cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
KOMPARASI INDEKS VEGETASI UNTUK ESTIMASI STOK KARBON HUTAN MANGROVE KAWASAN SEGORO ANAK PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI, JAWA TIMUR Frananda, Hendry; Hartono, Hartono; Jatmiko, Retnadi Heru
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.259 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.222

Abstract

Estimasi kandungan karbon kawasaan hutan mangrove sering dilakukan dengan memanfaatkan transformasi indeks vegetasi, dimana nilai yang diperoleh merupakan gabungan dari beberapa saluran pada citra untuk menonjolkan kenampakan vegetasi. Sulitnya medan hutan mangrove menjadikan transformasi indeks vegetasi sebagai salah satu cara efektif untuk mengestimasi karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana data penginderaan jauh dapat dimanfaatkan dalam mengestimasi kandungan karbon pada hutan mangrove, dan untuk mengetahui transformasi indeks vegetasi terbaik dalam mengestimasi kandungan karbon hutan mangrove, sehingga akan diketahui korelasi antara masing-masing transformasi indeks vegetasi yang digunakan dengan kandungan karbon lapangan beserta tingkat akurasinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan melakukan perhitungan kandungan karbon pada beberapa titik sampel lapangan dan melihat korelasi antara kandungan karbon pada titik sampel lapangan dengan nilai indeks dari masing-masing transformasi indeks vegetasi yang digunakan. Hasil penelitian berupa korelasi beserta tingkat akurasi dan kandungan karbon total dari masing-masing transformasi indeks vegetasi yang digunakan (SR, NDVI, TVI, RVI, SAVI, EVI) dengan data lapangan. Koreksi radiometrik yang dilakukan adalah histogram adjusment atau dark-pixel subtraction. EVI dan TVI merupakan indeks vegetasi yang memiliki korelasi dan akurasi terbaik untuk mengestimasi kandungan karbon hutan mangrove dengan nilai R2 dari EVI = 0,72 dan TVI = 0,63, dengan nilai RMSE EVI ± 74.40139 ton/ha dan nilai RMSE TVI ± 39.70762 ton/ha. Kesimpulan dari penelitian ini diketahui pada tingkat koreksi atmosfer yang sama, indeks vegetasi EVI dan TVI merupakan indeks yang memiliki hubungan korelasi dan akurasi terbaik, sehingga EVI dan TVI merupakan indeks vegetasi terbaik untuk mengestimasi karbon hutan mangrove.Kata kunci: penginderaan jauh, estimasi, karbon hutan, indeks vegetasiABSTRACTForest carbon content estimations are often done by using transformation of vegetation index, where the value that obtained was a combination of several canals in the image to show the appearance of vegetation. The difficult terrain of mangrove forest made the transformation of vegetation index as one of the effective ways to estimate carbon. The objective of this study were to determine the extent of remote sensing data can be used and the most optimum vegetation index transformation in estimating the carbon content in the mangrove forest, so as to obtain a correlation between each vegetation index transformation that are used with the carbon content of the field and its level of accuracy. The method were using the calculation of carbon content at some point field samples and examine the correlations between the carbon content at the point of field samples with an index value of each vegetation index transformation that are used. The result of this study was a correlation with the level of accuracy and total carbon content of each vegetation index transformation that are used (SR, NDVI, TVI, RVI, SAVI, EVI) with field data. Radiometric correction was conducted with histogram adjustment or dark-pixel subtraction. EVI and TV are the best correlation and accuracy of vegetation index for estimating the carbon content of mangrove forest with R2 values of EVI = 0.72 and TVI = 0,63, and the RMSE of EVI ± 74.40139 tons/hectare and TVI ± 39.70762 tons/hectare. The conclusion of this study was known at the same level of atmospheric correction, EVI and TVI vegetation index have the best correlation and accuracy, so that EVI and TVI are the best vegetation index for estimating carbon mangrove forests.Keywords: remote sensing, estimation, forest carbon, vegetation index
ANALISIS SPASIAL KEMAMPUAN LAHAN DALAM PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS MIKRO Wahyuningrum, Nining; Supangat, Agung Budi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.601 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.393

