cover
Contact Name
Indri Astrina Fitria Indrarani
Contact Email
risetarsitektur@unpar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
risetarsitektur@unpar.ac.id
Editorial Address
Gedung PPAG 1, Lantai 1A Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung, 40141, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal RISA
ISSN : 25488074     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.26593/risa
Core Subject : Engineering,
Jurnal RISA aims to contribute to scientific research, practice, and education by publishing national and international studies. The scope of this journal includes the dissemination of research findings, ideas, and reviews in the following subject areas: 1. History, Theory, and Philosophy of Architecture; 2. Housing and Settlements; 3. Architecture and Urban Design; and 4. Building Management Technology.
Articles 430 Documents
UPAYA PENURUNAN NILAI OTTV UNTUK PENGHEMATAN ENERGI PADA HOTEL EMERSIA LAMPUNG SESUAI KRITERIA GREENSHIP Rahmanda
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4415.18-35

Abstract

Abstrak- Krisis energi disebabkan oleh konsumsi energi yang tidak terkendali serta meningkat melebihi ketersedian yang ada. Konsumsi energi terbesar pada bangunan adalah energi untuk mendinginkan ruangan menggunakan Air Conditioning (AC). Hal ini terjadi karena desain selubung bangunan yang tidak dapat secara efektif mengurangi transfer panas dari luar menuju kedalam bangunan. GBCI (Green Building Council Indonesia) menentukan standar desain selubung bangunan yang yang tepat dalam mengkonservasi energi dinyatakan dalam OTTV (Overall Thermal Transfer Value) tidak boleh lebih dari 35 Watt/m2.Hotel Emersia Lampung  merupakan hotel bintang 4 yang melakukan renovasi pada tahun 2012. Dilihat dari desain bangunannya, arsitek hotel ini berusaha membuat hotel yang berkonsep ramah lingkungan. Mulai dari orientasi bangunan yang utara-selatan, peneduh eksternal di setiap bukaan, hingga penambahan secondary skin pada sisi bangunan sebelah barat. Tetapi setelah dilakukan perhitungan OTTVnya, selubung bangunan Hotel Emersia masih memiliki permasalahan pada selubung bangunannya dalam mengurangi transfer panas yang terjadi. Nilai OTTV hotel ini masih berada diatas kriteria yaitu sebesar 40,19 W/m2, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap elemen-elemen selubung bangunan agar dapat menurunkan nilai OTTV bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetehaui penyebab permasalahan panas yang terjadi dan memberikan saran perbaikan yang dapat menurunkan transfer panas pada selubung bangunan Hotel Emersia Lampung sehingga memenuhi standar nilai OTTV yang dikeluarkan GBCI (Green Building Council Indonesia).Metode penelitian yang digunakan adalah dekriptif-evaluatif. Penelitian dilakukan dengan cara menganalisis elemen selubung bangunan Hotel Emersia. Kemudian menganalisis bagaimana upaya untuk mereduksi transfer panas pada selubung bangunan. Hasil penelitian berupa rekomendasi perbaikan pada selubung bangunan yang dapat menurunkan nilai OTTV pada Hotel Emersia.Hasil penelitian menunjukan bahwa penyebab utama tingginya transfer panas yang yang terjadi pada selubung bangunan Hotel Emersia Lampung adalah nilai WWR yang besar di ketiga sisi bangunannya serta peneduh matahari yang kurang terutama di sisi timur menyebabkan nilai radiasi dan konduksi jendela menjadi besar. Selain kedua hal tersebut , pepohanan dan vegetasi yang ada disekitar tapak masih sedikit sehingga area tapak minim pembayangan dan menyebabkan suhu ditapak tinggi. Upaya seperti penurunan nilai WWR hingga pergantian material kaca dengan nilai Uf yang kecil dapat menurunkan nilai OTTV bangunan sampai sebesar 24,05 W/m2. Upaya lain seperti perbesaran rasio peneduh hingga perubahan orientasi bukaan juga dapat menurunkan nilai OTTV, namun penurunan yang terjadi tidak sampai dengan standar OTTV yang ditetapkan.
KONFIGURASI SPASIAL RUMAH TRADISIONAL TEPAL DALAM KAITANNYA DENGAN ASPEK SOSIO BUDAYA (OBJEK STUDI: DESA TEPAL, KECAMATAN BATULANTEH, KABUPATEN SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT) Safa
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4416.36-51

