cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
EVALUASI MODEL GEOPOTENSIAL GLOBAL UNTUK PERHITUNGAN GEOID DI JAKARTA Ramdani, Dadan; Priyatna, Kosasih; Andreas, Heri
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.248 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.152

Abstract

Dalam Keputusan Kepala BIG tentang Sistem Referensi Geospasial Indonesia penggunaan datum tinggi adalah geoid, tapi referensi ini harus disesuaikan dengan kondisi Jakarta dan juga independen dari perubahan. Berdasarkan kondisi tersebut penelitian ini akan mengevaluasi MODEL GLOBAL GEOPOTENSIAL (GGM) yang paling baik digunakan di Jakarta. Pemilihan GGM untuk perhitungan tinggi geoid di Jakarta terbagi atas 2 tahap. Tahap pertama dengan melihat besarnya penyimpangan dari tinggi geoid hasil dari GM61 dan HSYNC terhadap tinggi geoid GNSS-Leveling yang diwakilkan dengan harga standar deviasi. Pada tahap pertama tersebut di ambil dua GGM dengan standar deviasi yang terendah yang kemudian dihitung tinggi geoid pada titik BM pasut dan dibandingkan dengan harga GNSS-Leveling pada titik tersebut. Pembagian 2 tahap ini dikarenakan tidak adanya hubungan antara BM pasut dengan titik tinggi yang ada di Jakarta serta waktu pengukuran yang berbeda dimana titik tinggi yang lama diukur pada tahun 1999 sedangkan BM Pasut diukur pada tahun 2010. Dari tahapan pertama yang dilakukan Geoid dari Model geopotensial global GIF48 dan go_cons_gcf_2_tim_r4 mempunyai simpangan perbedaan dengan GNSS-Leveling lebih kecil dibandingkan dengan hasil perbedaan dari GGM yang lainnya denga harga sebesar 0,162 m sedangkan pada tahapan kedua GIF48 menghasilkan standar deviasi sebesar 0,009 m harga ini lebih kecil dibandingkan dengan standar deviasi dari go_cons_gcf_2_tim_r4 yaitu sebesar 0,026 m. Dari hasil ini geoid dari GIF48 akan lebih cocok untuk digunakan di Jakarta.Kata Kunci: Tinggi, Global Geopotential Model, GeoidABSTRACT       In the head decree of Geospatial Information Agency about Indonesian Geospatial Refference System the use of the datum for hight reference is Geoid, but this refference should be fitted to the condition of Jakarta and also independent of the changes. Based to those condition this study will evaluate the GEOPOTENSIAL GLOBAL MODEL (GGM) that would be best used in Jakarta. Selection GGM for geoid height calculations in Jakarta is divided into two phase. The first phase is to look at the magnitude of the standard deviation of the geoid height differences result from the 16 GGMs with the use of GM61 and HSYNC to the geoid height of GNSS-Leveling. At this first phase was taken two GGM with the lowest standard deviation. In the second phase with the results of the first phase the geoid height is calculated at the tidal BM points were then compared with value GNSS-Leveling at that point. The division of 2 this phase due to a lack of correlation between tidal BM with a high point in Jakarta as well as the different measurement time in which the high point of time measured in 1999, while tidal BM measured in 2010. From the first stage done Geoid of Global geopotential model GIF48 and go_cons_GCF_2_team_r4 has a deviation of the difference with GNSS-Leveling smaller than the result of the difference of GGM other premises a price of 0.162 m while in the second stage GIF48 produce standard deviation of 0.009 m value is smaller than the standard deviation of go_cons_GCF_2_team_r4 is equal to 0.026 m. From these results the geoid from GIF48 would be more suitable for use in Jakarta.Keywords: Height, Global Geotential Model, Geoid
MAPPING THE FISHERIES RESOURCES MANAGEMENT: A NATURAL RESOURCES ACCOUNTING APPROACH Sutrisno, Dewayany; Nahib, Irmadi; Dewi, Ratna Sari
GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.323 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-2.244

