cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Arkeologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 22 No 1 (2002)" : 11 Documents clear
Cover Volume 22 No. 1 Mei 2002 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.597 KB)

Abstract

Frontmatter Volume 22 No. 1 Mei 2002 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.503 KB)

Abstract

Akulturasi Budaya Kubur Tempayan Dan Megalitik: Studi Kasus Situs Muara Betung, Sumsel Bambang Sugiyanto
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.024 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.845

Abstract

Budaya megalitik yang tersebar di Indonesia, mempunyai satuan waktu (kronologi) perkembangan antara 2500 SM - abad-abad pertama masehi. Beberapa situs megalitik yang terdapat di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Ambon, Nusa Tenggara dan Papua, hampir semuanya cenderung memperlihatkan budaya megalitik yang mandiri. Hanya beberapa situs tertentu yang memperlihatkan karakter budaya yang lain, seperti : Gilimanuk, yang memperlihatkan adanya budaya penguburan yang berbeda antara kubur megalitik, kubur tempayan dan kubur tanpa wadah (langsung). Kemudian situs Lambanapu di Nusa Tenggara juga memperlihatkan temuan kubur campuran antara kubur tempayan dan kubur langsung tanpa wadah. Pada umumnya dalam tradisi megalitik terdapat satu kebeasan dalam memilih wadah kubur yang akan dipergunakan. Hal ini terlihat dari berbagai jenis dan bentuk kubur megalitik yang ditemukan, mulai dari menhir, peti kubur batu, waruga, kalamba, temu gelang, dan dolmen. Pada prinsipnya semua wadah kubur batu itu dapat dipergunakan sesuai dengan keinginan dan kemampuan, yang juga disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku di lingkungan mereka.
Pola Permukiman Prasejarah: Kajian Atas Data Hasil Penelitian Megalitik di Pakauman, Bondowoso Diman Suryanto
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.297 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.846

Abstract

Kajian permukiman ini didasarkan atas hasil penelitian di situs Pakauman, Desa Pakauman, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur, pada tahun 1985 yang lalu. Kajian ini menjadi amat penting karena di situs Pakauman yang mengandung banyak tinggalan megalitik itu, kini telah berdiri sebuah pabrik pengolahan kayu.
Mayoritas Keramik Yuan Di Trowulan: Kontra Realita Hubungan Majapahit – Cina Pada Abad Ke 13-15 Masehi Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1749.368 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.847

Abstract

Kerajaan Majapahit dan hubungannya dengan Cina memperlihatkan penyelenggaraan kebijakan-kebijakan yang tidak selalu berjalan dengan harrnonis. Hal ini tidak lepas dari kondisi latar belakang masing-masing kerajaan. Ketidakstabilan politik, baik dalam maupun luar negeri ditandai dengan adanya kesalahpahaman, pemberontakan atau peperangan dan terputusnya hubungan bilateral antara Majapahit-Cina. Namun demikian, data arkeologis menunjukkan gejala yang menarik bahwa faktor politik tidak memberikan dampak yang berarti terhadap aspek sosial-ekonomi. Keramik Yuan yang ditemukan melimpah di Situs Trowulan --khususnya di Sektor Nglinguk, Sentonorejo, dan Pendopo Agung-- membuktikan bahwa aktivitas pertukaran ataupun perdagangan tetap berlangsung secara efektif. Kelangsungan aktivitas ini diduga terjadi karena penggunaan dua metode pertukaran/ perdagangan, yaitu legal dan illegal, yang dilakukan oleh para pedagang yang sering singgah di Majapahit.
Pelaksanaan Upacara Ritual Dalam Tantrayana Rita Istari
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.045 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.848