Abstract

Abstrak- Rumah adalah sebuah konsekuensi fenomena budaya, dimana bentuk dan organisasinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya tempatnya berada. Sosio-budaya sendiri merupakan hasil pikiran dan akal budi, yang ada untuk kehidupan bermasyarakat. Hasil dari proses berbudaya ini menghasilkan berbagai perwujudan, seperti kesenian, kepercayaan, hingga karya arsitektur.Desa Tepal di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, merupakan satu dari sedikit desa terpencil di Pulau Sumbawa yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat yang diturunkan oleh para leluhurnya. Wujud fisik arsitekturalnya masih melekat dengan nilai-nilai dan tradisi yang berlaku. Hal ini dapat dilihat pada wujud fisik, sistem pengukuran, serta elemen lain pada rumah huniannya.Rumusan masalah yang menjadi landasan penelitian ini mencakup bagaimana aspek sosio budaya mempengaruhi konfigurasi spasial dan elemen pembentuk ruang Tepal. Tujuannya untuk menjelaskan kekuatan-kekuatan dalam kaitan aspek sosiobudaya yang mempengaruhi konfigurasi spasial dan elemen pembentuk ruang pada hunian.Metode yang digunakan pada penelitian ini merupakan metode kualitatif deskriptif dengan melakukan pengamatan terhadap wujud fisik hunian yang dipengaruhi oleh aspek sosiobudaya dari adat istiadat yang berlaku. Diperoleh kesimpulan bahwa terdapat aspek filosofis serta nilai-nilai seperti nilai kepercayaan, peran gender, usia, kebiasaan, dan ekonomi mempengaruhi penataan ruang pada bagian dalam, luar, serta elemen pembentuk rumah.
KESESUAIAN KONSEP RUANG RITUAL IBADAH BERJAMAAH DENGAN BENTUK ARSITEKTUR MASJID AL-AHDHAR Reza
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4417.52-68

Abstract

Abstrak- Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi penganut agama Islam terbesar di dunia. Tingginya jumlah penduduk yang menganut agama Islam menyebabkan tingginya kebutuhan untuk mendirikan masjid yang memiliki fungsi utama sebagai sarana untuk menjalankan kegiatan ibadah di berbagai daerah. Masjid sebagai tempat pertemuan manusia dengan Tuhan-nya idealnya memiliki aspek spasial yang sesuai dengan karakter kegiatan yang dilakukan didalamnya. Kegiatan ritual ibadah shalat berjamaah memiliki persyaratan dan alur gerak tertentu, sehingga memiliki penataan dan karakter yang berbeda dengan arsitektur bangunan lainnya.Seiring dengan berkembangnya zaman, arsitektur masjid semakin beragam. Inovasi struktur dan kemajuan teknologi memungkinkan munculnya variasi bentuk arsitektur masjid yang menarik. Berkenaan dengan hal tersebut, Masjid Al-Ahdhar merupakan salah satu masjid dengan bentuk arsitektur yang unik. Hal ini terlihat dari bentuk bangunan yang memanjang ke arah samping dan tidak berkubah, sehingga tidak seperti arsitektur masjid pada umumnya. Walaupun memiliki bentuk arsitektur yang menarik, perlu diketahui apakah hasil rancangan bentuk dan ruang dalam pada masjid dapat mewadahi fungsi dengan baik. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan konsep ruang ritual ibadah berjamaah pada arsitektur masjid.Tujuan penelitian ini adalah mengungkap kesesuaian konsep ruang ritual ibadah berjamaah pada objek studi terpilih, yaitu Masjid Al-Ahdhar. Penelitian dilakukan dengan melakukan penelusuran terhadap aspek-aspek konsep ruang ritual ibadah berjamaah, lalu kemudian menentukan aspek properti dan komposisi bangunan yang sesuai dengan konsep tersebut. Setelah itu, dilakukan evaluasi konsep ruang ritual pada hasil rancangan arsitektur Masjid Al-Ahdhar yang dibagi lingkup pembahasannya berdasarkan teori anatomi bangunan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi kontribusi mengenai aspek spasial dalam masjid. Sehingga, walapun arsitektur masjid memiliki bentuk yang beragam tetap memenuhi persyaratan kegiatan ibadah.
PENGARUH MULTI-ENTRANCE PADA PUSAT PERBELANJAAN TERHADAP SIRKULASI PENGUNJUNG STUDI KASUS: PASKAL 23 SHOPPING CENTER, BANDUNG Sutrisno
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4418.69-85

