cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
MENCARI CITRA ALOS PADA KONDISI PASUT TERTENTU Amhar, Fahmi
GEOMATIKA Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2011.17-1.178

Abstract

Every satellite images has certain astronomical effects.  On all kinds of satellite images (optical and radar) over coastal area, the astronomical effect is tidal.  Without correction, the images will lead systematical error in tracking the shorelines and also the island boundary and the island area.  This paper will focus how to find an ALOS image on certain tidal condition for further processing. ABSTRAKSetiap citra satelit dihinggapi kesalahan sistematis karena efek-efek astronomi tertentu.Pada wilayah pesisir, efek astronomi tersebut adalah sistem bumi-bulan-matahari yang berakibat pasang surut. Tanpa koreksi, akan terjadi kesalahan secara sistematis dalam pelacakan garis pantai dan juga batas pulau dan daerah pulau. Tulisan akan fokus pada bagaimana menemukan suatu citra ALOS pada kondisi pasang surut tertentu untuk dapat diolah lebih lanjut.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI SPASIAL DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BINANGA LUMBUA KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN Ishak, Ismah Pudji Rahayu; Asman, Andi Idham; Ahmad, Despry Nur Annisa
GEOMATIKA Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.929 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-1.403

Abstract

Permasalahan yang dialami DAS Binanga Lumbua dari hasil observasi singkat sebelumnya mengindikasikan bahwa DAS ini mengalami kekritisan. Hal tersebut terindikasi karena pada saat musim hujan, wilayah ini mengalami banjir akibat luapan dari DAS. Ketika musim kemarau, wilayah ini mengalami kekeringan dan benar-benar tandus. Salah satu hal yang dapat dilakukan dari adanya indikasi kekritisan pada DAS ini adalah dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem di DAS melalui upaya Pengelolaan DAS menggunakan teknologi spasial Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuan penelitian ini diarahkan untuk mengalisis tingkat kekritisan ekosistem lingkungan DAS Binanga Lumbua dan memberikan arahan pemanfaatan ruang untuk mengelolah lingkungan di DAS Binanga Lumbua berdasarkan pada zonasi tingkat kekritisan. Metode analisis yang digunakan adalah teknik analisis overlay dengan mengunakan teknologi spasial GIS. Kekritisan DAS dapat dilihat melalui pendekatan keberadaan air tanah yang berdasarkan pada parameter hidrogeomorfologi dan analisis ini menghasilkan peta tingkat kekritisan DAS. Dari peta tingkat kekritisan DAS inilah yang dijadikan dasar dalam menentukan langkah pengelolaan apa yang akan dilakukan di area DAS Binanga Lumbua ini. Diharapkan pula, penelitian ini bisa dijadikan sebagai langkah awal wilayah ini dalam mengatasi permasalahan lingkungan pada daerah aliran sungai setempat.
APLIKASI CITRA QUICKBIRD UNTUK PEMETAAN 3D SUBSTRAT DASAR DI GUSUNG KARANG Selamat, Muhammad Banda; Jaya, Indra; Siregar, Vincentius P; Hestirianoto, Totok
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.183

