cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana
ISSN : 24609684     EISSN : 24768863     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana is a Scientific Journal to publish medical research articles, and other scientific medical articles from Medical Faculty of Duta Wacana Christian University academic community and also receive articles from other resources with appropriate and related topics. The policies taken for the largest composition of articles are the results of research, but can also receive scientific articles in the form of literature review and case reports. To maintain the quality of writing, Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana also cooperate with other Medical Education Institutions, especially in the recruitment of reviewer partner to conduct a "review" of all incoming articles. Funding for publication is entirely sourced from the Faculty of Medicine and also from Duta Wacana Christian University.
Arjuna Subject : -
Articles 161 Documents
PROFIL HEMATOLOGIK BERDASARKAN JENIS PLASMODIUM PADA PASIEN MALARIA RAWAT INAP DI RSK LINDIMARA, SUMBA TIMUR Henryanto Irawan; Maria Silvia Merry; Nining Sri Wuryaningsih; Tri baskoro TS
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 2 (2017): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.102 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v2i2.62

Abstract

Pendahuluan: Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih banyak ditemukan di negara tropis dan sub tropis. Data WHO pada tahun 2013 diperkirakan 197 juta kasus malaria dengan angka kematian sekitar 584.000 orang. Di Indonesia kasus malaria pada tahun 2013 sebesar 343.527 kasus. Kabupaten Sumba Timur merupakan daerah endemis malaria dengan angka kejadian malaria yang masih cukup tinggi yaitu sebesar 6.266 kasus. Tujuan: Menganalisis gambaran hematologik malaria terutama angka eritrosit dan hemoglobin berdasarkan jenis Plasmodium, distribusi berdasarkan data demografi (jenis kelamin, umur, dan pekerjaan) dan rejimen obat anti malaria yang digunakan. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan metode potong lintang. Data berasal dari data rekam medis 262 pasien malaria yang rawat inap di Rumah Sakit Kristen Lindimara bulan Juli 2014 - Desember 2014. Data dianalisis secara univariat dan uji T. Hasil: Sebanyak 262 subjek penelitian sebanyak 210 orang (80,2%) terinfeksi Plasmodium falcifarum dan 52 orang (19,8%) terinfeksi Plasmodium vivax dengan derajat infeksi ringan (69,5%). Hasil uji T terhadap gambaran klinis, angka eritrosit (p=0,380) dan kadar hemoglobin (p=0,523) menunjukkan tidak terdapat perberdaan yang signifikan antara kedua jenis Plasmodium (p>0,05). Berdasarkan distribusi data demografi, frekuensi tertinggi pada perempuan (53,1%), umur ≥ 15 tahun (54,6%) dan sebagian besar adalah pelajar (43,1%). Rejimen obat anti malaria yang digunakan ialah kombinasi kina dan primakuin (75,6%). Kesimpulan: Kejadian malaria di RSK Lindimara paling banyak disebabkan oleh Plasmodium falcifarum (80,2%) dibandingkan dengan Plasmodium vivax (19,2%). Berdasarkan gambaran klinis, angka eritrosit dan kadar hemoglobin tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua jenis Plasmodium (p>0,05). Kombinasi kina dan primakuin merupakan obat pilihan pertama di RSK Lindimara (75,6%).
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN RAWAT INAP PADA PASIEN PEMBESARAN PROSTAT JINAK DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MATARAM Daniel Mahendra Krisna; Akhada Maulana; Erwin Kresnoadi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 2 (2016): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.768 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v1i2.11