Abstract

Abstrak- Pusat perbelanjaan sebagai salah satu bangunan komersial menjadi bangunan yang mewadahi berbagai kalangan masyarakat. Pada zaman sekarang ini, terkhususnya di wilayah perkotaan, pergi ke sebuah pusat perbelanjaan sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat sehingga kegiatan dalam sebuah pusat perbelanjaan juga harus dapat mengikuti perkembangan zaman yang menjadikan pusat perbelanjaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja saja namun juga harus dapat berfungsi sebagai tempat berekreasi dan bersosialisasi bagi masyarakat. Perpaduan kegiatan berbelanja, berekreasi, dan bersosialisasi telah menjadi suatu gaya hidup bagi masyarakat perkotaan untuk menurunkan tingkat depresi.Kenyamanan yang ditawarkan dalam sebuah pusat perbelanjaan adalah poin penting untuk mencapai kesuksesan sebuah pusat perbelanjaan. Sirkulasi pengunjung yang membingungkan tentu akan mengganggu kenyamanan pengunjung ketika berada dalam sebuah pusat perbelanjaan. Kemungkinan yang menyebabkan pengunjung merasa bingung adalah sirkulasi itu sendiri atau dengan adanya multi-entrance pada sebuah pusat perbelanjaan. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui apakah multi-entrance yang terdapat pada Paskal 23 Shopping Center ini menyebabkan pengunjung merasa kebingungan ketika berada di dalam bangunan dan bagaimana pengaruhnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan langung ke lapangan, serta wawancara terhadap pengunjung Paskal 23 Shopping Center. Diperoleh kesimpulan bahwa walaupun keberadaan multi-entrance pada Paskal 23 Shopping Center dapat memudahkan pencapaian pengunjung ke dalam bangunan. Namun Sistem multi-entrance ini harus memiliki elemen-elemen tersendiri dan memiliki karakter yang kuat untuk dapat menggambarkan lokasi setiap entrance. Keberadaan elemen ini tidak terlihat pada multientrance Paskal 23 Shopping Center yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan bagi pengunjung dalam bersirkulasi.
KLASIFIKASI ADAPTASI RUANG, DAN BENTUK PADA RUMAH MASYARAKAT DESA NGLEPEN Sutoko
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4419.86-101

