cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
COASTAL THEMATIC DATA INVENTORY FOR COASTAL RESOURCE MONITORING, MANAGEMENT AND PLANNING Kardono, Priyadi; Rusmanto, Adi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 1, No 2 (1999)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.121 KB) | DOI: 10.24895/MIG.1999.1-2.295

Abstract

Indonesia is the most populated and the largest archipelagic country in the world. It consists of more than 17.500 islands and the length of coast line is approximately 81,000 kilometers. The coastal area accommodates for approximately 22% of the total population and very complex human activities such as shipping, industries, aquaculture, tourist resort, real estate, power plant, commerce building, etc. Therefore, if coastal zone planning was not better prepared, this will lead to uncontrolled land use.The complexity of coastal management requires current and accurate data and information, which consist of statistics and maps. The availability of data and information which meet the specification is another problem in coastal management. However, Geographic Information System (GIS) can analyze accurately and quickly spatial data and build natural resource database. Because many institutions were involved in the preparation of natural resource maps, there would be also a problem in preparing the thematic database. Therefore, by integrated preparation, which is doing database preparation in Bappeda of 10 Provinces, the problem can be solved.ABSTRAKlndonesia sebagai negara kepulauan yang terpadat dan terluas di dunia memiliki lebih dari 17.500 pulau dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 km. Wlayah pesisirnya dihuni oleh sekitar 22% penduduk Indonesia dengan berbagai kegiatannya, sehingga apabila wilayah pesisir tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan penggunaan lahan yang tidak terkontrol. Rumitnya pengelolaan wilayah pesisir membutuhkan data dan informasi yang baru dan akurat dalam bentuk data statistik ataupun peta. Ketersediaan data yang sesuai dengan kebutuhan juga merupakan masalah dalam pengelolaan wilayah pesisir. Namun demikian Sistim lnformasi Geografis dapat dengan tepat dan cepat menganalisa data spasial dan membangun basisdata sumberdaya alam. Karena penyediaan peta sumberdaya alam melibatkan berbagai institusi, terdapat kendala pula dalam penyusunan basisdata tematik. Untuk itu penyusunan basisdata tematik ini dilaksanakan di 10 Bappeda.
PREDIKSI POLA SEBARAN FISHING GROUND NELAYAN DI PERAIRAN SELATAN YOGYAKARTA Nahib, Irmadi; Sutrisno, Dewayany
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1821.621 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.112

Abstract

Pengetahuan lokal (pranata mangsa) dijadikan acuan untuk mengetahui awal datangnya musim penangkapan dan lokasi penangkapan ikan oleh nelayan Yogyakarta. Citra penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik oseanografi. Dalam penelitian ini, citra yang digunakan adalah citra Aqua MODIS/Moderate Imaging Spectroradiometer level 3. Analisis temporal khlorofil-a dan suhu permukaan laut (SPL) dilakukan dengan metode deret waktu. Untuk melihat hubungan antara khlorofil-a dan SPL dengan hasil tangkapan dilakukan analisis secara deskriptif dan regresi linier sederhana. Tujuan penelitian adalah (1) Menganalisis hubungan pranata mangsa dengan dengan pola sebaran fishing ground dan (2) Mengkaji informasi oseanografi berdasarkan data inderaja untuk prediksi daerah fishing ground di pesisir selatan Yogyakarta. Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata SPL tahun 2002-2009 berkisar antara 23,48 – 31,36 °C. SPL yang dominan pada wilayah penelitian adalah 28,00. - 30,00 ° C. Secara umum kisaran khlorofila di wilayah penelitian sebesar 0.26 -13.67 mg/m3. Kisaran yang dominan pada wilayah penelitian antara 0.30 - 0.40 mg/m3. Hasil analisis data produksi tangkapan dengan konsentrasi khlorofil-a dan data produksi tangkapan dengan SPL, secara langsung mempunyai hubungan yang erat.Kata Kunci : Citra Catelit Aqua Modis, Khlorofil-a, Suhu Permukaan Laut, Potensial,Daerah PenangkapanABSTRACTThe local knowledge called “pranata mangsa” were referred to indentify recent fishlocation and catchments by the Yogyakarta fisherman. Remote sensing images are used to understand the oceanographic characteristics. In this study, Image used is the image of Aqua MODIS level 3. Chlorophyll-a and Sea Surface Temperature (SST) temporal analysis was carried out with time sequence method. The relationship between Chlorophyll-a and SST with pelagic fish catch was based on descriptive analysis and simple linier regression. The aims of the study were: (1). To analyze “pranata mangsa” with fishing ground distribution patterns and (2) To examine oceanography information by using multi-time remote sensing data to support the prediction development of fishing ground area in the south coastal of Yogyakarta. Results of research shows that: Average SST years 2002 - 2006 ranged between 23,48 – 31,36° C. SST at the area of research is dominant about 28,00 -30,00 ° C. In general, the range of Chlorophyll-a in the area of 0.26 -13.67 mg/m3. Dominant Chlorophyll-a in the range of research areas is between 0,30 -,.40 mg/m3. The results showed that there is a strong correlation between the data of production captured with chlorophyll-a concentrations and data captured by SST directly.Keywords : Aqua Modis Image, Chlorophyll-a, Sea Surface Temperature, Potential,Fishing Ground
ARAHAN SPASIAL PENGEMBANGAN MINA PADI BERBASIS KESESUAIAN LAHAN DAN ANALISIS A’WOT DI KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT Cahyaningrum, Wuri; Widiatmaka, Widiatmaka; Soewardi, Kadarwan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.604 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.53

