cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
KAJIAN DAMPAK LAND SUBSIDENCE TERHADAP PENINGKATAN LUAS GENANGAN ROB DI KOTA SEMARANG Suhelmi, IR
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2797.36 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-1.192

Abstract

Topografi peisisir Semarang datar berkisar antara 0-2% dengan sebagian luas wilayahnya hampir sama tingginya dengan permukaan laut dan bahkan di beberapa tempat di bawahnya. Berbagai masalah lingkungan yang dihadapi oleh Semarang terkait dengan dinamika pesisir dan laut, antara lain adalah masalah genangan pasang surut, subsiden, dan banjir di musim hujan. Penelitian ini dilakukan untuk memodelkan lokasi yang rentan terhadap penggenangan akibat adanya subsiden. Pengolahan data titik ketinggian, garis contour dan subsiden menggunakan Geographic Information System (GIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Semarang memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap genangan akibat land subsiden. Hal ini dapat dilihat dari indikasi luas wilayah tergenang meningkat dari 2162.5 Ha (5.6%) menjadi 3.896.3 Ha (10.1%) pada 10 tahun yang akan datang. Model genangan ini berperan penting dalam pengelolaan pesisir dalam jangka panjang.Kata Kunci : Penurunan Tanah, Model Elevasi Digital, Genangan Rob ABSTRACTSemarang coastal topography is flat, with slope percentage around 0-2%. Most area is almost the same as height as the sea level and in some places are lower. Various environmental problems faced by Semarang related by sea and coastal dinamics are tidal inundation, land subsidence, and floods during rainy season. This study  was conducted to model the area that is vulnerable to inundation caused by subsidence. The data of spot height, countour line and the rate of subsidence were analyzed by using Geographic Information System (GIS). The results showed that the Semarang coastal had a high level of vulnerability to inundated area. This condition can be seen from the indications of the extent area affected by tidal inundation from 2162.5 Ha (5.6%) to 3.896.3 Ha (10.1%) during 10 years. Tidal inundation increased intensively and spread along with the increase of subsidence. The modeling of the inundated area due to land subsidence plays an important role in long-term coastal zone management. Keywords: Land Subsidence, Digital Elevation Model (DEM), Tidal Inundation
LINEAR FEATURE EXTRACTION FROM FORMOSAT-2 IMAGE FOR TOPOGRAPHIC MAP UPDATE Wijanarto, Antonius B; Rahadian, Yusuf
GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-1.15

Abstract

Aerial or satellite remote sensing is rapidly being applied to map updating, and in other regions, most map series have been partly or fully digitized. It is important to update maps because nowadays, many countries face problems in relation to outdated topographic maps. In this paper FORMOSAT-2 images used as reference. This is based on the consideration that the image of FORMOSAT-2 has a high resolution, so that is expected to provide more accurate information than the previous RBI map. The aim of this work is to extract linear features such as road and river from FORMOSAT-2 image for topographic map updating.Keywords: Topographic Map, Map Update, FORMOSAT-2 Image.ABSTRAKPenginderaan jauh maupun foto udara telah diaplikasikan dengan cepat untuk pemuktahiran peta, dan di daerah lain kebanyakan peta-peta serial sebagian atau secara menyeluruh digitasi. Penting untuk memuktahirkan peta karena akhr-akhir ini banyak negara menghadapi maslah terutama dengan pemuktahiran peta topografi. Makalah ini membahas citra FORMOSAT-2 yang mempunyai resolusi tinggi, yang diharapkan dapat menyediakan informasi yang lebih akurat dari pada peta topografi sebelumnya. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah mengekstrak fitur linear seperti jalan dan sungai dari citra FORMOSAT-2 untuk pemuktahiran peta topografi.Kata kunci: Peta topografi, pemuktahiran peta, FORMOSAT-2
ANALISIS KOEFISIEN NILAI HAMBURAN BALIK OBYEK PENUTUP LAHAN PADA DATA DIGITAL ALOS PALSAR BERPOLARISASI GANDA(HH dan HV) DI SEBAGIAN JAKARTA DAN TANGERANG Prawira, Devara; Jatmiko, Retnadi Heru
GEOMATIKA Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.203 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-2.20

