cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Filsafat
ISSN : 08531870     EISSN : 25286811     DOI : -
Jurnal Filsafat is a scientific journal that first published in 1990, as a forum for scientific communication, development of thinking and research in philosophy. Jurnal Filsafat is published twice a year, in February and August with p-ISSN: 0853-1870, and e-ISSN: 2528-6811 The Editorial Team of Jurnal Filsafat accepts manuscript in the field of philosophy which has never been published in other media. Editorial Team has the right to edit the manuscript as far as not changing the substance of its contents.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 32, No 1 (2022)" : 7 Documents clear
Human Beings and Social Structure in Frantz Fanon’s Philosophical Thought Robertus Wijanarko; Valentinus Saeng
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 32, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.66631

Abstract

In response to the Colonial discriminative and exclusive concept of humanism, Frantz Fanon, an Algerian postcolonial thinker, proposes that the idea of humanism needs to be inclusive. To avoid the trap of the essentialist concept of humanism, Fanon argues that our understanding of human beings needs always to be connected with the existing social structure. By utilizing a postcolonial theory as a lens of analysis, this study will explore Frantz Fanon’s existential concept of human existence and investigate his philosophical-political thoughts. This exploration is driven by these critical questions: how is Fanon’s new understanding of the existential concept of human existence, which he proposes as a more inclusive concept? How does Fanon draw the correlation between human existence and social structure? What is the significance of his thoughts to critically investigate the socio-political structure in the postcolonial Indonesia? Our critical research will focus mainly on several of Fanon’s works: The Wretched of the Earth, Toward the African Revolution, and Black Skin White Masks. His other works will certainly be considered. We will utilize a litterer critical analysis method in approaching these works of Fanon. This new concept of Fanonian humanism, we argue, gives a theoretical frame and direction to develop existentially our understanding of an inclusive Indonesian humanism.
Realisme Perspektival Edmund Husserl: Rekonstruksi Metafisik terhadap Teori Intensionalitas Taufiqurrahman Taufiqurrahman
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 32, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.68269

Abstract

Posisi metafisik Edmund Husserl seringkali diperdebatkan di antara para komentatornya: apakah Husserl itu realis, idealis, atau netral secara metafisik. Alih-alih berambisi untuk membuat klaim yang terlalu umum tentang pemikiran Husserl, penelitian ini hanya fokus pada teori intensionalitas untuk mengetahui bagaimana komitmen metafisik Husserl di dalam teori tersebut. Penelitian ini, oleh karena itu, bertujuan untuk melakukan rekonstruksi metafisik terhadap teori intensionalitas Edmund Husserl dan kemudian membuktikan bahwa intensionalitas Husserlian lebih bercorak realis daripada idealis ataupun netral secara metafisik. Dengan menggunakan metode analisis tekstual terhadap karya-karya Husserl, penelitian ini setidaknya menghasilkan empat temuan. Pertama, intensionalitas kesadaran terhadap objeknya, dalam kerangka Husserlian, selalu dimediasi oleh makna. Kedua, objek intensi di dalam intensionalitas Husserlian itu bersifat transenden dan independen dari kesadaran. Ketiga, objek yang sama dapat diintensikan dengan mediasi makna yang berbeda-beda sesuai dengan perspektif yang menyituasikan intensi. Oleh karena itu, keempat, teori intensionalitas Husserl dapat dikategorikan sebagai salah satu versi dari realisme perspektival.
Subjek Pasca Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Filsafat Politik Michel Foucault Untara Simon; Datu Hendrawan; Antonius Yuniarto
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 32, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.69153

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk menunjukkan bahwa pada masa pandemi covid 19, berbagai upaya yang dilakukan setiap organisasi sosial untuk menjaga keselamatan warganya menghasilkan berbagai strategi kuasa yang mengatur tindakan individu. Bagi setiap individu, proses politik ini menempatkan kebebasan dalam risiko. Dengan alasan demi keselamatan bersama, tiap orang dikondisikan untuk tidak menjadi subjek yang bereksistensi dan mengejar tujuannya sendiri. Oleh karena itu, artikel ini ingin menjawab pertanyaan dasar soal bagaimana strategi kuasa dijalankan dan mengarahkan tindakan individu pada masa pandemi dan bagaimana individu bisa menjadi subjek yang menentukan diri dan subjektivitasnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah meta-analisis dan hermeneutika dengan menggunakan kerangka teori filsafat politik Michel Foucault. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa dalam masa pandemi covid-19 ini, strategi kuasa terhadap individu dilakukan untuk mencapai tujuan politik komunitas/masyarakat yang dianggap lebih penting daripada tujuan pribadi individual. Situasi ini menantang eksistensi subjektivitas. Meski demikian, belajar dari Foucault, peneliti menemukan bahwa eksistensi subjek tetap bisa dibentuk sekalipun individu berada dalam situasi kontrol politis. Pembentukan subjek ini terjadi jika seseorang mampu menentukan tujuan hidup yang ingin dicapai, memahami hal-hal mendasar dalam hidupnya yang harus diubah untuk mencapai tujuan hidup, menentukan bagaimana ia berelasi dengan hal-hal mendasar serta mampu mempraktekkan teknik atau strategi konkret.
What is This Thing Called Adat Logic? Qusthan A. H. Firdaus
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 32, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.70202

