cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
STUDI PENERAPAN MODEL KOREKSI BEDA TINGGI METODE TRIGONOMETRI PADA TITIK-TITIK JARING PEMANTAU VERTIKAL CANDI BOROBUDUR DENGAN TOTAL STATION Rosalina, Githa Eka
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.48 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.480

Abstract

Pengukuran beda tinggi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu beda tinggi dengan menggunakan Sipat Datar dan beda tinggi menggunakan Total Station atau biasa disebut dengan beda tinggi metode Trigonometri. Pengukuran beda tinggi dengan Sipat Datar lebih teliti dibandingkan dengan metode Trigonometri. Hal ini dikarenakan ketelitian beda tinggi dengan Total Station bergantung pada besaran-besaran yang harus diukur, seperti ketelitian hasil ukuran sudut vertikal, jarak, tinggi instrumen dan tinggi reflektor. Melalui penelitian ini, diharapkan kedepannya pengukuran beda tinggi dengan Total Station dapat menghasilkan beda tinggi dengan ketelitian yang mendekati dengan pengukuran dengan Sipat Datar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penerapan model koreksi beda tinggi metode Trigomometri yaitu y = 0,000126x+0,0014 terhadap ketelitian penentuan tinggi yang dihasilkan, dengan mengambil kasus jaring pemantau stabilitas Candi Borobudur. Penilitian dilakukan dengan menggunakan data jaring vertikal Sipat Datar Leica SPRINTER-100 Candi Borobudur tahun 2011 dan data jaring vertikal Total Station Nikon DTM-322 Candi Borobudur tahun 2012. Pada jaring vertikal Total Station diberikan model koreksi y= 0,000126x+0,0014. Data diproses menggunakan hitung perataan kuadrat terkecil dengan metode parameter terkendala minimal. Pengujian untuk analisis hasil dilakukan dengan menggunakan Uji Fisher dan Uji-t dengan tingkat kepercayaan 95%. Proses pengujian dilakukan pada varian masing-masing data yang dihasilkan, kemudian dilakukan pengujian tinggi titik yang diestimasi untuk melihat hasil penentuan tinggi dengan Total Station yang dibandingkan dengan Sipat Datar. Hasil dari penerapan model koreksi beda tinggi pada jaring vertikal Total Station Nikon DTM-322 ini bersifat sistematis. Dalam penelitian ini model koreksi tersebut tidak secara signifikan memberikan perubahan pada ketelitian pengukuran tersebut.Kata kunci: jaring vertikal Candi Borobudur, model koreksi beda tinggi, ketelitian tinggiABSTRACTMeasurement of height differences can be obtained by two approaches, that is leveling and trigonometric methods using Total Station. The levelling method is more accurate than trigonometric because the accuracy depends on the precision of the vertical angle, distance, instrument’s height and reflector’s height data. In the future, the Total Station measurements expected could provide the accuracy of height differences approach the levelling. This research aims to find out the impact of giving the height difference model corrections using Trigonometric method, that is y = 0,000126x + 0,0014 to the precision and accuracy of the height determination using Total Station at Borobudur vertical monitoring network. Data used in this research are leveling data using Leica SPRINTER-100 of Borobudur network in 2011 and trigonometric leveling data using Nikon DTM-322 Total Station in 2012. Correction Model y = 0,000126x + 0,0014 was given height data of Borobudur network in 2012. The data was processed using least square adjustment with minimum constraint. Statistic test to analyze the result provides using Fisher and student t-test with 95% level of confidence. The test was done in each varian data, then the height test estimation conducted to find the Total Station measurement result compared by levelling. Evaluation result indicated that giving correction using model to height differences measured by TS Nikon DTM-322 can not improve the measurements accuracy, because the correction is systematic evaluation.In this study, the correction model is not significantly change in the measurement accuracy.Keywords: vertical network Borobudur Temple, correction model of height difference, height accuracy 
MODEL SPASIAL DAMPAK PENURUNAN MUKA TANAH DAN GENANGAN PASANG AIR LAUT (ROB) DI WILAYAH PESISIR JAKARTA Yulianto, Fajar; Marfai, Muh Aris
GEOMATIKA Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1128.835 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-1.177