Abstract

Untuk mewujudkan kondisi lahan yang produktif sesuai dengan daya dukung DAS diperlukan rencana detil sehingga mudah diterapkan di lapangan. Perencanaan detil perlu didahului dengan penelaahan global untuk mengetahui gambaran umum kondisi lahan aktual, sehingga dapat digunakan untuk menetapkan prioritas-prioritas lokasi yang penting untuk segera ditangani. Dalam paper ini dilakukan analisis kemampuan penggunaan lahan (land use capability analysis) skala detil (DAS mikro) berdasar kepada informasi semi detil (sub DAS) dengan menggunakan ArcMap 9.3. Penelitian dilakukan di DAS Mikro Naruwan yang termasuk dalam Sub DAS Keduang, DAS Solo. DAS Solo merupakan salah satu dari 108 DAS prioritas yang harus dipulihkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa 38% lokasi penelitian didominasi tegal, kebun campur 23%, hutan 20% dan sisanya oleh sawah, permukiman dan semak belukar. Meskipun kebun campur dan hutan mendominasi, akan tetapi terdapat 56,24% penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan klas kemampuan lahannya. Pada lahan yang tidak sesuai tersebut 33,14% mengalami erosi pada taraf sangat berat (>480 ton/ha). Lahan yang tidak sesuai tersebut terutama adalah tegal. Karena sebagian besar merupakan lahan milik masyarakat sehingga tidak mudah untuk merubah penggunaannya. Oleh sebab itu perlu dilakukan kompromi untuk mengurangi dampak negatifnya yaitu dengan pengembangan hutan rakyat dengan sistem agroforestri, perbaikan hutan di bantaran sungai, peningkatan persentase penutupan lahan, pembuatan teras gulud, pemberian mulsa, pembuatan rorak, pembangunan dam penahan dan dam pengendali untuk mengendalikan erosi. Kata kunci: kemampuan lahan, penggunaan lahan, erosi, perencanaan, konservasiABSTRACTTo create a productive land condition in accordance with the carrying capacity of watershed needs a detailed planning so it is applicable in the field. The detailed planning needs to be preceded by a global assessment to comprehend the actual general description, so it can be used to set priorities that are important to be addressed. In this paper, land use capability analysis were used in the detail planning (micro-catchment) based on the semi-detail (sub-watershed) information by utilizing GIS analysis. The study was conducted in Naruwan micro watershed which is included in Keduang Sub-Watershed of Solo Watershed. Solo Watershed is one of 108 watersheds that should be recovered. Analysis show that 38% of the area is dominated by dryland, 23% mixed garden, 20% production forest, and the rest consisted of paddy field, settlement and shrubs. Although the mixed garden and forest dominate, but there are 56,24% of the land use that is suitable to its land capability. The 33,4% of the unsuitable land use, have very severe erosion (>480 ton/ha). The unsuitable land use is  dry land agriculture. Since most of the land belonging to the community, so it is not easy to change its usage. Therefore it is necessary to compromise the type of land uses which reducing its negative impact namely the development of community forest by applying  agroforestry system, improvement of riparian forest, increasing the percentage of permanent land cover, terracing, mulching, manufacture of sediment trap (rorak), building retaining dam and control dam to control erosion.Keywords: land capability, land use, erosion, planning, conservation
PEMODELAN SPASIAL PERKEMBANGAN FISIK PERKOTAAN YOGYAKARTA MENGGUNAKAN MODEL CELLULAR AUTOMATA DAN REGRESI LOGISTIK BINER Wijaya, Muhammad Sufwandika; Umam, Nuril
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.367 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.227