Abstract

Salah satu ciri khas kebudayaan di Indonesia, adalah timbulnya proses pembauran atau sintesis antara unsur-unsur tradisi se tempat dengan kebudayaan yang datang dari India. Begitu pula sebaliknya, aliran Tantrayana di Indonesia banyak mendapat pengaruh kebudayaan lokal atau kebudayaan setempat. Kelangsungan aliran Tantrayana sampai sekarang secara samar dapat dijumpai dalam bidang kesenian dan adat istiadat. Sebagai contoh: dalam kesenian Bali, dikenal cerita Calon Arang, Rangdha dan Sarong yang berhubungan dengan ilmu sihir, demikian pula dalam tari-tarian yang memabukkan (Jawa: Tayuban). Sedangkan dalam adat istiadat, dijumpai adanya upacara korban seperti misalnya tabuh rah, metajen dan mecaru. Selain itu upacara memuja arwah nenek moyang dan memohon kesuburan dengan menggunakan candu sebagai sesaji, juga dapat dianggap merupakan sisa-sisa unsur tradisi aliran Tantrayana.
Latar Kepercayaan Yang Mempengaruhi Permukiman Dan Rumah Tengger Di Jawa Timur Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.66 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.849

Abstract

Dalam kehidupan umat manusia religi secara universal selalu mendapat perhatian khusus, apalagi bagi komunitas rnasyarakat yang 'jauh' dari perkembangan peradaban, sebagai contoh adalah masyarakat yang hidup di daerah pegunungan Tengger. Masyarakat ini menjunjung tinggi hal-hal yang berkaitan dengan imanen atau kepercayaan yang diyakini secara turun -temurun. Mengenai latar kepercayaan komunitas ini secara pasti belum diketahui, tetapi pada saat ini masyarakat Tengger yang tinggal di daerah pegunungan (Wong Gunung) telah berkembang agama: Hindhu, Budha, Islam, dan Kristen. Berkembangnya agama-agama tersebut belum banyak mempengaruhi terhadap adat-istiadat dan upacara-upacara tradisional yang mereka lakukan, seperti kasada, karo, dan entas-entas. Upacara adat secara periodic dilakukan setahun sekali oleh seluruh masyarakat Tengger secara bersama-sama baik yang tinggal di pegunungan maupun di bawah (ngare). Kebersamaan sebagai rasa satu saudara (sakturunan) benar-benar tarnpak dalam kegiatan ritual tersebut tanpa memandang latar agama yang dianut.
Imigran Cina: Peranannya Dalam Sejarah Perdagangan Di Indonesia Andi Nuralang
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.599 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.850

Abstract

Golongan etnis Cina di Indonesia seringkali diidentifikasikan sebagai golongan yang mempunyai peranan penting dalam dunia perekonomian di Indonesia. Walaupun sebetulnya tidak semua orang Cina mempunyai bakat dalam dunia bisnis. Berdasarkan bukti-bukti arkeologi yang ditemukan di Indonesia mengisyaratkan bahwa etnis Cina pernah berjaya di Indonesia dan bahkan sampai sekarang. Golongan ini membentuk pemukiman di berbagai daerah di Indonesia dengan aktivitas berdagang, jadi pekerja tambang, serta mempunyai keturunan Indonesia Cina. Dominasi perekonomian oleh migran Cina bukan merupakan bencana buat bangsa Indonesia tetapi merupakan cermin buat Indonesia untuk melangkah ke depan.
Perkotaan Pasuruan Di Era Kolonial Belanda Pada Sekitar Abad XVIII s.d. XIX Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1518.764 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.851

Abstract

Di awal keberadaannya, Pasuruan merupakan kota tradisional yang berkembang akibat adanya pengaruh dari pusat-pusat budaya yang berkembang di sekitamya. Pusat-pusat budaya tersebut antara lain Kerajaan Singasari, Kerajaan Blambangan, Kerajaan Majapahit, dan Kerajaan Mataram. Selain itu terdapatnya pelabuhan tradisional, yang berkembang karena adanya pedagang dari sekitar Pasuruan. Kota tradisional tersebut berpusat pada sebuah alun-alun dengan kantor bupati yang terletak di sebelah utara alun-alun. Selain adanya Masjid Agung yang terletak di sebelah barat alun-alun. Selain pedagang lokal, juga terdapat pedagang asing. Pedagang-pedagang asing tersebut salah satunya adalah Belanda. Pedagang-pedagang Belanda tersebut kemudian menetap dan selanjutnya membuat koloni tersendiri sesuai dengan kepentingannya yaitu untuk mempertahankan eksitensinya. Dengan adanya pedagang asing yang menetap tersebut kemudian muncul permukimannya -- akhirnya menjadi sebuah kota dengan segala fasilitas dan kelengkapannya.
Benteng Balangnipa Di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Pola Tata Ruang Dan Arti Penting Kedudukannya) nfn. Sarjiyanto
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1281.643 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.852

