cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
GIZI INDONESIA
Published by DPP PERSAGI Jakarta
ISSN : 04360265     EISSN : 25285874     DOI : -
Core Subject : Health,
Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of Sciences since 2004. Gizi Indonesia aims to disseminate the information about nutrition, therefore it is expected that it can improve insight and knowledge in nutrition to all communities and academics. Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the nutrition field among practitioners as well as academics in public health and researchers
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 34, No 2 (2011): September 2011" : 16 Documents clear
HUBUNGAN PENGELUARAN ROKOK RUMAH TANGGA DENGAN STATUS GIZI BALITA DI INDONESIA (ANALISIS DATA RISKESDAS 2010) ., Sudikno; Simanungkalit, Bona; Widodo, Yekti; ., Sandjaja
GIZI INDONESIA Vol 34, No 2 (2011): September 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.692 KB)

Abstract

Tingkat  pendapatan masyarakat  diperberat  oleh  pengeluaran  rokok  rumah  tangga  yang  secara  tidak langsung  akan  mempengaruhi  status  gizi  balita.  Penelitian  ini  bertujuan  mengetahui  hubungan pengeluaran rokok rumah tangga dengan status gizi balita. Penelitian menggunakan data Riskesdas 2010. Populasi  penelitian  meliputi  semua  rumah  tangga  Riskesdas  2010.  Sedangkan  sampel  adalah  semua rumah tangga Riskesdas 2010 yang memiliki balita (0-59 bulan) dengan kriteria inklusi balita (0-59 bulan) termuda di rumah tangga. Variabel penelitian meliputi: status gizi balita, pengeluaran rokok rumah tangga, pendidikan KK, pekerjaan KK, tinggi badan ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan status sosial ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan rumah tangga dengan pengeluaran rokok pada kuintil 4 dan 5 memiliki odds rasio  1,21  kali  untuk  memiliki  balita  dengan  status gizi  (BB/TB)  kurus  dan  sangat  kurus  dibandingkan rumah  tangga  dengan  pengeluaran  rokok  pada  kuintil  1,  2,  dan  3  setelah  dikontrol  oleh  variabel pendidikan ibu, pendidikan KK, dan pekerjaan KK. Kata kunci: pengeluaran rokok, rumah tangga, statusgizi balita
CAKUPAN SUPLEMENTASI KAPSUL VITAMIN A DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KARAKTERISTIK ANAK BALITA DAN AKSES KE PELAYANAN KESEHATAN DI INDONESIA (ANALISIS DATA RISKESDAS 2010) ., Sandjaja
GIZI INDONESIA Vol 34, No 2 (2011): September 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.181 KB)

