cover
Contact Name
Rusdiyanyo
Contact Email
roesdysh@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jiep@iain-manado.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Journal of Islamic Education Policy
ISSN : 25280295     EISSN : 25280309     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Journal of Islamic Education Policy menerbitkan hasil penelitian yang memberikan kontribusi signifikan pada pemahaman dan praktek pendidikan Islam melalui tulisan dan laporan akademik dalam perspektif dan skop global. Tujuan utumanya adalah membuka akses bagi dunia internasional, dengan tidak melupakan tuntutan lokal, pada hasil penelitian, yang meliputi peneliti, praktisi, dan mahasiswa dalam bidang kebijakan pendidikan Islam. Karena itu, JIEP menyambut dengan baik tulisan-tulisan yang mendorong perdebatan akademik dari kalangan akademisi yunior dan senior dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia, Arab, dan Inggeris
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2018)" : 15 Documents clear
Analisis Problematika Pendidikan Islam Di Indonesia Abad 21 Khozin, Ahmad
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract., Indonesia is a country that is conducting educational development as mandated by the 1945 Constitution. In the course of the Law of the Republic of Indonesia Number 20 of 2003 on National Education System defines education as a conscious and planned effort to create an atmosphere of learning and learning process so that learners actively developing his potential to have spiritual spiritual strength, self-control, personality, intelligence, noble character, as well as the skills he needs, society, nation and state. In response, Islamic Education needs to get serious attention, especially among the intellectuals and thinkers of Islamic education in Indonesia. Various efforts are needed to restore Islamic education to its glory. To restore Islamic education to the glory, certainly not as easy as putting water on a cauldron. But there needs to be seriousness in reaching these ideals, including the seriousness in management and leadership of a reliable Islamic education institutions. In this paper the author will try to focus the discussion on the problems of Islamic education of the 21st century as well as solutions that can be offered in response to the problems of Islamic educationKeywords: Problematic Education, Islamic Education.                Abstrak., Indonesia merupakan negara  yang sedang melakukan pembangunan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.  Dalam perjalanannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menyikapi hal tersebut, Pendidikan Islam perlu mendapat perhatian yang serius, terutama kalangan cendekiawan dan pemikir pendidikan Islam di Indonesia. Diperlukan ragam upaya untuk mengembalikan pendidikan Islam kepada kejayaannya. Untuk mengembalikan pendidikan Islam kepada kejayaan tersebut, tentu tidak semudah menaruh air di atas kuali. Namun perlu ada keseriusan dalam menggapai cita-cita tersebut, diantaranya keseriusan dalam manajemen dan kepemimpinan lembaga pendidikan Islam yang handal. Dalam makalah ini penulis akan mencoba memfokuskan pembahasan pada problematika pendidikan Islam abad 21 serta solusi-solusi yang dapat ditawarkan dalam menanggapi problematika pendidikan Islam tersebutKata Kunci:Problematika Pendidikan, Pendidikan Islam.