Abstract

Latar Belakang: Pembesaran prostat jinak atau Benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan kasus dengan insidensi yang tinggi terutama pada usia diatas 50 tahun di Indonesia. BPH menjadi penyakit yang menyebabkan rasa ketidaknyamanan dan menimbulkan keluhan yang sangat mengganggu kualitas hidup pasien. Berbagai pilihan terapi tersedia baik herbal, medikamentosa, maupun terapi operatif. Standar baku untuk BPH adalah terapi operatif yang membutuhkan rawat inap di rumah sakit. Tujuan: Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan lama rawat inap dan komplikasi sehingga dapat menekan biaya pasien. Metode: Delapan puluh sembilan pasien BPH dengan operasi TURP di RS Bhayangkara Mataram sejak bulan Januari 2010 - Desember 2014 diteliti berdasarkan usia, lama rawat inap, waktu tunggu operasi (WTO), lama rawat paska operasi, dan keadaan kateter ketika keluar rumah sakit melalui rekam medis. Jenis penelitian adalah penelitian analitik dengan metode cross sectional. Analisis statistik dengan koefisien korelasi (r) Pearson dan Spearman rho. Hasil: Dari 89 pasien kelompok usia terbanyak pada rentang 61-70 tahun (43.8%) dengan usia rata-rata 65, 75, usia termuda adalah 46 tahun dan usia tertua adalah 89 tahun. Memiliki lama rawat inap 5.53. Paling banyak 5 hari sebanyak 34 orang (38,2%). Rata-rata memiliki WTO 1,80 hari dan paling banyak memiliki lama rawat inap selama 1 hari sebanyak 51 orang (57,3%), serta rata-rata memiliki lama rawat inap paska operasi 3,72 hari. Tidak ada korelasi antara lama rawat inap dengan usia pasien (sig > 0,05; r = 0,121), komplikasi paska operasi pasien (sig > 0,05; r = 0,037) dan dengan keadaan kateter ketika keluar rumah sakit (sig < 0,05; r = -0,335**). Terdapat korelasi kuat yang signifikan antara lama rawat inap dengan WTO (sig < 0,05 ; r = 0,727**). Kesimpulan: Adanya berhubungan penyakit yang menyertai adalah penyebab pemanjangan WTO. Tidak terdapat korelasi antara lama rawat inap dengan dengan usia dan komplikasi paska operasi pasien, dan didapatkan korelasi kuat yang signifikan antara lama rawat inap dengan WTO. Lama rawat inap diatas rata-rata disebabkan oleh masalah pre-operasi.
IMPLEMENTASI CLINICAL PATHWAY HERNIA INGUINALIS LATERALIS REPONIBILIS DEWASA DI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA Yohana Puji Dyah Utami; Hariatmoko .; Pudji Sri Rasmiati; Rizaldy Taslim Pinzon
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 1 (2016): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.738 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v2i1.41

Abstract

Pendahuluan: Permenkes 1438 tahun 2010 menetapkan standar pelayanan kedokteran berupa Panduan Nasional Praktek Kedokteran (PNPK) dan Standar Prosedur Operasional (SPO). SPO disusun dalam bentuk Panduan Praktek Klinis (PPK) yang dilengkapi dengan alur klinis (Clinical Pathway). Dipilihnya hernia untuk dibuat PPK/CP di RS Bethesda karena tingginya jumlah kasus hernia yang dilakukan operasi. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan outcome pelayanan terkait hernia sebelum dan sesudah implementasi Clinical Pathway. Metode: Desain penelitian adalah quasi experimental after and before test. Tempat pengambilan data adalah di RS Bethesda melalui dokumen dalam rekam medis termasuk Clinical Pathway (CP). Waktu pengambilan data adalah sebelum implementasi CP hernia dan setelah implementasi CP hernia. Populasi adalah semua kasus hernia inguinalis lateralis reponibilis dewasa yang dilakukan herniotomi sebelum implementasi PPK/CP dan setelah implementasi PPK/CP. Hasil: Diperoleh sampel sebanyak 29 untuk pasien hernia sebelum implementasi CP dan 29 setelah implementasi CP. Hasil menunjukkan persentase kepatuhan sebelum dan sesudah implementasi CP pada penggunaan obat injeksi meningkat (dari 44,82% menjadi 57,69%), pada penggunaan obat oral meningkat (dari 20,08% menjadi 30,77%), pada penggunaan Spinal Anesthesia Block meningkat (dari 17% menjadi 84,62%), pada penggunaan obat anestesi (dari 17% menjadi 76,92%), pada lama rawat inap sebelum operasi kurang dari 24 jam menurun (dari 93% menjadi 88,46%), dan pada lama rawat inap paska operasi kurang dari 3 hari meningkat (dari 86% menjadi 88.46%). Rata-rata biaya rawat inap sebelum dan sesudah implementasi CP pada kelas I sebesar Rp 8.050.350,00 dan Rp 8.231.700,00, pada kelas II sebesar Rp 6.668.580,00 dan Rp 6.139.733,00, dan pada kelas III sebesar Rp 4.542.100,00 dan Rp 4.464.400,00. Kesimpulan: Clinical Pathway bermanfaat untuk memperbaiki indikator proses pelayanan terkait hernia di RS Bethesda. Tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal biaya pada implementasi CP hernia.
PERBEDAAN INDIKATOR-INDIKATOR PENYEMBUHAN LUKA TIKUS WISTRAR NON DIABETIK DAN DIABETIK PADA PEMBERIAN CURCUMIN TOPIKAL Tejo Jayadi; Arum Krismi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 1 (2015): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v1i1.2

