cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
ANALISIS POTENSI RISIKO TANAH LONGSOR DI KABUPATEN CIAMIS DAN KOTA BANJAR, JAWA BARAT Suriadi, A.B.; Hartini, Sri; Hartini, Sri
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.764 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.63

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membahas masalah tanah longsor baik penyebab maupun potensi risiko yang ditimbulkannya, merupakan bagian dari hasil penelitian potensi bencana yang terkait dengan variabilitas iklim ekstrim di bagian selatan Jawa Barat. Hasil dari penelitian ini disajikan dalam bentuk informasi geospasial atau peta tentang tanah longsor yaitu Peta Sebaran Derah Rawan Tanah Longsor, Peta Kerentanan Penduduk terhadap Bahaya Longsor, Peta Kapasitas Penduduk Menghadapi Bencana, serta Peta Potensi Risiko Bencana Tanah Longsor. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: data DEM SRTM dengan resolusi spasial 30 m, Citra Landsat ETM, Peta Topografi, dan data statistik seperti kepadatan penduduk, ketersediaan infrastruktur mitigasi bencana, kesadaran penduduk menghadapi bencana atau kesiapan masyarakat untuk bencana alam yang mungkin terjadi. Metode yang digunakan adalah aplikasi penginderaan jauh dan GIS. Interpretasi citra satelit Landsat dilakukan untuk menghasilkan peta penutup lahan. Data DEM SRTM digunakan untuk membuat peta kemiringan lereng dan peta kerapatan drainase. DEM SRTM dikombinasikan dengan citra Landsat digunakan untuk interpretasi dan pemetaan bentuk lahan. Data kemiringan lereng, penutup lahan (land cover), bentuk lahan dan kerapatan aliran diberi skor dan digunakan sebagai parameter dalam pemetaan bahaya longsor. Bahaya longsor dibagi menjadi tiga kategori: rendah, sedang, dan tinggi. Data statistik dipetakan berbasis batas desa. Melalui proses SIG semua data diintegrasikan, kemudian dianalisis dan diklasifikasi. Berdasarkan Peta Potensi Risiko Longsor yang dihasilkan, didapatkan bahwa 21% dari area Kabupaten Ciamis berpotensi risiko tinggi, 36% dari luas daerah mempunyai risiko sedang, dan 43% yang lainnya mempunyai risiko rendah terhadap tanah longsor.Kata Kunci: peta bahaya, keterpaparan, rawan, rentan, kapasitasABSTRACTThis research is a part of the results of the research on potential disaster related to extremes climate variability on the south part of West Java. However, the discussion in this paper focused on landslides in terms of both the causes as well as the potential risks it caused. The results of this study are geospatial information or maps about landslide in the area of study. Those maps are Map of Landslide Prone, Map of peoples Vulnerability to Landslide Hazard, Map of the Capacity of residents facing disasters, as well as Map of the Risk Potential of Landslides. Data had been used in this research consisted of: SRTM DEM, Landsat imagery, topographic maps, as well as statistical data of population density, the availability of infrastructure for disaster mitigation, awareness of people facing disaster or people’s preparedness for natural disaster that may be happen, and others. The method used is the application of GIS and remote sensing. Interpretation of Landsat imagery had been used for mapping the land use type. Meanwhile, slope and drainage density maps had been derived from the SRTM DEM. The SRTM DEM combined with Landsat imagery was used on interpretation and mapping of landforms. The data of slope steepness, land use, landform and drainage density then were scored and used as a parameter of the landslide hazard mapping. The landslide hazard then divided into three categories: low, medium, and high. The statistical data are mapped using village boundary basis. By using GIS processing, all of the data were integrated, then analyzed and classified. Based on the Landslide Risk Potential Map produced, found that 21% of the area of Ciamis Regency fall in potentially high risk, 36% of the area in moderate risk, and another 43% was in lower risk to landslides.Keywords: hazard map, exposure, prone, vulnerability, capacity
PEMETAAN BENTUK LAHAN TANPA PENGGUNAAN DATA INDERAJA Wijaya, Jaya
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.411 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-2.310

