cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
IMPLIKASI OTONOMI DAERAH TERHADAP PERUBAHAN LAHAN BERDASARKAN DATA PENGINDERAAN JAUH Susantoro, Tri Muji
GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-1.14

Abstract

Regional development in the era of autonomy have implications for land use change, primarily related to natural resource management and settlement development. In the case study in Samarinda and surrounding areas using Landsat 7 ETM + year 2001 and ASTER Year 2009 obtained data on large enough of land use change in the plantation, mining and settlements as well as an increase in sport facilities with the construction of two stadiums. The plantation have the addition of wide around 16.950,30 hectares. The addition of plantation is caused by the opening oil palm plantations that converts the forest, bareland and shrubs. Settlements is increasing widely from the existing locations. Coal mining is increasing after regional autonomy. The location of coal concession (KP) and Coal Contracts of Works (PKP2B) are spreading around the city of Samarinda. Based on the interpretation of Landsat 7 ETM + of year 2001, the wide of coal mining area is 6.256,82 hectares and in the year 2009 based on ASTER interpretation was increased to 17.221,60 hectares or increased about 10.964,86 hectares. Water body such as lakes, dams or slicks in the year 2001 have an area about 524.69 hectares and in the year 2009 increased 364.09 hectares. Water body in Landsat imagery in year 2001 which located at the coal mining area about 373.27 hectares. The open mining of coal is making many slicks of ex-mining location. Despitfully, the landscape changes and the possibility of erosion that can make the river more shallow and the collapse of the slope at ex-mining areas.Keywords: Landsat 7ETM+, ASTER, regional Autonomy, Coal mining, Wide change.ABSTRAKPerkembangan daerah pada era otonomi mempunyai implikasi terhadap perubahan lahan, terutama terkait dengan pengelolaan sumber daya alam dan perkembangan permukiman. Pada studi kasus di Kota Samarinda dan sekitarnya dengan menggunakan Citra Landsat 7ETM+ Tahun 2001 dan ASTER Tahun 2009 diperoleh data mengenai perubahan lahan yang cukup besar di sektor perkebunan, pertambangan dan permukiman serta adanya peningkatan fasilitas olahraga dengan dibangunnya dua stadion. Perkebunan mengalami penambahan luas mencapai 16,950.30 Ha yaitu dengan dibukanya perkebunan kelapa sawit yang mengkonversi hutan, tanah terbuka dan semak belukar. Permukiman mengalami penambahan luas yang berkembang dari lokasi yang sudah ada. Pertambangan batubara semakin meningkat dengan adanya otonomi daerah. Lokasi Kuasa Pertambangan (KP) dan PKP2B batubara menyebar di mengelilingi kota Samarinda. Berdasarkan interpretasi citra landsat 7ETM+, pada tahun 2001 tambang batubara existing seluas 6.256,82 hektar, sedangkan pada tahun 2009 berdasarkan citra ASTER bertambah menjadi 17.221,69 hektar atau bertambah sekitar 10.964,86 hektar. Tubuh air berupa danau, waduk atau genangan pada tahun 2001 mempunyai luas 524.69 hektar dan pada tahun 2009 bertambah 364.09 hektar menjadi 888.78 hektar. Tubuh air pada citra landsat tahun 2001 yang berada di lokasi tambang batubara seluas 373.27 Hektar. Adanya penambangan batubara yang bersifat terbuka maka meninggalkan banyak bekas tambang yang berubah menjadi genangan air. Disamping perubahan bentang alam dan kemungkinan erosi yang dapat menyebabkan pendangkalan sungai serta keruntuhan lereng pada daerah bekas pertambanganKata Kunci: Landsat 7ETM+, ASTER, Otonomi Daerah, Pertambangan Batubara, Perubahan Luas.
THE RECONSTRUCTION OF SPATIAL DATA CREATION PROCESS AND ITS USABILITY IN INDONESIAN NATIONAL SPATIAL DATA INFRASTRUCTURE Hari Ginardi, R. V.
GEOMATIKA Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-2.19

