cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
CITRA FORMOSAT-2 UNTUK MEMANTAU PENYEBARAN SUSPENDED SEDIMEN DI PESISIR KABUPATEN PANDEGLANG, PROPINSI BANTEN Anugrahadi, Afiat
GEOMATIKA Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-1.176

Abstract

Selat Sunda memiliki arti penting sebagai lintasan air dari laut tertutup (Laut Jawa) dengan Laut Terbuka (Samudra Indonesia).  Tujuan penelitian untuk mengetahui penyebaran suspended sedimen di pesisir laut Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. Metoda penelitian menggunakan data penginderan jauh dan data insitu. Data citra berupa citra  Formosat-2 multitemporal yang di akuisisi pada bulan Agustus 2007 dan 2008, dilakukan Koreksi Geometrik, Koreksi Radiometrik dan Klasifikasi Terbimbing. Data insituberupa data lapangan dengan penentuan lokasi menggunakan GPS dan analisis konsentrasi sedimen untuk mengetahui proses sedimentasi, didukung oleh data Arus, Gelombang, Arah Angin, dan Bathimetri. Hasil penelitian diketahui bahwa jumlah dan penyebaran TSS (Total Suspended Sediment) di setiap lokasi pengamatan pada tahun 2007 relatif lebih banyak dibandingkan dengan jumlah TSS pada tahun 2008. Kemungkinan disebabkan karena faktor angin yang ditimbulkan relatif lebih kuat yang dapat berpengaruh pada kuat dan arah arus, dan tingginya gelombang, sehingga material sedimennya tertransportasi mengikuti arus dan gelombang yang ditimbulkan oleh angin tersebut. Terlihat bahwa arah penyebarannya relatif ke arah utara, diperkirakan karena faktor dari arah arus pada tahun 2007 relatif ke arah utara.Kata kunci :Selat Sunda, suspended sedimen, citra Formosat-2. ABSTRACTSunda Strait has significance as a water passage from the ocean closed (Java Sea) with open sea (Indian Ocean). The purpose of the study is to determine distribution of suspended sediments in coastal water of Pandeglang, Banten Province. The research method is used satellite remote sensing data and in situ data. Image multitemporal data of Formosat-2, which were acquisition in the August 2007 and 2008, are conducted geometric correction, radiometric correction and supervised classification. Field survey were conducted to determine the location using GPS and measure the sediment concentration  for analyzing sedimentation process that supported by current data, waves, wind direction, and bathymetry. The results showed that the number and distribution of TSS (Total Suspended sediment) at each observation site in 2007, relatively higher than the concentration of TSS in 2008. This may caused by the wind stress which is relatively more powerful in 2007 that can affect the speed and direction of flow and wave speed.Furthermore, the sediment material influenced the direction of currents as well as the waves generated by winds. It also shown that the direction of their spreading relative to the north, presumably because offactors from the current direction in 2007 relative to the north.Keywords :  Selat Sunda, suspended sediment,  Formosat-2 image.
PENGEMBANGAN JARING KONTROL GEODESI PEMANTAU WADUK SERMO Waliyanto, Waliyanto; Widjajanti, Nurrohmat; Yulaikhah, Yulaikhah; Taftazani, M. Iqbal
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.113 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.581