Abstract

Salah satu masalah dalam pemetaan batimetri di perairan gusung terumbu karang adalah sulitnya aksesibilitas kapal survei oleh karena perairannya yang dangkal.  Di lain pihak, citra satelit sinar tampak telah umum digunakan untuk pemetaan habitat terumbu karang dan kedalaman perairan.  Studi ini bertujuan menghasilkan peta 3D substrat dasar di gusung terumbu karang dari citra Quickbird.Sejumlah 325 titik sampling menjadi acuan dalam penentuan tipe substrat dasar melalui pendekatan indeks kemiripan Bray Curtis.Setelah koreksi atmosferik, metode koreksi kolom air diaplikasikan pada citra dan ditingkatkan akurasinya dengan kombinasi profil geomorfologi. Pendekatan ini telah menghasilkan peta substrat dasar di gusung Karang Lebar dengan akurasi tematik 82%.  Sejumlah lebih 5700  titik perum di regresi dengan kanal hijau dan merah untuk mendapatkan model estimasi batimetri dari citra Quickbird berdasarkan tipe substrat.  Gabungan model regresi menghasilkan nilai koefisien determinasi=94% dan RMSE=0.4 meter.  Interpolasi data gabungan citra batimetri pasir dan data perum menghasilkan model 3D batimetri di Karang Lebar dengan ME=0.4 m dan RMSE=0.9 m.  Hasil ini menunjukkan peta batimetri yang dihasilkan belum dapat memenuhi persyaratan navigasi, meskipun demikian masih dapat digunakan untuk keperluan lainnya seperti pengelolaan sumberdaya, pemodelan oseanografi dan lain-lain.Kata kunci: substrat dasar, Quickbird, batimetriABSTRACTOne of the problems when conducting bathymetric mapping in patch reef environments is shallow water condition.The shallowness complicates the surveillance boat to access the location. Apart from this, using visible satellite imagery, ones still can map coral reefs and shallow water depth. This study goal was to produce 3D bottom substrate map from quickbird imagery.  About 325 sampling points wereselected to characterize bottom substrate based on the similarity index from Bray Curtis. After theatmospheric correction, a water-column correction method was implemented and then a geomorphologic profilingwas applied to improve the map’s thematic accuracy. Theapproach has resultedan accuracy 82% for bottom substrate map.  A bathymetric estimation model then wasbuilt from a regression analysis to 5700 sounding data and combination of green and red channel value of quickbird. The model has 0.4m RMSE value and 94% for itscoefficient determination The fusion of sand bathymetric image and sounding data results on the 3D bathymetric model of Karang Lebar with ME=0.4 m and RMSE=0.9 m.  This result shows that the produced bathymetric map was not fulfilled the navigation requirement, but still potential as an additional information for resource management, oceanographic modeling etc.Keywords: bottom substrate, Quickbird, bathymetry
PEMANFAATAN DATA CITRA ALOS UNTUK PEMETAAN LAHAN SAWAH: STUDI KASUS DI BEBERAPA LOKASI DI JAWA Nurwadjedi, Nurwadjedi; Poniman, A
GEOMATIKA Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.439 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2009.15-1.6

Abstract

Problem of the rice field sustainability in Java as the national rice producer is mainly caused by rice field conversion into settlement and industrial areas. This phenomenon needs to be solved by making the policy of establishing standard land of rice field areas. This effort is, however, still facing the constraint of accurate and uptodate data availability. The limitation could be solved by mapping the rice fields using the optic satellite remote sensing data which has high spatial resolution, such as ALOS PRISM and AVNIR-2. It is believed that the use of ALOS PRISM and AVNIR-2 is not a good choice for mapping the rice fields using quantitative interpretation method which mainly relies on spectral reflectance values of objects on the earth because the rice field cover varies in close distance. For this reason, the qualitative interpretation method needs to be tested. The objective of this study is to assess the use of ALOS PRISM and AVNIR-2 for mapping the rice fields using visual interpretation. The results show that ALOS PRISM imagery can be used for mapping the rice fields at the optimum scale of 1: 5.000, while ALOS AVNIR-2 at 1:25.000. The rice field areas interpreted from ALOS PRISM and AVNIR-2 are smaller than that from Landsat 7 due to the generalization factor.Keywords: visual interpretation, spatial data, land conversion, generalization ABSTRAK Permasalahan lahan sawah di Jawa sebagai penghasilpadi nasional disebabkan terutama oleh konversi lahan sawah ke perumahan dan industri. Fenomena ini perlu dipecahkan dengan kebijakan untuk menetapkan luasan lahan sawah standar. Namun usaha ini masih menghadapi masalah akurasi data dan ketersediaan data. Ini dapat diatasai dengan pemetaan lahan sawah dari satelit optis beresolusi tinggi seperti ALOS PRISM dan AVNIR-2. Dipercaya bahwa kedua sensor ini bukan pilihan yang tepat untuk pemetaan lahan sawah dengan metode kuantitatif yang bergantung pada nilai refletansi objek karena lahan sawah sangat bervariasi dari jarak dekat. Dengan alasan tersebut interpretasi kualitatif perlu diuji. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji penggunaan ALOS PRISM dan AVNIR-2 untuk pemetaan lahan sawah dengan metode interpretasi visual. Hasilnya menunjukkan bahwa ALOS PRISM dapat digunakan untukpemetaan lahan sawah pada skala optimum 1:5.000, sedangkan ALOS AVNIR-2 pada skala 1:25.000. Area lahan sawah hasil interpretasi ALSO PRISM dan AVNIR-2 labih kecil dibandingkan hasil interpretasi Landsat 7 karena faktor generalisasi.Kata kunci: interpretasi visual, data spasial, konversi lahan, generalisasi.
Cover Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 21 No. 1 Agustus 2015 Geomatika 2015, Jurnal Ilmiah
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-1.592