Abstract

With the usage of metadata as a reference for spatial data query, remote sensing images and other spatial datasets have been linked to their related semantic information. In the current catalogue systems, like those on satellite data provides, or clearinghouses, each remote sensing image is maintained as an independent entity. There is a very limited possibility to know the linkage of one dataset to another, even if one dataset has actually been derived from the other. It is an advantage for many purposes if the linkage among remote sensing image or other spatial data can be maintained or reconstructed. Within a collection of spatial datasets, processing steps are extracted from dataset metadata, and reconstructed using a directed acyclic graph (DAG) structure. By using an adjacency list to organize all adjacencies in the graph, a complete processing step for each dataset can be tracked in two directions: source datasets and destination (created) datasets. With the help of this reconstruction, an approach to evaluate the relatedness of a pair of dataset is introduced.The output of this research leads to an improvement of spatial data organization, where an adjacency list is used to maintain spatial dataset history link. This improvement can enhance the query of spatial data in a catalogue system, and enables dataset grouping or classification based on the relatedness of the dataset. For a decision support system, the list of the usage of each dataset can be applied for quality assessment or may serve as one parameter to evaluate the productivity of each dataset in a collection. Keywords : spatial data clearinghouse, metadata, relatedness, history reconstruction ABSTRAK Informasi tentang proses pembuatan suatu data spasial dapat direkam dalam metadata. Informasi tersebut kemudian direkonstruksi dengan memanfaatkan struktur data directed acyclic graph (DAG) , dan dengan menggunakan adjacency-list untuk mengimplementasikan seluruh relasi yang ada pada graph tersebut, seluruh langkah-langkah proses yang melibatkan suatu dataset baik sebagai sumber maupun target dapat direkonstruksi. Dengan bantuan rekonstruksi ini dimungkinkan untuk mengevaluasi keterkaitan (relatedness) satu dataset terhadap dataset lainnya. Riset ini memberikan perbaikan metoda dalam pengorganisasian spasial data, khususnya dalam mengelola runtutan proses pembuatan masing-masing dataset. Dengan menerapkan metoda ini, layanan query pada katalog system dapat makin dikembangkan dengan kemampuan mengevaluasi seluruh rangkaian proses pembuatan dataset, serta memungkinkan pengelompokan koleksi berdasarkan keterkaitannya dalam pembuatan dataset lainnya. Salah satu contoh pemanfaatan  lainnya adalah dalam pengawasan kualitas koleksi data spasial serta pengukuran produktifitas koleksi data spasial. Kata Kunci : spatial data clearinghouse, metadata, relatedness, rekonstruksi.
KENAIKAN MUKA AIR LAUT PERAIRAN SUMATERA BARAT BERDASARKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-2 Khasanah, Isna Uswatun
GEOMATIKA Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1415.851 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-1.623

Abstract

The phenomenon of the sea level rise caused by many factors, one of which is global warming. Coastal areas are most vulnerable regions affected by sea level rise. Therefore, the information of sea level rise are used as consideration and policy-making on development plans for coastal areas like in West Sumatera Waters. The aims of this research are to identify the quality of Satelit Altimetry Jason-2 Data in West Sumatera Waters and to analysis the information of sea level rise of West Sumatera sea based on satelit altimetry Jason-2 data. Sea Level Rise in West Sumatera Water are identified by several steps, begin with collecting satellite altimetry Jason-2 data from 2008 to 2015 years. Then extraction Sea Surface Height (SSH) value of  binary GDR data from Jason-2 by post processing to eliminate the geophysic errors, furthermore extraction undulation geoid value and calculating the Sea Level Anomaly (SLA) value. To identify the sea level rise value used linear regression analysis on the SLA data.  The results of this research shown the existence of satellite altimetry Jason-2 data is 92.91%. The mean sea level rise in West Sumatera Waters during th period 8 year is 6.88 mm, and mean sea level rise of West Sumatera sea is 0.86 mm/year.
PENGARUH RESOLUSI SPASIAL PADA CITRA PENGINDERAAN JAUH TERHADAP KETELITIAN PEMETAAN PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN WONOSOBO Murti, Sigit Heru
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1413.214 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-1.196