Abstract

The notion of adat (or custom) law does not encourage people in philosophy to reveal its logic. This article aims to investigate the possibility of adat logic, its variety, and a possible common ground or thesis among its own kinds. In general, the adat logic means the true contradiction between the rigidity and the reflexibility of custom. In other words, it resembles the idea of dialetheia in modern logic, but it does not mean that the adat logic is a subdivision of the former. To seek a thesis of adat logic is to discuss the Javanese and Minangkabaunese adat logics, and I transform both logics into some notations for the sake of avoiding unnecessary linguistic challenges and hurdles. Thus, I insert each notation of a particular adat logic into the general notation of adat logic. By doing so, I wish to discover a common ground between some different adat logics.
To Believe in Historical Progress: On Axel Honneth’s Normative Grounding of Critique Min Seong Kim
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 32, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.73668

Abstract

One of the most ambitious contributions Axel Honneth has made to critical theory consists in his attempt to ground the normativity of critique beyond communicative reason—the normative ground of critique that had been proposed by Honneth’s predecessor at the Institut für Sozialforschung, Jürgen Habermas. Defending an affirmative stance toward historical progress is critical to Honneth’s project, which attempts to pursue the aspiration of the Frankfurt School to practice a robust form of immanent critique: for preserving the idea of progress allows Honneth to derive the validity of the underlying normative presuppositions of the existing social order, thereby securing the normative grounds of critique without relying on transcendent or transhistorical principles. Through a consideration of an aspect of the relation between universality and particularity that remains undertheorized in Honneth’s account, this essay attempts to question the success of his strategy for grounding the normativity of critique.
Asal-Usul Pemikiran tentang Sekularisme di Abad Pertengahan Martin Suryajaya
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 32, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.73767

Abstract

Artikel ini melacak asal-usul wacana sekularisme dalam filsafat politik Abad Pertengahan, khususnya dalam pemikiran Dante Alighieri, Marsilius Padua dan William Ockham. Pertanyaan pokok yang membimbing kajian ini adalah: sejauh mana benih pemikiran mengenai sekularisme sudah muncul pada masa Abad Pertengahan? Metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah telaah filosofis atas konflik antara kuasa temporal dan spiritual yang menjadi konteks perdebatan mengenai kedudukan penguasa sekuler dalam hubungannya dengan otoritas keagamaan tertinggi. Dengan memeriksa respons terhadap kekuasaan mutlak gereja, terlihat adanya sejumlah alternatif berbeda yang salah satunya adalah sekularisme. Melalui penelusuran itu ditemukan bahwa sekalipun terdapat benih-benih sekularisme dalam pemikiran William Ockham, ia tetap mengandaikan paradigma religius tentang dunia yang mengasalkan sumber pembagian kewenangan temporal dan spiritual pada Tuhan, sedangkan Dante dan Marsilius Padua justru mengklaim otoritas religius dikandung dalam otoritas sekuler. Pemisahan gereja dari negara masih dilakukan dalam pengandaian penyelenggaraan ilahi di dunia. Pengandaian inilah yang membedakannya dari sekularisme modern.
[JF] Pengantar Redaksi Vol. 32 No. 1 Februari 2022 Editor Jurnal Filsafat
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 32, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.75281