Abstract

Analisis obyek pada citra SAR polarimetri secara digital umumnya menggunakan nilai koefisien hamburan balik. Nilai Koefisien hamburan balik (σ°) merupakan nilai hasil dari interaksi dua parameter yaitu parameter radar dan parameter medan. Kendala yang sering terjadi pada sistem SAR polarimetri adalah obyek-obyek yang berbeda nampak sama pada citra, maupun sebaliknya. Nilai koefisien hamburan balik dari berbagai obyek penutup lahan, dapat menjadi salah satu pemecah masalah ini. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi nilai hamburan balik obyek penutup lahan pada polarisasi yang berbeda yaitu polarisasi sejajar (HH) dan menyilang (HV), serta pengaruhnya yang ditimbulkan terhadap akurasi klasifikasi.Masing-masing citra polarisasi (HH dan HV) yang DN nya sudah dikalibrasi menjadi nilai koefisien hamburan balik akan diidentifikasi nilainya dan kemudian di plot ke dalam grafik. Kemudian citra polarisasi tersebut diklasifikasi berdasarkan kelas penutup lahan sederhana  dengan klasifikasi tak terselia dan diuji akurasinya. Hasil dari penelitian ini berupa grafik dan uji akurasi serta analisis mengenai hubungan pengaruh kondisi nilai koefisien hamburan balik pada kedua polarisasi (HH dan HV) terhadap akurasi klasifikasi penutup lahannya.Kecenderungan nilai koefisien hamburan balik yang dihasilkan menunjukan bahwa di polarisasi HH nilai koefisien hamburan balik lebih tinggi dibandingkan dengan polarisasi HV pada setiap kelas penutup lahan. Namun akurasi klasifikasi polarisasi HV dengan akurasi total 64.06% lebih baik daripada polarisasi HH dengan nilai 59.38%. Hal ini terjadi kemungkinan disebabkan oleh tingkat kekontrasan (julat) nilai koefisien hamburan balik yang tinggi pada setiap kelas penutup lahan pada polarisasi HV dibandingkan pada polarisasi HH.Kata Kunci: Koefisien Hamburan Balik, Polarisasi, Parameter Radar, Parameter medan, Penutup LahanABSTRACTObject analysis on digital SAR polarimetry image usually using backscatter coefficient value. Backscatter coefficient value (σ°) is a representation value of an interaction of two parameters; which are radar parameter and terrain parameter. Constrain that often occured on SAR system is that different objects seem to look similar on the image, or the other way. Backscatter coefficient value from various land cover objects can be the problem solver. The aim of this research was to explore the land cover backscattering value on different polarisation that is Co-polarisation (HH) and Cross-polarisation (HV), also the arise effects on classification accuracy.The the backscatter coefficient of each polarisation images (HH and HV) in which the DN has been calibrated, will be identified and then plotted into the charts. Then the polarization image will be classified based on simple land cover with unsupervised classification and accuracy testing. The results are charts and accuracy test and also the analysis of connection between backscatter coefficient influence on both polarisation (HH and HV) against land cover classification accuracy.Result of the backscatter coefficient value trend have shown that on HH polarisation the value is higher than HV polarisation on each land cover classes. However, classification accuracy on HV polarization with overall accuracy 64.06% is better than HH polarisation with overall accuracy 59.38%. This probably is caused by high contrast level (range) of backscatter coefficient in each land cover classes on polarization HV compared on HH polarisation.Keywords: Backscatter Coefficient, Polarization, Radar Parameter, Terrain Parameter, Land Cover
Front Cover GEOMATIKA Vol. 23 NO. 1 geomatika, redaksi
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.77 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-1.736

Abstract

Preface GEOMATIKA Vol. 22 No. 2 geomatika, redaksi
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.51 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.754

