cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 17, No 2 (2015)" : 10 Documents clear
PEMODELAN SPASIAL DEFORESTASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT Nahib, Irmadi; Turmudi, Turmudi; Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.921 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.226

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk memiliki konsekuensi terhadap perkembangan ekonomi yang menuntut kebutuhan lahan untuk pemukiman, industri, infrastuktur dan jasa, sehingga akan berdampak terhadap laju deforestasi yang dapat mempengaruhi perubahan iklim. Berdasarkan hasil analisis tutupan hutan antara tahun 2000 sampai tahun 2009 bahwa deforestasi di Pulau Jawa mencapai sekitar 1,38 juta ha atau sekitar 60,64% dari luas hutan yang ada. Sedangkan deforestasi di Jawa Barat sekitar 596.743,40 ha, atau 62,55% dari seluruh deforestasi di Pulau Jawa. Deforestasi juga terjadi di wilayah hutan Kabupaten Tasikmalaya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perubahan tutupan hutan Kabupaten Tasikmalaya pada periode 1990-2011, dan membangun model spasial deforestasi di Kabupaten Tasikmalaya untuk memprediksi deforestasi masa yang akan datang. Pengembangan model deforestasi dilakukan dengan menggunakan model regresi logistik. Variabel dependen (Prediktan, Y) biner regresi logistik dinyatakan sebagai 0 dan 1, dimana 1 mengungkapkan terjadinya deforestasi, dan 0 tidak terjadi deforestasi. Variabel independen yang digunakan adalah jarak dari jalan, jarak dari tepi hutan, jarak dari sungai, kelas kelerengan dan kepadatan penduduk. Model ini dibangun atas terjadinya deforestasi antara tahun 1990 dan 2011. Persamaan model deforestasi yang diperoleh adalah Logit (deforestasi) = -2,3711 + 0,000776 x1 + 0,002311 x2 + 0,000554X3 – 0,401958 X4 - 1,346622 x5, dengan nilai Relative Operating Characteristics (ROC) sebesar 0,8874. Hasil validasi model menggunakan deforestasi kejadian antara 2000-2011 menunjukkan bahwa model yang dikembangkan cukup baik dengan memberikan akurasi 77,68%.Kata kunci: pemodelan spasial, penggundulan hutan, model logistik, perubahan penggunaan lahan, prediksiABSTRACTThe increase in population has consequences to the economic development which demand the need of land for residential, industrial, infrastructure and services, and will have impact to increase rate of deforestation that can affect to climate change. Based on analysis of forest cover changes between 2000 and 2009 shows that deforestation in Java around 1.38 million ha, or about 60.64 percent of the existing forest area. While deforestation in West Java accounted at around 596,743.40 ha (62.55%). The deforestation also occured in forest area of Tasikmalaya Regency. This research objectives are to determine forest cover change. Tasikmalaya Regency in the period 1990-2011, and building a spatial model of deforestation to predict the future deforestation. The development model of deforestation was done by using a logistic regression model. The dependent variable (Prediktor, Y) binary logistic regression expressed as 0 and 1, where 1 reveal the deforestation and 0 is not deforestation. The independent variables used are: distance, distance from the forest edge, distance from river, slope and population density. This model was built upon the occurrence of deforestation between 1990 and 2011. Equation of the deforestation models obtained were: logit (deforestation) = -2.3711 + 0.000776 x1 + 0.002311 x2 + 0.000554X3 – 0.401958 X4 - 1.346622 x5, with a value of Relative Operating Characteristics (ROC) of 0.8874. The results of model validation using deforestation between 2000-2011 shows that the model developed was quite suitable, providing accuracy of 77,68%.Keywords : spatial model, deforestation, logistic model, land use change, prediction
KOMPARASI INDEKS VEGETASI UNTUK ESTIMASI STOK KARBON HUTAN MANGROVE KAWASAN SEGORO ANAK PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI, JAWA TIMUR Frananda, Hendry; Hartono, Hartono; Jatmiko, Retnadi Heru
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.259 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.222

