cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 19, No 2 (2013)" : 13 Documents clear
PEMANFAATAN CITRA LANDSAT 8 ETM+ UNTUK PEMETAAN POTENSI ZONA MINERALISASI PADA IJIN USAHA PERTAMBANGAN EKSPLORASI PULAU WETAR Yanuarsyah, Iksal; Hermawan, Erwin
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.200

Abstract

Pemetaan potensi sumber daya geologi pertambangan khususnya potensi mineral perlu dilakukan sebagai awal pengelolaan sumber daya pertambangan. Pemetaan ini perlu dilakukan terutama dalam tahapan eksplorasi pendahuluan, sehingga keberadaan lokasi dari kawasan-kawasan dapat diketahui. Integrasi citra Landsat 8 dan data geologi melalui pemrosesan citra dan SIG telah digunakan untuk pendeteksian area eksplorasi mineral. Penelitian ini berlokasi di Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi PT. Satria Fajar Intim di Pulau Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. IUP Eksplorasi terbagi menjadi 4 lokasi kajian dan masing-masing dibagi menjadi 2 bagian yaitu Bagian Utara dan Bagian Selatan. Kegiatan penelitian dimulai dari pengumpulan data spasial (peta) dan non spasial (tabular) dari lokasi kajian. Secara spesifik, analisis citra Landsat dilakukan dengan menggunakan Crósta Technique untuk menentukan zona ubahan limonitik dan lempung. Analisis ini mengkaji nilai “eigen vector” dari hasil Principal Component Analysis (PCA) untuk kombinasi band 1, 3, 4, dan 5 (ubahan limonitik) dan kombinasi band 1, 4, 5, dan 7 (ubahan lempung). Tahapan selanjutnya adalah menentukan zona mineralisasi yang dilakukan dengan menggunakan penguatan dari hasil identifikasi kelurusan zona lemah (lineament). Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat dan analisis geologi (regional dan lineament, wilayah eksplorasi ini berprospek Emas (Au) yang terbagi masing-masing dalam 17 zona mineralisasi dengan luas mencapai 2.858,70 ha. Peta zona mineralisasi ini akan sangat membantu pihak IUP Eksplorasi dalam menentukan langkah selanjutnya agar rencana perusahaan dalam melakukan kegiatan eksplorasi detil, lebih terarah dan efisien.Kata Kunci: Landsat 8, Teknik Crósta, Analisis Komponen Utama, zona mineralisasiABSTRACTMapping potential geological resources, especially mineral potential, needs to be done because it is the initial of mining resources management. The mapping is important especially during the preliminary stage of exploration in order to identify the location and distribution of the regions. Integration of Landsat 8 ETM+ imageries and geological data through GIS and image processing techniques were used to identify the area on mineral exploration work. This research was located in a Mining Business License (IUP) PT Satria Fajar Intim at Wetar Island, Southwest Maluku Regency, Maluku Province. The exploration area was divided into four study locations, in two different regions - the northern part and the southern part. Analysis of the studies carried out, started from the collection of spatial and non-spatial data from the location of the study. Analysis of Landsat imagery was carried out by using Crósta Technique to determine the limonitics and clays zones. This analysis examines the eigen-vector value of Principal Component Analysis (PCA) for the combination bands 1, 3, 4, and 5 (limonitics) and combination bands 1, 4, 5, and 7 (clays). This process continued by identifying the mineralized zones using the sharpening of weak zone (lineament). Based on Landsat image interpretation supported with geological analysis (regional and lineament), the Exploration IUP area is prospected for Gold (Au) which is divided into 17 individual mineralized zones and covers an area of 2,858.70 ha. The location determination of this mineralized zone will greatly support the IUP Exploration and plays as important consideration so that the company plan can be more focused and efficient, for example in conducting further detailed exploration activities.Keywords: Landsat 8, Crósta Technique, Principal Component Analysis, mineralization zone
ANALISIS DAN ARAHAN PENGEMBANGAN LAHAN UNTUK MENCAPAI SWASEMBADA PANGAN DI KABUPATEN MUARO JAMBI, PROVINSI JAMBI Sudadi, Untung; Kurniawan, Agus; Ardiansyah, Muhammad
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.205

