cover
Contact Name
Indri Astrina Fitria Indrarani
Contact Email
risetarsitektur@unpar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
risetarsitektur@unpar.ac.id
Editorial Address
Gedung PPAG 1, Lantai 1A Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung, 40141, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal RISA
ISSN : 25488074     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.26593/risa
Core Subject : Engineering,
Jurnal RISA aims to contribute to scientific research, practice, and education by publishing national and international studies. The scope of this journal includes the dissemination of research findings, ideas, and reviews in the following subject areas: 1. History, Theory, and Philosophy of Architecture; 2. Housing and Settlements; 3. Architecture and Urban Design; and 4. Building Management Technology.
Articles 430 Documents
EVALUASI DAN EKSPERIMEN DESAIN MODUL BATA INTERLOCKING UNTUK VARIASI LUAS BUKAAN VENTILASI PADA DINDING Budiyani
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3932.269-287

Abstract

Abstrak - Ventilasi alami merupakan desain pasif dalam arsitektur untuk menanggapi negara dengan iklim tropis seperti Indonesia, sehingga dalam perancangan dinding perlu dipertimbangkan material-material bangunan yang dapat menghasilkan bukaan ventilasi. Bata interlocking merupakan salah satu contoh material bangunan dalam arsitektur. Kelebihan dari bata interlocking dibandingkan dengan bata merah yang umum terdapat di pasaran adalah adanya sistem pengunci yang memungkinkan pemasangan bata interlocking lebih efektif, efisien, dan mudah.Pada praktiknya, bata interlocking belum populer digunakan di Indonesia. Untuk menghasilkan dinding yang mempunyai bukaan ventilasi, bata merah yang umum di pasaran lebih diminati daripada bata interlocking. Hal ini dikarenakan desain bata interlocking untuk menghasilkan ventilasi pada dinding masih terbatas dan kurang di eksplorasi. Seringkali sistem pengunci pada bata interlocking membatasi jenis susunan yang dapat digunakan sehingga ventilasi yang dihasilkan juga kurang variatif. Bata interlocking sebenarnya mempunyai potensi untuk menjadi alternatif material untuk menghasilkan ventilasi pada dinding karena sifat-sifatnya yang menyerupai bata merah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan variasi luas bukaan ventilasi yang dihasilkan dari susunan bata dengan cara mengeksplorasi desain bata interlocking melalui eksperimen. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, yaitu dengan mengevaluasi desain preseden bata interlocking dalam kemampuannya menghasilkan bukaan ventilasi yang didasari pada studi literatur. Dari hasil studi literatur dan hasil evaluasi maka dilakukan eksperimen terhadap desain bata interlocking untuk mendapat variasi luas bukaan ventilasi.Hasil eksperimen yaitu desain modul diharapkan bata interlocking dapat menjadi alternatif pilihan material untuk menciptakan bukaan ventilasi pada dinding yang dapat disesuaikan dengan luas ruangan yang ditanggungnya. Oleh karena itu, dinding dari susunan bata interlocking dapat menghasilkan variasi luas bukaan ventilasi yang memenuhi standar yang berlaku sehinggga dapat digunakan pada dinding-dinding yang ingin menghasilkan ventilasi alami.
ATMOSFER RUANG DI STUDIO AIR PUTIH @BATUBATA, TANGERANG Rionaldi
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3933.288-305