Abstract

Estimasi kandungan karbon kawasaan hutan mangrove sering dilakukan dengan memanfaatkan transformasi indeks vegetasi, dimana nilai yang diperoleh merupakan gabungan dari beberapa saluran pada citra untuk menonjolkan kenampakan vegetasi. Sulitnya medan hutan mangrove menjadikan transformasi indeks vegetasi sebagai salah satu cara efektif untuk mengestimasi karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana data penginderaan jauh dapat dimanfaatkan dalam mengestimasi kandungan karbon pada hutan mangrove, dan untuk mengetahui transformasi indeks vegetasi terbaik dalam mengestimasi kandungan karbon hutan mangrove, sehingga akan diketahui korelasi antara masing-masing transformasi indeks vegetasi yang digunakan dengan kandungan karbon lapangan beserta tingkat akurasinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan melakukan perhitungan kandungan karbon pada beberapa titik sampel lapangan dan melihat korelasi antara kandungan karbon pada titik sampel lapangan dengan nilai indeks dari masing-masing transformasi indeks vegetasi yang digunakan. Hasil penelitian berupa korelasi beserta tingkat akurasi dan kandungan karbon total dari masing-masing transformasi indeks vegetasi yang digunakan (SR, NDVI, TVI, RVI, SAVI, EVI) dengan data lapangan. Koreksi radiometrik yang dilakukan adalah histogram adjusment atau dark-pixel subtraction. EVI dan TVI merupakan indeks vegetasi yang memiliki korelasi dan akurasi terbaik untuk mengestimasi kandungan karbon hutan mangrove dengan nilai R2 dari EVI = 0,72 dan TVI = 0,63, dengan nilai RMSE EVI ± 74.40139 ton/ha dan nilai RMSE TVI ± 39.70762 ton/ha. Kesimpulan dari penelitian ini diketahui pada tingkat koreksi atmosfer yang sama, indeks vegetasi EVI dan TVI merupakan indeks yang memiliki hubungan korelasi dan akurasi terbaik, sehingga EVI dan TVI merupakan indeks vegetasi terbaik untuk mengestimasi karbon hutan mangrove.Kata kunci: penginderaan jauh, estimasi, karbon hutan, indeks vegetasiABSTRACTForest carbon content estimations are often done by using transformation of vegetation index, where the value that obtained was a combination of several canals in the image to show the appearance of vegetation. The difficult terrain of mangrove forest made the transformation of vegetation index as one of the effective ways to estimate carbon. The objective of this study were to determine the extent of remote sensing data can be used and the most optimum vegetation index transformation in estimating the carbon content in the mangrove forest, so as to obtain a correlation between each vegetation index transformation that are used with the carbon content of the field and its level of accuracy. The method were using the calculation of carbon content at some point field samples and examine the correlations between the carbon content at the point of field samples with an index value of each vegetation index transformation that are used. The result of this study was a correlation with the level of accuracy and total carbon content of each vegetation index transformation that are used (SR, NDVI, TVI, RVI, SAVI, EVI) with field data. Radiometric correction was conducted with histogram adjustment or dark-pixel subtraction. EVI and TV are the best correlation and accuracy of vegetation index for estimating the carbon content of mangrove forest with R2 values of EVI = 0.72 and TVI = 0,63, and the RMSE of EVI ± 74.40139 tons/hectare and TVI ± 39.70762 tons/hectare. The conclusion of this study was known at the same level of atmospheric correction, EVI and TVI vegetation index have the best correlation and accuracy, so that EVI and TVI are the best vegetation index for estimating carbon mangrove forests.Keywords: remote sensing, estimation, forest carbon, vegetation index
PEMODELAN SPASIAL PERKEMBANGAN FISIK PERKOTAAN YOGYAKARTA MENGGUNAKAN MODEL CELLULAR AUTOMATA DAN REGRESI LOGISTIK BINER Wijaya, Muhammad Sufwandika; Umam, Nuril
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.367 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.227