Abstract

ABSTRAKMina padi merupakan metode pemeliharaan ikan dan padi dalam satu hamparan sawah. Penerapan sistem mina padi dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah karena selain padi, petani juga akan mendapatkan ikan. Budidaya ikan sistem mina padi di Kabupaten Cianjur umumnya dilakukan pada periode penyelang antar-pertanaman padi dan tumpang sari bersama padi. Dengan demikian, dalam sekali siklus budidaya sistem mina padi dapat dilakukan 2 kali pemanenan ikan dan 1 kali pemanenan padi. Informasi mengenai wilayah yang berpotensi untuk lokasi budidaya merupakan faktor penting dalam pengembangan perikanan. Informasi dan data potensi lahan akan memberikan panduan dalam memilih lokasi yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian lahan untuk mina padi serta merumuskan arahan pengembangan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Cianjur. Kesesuaian lahan untuk mina padi pada penelitian ini dibangun berdasarkan kesesuaian lahan untuk padi sawah dan ketersediaan daerah irigasi. Data dan informasi wilayah yang potensial dihasilkan melalui analisis kesesuaian lahan dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Rumusan arahan pengembangan dilakukan dengan analisis (A’WOT), yaitu kombinasi analisis AHP (Analytical Hierarchy Process) dan analisis SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threat). Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa lahan yang sesuai untuk mina padi sebesar 13.004 hektar atau 3,59% dari total luas wilayah Kabupaten Cianjur. Diantara lahan yang sesuai tersebut, lahan yang sesuai dan tersedia sebesar 9.553 ha (2,64%) dan lahan yang sesuai tetapi tidak tersedia sebesar 3.451 ha (0,95%). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perencanaan lebih lanjut untuk pengembangan perikanan di Kabupaten Cianjur.Kata kunci: mina padi, SIG, kesesuaian lahan, ketersediaan lahanABSTRACTMina padi is a method of fish and paddy farming in one site of paddy field. The use of mina padi system might increase land productivity of paddy field because farmers can harvest paddy as well as fish. Fish farming through mina padi system in Cianjur Regency is generally done in two periods, which is during the period of transition and intercropping with paddy. Thus, in one farming-cycle, mina padi system can give two times of fish harvests and one times of paddy harvest. Information about farming location is an important factor in fishing development. Information and data about land potency will provide guidance to a suitable location. This study aimed to identify suitable sites for mina padi and to formulate a direction for aquaculture development in Cianjur Regency, West Java Province. Land suitability for mina padi system in this research is built based on land suitability for paddy field and availability of irrigation. Data and information on potential region was resulted by land suitability analysis and Geographic Information System (GIS). The direction for aquaculture development was resulted by A’WOT analysis, a combination between AHP (Analytical Hierarchy Process) analysis and SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threat) analysis. The analysis result shows that the suitable land for mina padi was 13,004 hectares or just around 3.59% of the total region. Of such suitable land, the suitable and available land was 9,553 ha (2.64%) and the suitable but not available land was 3,451 ha (0.95%). The results are expected to become a consideration for more detailed planning of fishery development in Cianjur Regency.Keywords: mina padi, SIG, land suitability, land availability
PEMANFAATAN CITRA PENGINDERAAN JAUH UNTUK IDENTIFIKASI BATAS WILAYAH Kardono, Priyadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1572.45 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-1.300