Abstract

Tidal inundation (rob) distribution and calculation of area impact on land use has been conducted by using prediction of land subsidence spatial model. Model  is generated by using moving average inverse distance interpolation in high point map to achieved Digital Elevation Model (DEM) prediction in 2010, 2015 and 2020. Rob inundation is made using iteration function of neighborhood operation in data of DEM raster. The result of accuracy and reliability of the model are 51% and 73%, respectively. The impact of rob inundation is based on overlay rob inundation model of land use from interpretation image SPOT-4, that shows trend to increase year to year.Key word: Land subsidence, tidal inundation, iteration neighborhood operation, GIS, and remote sensing   ABSTRAK Telah dilakukan pemodelan spasial prediksi land subsidence, distribusi genangan pasang air laut (rob) dan perhitungan luas dampak rob terhadap penggunaan lahan. Model dibuat menggunakan interpolasi moving average inverse distance pada data titik tinggi yang diformulasikan untuk mendapatkan prediksi Digital Elevation Model (DEM) pada tahun 2010, 2015 dan 2020. Model genangan rob dibuat menggunakan fungsi iterasi operasi neighborhood yang diterapkan pada data raster DEM. Hasil analisis dari akurasi dan reliabilitas masing-masing sebesar 51% dan 73%. Luas dampak genangan rob diperhitungkan berdasarkan overlay model genangan rob terhadap penggunaan lahan hasil interpretasi Citra SPOT-4, yang menunjukkan kecenderungan semakin meningkat dari tahun ke tahun.      Kata Kunci: Land subsidence, genangan pasang air laut (rob), iterasi operasi neighborhood, SIG dan penginderaan jauh
POTENTIAL NATIONAL SPATIAL DATA INFRASTRUCTURE (NSDI) AND VOLUNTEREED GEOGRAPHIC INFORMATION (VGI) INTEGRATION TO ACHIEVE SEAMLESS-UPDATING-RELIABLE SPATIAL PLANNING INFORMATION FROM NATIONAL THROUGH LOCAL GOVERNANCE LEVEL IN INDONESIA Yudono, Adipandang
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.971 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.582

Abstract

This paper focuses on the role of National Spatial Data Infrastructure (NSDI) in relation to spatial planning formulation in Indonesia. The reason for selecting this topic is the fragmented manner of spatial data distribution amongst the Indonesian government institutions responsible for spatial planning at present. Thus, spatial planning conflicts at different levels (e.g. province and municipality) or at similar levels (e.g. regency or municipality) often occur. Furthermore, a lack of spatial data management in spatial planning has led to the state spending considerable sums each year to produce, process and use geographic data. Moreover, owing to a rather convoluted bureaucracy, crossjurisdictional organisational circumstances have added a delicate political situation to accessing spatial data. Hence, this research considers the issue of moving towards a consensus on sharing fundamental geospatial datasets to meet the public interest and geospatial standardization to achieve the geospatial information integration amongst government institutions and private agencies in national geospatial information provider. In addition, a traditional NSDI application using top-down approach has raised several issues, for instance lack of up-to-date geospatial information. Which is this issue may overcome by engaging bottom-up Volunteered Geographic Information (VGI) approach. Practically, most of NSDI scholars have limited understanding to what extent NSDI may accommodate a bottom-up VGI in terms of national/state spatial data management. Therefore, to fill knowledge gap, this study will finding out the possibility NSDI in accommodating VGI process and mechanism pertain national spatial data management and support accelerating geospatial information implementation for spatial planning purposes.Keywords: NSDI, Spatial planning, VGI, Geospatial InformationABSTRAKMakalah ini berfokus pada peran Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) dalam kaitannya dengan perumusan perencanaan tata ruang di Indonesia. Alasan untuk memilih topik ini adalah cara distribusi data spasial yang terfragmentasi di antara lembaga-lembaga pemerintah Indonesia yang bertanggung jawab untuk perencanaan tata ruang saat ini. Dengan demikian, konflik perencanaan tata ruang pada tingkat yang berbeda (misalnya provinsi dan kabupaten) atau pada tingkat yang sama (misalnya kabupaten atau kota) sering terjadi. Selain itu, kurangnya manajemen data spasial dalam perencanaan tata ruang telah menyebabkan pengeluaran negara dalam jumlah yang cukup besar setiap tahun untuk memproduksi, memproses dan menggunakan data geografis. Selain itu, karena birokrasi yang agak berbelit-belit, keadaan organisasi lintas yurisdiksi telah menambahkan secara halus situasi politik untuk mengakses data spasial. Oleh karena itu, penelitian ini menganggap isu bergerak menuju konsensus tentang berbagi dataset geospasial dasar untuk memenuhi kepentingan publik dan standarisasi geospasial untuk mencapai integrasi informasi geospasial di antara lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga swasta dalam penyediaan informasi geospasial nasional. Selain itu, aplikasi tradisional IDSN menggunakan pendekatan top-down telah mengangkat beberapa isu, misalnya kurangnya informasi geospasial yang up-to-date. Yang merupakan masalah ini dapat diatasi dengan pendekatan Volunteered Geographic Information (VGI) secara bottom-up. Secara praktis, sebagian besar ahli IDSN memiliki pemahaman yang terbatas sejauh mana IDSN dapat mengakomodasi pendekatan bottom-up VGI dalam hal pengelolaan data spasial nasional. Oleh karena itu, untuk mengisi kesenjangan pengetahuan ini, penelitian ini akan mencari tahu kemungkinan IDSN dalam mengakomodasi proses VGI dan mekanisme yang berhubungan dengan pengelolaan data spasial nasional dan dukungan percepatan implementasi informasi geospasial untuk tujuan perencanaan tata ruang.Kata kunci: IDSN, perencanaan Tata Ruang, VGI, Informasi Geospasial
ANALISIS RUANG TERBUKA HIJAU JAKARTA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT ALOS PALSAR POLARISASI GANDA Nindita, Wida; Trisasongko, Bambang H; Panuju, Dyah R
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.918 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.182