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Di dunia dan Indonesia, penderita diabetes melitus akan meningkat, diperkirakan dua kali. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah penderita ulkus diabetikum, pada akhirnya dapat menyebabkan amputasi. Banyak faktor pertumbuhan berperan dalam penyembuhan luka, diantaranya TGF beta1 dan p63. Pada luka kronik, ekspresi TGF beta 1 menurun, sementara peran utama p63 adalah pertumbuhan epidermis. Curcumin memperbaiki penyembuhan luka. Tujuan Penelitian: Tujuan penelitian adalah untuk mengenali efek kurkumin pada penyembuhan luka tikus wistar non diabetic dan diabetic dengan menilai ekspresi TGF beta1 dan p63, tingkat inflamasi, jaringan granu%asi, dan penutupan dermis. Metode Penelitian: Penelitian dikerjakan dengan metode quasi eksperimental dengan desain post-test only control group design pada 64 hewan coba, dengan 16 tikus non diabetik diterapi curcumin (A), 16 hewan coba diabetik tanpa curcumin (B), 16 tikus diabetik tanpa curcumin (C), 16 tikus diabetik diterapi salep curcumin (D). Hasil dan Diskusi: Pada uji marginal homogeneity derajat inflamasi sampe% A terhadap sampel B adalah p= 0,166, level ekspresi TGF beta1 nilai p= 0,03, pembentukan jaringan granulasi p= 0,317, penutupan dermis nilai p 0,317 (p= 0,05), ekspresi p63 ni%ai p&O,OOS. +urcumin meningkatkan derajat inflamasi dan %e/e% ekspresi TGF beta1 yang cenderung mempercepat proses penyembuhan luka pada hewan coba non diabetes. Uji marginal homogeneity sampel C dan D menunjukkan inflamasi ni%ai p& O,128, pembentukan jaringan granu%asi p& O,S69, sedang penutupan dermis sampel D p= 0,083, ekspresi TGF beta1 p= 0,884, ekspresi p63 p= 0,025. Curcumin meningkatkan ekspresi p63, tetapi tidak mempercepat proses penyembuhan luka. Kata Kunci: curcumin, TGF beta
ANALISIS KEUANGAN TERHADAP KELAYAKAN INVESTASI LABORATORIUM ANGIOGRAFI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA Cecilia Farrona Al Hadri; Ari Natalia Probandari; Rizaldi Taslim Pinzon
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 3 (2016): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.894 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v1i3.26