Pemikiran Instrumentalisme Bruner Dan Relevansinya Terhadap Pembelajaran Bahasa Arab Nasution, Manan Syah Putra
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract, Language problems to date have always been in three aspects: linguistic, methodological and sociological. Jerome Seymour Bruner, a linguist, describes his language thinking through instrumentalism. Therefore this study attempts to look at the concept of learning Arabic from the perspective of Bruner's instrumentalism which includes how the concept of Bruner's language instrumentalism and how relevant Bruner's instrumentalism is in learning Arabic. This qualitative research model with literature review uses philosophical, historical and psycholinguistic approaches with critical analytical descriptive methods. The result is the first theory of instrumentalism Bruner states that language is a tool for communication. Both concepts of Bruner's instrumentalism theory have quite strong relevance to contextual language learning.Keywords:Bruner, Instrumentalism, Arabic Language, Learning and Relevance Abstrak, Persoalan berbahasa sampai saat ini selalu berada pada tiga aspek yaitu linguistik, metodologis dan sosiologis. Jerome Seymour Bruner seorang ahli bahasa menguraikan pemikiran bahasanya melalui teori instrumentalisme. Oleh karena itu penelitian ini berupaya melihat konsep pembelajaran bahasa Arab dari kacamata instrumentalisme Bruner yang meliputi bagaimana konsep instrumentalisme bahasa Bruner dan bagaiman relevansi teori instrumentalisme Bruner dalam pembelajaran bahasa Arab.Model penelitian kualitatif dengan kajian pustaka ini menggunakan pendekatan filosofis, historis dan psikolinguistik dengan metode deskriptif analitis kritis. Hasilnya adalah pertama teori instrumentalisme Bruner menyatakan bahwa bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi. Kedua konsep teori instrumentalisme Bruner memiliki relevansi yang cukup kuat dengan pembelajaran bahasa kontekstual. Kata Kunci: Bruner, Instrumentalisme, Bahasa Arab, Pembelajaran, dan Relevansi
Telaah Kompetensi Guru Di Era Digital Dalam Memenuhi Tuntutan Pendidikan Abad Ke-21 Khodijah, Siti
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstaract., The 21st century is echoed as a century of knowledge-based society. Teachers as future human resource cadres are required to be total in carrying out their professional duties. Entering the era of digital technology revolution where experiencing various forms of change and shifting point of view, teacher competencies need to be questioned, first, are the core competencies of teachers outlined in competencies based on education levels and based on these subjects already representing the direction of education in the 21st century ?, second, how teacher readiness to welcome learning in this digital era? This literature review shows that teacher competence can be said to have represented the direction of education in the 21st century but still needs encouragement and stabilization of direction, while teacher readiness can be said to need further research for data accuracy.               