Abstract

Pemetaan bentuk lahan menggunakan data inderaja baik foto udara, Citra Landsat dan lainnya memerlukan biaya dan tenaga yang cukup besar, sedangkan pemetaan bentuk lahan secara terestris dianggap kurang efisien. Dalam dimensi pasar sendiri belum diketahui secara pasti seberapa besar pemanfaatan data bentuk lahan untuk aplikasi riil bagi perencana dan pelaksana lapangan , walaupun secara akademik peta bentuk lahan mempunyai aplikasi yang beragam terutama untuk perencanaan witayah. Berdasarkan pertimbangan diatas, untuk efisiensi biaya dan agar dapat dilaksanakan secara luas bagi aplikasi tertentu, maka salah satu alternatif adalah metode pemetaannya tanpa penggunaan data inderaja. Metode pemetaannya terutama dengan cara penafsiran morfologi peta rupabumi dan penafsiran data RePPProT dan kartu datanya. Beberapa kelebihan dan kelemahan metode perlu dipertimbangkan agar dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.ABSTRACTLandform mapping using remotely sensed data such as aerial photograph and satellite imagery requires huge budget, while terestrically landform mapping is regarded by some parties to be inefficient. ln the market dimension, it is uncertain how often landform maps are used for planning and real application, while academically landform maps have served a wide range of applications especially for regional planning. Based on considerations above, an alternative method to map landform is by deciphering topographic maps and interpreting the existing RePPProT owned land system and its ground rules for data cards.Kata kunci : bentuklahan, pemetaanKeywords: landform, mapping
PROYEKSI KENAIKAN TINGGI MUKA LAUT DENGAN MENGGUNAKAN DATA ALTIMETER DAN MODEL IPCC-AR4 Sofian, Ibnu; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.352 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.127

Abstract

Estimasi kenaikan tinggi muka laut (TML) dilakukan dengan menggunakan data altimeter dan model. Hasil analisa dengan menggunakan tren analysis menunjukkan bahwa kenaikan TML di Indonesia berkisar antara 0.2 cm/tahun sampai 1 cm/tahun, dengan kenaikan TML tertinggi terjadi di Samudera Pasifik, sebeah utara Pulau Papua. Pola arus musiman dan Indonesian Through Flow (ITF) mungkin akan terpengaruh dengan adanya kenaikan TML yang tidak seragam, dengan kenaikan TML di Samudera Pasifik lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan TML di Samudera Hindia. Sebagai akibatnya, pola arus geostrofik akan lebih mendominasi dibandingkan dengan kondisi sekarang. Sementara itu, kenaikan TML tidak hanya merubah pola arus, tetapi juga dapat mengakibatkan peningkatan bahaya erosi, perubahan garis pantai dan mereduksi daerah wetland (lahan basah) di sepanjang pantai. Pada akhirnya, ekosistem lahan basah di daerah pantai mungkin akan mengalami kerusakan jika tingkat kenaikan tinggi dan suhu muka air laut melebihi batas maksimal dari kapasitas adaptasi biota pantai.Kata Kunci : Proyeksi, Altimeter, Tinggi Muka Laut, IPCC. ABSTRACTThe sea level rise has been estimated by using the trend analysis. The analysis results show that the sea level rise within the Indonesian Seas are ranging from 0.2cm/yr to 1cm/yr, with the highest sea level rise is occurred at Pacific Ocean, the north of Papua Island. The inhomogeneous sea level rise may be influences to the seasonal surface current and ITF (Indonesian Through Flow), in which the sea level rise in the Pacific Ocean is higher than the one in the Indian Ocean. As the results, it will be projected that the geostrophic currents will be more dominant than the present condition. On the other hand, sea level rises not only change the characteristics of surface current but also heighten the risk of erosions, coastal line changes and reduction of the wetland area. Eventually, the wetland ecosystem in the coastal region is likely to be destructed if the sea level and sea surface temperature rises are higher than the maximum adaptation capacity of the coastal biota.Keywords : Projection, Altimeter, Sea Level, IPCC
KARAKTERISTIK KONSENTRASI CH4 (METANA) DI BEBERAPA KOTA BESAR DAN KOTA KECIL DI INDONESIA Susanti, Indah; S, Lilik Slamet; Cahyono, Waluyo Eko
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1279.303 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.619