Abstract

Keberadaan Waduk Sermo di Kabupaten Kulonprogo, sangat penting karena manfaatnya sebagai tampungan air bersih, sarana pariwisata dan saluran irigasi untuk lahan pertanian di sekitarnya. Namun demikian banyak juga yang tidak menyadari bahwa di bawah Waduk Sermo terdapat segmen sesar aktif yang memanjang dari Parangtritis ke Kulonprogo. Penelitian ini bermaksud untuk mengembangkan jaring pengamatan yang telah ada sebelumnya menjadi lebih luas cakupannya untuk mengetahui dampak dari adanya sesar aktif tersebut. Penelitian dilaksanakan dengan beberapa tahapan, yaitu: 1) pengembangan kerangka kontrol, dengan menambah tujuh titik (5 makro dan 2 mikro) jaring kontrol baru; 2) pengukuran kerangka kontrol, dengan menggunakan pengamatan GPS/GNSS metode relatif statik di semua titik kontrol sejumlah 15 titik; 3) pengolahan data, dengan menggunakan perangkat lunak GAMIT/GLOBK dan diolah dalam dua skenario terkait penggunaan titik referensi dalam pengolahan. Hasil dari penelitian ini adalah terbangunnya pilar/patok jaring pemantauan baru sebagai pengembangan jaring kontrol pemantauan Waduk Sermo, serta koordinat jaring kontrol hasil olahan dalam dua skenario, yaitu: pada skenario pertama, titik makro memiliki simpangan baku terkecil yaitu 0,004 m pada sumbu Z di titik MAK2. Sedangkan pada titik mikro, simpangan baku terkecil sebesar 0,004 m pada sumbu Z di titik BBR1 dan BMS2. Pada skenario kedua, simpangan baku titik makro terkecil yaitu 0,001 m pada sumbu X di titik MAK1. Sedangkan pada titik mikro, simpangan baku terkecil sebesar 0,005 m pada sumbu Z di titik BMS2. Titik-titik yang sudah dibangun dapat bermanfaat untuk memantau pergerakan bendungan dan secara berkala bisa digunakan untuk memantau aktivitas sesar yang berada di bawah Waduk Sermo.Kata kunci: pengembangan JKG, pemantau Waduk Sermo, teknik GPS/GNSS
Satellite Imageries for Supporting Tourism Development in Indonesia Wati, Sri Eka; Narieswari, Lalitya
GEOMATIKA Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.492 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-1.181

Abstract

Tourism is one of important sectors which support human life. It is basically defined as people’s activities to go to a certain interesting place during leisure time or holiday season. The attractive place offers some benefits to visitors, especially in relation with relaxation purpose. Tourism activities also play a role as one of the potential sectors influencing the development of a certain area and total of local income. In this case, tourism activities significantly affect the increasing of supporting facilities, for instance food stall, cottage, transportation line, etc. Furthermore, the number of visitors directly affects the total of regional income obtained from retribution fee and tax of each tourism object. Based on these reasons, local government tries to promote the existing tourism objects in order to increase both local and national income.Bangka Belitung Islands, one of the provinces in Indonesia, has beautiful scenery which attracts a lot of foreign and domestic tourists. More than 40 interesting places located at six regencies and a city under administrative authority of Bangka Belitung Islands Province offer unforgettable moment. Most of them are natural objects, for instance beach, hot spring water, and lake. Unfortunately, the number of visitors in this area is quite low comparing with other provinces in Indonesia. Thus, this condition requires the improvement of promotion action to attract the national and international visitors.Tourism promotion activities were generally done by developing tourism book, booklet, leaflet, and tourism’s website. The contents were map, photo, and description of tourism object related to location, history, and supporting facilities. In line with the development of Remote Sensing (RS) application, tourism object can be also exposed through satellite imageries. Some satellite imageries covering the area of Bangka Belitung Islands were processed to obtain several enhanced images. Landsat images were processed into composite band of 452, 321, 432, and 542 whereas Quickbird images were presented in natural color. Those processed images were utilized to visualize the present tourism objects in this province whether in terms of location and distribution as well. All information was subsequently presented through a book called Tourism Atlas from Space of Bangka Belitung Islands Province. The book becomes one of the supporting tools to promote tourism objects in this province.Key words: Satellite Imageries, Tourism, Bangka Belitung Islands- IndonesiaABSTRAKPariwisata merupakan salah satu sektor  penting yang mendukung kehidupan manusia. Selain menawarkan relaksasi bagi pengunjung,  kegiatan pariwisatajuga berperansebagaisalah satu sektorpotensialyang mempengaruhi perkembangandaerah tertentu dantotalpendapatan daerah. Jumlah pengunjungsecara langsung mempengaruhitotalpendapatan daerahyang diperoleh dariretribusidan pajakdari setiapobjek wisata. Kepulauan Bangka Belitungmemiliki pemandangan indahyang menarikbanyakwisatawan asingdan domestik. Lebih dari40tempat-tempat menarikyang terletak dienamkabupatendan kotadi bawahadministrasiProvinsi KepulauanBangka. Sayangnya, jumlahpengunjung di daerahini cukup rendahdibandingkandengan provinsi lainnyadi Indonesia. Kondisi initentunya membutuhkanpeningkatanaksipromosiuntuk menarikpengunjungnasional daninternasional.Kegiatanpromosi pariwisataumumnyadilakukan dengan mengembangkanbukupariwisata,buku, leaflet, dansituspariwisata. Isinyapeta,foto,dan deskripsiobyek wisatayang berhubungan dengan lokasi, sejarah, danfasilitas pendukung. Sejalandengan perkembanganaplikasi Penginderaan Jauh, objekwisata juga bisa diekspose menggunakan citra satelit.Beberapacitra satelit(Landsat, Quickbird) meliputi wilayahBangkaBelitungKepulauandiprosesuntuk mendapatkan visualisasi yang lebih baik. Gambar tersebutdiprosesdipergunakan untukmemvisualisasikanobjek-objek wisatayang ada di provinsi inibaik dalamhal lokasidan distribusi.Semua informasikemudiandisajikan melaluibuku berjudulAtlasPariwisatadariRuangProvinsiKepulauan Bangka Belitung. Buku inimenjadisalah satu alatpendukung untukmempromosikanobyek wisatadi provinsi ini.Kata Kunci: Citra Satelit, Pariwisata, Pulau Bangka Belitung -Indonesia
MULTI CRITERIA ANALYSIS FOR PLANNING AND MANAGEMENT OF ECOSYSTEMS IN EASTERN COAST OF BINTAN ISLAND, INDONESIA Prihanto, Yosef
GEOMATIKA Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.576 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-1.4