Keyword: teacher, teacher competence, digital era, education, 21st century Abstrak., Abad ke-21 digaungkan sebagai abad masyarakat berbasis pengetahuan. Guru sebagai sosok pengkader sumber daya manusia masa depan dituntut untuk total dalam menajalankan tugas keprofesiannya. Memasuki era revolusi teknologi digital yang mana mengalami berbagai bentuk perubahan maupun pergeseran sudut pandang maka kompetensi guru perlu dipertanyakan, pertama, apakah kompetensi inti guru yang dijabarkan dalam kompetensi berdasarkan jenjang pendidikan dan berdasarkan mata pelajaran tersebut sudah mewakili arah pendidikan Abad ke-21?,kedua, bagaimana kesiapan guru dalam menyambut pembelajaran di era digital ini?. kajian literatur ini menunjukkan bahwa kompetensi guru dapat dikatakan sudah mewakili arah pendidikan Abad ke-21 namun tetap saja perlu dorongan dan pemantapan arah, sedangkan kesiapan guru dapat dikatakan perlu penelitian lebih lanjut untuk akurasi data. Kata kuci:guru, kompetensi guru, era digital, pendidikan, Abad ke-21
Program tahfīz Al-Qur’ān dan Komersialisasi Pendidikan Mutma’inah, Mutma’inah
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract., As the trend of the memorizing The Holly Qur’an develops in Indonesian Muslim communities, now taḥfīẓ al-qur’ān has entered and become a flagship program in formal schools, especially private Islamic schools. The majority of them are the schools with fairly expensive fees. They use taḥfīẓ al-qur’ān program to attract market interest. So there is an indication that the schools are commercializing education if they use taḥfīẓ al-Qur’ān program only to get many students. In other hand quality education requires high costs. So that not always high cost schools can be categorized as commercialization only if the financing is used to facilitate the fluency of teaching-learning process, developing infrastructure and procurement of media that support the implementation of quality education. In the context of schools with taḥfīẓ al-qur’ān program, there are several benchmarks to determine wheter commercialization has occured or not. First, measured from quality of reciting Qur’an of students, the fluency, tajwīd and makhrāj al-ḥurūf. Second, measured from quality of  memorizing Qur’an of students. Third, measured from memorized quantity that has been targeted. In order taḥfīẓ al-qur’ān to become quality program and not to commercialize, the steps that must be taken are to introduce Al-Qur’an, teach love to the Qur’an, teach adab in memorizing  Qur’an and teach the values contained in the Qur’an. While what should be avoided is prioritizing memorization quantity by ignoring the quality of reciting Qur’an, tajwīd and makhrāj al-ḥurūf and prioritizing adding memorization by ignoring repetition. Both will cause taḥfīẓ al-qur’ān program to be contra-produtive and lack from Islamic education values and only burden the students.Keywords: taḥfīẓ program, taḥfīẓ al-qur’ān and Education commercializationAbstrak., Seiring berkembangnya tren menghafal Al-Qur’an di masyarakat Muslim Indonesia, kini program taḥfīẓ al-Qur’ān telah masuk dan menjadi program unggulan di sekolah-sekolah formal khususnya sekolah-sekolah Islam swasta. Sekolah-sekolah tersebut mayoritas adalah sekolah dengan biaya pendidikan yang cukup mahal. Mereka menggunakan program taḥfīẓ al-Qur’ān untuk menarik minat pasar. Sehingga ada indikasi sekolah-sekolah tersebut melakukan komersialisai pendidikan jika manfaatkan program taḥfīẓ al-Qur’ān hanya untuk mendapatkan banyak murid. Di sisi lain pendidikan berkualitas membutuhkan biaya yang tinggi. Sehingga tidak selalu sekolah dengan biaya yang tinggi bisa  dikategorikan sebagai komersialisasi hanya jika pembiayaan tersebut digunakan untuk menfasilitasi kelancaran proses belajar-mengajar, pembangunan infrastuktur dan pengadaan media yang menunjang terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Dalam konteks sekolah dengan program taḥfīẓ Al-Qur’ān maka beberapa tolok ukur untuk mengetahui terjadi tidaknya komersialisasi. Pertama, dinilai dari kualitas bacaan Al-Qur’an para peserta didik, kelancaran, tajwid dan makhrojul hurufnya. Kedua, dinilai dari kualitas hafalan Al-Qur’an peserta didik. Ketiga, dinilai dari kuantitas hafalan yang ditargetkan. Agar program taḥfīẓ Al-Qur’ān berkualitas dan tidak terjadi komersialisai, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: mengenalkan Al-Qur’an, mengajarkan cinta Al-Qur’an, mengajarkan adab menghafal Al-Qur’an dan mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Sedangkan yang harus dihindari adalah lebih mengutamakan kuantitas hafalan dengan mengabaikan kualitas bacaan, tajwid dan makhorijul huruf dan mengutamakan menambah dengan mengabaikan mengulang hafalan. Karena hal-hal tersebut justru menyebabkan taḥfīẓ Al-Qur’ān menjadi kontra produktif, kering dari nilai-nilai pendidikan Islami serta hanya akan membebani anak didik.Kata kunci: program taḥfīẓ, taḥfīẓ al-qur’ān dan komersialisai pendidikan
PEMIKIRAN DAN PERANAN SAYYID IDRUS BIN SALIM ALJUFRI TERHADAP PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI MANADO Rasyid, Lisa Aisyiah; Supriadi, Supriadi; Aisa, Siti
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrack. As one of the scholars of the hadramain who played an important role in the development of islamic education in the eastern region of Indonesia, It is important to understand how the thinking and role of sayyid, the iraniacal bin salim aljufri, especially in the tower of the thousand churches, the city of manado. When Indonesia is beset by two themes of political persecution, fierce debate over islamic relations and countries between "secular" and religious nationalists, and the struggle between the hadrami of loyalty and integrity against the land between Indonesia or hadramaut. As one of the scholars of hadrami in the eastern region of Indonesia (kti), the old teacher did not get caught up in the political ideology of the political ideology, focusing on the movement: education, the preaching work, and the social empowerment, to the establishing of an alkhairaat islamic college in 1930. In 1934, the old master sent one of his disciples, muhammad qasim maragau for the preaching of the manado. In 1947 the official alkhairaat opened a branch in the town of manado, north sulawesi, to the rest of the istiqlal (Arab village), the following year in 1960 became a boarding school. From 1960 to 1996 the number of islamic islamic educational institutions of alkhairaate in sulut including manado steadily rises up to 167 branches, 2 of which is a boarding school located in the city of manado.Keywords:Guru Tua, Alkhairaat,Thought, role, Manado Abstrak. Sebagai salah satu ulama hadramain yang berperan penting terhadap perkembangan pendidikan Islam di Kawasan Timur Indonesia, penting kiranya untuk memahami bagaimana pemikiran dan peran Sayyid Idrus bin Salim Aljufri khususnya di wilayah Menara Seribu Gereja, Kota Manado. Ketika Indonesia dilanda oleh dua tema diskursus politik yang terjadi, yaitu perdebatan sengit tentang hubungan Islam dan negara antara kaum nasionalis “sekuler” dan nasionalis religious, dan pergumulan di kalangan Hadrami tentang loyalitas dan integritas terhadap tanah air antara Indonesia atau Hadramaut. Sebagai salah ulama Hadrami di wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI), Guru