Abstract

Perkembangan kota dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, salah satunya adalah dengan melihat perkembangan fisiknya. Perkembangan fisik kota dapat diidentifikasi salah satunya melalui fenomena ekspansi lahan terbangun. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografi (SIG) dengan model Cellular Automata sangat perlu untuk mengkaji fenomena ekspansi lahan terbangun, baik untuk kajian ilmiah maupun perencanaan tata ruang terutama di kota yang besar dan berkembang seperti Yogyakarta. Penelitian ini mencoba mengintegrasikan model SIG Cellular Automata dengan model lain berbasis statistik, yaitu Regresi Logistik Biner untuk memonitor serta memprediksi perkembangan fisik perkotaan Yogyakarta melalui pendekatan terhadap fenomena ekspansi lahan terbangun. Penggunaan data primer pada penelitian berupa peta penutup lahan tahun 2003 dan 2009 hasil klasifikasi multispektral dari Citra Landsat. Faktor yang digunakan untuk memprediksi perkembangan lahan terbangun pada penelitian ini adalah faktor perkembangan kota yang bersifat fisik, yaitu faktor jarak terhadap aksesibilitas dari jalan utama dan jalan non-utama serta jarak terhadap pusat kegiatan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan lahan terbangun di Kota Yogyakarta pada tahun 2003-2013 memiliki laju 329 ha/tahun dengan pusat perkembangan ke arah timur laut Kota Yogyakarta, yaitu daerah sekitar Kecamatan Gondomanan dan Kecamatan Depok. Model Cellular Automata yang diintegrasikan dengan model Regresi Logistik Biner memprediksi Kota Yogyakarta pada tahun 2013-2023 memiliki laju perkembangan 539 ha/tahun dengan pusat perkembangan ke arah barat daya Kota Yogyakarta, yaitu daerah sekitar Kecamatan Kasihan dan Mantrijeron.Kata Kunci : SIG, pemodelan, cellular automata, regresi logistik biner, YogyakartaABSTRACTUrban development can be viewed from some different points, the one is from its physical development or in the term of urban sprawl. Physical development of the city can be identified by the phenomenon of built-up area expansion. Utilization of Geographic Information System (GIS) with Cellular Automata modelling is very necessary in the study of the phenomenon of built-up area expansion, both of scientific study or applied study for spatial and regional planning, especially in a big-growing city like Yogyakarta City. This research try to integrate Cellular Automata GIS modelling with statistic-based model, the Binary Logistic Regression, for monitoring and predicting the physical development of Yogyakarta City through the phenomenon of built-up area expansion approach. Primary data used in this research are land cover maps in the year of 2003 and 2009 generated from multispectral classification of Landsat Image. In this research, the factors used for predicting the built-up area development (urban sprawl) are physical factors, they are the accessibility from main roads and secondary roads, and the distance to the activity centre like central business district. The result of this research shows that the development of built-up area in Yogyakarta City in 2003-2013 had the development rate of 329 ha/year with the central direction of its development to north-eastern part of Yogyakarta City, around the Gondomanan and Depok Sub-districts. Other result, Cellular Automata model which is integrated with Binary Logistic Regression model predicting that Yogyakarta City will have the development rate for 539 ha/year in 2013-2023 with the central direction of its development to south-western part of Yogyakarta City, around the Kasihan and Mantrijeron Sub-districts.Keywords: GIS, modeling, cellular automata, binary logistic regression, Yogyakarta
PEMETAAN PULAU KECIL DENGAN PENDEKATAN BERBASIS OBJEK MENGGUNAKAN DATA UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) Ramadhani, Yoniar Hufan; Rokhmatulloh, Rokhmatulloh; K., Aris Poniman; Susanti, Rahmatia
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.602 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.223