Abstract

The Eastern Coast of BintanIslandis rich in resources and biodiversity that are potential for tourism commodity. As a coastal area, this area has also risks from environment damages that can degrade its potency and quality. A master plan is much needed to fulfill all interests. In practice the making of a master plan is not a simple process. The different aspects involved between the land and the sea that are bounded by administrative boundary but the ecosystem cannot be bounded in the same way are often found in every parts of coastal area. A method of analysis is developed to combine both land and sea factors into a single figure or scoring system that can be compared one another for the decision making. The use of remote sensing and geographic information technology support the analysis as well as surveys from the local knowledge. Keywords: coatal aea, integration, GIS, remote sensing. ABSTRAK Pantai Timur Bintan merupakan daerah yang kaya akan sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati, yang potensial untuk komoditas pariwisata. Sebagai sebuah pesisir, daerah ini juga beresiko terhadap kerusakan lingkungan yang tentunya menurunkan potensi maupun kualitas lingkungannya. Sebuah master plan harus dibuat untuk memfasilitasi semua pihak yang berkepentingan. Dalam prakteknya hal ini tidaklah sederhana. Aspek-aspek yang berbeda melibatkan daratan dan lautan yang dibatasi oleh batas administrasi, tetapi ekosistem tidaklah demikian. Sebuah cara dikembangkan untuk menggabungkan komponen daratan dan lautan yang dapat dibandingkan satu sama lain dengan metoda skoring untuk pengambilan keputusan. Penggunaan citra satelit dan sistem informasi geografis membantu dalam analisa yang juga didukung dengan survei lapangan menggunakan pengetahuan lokal. Kata kunci: wilayah pesisir, integrasi, SIG, penginderaan jauh
INVESTIGATION OF THE SOLID EARTH TIDE BASED ON GPS OBSERVATION AND SUPERCONDUCTING GRAVIMETER DATA Pahlevi, Arisauna Maulidyan; Prijatna, Kosasih; Meilano, Irwan; Sofian, Ibnu
GEOMATIKA Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1161.416 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-1.488