Abstract

Kurang vitamin A mempunyai dampak pada fisiologi indera pengelihatan dan imunitas tubuh. Seperempat anak balita di dunia masih menderita kurang vitaminA. Pada survei nasional vitamin A pada anak balitatahun 1992 mendapatkan prevalensi xerophthalmia 0,34 persen. Tetapi beberapa survei lain sesudahnya menunjukkan  kurang  vitamin  A  sub-klinikal  masih  cukupo  tinggi.  Suplementasi  kapsul  vitamin  A  dosis tinggi enam bulan sekali pada anak balita merupakanstrategi kunci untuk meningkatkan status vitamin A. Berbagai  faktor  anak  balita  dan  akses  pelayanan  kesehatan  diduga  mempengaruhi  tinggi  rendahnya cakupan kapsul vitamin A di Indonesia. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor akses pelayanan kesehatan dan karakteristik anak balita yang mempengaruhi tinggi rendahnya cakupan kapsul vitamin A. Analisis  menggunakan  data  sekunder  yang  dikumpulkan dalam  Riskesdas  2010.  Riskesdas  merupakan studi kros-seksional yang mengumpulkan data dasar kesehatan dari 69.300 sampel rumah tangga di 2.798 blok sensus terpilih di seluruh wilayah Indonesia. Hanya variabel yang lengkap dan relevan dengan faktor yang  diduga  berperan  pada  16.955  sampel  anak  umur  12-59  bulan  yang  menerima  atau  tidak  kapsul vitamin A yang diambil untuk analisis. Analisis akhir yang digunakan adalah regresi logistik multivariat untuk  mengukur  faktor-faktor  yang  berperan  dalam  penerimaan  kapsul  vitamin  A.  Hasil  penelitian menunjukkan  bahwa  cakupan  kapsul  vitamin  A  di  Indonesia  sebesar  70,5  persen,  bervariasi  antar provinsi,  cakupan  lebih  tinggi  di  daerah  perkotaan  (75,3%)  dibanding  di  perdesaan  ((65,6%).  Posyandu merupakan tempat yang paling tinggi untuk mendapatkan kapsul vitamin A (84,1%). Anak balita dalam 6 bulan  terakhir  yang  tidak  mendapatkan  kapsul  vitamin  A  berhubungan  secara  bermakna  dengan  yang tidak  mempunyai  KMS  (AOR=1.652,  95%  CI  1.465-1.863),  telah  diimunisasi  tetapi  tidak  lengkap (AOR=1.492,  CI  1.358-1.639)  atau  belum  diimunisasi  (AOR=3.597,  95%  CI  3.121-4.146),  dalam  6  bulan terakhir ke posyandu dua kali atau kurang (AOR=6.046, 95% CI 5.425-6.733), kelahiran anak ditolong bukan oleh  tenaga  kesehatan  (AOR=1.244,  CI  1.114-1.388),  tidak  ada  pemeriksaaan  kesehatan  oleh  nakes  saat neonatus (AOR=1.152, CI 1.040-1.275), tetapi cakupan kapsul vitamin A tidak berhubungan dengan jenis kelamin  anak,  kelompok  umur  anak,  tidak  punya  buku  KIA,  maupun  status  gizi  underweight,  wasting, stunting. Rekomendasi: Peningkatan cakupan kapsul vitamin Adapat dilakukan dengan revitalisasi peran posyandu dan peningkatan akses balita pada pelayanan kesehatan di desa.Keywords: suplementsi kapsul vitamin A, anak balita, posyandu, akses pelayanan kesehatan
ASUHAN GIZI PADA HIPERTENSI Kresnawan, Triyani
GIZI INDONESIA Vol 34, No 2 (2011): September 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.602 KB)

Abstract

Prevalensi kejadian hipertensi di Indonesia cukup tinggi dibandingkan dengan beberapa negara Asia dan berbagai  dampak  dari  kejadian  hipertensi  memerlukan perhatian  dan  penanganan  khusus.  Untuk mencegah  hipertensi  dan  mengendalikan  hipertensi  beberapa  hal  dapat  dikontrol  di  antaranya  berat badan  berlebih,  kurangnya  aktifitas  fisik,  merokok, konsumsi  alkohol,  asupan  natrium  berlebih,  asupan kalium, kalsium, magnesium yang kurang serta kondisi stres. Pada masa lalu penatalaksanaan hipertensi yaitu  dengan  menggunakan  obat  antihipertensi  dan  diet  rendah  garam.  Pada  saat  ini  modifikasi  gaya hidup  (lifestyle)  sudah  diterapkan  pada  saat  pra  Hipertensi,  selain  diet  rendah  garam  1500  -2400  mg Natrium sehari telah disusun pula suatu pedoman yang terdiri dari pola makan, jumlah dan jenis bahan makanan  dengan  memperhatikan  beberapa  zat  gizi  lain yang  berperan  pada  kejadian  hipertensi diantaranya  yang  perlu  ditingkatkan  adalah  asupan  kalsium,  magnesium  dan  kalium  yang  disebut  diet DASH  (Dietary  Approaches  to  Stop  Hypertensi).  Peran  tenaga  gizi  (nutrisionis dan  dietisien)  sangat penting  dalam  asuhan  gizi  pasien  hipertensi  sebagai konselor  terapi  non-farmakologik.  Diet  DASH diterapkan sejak pra hipertensi, apabila target tekanan darah tidak tercapai pada 4-6 minggu, maka akan diterapkan terapi farmakologik disertai pengaturan makanan (Diet DASH) dan modifikasi gaya hidup. Kata kunci: asuhan gizi, hipertensi
ANALISIS KONSUMSI LEMAK, GULA DAN GARAM PENDUDUK INDONESIA ., Hardinsyah
GIZI INDONESIA Vol 34, No 2 (2011): September 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.723 KB)