Abstract

Sebagai wilayah “hinterland”, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi memiliki potensi sumberdaya lahan yang perlu dikembangkan dan diarahkan untuk mendukung penyediaan pangan di tingkat lokal maupun regional. Penelitian ini bertujuan menyusun arahan pengembangan lahan untuk mencapai swasembada pangan di Kabupaten Muaro Jambi. Hasil analisis menunjukkan potensi ketersediaan lahan prioritas untuk pengembangan padi sawah seluas 55.899 ha dengan kelas kesesuaian S3 (sesuai marginal) dan 100.870 ha lahan lainnya diarahkan untuk pertanian pangan lahan kering. Untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2031, Kabupaten Muaro Jambi membutuhkan sawah dan lahan kering masing masing seluas 30.545 ha dan 1.064 ha, sehingga potensi lahan yang tersedia masih dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan Kabupaten Muaro Jambi maupun untuk penggunaan lain. Di sisi lain, dalam Rencana Pola Ruang Kabupaten Muaro Jambi dialokasikan lahan untuk sawah dan pertanian lahan kering masing-masing seluas 6.271 ha dan 65.972 ha. Dari pola ruang lahan pangan tersebut, seluas 1.962 ha sawah dan 18.807 ha pertanian lahan kering tidak sesuai dengan kondisi eksisting. Oleh karena itu, Rencana Pola Ruang ini perlu direvisi.Kata Kunci: arahan pengembangan, swasembada pangan, kesesuaian lahan, ketersediaan lahan, pola ruangABSTRACTAs an hinterland, Muaro Jambi Regency, Jambi Province has potential land resource needs to be developed to support the provision of food both at local as well as regional levels. This research aimed to formulate a land development direction to achieve food self-sufficiency in Muaro Jambi Regency. Results of analyses showed the availability of prioritized land for rice fields development amounted to 55,899 ha with suitability class of S3 (marginally suitable), while another 100,870 ha of the land could be directed for dryland food-crop farming. To achieve the food self-sufficiency in the year 2031, Muaro Jambi Regency needs rice fields and drylands of 30,545 ha and 1,064 ha, respectively. Thus, the potentially available lands still can be developed to meet the food needs in Jambi City or allocated for other land uses as well. On the other hand, in the Spatial Regional Plan of Muaro Jambi Regency, lands allocated for rice field and dryland food-crop farming are 6,271 ha and 65,972 ha, respectively. Of this food-crop spatial pattern, area of 1.962 ha and 18,807 ha that are allocated for rice field and dryland food-crop farming do not match with the existing condition. Therefore, this Spatial Pattern Plan needs to be revised.Keywords: development direction, food self-sufficiency, land availability, land suitability, spatial pattern
TRANSFORMATION OF TOPOGRAPHIC DATA VISUALIZATION FROM FREEHAND DRAWING TO CARTOGRAPHIC REPRESENTATION Perdana, Aji Putra; Juniati, Eli; Hidayat, Joni
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.316 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.210

Abstract

Topographic data visualization has been changed into geodatabase cartography. So far, freehand drawing has been used to visualize topographic data. Unfortunately, freehand drawing does not connect its graphical features with its database, meaning that the attributes data not exist in the freehand drawing. Meanwhile, the existing cartographic rules for map representations still based on the freehand drawing and this is become a great challenge to transform these rules into geodatabase cartographic data visualization. The geodatabase cartography and its representation should be defined first in order to follow the existing rules and analyze it. On the other hand, there is another challenge related to human resource capability to understand the transformation process from drawing method into geodatabase cartography. This paper explores the transformation of topographic map visualization and its geodatabase design.Keywords: cartography, topographic map, geodatabase, cartographic representationABSTRAKVisualisasi data topografi dalam hal ini Peta Rupabumi mulai berubah dengan menggunakan geodatabase kartografi. Sejauh ini, penggambaran peta dengan freehand telah digunakan untuk mendesain tampilan peta topografi. Namun demikian, freehand tidak mempunyai kemampuan untuk menggabungkan data grafik dengan basis datanya, yang berakibat pada hilangnya atribut data. Sementara itu, aturan tampilan kartografi yang ada masih dibuat berdasarkan software freehand, dan hal ini menjadi tantangan besar untuk mentransformasikan ke dalam tampilan kartografi berdasarkan basis data geospasial (geodatabase). Untuk memenuhi aturan yang sudah ada, geodatabase kartografi dan tampilannya harus didefinisikan terlebih dahulu dan kemudian dianalisis. Di lain pihak, terdapat tantangan lain terkait dengan kemampuan sumberdaya manusia untuk memahami proses transformasi dari metode menggambar ke geodatabase kartografi. Makalah ini mengkaji proses transformasi dari visualisasi peta topografi dan desain geodatabasenya.Kata Kunci: kartografi, peta rupabumi, geodatabase, tampilan kartografi
APPLICATION OF REMOTE SENSING FOR SUSPENDED SEDIMENT MAPPING IN PORONG RIVER Pahlevi, Arisauna M.
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.198 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.201