Abstract

Marine resources, especially capture fisheries, become one of the leading sector that need to be improved for the future of national economy. For the need of capture fisheries management, a mapping model should be employed to provide such user friendly information of fisheries sector to the local or national government. Fisheries resources accounting map can fulfill this need by giving some reliable information. Using Poso in Central Celebes province, a model was developed to meet the need of information. The result indicates the prospect of capture fisheries can be developed for further local fishermen prosperity and local regional income. Indeed, the result also indicates the fisheries resource accounting map, a spatial information model, is good tool in providing condition and possible management of capture fisheries sector.Keywords: capture fisheries, fisheries accounting, spatial modelABSTRAKSumberdaya laut, terutama sektor perikanan tangkap merupakan sektor utama yang harus terus ditingkatkan guna menunjang peningkatan pendapatan ekonomi negara. Untuk keperluan manajemen perikanan tangkap ini, maka dirasakan sangat perlu dibuat suatu model spasial guna mendukung program perikanan yang berkesinambungan. Akutansi sumberdaya perikanan dapat memenuhi kebutuhan ini melalui pemodelan ekologi-ekonomi. Sebagai studi kasus digunakan perairan pesisir daerah Poso, Sulawesi Tengah. Hasil yang diperoleh menunjukan, bahwa melalui pemodelan spasial ini dapat dilihat prospek sektor perikanan tangkap untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pendapatan pemerintah kabupaten. Selain itu, hasil kajian ini juga memperlihatkan peran model spasial akutansi sumberdaya perikanan sebagai alat yang dapat diandalkan untuk menunjang manajemen perikanan tangkap. Kata Kunci: perikanan tangkap, akuntansi perikanan, model spasial
PENGEMBANGAN APLIKASI PENGOLAH KOMPONEN HARMONIK PASUT BERBASIS WEB Syetiawan, Agung
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.041 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.158

Abstract

Pengamatan pasang surut laut merupakan variasi ketinggian permukaan laut yang diambil pada interval waktu tertentu untuk mendapatkan fungsi dari model harmonik permukaan laut. Data pasang surut diperoleh dengan melakukan pengamatan pasang surut di tepi pantai menggunakan berbagai teknik akuisisi data pasang surut. Penelitian ini mengkaji perhitungan konstanta harmonik pasang surut laut menggunakan pemrograman php (personal home page). PHP yang biasanya digunakan untuk membuat tampilan web dimaksimalkan mampu melakukan perhitungan matriks yang kompleks. Perhitungan konstanta pasang surut menggunakan metode perataan kuadrat terkecil. Parameter pasut yang diamati adalah sembilan komponen pasut yaitu terdiri dari empat komponen ganda, tiga komponen tunggal, dan dua komponen campuran. Setelah menyelesaikan penelitian ini didapat beberapa kesimpulan antara lain program pengolah komponen pasut ini memudahkan pengguna untuk menghitung komponen-komponen pasang surut yang nantinya dapat digunakan untuk menghitung Mean Sea Level, Higher High Water Level, Lower Low Water Level, atau informasi lain yang berkaitan dengan survei Hidrografi. Selain itu program ini menyajikan data prediksi hasil dari perhitungan konstanta pasutnya. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk keperluan navigasi kapal, sebagai penanggulangan banjir rob atau sebagai pengambilan keputusan yang berkaitan dengan survei hidrografi.Kata Kunci: Pasang surut, Personal Home Page (PHP), kuadrat terkecil, Web basedABSTRACTOcean tides observations are sea surface height variations at specific time intervals to obtain the harmonic model of sea surface height variations. Tidal data obtained by observing the tides on the beach using a variety of techniques data acquisition. This research examines the calculation of tidal harmonic constants used by PHP (Personal Home Page) programming. PHP is usually used to create optimized web interface capable of performing complex matrix calculations. Calculation of tidal constants using the least squares method. Observed tidal parameters are nine tidal component consists of four double-component, three single-component and two mixture-component. After finished this research are obtained some conclusions, such as allows the user to calculate the tidal components after that can be used to calculate the Mean Sea Level, Higher High Water Level, Lower Low Water Level, or other information related to Hydrographic survey. In addition, the program presents the data prediction results of its calculations of tidal constants. The results of this study can be used for ship navigation, for the handling of flood or decision making related to hydrographic surveys.Keywords: Tide, Personal Home Page (PHP), Least Square, Web Based
ESTIMASI KALENDER BUDIDAYA RUMPUT LAUT MENGGUNAKAN DATA PREDIKSI PASUT DI KAWASAN TERUMBU KARANG KEPULAUAN SERIBU BAGIAN SELATAN Sunarto, Kris
GEOMATIKA Vol 15, No 2 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.195 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-2.249