Abstract

Perkembangan kota dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, salah satunya adalah dengan melihat perkembangan fisiknya. Perkembangan fisik kota dapat diidentifikasi salah satunya melalui fenomena ekspansi lahan terbangun. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografi (SIG) dengan model Cellular Automata sangat perlu untuk mengkaji fenomena ekspansi lahan terbangun, baik untuk kajian ilmiah maupun perencanaan tata ruang terutama di kota yang besar dan berkembang seperti Yogyakarta. Penelitian ini mencoba mengintegrasikan model SIG Cellular Automata dengan model lain berbasis statistik, yaitu Regresi Logistik Biner untuk memonitor serta memprediksi perkembangan fisik perkotaan Yogyakarta melalui pendekatan terhadap fenomena ekspansi lahan terbangun. Penggunaan data primer pada penelitian berupa peta penutup lahan tahun 2003 dan 2009 hasil klasifikasi multispektral dari Citra Landsat. Faktor yang digunakan untuk memprediksi perkembangan lahan terbangun pada penelitian ini adalah faktor perkembangan kota yang bersifat fisik, yaitu faktor jarak terhadap aksesibilitas dari jalan utama dan jalan non-utama serta jarak terhadap pusat kegiatan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan lahan terbangun di Kota Yogyakarta pada tahun 2003-2013 memiliki laju 329 ha/tahun dengan pusat perkembangan ke arah timur laut Kota Yogyakarta, yaitu daerah sekitar Kecamatan Gondomanan dan Kecamatan Depok. Model Cellular Automata yang diintegrasikan dengan model Regresi Logistik Biner memprediksi Kota Yogyakarta pada tahun 2013-2023 memiliki laju perkembangan 539 ha/tahun dengan pusat perkembangan ke arah barat daya Kota Yogyakarta, yaitu daerah sekitar Kecamatan Kasihan dan Mantrijeron.Kata Kunci : SIG, pemodelan, cellular automata, regresi logistik biner, YogyakartaABSTRACTUrban development can be viewed from some different points, the one is from its physical development or in the term of urban sprawl. Physical development of the city can be identified by the phenomenon of built-up area expansion. Utilization of Geographic Information System (GIS) with Cellular Automata modelling is very necessary in the study of the phenomenon of built-up area expansion, both of scientific study or applied study for spatial and regional planning, especially in a big-growing city like Yogyakarta City. This research try to integrate Cellular Automata GIS modelling with statistic-based model, the Binary Logistic Regression, for monitoring and predicting the physical development of Yogyakarta City through the phenomenon of built-up area expansion approach. Primary data used in this research are land cover maps in the year of 2003 and 2009 generated from multispectral classification of Landsat Image. In this research, the factors used for predicting the built-up area development (urban sprawl) are physical factors, they are the accessibility from main roads and secondary roads, and the distance to the activity centre like central business district. The result of this research shows that the development of built-up area in Yogyakarta City in 2003-2013 had the development rate of 329 ha/year with the central direction of its development to north-eastern part of Yogyakarta City, around the Gondomanan and Depok Sub-districts. Other result, Cellular Automata model which is integrated with Binary Logistic Regression model predicting that Yogyakarta City will have the development rate for 539 ha/year in 2013-2023 with the central direction of its development to south-western part of Yogyakarta City, around the Kasihan and Mantrijeron Sub-districts.Keywords: GIS, modeling, cellular automata, binary logistic regression, Yogyakarta
PROYEKSI PENGARUH PENCAIRAN ES TERHADAP SEA LEVEL RISE DENGAN MENGGUNAKAN DATA ALTIMETER DAN MODEL Sofian, Ibnu
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.268 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-1.102

Abstract

Estimasi penghitungan kontribusi mencairnya es (CIM, contribution of ice melting) terhadap Sea Level Rise (SLR) dilakukan dengan menggunakan data altimeter dan model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pengaruh CIM tidak seragam tergantung dari lokasi geografisnya.Tren SLR altimeter, SODA (Simple Ocean Data Assimilation) dan ECCO (Estimating Circulation and Climate of the Ocean), masing-masing adalah 0.67 , 0.49 dan 0.13 cm/tahun. Rendahnya SLR ECCO disebabkan karena model ECCO dihitung tanpa memasukkan ice-model dan asimilasi data observasi. Sementara itu, SODA menggunakan data observasi dalam estimasi sea level dengan metode asimilasi.Selanjutnya, tingkat kenaikan CIM berkisar antara 0.2 - 0.6 cm/tahun. Besarnya akselerasi kenaikan CIM ini lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan temperatur. Dengan semakin tingginya konsentrasi GRK (Gas Rumah Kaca) di atmosfir, maka tingkat kenaikan CIM akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya waktu. Selanjutnya, proyeksi CIM tahun 2030 berkisar antara 5 – 20cm, dan tahun 2100 berkisar antara 20 – 65 cm. Pada akhirnya, bervariasinya nilai CIM menunjukkan bahwa tidak memungkinkan untuk menentukan proyeksi SLR secara presisi baik menggunakan model fisis maupun metode statistik, meskipun mungkin SLR akan mencapai 2 m pada tahun 2100.Kata Kunci: Proyeksi, Pencairan Es, Kenaikan Tinggi Muka Laut, Altimeter, ModelABSTRACTThe estimation of contribution of ice melting (CIM) on sea level rise (SLR) is conducted using altimeter and model-estimated sea levels. It is found that, the impacts of CIM is inhomogeneous depends on the geographical location. Altimeter, SODA and ECCOestimated SLR are 0.67, 0.49 and 0.13 cm/yr, respectively. The low ECCO-estimated SLR is caused by the ECOO that not including the ice-model and the assimilation with the observational data. On the contrary, SODA uses the observational data for estimate the sea level by using the assimilation method. Furthermore, CIM rise rate varies from 0.2 to 0.6 cm/yr. The rising temperature mainly causes this high CIM rise rates. With the rising of green house gasses concentration in the atmosphere, the CIM rise will be getting higher. The CIM are from 5 to 20 cm and from 20 to 65 cm in 2030 and 2100, respectively. Finally, these CIM show that sea level rise cannot be precisely predicted by physical model and other statistical method, although the sea level probably will be rise more than 2 m in 2100.Keywords: Projection, Ice Melting, Sea Level Rise, Altimeter, Model
APLIKASI DATA INDERAJA MULTISPEKTRAL UNTUK ESTIMASI KONDISI PERAIRAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN HASIL TANGKAPAN IKAN PLAGIS DI SELATAN JAWA BARAT Fitriah, Nurlaila; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1832.075 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2007.9-1.411