Abstract

Pulau kecil memiliki ukuran yang kecil, ekosistem yang rentan dan sumberdaya yang terbatas, sehingga dampak dari permasalahan pembangunan akan lebih terlihat. Ketersediaan data keruangan menjadi salah satu sebab timbulnya kesalahan dalam pengelolaan pulau kecil. Secara umum pemetaan pulau kecil membutuhkan data citra dengan resolusi tinggi dikarenakan ukurannya. Namun ketersediaan data yang terbatas masih menjadi kendala terutama pada area yang jauh dari pulau utama. Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sebagai teknologi yang mampu melakukan akuisisi data dengan ketinggian rendah, menghasilkan citra beresolusi tinggi bisa menjadi solusi dalam penyediaan data untuk pemetaan pulau kecil. Penelitian ini mengkaji penggunaan data yang dihasilkan dari UAV menggunakan analisis digital berbasis objek (GEOBIA) untuk pemetaan penutup lahan pulau kecil. Analisis digital berbasis objek dilakukan untuk otomatisasi pengolahan data pemetaan pulau kecil dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi hasil pemetaan dibandingkan dengan interpretasi visual yang selama ini sering dilakukan. Untuk keperluan ini, foto udara hasil dari UAV diturunkan menjadi citra orthofoto resolusi sangat tinggi dan model permukaan digital (DSM). Pada tahapan klasifikasi, analisis digital dengan pendekatan berbasis objek digunakan untuk mengkelaskan empat jenis objek yaitu bangunan, pohon, rumput/semak dan permukaan diperkeras/kedap air. Hasil kajian menunjukkan penggunaan analisis digital berbasis objek dengan menggunakan data hasil UAV memberikan hasil yang sangat baik untuk pemetaan cepat penutup lahan pulau kecil dengan akurasi keseluruhan sebesar 94,4% dan indeks kappa 0,92. Hasil kajian ini memberikan alternatif untuk pemetaan cepat penutup lahan pulau kecil yang seringkali masih menggunakan interpretasi secara visual. Pemanfaatan data UAV juga memberikan solusi keterbatasan ketersediaan data di pulau kecil Indonesia.Kata kunci : pulau kecil, penutup lahan, klasifikasi, GEOBIA, UAVABSTRACTSmall island has a small size, vulnerable ecosystems and limited resources, hence impact of development problems will be more visible in this particular area. Availability of spatial data becomes one of reasons of erroneous in management of small islands. In general, mapping of small islands require image data with high resolution due to its size. However, the limitation on availability data remains a constraint, especially in remote areas. Unmanned Aerial Vehicle (UAV) is a technology that can perform data acquisition at low altitude, produces high-resolution image, so that it can be a solution in providing data for mapping small island. This study examines the use of data generated from the UAV using object-based digital analysis (GEOBIA) for mapping small island land cover. Object-based digital analysis performed for automation of data processing mapping of small islands in improving efficiency and accuracy of the mapping results compared to visual interpretation which has been frequently done. A very high resolution imagery and digital surface models (DSM) produced from UAV aerial photographs for this purpose. At the stage of classification, digital analysis by objectbased approach was used to classify the four classes of objects, namely buildings, trees, grass/shrubs and bare soils/impervious surface. The results showed that the use of object-based digital analysis using data from UAVs provide excellent results for rapid mapping of small island’s land cover with an overall accuracy of 94.4% and kappa index of 0.92.The results of this study provide an alternative for rapid mapping of land cover small islands. Data utilization UAVs also provide solutions to the limitations of the data availability on small islands in Indonesia.Keywords : small island, land cover, classification, GEOBIA, UAV
UJI PARAMETER SPASIAL OSEANOGRAFI POTENSI SUMBERDAYA LAUT Pramono, Gatot; Sutrisno, Dewayany; Martha, Sukendra
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.669 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.228