Abstract

Commonly fishermen have other task as farmer to plant seaweed or algae. They prefer to grow algae in coralreef basin or “goba”, with reasons for more secure against strong waves, current and predator. Although, they often experience harvest failure, they do not realize that planting seaweed in the goba also have a big risk, especially when the sequence occurred konda. Konda is a condition where the water in the stagnant condition. If the period of konda higher than as usual, so that can lead the water quality is worse to the quality very decadent. Seaweed is the type of algae that is very sensitive to the changes in water quality areas. Konda period can not be anyone to guess and when will happen, except with taking calculation of the previous year, which is then made predictions for some years to come. The results predicted and analyzed at the going konda and the konda the occurrence of the berentetan. The results of the analysis is the basic information through the process after the analysis phase estimation can be made seaweed cultivation, called so that the planting calendar. Calendar of seaweed planting is very important to set the exact or fix for cultivation time, as well as planting sesion, the period of growth, until the harvest. Planting calendar can also be used by the entrepreneur or capitalist seeks and stability in order to avoid losses due to failed harvests.Keywords: Calendar of the planting, Seaweed cultivation.ABSTRAKPada umumnya para nelayan sebagai petani rumput laut menanam rumput laut atau alga lebih memilih lokasi di dalam suatu goba pada terumbu karang, dengan alasan lebih aman terhadap ombak, arus deras maupun predator. Walaupun sering mengalami gagal panen, mereka tidak jera dan kurang menyadari bahwa penanaman rumput laut di dalam goba juga punya resiko. Masa konda merupakan masa resiko tinggi dalam berbudidaya rumput laut, karena kualitas air laut sangat merosot. Kemerosotan tersebut berdampak pada gangguan pertumbuhan rumput laut, khususnya jenis alga yang sangat peka terhadap perubahan kualitas wilayah perairan. Masa konda tidak dapat sembarangan ditebak kapan akan terjadi. Dengan mengolah data pasang surut antara masa konda dengan yang bukan konda dapat diidentifikasi dan diklasifikasi, sehingga dapat dibuat kalender tanam untuk pembudidayaan rumput laut. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh informasi penting tenang jadwal pembudidayaan rumput laut yang dituangkan ke dalam bentuk kalender tanam dengan menggunakan analisis data prediksi pasang surut, untuk mendapatkan tahapan pembudidayaan.Kata kunci: Kalender tanam, budidaya Rumput laut.
WATERMARKING PADA PRODUK INFORMASI GEOSPASIAL VEKTOR Amhar, Fahmi; Sutisna, Sobar; Niendyawati, Niendyawati
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.334 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.163