Abstract

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa asupan lemak yang tinggi, terutama lemak jenuh, gula dan garam adalah faktor risiko terjadinya berat badan lebih,  hiperglikemia, hipertensi, dan hiperkolesterol. Studi ini bertujuan untuk menganalisa asupan total lemak, lemak jenuh, gula dan garam pada penduduk Indonesia dari  data  sekunder  SUSENAS.  Hasil  analisis  menunjukkan  bahwa  rerata  asupan  lemak  adalah  58,1 g/kap/hr tahun 2002 dan meningkat menjadi 61,5 g/kap/hr pada tahun 2007 dan 64,7 g/kap/hr tahun 2009, di mana sekitar setengahnya merupakan lemak nyata dan dua pertiga-nya (62.6%) merupakan lemak jenuh. Rerata asupan gula nyata 28,3 g/kap/hr pada tahun 2002, 26,2 g/kap/hr tahun 2007 dan 23.8 g/kap/hr tahun 2009. Rerata asupan garam adalah 6,31 g/kap/hr padatahun 2002, 5,6 g/kap/hr tahun 2007 dan 5.7 g/kap/hr pada tahun 2009. Estimasi yang rendah terjadi pada  asupan gula dan garam. Asupan energi dari lemak jenuh dan asupan garam lebih tinggi dari rekomendasi WHO (2003). Asupan energi dari gula sama dengan tambahan asupan gula yang direkomendasi pedoman umum gizi seimbang, tetapi beberapa asupan gula lebih tinggi dari rekomendasi. Strategi kebijakan dan program promosi dalam mengurangi asupan lemak jenuh,  gula,  dan  garam  yang  terintegrasi  dalam  promosi  gizi  seimbang  dan  pola  hidup  sehat  sangat diperlukan menuju masyarakat Indonesia yang sehat. Kata kunci: analisis konsumsi, lemak, gula, garam
KECENDERUNGAN MASALAH GIZI BURUK DI INDONESIA Jahari, Abas Basuni
GIZI INDONESIA Vol 34, No 2 (2011): September 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.029 KB)