Abstract

Pembangunan wilayah merupakan bagian integral dari seluruh pembangunan nasional dalam rangka pencapaian sasaran yang disesuaikan dengan potensi sumberdaya alam, aspirasi maupun permasalahan pembangunan yang ada di daerah. Dengan adanya uldang-undang mengenai otonomi daerah dan perimbangan keuangan antara pemerintahan pusat dan pemerintahah daerah, maka sudah saatnya pemerintah daerah mengetahui segala pofensi sumber daya yang ada di daerahnya. Oleh karena itu batas wilayah setiap daerah harus diidentifikasi dengan tepat dan jelas sehingga inventarisasi potensi sumber daya alam daerah dapat dilaksanakan dengan baik. Salah satu teknologi yang dapat digunakan dalam identifikasi, pelacakan dan penetapan batas wilayah adalah penggunaan penginderaan jauh. Dengan menggunakan foto udara atau citra satelit resolusi tinggi dan dengan ruiukan data sekunder yang ada, batas administrasi suatu wilayah dapat dilacak dan ditetapkan dengan tepat.ABSTRACTRegional development is part of the whole national development to gain the objectives which should be synchronized with the natural resource potential, aspiration or problem of regional development. By the law of regional autonomy and balance financing between central and regional governments, it is important for regional governments to list their natural resource potentials. Therefore, administrative boundary for every region should be clearly and accurately identified so that natural resource inventory can be done much betterly. One of the technologies that can be used to identify, trace and decide the administrative boundary is remote sensing technology. Aerial photograph or high-resolution satellite imageries in addition to available secondary data can also be used to trace and decide accurately the administrative boundary.Kata Kunci : Penginderaan Jauh, Batas Wilayah, Otonomi Daerah.Keyword : Remote sensing, Administrative Boundary, Regional Autonomy
ESTIMASI POTENSI AIRTANAH MELALUI PENDEKATAN TIPOLOGI BENTUKLAHAN WILAYAH BOGOR PROVINSI JAWA BARAT Sumartoyo, Sumartoyo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1660.156 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.117