Abstract

Porong River is a branch of Brantas river which its downstream is border to Sidoarjo and Pasuruan towns. Since the occurrence of hot mud volcano overflow in Sidoarjo, Porong River has role of draining the sediment into Madura Strait. This paper discusses the concentration of suspended sediment in the Porong River, especially Porong River Estuary, using remote sensing methods. Sedimentation that can be observed by remote sensing method is suspended sediment. The determination of suspended sediment was by changing radians values into reflectance values, then used a variety of algorithms to determine the value of the suspended sediment. The data used in this research was a medium-resolution satellite image data, ASTER image year 2005 to 2008. The algorithm used was developed by Budhiman (2004). The result of data processing and analysis of suspended sediments obtained that suspended sediment in Porong River during the period of 2005 and 2006 were dominated by sediment class 50 - ≤ 100 mg/l, while in 2008 were dominated by class of >200 mg/l.Keywords: Porong River, suspended sediment, remote sensing, ASTER, Budhiman AlgorithmABSTRAKSungai Porong adalah cabang dari Sungai Brantas yang hilirnya merupakan perbatasan Kabupaten Sidoarjo dan Kota Pasuruan. Sejak terjadinya luapan lumpur panas di Sidoarjo, Sungai Porong memiliki peran menguras sedimen ke Selat Madura. Dalam makalah ini akan dibahas konsentrasi sedimen tersuspensi di Sungai Porong, terutama pada bagian estuari atau muara dari Sungai Porong dengan menggunakan metode penginderaan jauh. Sedimentasi yang dapat diamati dengan metode penginderaan jauh adalah sedimen terlarut atau tersuspensi. Penentuan sedimen tersuspensi dilakukan dengan mengubah nilai radian menjadi nilai reflektansi, kemudian menggunakan berbagai algoritma untuk menentukan nilai dari sedimen tersuspensi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data citra satelit resolusi menengah, yaitu citra ASTER perekaman tahun 2005 sampai 2008. Adapun algoritma yang digunakan adalah algoritma yang dikembangkan oleh Budhiman (2004). Dari pengolahan data dan analisis sedimen tersuspensi diperoleh bahwa di Sungai Porong pada tahun 2005 dan 2006 didominasi oleh sedimen kelas 50 - ≤ 100 mg/l, sedangkan pada Tahun 2008 didominasi oleh kelas > 200 mg/l.Kata Kunci: Sungai Porong, sedimen tersuspensi, penginderaan jauh, ASTER, Algoritma Budhiman
PENILAIAN SPASIAL SEBARAN PENDUDUK MISKIN DI PROVINSI JAWA BARAT Riadi, Bambang
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.206

Abstract

Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Salah satu aspek penting untuk mendukung strategi penanggulangan kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki posisi mereka serta dapat disajikan informasinya secara spasial. Untuk mengukur kemiskinan, Badan Pusat Statistik menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic need approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Minimnya jaringan jalan dan topografi yang berelief menjadikan Jawa Barat Bagian Selatan memiliki indikasi paling banyak penduduk miskin dibandingkan Jawa Barat Bagian Tengah dan Jawa Barat Bagian Utara. Terbukanya isolasi dengan dibangunnya infrastruktur jaringan jalan yang menghubungkan beberapa wilayah pesisir di Jawa Barat Bagian Selatan pada Tahun 2011 memiliki andil yang kuat terhadap menurunnya persentase penduduk miskin. Penduduk miskin di Jawa Barat Tahun 2009 mencapai 13,09% dan pada tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 10,98%.Kata Kunci : kemiskinan, integrasi data, korelasi, pendidikan, indikatorABSTRACTPoverty is one of fundamental problems that become a central attention of government in any countries. One important aspect to support poverty reduction strategies is the availability of accurate data on poverty and target. Good poverty data can be used to evaluate government policies on poverty, comparing poverty across time and regions, as well as determining the target of the poor people with the aim to improve their position and presented in spatial information. To measure the poverty, BPS uses a concept of ability to meet basic needs (basic need approach). With this approach, poverty is seen as an economic inability to meet the basic needs of food and non-food as measured from expenditure. The poor are people who have an average monthly per capita expenditure below poverty line. The lack of road network and topography made southern part of West Java region was indicated to have most poor people compared to central and northern parts of West Java. The construction of road infrastructure network that connected several coastal areas in the southern part of West Java in 2011 opened the area‟s insulation and contributed strongly to the declining of the percentage of poor people. The poor people in West Java in 2009 reached 13.09%, while in 2011 decreased to 10.98%.Keywords: poverty, data integration, correlation, education, indicator
PETA INTERAKTIF UNTUK PERAGA PEMBELAJARAN GEOGRAFI SMA Saraswati, Ratna; Susilowati, M.H. Dewi; Indra, Tito Latif
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.211