Abstract

Latar Belakan: kematian akibat PTM (Penyakit Tidak Menular) diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan terbesar akan terjadi di negara-negara berkembang. Mempertahankan konsumen dan berusaha mendapatkan konsumen baru merupakan strategi wajib yang harus di jalankan oleh rumah sakit. Keberadaan konsumen sangat penting bagi bisnis rumah sakit karena konsumen merupakan roda bisnis rumah sakit. Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, berencana untuk melakukan investasi laboratorium Angiografi untuk menunjang fasilitas kesehatan yang sudah ada. Sebelum melakukan investasi penting untuk mengetahui berapa besar unit cost dan tarif yang akan ditetapkan selain itu juga perlu diketahui kemauan membayar (Willingness to Pay) dan kemampuan membayar (Ability to Pay) pasien terhadap penggunaan layanan. Metode Penelitian: penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan studi kasus yang dilakukan di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Sebanyak 265 orang dipilih sebagai responden, yang diambil dari poliklinik saraf dan penyakit dalam. Data primer terdiri dari data kemauan dan kemampuan pasien untuk melakukan pelayanan laboratorium angiografi. Data sekunder di dapatkan dari rumah sakit, penelitian terdahulu dan lainnya. Analisis investasi dihitung menggunakan Net Present Value, Internal Ratr of Return, payback Period dan Return On Investment. Hasil: Perhitungan dengan menggunakan analisis Net Present Value menghasilkan nilai sebesar Rp.23.569.363.711,-. Jika dibandingkan dengan nilai modal, NPV bernilai positif sehingga investasi ini layak dilaksanakan. Analisis Internal Rate of Return menghasilkan nilai 29% yang berarti lebih besar dari faktor diskonto artinya dengan menggunakan analisis ini investasi juga layak dilakukan. Perhitungan menggunakan Payback Period diketahui masa balik modal investasi laboratorium angiografi adalah selama tiga tahun tujuh bulan dan Return On Invesment menunjukkan pelayanan laboratrium angiografi berkemampuan untuk menghasilkan laba sebesar 120%. Kesimpulan: hasil penelitian menunjukkan investasi laboratorium angiografi dari aspek keuangan layak dilakukan. Kemauan masyarakat untuk menggunakan layanan cukup tinggi namun dari segi kemampuan rata-rata masih rendah.
FAKTOR PEMICU GANTUNG DIRI DI WILAYAH PANEKAN Rosa De Lima Renita Sanyasi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 3 (2017): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v2i3.68

Abstract

Pendahuluan : Bunuh diri adalah suatu tindakan yang disengaja untuk mengakhiri hidup diri sendiri. Tindakan bunuh diri dipicu oleh berbagai faktor. Sangat sedikit literatur yang membahas kasus bunuh diri di Indonesia, terlebih faktor yang memicu gantung diri. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berbagai faktor yang memicu gantung diri di wilayah Panekan. Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Terdapat 7 subjek yang terlibat dalam penelitian ini. Informasi mengenai subjek diperoleh melalui wawancara mendalam dengan responden. Hasil : Subjek penelitian didominasi oleh jenis kelamin laki-laki (57.14%), berusia ≥50 tahun (85.71%), berpendidikan rendah (100%), bekerja sebagai petani (85.71%), dan menikah (100%). Terdapat 4 pemicu utama yang teridentifikasi dalam penelitian ini, yaitu: masalah sosial, masalah ekonomi, penyakit kronik, dan gangguan mental yang lama tidak tertangani. Ada satu subjek yang tidak teridentifikasi pemicu utamanya, tetapi terdapat kepercayaan masyarakat seempat yang diyakini mempengaruhi tindakan bunuh diri subjek. Enam subjek menunjukkan gejala gangguan mental sebelum kejadian gantung diri: 3 diantaranya (42.86%) menunjukkan gejala skizofrenia, yaitu subjek 2,5, dan 6, sedangkan 3 sisanya (42.86%) menunjukkan gejala depresi, yaitu subjek 3,4, dan 7. Tidak dijumpai riwayat gangguan mental pada keluarga subjek (100%). Sebagian besar subjek tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya maupun riwayat penyakit lain pada keluarga (85.71%). Sebagian besar subjek tidak pernah mengkonsumsi NAPZA (57.14%). Dari sisi keagamaan, sebagian besar subjek menjalankan ibadah dengan taat (85.17%). Tidak ada subjek yang terlibat dengan hukum, militer, maupun tindak kriminal (100%). Dalam kehidupan sosial, sebagian besar subjek memiliki hubungan yang baik dengan lingkungannya dan memiliki kepribadian ekstrovert (57.14%). Kesimpulan : Pemicu tindakan gantung diri di wilayah Panekan antara lain masalah sosial, masalah ekonomi, penyakit kronik, dan gangguan mental yang tidak teratasi.
GANGGUAN KOGNITIF PADA EPILEPSI Andre Lukas; Harsono Harsono; Astuti Astuti
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 2 (2016): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.725 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v1i2.10