Abstract

Lokasi penelitian terletak di perairan selatan Jawa bagian barat yaitu pada koordinat: 104-1070BT dan 5-9 0LS dengan wilayah kajian pada koordinat 104,4-106,50BT dan 6,8-7,80LS. Citra yang digunakan adalah citra Aqua MODIS level 3. Algoritma yang digunakan umtuk estimasi konsentrasi khlorofil-a adalah OC3M. Analisis temporal khlorofil-a dan SPL dilakukan dengan metode deret waktu. Untuk melihat hubungan antara khlorofil-a dan SPL dengan hasil tangkapan dilakukan analisis secara deskriptif dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata SPL tahun 2002-2007 berkisar antara 25-310C. SPL yang dominan pada wilayah penelitian adalah 29-300C. Pada Agustus dan September 2006 terjadi IODM (Indian Ocean Dipole Mode), dimana SPL lebih dingin dari biasanya. Secara umum kisaran khlorofil-a di wilayah penelitian sebesar 0,1434-1,3689 mg/m3. Kisaran yang dominan pada wilayah penelitian antara 0,4-0,1 mg/m3. Spektrum densitas energy khlorofil-a menunjukkan adanya fluktuasi antar tahunan dengan periode 30 dan 20 bulan. Selain itu, fluktuasi tahunan khlorofil-a terjadi pada periode 15, 12, dan 10 bulan. Untuk SPL, nilai densitas energy menunjukkan fluktuasi antar tahunan dan tahunan. Periode antar tahunan yang terjadi adalah 30 dan 20, sedangkan periode tahunan yang terjadi adalah 15, 12, dan 10 bulan.Kata kunci: Penginderajan Jauh Multispektral, Citra Aqua MODIS, Khlorofil-a, Suhu Permukaan Laut PhitoplanktonABSTRACTLocation of this research is in the southern waters of west Java with the coordinates: 104-1070BT and 5-9 0LS, and 104,4-106,50BT and 6,8-7,80LS. The image of Aqua MODIS level 3 was used in this study. Algorithm that is used to estimate concentration Chlorophyll-a is an OC3M. Temporal Analysis Chlorophyll-a and sea Surface Temperature (SST) method was applied with the progression of time. The relationship between Chlorophyll-a and SST with Pelagic fish yield was done descriptive and regression linier analysis. Result of research shows that average SST years 2002-2007 ranged between 25-310C. SST at the dominant area of research is 29-300C. In August and September 2006 has occurred IODM (Indian Ocean Dipole Mode), where SST colder than usual. In general, the range Chlorophyll-a research in the area was 0,1434-1,3689 mg/m3. In the range of research areas between 0,4-1,0 mg/m3 was found dominant. The energy density spectrum of chlorophyll-a annual fluctuations occurred in a period of 15, 12, and 10 months. For SST, the value of the energy density shows inter-annual fluctuations and annual, Inter-annual period is going 30 and 20 months, while the annual period is under 15, 12, and 10 months.Keywords: Multispectral Remote Sensing, Aqua Modis Image, Chlorophyll-a, Sea Surface Temperature, Phytoplankton
DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN SEMPANDAN SUNGAI TERHADAP KUALITAS AIR KALI KRUKUT KOTA DEPOK Sugiyo, Kurniawati; Sudarmaji, Bambang Wahyu
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2422.679 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air Kali Krukut sehubungan dengan penggunaan tanah daerah sempadannya. Daerah penelitian adalah Kali Krukut di Kota Depok dengan sempadan sungainya sejauh 50 meter di kanan dan kirinya dan dibagi menjadi enam ruas. Penggunaan tanah sempadan diklasifikasikan menjadi penggunaan tanah sempadan berpenyangga dan yang tidak berpenyangga. Pengukuran parameter kualitas air dilakukan selama lima hari pada waktu pagi dan siang pada masing-masing ruas sungai. Perbedaan nilai parameter kualitas air dipengaruhi oleh penggunaan tanah sempadannya. Pada sempadan yang tidak berfungsi sebagai penyangga, umumnya memiliki kualitas air yang lebih buruk dibandingkan dengan sempadan yang berfungsi sebagai penyangga.Kata Kunci: Debit, Kualitas Air, Penggunaan Tanah, Sempadan
APLIKASI DATA INDERAJA DAN SIG UNTUK PERCEPATAN PENETAPAN BATAS ADMINISTRASI: Studi Kasus Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia Niendyawati, Niendyawati; Hidayatno, Lulus
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.01 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.232