Abstract

Abstrak - Suasana atmosfer ruang yang berbeda antara ruang luar yang dinamis dan beragam, secara gradual menjadi singular dan statis ditemukan pada @Batubata. Hal ini berbeda dengan ruang arsitektur yang hanya dipahami sebagai sebuah hegemoni occulocentrism, yang berfokus hanya pada kajian visual.Studi dilakukan untuk memahami pembentukan atmosfer ruang, dengan memahami elemen fisik-spasial-material yang membentuknya dan sensasi periferal yang tidak sadar, dialami subjek penggunanya. Atmosfer ruang bersifat abstrak dan intangible yang suasananya bisa dirasakan melalui medium ruang pada lingkungan binaan yang sifatnya perlahan (slowness) dan mendorong kesendirian (secluded).  Pembelajaran dilakukan melalui dua tahap studi. Tahap pertama untuk memaparkan elemen fisik-spasial-material melalui pembahasan layering dan transparansi, dimensi dan proporsi, density dan emptiness, serta material berdasarkan teori desain spasial Bert Bielefelt. Tahap kedua dilakukan pemaparan sensasi periferal yang dirasakan pengamat saat mengalami ruang- ruang di @Batubata. Sensasi periferal dirasakan simultan menggugah emosi dan imajinasi penggunanya. Pemaparan dilakukan berdasarkan teori yang disampaikan oleh Juhanni Pallasmaa. Pembentukan atmosfer ruang dipahami berdasarkan hasil kesimpulan pada kedua tahap ini.Studi ini merupakan studi terhadap fenomena yang terjadi di dalam ruang arsitektur. Metoda yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan lapangan, wawancara dengan arsitek perencana dan kuisioner kepada subjek pengguna. Penelitian dilakukan dengan meninjau elemen fisik spasial dan material melalui observasi awal, yang diperkaya dengan wawancara dan kuisioner terbuka kepada pengguna ruang.Dari hasil analisis tahap 1 didapat kesimpulan karakter ruang yang secluded, statis dan rapat. Pada analisis tahap 2, dihasilkan pengalaman ruang yang sunyi dan tenang.Dari kedua tahap tersebut, bisa disimpulkan bahwa @Batubata mampu memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan kesendirian (solitude) dan keperlahanan (slowness) untuk mengalami atmosfer melalui sensasi periferal mereka. Perasaan dan suasana hati subjek pengguna selalu memengaruhi pembentukan atmosfer ruang yang bersifat abstrak.
KOMPARASI BENTUK DAN TEKTONIKA CANDI HINDU ERA KLASIK TUA DI JAWA DENGAN KUIL HINDU ERA PALLAVA DI INDIA SELATAN Rodriques
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i03.3934.306-323

Abstract

Abstrak- Candi Hindu di Jawa dan Kuil Hindu di India Selatan, kerap mendapat perhatian di dunia arsitektur dikarenakan adanya kemiripan langgam Dravida pada arsitektur bangunan kuil di kedua belah tempat. Kemiripan yang ditandai dengan bentuk atap piramidal berlapis ini tidak bisa dibilang mirip begitu saja tanpa melihat seluruh elemennya terlebih dahulu. Penulis mencoba menyederhanakan perbandingan bentuk dan tektonika dilihat dari pembagian umum tektonika sebuah bangunan yakni kaki, badan dan kepala. Dari hasil temuan penulis, bisa disimpulkan bahwa terdapat kesamaan pada ‘ide dasar’ atau ‘citra awal’ bangunan kuil Hindu di kedua tempat. Namun, setelah ditinjau secara seksama bentuk serta tektonika di kedua tempat mempunyai ciri khas masing-masing yang tidak saling berkaitan.Penelitian ini menunjukkan hubungan yang unik antar arsitektur Candi Hindu Jawa dengan India Selatan dimana relasi yang terjadi tidak bisa dibilang salah satu pihak memengaruhi pihak lain atau sebaliknya. Temuan dari penelitian ini justru menunjukkan ciri khas yang kental dari masing-masing tempat. Faktor yang membedakan bisa dikarenakan adanya perbedaan alam, preferensi, budaya ataupun teknologi pada dua lokasi itu di zaman tersebut. Walaupun Hindu adalah agama yang berasal dari India, nampaknya dari segi arsitekturnya tidak bisa dikatan Jawa memimik arsitektur Hindu India. Penelitian ini menunjukkan bahwa arsitektur Kuil Hindu memiliki benang merah yang mengikat pada prinsip dasarnya, namun hasil dari pengolahan desain akan berbeda tergantung konteks dan perancangnya.
KOMPARASI KUIL MEENAKSHI AMMAN DI INDIA SELATAN DENGAN PURA BESAKIH DI INDONESIA DITINJAU DARI TATA MASSA, TATA RUANG, SOSOK, DAN ORNAMEN Anuttama
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3936.324-338