Abstract

Pembelajaran Geografi di SMA selama ini dilakukan dengan cara konvensional yaitu ceramah dengan materi dari buku teks yang ada, tanpa alat peraga. Peraga yang digunakan seringkali hanya berupa ilustrasi di papan tulis. Padahal alat peraga merupakan sarana untuk menjelaskan fenomena geografi yang menjelaskan lokasi suatu daerah, fenomena bentang alam dan lainnya, sehingga tujuan pembelajaran tercapai dan terpenuhi. Ketiadaan alat peraga ini menjadikan pelajaran Geografi menjadi tidak efektif dan cenderung membosankan. Alat peraga untuk pembelajaran Geografi yang efektif adalah berupa peta yang akan memudahkan siswa dalam memahami pembelajaran, karena di dalam peta ditunjukkan berbagai informasi yang menunjang pembelajaran Geografi sesuai dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KI dan KD). KI dan KD dalam Pelajaran Geografi SMA mulai dari Kelas X hingga Kelas XII, semuanya memerlukan peraga peta sebagai alat bantu pembelajarannya. Dari SK dan KD tersebut, alat peraga peta sangatlah diperlukan sebagai media pembelajaran untuk menyampaikan pokok-pokok bahasan sehingga penyampaian menjadi menarik dan lebih efektif.Kata Kunci: peta interaktif, SIG, perangkat lunak Quantum, geografiABSTRACTLearning Geography in high school has been done conventionally by lectures with contents from textbooks without props or demonstration unit. Illustrations on white boards are most often used as the only props. Whereas props could be used as means to better explained geographical phenomenon such as region‟s locations, landscape phemonenon, and others, thereby learning purposes could be met and fulfilled. The absence of props makes geography learning process ineffective, hence it tends to be boring. A prop that could be effective for geography learning is in forms of map that could make students easy to understand during the learning process, because maps could show various informations that could support geography learning according to Core Competency (KI) and Basic Competency (KD). KI and KD in high school geography student from class X to class XII, that all needs map demonstration unit for its auxiliary learning tools. From its SK and KD, map props is crucial as a learning module to better convey the lessons contents so that the learning process could be more interesting and more effective.Keywords: interactive map, GIS, Quantum software, geography
PEMBUATAN MODEL ELEVASI DIGITAL DARI STEREOPLOTTING INTERAKTIF FOTO UDARA FORMAT SEDANG DENGAN KAMERA DIGICAM Pranadita, Sekar; Harintaka, Harintaka
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.202

Abstract

Saat ini, teknologi fotogrametri telah berubah menjadi sistem “full digital”, dimulai dari akuisisi data hingga pengolahan akhir. Fotogrametri adalah teknik untuk memproduksi berbagai data spasial, seperti data orthophoto dan Digital Elevation Model (DEM). DEM dapat dihasilkan dengan stereoplotting interaktif atau secara otomatis. Keuntungan penggunaan stereoplotting interaktif adalah diperoleh data 3D dengan akurasi tinggi serta obyek-obyek yang diinginkan. Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji tingkat akurasi data DEM yang diekstrak dari Foto Udara Format Medium (FUFM) dengan metode interaktif stereoplotting. Penelitian ini memanfaatkan “digicam” digital kamera untuk akuisisi foto dan perangkat lunak DAT/EM Summit Evolution software untuk pengolahan data foto. Lokasi penelitian adalah di sekitar Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang relatif datar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perbedaan ketinggian antara stereoplotting interaktif dan pengukuran LiDAR adalah 0,876 m. Perbedaan ketinggian minimum dan maksimum adalah 0,005 m dan 2,915 m. Penelitian ini memanfaatkan 113 titik uji yang terletak di seluruh Kampus UGM.Kata Kunci: DEM, Foto Udara Format Medium, interaktif stereoplotting, akurasi tinggiABSTRACTCurrently, fotogrammetry technology has been transformed into fully digital system, started in data acquisition until final processing. Fotogrammetry is well known in producing various spatial data, such as orthophoto and Digital Elevation Model (DEM). DEM can be generated by using interactive or automatic stereoplotting procedure. The most advantages of applying an interactive stereoplotting is that the 3D data and desired objects can be obtained in high accuracy. This paper examined the accuracy of DEM data extracted from medium format aerial photo (FUFM) by interactive stereoplotting method. This research utilized “digicam” digital camera for aerial photo acquisition and DAT/EM Summit Evolution software for processing the aerial photos. The research area was located at around Universitas Gadjah Mada Campus, Yogyakarta which has a relatively flat terrain. The results showed that average elevation discrepancy between interactive stereoplotting and LiDAR measurement was 0.876 meters. The minimum and maximum elavation discrepancies were 0.005 meters and 2.915 meters, respectively. This study utilized 113 test points located arround UGM Campus.Keywords: DEM, Medium Format Aerial Photo, interactive stereoplotting, high accuracy
ANALISIS PERKEMBANGAN EKONOMI WILAYAH UNTUK ARAHAN PEMBANGUNAN KECAMATAN DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN GARUT Sudarya, Dudu; Sitorus, Santun R.P.; Firdaus, Muhammad
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.786 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.207