Abstract

Sebagai konsekuensi adanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah adalah semakin bertambahnya jumlah pemerintah daerah karena pemekaran wilayah. Hal ini berimplikasi pada bertambahnya segmen batas antar daerah. Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa batas antar daerah di seluruh Indonesia belum semua ditegaskan melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri). Oleh karena itu perlu dilakukan percepatan penetapan batas antar daerah, dimana hal ini juga menjadi agenda prioritas pemerintahan yang baru. Salah satu alternatif dalam percepatan penetapan batas adalah dengan memanfaatkan data inderaja dan Sistim Informasi Geografis (SIG), menggunakan metode kartometris. Data inderaja yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) dan citra SPOT 5 yang telah dilakukan proses ortorektifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan identifikasi secara teknis segmen batas antar provinsi dan menguji pemanfaatan citra inderaja dan SIG dalam membantu percepatan penetapan batas administrasi antar provinsi di Kalimantan Tengah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan citra SPOT 5 dan SRTM dengan metode kartometris membantu mempercepat proses penetapan batas antar provinsi di Kalimantan Tengah. Oleh karena itu metode ini sangat direkomendasikan dalam upaya percepatan pemetaan batas administrasi. Percepatan penetapan batas berkontribusi dalam mempercepat pembentukan kepastian hukum dan mengurangi konflik horizontal di Indonesia.Kata kunci: citra inderaja, SIG, metode kartometris, batas administrasiABSTRACTEnactment of the Law No. 23 Year 2014 on Regional Government gives consequence on the increasing number of local governments due to regional administrative growth. This condition brings implications to an increase on boundaries segment between regions. The Ministry of Home Affair stated that the boundaries between regions throughout Indonesia have not been completely confirmed by Minister of Home Affair Regulatory. Therefore, it is necessary to accelerate the establishment of boundaries between the regions, where it has also become a priority agenda of the new government. One alternative on accelerating the boundaries delimitation is by utilizing remote sensing data and Geographical Information Systems (GIS), using cartometric method. Remote sensing data used in this study were orthorectified Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) data and SPOT 5 imagery. The aim of this study was to identify technical boundary segments between provinces and evaluate the use of remote sensing imagery and GIS for accelerating the determination of administrative boundaries between provinces in Central Kalimantan Province. Results of this study indicated that the use of SPOT 5 imagery and SRTM data using cartometric method could speed up the process of boundaries delimitations between provinces in Central Kalimantan. Therefore, this method is recommended to accelerate the administrative boundaries mapping. The acceleration of the delimitation contributes to speed up the establishment of legal certainty of the boundaries and reduce horizontal conflicts in Indonesia.Keywords: remote sensing imagery, GIS, cartometric method, administration boundary.
KAJIAN MANAJEMEN RULEBASE UNTUK MENENTUKAN KAWASAN BUDIDAYA KELAUTAN YANG BERKELANJUTAN Sutrisno, Dewayany; Rahadiati, Ati; Pramono, Gatot H.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.05 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-1.107