Abstract

Paradigma “open access” pemanfaatan sumberdaya kelautan nusantara menyebabkan semakin terdegradasinya sumberdaya kelautan, utamanya di sektor perikanan tangkap. Hal tersebut ditambah dengan kemiskinan dan keterbatasan sarana dan prasarana nelayan serta iklim yang terkadang tidak bersahabat pada waktu-waktu tertentu menyebabkan perlu dipertimbangkan usaha budidaya yang dapat terjangkau oleh sebagian besar masyarakat nelayan, baik itu secara teknologi maupun ekonomi. Budidaya laut yang tepat adalah rumput laut. Guna menunjang pemanfaatan wilayah pesisir yang berkelanjutan tujuan dari studi ini adalah untuk mengkaji rulebase atau basis aturan yang tepat untuk mendukung analisis kesesuaian ruang wilayah pesisir untuk budidaya rumput laut, salah satunya dengan menggunakan parameter oseanografi sebagai masukan dasar rulebase. Wilayah perairan Teluk Tomini, Kabupaten Boalemo dipilih sebagai studi area, Metode komparasi kualitatif dan metode validasi kuantitatif, yang membandingkankan dan mengkaji hasil implementasi rulebase dengan kondisi lapangan digunakan dalam studi ini. Hasil analisis memerlihatkan adanya peubah nilai kelas-kelas dalam parameter salinitas dan kedalaman yang berpengaruh pada ketepatan hasil. Oleh karena itu rulebase yang diterapkan hendaknya memperhatikan aspek lingkungan dan kondisi lokal dalam setiap langkah proses penyusunan rulebase.Kata Kunci: rulebase, rumput laut, budidaya lautABSTRACTThe open access paradigm in utilize the marine resources in Indonesia may cause degradation of the marine resources, especially in capture fisheries activities. This problem, including the local fishermen poverty, the lack of equipment and fishing gears, and seasonal climate, give opportunity to the marine culture development. The culture should be technologically and financially affordable by ordinary fishermen, i.e seaweed culture. However, the development of seaweed culture should be in the mainstream of sustainable management, which can be managed by employing spatial suitability analysis. Therefore, the rulebase for sustainability analysis should be tested to get the accurate spatial assessment result. Using the oceanographic parameters as the base of the rulebase, the assessment of the rulebase evaluation was carried out within the Boalemo Regency. The aim of this study is to assess the role of oceanographic parameters in the development of the rulebase for spatial seaweed culture sustainability. The result indicates the class value changes of depth and salinity have a significant impact on the rulebase. Indeed the rulebase should consider the environmental and local condition in the steps of rulebase development.Keywords: rulebase, sea weeds, marine culture
DINAMIKA TUTUPAN PERAIRAN DANGKAL PULAU-PULAU KECIL, KEPULAUAN SPERMONDE Nurdin, Nurjannah; Amri, Khairul; Djalil, Abd. Rasyid; AS, M. Akbar; Jaya, Ilham; agus, Agus
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.852 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.221

Abstract

Salah satu wilayah pesisir yang penting secara ekonomi dan ekologi adalah kawasan pesisir Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Pada wilayah ini terdapat kegiatan ekonomi yang berbasiskan sumber daya alam seperti perikanan. Perairan Kepulauan Spermonde menerima dampak dari kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan sehingga berpengaruh terhadap kerusakan ekosistem pesisir. Penginderaan jauh memiliki peranan penting dan efektif untuk penilaian dan pemantauan dinamika tutupan perairan dangkal. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan informasi dinamika spasial tutupan dasar ekosistem perairan dangkal di pulau-pulau outer zone Kepulauan Spermonde. Lokasi penelitian adalah pulau Langkai. Data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu citra satelit Landsat dengan tahun perekaman 1972, 1981, 1990, 1996, 2002, 2008, dan 2014. Penelitian ini terdiri dari lima tahapan, yaitu: (1) tahap awal pengolahan citra satelit, (2) tahap survei lapangan, (3) tahap pengolahan citra lanjutan, (4) tahap post classification dan (5) uji ketelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan luas karang hidup menjadi karang mati dan pecahan karang, sedangkan luas pecahan karang dan karang mati ditumbuhi alga meningkat selama 42 tahun (1972 – 2014). Kerusakan habitat terumbu karang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia yang menangkap ikan dengan menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan.Keywords: dinamika spasial, terumbu karang, pulau kecil, LandsatABSTRACTOne of the coastal areas are important economically and ecology are Spermonde islands coastal areas of South Sulawesi. In this region there are economic activities based on natural resources such as fisheries. This region receives the impact of fishing activities which are not environmentally friendly and therefore contributes to damage to coastal ecosystems. Remote sensing has an important and effective role in the assessment and monitoring of the dynamics of shallow water cover. The aim of this study is to produce dynamic geospatial information of shallow water on a small island, Spermonde archipelago. The research location is a Langkai island. The data used in this study is Landsat satellite image with a different acquitision date. This study consists of five main steps including: (1) the stage of satellite image processing, (2) field survey, (3) advanced image processing, (4) post classification, and (5) accuracy assessment. The results showed that there was a large decrease in live coral to dead coral with algae and rubble, while the area of dead coral with algae and rubble is increased for 42 years ( 1972-2014 ). Damage to coral reef habitat largely caused by human activity which catch fish by using fishing gear that is not environmentally friendly.Keywords: spatial dynamic, coral reef, small island, Landsat
ANALISIS POTENSI LANSKAP EKOWISATA DI DAERAH PENYANGGA KAWASAN TAMAN NASIONAL UJUNG KULON PROVINSI BANTEN Wakyudi, Wakyudi; Hadi, Setia; Rusdiana, Omo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.616 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.224