Abstract

Abstrak- Pada tahun 2007 masyarakat Desa Nglepen Yogyakarta di relokasi ke kawasan permukiman bantuan yang dibangun oleh lembaga Dome For The World Foundation. Relokasi ini dilakukan karena rumah masyarakat Desa Nglepen hancur setelah insiden gempa pada tahun 2006. Kondisi hunian bantuan yang memiliki karakteristik fisik sangat berbeda dengan rumah pada umumnya memicu masyarakat Desa Nglepen untuk melakukan adaptasi. Penelitian ini membahas mengenai klasifikasi berdasarkan latar belakang pemicu adaptasi terhadap klasifikasi adaptasi berdasarkan ruang, dan bentuk masyarakat Desa Nglepen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana karakteristik hasil produk adaptasi yang dihasilkan berdasarkan latar belakang pendorong adaptasi dalam upaya mengakomodasi aktivitas sehari-hari.Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan kondisi eksisting rumah dome beserta dengan latar belakang perubahannya. Sampel penelitian pada klasifikasi adaptasi ini ditentukan pada masyarakat Desa Nglepen yang ingin menetap dengan huniannya. Pengumpulan data dilakukan melalui proses observasi dan wawancara terhadap penghuni rumah dome dan studi literatur. Analisis dilakukan berdasarkan teori strategi adaptasi dan faktor yang mempengaruhi perilaku adaptasi untuk mencari klasifikasi adaptasi berdasarkan latar belakang faktor yang mempengaruhi.Hasil dari klasifikasi berdasarkan latar belakang dan klasifikasi berdasarkan ruang, dan bentuk adalah karakteristik dari setiap adaptasi berdasarkan latar belakang pemicu adaptasi. Karakteristik adaptasi meliputi sifat ruang antara tertutup atau terbuka, kemudian penambahan massa yang mempengaruhi bentuk meliputi penambahan kearah depan, belakang, dan terpisah, pada rumah dome.
RELASI TIPO-MORFOLOGI CANDI HINDU DAN BUDDHA PADA ERA MATARAM KUNO
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i02.4727.102-116

Abstract

Abstrak Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan tertua di pulau Jawa. Pada era ini, pembangunan candi berkembang pesat. Kerajaan Mataram Kuno berdiri dibawah dua kekuasaaan wangsa. Pertama, oleh wangsa Sanjaya yang menganut ajaran Hindu. Kedua, oleh wangsa Sailendra yang menganut ajaran Buddha, namun pada pertengahan wangsa ini ajaran Hindu kembali masuk dan eksis dalam kehidupan rakyatnya. Wangsa atau dinasti yang ada melahirkan arsitektur candi yang dapat dibagi menjadi dua aliran, yaitu aliran Hindu dan aliran Buddha. Walaupun memiliki dua aliran yang berbeda, terdapat beberapa kejanggalan dari identitas arsitektur yang ada pada kedua candi tersebut. Hal yang pertama terlihat jelas adalah dari tata letak candi-candi tersebut, dimana kita dapat melihat beberapa candi Hindu dan Buddha yang letaknya berdekatan bahkan dalam satu kompleks percandian yang sama. Selain itu, diduga terdapat juga kesamaan beberapa elemen pada candi yang bercorak Hindu maupun Buddha pada masa itu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui relasi antara kedua aliran tersebut dalam pembangunan candi satu sama lain. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan kajian tipo-morfologi candi Hindu dan candi Buddha pada era Mataram Kuno, lalu membandingkan keduanya. Data dikumpulkan dengan cara observasi lapangan dan studi pustaka. Hasilnya ditemukannya persamaan dan perbedaan yang terdapat dalam kajian tipo-morfologi arsitektur candi Hindu dan Buddha pada masa itu. Berdasarkan persamaan dan perbedaan tersebut, penulis menyimpulkan beberapa relasi yang terjadi antara ajaran Hindu dan ajaran Buddha terhadap perancangan candi Hindu dan Buddha pada era Mataram Kuno. Penulis menyimpulkan bahwa relasi dapat ditemukan pada aspek sosok dan ornamentasi, sedangkan perbedaan dapat ditemukan pada aspek tata massa dan tata ruang. Namun perlu ditegaskan bahwa ada kasus khusus dimana dapat ditemukan relasi antara kedua ajaran tersebut, yaitu pada candi Prambanan. Pada kasus ini, dapat dilihat bahwa terjadi pencampuran kedua ajaran tersebut dalam perancangan arsitekturnya. Hal ini dapat dilihat sebagai titik mulainya akulturasi arsitektur candi di Nusantara. Kata Kunci: tipo-morofologi, candi, Hindu, Buddha, Mataram Kuno
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI PADA BANGUNAN MAYA SANUR, BALI (DCM)
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i02.4728.117-133