Abstract

Cuaca yang tidak menentu dan sarana prasarana perikanan yang minimal merupakan penghambat utama bagi para nelayan tradisional untuk meningkatkan ekonomi mereka. Untuk mengatasi hal ini usaha budidaya merupakan alternatif terbaik bagi para nelayan. Analisa geospasial dengan menggunakan rulebase yang akurat merupakan solusi terbaik dalam menentukan wilayah potensial guna mendapatkan perencanaan pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji parameter rulebase yang tepat untuk keperluan kajian spasial potensi budidaya. Dengan mengambil contoh kasus budidaya rumput laut di beberapa wilayah di kawasan timur Indonesia, seperti Kabupaten Gorontalo Utara dan Boalemo. Hasil analisis memperlihatkan adanya perbedaaan parameter rulebase yang sangat dipengaruhi kondisi lokal serta hasil yang berbeda berdasarkan pilihan metodenya. Dalam hal ini pengembangan sistem basis model multi tematikal merupakan solusi yang terbaik untuk mengatasi perbedaaan ini, baik itu disebabkan oleh perbedaan parameter maupun metode analisanya.Kata Kunci: Basis Aturan, Basis Model, Budidaya Laut, Rumput LautABSTRACTWeather uncertainty and inadequate infrastructure become the main problems for traditional fisherman. The development of marine culture is the alternative solution to overcome those problems. For marine sustainable utilization, zonation or spatial planning of the coastal area has to be developing beforehand, especially for the marine cultural area. Geospatial analysis using accurate rule base model are the best method for determine the utilize area. The aim of the study is to assess the accurate parameters to construct the rule base system of marine culture. Using the eastern part of Indonesia as the study area, such as Gorontalo and Boalemo regency, and seaweed culture as the case, the study was employed. The result of assessment indicates that the parameters are regionally or localized dependable. And so does the methodology. In this case, multi theme model base development is supposed to be the best solution or bridging the differences in parameters or in method.Keywords: Rule Base, Model Base, Marine Culture, Seaweed
PEMETAAN PERGERAKAN LALU LINTAS KENDARAAN DI KELURAHAN KUKUSAN KOTA DEPOK Kentjana, Nabila Hasna; Wibowo, Adi; Nurlambang, Triarko
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.493 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-2.386

Abstract

ABSTRAKPergerakan penduduk dari tempat asal ke tujuan sejalan dengan pergerakan kendaraan. Pergerakan penduduk dari Depok ke Jakarta berbeda di tiap daerah perbatasan, seperti di Kelurahan Kukusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemetaan pergerakan lalu lintas kendaraan di Kelurahan Kukusan. Untuk menjawab tujuan penelitian digunakan analisis spasial-temporal dengan unit data segmen jalan dan data primer yaitu: lebar dan arah jalan, asal-tujuan, rute, kecepatan dan volume kendaraan. Hasil pemetaan pergerakan lalu lintas kendaraan di Kelurahan Kukusan menunjukkan bahwa model jaringan jalan dengan arah selatan, timur dan barat secara umum menuju ke utara untuk pagi hari dan sebaliknya untuk sore hari. Hasil analisis pola spasial menunjukkan pola pergerakan kendaraan di Kelurahan Kukusan memusat di Jalan K. H. M. Usman. Segmen utara lebih banyak dilalui oleh lalu lintas kendaraan dari Kelurahan Kukusan, segmen tengah lebih banyak lalu lintas kendaraan dari dalam dan luar Kelurahan Kukusan dan segmen selatan lebih banyak lalu lintas kendaraan yang datang ke Kelurahan Kukusan. Analisis Spasial-temporal menunjukkan bahwa segmen yang lebih banyak dilalui oleh lalu lintas kendaraan dengan pola pagi hari di Jalan K. H. M. Usman memiliki nilai volume kendaraan 1.409,05 smp/jam adalah segmen tengah. Segmen selatan yang memiliki nilai derajat kejenuhan 0,71 lebih tinggi dari segmen tengah. Pola sore hari yang memiliki volume kendaraan tertinggi adalah segmen selatan yaitu 1.251,8 smp/jam dengan nilai derajat kejenuhan 0,79. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segmen jalan dengan jumlah Point of Interest (POI) terbanyak memiliki derajat kejenuhan yang lebih tinggi.Kata Kunci: jaringan jalan, lalu lintas, model spasial, pola spasial-temporalABSTRACTThe movement of people from origin to destination was aligned with the movement of vehicular. Movements of people from Depok to Jakarta had different spatialy like Kukusan Village. The aim of study to determine the traffic patterns of vehicle movement on Kukusan Village. To answer this research objective used spatial-temporal analysis with unit segments and primary data were: wide and direction of the road, origin-destination, routes, speed and volume of vehicular. The map of the movement of vehicular traffic in Kukusan Village by respondents shows a model of the road network to the south, east and the west generaly headed north in the morning and vice versa for afternoon. The results of the spatial patterns indicate that movement of vehicles in Kukusan Village centered on K. H. M. Usman northern segment with more impassable by vehicle traffic from Kukusan Village, the middle segment more vehicle traffic from within and outside Kukusan Village and southern segments more traffic vehicles come to Kukusan Village. Spatial-temporal analysis shows the northern segment more impassable by vehicle traffic in the Kukusan Village, the morning patterns at K. H. M Usman had value of vehicle volume 1,409.05 upc/hour in midle segmen, although the southern segment with value of degrees saturation 0,71 more than value of midle segmen.The afternoon pattern within highest volume on southern segmen with vehicle volume 1,251.8 upc/hour with degres saturation value 0,79. These results concluded that the road segment with highest number of POI had a highest degres saturation.Keyword: road networks, traffic, spatial modeling, spatial-temporal pattern
ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DALAM KAITANNYA DENGAN PENATAAN ZONASI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Ilyas, Muhamad; Munibah, Khursatul; Rusdiana, Omo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.536 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.48