Abstract

Sebagai salah satu wilayah perkotaan utama di Indonesia, Jakarta memerlukan ruang terbuka hijau. Keberadaan lahan ruang terbuka hijau sangat penting dalam sistem perkotaan karena berperan sebagai penyangga lingkungan. Namun demikian, wilayah ini sering diabaikan karena pembangunan gedung-gedung yang menunjang aktivitas perkotaan memberikan lebih banyak manfaat secara komersial. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme pemantauan lahan ruang terbuka hijau di Jakarta. Pada penelitian ini, pemantauan ruang terbuka hijau dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit ALOS PALSAR, utamanya dengan analisis data polarisasi ganda. Analisis ini memungkinkan ekstraksi informasi lebih detil dibandingkan dengan analisis polarisasi tunggal. Data polarisasi ganda juga saat ini merupakan jenis data yang banyak disediakan oleh vendor data. Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa tutupan lahan penting pada wilayah perkotaan seperti ruang terbuka hijau berkayu, ruang terbuka hijau pertanian, badan air, permukiman dan permukaan non vegetatif (beraspal atau beton) lainnya dapat dipisahkan dengan cukup baik.Kata kunci: polarisasi ganda, ruang terbuka hijau, Jakarta IndonesiaABSTRACTAs one of the major urban areas in Indonesia, Jakarta needs green open space. The presence of green open space is very important in an urban system because it acts as a buffer for urban environment. However, the region is often overlooked as building construction  to support urban activities can provide more benefit. Therefore, a mechanism to monitorgreen open space in Jakarta is necessary. In this study, monitoring of green open space was done by using ALOS PALSAR satellite images, mainly using dual polarization data analysis. This analysis enables the extraction of more detailed information than the single polarization analysis. Besides that, data vendors also provide dual polarization more than the single. This study shows that some important land cover in urban areas such as woody green open space, agricultural green open, water bodies, residential and non-vegetative surface (asphalt or concrete) can be well separated.Keywords: dual polarization, green open space, jakarta Indonesia
POTENSI PEMANFAATAN TEKNOLOGI DIFFERENTIAL INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR (D-INSAR) BERBASIS SATELIT UNTUK PEMANTAUAN PENURUNAN MUKA TANAH DI CEKUNGAN BANDUNG Syafiudin, Moh. Fifik; Chatterjee, R.S.
GEOMATIKA Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-1.5