Abstract

.
ANALISIS BATIMETRI DAN PASANG SURUT DI MUARA SUNGAI KAMPAR: PEMBANGKIT PENJALARAN GELOMBANG PASANG SURUT UNDULAR BORE (BONO) Rahmawan, Guntur Adhi; Wisha, Ulung Jantama; Husrin, Semeidi; ilham, ilham
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.734 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.573

Abstract

ABSTRAKTidal bore Bono merupakan fenomena yang unik dan hanya terdapat di beberapa negara. Keberadaan Bono bersifat merusak dan berpotensi menyebabkan abrasi di wilayah muara Sungai Kampar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya pembangkit Bono dan proses penjalarannya berdasarkan morfologi dasar serta sempadan Sungai Kampar. Metode yang digunakan adalah metode purposive kuantitatif. Pengukuran batimetri dilakukan dengan menggunakan alat Echotrack CVM Teledyne Odom Hydrographic Single Beam dari hulu hingga muara Sungai Kampar, sedangkan pengukuran pasang surut menggunakan alat Tide Master Valeport Automatic Tide Gauge yang dipasang di Pulau Mendol selama 30 piantan. Kedalaman Sungai Kampar bagian hulu berkisar 0,2-3 m, di sisi sebelah timur ke arah hilir mempunyai kedalaman yang bervariasi dengan kedalaman maksimal 12 meter. Di sisi sebelah selatan Pulau Muda mempunyai kedalaman 0,3–1,5 m. Hasil analisis pasang surut menunjukkan bahwa tipe pasut di muara kampar  adalah campuran condong harian ganda dengan nilai F=0,43 dan tidal range harian maksimal 4,2 m. Fluktuasi pasang surut, tidal range, serta kedalaman sungai berpengaruh terhadap pembangkitan tidal bore Bono dan penjalarannya di sepanjang Sungai Kampar. Selain itu, hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi morfologi dan topografi dasar perairan. Gelombang Bono paling tinggi terjadi pada saat malam hari di Pulau Muda pada kedalaman 1,7 m dengan ketinggian Bono 4,3 m dan berangsur menghilang hingga ke Tanjung Mentangor.ABSTRACT Bono tidal bore is a unique phenomenon that only occured in some countries. The existence of Bono is destructive and potentially cause abrasion in the Kampar River estuary. The purpose of this study is to identify  Bono force and propagation process based on basic morphology of Kampar riverside. The method used in this reasearch is purposive quantitative method. Bathymetry measurement were performed using Echotrack CVM Teledyne Odom Hydrographic Single Beam from the upstream to the mouth of Kampar River, whereas tidal measurement using Tide Master Valeport Automatic Tide Gauge mounted on Mendol Island for 30 days. Kampar River depth ranges from 0.2-3 m in the upstream, on the east side to downstream has a varies depth with a maximum depth of 12 meters. South side of Muda Island has depth ranges from 0.3-1.5 m. Tidal analysis showed that tidal type in the estuary kampar is mixed semidiurnal, with value of F = 0.43 and maximum daily tidal ranges 4.2 m. Tidal fluctuations, tidal range, and rivers depth affect the generation of tidal bore Bono and its propagation along the Kampar River. Furthermore, its also influenced by morphology and topography of the riverbed. The highest wave of Bono occurrs in the night at Pulau Muda with 1.7 m depth, 4.3 m wave height, and gradually disappear in Tanjung Mentangor. Key words: admiralty, bathymetry, bono, spatial analysis, tide
PENURUNAN MUKA TANAH DI PESISIR SEMARANG Pryambodo, Dino Gunawan
GEOMATIKA Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-2.188

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mendeteksi penurunan muka tanah di kawasan industri Kaligawe, pesisir Semarang, dengan menggunakan metode sipat datar (leveling) untuk melihat penurunan muka tanah yang terjadi di daerah penelitian. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada bulan Juni 2004 dan Nopember 2005 dalam jarak rentang waktu 16 bulan. Disimpulkan bahwa di lokasi penelitian selama periode tersebut telah mengalami penurunan muka tanah sebesar 1 – 10 cm. Penurunan muka tanah terbesar terjadi di sisi sebelah barat dan utara dari daerah penelitian dan yang terkecil hampir merata di tengah daerah penelitian, dengan pola penurunan muka tanah cenderung menuju ke arah barat. Penurunan diduga akibat beban bangunan di atas tanah alluvial yang belum terkompaksi.Kata kunci: Penurunan muka tanah, daerah industri Kaligawe, pesisir Semarang, metode sipat datarABSTRACTThis research was conducted to detect land subsidence in the industrial area of Kaligawe, a coastal zone of Semarang by using leveling method. The measurement is done twice, on June and November 2004. It is concluded that the areahas been experienced 1-10 cm land subsidence within 16 months in the study site. The biggest land subsidence occurs in the western and northern part of the study area, while the smallest almost evenly in the middle of the study area, with the patterns of land subsidence is heading to the west. The subsidance might be caused by theoverburden uncompacted alluvial soil.Keywords: Land subsidence, Kaligawe industrial zone, coastal zone of Semarang, Leveling methods
DYNAMIC MODEL OF FLOOD AND TIDAL INUNDATION VULNERABILITY IN LOWLYING AREA, CASE STUDY AT SEMARANG Suhelmi, IR; Fahrudin, A; Yulianda, F; Nuitja, INS
GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.61 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2010.16-1.11