Abstract

Abstrak Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang terkenal dengan nilai kebudayaannya. Salah satu wujud kebudayaan yang riil dan dsudah teruji durabilitasnya merupakan arsitektur tempat tersebut. Pada era globalisasi saat ini telah muncul kebutuhan fungsi yang baru, seperti hotel, tentu dengan gaya arsitektur yang berbeda. Sayangnya, tidak semua bangunan memprtahankan konsep arsitektur tradisional Bali, padahal arsitektur tradisional menjadi penting karena menjadi identitas tempat tersebut serta arsitektur tradisional merupakan suatu solusi hasil pemikiran masyarakat yang terdahulu dalam menyelesaikan masalah terhadap kebutuhanmanusia serta alam lingkungannya. Salah satu bangunan di era modern ini yang tetap menerapkan konsep arsitektur tradisional adalah bangunan Maya Sanur Resort & Spa. Penelitian yang dilakukan adalah secara deskriptif kualitatif untuk memberikan penjelasan secara deskriptif terhadap anatomi rancangan Maya Sanur Resort & Spa. Pengumpulan data dilakukan melalui stud literatur, wawancara serta observasi langsung ke Hotel Maya Sanur, Bali. Data yang didapat dianalisis dengan cara dideskripsikan dan diklasifikasi yang kemudian dianalisis berkaitan dengan hasil studi literatur. Hasil penelitian penulis mengungkap bahwa bangunan Maya Sanur Resort & Spa menerapkan konsep arsitektur tradisional Bali berdasarkan sistem kepercayaan walaupun apabila dilihat sekilas tidak mencerminkan bangunan tradisional Bali. Penerapan konsep arsitektur tradisional Bali pada bangunan Maya Sanur dilakukan sejalan dengan perkembangan teknologi, sehingga memunculkan bentuk-bentuk dan konsep baru seperti green roof, rain water harvesting serta eco-friendly building. Kata kunci: penerapan, arsitektur tradisional Bali, Maya Sanur Resort & Spa
TELAAH PENELUSURAN SOUNDSCAPE SEBAGAI KRITIK TERHADAP KONSEP GEREJA TERBUKA KARYA Y.B. MANGUNWIJAYA (STUDI KASUS: GEREJA SANTA MARIA FATIMA, SRAGEN)
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i02.4729.134-152