Abstract

Among the various space-borne techniques available to-date for measuring ground deformation, Differential Interferometric SAR (D-InSAR) is considered to be the most efficient technique for measuring spatially-continuous ground deformation. In this work, satellite-based D-InSAR technique has been employed to identify the areas affected by land subsidence and to measure precisely the rate of land subsidence in order to prepare a spatially continuous land subsidence map during the 1990s (1994-1995) and 2000s (2004-2008). The precision and feasibility of D-InSAR technique is largely controlled by the quality of InSAR data pairs and wavelength of the SAR signal. In this work, JERS-1 and ALOS PALSAR L-band data, and ENVISAT ASAR C-band data were used for InSAR processing. SRTM 30m resolution DEM of the study area has been used for topographic phase compensation for generating the differential interferograms.Keywords: Differential SAR Interferometry (D-InSAR), Land subsidence, Piezometry, Groundwater Extraction ABSTRAK Diantara berbagai metode pemantauan deformasi permukaan tanah yang ada hingga saat ini, Differential Interferometric SAR (D-InSAR) merupakan metode yang paling efisien untuk pemantauan deformasi permukaan tanah secara kontinyu. Dalam penelitian ini, metode D-InSAR berbasis satelit digunakan untuk mengidentifikasi daerah yang terkena dampak penurunan muka tanah dan untuk mengukur secara teliti besarnya penurunan muka tanah dalam rangka menyiapkan peta penurunan muka tanah secara kontinyu pada periode 1990an (1994-1995) dan 2000an (2004-2008). Ketelitian dan kenampakan visual hasil dari metode D-InSAR sangat ditentukan oleh kualitas dari pasangan citra InSAR dan panjang gelombang sensornya. Dalam penelitian ini, data L-band (JERS-1 dan ALOS PALSAR) dan C-band (ENVISAT ASAR) digunakan untuk pengolahan data InSAR. DEM SRTM dengan resolusi 30 meter digunakan untuk menghilangkan unsur topografi selama proses pengolahan differential interferogram.
DEVELOPING OF TRIGRS (TRANSIENT RAINFALL INFILTRATION AND GRID-BASED REGIONAL SLOPE–STABILITY ANALYSIS) INTO TRIGRS MAP FOR LANDSLIDE SUSCEPTIBILITY MAPPING Yunarto, Yunarto
GEOMATIKA Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1496.127 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-1.569

Abstract

ABSTRACTTRIGRS is a modeling program for slope stability against the occurrence of landslide and pore water pressure changes due to infiltration of rainfall. There are two problems in TRIGRS operation. Firstly, whole data must have no mistake before being executed in TRIGRS. Secondly, TRIGRS is not completed by spatial visualization based on Geographic Information System (GIS), so it needs GIS e.g. MapInfo, ArcGIS, and ILWIS to visualize its result. The purpose of this paper is present the result of development of TRIGRS MAP by using integrated mapping technique between MapInfo and Visual Basic. Implementation of TRIGRS MAP for Bandung Regency area has generated a landslide susceptibility map of the area. By using TRIGRS MAP, user can avoid a mistake in data initialization and directly visualize its result as a map. Thus, TRIGRS MAP can be used to process data from other area for creating the landslide susceptibility map more easily and efficiently 
ANOMALI SINYAL SEBELUM GEMPABUMI SIGNIFIKAN DI INDONESIA YANG TERDETEKSI OLEH SUPERCONDUCTING GRAVIMETER Priyambada, Fajar Rachmadi; Yusuf, Mahmud; Variandy, Ervan Dany
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1239.863 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.491

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara yang memiliki aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Pada studi ini dilakukan penelitian tentang perubahan nilai gravity selama gempabumi terjadi dengan menggunakan Superconducting Gravimeter (SG) yang terpasang di Badan Informasi Geospasial (BIG). Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari anomali yang terekam oleh SG sesaat sebelum gempabumi tersebut terjadi. Metode yang digunakan adalah analisis spektogram dari data SG selama tahun 2011 didapatkan 17 gempabumi signifikan yang mempunyai Mw > 6. Hasil penelitian menunjukkan anomali sinyal beberapa jam sebelum kejadian gempabumi terjadi. Anomali tersebut terdapat pada frekuensi 0.03 Hz hingga 0.20 Hz, frekuensi ini berkorelasi dengan akumulasi stress dari nukleasi gempa utama. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa SG mampu merekam sinyal gempabumi dengan cukup baik. Tingkat sensitifitas dan kestabilan SG yang sangat baik, dapat dimanfaatkan sebagai pendukung dalam memonitor adanya gempabumi, dan prekursor gempabumi. ABSTRACTIndonesia is one of the most country which had high level of seismic activities. In this study we had research about gravity change’s value during earthquakes by using Superconducting Gravimeter (SG) which installed on Badan Informasi Geospasial, Cibinong. Superconducting Gravimeter is the most sensitive instrument to measure gravity change’s continuously in low frequencies. This research purposed to found anomaly that recorded by SG before an earthquake happened. During 2011, we found significantly earthquakes with Mw > 6. Using spectrogram analysis, we got signal anomaly few hours before earthquake happened. Frequencies of anomaly are between 0.03 Hz up to 0.20 Hz,  this frequencies are correlated with stress accumulation of nucleation mainshock. We concluded Superconducting Gravimeter can be use for supporting research about earthquake early warning system. Sensitivity and stability are so good and can be able to support monitoring earthquakes, and earthquake’s precursor. 
KRITERIA PENENTUAN TELUK MENURUT UNITED NATION CONVENTIONS ON THE LAW OF THE SEA Ramdhan, Muhammad
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.187