Abstract

Abstrak- Agama Hindu Bali merupakan perkembangan dari agama Hindu India, pada awalnya diduga bahwa  semua ajaran agama Hindu bermula pada negara India dan menyebar ke dalam pulau Jawa terlebih dahulu  setelah itu ajaran Hindu India menyebar dan masuk ke dalam pulau Bali. Arsitektur Hindu India juga ikut masuk  bersamaan dengan ajaran Agama Hindu India, terdapat aturan – aturan yang harus di ikuti dalam merancang  sebuah bangunan, dan kuil termasuk salah satunya. Arsitektur Hindu Bali mendapatkan banyak pengaruh budaya  dari luar India dan Bali, seperti pengaruh dari Jawa dan Belanda yang membuat arsitektur Hindu Bali menjadi  seperti sekarang. Penelitian ini bersifat analisis kualitatif, dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan komparatif.  Penelitian dilakukan pada 23 Juni 2019 telah dilakukan survey lapangan Kuil Meenakshi Amman di India dengan  mendatangi objek – objek penelitian secara langsung dan melakukan wawancara kepada ahli – ahli di India.  Sedangkan waktu penelitian objek di Indonesia yaitu Pura Besakih di Bali, telah dilakukan pada tanggal 31 Juli  2019 dengan cara mendatangi objek penelitian dan mewawancarai ahli yang berada di objek penelitian. Dalam ajaran agama Hindu India dan Hindu Bali terdapat pembagian tiga dunia, yaitu dunia bawah,  dunia tengah, dan dunia atas. Ketiga bagian dunia ini dipresentasikan pada gubahan bangunan kuil dan pura.  Pada Kuil India gubahan bangunan tentang dunia bawah, tengah, dan atas dibagi menjadi tujuh bagian.  Sedangkan di Bali persis dibagi menjadi tiga bagian yaitu dunia atas (utama), dunia tengah (madya), dan dunia  bawah (nista). Selain itu pada penggunaan ornamen terdapat perbedaan pada detail sosok dan ornamen.  Penelitian ini mengomparasikan tata massa, tata ruang, sosok, dan ornamen pada kuil Meenakshi dan pura  Penataran Agung Besakih dan dilihat persamaan dan perbedaan yang dimilikinya. Dengan adanya  perkembangan kepercayaan agama Hindu , baik dari cara sembahyang maupun perspektif sosial pemaknaan  terhadap tata massa, tata ruang, sosok, dan ornamen yang diturunkan / diwariskan oleh ajaran Hindu India  dalam merancang kuil ikut berkembang dan memiliki detail yang berbeda dengan kuil Hindu di India sendiri. 
KAJIAN PERSEPSI TERHADAP RUANG ARSITEKTUR MELALUI MEDIA FOTOGRAFI STUDI KASUS: KAMPUNG KOREA BANDUNG Primandita
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3937.339-349