Abstract

ABSTRAKKeberadaan konsentrasi CH4 di atmosfer berasal dari sumber emisi CH4 di permukaan bumi baik asal antropogenik maupun alami. Bobot molekul CH4 yang ringan mengakibatkan CH4 dapat bergerak vertikal sampai ke stratosfer. Konsentrasi CH4 yang tak terkendali berakibat pada pemanasan global dan perubahan iklim, sehingga perlu dipahami karakteristik CH4 terutama di beberapa kota besar (Jakarta, Medan, Makassar) dan kota kecil (Ambon, Biak Numfor, Pangkal Pinang) di Indonesia. Dengan menggunakan data Atmospheric Infra Red Soundings (AIRS) level 3 yang memiliki resolusi spasial satu derajat dan resolusi temporal bulanan, untuk periode waktu 2003-2015, dikaji kecenderungan konsentrasi CH4 di enam kota  dan anomalinya pada beberapa ketinggian atmosfer serta analisis pengaruh kategori kota (kota besar dan kota kecil berdasarkan jumlah penduduk) terhadap konsentrasi CH4. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis spasial horizontal dan vertical dengan bantuan Software Grads untuk mengetahui daerah mana dan pada level ketinggian mana terjadi perubahan konsentrasi CH4, serta ditunjang oleh analisis statistik regresi dan uji Friedman serta uji Tukey untuk mengetahui apakah ada pengaruh kategori kota terhadap konsentrasi CH4 di atmosfer. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan konsentrasi CH4 terhadap ketinggian atmosfer dengan pola logaritmik (eksponensial) yang sebagian besar berasal dari kegiatan di permukaan bumi. Fluktuasi konsentrasi CH4 di atmosfer disebabkan salah satunya oleh El Nino Southern Oscilation (ENSO). Kondisi ini tampak dari kesamaan pola nilai indeks ENSO dan konsentrasi CH4. Berdasarkan penelitian dengan menggunakan uji Friedman dan uji Tukey dihasilkan bahwa klasifikasi kota menjadi kota besar dan kota kecil tidak berpengaruh pada konsentrasi CH4.Kata kunci: profil, metana, AIRS, statistik, klasifikasi, kotaABSTRACTConcentration of CH4 in the atmosphere comes from the source of CH4 emissions on the earths surface either natural or anthropogenic activities. The light molecular weight resulting CH4  can move vertically up into the stratosphere. Unbridled CH4 concentration resulted in global warming and climate change. So, it’s important to understand CH4 characteristics, especially in large cities (Jakarta, Medan, Makassar) and small towns (Ambon, Biak Noemfoor, Pangkal Pinang) in Indonesia. Using data Atmospheric Infra Red Soundings (AIRS) level 3 which has a spatial resolution of one degree and monthly temporal resolution, for time period from 2003 to 2015, we analyzed the tendency of concentration of CH4 in 6 cities  and its anomalies in some altitude atmosphere as well as analysis of the influence of the city category (cities and towns based on population) towards the CH4 concentration. The method used in this research is the analysis of spatial horizontal and vertical using Grads to know region and altitude levels which have change the concentration of CH4. In additon, supported by statistical regression analysis and Friedman test and Tukey test to determine whether there is any relation between  city category against concentration of CH4 in the atmosphere. The results indicate a decrease in the height of atmospheric CH4 concentrations with  the pattern of logarithmic (exponential) is mostly derived from activities in the Earths surface. Fluctuations in the concentration of CH4 in the atmosphere caused among other is by El Nino Southern Oscilation (ENSO). This condition appears on the similarities of the ENSO index values and CH4 concentrations. Based on research by using the Friedman test and Tukeys test result that classification of  cities and towns has no effect on the concentration of CH4.Keywords: profile, CH4, AIRS, statistic, classification, city 
EVALUASI LAHAN WILAYAH PERTANIAN KEPULAUAN MARITIM UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN : STUDI KASUS DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT Riadi, Bambang
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.571 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.68