Abstract

Untuk menunjang pengembangan sektor pertanian di Indonesia, data tentang luas dan sebaran lahan pertanian secara spasial merupakan informasi yang sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan dan ketelitian citra penginderaan jauh multisensor dan multiresolusi untuk memetakan lahan pertanian di sebagian wilayah Kabupaten Wonosobo dengan pendekatan ekologi bentanglahan. Pemilihan daerah kajian didasari olehkondisi topografi yang bervariasi dengan ukuran lahan pertanian yang tidak begitu luas.Data penginderaan jauh yang digunakan dalam penelitian ini adalah : (a) citra Landsat ETM+ yang direkam tanggal 21 Agustus 2002, (b) citra Terra ASTER VNIR yang direkam tanggal 29 September 2003, dan (c) citra ALOS AVNIR-2 dengan tanggal perekaman 29 September 2006. Penggunaan ketiga citra tersebut mempertimbangan perbedaan resolusi spasial  ketiganya. Metode pemetaan penggunaan lahan pertanian yang digunakan adalah klasifikasi multispektral terselia yang diintegrasikan dengan pendekatan ekologi bentanglahan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketelitian citra untuk interpretasi penggunaan lahan pertanian di daerah penelitian adalah: (a) ketelitian Landsat ETM+ 89,30%, (b) ketelitian ASTER VNIR 91,49%, dan (c) ketelitian ALOS AVNIR-2 adalah 93,62%. Pengaruh resolusi spasial terhadap ketelitian interpretasi sangat besar, ditunjukkan dengan semakin tinggi resolusi spasial citra, semakin tinggi pula ketelitian hasil interpretasinya, yang berujung pada semakin tinggi ketelitian pemetaannya.Kata kunci :  penginderaan jauh, multisensor, multiresolusi, ketelitian interpretasi, pemetaan lahan pertanianABSTRACTIn the effective management and development of Indonesian agricultural sector, information about the distribution of agricultural land in spatial context becomes critical. The aim of this research was to understand the capability and accuracy of remote sensing data at various spatial resolutions to map agricultural land in some part of Wonosobo Regency based on landscape ecological approach. Wonosobo was selected as the study area due its topographic variation and not-so-vast agricultural area. Remote sensing data used in this research were Landsat 7 ETM+ acquired on 21st August 2001, ASTER VNIR acquired on 29th September 2003, and ALOS AVNIR-2 recorded on 29th September 2006. The spatial resolutions of the three images became the basis of the image selection.  Maximum likelihood classification was integrated with landscape ecology approach to perform the mapping. Moreover, we also incorporated several spatial data such as topographic map (RBI) and field survey data to improve mapping process. The results showed that better spatial resolution delivered better map accuracy. It was shown by the accuracy assessment of agricultural land map derived from ALOS AVNIR-2 which reached 93.62%. ALOS’s results outperformed Landsat 7 ETM+ and ASTER with only 89.3% and 91.49% accuracy respectively. The results of this research highlighted the benefit of having higher spatial resolution for agricultural land mapping.Keywords: remote sensing, spatial resolution, accuracy assessment, agricultural
IMPLEMENTATION OF NSDI FOR DISASTER RISK MANAGEMENT IN INDONESIA : CASE STUDY ACEH PROVINCE Widjojo, Suharto; Darmawan, Mulyanto
GEOMATIKA Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-2.24