Abstract

Prevalensi  gizi  kurang  dan  buruk  menurut  BB/U  belum banyak  berubah  dari  sejak  krisis  hingga  kini, sementara  dana  untuk  program  perbaikan  gizi  semakin meningkat.  Revitalisasi  Posyandu  dan  Sistem Kewaspadaan  pangan  dan  Gizi  (SKPG)  untuk  penanggulangan  masalah  rawan  pangan  dan  gizi  di sebagian  besar  kabupaten  di  Indonesia  tidak  diimplementasikan.  Telaahan  ini  bertujuan  untuk mempelajari  beberapa  fakta  dari  hasil  analisis  data tentang  gizi  kurang  dan  gizi  buruk  yang  terjadi  diIndonesia. Data yang digunakan adalah hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Jawa Barat tahun 2004, Hasil Survei Gizi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pasca-Tsunami, 2005, dan survei masalah gizi mikro  di  7  provinsi  tahun  2006.  Hasil  menunjukkan  bahwa  dari  21,3  persen  anak  balita  yang  termasuk kategori rawan, 10 persen di antaranya sangat rawanuntuk menjadi status BB/U Rendah (Gizi Kurang). Kemudian, secara umum dari 32,9 persen anak balita berstatus BB/U Rendah yang ada pada posisi rawan, 13,2 persen di antaranya ada pada posisi sangat rawan untuk menjadi status BB/U Sangat Rendah (Gizi Buruk).  Berdasarkan  TB/U,  proporsi  anak  balita  dengan TB/U  Normal  yang  rawan  untuk  menjadi  status TB/U Pendek meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Secara umum 39,9 persen anak balita yang berstatus  TB/U  pendek  ada  pada  posisi  rawan,  di  antaranya 17,8  persen  ada  pada  posisi  sangat  rawan untuk  menjadi  status  TB/U  Sangat  Pendek.  Namun,  berdasarkan  BB/TB,  hanya  9  persen  anak  balita berstatus BB/TB Normal yang ada dalam posisi rawan,3,9  persen di antaranya ada pada posisi sangat rawan untuk menjadi status BB/TB Kurus. Karena jumlah anak balita berstatus gizi baik (normal) yang ada pada posisi rawan terus meningkat mengikuti pertambahan usia, maka upaya perbaikan gizi yang bersifat preventif sudah harus dilaksanakan sejak usia dini,tidak hanya untuk anak balita kurang gizi tetapi juga bagi  anak  balita  yang  dikategorikan  berstatus  gizi  baik.  Arah  kebijakan  pemerintah  hendaknya  melalui kegiatan  yang  bersifat  PREVENTIF  dan  PROMOTIF  yang  PROAKTIF,  harus  diimplementasikan  secara benar, baik di pusat maupun di daerah. Kata kunci: SKPG, Posyandu, status gizi
CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF: AKURASI DAN INTERPRETASI DATA SURVEI DAN LAPORAN PROGRAM Widodo, Yekti
GIZI INDONESIA Vol 34, No 2 (2011): September 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.467 KB)

Abstract

Akurasi  dan  interpretasi cakupan  data  pemberian  air susu  ibu  (ASI)  eksklusif  atau  menyusui  eksklusif sangat penting diketahui untuk memberikan gambaran tentang status menyusui eksklusif di suatu negara. Di  Indonesia  data  cakupan  praktik  menyusui  eksklusif  pada  bayi  di  bawah  usia  6  bulan  berbeda-beda tergantung  pada  definisi  dan  metode  pengumpulan  data  yang  digunakan.  Cakupan  praktik  menyusui eksklusif  pada  bayi  di  bawah  usia  6  bulan  berkisar  antara  15,3  sampai  74,2  persen.  Akurasi  dan interpretasi  data  cakupan  tersebut  sangat  penting  untuk  diketahui.  Data  cakupan  tersebut  menjadi berbahaya karena dapat menyebabkan kesalahan interpretasi dan menimbulkan asumsi bahwa cakupan praktik menyusui eksklusif di Indonesia sudah mencapai angka yang tinggi, dan jika hal tersebut diyakini oleh para petugas kesehatan maka upaya untuk meningkatkan cakupan praktik menyusui eksklusif akan semakin  melemah.  Hal  ini  menjadi  sangat  berbahaya  terhadap  upaya  meningkatkan  cakupan  praktik menyusui  eksklusif.  Perbedaan  interpretasi  data  survei  dan  definisi  tentang  menyusui  eksklusif  perlu dibahas berdasarkan sumber pustaka yang relevan. Rekomendasi berdasarkan interpretasi data cakupan praktik menyusui eksklusif hanya dapat dilakukan setelah dievaluasi secara hati-hati dan cermat terhadap definisi dan metode survey yang digunakan,Kata kunci: ASI ekslusif, akurasi, interpretasi

Page 2 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 46 No 2 (2023): September 2023 Vol 46, No 1 (2023): Maret 2023 Vol 45, No 2 (2022): September 2022 Vol 45, No 1 (2022): Maret 2022 Vol 44, No 2 (2021): September 2021 Vol 44, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 43, No 2 (2020): September 2020 Vol 43, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 42, No 2 (2019): September 2019 Vol 42, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 More Issue