Abstract

Wilayah Bogor terdiri atas satuan-satuan bentuklahan hasil dari proses geologi sejakperiode Pra Tersier hingga Kuarter. Berbagai macam bentuklahan ditempati penduduk, dikelola dan dimanfaatkan sebagai tempat mata penghidupan. Salah satu kebutuhan pokok penduduk adalah air, tetapi belum semua orang mengetahui kondisi air di tempat hidupnya. Kajian estimasi potensi air tanah melalui tipologi pendekatan bentuklahan bertujuan mengetahui sebaran dan kondisi airtanah setiap bentuklahan. Pendekatannya melalui karakteristik akuifer pada setiap litologi penyusun satuan bentuklahan. Pendekatan geomorfologi sebagai dasar klasifikasi bentuklahan berdasarkan bentukan asalnya. Kedudukan dan sebaran setiap satuan bentuklahan digunakan sebagai satuan pemetaan airtanah. Hasil penelitian menunjukkan sebaran bentukan asal volkanik 51,5 % luas daerah, bentukan asal struktural 31 %, karstik 6,5 %, dan fluvial 11,5 %. Wilayah Bogor terdiri dari 50 macam bentuklahan, tersebar 29,5 % di pegunungan, 59 % di perbukitan, dan 11,5 % di dataran. Hasil kajian menunjukkan pada pegunungan dan perbukitan terdapat sebaran 17 %potensi airtanah langka atau sarang. Potensi airtanah setempat produktif tersebar di 15 % dari luas wilayah, sedangkan produktif kecil tersebar di 0,5 %. Airtanah produktif sedang dan setempat tersebar di 16,5 %, produktif sedang dan luas tersebar di 27 %, sementara airtanah produktif tinggi dan luas tersebar di 24 % luas wilayah Bogor. Estimasi perhitungan resapan air dari sumber air hujan setiap tahun 6.678,89 x 106 m³/tahun tersebar di pegunungan 123.656.694,79 m³/tahun, dan 126.665.275,44 m³/tahun di daerah perbukitan, sementara di dataran aluvial 37.983.987,77 m³/tahun.Kata Kunci : Bentuklahan, Satuan Pemetaan, Potensi AirtanahABSTRACTLandform is part of the landscape in Bogor Regency. The landform was formed through geologic processes since before tertiary up to quaternary periods. Various kinds of landforms are occupied by residents, managed and used as a source of living. One of the basic human necessities is water, however not everyone knows the water quality in the area where they live. Assessment of water potential estimation through typological approach of landforms was aimed to know the distribution and condition of groundwater for every landform. Analysis was done for aquifer characteristics of every lithology of the landforms. Geomorphological approach was used as a base of landform classification according to the original formation.Position and distribution of each landform was used as the unit for groundwater mapping. The result of this research indicated that vulcanic morphogenesis was distributed in 51.5% of Bogor Regency, structural morphogenesis covered 31%, karstic 6.5%, fluvial 11.5%. Bogor area consists of 50 kinds of landform units, where 29.5% is on mountains, 59% on hills, dan 11.5% on plains. The study showed that on the mountains and hills there were 17% distributions of scarce groundwater potency. Local productive groundwater potency was distributed in 15% of Bogor area, small productive in 0.5%, local-moderate productive in 16.5%, wide-moderate productive in 27%, while wide-high productive in 24%. Estimate calculation of water intake from rainfall was 6.678,89 x 106 m³/year for Bogor Regency, which were distributed on the mountains about 123.656.694,79 m³/year, on the hills 126.665.275,44 m³/year, and on plains around37.983.987,77 m³/year.Keyword: Landform, Mapping Unit, Groundwater Potency
MODEL KEKRITISAN INDEKS LINGKUNGAN DENGAN ALGORITMA URBAN HEAT ISLAND DI KOTA SEMARANG Sasmito, Bandi; Suprayogi, Andri
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.803 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-1.509

Abstract

 ABSTRAK Pembangunan infrastruktur di Kota Semarang berkembang sangat pesat sebagai pusat bisnis, ekonomi, industri, hiburan, dan pendidikan. Pembangunan memberikan dampak positif bagi masyarakat kota, namun terdapat juga dampak negatif yang terjadi yaitu penurunan kualitas lingkungan. Meningkatnya suhu udara adalah salah satu dampak dari penurunan kualitas lingkungan. Puncak atap dan dinding dari gedung bertingkat, tempat parkir, jalan, dan trotoar cenderung memiliki albedo yang rendah. Permukaan rendah albedo menyerap energi panas radiasi matahari lebih tinggi dari objek sekitarnya. Akibatnya, jumlah kelebihan energi panas menumpuk di sekitarnya menjadi pulau-pulau panas atau Urban Heat Island (UHI). Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi terjadinya fenomena kekritisan lingkungan akibat UHI dengan menganalisis suhu permukaan dan sebaran vegetasi di wilayah studi. Ada dua langkah metode dalam penelitian ini, pertama adalah membuat peta sebaran suhu permukaan tanah dan peta sebaran kerapatan vegetasi di tahun 2013 sampai 2016. Peta suhu permukaan dibuat dengan model algoritma Land Surface Temperature (LST) dan sebaran vegetasi adalah dengan algoritma Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). LST didapatkan dengan mengolah Citra Landsat-8 band TIRS (Thermal Infrared Red Sensor), sedangkan NDVI  didapatkan dengan mengolah Citra Landsat-8 band OLI (Operation Land Imager). Langkah kedua adalah membuat peta kekritisan lingkungan dengan algoritma ECI (Environmental Criticality Index). ECI didapatkan dari nilai LST dibagi NDVI yang direntangkan histogram spektralnya menjadi 8 bit. Melalui hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suhu permukaan di Kota Semarang meningkat dan sebaran kelas suhu tinggi meluas setiap tahun. Kekritisan lingkungan akibat UHI terdeteksi di pusat kota, yaitu wilayah Utara Kota Semarang.Kata kunci: Urban Heat Island (UHI), Land Surface Temperature (LST), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Environmental Criticality Index (ECI)ABSTRACTInfrastructure in Semarang City developes rapidly as a center of business, economics, industry, entertainment, and education. Development gives positive impact to citizen, however environmental degradation as the negative impact also occured. Temperatures rising is one of environmental degradation impact. Roof top and wall of a building, parking lot, road, and sidewalk tend to have a low albedo. The low surface albedo absorbs thermal energy from solar radiation higher than the surrounding objects. As a result, the amount of excess heat accumulate in the vicinity into heat islands or Urban Heat Island (UHI). This study aims to detect the occurrence of environmental criticality due to UHI phenomenon by analyzing the surface temperature and the distribution of vegetation in the study area. There are two steps in this research, first step is to create land surface temperature distribution map and vegetation density distribution map in the year of 2013 to 2016. The surface temperature map created by Land Surface Temperature (LST) algorithm model and vegetation distribution created by Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) algorithm. LST is obtained by processing Landsat-8 band TIRS (Thermal Infrared Sensor Red), while the NDVI obtained by processing Landsat-8 band OLI (Operation Land Imager). The second step is to create environmental criticality map with  ECI (Environmental Criticality Index) algorithm. ECI is obtained from LST value divided by NDVI spectral histogram stretched to 8 bits. From this research, can be concluded that the heat coverage in Semarang City increase and distribution of vegetation density index spread every year. Environmental criticality due to UHI occurred in downtown area, specifically in the northern side of Semarang City.Keywords:   Urban Heat Island (UHI), Land Surface Temperature (LST), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Environmental Criticality Index (ECI) 
PEMETAAN PROFIL HABITAT DASAR PERAIRAN DANGKAL BERDASARKAN BENTUK TOPOGRAFI: Studi Kasus Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Jakarta Setyawan, Iwan E.; Siregar, Vincentius P.; Pramono, Gatot H.; Yuwono, Doddy M.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.617 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.58