Abstract

Global warming will raise sea level, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) estimates that the water level rise globally from 1990 to 2100 will reach 23-96 cm. While the increase in world temperature over this time period of about 2oC to 4.5oC (IPCC, 1995). Due to an increase in sea water is a phenomenon of erosion and puddles in the coastal areas and loss of wetland that is rich in biodiversity. Semarang topography sloping to the slope tends to 0-2% with most of the area is almost the same height as the sea level and even in some places below him. In this way, the topography of the vulnerability to natural phenomena became increasingly large. This vulnerability becomes higher because of the phenomenon that the amount of land subsidence reach 15-25 cm per year. This paper will discuss various matters related to develop model of inundation caused by tidal inundation and the local flood. This paper will study various factors that affect the inundation of tidal flood that includes land subsidence, sea level rise and hight of tides. The study will use spatial data such as satellite imagery, Digital Elevation Model (DEM) and processed with Geographic Information Systems (GIS). Rainfall data, changes of landuse, run off and drainage capacity to help in building the models.Keywords: Dynamic Model, Inundation, Tidal Flood, Flood, DEMABSTRAKPemanasan global menyebabkan kenaikan permukaan laut, IPCC memprediksikan tingkat kenaikan air laut secara global rentang waktu 1990-2100 mencapai 23-96 cm. Peningkatan suhu dunia selama jangka waktu tersebut sekitar 2oC untuk 4.5oC (IPCC, 1995). Semarang, khususnya kota bawah, memiliki topografi yang datar antara 0-2% yang menjadikan kota ini sangat rentan terhadap fenomena kenaikan muka air laut. Kerentanan menjadi lebih tinggi dengan adanya fenomena amblesan tanah (land subsidence) yang mencapai 15 cm per tahun pada lokasi-lokasi tertentu. Tulisan ini akan membahas berbagai hal yang terkait model genangan yang disebabkan oleh banjir rob dan banjir lokal. Faktor yang mempengaruhi genangan rob meliputi penurunan tanah, kenaikan permukaan laut dan pasang surut air laut. Penelitian ini menggunakan data spasial seperti citra satelit, Digital Elevation Model (DEM) dan diproses dengan Sistem Informasi Geografis (GIS). Data curah hujan, perubahan tata guna lahan dan kapasitas drainase digunakan untuk membantu dalam membangun model.Kata Kunci: Model Dinamik, Kenaikan Permukaan Laut, Pasang Surt, Banjir, DEM
ANALISIS KECEPATAN PERGERAKAN STATION GNSS CORS UDIP Yuwono, Bambang D; Awaluddin, M.; Hapsari, Widi
GEOMATIKA Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.805 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-1.616