Abstract

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi untuk optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatan. TNUK diketahui memiliki potensi keanekaragaman hayati dan keanekaragaman ekosistemnya yang tinggi termasuk potensi ekowisata. Namun, keberadaan potensi TNUK saat ini masih menimbulkan konflik kepentingan berbagai pihak. Oleh karena itu pentingnya perumusan pengelolaan dan pemanfaatan sekitar kawasan TNUK harus selaras dengan kegiatan konservasi, salah satunya dengan penerapan kegiatan ekowisata. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis potensi objek dan daya tarik ekowisata di desa penyangga kawasan TNUK. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil analisis potensi wisata disajikan berupa peta tematik potensi objek wisata dengan menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan penyangga TNUK yang berbatasan langsung sebagian besar memiliki potensi objek dan atraksi wisata yang sangat potensial. Potensi objek dan atraksi wisata yang termasuk kategori sangat potensial (SP) terdapat di 7 desa, kategori potensial (P) sebanyak 3 desa dan kategori kurang potensial (KP) di 5 desa penyangga dari 15 tempat fokus pelaksanaan penelitian. Potensi kelayakan objek wisata yang terdapat di 12 desa penyangga TNUK dominasi memiliki klasifikasi sangat potensial (SP) dan potensial (P) dan 1 desa yang memiliki kelas kurang potensial.Kata kunci: ekowisata, penyangga, Kabupaten PandeglangABSTRACTUjung Kulon National Park (TNUK) is a natural conservation area managed by implementing a zoning system for optimizing its management and utilization. TNUK is known to have high potential of biodiversity and ecosystems including ecotourism potential. However, the existence of the potential TNUK often rises conflicting interests among various parties. Hence, the formulation of the importance of management and utilization of the surrounding area TNUK conservation activities must be aligned with one of them with the implementation of ecotourism activities. This research aims to analyze the potential target of this research object and appeal of ecotourism in the village buffer TNUK region. This research uses qualitative descriptive method. Results of the analysis of the tourism potential in the form of thematic maps mapped potential tourist attraction by using Geospatial Information Systems (GIS). The results showed that the buffer zone immediately adjacent TNUK most have the potential and the object a potential tourist attraction. Potential objects and tourist attractions are categorized very potential (SP) contained in 7 villages, a potential category (P) of 3 villages and less potential categories (KP) in 5 villages buffer of 15 where the focus of the implementation of the research. The potential feasibility of attractions found in 12 villages buffer TNUK classification dominance has potential (SP) and Potential (P) and 1 village has less potential class.Keywords: ecotourism, buffer zone, Pandeglang Regency
ARAHAN PERUNTUKAN RUANG KAWASAN PERKEBUNAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SISTEM LAHAN Nashiha, Maslahatun; Turmudi, Turmudi; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.124 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.229