Abstract

ABSTRAKHabitat dasar perairan dangkal mempunyai peran besar baik secara ekonomi maupun ekologi. Ketersediaan informasi habitat dasar menjadi sangat penting seiring kesadaran pengelolaan berbasis lingkungan. Citra satelit menjadi salah satu sumber untuk identifikasi dan informasi spasial. Pada umumnya informasi luasan habitat dasar perairan dihitung secara planimetrik. Hal ini menyebabkan kurang akuratnya hasil luasan terutama pada daerah dengan variasi topografi yang besar dan untuk pemetaan skala besar seperti pada pulau kecil. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk memberikan alternatif metode pemetaan dalam perhitungan luas habitat bentik yang lebih akurat dengan mempertimbangkan topografi dasar perairan. Kemampuan citra satelit multispektral menembus kolom air dapat digunakan untuk memberikan informasi habitat dasar dan morfologi dasar perairan. Pendekatan penelitian ini dilakukan dengan menggabungkan nilai batimetri dan hasil identifikasi habitat sehingga menggambarkan kondisi nyata dan memperoleh luas yang lebih mendekati kenyataan. Penelitian dilakukan di P. Panggang, Kepulauan Seribu Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya perbaikan luasan habitat dasar kelas karang 2,85%, karang dan Death Coral Algae (DCA) 1,08%, lamun rapat 0,38%, lamun sedang 0,12%, pasir 0,11%, pasir berlamun dan pasir rubble masing-masing sebesar 0,06%.Kata Kunci: pemetaan, Citra Worldview-2, habitat dasar, topografi dasar lautABSTRACTShallow water benthic habitat has a major role both economically and ecologically. The availability of benthic habitat information become very important along with the awareness of management based on environment. Satellite imagery becomes one of the sources for the identification and spatial information. In general, information of habitat benthic area isobtained only planimetric calculated. This leads toless accurate results, especially in the area of the large variations in topography and for detail scale mapping of such small island. The purpose of the study is to provide an alternative method of mapping the benthic habitat area calculation more accurate by considering benthic topography. Penetration of multi spectral bands gives benefits to identificate of benthic habitat and sea bottom morphology. The approach of this study by incorporating the results of the identification of habitats and bathymetry extract of Worldview-2 image combined to obtain more accurate results closer to reality. The study site is around Panggang Island, Jakarta. The results showed an improvement on habitat area measurement indicated by the correction of each habitat classes: coral habitat increase2.85%, coral with Death Coral Algae (DCA) increase 1.08%, dense seagrass increase 0.38%, medium seagrass increase 0.12%, sand increase 0.11%, sand with rubbleand sand with coarse seagrass respectively increase by 0.06%.Keywords: mapping, Worldview-2 Imagery, benthic habitat, sea surface topography
PENGELOLAAN BASISDATA KELAUTAN SEBAGAI SALAH SATU KEGIATAN SURVEI DAN PEMETAAN DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS NASIONAL DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH Suryanto, Hari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1577.6 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-1.305