Abstract

Abstrak- Arsitektur, dianggap sebagai salah satu instrumen utama untuk menghubungkan seorang individu  dengan dimensi ruang dan waktu. Namun, seriring dengan berkembangnya budaya dan teknologi, seorang  individu tidak harus berada di sebuah ruang untuk dapat merasakan ruangnya, melainkan hanya dengan melihat  gambar atau foto dari ruang tersebut. Dengan menggunakan media fotografi arsitektur, seorang arsitek dapat  mengkomunikasikan ide, konsep, dan fungsi melalui komunikasi visual kepada masyarakat umum. Namun,  bentukan gambar sebagai media komunikasi nonverbal yang tidak memiliki deskripsi khusus dan terarah seperti  halnya bentuk komunikasi verbal/tulisan, tentu akan memiliki proses penerimaan yang berbeda pada tiap individu.  Objek visual yang terbentuk sedemikian rupa akan mengarahkan persepsi yang kemudian memiliki hasil  penerimaan berbeda pada setiap individu karena proses pembentukan persepsi sangat bergantung pada  pengetahuan atau memori yang dimiliki oleh setiap orang. Oleh sebab itu, muncul pertanyaan apakah fotografi  arsitektur dapat mengkomunikasikan informasi yang efektif dan bersifat sama antara pengamat ruang langsung  dan pengamat ruang melalui media fotografi. Berdasarkan isu dan teori yang digunakan adalah teori yang mempengaruhi persepsi dan teori elemen ruang  luar. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian mix-method, yaitu gabungan antara penelitian kuantitatif  dan kualitatif. Karena proses dan makna (perspektif subjek) menjadi poin utama dalam penelitian namun harus  dimasukkan variabel-variabel yang sesuai sehingga data dapat diambil seoptimal mungkin. Setelah melakukan  penelitian, penulis kemudian memanfaatkan teori yang ada sebagai penjelas dan mencocokan teori dengan data  kemudian menganalisis data dan membuat kesimpulan akhir. Kesimpulan yang kemudian didapat dari penelitian ini adalah penjelasan bahwa seperti apa persepsi yang  dirasakan oleh responden pengamat langsung dan pengamat tidak langsung terhadap ruang-ruang di Kampung  Korea Bandung. Dari hasil data tersebut, faktor pembentuk persepsi dan emosi akan diidentifikasikan, hasil  dominan kemudian dari persepsi dominan pada objek seperti persepsi ‘buatan’, ‘sangat terang’, dan ‘bersih’ akan  dianalisa hubungannya dengan faktor pembentuk serta perbandingan persepsi pengaamat langsung dan pengamat  tidak langsung. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menambah pengetahuan tentang pengaruh faktor elemen  fisik ruang terhadap pembentukan persepsi yang dapat digunakan dalam proses pembuatan desain arsitektur atau  fotografi arsitektur.
PERAN TATANAN ELEMEN ARSITEKTURAL TERHADAP PEMBENTUKAN SOUNDSCAPE PADA RUANG TERBUKA PUBLIK BALAI KOTA BANDUNG Hidayati
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3938.350-362

Abstract

Abstrak- Setiap ruang berperan untuk mewadahi aktivitas yang identik dengan budaya masyarakat dan memiliki  karakter estetikanya masing – masing. Terletak di pusat kota, ruang terbuka publik Balai Kota Bandung berperan  penting dalam pengendalian kualitas lingkungan ekologis dan sosial dalam kawasannya, sehingga membutuhkan  pengalaman soundscape yang berkualitas baik. Dengan tujuan revitalisasi taman dalam meningkatkan konteks  ruang sehingga mendukung kultur kegiatan, pengalaman audial di ruang terbuka publik Balai Kota Bandung  adalah hal yang esensial. Upaya mengendalikan pembentukkan soundscape dalam suatu ruang menghidupkan  hubungan harmonis antara keragaman aktivitas.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran tatanan elemen arsitektural ruang terbuka publik Balai  Kota Bandung terhadap pembentukan kualitas dan pengalaman soundscape. Metoda penelitaian yang dilakukan  adalah secara kualitatif, data diperoleh dari studi lteratur, pengamatan langsung ke lapangan, serta dari kuesioner  dan wawancara. Pengukuran kuantitatif dilakukan untuk melengkapi data kualitatif. Analisa deskriptif dilakukan  berdasarkan teori yang berkaitan dengan ruang terbuka publik, intentions in architecture, persepsi, soundscape,  dan akustik dalam arsitektur. Pada ruang terbuka publik Balai Kota Bandung terdapat beberapa suara yang membentuk soundscape ruang, diantaranya adalah kendaraan melintas, suara klaskson/ sirine, dan suara pesawat melintas sebagai  unwanted sound lingkungan. Suara kereta api melintas, suara speaker Masjid Al -Ukhuwwah, suara lonceng  gereja sebagai soundmark lingkungan. Suara anak-anak, suara komunitas, suara burung, dan suara air sebagai  soundmark dan wanted sound dalam. Tatanan elemen arsitektural pada Taman Dewi Sartika membentuk ruang  terbuka publik yang radial. Tatanan elemen arsitektural pada Taman Badak membentuk ruang terbuka publik yang  linier. Tatanan elemen arsitektural pada Taman Merpati membentuk ruang terbuka publik yang grid. Tatanan  elemen arsitektural pada Plaza Balai Kota membentuk ruang terbuka publik yang memusat. Tatanan elemen  arsitektural pada Taman Sejarah membentuk ruang terbuka yang klaster. Ruang terbuka publik di Balai Kota  Bandung telah cukup baik dalam menciptakan soundscape yang mewadahi kegiatan masyarakat. Namun, masih  membutuhkkan penangganan unwanted sounds agar kualitas pengalaman soundscape menjadi lebih optimal. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan bagi perancangan tatanan elemen  arsitektural ruang terbuka publik kota dalam pembentukan suasana, melalui aspek pengamanan multi-indra  khususnya dalam auditory experience.
SENSORY DESIGN PADA ARSITEKTUR SEKOLAH PLAYGROUP – TK JAGAD ALIT WALDORF, BANDUNG Anugrah
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3939.363-379