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Berbagai kegiatan pemanfaatan lahan oleh masyarakat di dalam wilayah kelola TNGHS yang tidak sesuai dengan rencana zonasi TNGHS akan menyebabkan terganggunya ekosistem hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan periode 2000-2010 dan faktor yang mempengaruhi perubahannya, serta untuk memprediksi penggunaan lahan tahun 2026 menggunakan model spasial perubahan penggunaan lahan dan merumuskan arahan penggunaan lahan di kawasan TNGHS. Simulasi perubahan penggunaan lahan berdasarkan pada faktor yang mempengaruhinya dilakukan dengan menggunakan model Conversion of Land Use and its Effects at Small Regional Extent (CLUE-S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2000-2010, penggunaan lahan yang mengalami penurunan luas adalah hutan sebesar 5,55%. Penggunaan lahan yang mengalami peningkatan luas adalah ladang 2,21%, sawah 1,46%, semak 0,63%, lahan terbangun 0,34%, kebun campuran 0,60%, dan kebun teh 0,32%. Faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi non-hutan adalah kepadatan penduduk. Model CLUE-S yang disimulasikan memiliki ketelitian sebesar 88,53%. Arahan penggunaan lahan di kawasan TNGHS dalam penelitian ini adalah kebijakan restorasi hutan pada zona rehabilitasi, zona rimba, dan zona inti yang dapat mengurangi ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan zonasi pada tahun 2026 menjadi 9,23%.Kata Kunci: perubahan penggunaan lahan, model spasial, CLUE-S, Sistem Informasi Geografis,Taman Nasional Gunung Halimun-SalakABSTRACTGunung Halimun-Salak National Park (GHSNP) is the largest tropical rain forest ecosystem in Java. A variety of landuse activities by communities that does not comply with the zoning plan of GHSNP will cause degradation of the forest ecosystem. This study aims to analyze landuse changes during the period of 2000-2010 and the driving factors of the landuse changes, and to predict the use of land in 2026 using spatial models of landuse change to formulate directives refinement for the landuse planning of GHSNP. Simulation of the landuse change based on its driving factors was carried out using the Conversion of Landuse and its Effects at Small Regional Extent (CLUE-S) model. The results show that there were changes in the landuse during the 2000-2010 periods. The most extensive landuse decline was forest that decreased by 5.5%. On the other hand, the landuse that extensively increased was cultivated land that increased by 2.21%, consisted of rice field that increased by 1.46%, bush that increased by 0.63%, mixed vegetation that increased by 0.60% and tea plantation that increased by 0.32%. The driving factor of the landuse changes from forest to non-forest was density population. CLUE-S prediction produced an accuracy of 88.53%.The policy of the directive landuse of the TNGHS region selected based on this study was the forest restoration on rehabilitation zones, forest zone, and core zone that could reduce the un-suitability landuse plan in the year 2026 by 9.23%.Keywords: landuse change, spatial model, CLUE-S, Geographical Information System, Gunung Halimun-Salak National Park

Page 6 of 35 | Total Record : 347