Abstract

lndonesia memiliki sumberdaya alam laut yang sangat luas, tetapi belum dilengkapi dengan data dasar survei laut yang tersimpan di dalam wadah basis data kelautan yang dikelola secara terpadu dan sistematik. Sementara itu, keberadaan data dasar ini sangat mendesak, mengingat segera diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, dimana data dasar sangat berguna untuk berbagai keperluan, seperti kegiatan penelitian, eksplorasi dan perencanaan wilayah. Pengelolaan Basis Data Kelautan merupakan salah satu kegiatan yang menggunakan teknologi Surta dan SIG nasional untuk mendukung pembangunan nasional yang direncanakan akan dilaksanakan selama 10 tahun (2001-2010). Rencana kegiatan ini telah disesuaikan dengan arah kebijakan Pemerintah lndonesia di bidang Surta dan SIG nasional yang bernuansakan reformasi sebagai implementasi dari pelaksanaan UU No. 22 dan UU No. 25.ABSTRACTIndonesia has large marine natural resources, but it is not completely supplemented yet with Basic Marine Survey Data which is stored in an integrated and systematic Marine Database Program. Meanwhile the availability of these basic data is very crucial in order to implement Law No. 22/1999 about Regional Government and Law No. 25/1999 about Balance Financing between Central and Regional Government. These data are important for many purposes such as research, exploration and regional planning. Marine Database Management is an activity using Survey and Mapping technology and also National Geographic Information System for supporting national development for the next 10 years (2001-2010). The activity plan was synchronized with policy and program of The Government of Indonesia, especially in Survey and Mapping and National Geographic Information System division, certainly in the spirit of reformation as the implementation of Law No. 22 and Law No. 25.Kata Kunci : Basis data Kelautan, Survei dan Pemetaan, Sistem Informasi Geografis Nasional, Otonomi DaerahKeyword : Marine Database, Survey and Mapping, National Geographic Information System, Regional Autonomy 
METODA KLASIFIKASI TETANGGA TERDEKAT UNTUK INVENTARISASI TUTUPAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA ALOS Arief, Muchlisin; Susanto, Susanto; Atriyon, Atriyon; Hawariyyah, Siti
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.755 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.122

Abstract

Konsep klasifikasi terbimbing konvensional adalah terjadinya relasi antara informasiterlatih (training area) dengan hasil klasifikasi dalam mengkelaskan satu pixel ke dalam satu kelas. Salah satu kelemahan dari penentuan training area adalah akan menurunkan tingkat ketelitian citra, ketika proses penentuan pixel menjadi anggota kelas. Pada tulisan ini diterangkan algorithma klasifikasi dengan menggunakan software definiens yang didasarkan pada metoda pengambilan keputusan tetangga terdekat. Metode ini telah digunakan untuk menginventarisir objek dari citra ALOS tertanggal 10 Mei 2007 wilayah Provinsi Jawa Barat. Hasil analisa dan perhitungan objek yang dapat dikelaskan dengan metoda ini antara lain: man made object seluas 38.077,46 ha, lahan terbuka seluas 29.236,06 ha, tubuh air seluas 13.985,47 ha, sedangkan vegetasi jarang dan rapat berturut-turut seluas 42.988,47 ha dan 70.821,76 ha.Kata-Kunci : Klasifikasi Terbimbing, Segmentasi, Citra ALOS, Tetangga TerdekatABSTRACTIn the concept of conventional remote sensing supervised classification, the relationship between trained information and the classification result is one pixel belongs to one class. Once of limitation of training area process is decreasing the accuracy of image, caused The existence of mixed class can not accepted due to the assumption that had been taken during the classification and during the determination of pixel membership. In this paper explained the Algorithm of classification using Definiens software based on nearest neighbourhood method. This method has been applied to inventorying object using ALOS image at at Mei 10st, 2007 in the West Jawa Province. Based on calculation, the object can be classified by this method content : man made object area,38.077,46 ha, the open field area, 29.236,06 ha, water body area 13.985,47 ha, Beside that, the high and low density of vegetation area are 42.988,47 ha and 70.821,76 ha respectively.Key Words : Classification Supervised, Segmentation, ALOS Image, NearestNeighbourhood
KAJIAN PROTOTIPE PETA DESA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI Riadi, Bambang; Rachma, Tia Rizka N
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.561 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.605