Abstract

Abstrak Penghayatan arsitektur tidak hanya terbatas pada pengalaman visual yang seringkali lebih dominan dibandingkan dengan indra lainnya. Menghayati arsitektur dapat juga dilakukan melalui kegiatan mendengar. Telaah soundscape merupakan cara untuk melihat arsitektur dari sudut pandang audial dan mencari hubungan antara suara dengan fenomena spasial yang terjadi. Penelitian ini dilakukan pada bangunan gereja dengan konsep terbuka rancangan Y.B. Mangunwijaya. Potensi permasalah pada objek studi berada pada konsep keterbukaannya karena membaurnya pengaruh luar dengan dalam bangunan. Fenomena yang ingin dipelajari adalah keterkaitan antara soundscape dengan aspek keterbukaannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. Suara yang diukur pada berbagai titk ukur (dalam dan luar bangunan) menghasilkan data berupa angka yang kemudian dibandingkan secara kuantitatif. Observasi lapangan, dilengkapi dengan wawancara dan pengisian kuesioner, menjadi acuan yang bersifat kualitatif. Metode analisis secara deskriptif mengungkapkan fakta dan temuan di lapangan dengan teori-teori yang mendukung: teori Gereja Terbuka (Gereja Diaspora), teori Soundcape, teori Akustik, teori Persepsi, dan teori Intentions in Architecture. Keterbukaan pada bangunan gereja ini menghasilkan soundscape yang karakternya dipengaruhi oleh penataan ruang luar (tapak) dan ruang dalam pada bangunan (interior). Oleh karena itu, elemen tapak menjadi sama pentingnya dengan elemen interior dalam menciptakan nuansa audial yang baik. Suara keynote dan sound signal yang bersifat bising (motor, ramai aktivitas manusia, dan sebagainya) mengalami penguatan atau pelemahan tergantung pada elemen yang ada pada jalur rambat suara. Temuan lain adalah terkait hubungan soundmark dengan kondisi perkotaan atau townscape di sekitar bangunan ini. Densitas perkotaan yang tidak terlalu tinggi menciptakan rambatan dari soundmark yang lebih jelas. Temuan persepsi tidak menunjukkan adanya gangguan audial yang signifikan pada bangunan ini di pagi hari. Meskipun demikian, penyesuaian lebih lanjut dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas audial pada siang/sore hari. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman berarsitektur secara indrawi khususnya mendengar arsitektur. Selain itu, penelitian ini juga dilakukan dalam rangka untuk mengungkap kembali dan melestarikan kekayaan dari arsitektur Romo Mangun sehingga dapat menjadi wawasan dan renungan berarsitektur yang baik di kemudian hari. Kata Kunci: soundscape, Mangunwijaya, keterbukaan, Maria Fatima Sragen
KONSEP BERMUKIM MASYARAKAT DESA TRUSMI CIREBON
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i02.4731.153-170

Abstract

Abstrak Bermukim merupakan salah satu wujud dari kebudayaan manusia, hal ini berlangsung akibat adanya proses keterkaitan antara manusia dengan lingkungannya. Konsep budaya bermukim ini akan terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Sebagai salah satu permukiman kuno di Kota Cirebon, Desa Trusmi telah tumbuh sejak akhir abad ke 14. Perkembangan Desa Trusmi yang dikenal sebagai desa penghasil beras dan sirih hingga kini dikenal sebagai desa pusat wisata batik merupakan wujud dari adanya perkembangan peradaban masyarakatnya. Perjalanan sejarah yang panjang didukung dengan adanya artefak peninggalan di masa lalu, Situs Ki Buyut Trusmi membuat Desa Trusmi Cirebon ini menarik untuk diteliti. Sehingga, tujuan dari penilitian ini yaitu untuk memahami bagaimana konsep bermukim masyarakat Desa Trusmi Cirebon. Penelitian menggunakan metode deskriptif-textual analysis dengan pendekatan kualitatif. Metode deskriptif digunakan dengan cara mendeskripsikan dan menginterpretasikan keadaan eksisting Desa Trusmi Cirebon secara komprehensif dan sesuai dengan kondisi saat ini. Metode textual analysis digunakan dengan cara menggunakan teori konsep bermukim oleh Christian Noberg-Schulz yang diterbitkan dalam rangkaian tulisan berupa buku. Data dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu morfologi, topologi, dan tipologi yang menjadi poin pembahasan untuk menguraikan objek studi dalam konsep bermukim. Analisis konsep bermukim dikaitkan dengan dua teori pendekatan, yaitu identifikasi dan orientasi. Berdasarkan hasil analisis dapat ditelusuri bagaimana konsep bermukim masyarakat Desa Trusmi Cirebon dapat berkembang seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat Trusmi. Hasil penelitian menyimpulkan perkembangan konsep bermukim masyarakat Desa Trusmi Cirebon yang ditinjau melalaui teori identifikasi dan teori orientasi berdasarkan morfologi, topologi, dan tipologi. Kata Kunci: konsep bermukim, masyarakat, Desa Trusmi Cirebon
PENGARUH KEMIRINGAN ATRIUM TERHADAP PERFORMA PENCAHAYAAN ALAMI PADA RUANGAN SEKITAR ATRIUM
Jurnal Riset Arsitektur Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i02.4732.171-189