Abstract

ABSTRAKKabupaten Maluku Tenggara Barat secara umum dikategorikan sebagai wilayah kepulauan maritim karenadominasi sumberdaya alam maupun masyarakat berbasis pada jasa kelautan. Sejauh ini, kebutuhan makanan diwilayah ini masih tergantung dari wilayah lain seperti Jawa dan Sulawesi. Penelitian ini mengembangkan konsepevaluasi potensi lahan pertanian berdasarkan data sistem lahan dan informasi fisik lahan terkini. Interpretasi citrasatelit dilakukan untuk perolehan data fisik lahan yang diintegrasikan dengan data sistem lahan dengan menggunakanSistem Informasi Geografis dalam analisis spasial potensi lahan pertanian tersebut. Penerapan konseppengembangan lahan pertanian yang digunakan menghasilkan tiga jenis potensi lahan yaitu pertanian padi sawah,pertanian lahan kering, dan pengembangan tanaman tahunan. Namun demikian, hasil penelitian masih merupakaninformasi awal zonasi lahan yang memiliki potensi tersebut, dan dapat digunakan sebagai data awal untukpengembangan lebih lanjut terhadap kesesuaian jenis pertanian sampai dengan jenis komoditasnya. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa wilayah kabupaten ini memiliki areal potensi lahan pertanian sawah dengan kelas sesuaimarginal (S3) seluas 53.000 ha atau 8,7 % dari total wilayah, potensi lahan pertanian lahan kering dengan kelassesuai marginal (S3) seluas 44.000 ha atau 9,9 % dari total wilayah. Berdasarkan hasil analisis ini, potensipengembangan lahan pertanian di wilayah kepulauan maritim ini cukup besar meskipun dalam kategori sesuaimarginal. Lahan dengan kondisi seperti ini mempunyai pembatas-pembatas yang besar, oleh karena itu upaya-upayamanajemen pada tingkat pengelolaan harus diterapkan. Informasi spasial memiliki peran penting dalam rangkamendukung program ketahanan pangan nasional.Kata Kunci: Lahan Pertanian, Zonasi Lahan, Kepulauan Maritim, Lahan Marginal, Pengembangan Lahan.ABSTRACTIn general, Maluku Tenggara Barat Regency is considered as a maritime archipelago due to the dominance of bothnatural and social resources which are mainly supported by marine base services. So far, basic food needs of theregion constantly depend on food production from other areas, such as Java and Sulawesi. This research developed aconcept of potential agriculture site selection base on land system and current physical land information. Moreover,satellite image interpretation was used to obtain land physical data. Integration of these data with land use and landsystem data using a Geographic Information System tool to perform spatial analysis in order to obtaina potentialfarmland classification. This analysis result in three types of potential agricultural land namely wetland rice agriculture,dry land agriculture, and annual crops agriculture. This results show provisional information which has potential use forland zonation. Accordingly, the results can be used as input for further development of feasibility study for definingagricultural zone and crop types. The potential farmland class shows that land area potential for developing wetlandrice agricultural amounted for 53 thousand hectares (8.7% of the total area) and dry land agricultural amounted for44,000 hectares (9.9% of the total area); both fall in marginally suitable class (S3). Looking at the number, thepotential area for developing agricultural in the maritime archipelago is actually quite large, although those are fall inthe category of marginally suitable. Land in this category has great physical limitations, so that maintenance at thelevel of management should be implemented. This kind of spatial information actually has in important role insupporting national food security.Keywords: Agricultural Land, Land Use Zoning, Maritime Islands, Marginal Land, Development Land.
PEMETAAN BENTUKLAHAN PADA WILAYAH TERUMBU KARANG Suryanto, Hari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1329.191 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-2.315