Abstract

ABSTRAKPeta desa merupakan peta tematik bersifat dasar yang menyajikan unsur-unsur alam dan unsur tema khusus yang pemilihan skalanya mempertimbangkan penyajian seluruh wilayah desa tersajikan dalam satu muka peta. Pengkajian prototipe peta desa bertujuan untuk menguji spesifikasi teknis pembuatan peta desa dan menyediakan peta desa yang dapat memenuhi keperluan masyarakat desa dan pengguna lainnya. Penelitian juga bertujuan untuk mengkaji hal-hal teknis dan non teknis terkait pembuatan peta desa. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra tegak resolusi tinggi (CTRT) yang diperoleh dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Metode yang digunakan terdiri dari dua tahap, yaitu tahap delineasi batas desa secara kartometrik dan tahap penyajian peta desa. Tahapan delineasi batas desa secara kartometrik mengacu pada Peraturan Menteri dalam Negeri (Permendagri) No. 45 Tahun 2016, sedangkan tahap penyajian peta desa sesuai spesifikasi yang tertuang dalam Peraturan Kepala BIG No. 3 tahun 2016. Selanjutnya peta yang sudah sesuai spesifikasi tersebut diuji melalui kegiatan wawancara dengan aparat desa dan masyarakat untuk mengetahui kebutuhan masyarakat desa akan unsur-unsur yang perlu ditampilkan pada peta. Hasil dari penelitian adalah prototipe peta desa, dengan studi kasus desa Karangligar. Prototipe peta desa mengusulkan penambahan dari spesifikasi penyajian peta yang tertuang dalam Peraturan Kepala BIG, yaitu dengan penambahan unsur kontur, penambahan daftar koordinat titik kartometrik hasil kesepakatan, serta pewarnaan yang disesuaikan  dengan warna dasar citra sebagai latar belakangnya. Selain itu, berdasar hasil wawancara dan diskusi dengan masyarakat desa, diketahui warga lebih mudah membaca dan menggunakan peta dalam bentuk peta garis daripada peta citra.Kata kunci: desa, peta desa, batas desa, Karangligar, citra tegak resolusi tinggi                                                                ABSTRACTVillage maps are included in the category of basic-thematic maps which presents natural features and special theme considering the scale, and all village area show in one map. Study of village maps prototype is intended to examine technical specification of village map that can fulfill the needs of rural communities and other users, as well as be reviewing the technical and non-technical matters related to making the village map. The data used in this study is orthorectified high-resolution satellite imagery, from Geospatial Information Agency. Method of this study divided into two parts. The first is a delineation of village border that refers to Indonesian Minister of Home Affairs’s Regulation (Permendagri No. 45/2016), then presenting the village map based on a specification of Head of Indonesian Geospatial Information Agency’s Regulation (Peraturan Kepala BIG No.3/2016). The map that fulfills the specification tested by a discussion with the villagers to confirm the villagers need of the map. The result of this research is Village map prototype in Karangligar Village. The prototype of village maps proposed additional elements to complete the village maps, such as adding contour elements, adding the list of coordinates of cartometric points (presented the border points), and modify the element colors adjusted to the color of satellite imagery as the base-map. Moreover, from discussion with villagers as map user, known that villagers more easily got information from a map if it presented in vector maps than imagery maps.Keywords: village, village map, village border, Karangligar, high resolution satellite imagery

Page 7 of 35 | Total Record : 347