Abstract

Epilepsi merupakan salah satu penyakit dalam bidang neurologi yang insidensi dan prevalensinya terus meningkat. Penurunan fungsi kognitif yang sering ditemukan pada epilepsi sangat bergantung pada beberapa faktor antara lain etiologi, tipe bangkitan, sindrom epilepsi tertentu (epilepsi idiopatik umum, epilepsi absans, juvenile myoclonic epilepsy, epilepsi lobus temporal, epilepsi lobus frontal, dll), letak lesi atau fokus bangkitan, frekuensi dan durasi bangkitan, umur saat onset, adanya gangguan psikis lain seperti kecemasan dan depresi, serta obat anti-epilepsi yang diminumnya. Pada sebagian besar epilepsi, gangguan kognitif yang sering terjadi adalah gangguan pada atensi, psikomotor, visuospasial, memori dan fungsi eksekutif. Sindrom epilepsi tertentu seperti sindrom Ohtahara, West, Lennox Gastaut, CSWS (Continous Spike-Waves during Sleep Syndrome), dan Landau Kleffner Syndrome menunjukkan defisit kognitif yang lebih berat. Manajemen epilepsi yang meliputi terapi farmakologis maupun terapi bedah berhubungan dengan munculnya gangguan kognitif pada penderita epilepsi. Walaupun obat anti-epilepsi generasi baru memiliki efek negatif terhadap fungsi kognitif yang lebih kecil dibandingkan dengan obat antiepilepsi generasi lama, namun penggunaannya termasuk dosis harus tetap hati-hati karena beberapa obat anti-epilepsi generasi baru juga berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif yang nyata.
EVALUASI PROSES PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN CLINICAL PATHWAY KASUS STROKE ISKEMIK AKUT DI RUMAH SAKIT ANUTAPURA KOTA PALU Diah Mutiarasari; Rizaldy Taslim Pinzon; Gunadi Gunadi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 2 (2017): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.958 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v2i2.59

Abstract

Latar belakang: Stroke memiliki angka kematian dan kecacatan yang tinggi. Stroke menjadi penyebab nomor 1 admisi pasien ke rumah sakit. Penggunaan clinical pathway dapat mengurangi variasi dalam tindakan medis untuk kondisi klinis yang sama sehingga meningkatkan kualitas pelayanan stroke. Penelitian mengenai pengembangan clinical pathway sesuai Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT) di Indonesia masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi proses pengembangan dan penerapan clinical pathway kasus stroke iskemik akut di RS Anutapura Kota Palu. Metode: Rancangan Penelitian ini adalah action research. Pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi metode melalui wawancara terstruktur, diskusi kelompok terarah, survei, observasi, dan telaah dokumen. Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT) digunakan sebagai alat ukur. Subyek penelitian sebanyak 25 responden terdiri dari petugas kesehatan RS Anutapura dan tim clinical pathway, 1 responden keluarga pasien dan 30 responden pasien yang dirawat inap di bagian saraf RS Anutapura yang memenuhi kriteria eligibilitas. Hasil: Pada proses pengembangan hasil evaluasi dengan ICPAT menunjukkan dimensi 1 terpenuhi persyaratan secara keseluruhan. Dimensi 1 memberikan kepastian bahwa dokumen yang dikembangkan merupakan clinical pathway. Pada proses penerapan clinical pathway dilakukan evaluasi uji coba clinical pathway stroke iskemik akut sejak pasien masuk RS sampai pasien diijinkan keluar RS. Indikator proses pelayanan yang dinilai adalah pemeriksaan EKG sebesar 100%, penilaian kemampuan menelan sebesar 100%, pemberian antiplatelet (aspirin 80mg atau clopidogrel 75mg) diberikan 24-48 jam sejak masuk RS sebesar 100%, pemberian anti platelet (aspirin 325mg atau clopidogrel 300mg) diberikan 24-48 jam sejak masuk RS sebesar 46,7 % dan penilaian status gizi dan diet seawal mungkin sebesar 100%. Kepatuhan pengisian clinical pathway dokter dan case manager mencapai 80%. Kesimpulan: Berdasarkan evaluasi CP baru stroke iskemik akut menunjukkan kesesuaian dengan ICPAT. Sinergi seluruh manajemen RS, clinical champion, dokter spesialis saraf dan tim multidisiplin menjadi kunci keberhasilan pengembangan dan penerapan clinical pathway.
HUBUNGAN DIABETES MELITUS TERHADAP KEJADIAN SINDROMA TEROWONGAN KARPAL DI RS BETHESDA YOGYAKARTA Dyah Wulaningsih Retno Edi; Rizaldy Taslim Pinzon; Esdras Ardi Pramudita
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 1 (2015): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v1i1.7