Tua tidak terjebak pada perdebatan ideologi politik tersebut, justru memfokuskan diri pada gerakan: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan sosial, hingga mendirikan sebuah perguruan Islam Alkhairaat pada tahun 1930. Pada tahun 1934, Guru Tua kemudian mengutus salah seorang muridnya, Muhammad Qasim Maragau untuk berdakwah ke Manado.Pada tahun 1947, Alkhairaat resmi membuka cabang di Kota Manado, Sulawesi Utara, tepatnya di Kelurahan Istiqlal (kampung Arab), yang selanjutnya pada tahun 1960 berkembang menjadi sebuah pondok pesantren. Sejak tahun 1960 hingga 1996 jumlah lembaga pendidikan Islam Alkhairaat di Sulut termasuk Manado terus meningkat hingga menjadi 167 cabang, 2 diantaranya adalah pondok pesantren yang berlokasi di kota Manado.Kata kunci: Guru Tua, Alkhairaat, Pemikiran, Peran, Manado.
Etika dan Adab Menuntut Ilmu dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim Hafsah, Umi
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract, The purpose of education is not only to improve human intellectuals, but also their behavior. However, along with the increasing number of educated people, these goals have not yet been reached. There is no consistency between acquired knowledge and human behavior. One of reason for emergence this problem is increasingly pracmatic and material educational orientation. So that, the character of education is become a serious problem. This problem is not much different from the reality of education in classical times. On this basis, one of muslim scholars namely al-Zarnuji, wrote a book about the method of learning to gain useful knowledge. The method offered by al-Zarnuji contains of technical learning dan athicak matters in studying. Then, to achieve eductional goals, students must carry out the good deed since the learning process.Keyword: Ethics and manners of learning, al-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim Abstrak, Tujuan pendidikan semata-mata bukan hanya untuk meningkatkan intelektual manusia, tetapi juga memperbaiki perilaku mereka. Akan tetapi, seiring semakin bertambahnya manusia yang terdidik, tujuan pendidikan ini masih belum tercapai. Singkatnya, tidak ada kesinambungan antara pengetahuan yang didapat dengan perilaku manusia. Salah satu sebab munculnya masalah ini diantaranya adalah orientasi pendidikan yang semakin pragmatis dan materiil. Dalam proses menuntut ilmu manusia digiring untuk fokus pada pencapain-pencapain yang akan didapatkan ketika mereka menempuh proses pendidikan. Sehingga pendidikan budi pekerti semakin terlewatkan dan merupakan permasalahan serius dalam bidang pendidikan sekarang ini. Permasalahan yang ada dalam bidang pendidikan tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan realitas pendidikan di zaman klasik. Atas dasar ini, salah satu ulama’ yang hidup pada abad 12 M, yaitu al-Zarnuji menulis sebuah kitan berjudul Ta’lim Muta’allim, yang berisi metode belajar agar pelajar berhasil meraih kemanfaatan ilmu. Metode belajar yang ditawarkan al-Zarnuji tidak hanya berisi hal-hal teknis seperti giat belajar dengan mengulangi pelajaran, berdiskusi, menganalisis dan mencatat. Al-Zarnuji sangat menekankan etika dan adab menuntut ilmu, seperti menjaga diri, tidak tamak pada dunia, tawadhu’ dan wara’. Maka, agar mencapai tujuan pendidikan, pelajar juga harus melaksanakan hal-hal baik sejak dalam proses belajar.Kata kunci : Etika dan Adab belajar, al-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim.