Abstract

Bentuklahan merupakan karakteristik spesifik dari bentanglahan di permukaan bumi yang bersifat statis, mengingat perubahannya membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun, terkecuali bila teriadi pergeseran lempeng tektonik. Dengan demikian bentuklahan ini dapat dijadikan data dasar atau acuan dalam rangka pengembangan suatu wilayah atau kawasan. Kajian dapat dilakukan melalui interpretasi citra Landsat TM secara digital atau manual maupun foto udara dengan ditunjang penelitian lapangan untuk mengetahui kebenaran hasil interpretasi dan pengambilan contoh substrat dan air terhadap sampel pewakil untuk selanjutnya dianalisa di laboratorium, serta data sekunder dari hasil penelitian terdahulu secara spasial maupun temporal. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah melakukan pemetaan bentuklahan pada areal studi berikut deskipsinya tentang sifat dan kondisi perkembangan dari masing-masing bentuklahan yang ada di sekitar terumbu karang Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Bagian Tengah. Pada areal studi tedapat 6 jenis bentuklahan, terdiri dari : rataan karang dan pasir, rataan pasir, goba dangkal, goba sedang, tubir, mintakat karang dan pulau/cay. Masing-masing bentuklahan ini berbeda komposisinya disebabkan matei penyusunnya yang berlainan tipe dan ukuran partikelnya. Hasil dari penelitian ini adalah peta bentuklahan berikut uraian deskripsinya dari masing-masing bentuklahan yang ada di areal studi.AbstractLandform is a static specify in characteristic of Landscape of the earth surface, because its need tens or hundreds of years in changing unless by moving or landslidding of plate tectonic. Base on that condition we can use landform as database in order to develop the study area or in region scope. The study can be done by applied the remote sensing technology through Landsat TM or aerial photographic image interpretation with the field research to check whenever right or wrong the result of interpretation and also we take some substrat and water sample to analize in the laboratorium. The aim of this study is to inventory and mapping the Landform in area of study including the description of character and condition of each landform in the area of Panggang island Coral Reef, Middle section of Thousand Islands. There are 6 types of landforms in the study area, such as : coral and sand plain, sand plain, shallow goba, medium goba, tubir and island/cay.Kata Kunci: Pemetaaan, Bentuklahan, Penginderaan Jauh.Keyword: Mapping, Landform, Remote Sensing
PEMETAAN TERUMBU KARANG DAN NILAI EKONOMI BERDASARKAN TRAVEL COST METHOD Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin; Arief, Syahrul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.593 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.132