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki teluk yang sangat banyak. Teluk sebagai suatu estuaria tertutup memiliki peran strategis sebagai salah satu sumberdaya ekologi dan layanan lingkungan. Paper ini mencoba menyajikan kriteria penentuan teluk menurut UNCLOS, dengan aplikasi langsung untuk wilayah Bungus Teluk Kabung-Kota Padang. Menurut UNCLOS definisi teluk adalah bentukan laut yang menjorok ke arah daratan dengan luas area yang lebih besar daripada luasan setengah lingkaran berdiameter mulut lekukan di teluk tersebut. Hasil menunjukkan bahwa peta RBI produk dari Bakosurtanal belum sepenuhnya mengacu pada kriteria teluk yang disyaratkan oleh UNCLOS.Kata Kunci: UNCLOS, kategori teluk, konvensi hukum lautABSTRACTIndonesia as an archipelagic country has many bays. As an enclosed estuary, a bay area has strategic role as a source of ecological resources and other environmental services. This paper triesto present a criteria to consider an area as abay under UNCLOS, with direct application to Bungus Teluk Kabung in Padang city. According to the UNCLOS definition, abay area is a marine formation that protrudes toward the mainland and larger than the semi-circle curvature area diameter at the bay mouth. The findings show that the bay area in Topographic Maps from Bakosurtanal has not been fully refers to the criteria required by UNCLOS.Keywords: UNCLOS, bay area, conventions on the law of the sea
ASSESSMENT OF THE RICE FIELD SUSTAINABILITY IN JAVA ON BASIS OF REGIONAL SPATIAL USE PLANNING (RTRW) Nurwadjedi, Nurwadjedi; Mulyanto, Budi; Poniman, Aris
GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.946 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-1.10