Abstract

Abstrak- Manusia adalah subjek utama arsitektur, dan arsitektur hadir sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan  akan ruang untuk beraktivitas. Dalam hal ini, manusia sebagai subjek arsitektur tidak hanya mencakup orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak. Pada usia 3-5 tahun, anak-anak sedang dalam masa yang aktif dan  berkembang. Mereka sedang dalam masa di mana rasa ingin tahu mereka besar, dan imajinasi mereka juga sedang  berkembang. Karenanya, pengalaman multisensori merupakan sesuatu yang penting bagi mereka untuk  berkembang baik secara fisik maupun mental. Pengalaman multisensori dapat dihadirkan melalui interaksi anak-anak dengan lingkungannya, baik di dalam maupun di luar ruangan didukung oleh desain sensorik. Salah satu  lingkungan di mana anak-anak dapat berinteraksi dengan lingkungannya adalah sekolah. Sekolah Playgroup – TK  Jagad Alit Waldorf Bandung adalah sekolah yang berbasis pendidikan multisensori yang didirikan sejak tahun  2015. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi aspek arsitektural apa saja yang dapat menghadirkan  pengalaman multisensori bagi anak dan apakah pengalaman multisensori anak sudah terpenuhi atau belum. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, data diperoleh dari studi  literatur, pengamatan langsung ke lapangan, serta dari wawancara terhadap guru-guru sekolah playgroup – TK  Jagad Alit Waldorf Bandung.  Diperoleh kesimpulan bahwa aspek arsitektural sekolah playgroup – TK Jagad Alit Waldorf Bandung  memenuhi pengalaman multisensori anak, dengan sensori yang paling banyak terwadahi adalah sensori sentuhan.  Terdapat empat sensori utama yang menjadi fokus pada kurikulum Waldorf, yaitu sentuhan, gerakan,  keseimbangan, dan kehidupan. Pengalaman sensori itu dipenuhi lewat bentuk alat permainan yang menarik, serta  penggunaan material yang cukup beragam. Penggunaan material tersebut tidak hanya menarik bagi indera peraba,  tetapi juga bagi indera penglihatan. Tekstur material menjadi sesuatu yang menarik bagi anak-anak usia dini.  Sensori lain yang berada dalam bagian empat sensori utama yang menjadi fokus anak-anak 0-7 tahun  adalah gerakan anak-anak. Penyusunan furnitur membuat yang menciptakan ruang yang lapang menyediakan  ruang yang cukup bagi anak-anak untuk bergerak dengan bebas. 
KOMPARASI TATA MASSA, RUANG, ORNAMEN KUIL HINDU INDIA SELATAN DENGAN CANDI JAWA Laurentia
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3940.380-398