Abstract

The Occurrence of the earthquake and tsunami on Sunday December 26, 2004 in the Province of Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), the most western part of Indonesia, has been aware of Indonesian government that most part of their region are also prone area from earthquake and tsunami disasters. Long before, Central for Atlas of BAKOSURTANAL has shown an initiative toward providing easy access to geospatial data in a national context. The initiative was the development of national atlases, presenting the geographical information of a country in great detail and concise manner pertaining to the physical, culture and economical. This initiative was actually also to promote disaster awareness and provision of emergency aid in national level. However this is not the case, or at least not yet, Therefore, there was a significant confusion and concerns on the ground from international and local volunteer about Geospatial data during emergency response in 2005 in Aceh. The absence and difficulties in access to geospatial data were reason to the public an awareness of spatial information and access sharing during the disaster at the time. As of this, the idea of building a national and public infrastructure for accessing geospatial data has been discussed through the development of a national spatial data Infrastructure (NSDI). Therefore, provision of geospatial data and information to support disaster risk analysis is a step forward in the provision of multi hazard maps. This paper reviews the efforts made by BAKOSURTANAL in building NDSI for Disaster Risk Management support, based on geospatial team experience directly deployed in the field during the rehabilitation and reconstruction Aceh after the disaster. Keywords:  Geospatial data, National atlas, NSDI,  Disaster Risk Analysis schema scema  ABSTRAK Pasca Terjadinya gempa dan tsunami pada Minggu, 26 Desember Tahun 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), bagian paling barat Indonesia, telah menyadarkan  Pemerintah Indonesia bahwa sebagian besar wilayahnya merupakan daerah rawan gempa dan bencana tsunami. Jauh sebelumnya BAKOSURTANAL telah menunjukkan inisiatif untuk menyediakan akses mudah ke data geospasial dalam konteks nasional dengan pengembangan atlas nasional yang menyajikan informasi geografis suatu negara dengan  rinci dan  ringkas berkaitan dengan budaya, fisik dan ekonomis. Inisiatif ini  akan bermanfaat pula untuk meningkatkan kesadaran tentang bencana dan penyediaan bantuan darurat di tingkat nasional. Karena atlas nasional tersebut belum selesai pada saat terjadinya bencana Aceh, ada kebingungan dan kekhawatiran di lokasi bencana dari relawan internasional maupun lokal tentang data Geospasial pada saat tanggap darurat pada tahun 2005 di Aceh.Sehingga muncul gagasan untuk membangun infrastruktur yang mampu mengakses data geospasial dan hal tersebut telah dibahas melalui pengembangan Infrastruktur Data spasial nasional (IDSN).Oleh karena itu, penyediaan data dan informasi geospasial untuk mendukung analisis risiko bencana adalah langkah maju dalam penyediaan peta rawan multi bencana. Tulisan ini membahas upaya yang dilakukan oleh BAKOSURTANAL dalam membangun IDSN untuk memberi dukungan terhadap Manajemen Risiko Bencana berdasarkan pengalaman tim geospasial yang langsung ditempatkan di lapangan selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh setelah bencana. Kata Kunci: Data Geospasial, Atlas Nasional, IDSN,  Skema Analisis Risiko Bencana
Front Cover GEOMATIKA Vol. 22 No. 2 geomatika, redaksi
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.618 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.753

Abstract

APPLICATION OF REMOTE SENSING FOR SUSPENDED SEDIMENT MAPPING IN PORONG RIVER Pahlevi, Arisauna M.
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.198 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.201

Abstract

Porong River is a branch of Brantas river which its downstream is border to Sidoarjo and Pasuruan towns. Since the occurrence of hot mud volcano overflow in Sidoarjo, Porong River has role of draining the sediment into Madura Strait. This paper discusses the concentration of suspended sediment in the Porong River, especially Porong River Estuary, using remote sensing methods. Sedimentation that can be observed by remote sensing method is suspended sediment. The determination of suspended sediment was by changing radians values into reflectance values, then used a variety of algorithms to determine the value of the suspended sediment. The data used in this research was a medium-resolution satellite image data, ASTER image year 2005 to 2008. The algorithm used was developed by Budhiman (2004). The result of data processing and analysis of suspended sediments obtained that suspended sediment in Porong River during the period of 2005 and 2006 were dominated by sediment class 50 - ≤ 100 mg/l, while in 2008 were dominated by class of >200 mg/l.Keywords: Porong River, suspended sediment, remote sensing, ASTER, Budhiman AlgorithmABSTRAKSungai Porong adalah cabang dari Sungai Brantas yang hilirnya merupakan perbatasan Kabupaten Sidoarjo dan Kota Pasuruan. Sejak terjadinya luapan lumpur panas di Sidoarjo, Sungai Porong memiliki peran menguras sedimen ke Selat Madura. Dalam makalah ini akan dibahas konsentrasi sedimen tersuspensi di Sungai Porong, terutama pada bagian estuari atau muara dari Sungai Porong dengan menggunakan metode penginderaan jauh. Sedimentasi yang dapat diamati dengan metode penginderaan jauh adalah sedimen terlarut atau tersuspensi. Penentuan sedimen tersuspensi dilakukan dengan mengubah nilai radian menjadi nilai reflektansi, kemudian menggunakan berbagai algoritma untuk menentukan nilai dari sedimen tersuspensi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data citra satelit resolusi menengah, yaitu citra ASTER perekaman tahun 2005 sampai 2008. Adapun algoritma yang digunakan adalah algoritma yang dikembangkan oleh Budhiman (2004). Dari pengolahan data dan analisis sedimen tersuspensi diperoleh bahwa di Sungai Porong pada tahun 2005 dan 2006 didominasi oleh sedimen kelas 50 - ≤ 100 mg/l, sedangkan pada Tahun 2008 didominasi oleh kelas > 200 mg/l.Kata Kunci: Sungai Porong, sedimen tersuspensi, penginderaan jauh, ASTER, Algoritma Budhiman
PENGARUH VARIASI MAGNITUD GEMPA TERHADAP WAKTU TEMPUH PENJALARAN GELOMBANG DAN ZONASI DAERAH RAWAN TSUNAMI – STUDI KASUS: KOTA PADANG Oktaviani, Nadya; Basith, Abdul; Kongko, Widjo
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.29