Abstract

According to Zheng (2006), vertical displacement caused by the solid earth tide often reaches in range 20 cm, and can exceed 30 cm in some stations. To measure solid earth tide we can use satellite system or sensitive gravimeters (Ito et al., 2009). This paper aims to investigate solid earth tide based on Global Positioning System (GPS) data compare with Superconducting Gravimeter (SG) data and solid earth tide global model. Processing GPS data using Kinematic Precise Point Positioning (KPPP) method within a year data from 1st January – 31st December 2011. We use BAKO GPS Permanent station data and Cibinong SG Station data. The location of BAKO station is close to Cibinong SG station, which is about 50 meters. The result of this paper are solid earth tide which is derived from both devices have the same pattern, and it is dominated by semi-diurnal components. Applicability global models with SG observations has smaller residue with standard deviation is 0.0031 mgal, this result is equivalent with 0.0098 meter. Comparison between the results of GPS observations to global models which have a standard deviation residue for vertical component is 0.0360 meters.
Susunan Dewan Redaksi, Daftar Isi, Lembar Abstrak dan Pengantar Redaksi Geomatika 2015, Jurnal Ilmiah
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.132 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.595

Abstract

.
KAJIAN GEOSPASIAL TEMATIK EKOWISATA KABUPATEN BANGLI Handoyo, Sri; Helman, Helman; Riadi, Bambang; Panday, Rorim; Supriyatna, Supriyatna; Syarif, Risa Desiana
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.825 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.186

Abstract

Sebagai salah satu Provinsi di Indonesia, Bali adalah tempat pariwisata yang terkenal di dunia. Begitu terkenal sehingga seringkali mendapat julukan sebagai tempat wisata terbaik di dunia. Pariwisata di wilayah Bali Selatan berkembang pesat, misalnya di Denpasar, Pantai Kuta, Pantai Sanur, Pantai Jimbaran, Tabanan dengan pantai Tanah Lot, Hutan Sangeh, Taman Margarana, dan lain-lain. Sementara itu di wilayah Bali Utara kegiatan pariwisatanya kurang berkembang. Berdasarkan program Pemerintah MP3EI maka Bali Utara perlu dikembangkan sektor pariwisatanya. Bangli (di wilayah Bali Utara) adalah satu-satunya Kabupaten dari sembilan Kabupaten di Provinsi Bali yang tidak memiliki kawasan pariwisata dalam tata ruang wilayahnya. Di lain pihak, Kabupaten Bangli memiliki cukup banyak tempat daya tarik wisata termasuk ekowisata. Daya tarik wisata tersebut antara lain adalah Desa Adat Panglipuran, Pura Kehen, Pura Dalem Jawa (Langgar), Desa Tradisional Bayung Gede, Taman Bali Raja, Agrowisata Kopi Arabika dan Jeruk, Ekowisata Bukit Bangli, Desa Wisata Tamansari, dan Bukit Jati. Pada umumnya metode penelitian dengan tema pariwisata adalah bersifat kualitatif. Namun, dengan kombinasi metode pendekatan geospasial berupa tinjauan tata ruang wilayah, di antaranya tinjauan terhadap fungsi dan peruntukan wilayah dan kawasan, makalah ini menguraikan kajian geospasial tematik pariwisata, dengan berbagai aspek pendukung dan kendalanya, untuk mengetahui potensi dan peluang pengembangan ekowisata di Kabupaten Bangli.Kata Kunci: tata ruang wilayah, geospasial, pariwisata, ekowisata, kabupaten Bangli.ABSTRACTAs one of the provinces in Indonesia, Bali is a famous tourist place in the world. So famous that it is often dubbed as the best tourist attractions in the world. Tourism is rapidly growing in the area of South Bali, for example in Denpasar, Kuta Beach, Sanur Beach, Jimbaran Beach, Tabanan with its Tanah Lot, Sangeh Forests, Parks of Margarana, and others. Meanwhile in the region of North Bali tourism activities are underdeveloped. Under the government program MP3EI the North Bali tourism sector should be developed. Bangli (in the North Bali area) is the only regency of the nine regencies in the province of Bali that do not have any tourist area in the spatial region. On the other hand, Bangli regency has enough places including eco-tourism attractions. The attractions include the traditional village Panglipuran, Kehen Pura, Pura Dalem Java (a small mosque), Gede Bayung Traditional Village, Bali Taman Raja, Agro Arabica Coffee and Oranges, Bukit Bangli Ecotourism, Tourism Village Tamansari, and Bukit Jati. In general, the theme of tourism research method is qualitative in nature. However, the combination of geospatial approach to the spatial form of review, including review of the functions and allocation of territories and regions, this paper describes the study of geospatial thematic tourism, with the various aspects of support and barriers, to find out the potential and opportunities of tourism development in the Regency of Bangli.Keywords: regional spatial planning, geospatial, tourism, ecotourism, Bangli regency
PERENCANAAN DAN PENYELESAIAN MASALAH INFRASTRUKTUR PERKOTAAN MELALUI INTEGRASI SIG KOLABORATIF DAN SIG PARTISIPASI PUBLIK Aditya, Trias
GEOMATIKA Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.923 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-1.9