Abstract

Abstrak- Agama Hindu pertama kali muncul di India yang kemudian masuk ke Indonesia. Salah satu buktinya  dapat terlihat dari ditemukannya prasasti yang bertuliskan huruf Pallawa. Pallawa sendiri merupakan salah satu  kerajaan yang pernah berkuasa di India Selatan. Hubungan antara India dengan Indonesia ini melebar hingga ke bidang arsitektur. Apabila dilihat secara sosok sekilas, bentuk kuil pada era Kerajaan Pallawa di abad ke 7  memiliki kemiripan dengan candi era klasik tua di Jawa. Dari adanya kemiripian ini, kuil di India Selatan menarik untuk dibandingkan dengan candi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan dan  persamaan apa saja yang dapat ditemukan dari kuil di India Selatan dan candi di Indonesia apabila dilihat dari  tata massa, ruang dan ornamennya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pertama, data tentang objek  dikumpulkan dari literatur dan kunjungan langsung ke lapangan. Setelah itu, data dideskripsikan untuk kemudian  dianalisis menggunakan teori yang relevan. Tata massa dan ruang pada masing-masing objek dianalisis  menggunakan teori organisasi ruang dan prinsip penyusunan. Sedangkan ornamen pada masing-masing objek dianalisis sesuai dengan teori pembagian elemen dalam sebuah kuil. Baru kemudian data tersebut dibandingkan  antara kuil di India dengan candi di Indonesia. Hasilnya ditemukan kesamaan pola tatanan massa pada kuil di India Selatan dan candi di Indonesia. Ada  dua pola tatanan massa yang ditemukan yaitu, pola tata massa berjejer dan pola tata massa berhadapan satu-satu.  Apabila dilihat dari kronologis waktu didirikannya kuil atau candi, pola tata massa berjejer sudah ada terlebih  dahulu pada kuil di India, sedangkan pola tata massa berhadapan satu-satu terlebih dahulu ditemukan di Indonesia.  Kedua pola ini sama-sama bisa ditemukan di India maupun di Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya relasi atau  hubungan timbal balik antara arsitektur India dengan Indonesia. Sedangkan dari tata ruang, hasil analisis  menunjukkan perbedaan antara kuil di India dengan candi di Indonesia. Ruang yang digunakan untuk aktivitas  beribadah di India bentuknya ternaungi maupun terlingkupi, sedangkan di Indonesia berupa ruangan terbuka. Hal  ini kemungkinan ada kaitannya dengan perbedaan iklim antara Indonesia dengan India. Dari sisi ornamen yang  digunakan, ditemukan lebih banyak perbedaan dibandingkan persamaan antara kuil di India dengan candi di  Indonesia. 
PENGARUH MULTI-ENTRANCE PADA PUSAT PERBELANJAAN TERHADAP SIRKULASI PENGUNJUNG STUDI KASUS: PASKAL 23 SHOPPING CENTER, BANDUNG Sutrisno
Jurnal Riset Arsitektur Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v4i04.3941.399-416

Abstract

Abstrak- Pusat perbelanjaan sebagai salah satu bangunan komersial menjadi bangunan yang mewadahi berbagai  kalangan masyarakat. Pada zaman sekarang ini, terkhususnya di wilayah perkotaan, pergi ke sebuah pusat  perbelanjaan sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat sehingga kegiatan dalam sebuah pusat perbelanjaan juga  harus dapat mengikuti perkembangan zaman yang menjadikan pusat perbelanjaan tidak hanya berfungsi sebagai  tempat berbelanja saja namun juga harus dapat berfungsi sebagai tempat berekreasi dan bersosialisasi bagi masyarakat. Perpaduan kegiatan berbelanja, berekreasi, dan bersosialisasi telah menjadi suatu gaya hidup bagi  masyarakat perkotaan untuk menurunkan tingkat depresi.  Kenyamanan yang ditawarkan dalam sebuah pusat perbelanjaan adalah poin penting untuk mencapai  kesuksesan sebuah pusat perbelanjaan. Sirkulasi pengunjung yang membingungkan tentu akan mengganggu  kenyamanan pengunjung ketika berada dalam sebuah pusat perbelanjaan. Kemungkinan yang menyebabkan  pengunjung merasa bingung adalah sirkulasi itu sendiri atau dengan adanya multi-entrance pada sebuah pusat  perbelanjaan.  Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui apakah multi-entrance yang terdapat pada Paskal 23 Shopping  Center ini menyebabkan pengunjung merasa kebingungan ketika berada di dalam bangunan dan bagaimana  pengaruhnya.  Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan langung  ke lapangan, serta wawancara terhadap pengunjung Paskal 23 Shopping Center. Diperoleh kesimpulan bahwa  walaupun keberadaan multi-entrance pada Paskal 23 Shopping Center dapat memudahkan pencapaian pengunjung  ke dalam bangunan. Namun Sistem multi-entrance ini harus memiliki elemen-elemen tersendiri dan memiliki  karakter yang kuat untuk dapat menggambarkan lokasi setiap entrance. Keberadaan elemen ini tidak terlihat pada  multientrance Paskal 23 Shopping Center yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan bagi pengunjung dalam  bersirkulasi.
PENERAPAN KONSEP MAHĀYĀNA, VAJRAYĀNA, MĀNASĀRA PADA KUIL BUDDHA MATARAM ŚAILENDRA Clarissa
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4414.1-17