Abstract

Pembaca yang Budiman,Dewan Redaksi Jurnal Filsafat sedang melakukan langkah perubahan strategis setelah memperoleh kembali Akreditasi Nasional Peringkat Sinta 2, yakni melakukan peningkatan mutu naskah jurnal. Salah satu indikatornya adalah menyelaraskan manuskrip dalam bentuk Bahasa Inggris untuk menjalin komunikasi dan memberikan kontribusi ilmiah dalam skala internasional. Melalui perubahan strategis ini, Jurnal Filsafat berkomitmen secara sungguh-sungguh meningkatkan kapasitasnya untuk meraih Akreditasi Peringkat Sinta 1.Pada Edisi 32 Nomor 1 Februari 2022, Jurnal Filsafat menampilkan enam artikel dengan jumlah penulis sepuluh orang. Tiga artikel dalam Bahasa Indonesia dan tiga artikel dalam Bahasa Inggris. Melalui strategi baru ini, harapan kami, Jurnal Filsafat mulai secara konsisten melakukan peralihan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, sehingga ruang diskusi ilmiah-filosofis dengan berbagai filsuf, pemikir, dan penulis di seluruh dunia, dapat terbuka lebih luas. Penulis pertama, Martin Suryajaya, menyajikan artikel berjudul “Asal-Usul Pemikiran tentang Sekularisme di Abad Pertengahan”. Suryajaya berusaha melacak asal-usul wacana sekularisme dalam filsafat politik Abad Pertengahan, khususnya dalam pemikiran Dante Alighieri, Marsilius Padua dan William Ockham. Suryajaya memeriksa respons terhadap kekuasaan mutlak gereja namun secara bersamaan melihat terdapat benih-benih sekularisme dalam pemikiran William Ockham. Dante dan Marsilius Padua justru mengklaim bahwa otoritas religius dikandung dalam otoritas sekuler. Hasil pembacaan Suryajaya ialah membedakan model sekularisme modern dengan abad pertengahan.Artikel kedua, bertajuk “To Believe in Historical Progress: On Axel Honneth’s Normative Grounding of Critique” ditulis oleh Min Seong Kim. Kim mengupas secara kritis teori kritis Axel Honneth yang digunakan untuk melampaui rasionalitas komunikatif Habermas dengan cara melibatkan kritik imanen yang kuat untuk menjamin adanya dasar normatif kritik tanpa mengandalkan prinsip-prinsip transenden atau transhistoris. Uniknya, Min memberikan contoh praktikal tentang kritik atas konsepsi Pancasila secara historis bahwa ada kemungkinan Pancasila dapat ditinjau dan dikritisi ulang pada dimensi normatif dan transformatifnya. Min memberikan catatan kritis bahwa tentang keberhasilan strateginya untuk membumikan normativitas teori kritis antar generasi.Penulis selanjutnya, Qusthan Abqary Hisan Firdaus, dengan penuh semangat memaparkan artikel berjudul “What Is This Thing Called Adat Logic?”. Firdaus menawarkan menginvestigasi kemungkinan logika adat, keragamannya, dan sebuah dasar pijakan melalui dua contoh adat logika Jawa dan logika Minangkabau. Hal yang menarik dari artikel ini adalah membawa kata ‘logika adat’ dengan mendekati ide tentang dialetheia di dalam logika modern, tetapi berusaha membuktikan bukan sebagai sub-divisi dari dialetheia itu sendiri. Artikel ini masih membuka diskusi lebih lanjut tentang, apa yang dinamakan dengan logika adat? Meskipun demikian, Firdaus telah memberikan notasi dari sebuah logika adat yang khusus ke dalam notasi umum seputar logika adat.Robertus Wijanarko dan Valentinus Saeng menulis artikel berjudul “Human Beings and Social Structure in Frantz Fanon’s Philosophical Thought”. Artikel ini mengkritisi ulang gagasan Frantz Fanon tentang gagasan humanisme kolonial yang diskriminatif dan eksklusif. Membersamai teori poskolonial, Wijanarko dan Saeng, menelusuri bahwa konsep humanisme baru Fanon ini menyuguhkan sebuah wacana teoretis dalam mengembangkan pemikiran humanisme Indonesia yang inklusif secara eksistensial terlebih lagi wacana Poskolonial di Indonesia sedang mendapatkan perhatian publik akhir-akhir ini.Artikel kelima berjudul, “Realisme Perspektival Edmund Husserl: Rekonstruksi Metafisik terhadap Teori Intensionalitas” karya Taufiqurrahman. Karya ini membawa alternatif pendekatan di antara perdebatan besar posisi metafisik Edmund Husserl. Justru, Taufiqurrahman berfokus pada rekonstruksi metafisik terhadap teori intensionalitas Edmund. Dalam penelitian ini Taufiqurrahman menyimpulkan empat poin, tentang intensionalitas kesadaran terhadap objek yang termediasi oleh makna; objek intensi yang sifatnya transenden dan independen dari kesadaran; perspektif yang menyituasikan intensi; serta mengategorikan intensionalitas Husserl sebagai versi realisme perspektival.Artikel terakhir sebagai sebuah renungan filosofis Untara Simon, Datu Hendrawan, dan Antonius Yuniarto yang berjudul “Subjek Pasca Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Filsafat Politik Michel Foucault”. Artikel ini menggunakan pendekatan filsafat politik Michel Foucault. Salah satu temuannya adalah selama masa pandemi Covid-19, terdapat strategi kuasa terhadap individu yang dilakukan untuk mencapai tujuan politik komunitas/masyarakat yang dianggap lebih penting daripada tujuan pribadi individual. Simon, Hendrawan, dan Yuniarto mengkritisi bahwa perlu adanya sikap yang terbuka ketika subjektivitas sedang terobang-ambing dalam berbagai arus, salah satunya kontrol politik yang ketat.Mengakhiri kata pengantar ini, atas nama Dewan Redaksi Jurnal Filsafat, kami menghaturkan terimakasih kepada para penulis, reviewer, editor dan staf redaksi yang telah berkontribusi dalam edisi ini. Kepada para pembaca selamat membaca dan menikmati setiap artikel pada edisi ini ! Yogyakarta, 20 Februari 2022Salam Hormat,Dewan Redaksi