Abstract

PEMBUATAN MODEL ELEVASI DIGITAL DARI STEREOPLOTTING INTERAKTIF FOTO UDARA FORMAT SEDANG DENGAN KAMERA DIGICAM Pranadita, Sekar; Harintaka, Harintaka
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.202

Abstract

Saat ini, teknologi fotogrametri telah berubah menjadi sistem “full digital”, dimulai dari akuisisi data hingga pengolahan akhir. Fotogrametri adalah teknik untuk memproduksi berbagai data spasial, seperti data orthophoto dan Digital Elevation Model (DEM). DEM dapat dihasilkan dengan stereoplotting interaktif atau secara otomatis. Keuntungan penggunaan stereoplotting interaktif adalah diperoleh data 3D dengan akurasi tinggi serta obyek-obyek yang diinginkan. Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji tingkat akurasi data DEM yang diekstrak dari Foto Udara Format Medium (FUFM) dengan metode interaktif stereoplotting. Penelitian ini memanfaatkan “digicam” digital kamera untuk akuisisi foto dan perangkat lunak DAT/EM Summit Evolution software untuk pengolahan data foto. Lokasi penelitian adalah di sekitar Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang relatif datar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perbedaan ketinggian antara stereoplotting interaktif dan pengukuran LiDAR adalah 0,876 m. Perbedaan ketinggian minimum dan maksimum adalah 0,005 m dan 2,915 m. Penelitian ini memanfaatkan 113 titik uji yang terletak di seluruh Kampus UGM.Kata Kunci: DEM, Foto Udara Format Medium, interaktif stereoplotting, akurasi tinggiABSTRACTCurrently, fotogrammetry technology has been transformed into fully digital system, started in data acquisition until final processing. Fotogrammetry is well known in producing various spatial data, such as orthophoto and Digital Elevation Model (DEM). DEM can be generated by using interactive or automatic stereoplotting procedure. The most advantages of applying an interactive stereoplotting is that the 3D data and desired objects can be obtained in high accuracy. This paper examined the accuracy of DEM data extracted from medium format aerial photo (FUFM) by interactive stereoplotting method. This research utilized “digicam” digital camera for aerial photo acquisition and DAT/EM Summit Evolution software for processing the aerial photos. The research area was located at around Universitas Gadjah Mada Campus, Yogyakarta which has a relatively flat terrain. The results showed that average elevation discrepancy between interactive stereoplotting and LiDAR measurement was 0.876 meters. The minimum and maximum elavation discrepancies were 0.005 meters and 2.915 meters, respectively. This study utilized 113 test points located arround UGM Campus.Keywords: DEM, Medium Format Aerial Photo, interactive stereoplotting, high accuracy
EKSTRAKSI POSISI 3 DIMENSI DARI PANORAMA SFERIS DENGAN TEKNIK ORIENTASI RELATIF MENGGUNAKAN ALGORITMA 8 TITIK Hidayat, Husnul; Hariyanto, Teguh; Cahyono, Agung Budi
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.30