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah dengan potensi rawan tsunami. Hal ini dikarenakan posisi wilayah Indonesia berada tepat pada pertemuan 3 lempeng besar dunia yang senantiasa selalu bergerak. Sebagai contoh adalah tsunami Aceh 26 Desember 2004 yang merupakan kejadian tsunami terbesar yang pernah terjadi. Dampak dari kejadian tsunami tersebut juga melanda beberapa wilayah lainnya, yakni Srilanka, India, Thailand, dan negara-negara di Afrika Selatan. Oleh karena itu, mitigasi bencana tsunami diperlukan untuk mengurangi dampak dari kejadian bencana tersebut. Kota Padang adalah salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki risiko besar terhadap bahaya tsunami. Berdasarkan catatan sejarah, tsunami pernah melanda Kota Padang dengan ketinggian gelombang 5-10 meter pada tahun 1797 dan 1833. Berbagai penelitian dilakukan untuk mensimulasikan prediksi gempa yang disertai tsunami tersebut. Salah satunya menggunakan model numerik tsunami yakni TUNAMI N3. Pemodelan menggunakan model numerik dinilai lebih dinamis dan pemodelan dapat disesuaikan dengan nilai keluaran yang diharapkan sesuai dengan data masukan yang disiapkan. Dari hasil pemodelan numerik tsunami dapat diketahui kaitan antara magnitud gempa dan waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami mencapai daratan. Parameter ini sangat penting diketahui untuk tujuan mitigasi bencana.Kata kunci: gempa, waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami, landaan, TUNAMI N3ABSTRACT     Indonesia is vulnerable to tsunami. This is caused by location of Indonesia that located on the three major plates that always moving constantly. For example the tsunami in Aceh on December 26, 2004 is the largest tsunami events. The impact of the tsunami that also hit several other regions, namely Sri Lanka, India, Thailand, and other countries in South Africa. Therefore, the tsunami disaster mitigation is required to reduce the impact of the disaster event. Padang city is one of the regions in Indonesia which has a higher risk of tsunami hazard. Based on historical records, the tsunami had hit the city of Padang with a wave height of 5-10 meters in 1797 and 1833. Various studies conduct to simulate earthquake and prediction of tsunami. One of them using the tsunami numerical method is TUNAMI N3. Model using numerical method is considered  dynamic in modeling. From the results of numerical modeling of tsunami can be known relation between the magnitude of the earthquake and travel time wave propagation tsunami. This parameter is very important to know for the purpose of disaster mitigation.Keyword: earthquake, tsunami, inundation, TUNAMI N3
PENILAIAN SPASIAL SEBARAN PENDUDUK MISKIN DI PROVINSI JAWA BARAT Riadi, Bambang
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.206