Abstract

Latar Belakang: Sindroma Terowongan Karpal (STK) merupakan neuropati jebakan yang paling sering dijumpai. Terdapat berbagai faktor risiko yang berpotensi meningkatkan terjadinya STK, contohnya diabetes melitus. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa STK banyak terkait dengan diabetes melitus namun hasilnya masih kontroversial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes melitus terhadap kejadian sindroma terowongan karpal di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Metode: Studi potong lintang menggunakan data rekam medis pasien saraf Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Data yang diperoleh kemudian diuji dengan analisis univariat yang kemudian dilanjutkan dengan analisis bivariat dan multivariat dengan uji regresi logistik Hasil: Data diperoleh dari 222 sampel (134 perempuan dan 88 laki-laki) dengan 95 pasien STK dan 127 pasien non STK. Riwayat diabetes melitus terdapat pada 17 (17,9%) pasien kelompok STK dan 31 (24,4%) pasien pada kelompok non STK. Didapatkan hasil bahwa diabetes melitus tidak memiliki hubungan terhadap kejadian STK (RO: 0,68, IK 95%=0,35 – 1,31, p=0,243), namun pekerjaan sebagai ibu rumah tangga merupakan faktor risiko independen dari STK (RO: 3,34, IK 95%=1,36 – 8,24, p=0,009). Kesimpulan: Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga meningkatkan kejadian STK sebesar 3,3 kali lipat dibanding pekerjaan lain. Diabetes melitus tidak menunjukkan hubungan yang signifkan terhadap kejadian STK di RS Bethesda Yogyakarta. Kata Kunci: sindroma terowongan karpal, STK, faktor risiko, diabetes melitus
KEPUASAN PASIEN STROKE PESERTA JKN DI RS LESTARI RAHARJA DAN RSUD MUNTILAN KABUPATEN MAGELANG Eka Ari Wibawa; Tjahjono Kuntjoro; Rizaldy Taslim Pinzon
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 1 (2016): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.442 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v2i1.37

Abstract

Latar Belakang: Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga, setelah penyakit jantung dan kanker. Stroke juga merupakan penyebab utama kecacatan fisik maupun mental pada usia lanjut dan produktif. Jumlah penderita stroke di Indonesia semakin bertambah dan diderita oleh semua lapisan masyarakat. Keadaan tersebut harus mendapatkan perhatian, sehingga penanganan penderita stroke diharapkan dilakukan dengan suatu standar yang pasti. Pelayanan yang dilakukan dengan standar akan menghasilkan mutu pelayanan rumah sakit yang dapat dipertanggungjawabkan dan pada akhirnya memunculkan kepuasan pasien. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kepuasan pasien penderita stroke peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terhadap mutu pelayanan RS Lestari Raharja Magelang dan RSUD Muntilan Kabupaten Magelang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian relational, dengan disain penelitian kombinasi model concurrent embedded. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kusioner tertutup yang telah dipakai oleh peneliti sebelumnya dan pedoman wawancara yang disusun semi struktural, yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk mendapatkan informasi lebih mendalam tentang faktor kepuasan pasien secara umum maupun berdasarkan 5 aspek; penampilan fisik, kemampuan pelayanan yang akurat, daya tanggap, jaminan dan empati kepada pasien/ keluarga pasien penderita stroke di rumah sakit. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 82,4% pasien penderita stroke di RSUD Muntilan Kabupaten Magelang dan 74,2% pasien penderita stroke di RS Lestari Raharja yang merupakan peserta JKN menyatakan puas terhadap pelayanan rumah sakit. Hasil analisa bivariat hubungan jenis rumah sakit terhadap kepuasan pasien menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan (OR 1,63, 95% CI 0,51-4,90 dan p value 0,33). Hasil analisa multivariat pengaruh jenis rumah sakit terhadap kepuasan pasien menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis rumah sakit terhadap kepuasan pasien (OR 1,38, 95%CI 0,36-5,28 dan p value 0,63). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan kepuasan pasien penderita stroke yang dirawat di RS Lestari Raharja dan RSUD Muntilan Kabupaten Magelang serta tidak ada hubungan antara jenis rumah sakit terhadap kepuasan pasien.

Page 2 of 17 | Total Record : 161