Abstract

In the development of city infrastructure, a bottom up concept has been done through government projects. In this relation, participative mapping or geographic information system (GIS) is one of strategies that can be used to support the aspiration and the need of society for the infrastructure development. This research is aimed at looking the potency and challenge in the application of GIS to support the bottom-up or top-down processes in decision making for planning and determining the priority in the development of infrastructure. A scenario and application interfaces have been developed so that the efficiency and effectiveness in receiving the society aspiration as the source of data for decision making in the development of the infrastructure can be facilitated. Scenario and interface that have been produced received positive responses from the decision makers of the technical institutions and municipality government. Keywords:GIS, participative mapping, infrastructure development. ABSTRAKDalam pembangunan infrastruktur perkotaan, konsep pendekatan bottom-up sudah dilaksananakan melalui proyek-proyek pemerintah. Dalam kaitan ini, teknik pemetaan partisipatif atau sistem informasi geografis (SIG) partisipatif merupakan salah satu strategi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses penyerapan aspirasi dan kebutuhan komunitas masyarakat akan pembangunan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi dan tantangan penerapan teknologi SIG untuk mendukung proses bottom-up maupun proses top-down dari pengambil keputusan dalam merencana dan menentukan skala prioritas pembangunan infrastruktur. Sebuah skenario dan purwarupa aplikasi pemetaan partisipatif dikembangkan agar efisiensi dan efektivitas penyerapan aspirasi masyarakat sebagai sumber data pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pemutusan masalah infrastruktur dapat terfasilitasi. Skenario dan purwarupa yang dihasilkan mendapat respon positif dari pengambil keputusan instansi teknis dan pemerintah kota. Kata kunci: SIG, pemetaan partisipatif, pembangunan infrastruktur.
PENGGUNAAN KINEMATIK GNSS PRECISE POINT POSITIONING (PPP) PADA SURVEI GAYABERAT AIRBORNE SULAWESI Hartanto, Prayudha
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.016 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.638

Abstract

                                                              ABSTRAKMetode Precise Point Positioning (PPP) adalah metode penentuan posisi teliti yang hanya menggunakan sebuah receiver GNSS dual frekuensi. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan posisi teliti objek-objek yang diam (static) maupun bergerak (kinematic). Pada penelitian ini, akan dipaparkan mengenai penggunaan kinematik PPP dalam penentuan posisi pesawat terbang pada survei gayaberat airborne di Sulawesi tahun 2008. Data yang digunakan adalah jalur terbang pesawat pada day of year (DOY) 291 dan 274. Perangkat lunak yang digunakan adalah Waypoint® Grafnav. Hasil pengolahan menggunakan metode PPP tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil pengolahan data Diferensial GPS (DGPS) dengan 1 titik ikat untuk DOY 291 dan 2 titik ikat untuk DOY 274. Hasil perbandingan pada DOY 291 menunjukkan nilai RMS untuk arah timur, utara dan tinggi masing-masing sebesar 0,024 m; 0,020 m dan 0,039 m. Pada DOY 274, RMS yang diperoleh adalah 0,032 m; 0,011 m dan 0,058 m masing-masing untuk arah timur, utara dan tinggi. Hasil-hasil tersebut mengindikasikan bahwa metode PPP dapat digunakan untuk menentukan posisi pesawat terbang dengan fraksi ketelitian sentimeter. Tingkat ketelitian posisi ini sudah memenuhi syarat untuk digunakan pada survei gayaberat airborne.Kata kunci: GNSS, kinematik PPP, gayaberat airborne, DGPS                                                                 ABSTRACTThe Precise Point Positioning (PPP) is a positioning method which only use a dual frequency GNSS receiver. This method can be used to determine the precise position of either static (static) or moving objects (kinematic). In this paper, we will discuss the application of kinematic PPP for the 2008 Sulawesi airborne gravity survey. By using a commercial GNSS processing software called Waypoint® Grafnav, we determine the PPP solutions for the aircraft trajectory of the day of year (DOY) 291 and 274. Each solution then be compared to the Differential GPS (DGPS) results, which use one base station for DOY 291 and two reference stations for DOY 274. The PPP solution of DOY 291 gives RMS error of 0.024 m eastward, 0.020 m northward, and 0.039 m upward. Moreover, the comparison of DOY 274 gives RMS error of 0.032 m eastward, 0.011 m northward, and 0.058 m upward. These centimeter level RMS errors show that PPP is a compatible positioning method for airborne gravity survey.Keywords: GNSS, kinematic PPP, airborne gravity, DGPS
INDEKS FRAGMENTASI SPASIAL DAN DAMPAK TERHADAP EKOSISTEM LAHAN BASAH DI SURABAYA DAN SEKITARNYA Suprajaka, Suprajaka
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3786.148 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-1.191