Abstract

Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Salah satu aspek penting untuk mendukung strategi penanggulangan kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki posisi mereka serta dapat disajikan informasinya secara spasial. Untuk mengukur kemiskinan, Badan Pusat Statistik menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic need approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Minimnya jaringan jalan dan topografi yang berelief menjadikan Jawa Barat Bagian Selatan memiliki indikasi paling banyak penduduk miskin dibandingkan Jawa Barat Bagian Tengah dan Jawa Barat Bagian Utara. Terbukanya isolasi dengan dibangunnya infrastruktur jaringan jalan yang menghubungkan beberapa wilayah pesisir di Jawa Barat Bagian Selatan pada Tahun 2011 memiliki andil yang kuat terhadap menurunnya persentase penduduk miskin. Penduduk miskin di Jawa Barat Tahun 2009 mencapai 13,09% dan pada tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 10,98%.Kata Kunci : kemiskinan, integrasi data, korelasi, pendidikan, indikatorABSTRACTPoverty is one of fundamental problems that become a central attention of government in any countries. One important aspect to support poverty reduction strategies is the availability of accurate data on poverty and target. Good poverty data can be used to evaluate government policies on poverty, comparing poverty across time and regions, as well as determining the target of the poor people with the aim to improve their position and presented in spatial information. To measure the poverty, BPS uses a concept of ability to meet basic needs (basic need approach). With this approach, poverty is seen as an economic inability to meet the basic needs of food and non-food as measured from expenditure. The poor are people who have an average monthly per capita expenditure below poverty line. The lack of road network and topography made southern part of West Java region was indicated to have most poor people compared to central and northern parts of West Java. The construction of road infrastructure network that connected several coastal areas in the southern part of West Java in 2011 opened the area‟s insulation and contributed strongly to the declining of the percentage of poor people. The poor people in West Java in 2009 reached 13.09%, while in 2011 decreased to 10.98%.Keywords: poverty, data integration, correlation, education, indicator
GARIS PANTAI DALAM PETA LINGKUNGAN PANTAI INDONESIA Trismadi, Trismadi
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.34

Abstract

Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) merupakan peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah pesisir. Peta LPI mencakup sebagian daratan yang datanya diperoleh dari peta rupabumi yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah darat dan sebagian lautan. Hal yang paling penting dan mendasar pada peta LPI adalah garis pantai. Garis pantai menjadi krusial, karena obyek ini memiliki karakteristik berbeda apabila ditinjau dari produk awalnya. Pada peta darat (topographic map) garis pantai menggunakan referensi tinggi muka laut rata-rata (mean sea level, MSL), namun pada peta laut (nautical chart) referensinya adalah garis air tinggi (high water level, HWL). Oleh karena itu pada peta LPI dengan skala yang lebih besar menuntut pelaksanaan pengumpulan data melalui survei hidrografi sesuai standar yang disyaratkan. Survei hidrografi pada kawasan pantai memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, karena dinamika laut yang sangat bervariasi, mulai dari kondisi pantai yang landai hingga curam, dan adanya gelombang dan arus yang semakin membuat dinamisnya suatu kawasan pantai. Metode survei hidrografi yang diterapkan pada kawasan pantai harus diterapkan mulai dari yang konvensional hingga yang canggih, seperti Multibeam Echosounder, Light Detection and Ranging (LIDAR), hingga pemanfaatan citra satelit menggunakan Bathymetry Assessment System. Pada hakekatnya Peta LPI digunakan untuk kepentingan perencanaan pembangunan suatu kawasan, khususnya pesisir yang akan dikembangkan peruntukannya.Kata kunci: Peta LPI, pesisir, garis pantai, survei hidrografi ABSTRACT Coastal Environment Map (ICE map) is a basic map that provides information specifically for coastal areas. ICE map coversmost of the land for which data is obtained from the map of the earth in such a basic map that gives specific information for land and sea portion of the map data is derived from nautical chart. The most important and fundamental to the ICE map is coastline. The coastline becomes crucial, because this object has different characteristics when viewed from the initial product. On the topographic map, coastline using the reference shoreline sea level on average (mean sea level, MSL), buton the nautical chart it referred to the high water level (HWL). Therefore the ICE map with a larger scale requires implementation of data collection through happropriate hydrographic survey standards required. Hydrographic surveys in coastal areas have a high degree of difficulty, due to the highly variable ocean dynamics. Hydrographic survey method is applied to the coastal region should be applied from the conventional to the sophisticated ones, such as Multibeam Echosounder, Light Detection and Ranging (LIDAR), to the used of satellite imagery using Bathymetry Assessment System (BAS). In essence ICE Map is used for the benefit of a regional development plan, which will be developed in particular coastal designation.Keywords : ICE Map, coastal area, coastline, hydrographic survey

Page 4 of 26 | Total Record : 251