Berkala Arkeologi
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 19 No 2 (1999)"
:
10 Documents
clear
Pola Permukiman Gua Di Pegunungan Kendeng Utara
Indah Asikin Nurani
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (705.643 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v19i2.818
Potensi budaya di Kabupaten Tuban menunjukkan temuan artefak yang lebih bervariasi baik artefak litik, tulang, maupun cangkang moluska dalam jumlah cukup banyak pada lapisan tanah relatif tebal. Berdasarkan kondisi tersebut, tampak adanya keterkaitan masa hunian antara kelompok gua di Bojonegoro dengan kelompok gua di Tuban. Kemungkinan gua-gua di Bojonegoro dihuni dalam waktu atau musim tertentu, sementara gua-gua di Tuban dihuni pada musim lainnya. Hal tersebut, terbukti dengan kuantitas dan kualitas arkeologis yang berbeda.
Distribusi Dan Karakter Situs-Situs Neolitik Di Kecamatan Bantarkalong Dan Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat
Retno Handini
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (390.448 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v19i2.819
Pola situs perbengkelan dari budaya neolitik yang terletak tidak jauh dari aliran sungai -dan terutama di Kecamatan Bantarkalong dan Karangnunggal ini beserta karakter teknologis yang melekat pada unsur budayanya-- mengingatkan kita pada situs-situs serupa Iainnya seperti situs-situs perbengkelan gelang batu yang ada di daerah Limbasari dan Ponjen (Purbalingga) yang umumnya juga berada di dekat aliran sungai. Hal ini dapat dipahami, karena pada masa itu, sungai memegang peranan sangat penting bagi kehidupan manusia, baik untuk sarana transportasi maupun untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, sehingga tempat hunian mereka selalu diupayakan untuk dekat dengan sumber air. Apalagi pada masa neolitik, mereka sudah mulai menerapkan cara bercocok tanam, sehingga kebutuhan akan air sangat tinggi.
Megalitik Di Situbondo Dan Pengaruh Hindu Di Jawa Timur
Bagyo Prasetyo
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (391.219 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v19i2.820
Menyimak kronologi perkembangan budaya megalitik di Situbondo terlihat bahwa paling tidak pada sekitar abad 5 (sesuai dengan pertanggalan karbon) bahkan ada kemungkinan jauh sebelumnya, bahwa tradisi megalitik telah mengakar dan terus berkembang jauh kemudian sampai abad ke 15 M atau mungkin lebih setelah runtuhnya kerajaan dengan ciri Hindu (Majapahit) di wilayah Jawa Timur. Megalitik sebagai suatu tradisi dan kepercayaan asli bangsa Indonesia tampaknya tidak mudah digeser oleh pengaruh agama dari luar (asing). Pada umumnya pengaruh agama asing hanya melekat pada masyarakat dalam lingkungan istana atau masyarakat yang termasuk dalam jangkauan tampuk pemerintahan, sedangkan bagi masyarakat yang ada di luar tidak terpengaruh oleh unsur-unsur tersebut. Kalau diperhatikan secara seksama tampaknya masyarakat pendukung tradisi megalitik selalu membangun komunitas yang cukup luas.
Pola Memusat: Salah Satu Model Kosmologis Pada Masa Prasejarah Di Indonesia
nfn. Sunarningsih
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (434.885 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v19i2.821
Pada masa prasejarah di Indonesia sudah dijumpai model kosmologis pada bangunan berundak dan pada pola hias bidang pukul nekara. Bisa dikatakan bahwa pemikiran awal (cikal bakal) konsepsi kosmologis sudah ada sejak masa prasejarah, yang kemudian dikembangkan pada masa Hindu. Dengan kemajuan teknologi yang telah dimiliki dan tambahan pengetahuan dalam konsep tersebut, maka dibangunlah tempat-tempat suci (candi) sebagai replika kosmos dengan lebih megah, bagus, dan lengkap.
Persebaran Prasasti-Prasasti Berbahasa Malayu Kuna Di Pulau Jawa
Richadiana Kartakusuma
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1140.594 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v19i2.822
Dalam konteks kebudayaan, prasasti Malayu Kuna tidak berdiri sendiri, melainkan berada pada kondisi tertentu sesuai zamannya. Dengan kata lain prasasti mernpakan kesatuan struktural, mencakup kenyataan-kenyataan sosial-budaya dalam hubungan antar sesama. Meskipun tidak dipungkiri terhadap kemungkinan adanya unsur-unsur infrastruktur seperti tata pikir, nilai dan tata hidup sebagai unsur pokok yang mencirikan atau karakteristik budaya asalnya (Malayu Kuna).
Paregreg Dalam Sebuah Monumen
Baskoro Daru Tjahjono
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (421.552 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v19i2.823
Pada masa kerajaan-kerajaan Hindu masih berkuasa di Indonesia, pendirian sima sering dikaitkan dengan jasa yang telah diberikan oleh masyarakat sebuah desa terhadap rajanya. Untuk memperingati peristiwa itu kemudian didirikan sebuah bangunan suci, dan masyarakat desa yang bersangkutan diwajibkan untuk memeliharanya. Karena adanya beban untuk memelihara bangunan suci maka masyarakat desa tersebut dibebaskan dari kuwajiban membayar pajak kepada raja. Sebuah bangunan yang baru saja di temukan di Dukuh Centong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar kemungkinan merupakan salah satu contoh sebuah bangunan yang merupakan monumen peringatan suatu peristiwa penting pada masa Majapahit. Walaupun bangunan itu tidak terlalu besar namun sangat menarik untuk diteliti, terutama jika dikaitkan dengan latar belakang sejarahnya serta bentuk arsitekturnya yang langka.
Tata Ruang Etnis Dan Profesi Dalam Kota Batavia (Abad XVII - XVIII)
Aryandini Novita;
M. Irfan Mahmud
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (817.969 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v19i2.824
Pemukiman kelompok-kelompok etnis di Batavia ditentukan selain berhubungan lingkungan yang mendukung profesi, juga soal ras dan agama serta efektivitas dalarn mobilitas. Seperti kelompok-kelompok etnis yang berprofesi sebagai pedagang ditempatkan atau bermukim di dekat kawasan niaga. Kelompok-kelompok yang berprofesi sebagai pegawai administrasi ditempatkan di wilayah pusat kota yang merupakan kawasan pusat pemerintahan, sedangkan kelompok-kelompok yang berprofesi di bidang pertanian dan perkebunan serta kelompok-kelompok yang dianggap berpotensi untuk menimbulkan ancaman keamanan ditempatkan di wilayah pinggiran kota.
Pasar Tradisional Dan Mobilitas Pedagang Di Wilayah Gunungkidul (Kajian Awai Etnoarkeologi)
Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (493.247 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v19i2.825
Studi tentang pasar tradisional masih belum banyak dilakukan oleh para peneliti arkeologi, mungkin karena kurangnya minat untuk melakukan studi tersebut. Padahal, jika dicermati dengan seksama pasar-pasar tradisional yang tersebar di kota-kota/ desa- desa Jawa, mengandung fenomena-fenomena sosial, ekonomis, budaya, dan teknologis yang mencerminkan suatu tradisi yang sudah ada sejak masa klasik, yakni pengaruh kebudayaan Hindhu dan Buclha di Jawa/Bali. Untuk dapat memperoleh gambaran pasar pada masa lalu tersebut dapat dilakukan melalui dua data, yakni budaya materi dan inforrnasi dari masa lalu (etnografis) dan melakukan analogi dengan pasar-pasar tradisional yang masih ada.