Abstract

Abstrak Sejak masa architectural re-establishment pada tahun 1970, atrium telah digunakan sebagai upaya untuk mengkonservasi energi dari sisi pencahayaan alami maupun penghawaan alami. Namun penggunaan atrium sebagai salah satu media penetrasi pencahayaan alami ke dalam bangunan masih memiliki kekurangan, yakni tingkat pencahayaan alaminya yang semakin berkurang jika semakin jauh dari sumber, baik secara horizontal maupun vertikal. Kemiringan atrium merupakan salah satu faktor geometri atrium yang dapat memengaruhi kuantitas pencahayaan alami yang masuk ke atrium dan ruangan sekitarnya secara signifikan. Perubahan variabel kemiringan atrium akan berdampak pada perubahan lebar bukaan atap pada atrium, serta munculnya area lantai ruangan sekitar atrium yang terekspos langsung ke arah bukaan atap atrium, sehingga dapat memengaruhi jumlah cahaya alami yang masuk ke ruangan sekitar atrium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh kemiringan atrium terhadap performa pencahayaan alami pada ruangan sekitar atrium yang ditinjau dari segi distribusi maupun penetrasi, serta untuk mengetahui kemiringan atrium minimal sebagai strategi peningkatan pencahayaan alami pada objek studi. Tinjauan tersebut berupa nilai average daylight factor yang mengindikasikan kemerataan dan jangkauan daylight factor yang mengindikasikan tingkat penetrasi. Objek studi yang digunakan pada penelitian ini adalah atrium Mall Festival Citylink sebagai salah satu atrium yang merepresentasikan terdapatnya area gelap pada ruangan sekitarnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif – eksperimental dengan teknik pengumpulan data berupa simulasi pada ruang virtual. Program komputer Rhinoceros & Grasshopper for Rhino digunakan sebagai visualisasi dan generasi 3D-model, sementara plug-in Honeybee dan Ladybug for Grasshopper digunakan sebagai media simulasi pencahayaan alami. Data yang diperoleh digabungkan dalam program Microsoft Excel dan dianalisa menggunakan program JMP untuk melihat korelasi, signifikansi, dan determinasi antar variabel penelitian. Melalui hasil simulasi, didapat kesimpulan bahwa pada kondisi eksisting objek studi, dua lantai terendahnya belum memenuhi standar BREEAM (average daylight factor 2%) dan standar LEED (jangkauan daylight factor 2% sebesar 75% dari total kedalaman ruangan sekitar atrium). Untuk memenuhi standar BREEAM, atrium cukup memiliki kemiringan minimal 7° atau kemiringan yang disarankan 10°. Tetapi angka kemiringan ini belum cukup untuk memenuhi standar jangkauan daylight factor yang disyaratkan LEED. Agar seluruh lantai ruangan sekitar atrium memenuhi standar LEED, dibutuhkan kemiringan minimal 11° atau kemiringan yang disarankan 15°. Kata-kata kunci: kemiringan, ruangan sekitar atrium, average daylight factor, jangkauan daylight factor, atrium Mall Festival Citylink.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 02 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 01 (2025): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 9 No 3 (2025): Jurnal RISA (Riset Arsitektur) Vol 8 No 04 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 03 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 02 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 8 No 01 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 04 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 03 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 02 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 7 No 01 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 04 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 03 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 02 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 6 No 01 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 04 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 02 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 04 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 03 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 02 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 4 No 1 (2020): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 04 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 03 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 02 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 3 No 01 (2019): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 04 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 03 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 02 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 2 No 01 (2018): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 04 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 03 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 02 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" Vol 1 No 1 (2017): RISET ARSITEKTUR "RISA" More Issue