Abstract

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir Kabupaten Garut, perlu dilakukan penelitian terhadap potensi dan karakteristik ekonomi wilayah untuk merumuskan strategi pembangunan yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui tingkat perkembangan ekonomi wilayah di kecamatan pesisir; (2) mengetahui sektor ekonomi unggulan; (3) mengetahui hirarki dan efisiensi wilayah pembangunan; dan (4) merumuskan arahan wilayah pembangunan dan sektor ekonomi di kecamatan pesisir. Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Entropi, Analisis Location Quotient (LQ), Shift Share Analysis (SSA), Analisis Skalogram, Data Envelopment Analyisis (DEA) dan Analisis MCDM-TOPSIS. Hasil analisis memperlihatkan bahwa tingkat keberagaman dan keberimbangan sektor-sektor ekonomi di kecamatan wilayah pesisir masih rendah dengan tingkat perkembangan sebesar 72% dari total kemampuan maksimumnya. Wilayah pesisir Kabupaten Garut memiliki ekonomi basis di sektor primer yaitu pertanian. Sedangkan sektor sekunder adalah sektor yang tumbuh paling cepat terutama di sektor industri pengolahan. Analisis hirarki terhadap sarana prasarana ekonomi desa menunjukkan bahwa hanya ada 3 desa atau sekitar 4,6% yang masuk Hirarki I sebagai inti wilayah dan pusat pertumbuhan. Sebanyak 20 desa atau 33,8% adalah wilayah Hirarki II dan 40 desa atau 61,5% adalah wilayah Hirarki III. Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk meningkatkan perkembangan dan pemerataan ekonomi, prioritas pembangunan diarahkan pada Kecamatan Mekarmukti, Pakenjeng dan Caringin. Terdapat 25 desa di wilayah pesisir diarahkan untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan 40 desa diarahkan sebagai wilayah pendukung atau hinterland. Prioritas pembangunan sektor ekonomi terutama diarahkan untuk sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor gas, listrik dan air minum.Kata Kunci: Kabupaten Garut, pertumbuhan ekonomi, perkembangan wilayah, wilayah pesisirABSTRACTIn order to strengthen economic growth in coastal areas of Garut Regency, it is necessary to study characteristics of the regions economic potential and formulate the direction of development. The aims of this research were: (1) to determine the level of regional economic growth in the coastal districts, (2) to determine the leading sectors of economic, (3) to determine hierarchy and efficiency of development, and (4) to formulate direction of regional and economic development. The analytical methods used were Regional Entropy Analysis, Location Quotient (LQ) Analysis, Shift Share Analysis (SSA), Schallogram Analysis, Data Envelopment Analysis (DEA) and the MCDM-TOPSIS Analysis. The results showed that the rate of economic growth in coastal areas was 72 % of its maximum capacity. The basis of economic sectors of coastal areas in Garut regency is mainly in the primary sectors of agriculture. Secondary sector was the fastest growing sector especially in manufacturing. Hierarchy analysis of rural economic facilities showed that there were only 3 villages or approximately 4.6 % belongs to Hierarchy I as core areas and growth centers. 20 villages or 33.8 % belongs to Hierarchy II and 40 villages or 61.5 % belongs to Hierarchy III. The priority of development areas to push economic growth and equity directed to districts of Mekarmukti, Pakenjeng and Caringin. There are 25 villages directed for developing economic growth centers and 40 villages for hinterland areas. The economic developments were directed to agriculture, manufacturing, trading, hotels and restaurants, electricity, gas and water sectors.Keywords: Garut Regency, economic growth, regional development, coastal areas
PEMETAAN RAWAN BENCANA GEMPA BUMI DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI Mulya, Setyardi Pratika; Suwarno, Yatin
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.203