Abstract

ABSTRAKTeknologi GNSS berkembang pesat seiring dengan adanya sistem pengadaan titik kontrol dasar modern yang digunakan sebagai referensi untuk penentuan posisi. Sistem tersebut dikenal dengan CORS (Continously Operating Reference System ). Station GNSS CORS juga dikembangkan di Departemen Geodesi Fakultas Teknik UNDIP pada akhir tahun 2012 dengan nama CORS UDIP. Instalasi GNSS CORS UDIP didasarkan pada kebutuhan keperluan survei, model matematis geodesi, dan pemrosesan sinyal digital. Analisis terhadap kecepatan pergerakan stasiun GNSS CORS UDIP perlu dilakukan untuk keperluan tersebut. Tujuan penelitian untuk mendapatkan nilai kecepatan pergerakan station  GNSS CORS UDIP periode 2013 s.d. 2016. Metode yang digunakan adalah pengolahan jaring dengan pengikatan ke 9 stasiun IGS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stasiun GNSS CORS UDIP dalam periode 2013 s.d. 2016 memiliki kecepatan pergerakan 0,08 cm dalam arah east dan 0,36 cm dalam arah north.Kata kunci: GNSS CORS, kecepatan pergerakan, pemrosesan data digital ABSTRACTGNSS technology is growing rapidly along with the procurement system of modern basic control points as a reference for positioning. This system is known as CORS (Continously Operating Reference System). GNSS CORS Station is also developed in the Department of Geodesy Faculty of Engineering UNDIP at the end of 2012. The GNSS CORS Station name is CORS UDIP. Installation of GNSS CORS UDIP is based on survey needs, geodetic mathematical models, and digital signal processing. An analysis of the movement speed of GNSS CORS UDIP stations is necessary for this purpose. Coordinate Sta GNSS UDIP was calculated using network processing method with 9 sta IGS (International GNSS Service) as reference stations. The results of analysis showed that GNSS UDIP in the period of 2013-2016 had velocity rate  0.08 cm in the east and 0.36 cm in the north.Keywords: GNSS CORS,  velocity rate, digital signal processing
KAPASITAS INDEKS LAHAN TERBAKAR NORMALIZED BURN RATIO (NBR) DAN NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) DALAM MENGIDENTIFIKASI BEKAS LAHAN TERBAKAR BERDASARKAN DATA SPOT-4 Parwati, Parwati; Zubaidah, Any; Vetrita, Yenni; Yulianto, Fajar; DS, Kusumaning Ayu; Khomarudin, M Rokhis
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1996.976 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-1.193

Abstract

Pada penelitian ini, kapasitas indeks Difference Normalyzed Burn Ratio (dNBR) dan indeks Difference Normalized Vegetation Index (dNDVI)  sebagai indeks lahan terbakar telah dianalisis untuk mengidentifikasi lahan bekas terbakar di wilayah Provinsi Riau berdasarkan data SPOT-4. Baik dNBR maupun dNDVI merupakan selisih antara indeks NBR atau NDVI sebelum terjadi kebakaran (pre-fire) dengan sesudah terjadi kebakaran (post-fire). Data time-series SPOT-4 yang digunakan adalah periode Juli 2009, Oktober 2010, Maret 2011, Juni 2011 dan Juli 2011. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai ekstraksi NDVI atau NBR pada kondisi pre-fire mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pada kondisi post-fire. Umumnya hal tersebut menunjukkan adanya perubahan dari tingkat kehijauan vegetasi yang tinggi menjadi rendah. Berdasarkan hasil verifikasi di lapangan (Agustus 2011), ternyata pada lahan bekas terbakar indeks dNBR (0.42) menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan dNDVI (0.19). Sementara di lokasi pembukaan lahan/hutan tanpa membakar, indeks dNDVI (0.53) lebih tinggi dibandingkan dNBR (0.05). Hal tersebut membuktikan bahwa indeks dNBR sangat sensitif dalam mengidentifikasi lahan bekas terbakar yang menghandalkan spektrum radiasi Shortwave Infrared (SWIR) yang peka terhadap rendahnya kadar air di lahan bekas terbakar. Sementara indeks dNDVI lebih cocok digunakan untuk mendeteksi perubahan lahan dari vegetasi ke non vegetasi tanpa membakar.Kata Kunci : SPOT-4, lahan bekas terbakar, dNBR, dNDVI, Riau ABSTRACTIn this study, Difference Normalyzed Burn Ratio (dNBR) and Difference Normalized Vegetation Index (dNDVI) derived from SPOT-4 images were analyzed for identifying burn scar in Riau Province.The dNBR and dNDVI are the differences between NBR or NDVI in pre-fire condition and in post-fire condition. The time-series SPOT-4 images used in this study  have accusition month onJuly2009, October 2010, March 2011, June 2011, and July 2011. Results show that both NDVI and NBR have higher values in pre-fire rather than in post-fire condition. Generally, it shows the change in green vegetation level from high in vegetation cover to lower level in burnt area. However, by referring to field survey data (August 2011), the dNBR (0.42) shows higher value than the dNDVI (0.19) in burnt area. The indices were also applied in opened land/forest without burning activity which showed higher dNDVI (0.53) values rather than dNBR (0.05). Therefore, it has been proved that the dNBR index is more suitable to identify burnt area which has Shortwave Infrared (SWIR) spectrum that is more sensitive to moisture content in burnt area. Meanwhile the dNDVI could be used to identify forest changes to non forest cover without burning activitiy.Key Words : SPOT-4, burn scar, dNBR, dNDVI, Riau

Page 9 of 26 | Total Record : 251