Abstract

The problems of the rice field sustainability in Java as the national rice producer are induced by the rice field land conversion into settlement and industrial areas due to the increase of population. The rice field conversion causes the decrease of both land quantity and quality. As mentioned in Act Number 26/2007 concerning Spatial Use management, the goal of implementing the spatial use management is to achieve the protection of spatial use function and the prevention of the negative impacts of the environment resulted from the spatial use implementation. The objective of this study is to assess the consistency of the governmental policies in implementing the Act Number 26/2007 to achieve the rice field sustainability on the basis of agro-ecological concept. By using the GIS modelbase, the rice field agro-ecological zones proposed as standard rice field areas for the benchmark of the sustainable rice field agriculture management system were synthesized from the spatial database of land system, land cover, area status, agro-climate, irrigation condition, social and culture integrated in the administration boundary layers. The results show that the governmental policies from non-agricultural sector in allocating the area status of the settlement areas as presented at the provincial regional spatial use planning map (RTRW map) have not fully consistent to the regulations as stated in Act Number 26/2007 for protecting the productive rice field function as the national rice producer. The potential loss of the rice production caused by the implementation of the rice field conversion into settlement areas allocated at the productive rice field agro-ecological zones is predicted 3.5 million tons per year.Key words: rice field agro-ecological zone, spatial use management, GIS modelbase, land conversion.ABSTRAKMasalah keberlanjutan lahan sawah di Jawa sebagai lumbung beras nasional dipicu oleh konversi lahan sawah menjadi daerah permukiman dan industri karena peningkatan jumlah penduduk. Konversi lahan sawah mengakibatkan penyusutan dan degradasi lahan sawah. Sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang No.26/2007 tentang Penataan Ruang, tujuan penataan ruang adalah untuk melindungi fungsi penggunaan ruang dan mencegah dampak lingkungan sebagai akibat dari implementasi penggunaan ruang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji konsistensi kebijakan pemerintah sebagai implementasi Undang-Undang No. 26/2007 dalam menjaga keberlanjutan lahan sawah berdasarkan konsep agrokologi. Dengan menggunakan basismodel SIG, zona agroekologi yang diusulkan sebagai acuan untuk penetapan luasan baku lahan sawah disintesa dari basisdata sistem lahan, penutup lahan, status kawasan, agroklimat, kondisi irigasi, dan sosial-budaya yang diintegrasikan dalam layer batas wilayah administrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah di sektor non-pertanian dalam pengalokasian status kawasan permukiman ternyata tidak secara penuh konsisten dengan Undang-Undang No.26/2007 dalam menjaga keberlanjutan lahan sawah produkif sebagai lumbung beras nasional. Potensi kerugian proudksi beras dari akibat implementasi kebijakan tersebut diperkirakan mencapai 3,5 juta ton per tahun.Kata Kunci: zona agroekologi lahan sawah, penataan ruang, basismodel SIG, konversi lahan.
SPATIAL DISTRIBUTION OF SURFACE SALINITY AND TEMPERATURE IN BREBES SEAWATER USING SPATIAL ANALYSIS TOOLS – INVERSE DISTANCE WEIGHTED : ITS EFFECTS ON THE OTHER WATER QUALITY PARAMETERS Gemilang, Wisnu Arya; Wisha, Ulung Jantama
GEOMATIKA Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.075 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-1.614

Abstract

ABSTRACTThe coast of Brebes is an important area for fishing activities. Along the coast of Brebes, there are mangrove conservation areas which part of green belt development program of Java Northern Coast. The purpose of this study was to determine the influence of salinity and temperature to the water quality conditions by employing a spatial analysis method. The measurement of water quality conducted by employing purposive sampling method. The sampling data was taken in the same time of 1 tide condition which forecasted before. The data were analyzed statistically and spatially using inverse distance weighted analysis. Temperature values ranged from 29.4 to 31.8 °C, conductivity ranged from 3.53 – 4.71 S.m-1 with, pH ranged from 8.04 to 8.52, DO ranged from 3.18 to 6.57 mg.L-1, salinity ranged between 22.9 – 32.8 ‰, the value of salinity, temperature, and water quality parameters showed that the distribution is not uniform. It is influenced by the physical dynamics of sea water, which has an severe impact on the environment changes. Salinity and temperature have an impact to conductivity and DO variability but they are not affect the pH value. DO and pH value is higher than the previous research in Brebes waters.Keywords: brebes, coastal, spatial analysis, water quality ABSTRAKPesisir Brebes merupakan kawasan yang penting bagi aktivitas perikanan. Disepanjang pantai Brebes terdapat kawasan konservasi mangrove yang merupakan program pembangunan kawasan sabuk hijau Pantai Utara Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh salinitas dan temperature terhadap kondisi kualitas perairan dengan menggunakan analisis spasial. Pengukuran sampel air dilakukan dengan metode purposive sampling, pengambilan data berdasarkan peramalan pasang surut. Analisa data dilakukan secara statistic dan spasial dengan menggunakan analisa inverse distance weighted. Nilai suhu berkisar antara 29.8 – 31.8°C, konduktivitas berkisar antara 3.53 – 4.71 S.m-1, pH berkisar antara 8,52 – 8,04, DO berkisar antara 3.18 – 6.57 mg.L-1, salinitas berkisar antara 22.9 – 32.8 ‰. Nilai dari salinitas, temperature dan parameter kualitas perairan menunjukkan bahwa sebaran konsentrasinya tidak merata yang dipengaruhi oleh dinamika fisis air laut dan keberadaan sungai-sungai utama yang berdampak pada perubahan lingkungan. Salinitas dan temperature memiliki dampak terhadap variasi konduktivitas dan DO, namun tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai pH. DO dan pH mengalami peningkatan konsentrasi bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya di perairan Brebes.Kata Kunci: analisis spasial, brebes, kualitas air, pesisir, pencemaran

Page 6 of 26 | Total Record : 251