Abstract

Adanya UU No. 4 tahun 2011 diprediksi akan membuat produk informasi geospasial “booming”.  Tidak hanya BIG yang akan menjadi lebih terkenal sebagai sumber informasi geospasial dasar, namun juga industri geospasial tematik atau turunan akan ikut menikmatinya. Namun, fenomena ini suka tidak suka akan memunculkan “penumpang gelap”, yaitu pemalsuan dan pembajakan. Untuk mengatasinya, diperlukan metode dan teknologi yang disebut dengan “Watermarking”. Teknologi ini sudah lama digunakan pada uang kertas, juga pada produk fotografi, audio dan video.  Intinya adalah, agar orang semakin sulit menjual produk palsu, atau menggandakan produk asli untuk mendapatkan keuntungan secara ilegal. Pada makalah ini akan ditunjukkan beberapa metode watermarking yang sudah ada saat ini, yang dapat dicoba pada produk informasi geospasial vektor, seperti Peta Rupabumi Indonesia dan sejenisnya. Sebuah software akan memproduksi watermark untuk ditempelkan pada data, atau didaftarkan pada sebuah situs registrasi. Ketika orang mendapatkan suatu data, maka dia bisa mengujikan dengan software otentifikasi, untuk memastikan bahwa data itu asli, atau pemiliknya memang mendapatkannya secara legal. Beberapa keunggulan dan kelemahan setiap metode tersebut akan didiskusikan dalam makalah ini.Kata Kunci: tanda air, informasi geospasial, vektorABSTRACTThe existence of Law Number 4 / 2011 is predicted to create "booming" geospatial information products. Not only BIG will become more famous as a source of basic geospatial information, but also thematic or derived geospatial industry will come to enjoy it. However, like it or not this phenomenon will bring up the "dark passenger", namely falsification and piracy. To overcome this, required methods and technologies called "watermarking". This technology has been used on paper money, also in product photography, audio and video. The objective is, in order people are getting difficult to sell counterfeit products, or duplicate original product to get profit illegally. In this paper will be shown several watermarking methods that already exist today, which can be tried on the vector geospatial information products, such as Topographic Map of Indonesia and any kind of map. A software will produce a watermark to be attached to the data, or registered at a registration site. When people get the data, then he could be testing the authentication software, to ensure that the original data, or the owner did get it legally. Some of the advantages and disadvantages of each of these methods will be discussed in this paper.Key Words: watermarking, Geospatial Information, Vector
VARIASI NILAI INDEKS VEGETASI MODIS PADA SIKLUS PERTUMBUHAN PADI Panuju, Dyah R.; Heidina, Febria; Trisasongko, Bambang H.; Tjahjono, Boedi; Kasno, A; Syafril, H.A.
GEOMATIKA Vol 15, No 2 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-2.254

Abstract

Remote sensing technology has been employed extensively for food crops mapping and monitoring. Despite its widespread utilization, analyses have been limited to single set of data. Rice monitoring, ideally, requires time series data and therefore needs high revisit satellite configuration. Nonetheless, very limited research has been dedicated to time series data. This paper presents a study on the use of MODIS time series data for understanding various stages of rice growth in Subang Regency. Two widely-recognized vegetation indices were compared, namely Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) and Enhanced Vegetation Index (EVI). It is shown that 8-day temporal compositing scheme was unable to provide a proper dataset for this application. This suggests that detailed rice growth could be monitored solely in dry season.Keywords: MODIS, paddy phenology, NDVI, EVI.ABSTRAKPerkembangan teknologi penginderaan jauh telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang, termasuk diantaranya bidang pertanian pangan. Namun demikian, fokus utama pemanfaatan masih terbatas pada penggunaan data akuisisi tunggal. Aplikasi pemantauan tanaman pangan, terutama padi, yang memiliki siklus pertumbuhan sangat cepat sangat membutuhkan konfigurasi deret waktu. Telaah literatur menunjukkan bahwa analisis deret waktu sangat terbatas disajikan. Makalah ini menyajikan analisis data serial untuk memantau berbagai fase pertumbuhan padi di Kabupaten Subang memanfaatkan data MODIS yang tersedia secara gratis. Dua indeks kehijauan yaitu Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan Enhanced Vegetation Index (EVI) dibandingkan dalam kajian ini. Makalah ini menunjukkan indikasi bahwa citra komposit multitemporal 8 hari belum mampu menyediakan data untuk tujuan pemantauan pertumbuhan padi. Dengan demikian, analisis data hanya dapat dimungkinkan pada musim kemarau.
PENENTUAN GARIS PANTAI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG INFORMASI GEOSPASIAL DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN PESISIR DAN LAUT Suhelmi, Ifan R.; Afiati, Restu Nur; Prihatno, Hari
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.168