Abstract

Perkembangan pesat dunia optik dan fotografi memungkinkan terciptanya jenis foto yang sebelumnya mustahil untuk dibuat. Salah satunya adalah panorama sferis dengan medan pandang tidak terbatas yang mampu merekam banyak data dari segala penjuru hanya dengan sedikit gambar. Tulisan ini memaparkan bagaimana informasi posisi 3 dimensi dapat diperoleh dari panorama sferis. Secara khusus tulisan ini membahas proses orientasi relatif pada 2 foto panorama sehingga memungkinkan ekstraksi posisi 3 dimensi tanpa bantuan titik kontrol pada objek. Sebagai percobaan digunakan 2 buah foto panorama yang diambil di Kampus ITS. Foto berukuran 16000x8000 piksel dibuat dengan teknik image stitching. Proses orientasi relatif dilakukan menggunakan algoritma 8 titik. Untuk menguji validitas orientasi relatif, posisi dan orientasi panorama yang dihasilkan kemudian digunakan untuk merekonstruksi model 3D dari objek-objek yang tampak pada foto. Hasil pengujian menunjukkan bahwa parameter posisi dan orientasi yang dihasilkan masih dalam sistem koordinat lokal. Hal ini disebabkan tidak dilibatkannya koordinat 3D titik kontrol pada objek yang diamati. Terlepas dari sistem koordinatnya yang masih bersifat lokal, parameter posisi dan orientasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk menentukan posisi dan merekonstruksi bentuk 3D objek-objek sekeliling yang tampak pada foto. Analisis lanjutan menunjukkan bahwa kesalahan reproyeksi titik terbesar adalah 3.2 piksel dan yang terkecil adalah 0.00007 piksel. Sedangkan rata-rata kesalahan reproyeksi yaitu 0.6 piksel. Tentu kesalahan reproyeksi ini melampaui ukuran ketelitian 1 piksel pada foto. Dapat dikatakan bahwa model matematik yang digunakan dapat diterapkan untuk kasus orientasi relatif tersebut dan ekstraksi posisi 3D dari 2 foto panorama dapat dilakukan dengan baik.Kata Kunci : posisi 3 dimensi, panorama sferis, orientasi relatif, algoritma 8 titikABSTRACTFast developments in optics and photography enable people to create many images which were impossible to create. One of these images is spherical panorama with unlimited field of view, which can record much data all around only in few images. This paper presents how to extract 3D position from spherical panorama. Specifically, it explains the relative orientation process between 2 panoramas. This enables the extraction of 3D position of any object without any control points on the object. As experimental data, 2 panoramas taken at ITS Campus were used. The 16000x8000-pixel panoramas were created using image stitching technique. Then, the relative orientation process was done using 8-point algorithm. To validate relative orientation, the extracted position and orientation of panoramas were used for 3D-positioning and reconstruction of the visible objects on the panoramas. The results show that the position and orientation of panoramas are in local coordinate system because no control points on the object which were employed. Despite of their local coordinate system, the position and orientation parameters can be used to reconstruct 3D shapes and position of many objects all around. Further analysis shows that the biggest reprojection error is 3.2 pixels and the smallest value is 0.00007 pixels. The mean of reprojection error is 0.6 pixels, which obviously beyond the 1-pixel accuracy of photo coordinate measurement. It can be stated that the employed mathematical models can be applied for relative orientation and the extraction of 3D position from 2 panoramas can be done well.Keywords : 3D position, spherical panorama, relative orientation, 8-point algorithm
ANALISIS PERKEMBANGAN EKONOMI WILAYAH UNTUK ARAHAN PEMBANGUNAN KECAMATAN DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN GARUT Sudarya, Dudu; Sitorus, Santun R.P.; Firdaus, Muhammad
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.786 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.207

