLE GRIDSHELL Charnele
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3929.205-233

Abstract

Abstrak - Adanya keterbutuhan akan naungan semi-permanen atau sementara yang mudah dan cepat dibangun untuk sesuatu peristiwa tertentu. Pada penelitian ini menggali potensi struktur bentang lebar transformatif dengan menggabungkan dan mengembangkan sistem struktur konstruksi deployable dan reciprocal dalam bentuk struktur atap bidang gridshell bambu, menjadi sebuah konfigurasi mandiri tersusun dari variasi komposisi modul dengan bantuan komputasional mengikuti kebutuhan desain arsitektur. Hal ini dilakukan dengan mengetahui potensi sistem struktur, pola desain, dan sistem sambungan pada beberapa objek studi yang dievaluasi secara kualitatif dengan metode komparasi pada sistem struktur, sambungan, karakter batang, penyaluran beban, sistem penguncian struktur, dan deployability.Manfaat penelitian berfokus pada penelitian struktur bambu untuk menjadi inovasi baru dalam keteknikan material bambu yang dapat meningkatkan nilai lokalitas Indonesia dengan dapat digunakan masyarakat terutama dalam menggunakan material bambu untuk pengembangan naungan sementara maupun permanen.Pembahasan mengenai kriteria sistem struktur sesuai tujuan penelitian merupakan hasil dari analisa objek studi dimana struktur transformasi berdasarkan karakter struktur deployable sedangkan struktur reciprocal merupakan sistem yang menyokong untuk memberikan kestabilan dan sistem penguncian mandiri. Kedua struktur ini merupakan sistem struktur yang fleksible dan mudah diduplikasi sehingga untuk memenuhi fungsi sebagai struktur bentang lebar, sistem struktur didesain membentuk gridshell. Bentuk gridshell ini yang diolah dengan bantuan komputasional untuk membentuk sistem struktur reciprocal-deployable secara efektif.Penelitian yang bersifat eksplorasi, eksperimen dilakukan pada pola reciprocal hingga menemukan pola paling stabil dan mengubah karakter batang lurus pada reciprocal menjadi batang deployable berupa scissor-like element, lalu mengembangkan jenis sambungan dengan analisa potensi dan kendala tiap sambungan. Eksperimen menghasilkan sistem struktur baru dengan menggabungkan kedua sistem struktur didapatkan struktur yang dapat bertransformasi, memiliki sistem penguncian mandiri, dan dapat membentang lebar dengan bentuk gridshell.
KAJIAN RELASI ARSITEKTURAL CANDI HINDU ERA MATARAM KUNO DALAM KAITANNYA DENGAN VĀSTUŚĀSTRA Perdana
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3930.234-251