Abstract

Kepulauan Mentawai termasuk dalam kawasan rawan bencana, diantaranya gempa bumi, tsunami, abrasi pantai dan tanah longsor. Daerah rawan bencana tersebut khususnya gempa bumi dapat dipetakan, sehingga dapat diketahui daerahdaerah mana yang memiliki kerawanan tinggi, sedang atau rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui daerah-daerah mana di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang memiliki kerawanan bencana gempa bumi tinggi, sedang dan rendah. Teknologi GIS dapat digunakan dalam penelitian ini, yaitu dengan melakukan “superimpose” dari beberapa parameter atau sub faktor setelah dilakukan skoring dan pembobotan. Dari hasil pemetaan ini diketahui bahwa wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terdiri dari Pulau Siberut, Pulau Sipora, dan Pulau Pagai Utara dan Selatan, sebagian besar merupakan wilayah dengan kerawanan sedang. Daerah dengan kerawanan rendah terdapat di wilayah pantai barat dan utara bagian barat Pulau Siberut. Adapun wilayah dengan kerawanan tinggi terdapat di sepanjang pantai timur Pulau Pagai Utara dan Selatan, sebagian kecil pantai timur bagian utara Pulau Sipora, dan sebagian kecil pantai timur bagian utara Pulau Siberut.Kata Kunci: pemetaan, rawan bencana, gempa bumi, Kepulauan MentawaiABSTRACTMentawai Archipelago is among the disaster-prone areas, either in the form of tectonic earthquakes, tsunamis, coastal erosion and landslides. The disaster-prone areas, especially earthquakes can be mapped to know the region with high, medium or low susceptibility level. The purpose of this study was to determine the level of susceptibility areas to earthquake in Mentawai Archipelago. GIS technology was used in this research by doing superimpose of some parameters or subfactors after scoring and weighting. The results of this mapping showed that the region of the Mentawai Archipelago which consists of Siberut Island, Sipora Island, and Pagai Island (North and South) were largely fall in medium class of susceptibility. Areas with low susceptibility were at the west coast and north western part of Siberut Island. The areas with high susceptibility were found along the east coast of Pagai Island (North and South), some part at the east coast of northern Sipora Island and a small part at the east coast of north Siberut Island.Keywords: mapping, disaster, earthquake, Mentawai Archipelago
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENILAIAN PROPORSI LUAS LAUT INDONESIA Arifin, Taslim; Ramdhan, Muhammad
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.208

Abstract

Wilayah perairan Indonesia meliputi laut teritorial Indonesia, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman. Laut sebagai komponen wilayah yang utama dari negara kepulauan perlu mendapat perhatian khusus. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografis, termasuk di dalamnya penilaian proporsi laut. Penelitian ini menyajikan aplikasi pengolahan peta digital untuk menghitung luasan suatu wilayah, dengan tujuan memperoleh angka proporsi laut Indonesia. Hasil yang diperoleh adalah proporsi wilayah laut terhadap luas keseluruhan NKRI adalah 76,94 %. Dari keseluruhan laut tersebut yang menjadi kewenangan pusat adalah 78,86 % dan kewenangan daerah adalah 21,14 %.Kata Kunci: SIG, luas laut, proporsi, wilayah NKRIABSTRACTIndonesian waters area includes the Indonesian territorial sea, archipelagic waters, and inland waters. Sea as a major component of the area of the archipelagic nation needs special attention. Geographic Information Systems (GIS) is a system (computer-based) that are used to store and manipulate geographic information, including the proportion of marine assessment. This study presented the application of digital map processing to calculate the area of a region, with the aim of obtaining the proportion of Indonesian sea figures. The result showed the proportion of sea area to the total area of the Republic of Indonesia was 76.94 %. Of the whole sea under the authority of the cental government was 78.86 % and 21.14 % was in the regional government authority.Keywords: GIS, sea area, proportion, Indonesia region

Page 1 of 2 | Total Record : 13