Abstract

Salah satu permasalahan utama di bidang ekonomi pada sektor pertanian adalah rendahnya produksi dan produktivitas tanaman perkebunan. Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lombok Tengah yang ada telah mengakomodir arahan peruntukan kawasan perkebunan, namun belum menunjukkan distribusi lokasi dan jenis komoditas perkebunan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan dan kesesuaian lahan dari kawasan perkebunan yang telah direncanakan, dan memberikan arahan komoditas yang sesuai berdasarkan kesesuaian lahannya. Metode yang digunakan adalah analisis overlay antarapeta kemampuan lahan dan peta kesesuaian lahan, dengan peta pola ruang, serta metode matching untuk memberikan arahan jenis komoditas perkebunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18,54% dari total luas wilayah dengan peruntukan kawasan perkebunan merupakan lahan yang cocok untuk pertanian (kelas I dan kelas II). Sebagian besar (79,75%) merupakan wilayah yang dapat dipertimbangkan untuk berbagai pemanfaatan lainnya. Kawasan yang merupakan lahan prioritas (35,78%) lebih sedikit jika dibandingkan dengan kawasan yang merupakan lahan potensial (44,25 %). Selebihnya merupakan lahan alternatif (19,67%). Jenis komoditas yang dapat dikembangkan di semua kecamatan adalah tembakau dan jambu mete, sedangkan komoditas perkebunan kakao hanya terbatas di satu kecamatan.Kata kunci: peruntukan ruang, kesesuaian dan kemampuan lahan, sistem lahanABSTRACTOne of the main economic problems in agricultural sector is low production and productivity of plantation crops. Spatial Planning document developed by Lombok Tengah District have accommodate plantation area allocation, but have not shown the suitability of location and plantation commodity. This research aimed to analysis land capability and suitability of the plantation area shown in Spatial Planning Map, as well as providing appropriate referrals commodities based on land suitability. This research used overlay and matching method. Parameters considered are land suitability, land capability and spatial pattern. Land suitability and capability information were derived from Land System Map. Land suitability and capability information were overlaid and matched with the spatial pattern to get plantation commodity allocation. The result show 18.54% of total area allocated for plantation area is suitable for agricultural area (class 1 and 2). Most of that (79.75%) is the area which considered for other uses. Priority land plantation is less (35.75%) compared with the plantation area as a potential land (44.25%). The rest is an alternative land (19.67%). Plantation commodities types that can be developed in all districts are tobacco and cashew nut. While the commodities limited for certain district is cocoa.Keywords: spatial allocation, land suitability and capability, land system
KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN BERBASIS OBJEK PADA CITRA SATELIT SPOT DENGAN MENGGUNAKAN METODE TREE ALGORITHM Julzarika, Atriyon; Carolita, Ita
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.217 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.220