Strategi Pelestarian Tradisi Katoba sebagai Media Pendidikan Islam pada Masyarakat Etnis Muna di Sulawesi Tenggara Gonibala, Rukmina; Ardianto, Ardianto; Hadirman, Hadirman
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT., The purpose of this study was to describe the preservation strategy of the katoba’s tradition as a medium of Islamic education in Muna ethnic communities at Southeast Sulawesi. Katoba was a life cycle tradition that deals with the practice of Islamic values which carried out hereditary by Muna ethnic communities. In Muna ethnic communities, the Katoba tradition was understood as a ritual of "repentance", or "child islamization" which aged 7-11 years old. In its implementation, the katoba tradition contains the values of Islamic education that are represented, both verbally and nonverbally. This study used a qualitative approach with the research location in Muna district and West Muna District, at Southeast Sulawesi Province. By using the interactive analysis, this study produced the facts about the preservation of the katoba tradition as a medium of Islamic education in the Muna community which carried out by (1) inheriting katoba values in the family environment, (2) preserving the Muna language, (2) increasing the professionalism of imamu, and (4) preservation through "Katoba-insightful" teaching and research. Keywords: strategy of preservation, katoba tradition, Muna ethnic communitiesABSTRAK., Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan strategi pelestarian tradisi katoba sebagai media pendidikan Islam pada masyarakat etnis Muna di Sulawesi Tenggara. Katoba adalah tradisi siklus hidup yang bertalian dengan praktik nilai-nilai Islam yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat etnis Muna. Bagi masyarakat etnis Muna, tradisi katoba dipahami sebagai ritual “pertobatan”, atau “pengislaman anak” berusia 7-11 tahun. Dalam pelaksanaannya tradisi katoba mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang direpsentasikan, baik secara verbal maupun nonverbal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan lokasi penelitian di kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat Propinsi Sulawesi Tenggara. Menggunakan analisis interaktif, penelitian ini menghasilkan fakta-fakta strategi pelestarian tradisi katoba sebagai media pendidikan Islam pada masyarakat Muna dilakukan dengan langkah-langkah (1) pewarisan nilai-nilai katoba di lingkungan keluarga, (2) pelestarian bahasa Muna, (2) peningkatan pro esionalisme imamu, dan (4) pelestarian melalui pengajaran dan penelitian “Berwawasan Katoba”. Kata Kunci: strategi pelestarian, tradisi katoba, masyarakat etnis Muna
Pemikiran dan Peranan Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri terhadap Perkembangan Pendidikan Islam di Manado Lisa Aisyiah Rasyid; Supriadi Supriadi; Siti Aisa
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4090.61 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i1.857

Abstract

Abstrack. As one of the scholars of the hadramain who played an important role in the development of islamic education in the eastern region of Indonesia, It is important to understand how the thinking and role of sayyid, the iraniacal bin salim aljufri, especially in the tower of the thousand churches, the city of manado. When Indonesia is beset by two themes of political persecution, fierce debate over islamic relations and countries between "secular" and religious nationalists, and the struggle between the hadrami of loyalty and integrity against the land between Indonesia or hadramaut. As one of the scholars of hadrami in the eastern region of Indonesia (kti), the old teacher did not get caught up in the political ideology of the political ideology, focusing on the movement: education, the preaching work, and the social empowerment, to the establishing of an alkhairaat islamic college in 1930. In 1934, the old master sent one of his disciples, muhammad qasim maragau for the preaching of the manado. In 1947 the official alkhairaat opened a branch in the town of manado, north sulawesi, to the rest of the istiqlal (Arab village), the following year in 1960 became a boarding school. From 1960 to 1996 the number of islamic islamic educational institutions of alkhairaate in sulut including manado steadily rises up to 167 branches, 2 of which is a boarding school located in the city of manado.Keywords:Guru Tua, Alkhairaat,Thought, role, Manado Abstrak. Sebagai salah satu ulama hadramain yang berperan penting terhadap perkembangan pendidikan Islam di Kawasan Timur Indonesia, penting kiranya untuk memahami bagaimana pemikiran dan peran Sayyid Idrus bin Salim Aljufri khususnya di wilayah Menara Seribu Gereja, Kota Manado. Ketika Indonesia dilanda oleh dua tema diskursus politik yang terjadi, yaitu perdebatan sengit tentang hubungan Islam dan negara antara kaum nasionalis “sekuler” dan nasionalis religious, dan pergumulan di kalangan Hadrami tentang loyalitas dan integritas terhadap tanah air antara Indonesia atau Hadramaut. Sebagai salah ulama Hadrami di wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI), Guru Tua tidak terjebak pada perdebatan ideologi politik tersebut, justru memfokuskan diri pada gerakan: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan sosial, hingga mendirikan sebuah perguruan Islam Alkhairaat pada tahun 1930. Pada tahun 1934, Guru Tua kemudian mengutus salah seorang muridnya, Muhammad Qasim Maragau untuk berdakwah ke Manado.Pada tahun 1947, Alkhairaat resmi membuka cabang di Kota Manado, Sulawesi Utara, tepatnya di Kelurahan Istiqlal (kampung Arab), yang selanjutnya pada tahun 1960 berkembang menjadi sebuah pondok pesantren. Sejak tahun 1960 hingga 1996 jumlah lembaga pendidikan Islam Alkhairaat di Sulut termasuk Manado terus meningkat hingga menjadi 167 cabang, 2 diantaranya adalah pondok pesantren yang berlokasi di kota Manado.Kata kunci: Guru Tua, Alkhairaat, Pemikiran, Peran, Manado.