Abstract

ABSTRAK Garis pantai merupakan salah satu aspek teknis dalam penetapan dan penegasan batas daerah. Aspek teknis tersebut memiliki peranan penting dalam penentuan batas wilayah laut suatu provinsi, kabupaten dan kota sebagai perwujudan semangat otonomi daerah serta berkaitan dengan rencana pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pendefinisian legal coastline yang akan digunakan dalam pemberian hak pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Pada saat ini masih terdapat berbagai macam penentuan garis pantai yang digunakan oleh beberapa institusi yang ada di Indonesia. Garis muka air tinggi digunakan dalam Peta Laut yang disusun oleh TNI AL, garis muka air rata-rata digunakan oleh BAKOSURTANAL dalam menggambarkan garis pantai dalam Peta Rupabumi dan garis pantai muka air terendah digunakan oleh DEPDAGRI dalam penentuan batas wilayah negara maupun daerah. Berdasarkan hasil kajian dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah maka pemberian hak pengelolaan wilayah perairan sebaiknya menggunakan garis pantai muka air tertinggi. Kata Kunci: Informasi Geospasial, Garis Pantai, Pasang Surut, Digital Elevation Model. ABSTRACT Determination of coastline is one of technical aspects for regional boundaries establishment. It has an important role for determining maritime boundary of a state, province and district. The aim of this research was to conduct a legal coastline definition that will be used for HP-3 concept. Currently, there are three methods used for determining coastline in Indonesia. High water levels coastline used in the Maritime Map compiled by the Navy. Mean Sea Level (MSL) coastline used by BAKOSURTANAL at the Topographic Map, and lowest water level coastline used by the Ministry of Home Affair (DEPDAGRI) in determining the state and regional boundaries. Based on the results of this study, it is suggested to use the high water level coastline as a legal coastline to determine HP-3 boundary. Key words: Geospatial Information, Legal Coastline, Tide, Digital Elevation Model.
PEMBANGUNAN MODEL DISTRIBUSI POPULASI PENDUDUK RESOLUSI TINGGI UNTUK WILAYAH INDONESIA MENGGUNAKAN SISTEM GRID SKALA RAGAM Nengsih, Siska Rusdi
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.76 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.471

Abstract

Kepadatan penduduk di suatu wilayah terjadi karena persebaran penduduk yang tidak merata. Tingkat kepadatan penduduk di tiap-tiap wilayah Indonesia yang berbeda menimbulkan masalah kependudukan tersendiri. Diantara permasalahan yang timbul adalah masalah sarana dan prasarana sosial, stabilitas keamanan, pemerataan pembangunan dan kerentanan terhadap suatu bencana. Permasalahan kerentanan terhadap bencana menjadi sangat penting karena Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana alam. Dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut maka informasi tentang distribusi dan kepadatan penduduk di suatu wilayah sangat diperlukan. Informasi tersebut nantinya akan digunakan untuk mengetahui ada tidaknya gejala kelebihan penduduk (overpopulation), untuk mengetahui pusat-pusat kegiatan ekonomi di suatu wilayah, perencanaan pembangunan, tindakan penyelamatan apabila terjadi bencana alam dan lain sebagainya. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk membangun model distribusi populasi penduduk yang memiliki resolusi tinggi yang merepresentasikan keadaan distribusi penduduk yang sebenarnya di wilayah Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah simulasi atau pemodelan dimana hasil penelitian ini dititikberatkan pada model distribusi populasi penduduk yang bisa merepresentasikan keadaan distribusi populasi penduduk yang sebenarnya.Kata kunci:distribusi, kepadatan, penduduk, populasiABSTRACTPopulation density in a region occurs because of the uneven distribution of the population. The population density in each of the different parts of Indonesia raises problems of its own population. Among the problems that arise is a matter of social infrastructure, security and stability, equitable development, and vulnerability to a disaster. The problem of vulnerability to disaster is very important because Indonesia is a country that is highly vulnerable to natural disasters. Given these problems, the information about the distribution and density of population in the region is needed. Such information will be used to determine the presence or absence of symptoms of overpopulation, to determine the centers of economic activity in a region, development planning, rescue actions in case of natural disasters, and so forth. The purpose of the implementation of this research is to build the distribution model of population that has a high resolution that represent the actual state of the population distribution in Indonesia. The method used in this study is simulation or modelling in which the results of this study focused on the population distribution model that can represent the state of the actual population distribution.Keywords: distribution, density, habitant, population
RANCANGAN BASISDATA UNTUK PENGELOLAAN KAWASAN PERBATASAN MARITIM LAUT CINA SELATAN YANG BERKELANJUTAN Trismadi, Trismadi
GEOMATIKA Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-1.173