Abstract

Abstrak - Berbagai prinsip dan tradisi arsitektur klasik India telah dikumpulkan dan dilestarikan dalam kajian yang dikenal sebagai Vāstuśāstra. Cabang keilmuan klasik India ini merupakan perwujudan arsitektural dari nilai-nilai Hindu ideal, dan karena itulah ide-ide di dalamnya memiliki pengaruh signifikan terhadap arsitektur keagamaan dalam wilayah budaya India Raya yang mencapai Pulau Jawa kuno. Meskipun pengaruh India dapat dikenali dalam desain candi Hindu Jawa era Mataram Kuno, seberapa jauh vāstuśāstra India dijadikan panutan lebih sulit untuk diamati, mengingat bahwa candi Jawa memiliki sejumlah elemen arsitektural yang tidak ditemukan dalam vāstuśāstra maupun kuil India. Dengan mengidentifikasi dan membandingkan bagian-bagian vāstuśāstra yang relevan serta purwarupa India kuno dengan peninggalan candi Jawa, maka dapat terlihat elemen arsitektural yang merupakan bagian dari kontinuitas lingkup budaya India serta bagian yang merupakan local genius. Penelitian ini menggunakan metode komparasi kualitatif dengan pendekatan historis dan tekstual. Penulis berfokus pada sosok serta penataan sosok dan rupa. Penelitian ini mengumpulkan dan membandingkan berbagai bagian vāstuśāstra yang relevan serta contoh-contoh India dari studi pustaka untuk dibandingkan dengan data dari enam sampel candi era Mataram Kuno, tiga dari masa tua dan tiga dari masa tengah.Perbandingan oleh penulis menunjukkan sejumlah hasil. Pertama, sosok candi Hindu Jawa era Mataram Kuno sesuai dengan bentuk dasar kuil Hindu India sebagaimana yang dituturkan dalam vāstuśāstra, dengan tujuh bagian vertikal yang disebut Upapīṭha, Adhiṣṭhāna, Pada, Prastara, Gala, Śikhara, dan Stūpi. Namun begitu, sejumlah detil arsitektural dari elemen-elemen tersebut memiliki perbedaan yang kentara dengan desain tipikal India serta penuturan dalam vāstuśāstra. Sebagai contoh, Kala-Makara Jawa tidak mengikuti Toraṇa-Makara India sebagaimana yang dituturkan dalam Mānasāra. Beberapa elemen Jawa bahkan tidak memiliki purwarupa India sama sekali. Kedua, tata massa dan tata ruang candi Jawa memiliki perbedaan yang lebih kentara lagi dengan kuil India. Pada kasus orientasi, candi Jawa dapat menghadap barat atau timur sementara sebagian besar kuil India menghadap timur. Sementara itu dalam perihal penataan massa, penataan tipikal Jawa dengan satu candi utama yang berhadapan dengan jejeran tiga candi sekunder sama sekali tidak ditemukan di India. Sebaliknya, penataan India yang memiliki Maṇḍapa di depan menara kuil utama juga sama sekali tidak terlihat pada candi Jawa.Penelitian ini menunjukkan bahwa relasi antar candi Jawa dan vāstuśāstra tampaknya renggang dan fleksibel; kitab vāstu  pada tataran tertentu digunakan pada aspek bentuk dasar, namun tidak diikuti dalam detil pengolahan. Para perancang candi Jawa mengikuti dan mengabaikan berbagai bagian vāstuśāstra sesuai kondisi. Kondisi ini bisa jadi disebabkan oleh perbedaan material maupun perbedaan selera yang membentuk local genius. Perancang Jawa tidak pernah sekedar membangun imitasi akurat kuil India di pulau Jawa, rancangan candi Jawa menunjukkan adanya kreativitas dan sifat selektif dalam meyikapi pengaruh asing sehingga tercipta rancangan inovatif yang unik. Pada fase klasik tua, pengaruh India masih dapat terlihat sedemikian rupa sehingga candi dapat dianggap sebagai suatu fenomena India yang dilokalkan. Namun seiring waktu dari masa pembangunan Candi Prambanan hingga seterusnya, purwarupa India menjadi semakin sulit dideteksi sehingga candi menjadi produk arsitektur yang sepenuhnya lokal. 
PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN ELEMEN FISIK PERMUKIMAN KAWASAN KERATON KANOMAN PADA 1695-2019 Wiratama
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3931.252-268

Abstract

Abstrak - Cirebon merupakan salah satu kota yang telah berdiri sejak lama di Nusantara. Kota Cirebon telah ada sebelum Belanda datang. Kota yang ada sejak lama ini mengalami proses perubahan lebih panjang dari kota-kota lain yang relatif lebih baru. Cirebon pada awal pertumbuhannya, merupakan kota yang berpusat pada Kerajaan dan termasuk dalam kota kosmis menurut S. Kostof (1991). Permukiman di Kota Cirebon awalnya berorientasi pada Keraton-Keraton Cirebon salah satunya adalah Keraton Kanoman . Permukiman sekitar Keraton Kanoman awalnya merupakan permukiman yang mengeilingi dan berpusat kepada Keraton Kanoman (E.P.Hendro,2014). Permukiman ini mengalami pertumbuhan dan perubahan hingga menjadi bentuk seperti sekarang.Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan dan perkembangan (morfologi) sebuah permukiman serta elemen permukiman apa saja yang hilang atau dipertahankan oleh warga sekitar dan Keraton Kanoman. Elemen permukiman yang dilihat perubahannya adalah jalan, nodes, kelompok bangunan (district), landmark, dan edge.Untuk mengetahui pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan perlu membandingkan elemen-elemen fisik itu berdasarkan peta terlama yang dapat ditemukan yaitu peta tahun 1695 hingga peta tahun 2019. Selain dengan data arsip, data lain bersumber dari observasi langsung ke permukiman kawassan Keraton Kanoman, wawancara dengan sesepuh maupun keluarga Keraton Kanoman, Diperoleh kesimpulan bahwa massa perumahan bertumbuh secara pesat dan masih mempertahankan Keraton Kanoman dan Alun-Alun sebagai landmark kawasan yang memiliki nilai historis dan religius simbolis.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 02 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 01 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 3 (2025): Jurnal RISA (Riset Arsitektur) Vol 8 No 04 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 03 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 02 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 01 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 04 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 03 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 02 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 01 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 04 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 03 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 02 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 01 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 04 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 03 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 02 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 01 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 04 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 03 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 02 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 01 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 04 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 03 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 02 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 1 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" More Issue