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fragmentasi spasial akibat perkembangan permukiman pada ekosistem lahan basah. Tujuan utama penelitian ini adalah: (1) mengevaluasi komposisi dan konfigurasi pemanfaatan lahan basah secara spasial berdasarkan data geospasial multi-temporal di Surabaya dan sekitarnya, (2) mengevaluasi fragmentasi spasial sebagai akibat dari bentuk, struktur dan pola pemanfaatan lahan basah di Surabaya dan sekitarnya, (3) menyusun konsep model data dan model visual fragmentasi spasial lahan basah di Surabaya dan sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metoda eksploratif berdasarkan data geospasial dari berbagai sumber, baik berupa data analog maupun digital secara multi-temporal dan multi-resolusi. Data geospasial yang ada dikelompokkan menjadi 4 periode: (a) sebelum 1965, (b) antara 1965-1985, (c) antara 1985-2005 dan (d) setelah 2005. Prinsip dasar dalam penerapan metoda penelitian eksploratif melalui “image mining” dengan teknik “morfo-spasio-kuantitatif” untuk memahami komposisi dan konfigurasi dari pola konversi pada ekosistem lahan basah. Penelitian ini dilaksanakan pada ekosistem lahan basah dengan tiga satuan bentuklahan yaitu fluvial (F), fluvio-marin (FM) dan marin (M) dan tiga batas administrasi yaitu Gresik, Surabaya dan Sidoarjo. Hasil utama dari penelitian ini adalah bahwa konversi lahan basah untuk permukiman di Surabaya dan sekitarnya telah mengakibatkan fragmentasi spasial.Kata Kunci: Citra Multi Temporal, Bentuklahan, EkosistemLahan Basah, Perkembangan Permukiman,  Fragmentasi Spasial ABSTRACTThis study aims to describe spatial fragmentation due to residential development on wetland ecosystems. The main objectives of this study are: (1) to spatiallyevaluate the composition and configuration of the use of wetland based on multi-temporal geospatial data, (2) evaluate wetland spatial fragmentation as a result of changes in shape, structure, and pattern of wetlands usage in Surabaya and its surroundings, (3) conceptualize data and visual model of wetlands spatial fragmentation. The research was conducted on wetland ecosystems with three landform units i.e. fluvial (F), fluvio-marine (FM) and marine (M) in three different administrative regions i.e. Gresik, Surabaya, and Sidoarjo.  This study  deployed exploratory method of geospatial data from various sources both in analog and digital form of multi-temporal and multi-resolution. Those geospatial data were grouped into four time periods: (a) before 1965, (b) between 1965-1985, (c) between1985-2005, and (d) after 2005.  A basic principle in this exploratory research  wasthe usage of “image mining” using "morpho-spasio-quantitative" technique through detection, identification, and measurement of land use dynamic as basis to analyze the composition and configuration of wetland ecosystems conversion pattern. The results of the conversion pattern analysis of wetland ecosystems were used to describe the form and spatial fragmentation of the man-made wetlands ecosystems.Key Words:Multi-Temporal Images, Wetland Ecosystem, Settlement Development, Spatial Fragmentation

Page 3 of 26 | Total Record : 251