Abstract

Penelitian rancangan basisdata untuk pengelolaan kawasan perbatasan ini merupakan bagian dari penelitian disertasi dengan judul Rancangan Basisdata Untuk Pengelolaan Kawasan Perbatasan Maritim Laut Cina Selatan Yang Berkelanjutan. Pengelolaan kawasan perbatasan belum tercakup dalam Undang-undang No. 43 Tahun 2008 tentang Teritorial Negara, untuk itu definisi pengertian pengelolaan masih perlu diperjelas  dan diperinci secara teliti. Kompleksitas permasalahan kawasan-kawasan perbatasan maritime, terutama pada area dengan potensi sumber daya alam, masih terdapat banyak permasalahan, untuk itu diperlukan penelitian berkaitan dengan pengelolaan berkelanjutan kawasan perbatasan maritim. Penelitian ini dilaksanakan dengan disain basis data perbatasan maritim (BDPM) dengan enam tahap kegiatan meliputi: pengumpulan dan analisa data, disain konsep, pemilihan sistim basis data pengelolaan, disain logis, disain fisik, dan implementasi basis data. Penampilan basis data yang mengandung entitas grup mencakup peta dasar (peta laut), data-data perbatasan maritime, data potensi sumber daya alam, data lingkungan dan data lain yang terkait. Analisa mengenai kemampuan pengelolaan berkelanjutan dilakukan menggunakan metode Skala Multi Dimensi (SMD), dan penentuan struktur permasalahan menggunakan metode Model Struktur Imperatif (MSI), sedangkan metode yang digunakan untuk prioritas kebijakan menggunakan Proses Analisa Herarki (PAH). Konsep model pengelolaan berkelanjutan kawasan perbatasan maritim dibangun dengan mengintegrasikan hasil-hasil dari metode SMD, MSI, PAH, dan BDPM yang telah terbentuk. Kata Kunci: Basis Data, Pengelolaan Berkelanjutan, Kawasan Perbatasan Maritim, Laut Cina Selatan. ABSTRACT Research on the design of boundary regional data base is part of a research dissertation entitled Design a Decision Support Systems for Sustainable Management of Maritime Boundary Regions in the South China Sea. Management of the maritime boundary region has not been defined in the Indonesian Act No. 43 Year 2008 on the Territory of the State, so the scope of management is still need a clear and precise definition. Given the complexity of the maritime boundary regions, especially in areas that have potential for abundant natural resources, as well as maritime boundaries still there are problems, it is necessary to do research on the sustainable management of the maritime boundary region. This study was preceded by a maritime boundary database (MBDB) design through six stages include: data collection and analysis,conceptual design, choosing database management system, logic design, physical design, and implementation of database. Display database containing group entities: base chart (nautical chart), data of maritime boundaries, natural resources potential data, environmental data and others relevant data. Analysis of the sustainability of current management was done by using the method of Multi-Dimension Scaling (MDS), and to determine structuring problems was used the Interpretive Structural Modeling (ISM) method, while the method used to determine policy priorities is Analytical Hierarchy Process (AHP). Conceptual model of management of sustainable maritime boundary regions was constructed by integrating the results of the method of MDS, ISM and AHP and MBDB that have been developed.  Keywords: Database, Sustainable Management, Maritime Boundary Region, South China Sea.
PENGOLAHAN DATA LANDSAT 8 UNTUK EKSTRAKSI OBJEK DI PERMUKAAN LAUT Susantoro, Tri Muji; Wikantika, Ketut
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.289 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.481