Abstract

Kompleks benteng tidak terlalu luas sehingga hanya ada beberapa bangunan utama yang sederhana. Ini berhubungan dengan fungsi, tingkat kebutuhan ruang serta peranan benteng. Kondisi intern Belanda juga sedang mengalami kemerosotan kekuatan dan ancaman dari luar. Tinggalan artefaktual juga menunjukkan peran (Belanda) dalam pemakaian benteng. Pembangunan benteng mempertimbangkan kepentingan ekonomi dengan berusaha menguasai kerajaan Bone, dan teluk Bone yang strategis. Benteng Balangnipa pernah dimanfaatkan untuk pejuang kemerdekaan RI (angka tahun pada temuan mata uang punya korelasi kuat dalam hal ini), asrama kepolisian, dan saat ini belum dimanfaatkan rencananya untuk museum daerah. Benteng ini terbukti nyata menjadi arti penting khususnya bagi daerah Sinjai dan bagi Belanda ketika hendak menguasai Bone karena kepentingan ekonominya. Tinggalan benteng kolonial yang ada turut memperkaya data sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya kerajaan Bone.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 2 (2022) Vol 42 No 1 (2022) Vol 41 No 2 (2021) Vol 41 No 1 (2021) Vol 17 No 2 (1997) Vol 40 No 2 (2020) Vol 40 No 1 (2020) Vol 13 No 1 (1993) Vol 39 No 2 (2019) Vol 39 No 1 (2019) Vol 38 No 2 (2018) Vol 38 No 1 (2018) Vol 37 No 2 (2017) Vol 37 No 1 (2017) Vol 36 No 2 (2016) Vol 36 No 1 (2016) Vol 35 No 2 (2015) Vol 35 No 1 (2015) Vol 34 No 2 (2014) Vol 34 No 1 (2014) Vol 33 No 2 (2013) Vol 33 No 1 (2013) Vol 32 No 2 (2012) Vol 32 No 1 (2012) Vol 31 No 2 (2011) Vol 31 No 1 (2011) Vol 30 No 2 (2010) Vol 30 No 1 (2010) Vol 29 No 2 (2009) Vol 29 No 1 (2009) Vol 28 No 2 (2008) Vol 28 No 1 (2008) Vol 27 No 2 (2007) Vol 27 No 1 (2007) Vol 26 No 2 (2006) Vol 26 No 1 (2006) Vol 25 No 1 (2005) Vol 24 No 1 (2004) Vol 23 No 2 (2003) Vol 23 No 1 (2003) Vol 22 No 1 (2002) Vol 21 No 2 (2001) Vol 21 No 1 (2001) Vol 20 No 1 (2000) Vol 19 No 2 (1999) Vol 19 No 1 (1999) Vol 18 No 2 (1998) Vol 18 No 1 (1998): Edisi Khusus Vol 17 No 1 (1997) Vol 16 No 2 (1996) Vol 16 No 1 (1996) Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus Vol 15 No 2 (1995) Vol 15 No 1 (1995) Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus Vol 14 No 1 (1994) Vol 13 No 3 (1993): Edisi Khusus Vol 13 No 2 (1993) Vol 12 No 1 (1991) Vol 11 No 1 (1990) Vol 10 No 2 (1989) Vol 10 No 1 (1989) Vol 9 No 2 (1988) Vol 9 No 1 (1988) Vol 8 No 2 (1987) Vol 8 No 1 (1987) Vol 7 No 2 (1986) Vol 7 No 1 (1986) Vol 6 No 2 (1985) Vol 6 No 1 (1985) Vol 5 No 2 (1984) Vol 5 No 1 (1984) Vol 4 No 2 (1983) Vol 4 No 1 (1983) Vol 3 No 1 (1982) Vol 2 No 1 (1981) Vol 1 No 1 (1980) More Issue