Abstract

Studi ini bertujuan mengetahui potensi dan penyebaran terumbu karang serta menganalisis manfaat ekonomi dari wisata terumbu karang. Pemetaan dilakukan dengan analisis citra Aster tahun 2007 dan survei lapangan tahun 2011. Analisis ekonomi dilakukan dengan pendekatan biaya perjalanan (travel cost method), yaitu mengkaji biaya yang dikeluarkan oleh setiap individu untuk menikmati kawasan rekreasi. Hasil perhitungan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) diketahui luas ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa sebesar 6.189,69 ha, yang terdiri dari terumbu karang : 3.707,303 ha (59,89%), lamun 405,686 ha (6,55%) dan pasir 2.076,697 ha (33,55%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian ekosistem terumbu karang masih merupakan karang. Berdasarkan jumlah biaya akomodasi yang dikeluarkan selama berada di TN Karimunjawa, rata-rata biaya akomodasi yang dikeluarkan oleh wisatawan adalah sebesar Rp. 880.000/orang/kunjungan. Sedangkan berdasarkan rata-rata total biaya perjalanan adalah Rp.3.184.000/orang/kunjungan (wisatawan domestik) dan Rp. 29.720.000 /orang/kunjungan (wisatawan asing). Dari hasil perhitungan konsumen suprlus yang dinikmati oleh wisatawan adalah sebesar Rp. 550.250 dan nilai ekonomi Taman Nasional Karimunjawa sebesar Rp. 4.981.963.500.Kata Kunci : Pemetaan, Nilai Ekonomi, Terumbu Karang, WisataABSTRACTThis study aims to determine the potential and distribution of coral reefs as well as analyzing the economic benefits of coral reef trip. The coral reef mapping was carried out by analyzing an Aster satellite image year 2007 and a field survey conducted in 2011. An economic valuation using a travel costs method was performed to examine the costs incurred by each individual to enjoy the recreation area. The results of calculations using Geographical Information Systems (GIS) found the area of coral reef ecosystems in the Karimunjawa National Park (NP) accounted for 6189.69 hectares, consisted of coral reefs at 3707.303 ha (59.89%), seagrass at 405.686 ha (6.55% ) and sand at 2076.697 ha (33.55%). This number suggests that most of the ecosystem is dominated by coral reef. Meanwhile, based on the calculation of additional costs incurred while visiting the Karimunjawa NP, average accommodation costs incurred was IDR 880.000/person/visit. Moreover, the total cost average of each trip was valued for IDR 3.184 million/person/visit for domestic visitors, and IDR 29.720.000/person/traffic for overseas visitors. Besides that, the calculation of consumer surplus enjoyed by tourists was accounted for IDR 550,250. Altogether, the economic value of Karimunjawa NP was accounted for IDR 4.981.963.500.Keywords: Mapping, Economic Value, Coral Reefs, Tourism
Halaman Muka MIG Vol. 18 No. 1 2016 Globe, Redaksi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1726.283 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.740

Abstract

MODEL SPASIAL GENANGAN BANJIR: STUDI KASUS WILAYAH SUNGAI MANGOTTONG, KABUPATEN SINJAI, PROVINSI SULAWESI SELATAN Seniarwan, Seniarwan; Baskoro, DP Tejo; Baskoro, DP Tejo; Gandasasmita, Komarsa; Gandasasmita, Komarsa
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.232 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.73

Abstract

ABSTRAKBanjir merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia dan disebabkan oleh curah hujan yangtinggi. Sinjai merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang pernah dilanda banjir. Bencanabanjir yang terjadi pada tahun 2006 menimbulkan banyak kerugian dan korban jiwa, khususnya di ibukota kabupatenakibat meluapnya Sungai Mangottong. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mensimulasikan model spasialgenangan di wilayah Sungai Mangottong berdasarkan data DEM dan volume banjir. Data DEM dibuat denganmenggabungkan DEM SRTM 30 m dan DEM hasil interpolasi titik tinggi dari berbagai sumber data, sedangkanvolume banjir diperoleh dari perhitungan volume kurva hidrograf sintetis debit banjir. Model ini menggunakan algoritmaaproksimasi untuk menganalisis ketinggian genangan berdasarkan perbandingan antara volume air daerah yangtergenang dan volume air sebagai sumber banjir. Hasil validasi model genangan menunjukkan akurasi yang cukupakurat untuk kedalaman genangan dari hasil simulasi model tahun 2006 dengan nilai R2 yaitu 0,72 dan luas daerahyang tergenang yaitu 903,92 ha. Luas daerah yang tergenang untuk hasil simulasi model periode ulang 25, 50, dan100 tahun masing-masing yaitu 903,36 ha, 934,36 ha, dan 961,20 ha.Kata Kunci: Model Spasial, DEM, Validasi Model, Volume Banjir.ABSTRACTFlood is one of natural disasters that often occur in Indonesia due to high rainfall. Sinjai is one of the regencies inSouth Sulawesi Province which had been experienced of severe floods. Flood that occurred in 2006 caused manylosses and victims, especially in the capital city of the district due to the overflow of Mangottong River. The objectivesof the research were to analyze and simulate spatial modeling of flood inundation of Mangottong River area based onDEM and flood volume data. The DEM data were created by combining DEM SRTM 30 m and DEM from interpolationresults of height points from varied data sources. Meanwhile, the flood volume data were obtained from the calculationof curve of hydrograph of synthetic flood discharge volume. This model used approximation algorithm to analyzeinundation height based on the comparison between water volume in inundated area and flood source area.Inundation model validation results showed a fairly good accuracy for the flood depth in 2006 simulation with the valueof R2 was 0.72 and the total inundated area was 903.92 hectars. The inundated area for simulation model results forperiod of the 25th, 50th, and 100th year were 903.36 hectars, 934.36 hectars, and 961.20 hectars, respectively.Keywords: Spatial Modelling, DEM, Model Validation, Flood Volume.
SPATIAL DISTRIBUTION OF TREE BIOMASS IN RUVU NORTH FOREST RESERVE TANZANIA Sumarga, Elham
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3100.36 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2008.10-1.320