Abstract

Abstrak- Berbagai prinsip dan tradisi arsitektur klasik India telah dikumpulkan dan dilestarikan dalam kajian yang dikenal sebagai Vāstuśāstra. Cabang keilmuan klasik India ini merupakan perwujudan arsitektural dari nilai-nilai Hindu ideal, dan karena itulah ide-ide di dalamnya memiliki pengaruh signifikan terhadap arsitektur keagamaan dalam wilayah budaya India Raya yang mencapai Pulau Jawa kuno. Pengaruh India dapat dikenali dalam desain candi Hindu di Jawa era Dinasti Śailendra meskipun terdapat sejumlah elemen arsitektural yang tidak ditemukan dalam vāstuśāstra. Namun, berbeda dengan agama Hindu yang memiliki kajian vāstuśāstra, agama Buddha tidak memiliki kajian seperti vāstuśāstra ataupun kuil Buddha yang berdiri sendiri sehingga, sumber yang dipakai sebagai panduan dalam membangun bangunan arsitektur Buddha dipertanyakan dalam Candi Buddha di Indonesia, khususnya Candi Buddha di Jawa Tengah era Mataram Kuno Dinasti Śailendra. Meskipun ajaran Buddha dan beberapa bagian dalam kajian vāstuśāstra diketahui turut berperan dalam pembangunan Candi Buddha di Indonesia, seberapa jauh aliran Buddha dan vāstuśāstra India diterapkan dalam candi sulit untuk diamati, mengingat tidak adanya kajian khusus dan referensi kuil Buddha yang berdiri sendiri untuk membangun Candi Buddha, dan narasumbernya yang sudah tidak ada. Dengan mencari informasi mengenai teori arsitektur ajaran-ajaran Buddha yang masuk ke Indonesia dan mengidentifikasi serta membandingkan bagian-bagian vāstuśāstra yang relevan, maka dapat terlihat elemen arsitektural apa saja yang merupakan bagian dari konsep ajaran Buddha tertentu serta yang merupakan bagian dari kajian vāstuśāstra. Dalam penelitian, metode deskriptif dan pendekatan kualitatif digunakan oleh penulis. Penulis berfokus pada sosok dan ornamen serta tata massa dan ruang. Penelitian ini mengumpulkan dan membandingkan berbagai bagian vāstuśāstra yang relevan serta beberapa konsep ajaran Buddha untuk dibandingkan dengan data dari duabelas sampel candi era Mataram Kuno Dinasti Śailendra. Perbandingan oleh penulis menunjukkan sejumlah hasil. Pertama, terdapat penerapan konsep mahāyāna, vajrayāna, dan kitab mānasāra pada elemen sosok, ornamen, tata massa, dan ruang candi Buddha di Jawa Tengah. Namun begitu, sejumlah detil arsitektural dari elemen-elemen tersebut memiliki perbedaan yang kentara dengan penuturan dalam vāstuśāstra. Sebagai contoh, beberapa penempatan Kala-Makara yang tidak mengikuti kitab mānasāra. Kedua, dengan adanya penerapan konsep mānasāra pada candi Buddha di Jawa Tengah membuktikan bahwa adanya pengaruh Hindu dikarenakan hubungan harmonis antara Buddha dan Hindu pada jaman tersebut. Ketiga, kuil Buddha free-standing pertama adalah Candi Batujaya 5/Blandongan (abad 2-3 M dan 7-10 M) karena kuil Mahabodhi di India baru dibangun seperti yang kita lihat sekarang pada restorasi fase 6 (tahun 700-800 M/abad 8 M).

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 02 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 01 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 3 (2025): Jurnal RISA (Riset Arsitektur) Vol 8 No 04 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 03 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 02 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 01 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 04 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 03 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 02 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 01 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 04 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 03 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 02 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 01 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 04 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 03 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 02 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 01 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 04 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 03 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 02 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 01 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 04 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 03 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 02 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 1 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" More Issue