Abstract

Perkembangan klasifikasi berbasis objek sudah dikenal sejak kemajuan recognition pada bidang fotogrametri kedokteran sekitar tahun 1970. Klasifikasi berbasis objek ini kemudian digunakan pada bidang penginderaan jauh. Klasifikasi ini diaplikasikan pada klasifikasi penutup lahan dengan berbagai pendekatan metode. Pada penelitian ini, penutup lahan berbasis objek dilakukan menggunakan pendekatan region growing dan teknik klasifikasi dengan menggunakan metode tree algorithm. Klasifikasi ini menggunakan citra satelit SPOT wilayah Danau Limboto. Proses pertama yang dilakukan adalah melakukan segmentasi dengan penentuan parameter skala 15, shape 0,1 dan compactness 0,5. Pembuatan tree algorithm ini didasarkan pada jenis sampel yang dipilih sesuai dengan jenis klas objek. Kemudian hasil klasifikasi ini dilakukan uji geostatistik berupa classification stability, best classification result, error matrix based on TTA Mask, dan error matrix based on samples. Tulisan ini bertujuan untuk menentukan teknik klasifikasi penutup lahan berbasis objek pada citra satelit SPOT menggunakan metode tree algorithm. Teknik klasifikasi ini diharapkan bisa meningkatkan ketelitian (akurasi dan presisi) klasifikasi penutup lahan serta dapat menjadi alternatif metode klasifikasi yang telah tersedia saat ini.Kata kunci: objek, segmentasi, tree algorithm, uji geostatistik, Danau LimbotoABSTRACTThe development of object-based classification has been known since the recognition progress in the field of medical photogrammetry in about the year of 1970. Object-based classification is then also used in the field of remote sensing. This classification was applied to land cover with various approach of methods. In this study, object-based land cover classification used an approach of region growing and classification technique by tree algorithm. This classification used SPOT satellite imagery of Lake Limboto. The first process was determined the segmentation with scale parameter 15, shape 0.1 and compactness 0.5. The making of treealgorithm was based on the type of sample selected according to the type of objects class. Then the results of the classification has been used to perfom geostatistical tests of classification stability, best classification result, error matrix based on TTA Mask, and error matrix based on samples. This paper aims to determine the land cover objects based classification technique on the SPOT satellite imagery using tree algorithm method. This classification technique is expected to increase accuracy and precision of land cover classification and can be used as an alternative method of classification that has been available at this time.Keywords: object, segmentation, tree algorithm, geostatistical test, Lake Limboto
PEMETAAN POTENSI EPIDEMI MUNTABER DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI, PROVINSI SUMATERA BARAT Mulya, Setyardi Pratika; Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.233 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.225

Abstract

Bencana epidemi penyakit adalah suatu wabah penyakit tertentu atau kejadian luar biasa yang tiba-tiba meluas dan menyebabkan sakit pada manusia dalam jumlah yang banyak. Penyakit ini termasuk urutan ke empat dari sepuluh penyakit terbanyak yang mewabah di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahaya/rawan, hirarki dan potensi epidemi penyakit muntaber di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Analisis yang digunakan adalah skoring, pembobotan, skalogram, dan analisis spasial. Hasil penelitian ini adalah (1). wilayah kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan penyebaran epidemi penyakit muntaber tertinggi berada di Kecamatan Siberut Utara dan beberapa lokasi di Kecamatan Sipora Selatan, sedangkan yang memiliki tingkat kerawanan yang rendah didominasi di sebagian kecil Pulau Siberut, Kecamatan Sikakap, dan Kecamatan Pagai Selatan, (2). Kecamatan Pagai Selatan memiliki hirarki 1, kecamatan yang berhirarki 2 adalah Kecamatan Sikakap dan Sipora Utara, dan kecamatan yang berhirarki 3 adalah Kecamatan Pagai Utara, Siberut Barat Daya, Siberut Barat, Siberut Selatan, Siberut Tengah, Siberut Utara, dan Sipora Selatan, (3). Potensi terbesar penyakit muntaber terjadi di wilayah Siberut Utara dan beberapa tempat di Sipora Selatan. Sementara itu, potensi terkecil terjadinya penyakit muntaber berada di Kecamatan Pagai Selatan.Kata Kunci: hirarki, Kepulauan Mentawai, muntaber, potensi, rawan.ABSTRACTEpidemic disease is an extraordinary event that suddenly spread and causes humans illness in large numbers. This disease ranks fourth (out of ten) endemic diseases in Mentawai Islands. This study aims to determine prone, hierarchy and the potential for epidemics of diarrhea in the Mentawai Islands. The analysis is scoring, weighting, schallogram, and spatial analysis. Results of this study are: (1). Sub district of which has a severe impact diarrheal disease epidemics highest are North Siberut sub district and South Sipora, (2). Sub district of South Pagai has a hierarchy 1, hierarchy 2 are Sikakap and Sipora sub district of North, and hierarchy 3 are sub district of North Pagai, Siberut Southwestern, Siberut West, South Siberut, Central Siberut, North Siberut, and South Sipora, (3). The biggest potential diarrheal diseases in the sub district of North Siberut and some places in South Sipora.Keywords: hierarchy, Mentawai Islands, diarrhea, potential, vulnerable

Page 1 of 1 | Total Record : 10