Abstract

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir Kabupaten Garut, perlu dilakukan penelitian terhadap potensi dan karakteristik ekonomi wilayah untuk merumuskan strategi pembangunan yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui tingkat perkembangan ekonomi wilayah di kecamatan pesisir; (2) mengetahui sektor ekonomi unggulan; (3) mengetahui hirarki dan efisiensi wilayah pembangunan; dan (4) merumuskan arahan wilayah pembangunan dan sektor ekonomi di kecamatan pesisir. Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Entropi, Analisis Location Quotient (LQ), Shift Share Analysis (SSA), Analisis Skalogram, Data Envelopment Analyisis (DEA) dan Analisis MCDM-TOPSIS. Hasil analisis memperlihatkan bahwa tingkat keberagaman dan keberimbangan sektor-sektor ekonomi di kecamatan wilayah pesisir masih rendah dengan tingkat perkembangan sebesar 72% dari total kemampuan maksimumnya. Wilayah pesisir Kabupaten Garut memiliki ekonomi basis di sektor primer yaitu pertanian. Sedangkan sektor sekunder adalah sektor yang tumbuh paling cepat terutama di sektor industri pengolahan. Analisis hirarki terhadap sarana prasarana ekonomi desa menunjukkan bahwa hanya ada 3 desa atau sekitar 4,6% yang masuk Hirarki I sebagai inti wilayah dan pusat pertumbuhan. Sebanyak 20 desa atau 33,8% adalah wilayah Hirarki II dan 40 desa atau 61,5% adalah wilayah Hirarki III. Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk meningkatkan perkembangan dan pemerataan ekonomi, prioritas pembangunan diarahkan pada Kecamatan Mekarmukti, Pakenjeng dan Caringin. Terdapat 25 desa di wilayah pesisir diarahkan untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan 40 desa diarahkan sebagai wilayah pendukung atau hinterland. Prioritas pembangunan sektor ekonomi terutama diarahkan untuk sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor gas, listrik dan air minum.Kata Kunci: Kabupaten Garut, pertumbuhan ekonomi, perkembangan wilayah, wilayah pesisirABSTRACTIn order to strengthen economic growth in coastal areas of Garut Regency, it is necessary to study characteristics of the regions economic potential and formulate the direction of development. The aims of this research were: (1) to determine the level of regional economic growth in the coastal districts, (2) to determine the leading sectors of economic, (3) to determine hierarchy and efficiency of development, and (4) to formulate direction of regional and economic development. The analytical methods used were Regional Entropy Analysis, Location Quotient (LQ) Analysis, Shift Share Analysis (SSA), Schallogram Analysis, Data Envelopment Analysis (DEA) and the MCDM-TOPSIS Analysis. The results showed that the rate of economic growth in coastal areas was 72 % of its maximum capacity. The basis of economic sectors of coastal areas in Garut regency is mainly in the primary sectors of agriculture. Secondary sector was the fastest growing sector especially in manufacturing. Hierarchy analysis of rural economic facilities showed that there were only 3 villages or approximately 4.6 % belongs to Hierarchy I as core areas and growth centers. 20 villages or 33.8 % belongs to Hierarchy II and 40 villages or 61.5 % belongs to Hierarchy III. The priority of development areas to push economic growth and equity directed to districts of Mekarmukti, Pakenjeng and Caringin. There are 25 villages directed for developing economic growth centers and 40 villages for hinterland areas. The economic developments were directed to agriculture, manufacturing, trading, hotels and restaurants, electricity, gas and water sectors.Keywords: Garut Regency, economic growth, regional development, coastal areas
PENGGUNAAN EXIF DAN PENAMAAN FILE UNTUK BASISDATA GPS FOTO Ramdani, Dadan; Wahyuono, Herutopo
GEOMATIKA Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-1.35

Abstract

Dalam penggunaan aplikasi lahan dan tutupan lahan, sangat penting untuk memvalidasi hasil dengan menggunakan data survei, yang dikumpulkan dari lapangan. Banyak data survei tanah yang ada di lembaga penelitian biasanya mencakup foto, bujur, lintang, ketinggian, jenis tutupan lahan dan informasi lain dari tempat-tempat menarik. Namun, data sering tidak terorganisasi dengan baik sebagai sebuah basisdata agar dapat secara efektif digunakan oleh perangkat lunak komputer. Untuk alasan ini, penelitian ini mengembangkan sebuah metode untuk membangun basisdata GPS foto dari data survei. Dalam studi ini, data survei diproses untuk di ekstrak informasi yang diperlukan dan dikombinasikan ke basisdata termasuk gambar-gambar dengan garis lintang dan bujur yang sesuai, jenis tutupan lahan dan deskripsi. Basisdata ini digunakan untuk memvalidasi hasil klasifikasi proyek pengelolaan hutan. Diharapkan basisdata GPS foto yang sering diperbaharui oleh lembaga-lembaga terkait dan menyediakan informasi yang berguna untuk penggunaan aplikasi lahan dan tutupan lahan.Kata Kunci: EXIF, Basisdata Foto, GPS ABSTRACT     In the application of land use and land cover, it is important to validate the results using the survey data, collected from the field. There are a lot of the existing soil survey data in research institutions usually include photographs, longitude, latitude, altitude, type of land cover and other information of interesting places. However, data are often not well organized as a database that can be effectively used by computer software. For this reason, this study developed a method to build a database of the photo GPS survey data. In this study, survey data is processed to extract the necessary information and combined into a database including images with latitude and longitude as appropriate, land cover types and descriptions. This database is used to validate the results of the classification of forest management projects. It is expected that GPS photo database frequently updated by the relevant agencies and provide information useful for land use and land cover applications.Key word: EXIF, Photo Database, GPS
ANALISA SEDIMENTASI DI MUARA KALI PORONG AKIBAT PEMBUANGAN LUMPUR LAPINDO MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT ASTER Pahlevi, Arizona Maulidiyan; Wiweka, Wiweka
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1383.094 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.237