Abstract

Kenampakan objek di permukaan laut seperti kapal, bagan, platform migas dan lainnya secara umum mudah dipetakan menggunakan data citra satelit resolusi tinggi. Akan tetapi, harga citra satelit resolusi tinggi tersebut relatif lebih mahal. Penggunaan citra satelit resolusi menengah dan regional secara umum hanya untuk pemetaan permukaan laut masih didominasi untuk pemetaan kondisi fisik dan kimia air laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah data Landsat 8 dalam rangka mengidentifikasi objek di permukaan laut. Berdasarkan hasil kajian objek di laut seperti kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, kapal yang bergerak di Utara Delta Wulan dan bagan tancap di perairan Jepara dapat diidentifikasi menggunakan NDVI dan penisbahan saluran ((SWIR-RED)/(SWIR+RED)). Kenampakan kapal tampak lebih baik menggunakan NDVI dan penisbahan saluran ((SWIR-RED)/(SWIR+RED)) dibandingkan pada citra komposit warna dengan kombinasi band 653 (RGB). Kapal yang bergerak terlihat jelas dengan buih gelombang dibelakangnya, sedangkan pada citra komposit warna dengan kombinasi band 653 (RGB), buih gelombang tidak dapat dilihat. Demikian juga dengan bagan tancap yang tidak terlihat pada citra komposit warna dengan kombinasi band 653 (RGB). Namun demikian bagan tancap dapat diidentifikasi dengan jelas pada NDVI dan penisbahan saluran ((SWIR-RED)/(SWIR +RED)). Kemampuan Landsat 8 untuk memetakan objek di laut dengan baik ini, dapat dimanfaatkan secara optimal untuk perencanaan kegiatan di bidang migas dan peluang mencari kapal yang hilang ataupun untuk monitoring daerah rawan illegal fishing.Kata kunci: Landsat 8, kapal, pelabuhan, bagan tancap, NDVI, penisbahan saluran, RGBAbstractThe appearance of the object on the sea surface like a ship, charts, and other oil and gas platforms are generally easily mapped using high-resolution satellite imagery data. However, the prices of high-resolution satellite images are relatively expensive. The use of medium resolution satellite imagery and regional general for mapping the sea surface is still dominated for mapping the physical and chemical conditions of seawater. The objective of this research is conducting a processing of Landsat 8 data for identifying objects on the sea surface. Based on the results, objects on the sea, such as ship that is docked at Tanjung Emas Harbour, Semarang and moving ship in North Wulan Delta, Demak, as well as bagan atJepara sea can be identified using NDVI and Rationing band ((SWIR-RED)/(SWIR +RED)). The appearance of ship is better identified using NDVI and Rationing band ((SWIR-RED)/(SWIR +RED)) than on the composite imageries using combination bands of 653 (RGB). The moving ship seen more clearly with ripple wave in the backside, whereas its cannot be seen in the composite imageries using combination bands of 653 (RGB). Similarly, bagan cannot be seen in the composite imageries using combination bands of 653 (RGB). However,bagan can be identified clearly using NDVI and rationing band ((SWIR-RED)/(SWIR +RED)).Landsat 8 Ability to map the object in the sea with this good, can be used optimally for planning activities in the field of oil and gas and the opportunities to look for the missing ship or for monitoring areas prone to illegal fishing.Keywords: Landsat 8, ship, harbour, bagan, NDVI, rationing band, RGB

Page 8 of 26 | Total Record : 251