Abstract

Deforestation has been occurring rapidly in Ruvu North Forest Reserve (RNFR). The main cause of the deforestation is the tree biomass (wood) extraction for charcoal and fuelwood. The objectives of this study were to assess tree biomass, to measure the relationship between tree biomass and same remote sensing data, and to create tree biomass map of RNFR. Stratified sampling was applied as sampling method to get field data (tree DBH). Tree biomass was assessed by using allometric equation of Brown (1997). Furthermore, the relationship between tree biomass and some remote sensing data, such as vegetation indices and forest canopy density, was measured. Finally, tree biomass data were extrapolated based on the vegetation types to produce tree biomass map of RNFR. The estimated values of total tree biomass in RNFR range from 680,190.785 ton to 737,110.53 ton with average values ranging from 35.239 ton/ha to 38.188 ton/ha. Woodland has the highest tree biomass (26.34 ton/ha) while shrubland has the lowest one (8.71 ton/ha). Tree biomass in RNFR has a weak relationship with NDVI and TNDVI of SPOT image 2003, with correlation coefficient of -0.07 and -0.1. Tree biomass and forest canopy density of Landsat ETM image 2000 have a stronger relationship, with correlation coefficient of 0.58.ABSTRAKDeforestasi telah berlangsung secara cepat di Ruvu North Forest Reserve (RNFR). Penyebab utama deforestasi ini adalah pengambilan biomas pohon (penebangan) untuk pembuatan arang dan kayu bakar. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung biomas pohon, mengetahui korelasi antara biomas pohon dan beberapa data remote sensing serta membuat peta biomas pohon di RNFR. Metode sampling yang digunakan untuk mengambil data lapangan (diameter pohon) adalah stratified sampling. Biomas pohon ditentukan dengan menggunakan persamaan allometric dari Brown (1997). Selanjutnya dihitung koefisien korelasi antara biomas pohon dan vegetation indices dari SPOT 2003 serta forest canopy density dari Landsat ETM 2000. Data biomas pohon selanjutnya diekstrapolasi berdasarkan tipe vegetasi untuk membuat peta biomass pohon di RNFR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai total biomas pohon di RNFR berkisar antara 680.190,785 ton sampai 737.110,53 ton dengan nilai rata-rata antara 35,239 ton/ha sampai 38,188 ton/ha. Woodland memilki biomas pohon tertinggi (26,34 ton/ha), sedangkan shrubland memiliki biomas pohon terendah (8,71 ton/ha). Biomas pohon memiliki korelasi yang lemah dengan NDVI dan TNDVI dari SPOT 2003 dengan koefisien korelasi -0,07 dan -0,1, namun memiliki korelasi yang lebih kuat dengan forest canopy density dari Landsat ETM 2000 dengan koefisien korelasi sebesar 0,58.Keywords: Tree Biomass, Biomass Map, Remote Sensing, Ruvu North Forest ReserveKata Kunci: Biomas Pohon, Peta Biomas, Penginderaan Jauh, Ruvu North Forest Reserve

Page 8 of 35 | Total Record : 347