Abstract

Kali Porong is Lapindo mud vulcano disposal area, possibility that Lapindo mud vulcano flow caused sediment material in the area of Kali Porong estuary, which is located in the Madura strait. Therefore, necessary of research on sedimentation use remote sensing technology, with Aster satellite imagery as main data, Landsat7 and Landsat 5 satellite imagery as comparing data. Image processing used Lemigas algoritm (1997), which is based on the Digital Number (DN) and Jing Li algorithm (2008), which is based on the reflectan values. It also sought land change and potential for sediment deposition, based on the results of image processing, tidal data, tidal currents, and bathimetric contours. Results of this research are Lemigas algorithm have determination coefficient (R2) of 0.605 against the field data, and Jing Li algorithms have determination coefficient (R2) of 0.827 against the field data. Sedimentation distribution in Kali Porong estuary likely dynamic, influenced by seasonal factors, tidal and tidal currents, bathimetric contours, and source of materials sediment. Potential precipitation occurs in the sediments along sidoarjo-Pasuruan coast, especially in the Kali Ketingan Estuary and Kali Porong Estuary. The largest rate of Land change occurred in the year 2006 - 2007 with a rate 93.298 ha / year.Keywords : Sedimentation, Lemigas Algorithm, Jing Li Algorithm, Land changeABSTRAKKali Porong merupakan area pembuangan lumpur lapindo. Tidak menutup kemungkinan bahwa adanya aliran lumpur lapindo mengakibatkan material mengendap di daerah muara Kali Porong, yang berada di Selat Madura. Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai sedimentasi menggunakan teknologi penginderaan jauh, yaitu dengan data citra satelit ASTER tahun 2005 hingga 2008 sebagai data utama, citra satelit Landsat7 ETM+ tahun 2003 dan Landsat 5 TM tahun 1994 sebagai data pembanding. Algoritma yang digunakan untuk pengolahan citra adalah algoritma Lemigas (1997) yang didasarkan pada Digital Number (DN) dan algoritma Jing Li (2008) yang didasarkan pada nilai reflektan. Selain itu juga dicari perubahan daratan serta potensi endapan sedimen berdasarkan hasil pengolahan citra, data pasang surut, data arus, dan kontur bathimetri. Hasil penelitian ini adalah algoritma Lemigas mempunyai nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.605 terhadap data lapangan, untuk algoritma Jing Li mempunyai nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.827 terhadap data lapangan. persebaran sedimentasi di Muara Kali Porong cenderung dinamis, dengan dipengaruhi oleh faktor musim, pasang surut dan arus pasang surut, serta kontur bathimetri dan sumber material sedimen. Potensi pengendapan sedimen terbesar terjadi di hampir sepanjang pesisir sidoarjo-pasuruan, terutama di Muara Kali Ketingan dan Muara Kali Porong. Laju pertambahan daratan terbesar adalah tahun 2006-2007, dengan laju 93.298 Ha/tahun.Kata Kunci: Sedimentasi, algoritma Lemigas, Algoritma Jing Li, Perubahan lahan

Page 7 of 26 | Total Record : 251