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2022 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 35, No 1-2 (2025): Special Issue 2025: Law and Politics Vol 35, No 2 (2025): (Article in Press) Vol 35, No 1 (2025) Vol 34, No 2 (2024) Vol 34, No 1 (2024) Vol 33, No 2 (2023) Vol 33, No 1 (2023) Vol 32, No 2 (2022) Vol 32, No 1 (2022) Vol 31, No 2 (2021) Vol 31, No 1 (2021) Vol 30, No 2 (2020) Vol 30, No 1 (2020) Vol 29, No 2 (2019) Vol 29, No 1 (2019) Vol 28, No 2 (2018) Vol 28, No 1 (2018) Vol 27, No 2 (2017) Vol 27, No 1 (2017) Vol 26, No 2 (2016) Vol 26, No 1 (2016) Vol 25, No 2 (2015) Vol 25, No 1 (2015) Vol 24, No 2 (2014) Vol 24, No 1 (2014) Vol 23, No 3 (2013) Vol 23, No 2 (2013) Vol 23, No 1 (2013) Vol 22, No 3 (2012) Vol 22, No 2 (2012) Vol 22, No 1 (2012) Vol 21, No 3 (2011) Vol 21, No 2 (2011) Vol 21, No 1 (2011) Vol 20, No 3 (2010) Vol 20, No 2 (2010) Vol 20, No 1 (2010) Vol 19, No 3 (2009) Vol 19, No 2 (2009) Vol 19, No 1 (2009) Vol 18, No 3 (2008) Vol 18, No 2 (2008) Vol 18, No 1 (2008) Vol 17, No 3 (2007) Vol 17, No 2 (2007) Vol 17, No 1 (2007) Vol 16, No 3 (2006) Vol 16, No 2 (2006) Vol 16, No 1 (2006) Vol 14, No 3 (2004) Vol 14, No 2 (2004) Vol 14, No 1 (2004) Vol 13, No 3 (2003) Vol 13, No 2 (2003) Vol 13, No 1 (2003) Vol 10, No 2 (2000) Jurnal Filsafat Seri 30 Oktober 1999 Jurnal Filsafat Seri 29 Juni 1999 Jurnal Filsafat Seri 28 Juli 1997 Jurnal Filsafat Seri 27 Maret 1997 Jurnal Filsafat Edisi Khusus Agustus 1997 Jurnal Filsafat Seri 26 Desember 1996 Jurnal Filsafat Seri 25 Mei 1996 Jurnal Filsafat Seri 24 Februari 1996 Jurnal Filsafat Seri 23 November 1995 Jurnal Filsafat Seri 22 Agustus 1995 Jurnal Filsafat Seri 21 Mei 1995 Jurnal Filsafat Seri 20 Desember 1994 Jurnal Filsafat Seri 19 Agustus 1994 Jurnal Filsafat Seri 18 Mei 1994 Jurnal Filsafat Seri 17 Februari 1994 Jurnal Filsafat Seri 16 November 1993 Jurnal Filsafat Seri 15 Agustus 1993 Jurnal Filsafat Seri 14 Mei 1993 Jurnal Filsafat Seri 13 Februari 1993 Jurnal Filsafat Seri 12 November 1992 Jurnal Filsafat Seri 11 Agustus 1992 Jurnal Filsafat Seri 10 Mei 1992 Jurnal Filsafat Seri 9 Februari 1992 Jurnal Filsafat Seri 8 November 1991 Jurnal Filsafat Seri 7 Agustus 1991 Jurnal Filsafat Seri 6 Mei 1991 Jurnal Filsafat Seri 5 Februari 1991 Jurnal Filsafat Seri 4 November 1990 Jurnal Filsafat Seri 3 1990 Jurnal Filsafat Seri 1 1990 More Issue