Strategi Pelestarian Tradisi Katoba sebagai Media Pendidikan Islam pada Masyarakat Etnis Muna di Sulawesi Tenggara Rukmina Gonibala; Ardianto Ardianto; Hadirman Hadirman
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1066.566 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i1.849

Abstract

ABSTRACT., The purpose of this study was to describe the preservation strategy of the katoba’s tradition as a medium of Islamic education in Muna ethnic communities at Southeast Sulawesi. Katoba was a life cycle tradition that deals with the practice of Islamic values which carried out hereditary by Muna ethnic communities. In Muna ethnic communities, the Katoba tradition was understood as a ritual of "repentance", or "child islamization" which aged 7-11 years old. In its implementation, the katoba tradition contains the values of Islamic education that are represented, both verbally and nonverbally. This study used a qualitative approach with the research location in Muna district and West Muna District, at Southeast Sulawesi Province. By using the interactive analysis, this study produced the facts about the preservation of the katoba tradition as a medium of Islamic education in the Muna community which carried out by (1) inheriting katoba values in the family environment, (2) preserving the Muna language, (2) increasing the professionalism of imamu, and (4) preservation through "Katoba-insightful" teaching and research.               Keywords: strategy of preservation, katoba tradition, Muna ethnic communities ABSTRAK., Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan strategi pelestarian tradisi katoba sebagai media pendidikan Islam pada masyarakat etnis Muna di Sulawesi Tenggara. Katoba adalah tradisi siklus hidup yang bertalian dengan praktik nilai-nilai Islam yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat etnis Muna. Bagi masyarakat etnis Muna, tradisi katoba dipahami sebagai ritual “pertobatan”, atau “pengislaman anak” berusia 7-11 tahun. Dalam pelaksanaannya tradisi katoba mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang direpsentasikan, baik secara verbal maupun nonverbal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan lokasi penelitian di kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat Propinsi Sulawesi Tenggara. Menggunakan analisis interaktif, penelitian ini menghasilkan fakta-fakta strategi pelestarian tradisi katoba sebagai media pendidikan Islam pada masyarakat Muna dilakukan dengan langkah-langkah (1) pewarisan nilai-nilai katoba di lingkungan keluarga, (2) pelestarian bahasa Muna, (2) peningkatan profesionalisme imamu, dan (4) pelestarian melalui pengajaran dan penelitian “Berwawasan Katoba”. Kata Kunci: strategi pelestarian, tradisi katoba, masyarakat etnis Muna
Etika dan Adab Menuntut Ilmu dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim Umi Hafsah
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5749.614 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i1.858

Abstract

Abstract, The purpose of education is not only to improve human intellectuals, but also their behavior. However, along with the increasing number of educated people, these goals have not yet been reached. There is no consistency between acquired knowledge and human behavior. One of reason for emergence this problem is increasingly pracmatic and material educational orientation. So that, the character of education is become a serious problem. This problem is not much different from the reality of education in classical times. On this basis, one of muslim scholars namely al-Zarnuji, wrote a book about the method of learning to gain useful knowledge. The method offered by al-Zarnuji contains of technical learning dan athicak matters in studying. Then, to achieve eductional goals, students must carry out the good deed since the learning process.Keyword: Ethics and manners of learning, al-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim Abstrak, Tujuan pendidikan semata-mata bukan hanya untuk meningkatkan intelektual manusia, tetapi juga memperbaiki perilaku mereka. Akan tetapi, seiring semakin bertambahnya manusia yang terdidik, tujuan pendidikan ini masih belum tercapai. Singkatnya, tidak ada kesinambungan antara pengetahuan yang didapat dengan perilaku manusia. Salah satu sebab munculnya masalah ini diantaranya adalah orientasi pendidikan yang semakin pragmatis dan materiil. Dalam proses menuntut ilmu manusia digiring untuk fokus pada pencapain-pencapain yang akan didapatkan ketika mereka menempuh proses pendidikan. Sehingga pendidikan budi pekerti semakin terlewatkan dan merupakan permasalahan serius dalam bidang pendidikan sekarang ini. Permasalahan yang ada dalam bidang pendidikan tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan realitas pendidikan di zaman klasik. Atas dasar ini, salah satu ulama’ yang hidup pada abad 12 M, yaitu al-Zarnuji menulis sebuah kitan berjudul Ta’lim Muta’allim, yang berisi metode belajar agar pelajar berhasil meraih kemanfaatan ilmu. Metode belajar yang ditawarkan al-Zarnuji tidak hanya berisi hal-hal teknis seperti giat belajar dengan mengulangi pelajaran, berdiskusi, menganalisis dan mencatat. Al-Zarnuji sangat menekankan etika dan adab menuntut ilmu, seperti menjaga diri, tidak tamak pada dunia, tawadhu’ dan wara’. Maka, agar mencapai tujuan pendidikan, pelajar juga harus melaksanakan hal-hal baik sejak dalam proses belajar.Kata kunci : Etika dan Adab belajar, al-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim

Page 1 of 2 | Total Record : 15