cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Arkeologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Arjuna Subject : -
Articles 756 Documents
Perkotaan Pasuruan Di Era Kolonial Belanda Pada Sekitar Abad XVIII s.d. XIX Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1518.764 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.851

Abstract

Di awal keberadaannya, Pasuruan merupakan kota tradisional yang berkembang akibat adanya pengaruh dari pusat-pusat budaya yang berkembang di sekitamya. Pusat-pusat budaya tersebut antara lain Kerajaan Singasari, Kerajaan Blambangan, Kerajaan Majapahit, dan Kerajaan Mataram. Selain itu terdapatnya pelabuhan tradisional, yang berkembang karena adanya pedagang dari sekitar Pasuruan. Kota tradisional tersebut berpusat pada sebuah alun-alun dengan kantor bupati yang terletak di sebelah utara alun-alun. Selain adanya Masjid Agung yang terletak di sebelah barat alun-alun. Selain pedagang lokal, juga terdapat pedagang asing. Pedagang-pedagang asing tersebut salah satunya adalah Belanda. Pedagang-pedagang Belanda tersebut kemudian menetap dan selanjutnya membuat koloni tersendiri sesuai dengan kepentingannya yaitu untuk mempertahankan eksitensinya. Dengan adanya pedagang asing yang menetap tersebut kemudian muncul permukimannya -- akhirnya menjadi sebuah kota dengan segala fasilitas dan kelengkapannya.
Benteng Balangnipa Di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Pola Tata Ruang Dan Arti Penting Kedudukannya) nfn. Sarjiyanto
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1281.643 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.852

Abstract

Kompleks benteng tidak terlalu luas sehingga hanya ada beberapa bangunan utama yang sederhana. Ini berhubungan dengan fungsi, tingkat kebutuhan ruang serta peranan benteng. Kondisi intern Belanda juga sedang mengalami kemerosotan kekuatan dan ancaman dari luar. Tinggalan artefaktual juga menunjukkan peran (Belanda) dalam pemakaian benteng. Pembangunan benteng mempertimbangkan kepentingan ekonomi dengan berusaha menguasai kerajaan Bone, dan teluk Bone yang strategis. Benteng Balangnipa pernah dimanfaatkan untuk pejuang kemerdekaan RI (angka tahun pada temuan mata uang punya korelasi kuat dalam hal ini), asrama kepolisian, dan saat ini belum dimanfaatkan rencananya untuk museum daerah. Benteng ini terbukti nyata menjadi arti penting khususnya bagi daerah Sinjai dan bagi Belanda ketika hendak menguasai Bone karena kepentingan ekonominya. Tinggalan benteng kolonial yang ada turut memperkaya data sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya kerajaan Bone.
Bekas Benteng-Benteng Belanda Di Jawa: Penggunaan Dan "Penyalahgunaannya" Novida Abbas
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (920.911 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.853

Abstract

Tinggalan arkeologis berupa benteng menjadi salah satu permasalahan dalam manajemen sumberdaya budaya. Di satu sisi, terlihat bahwa benteng-benteng tersebut perlu mendapat perhatian dan perlu dilestarikan, tetapi di sisi lain berbagai faktor tampak kurang menunjang upaya ke arah pelestarian tersebut. Diharapkan dengan maraknya minat terhadap pelestarian berbagai warisan budaya, tinggalan berupa benteng pun dapat "tersentuh" oleh upaya tersebut, sebelum yang tertinggal benar-benar hanya sepenggal kisah.
Cover Volume 23 No. 1 Mei 2003 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.314 KB)

Abstract

Frontmatter Volume 23 No. 1 Mei 2003 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.731 KB)

Abstract

Budaya Paleolitik Pegunungan Serayu Di Wilayah Kabupaten Banyumas Muhammad Hidayat
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2090.394 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.856

Abstract

Alat-alat paleolitik seperti yang ditemukan pada aliran Sungai di lingkungan Pegunungan Serayu di Wilayah Kabupaten Banyumas yang terdiri dari kapak perimbas, kapak penetak, dan serpih merupakan alat yang bersifat teknis yaitu peralatan yang digunakan dalam kehidupan sehari-harinya. Hingga saat ini diyakini bahwa jenis artefak tersebut berkaitan dengan aktivitas perburuan dan pengumpulan makanan manusia pendukungnya. Fungsi masing-masing tipe alat-alat paleolitik tersebut secara pasti berkaitan dengan aktivitas tersebut belum dapat diketahui. Berdasarkan ukurannya, diperkirakan alat yang cukup besar dipergunakan untuk pekerjaan yang cukup berat seperti untuk memotong dan membelah benda-benda yang cukup keras. Sementara alat-alat yang beruk:uran relatif kecil dan tipis digunakan untuk memotong, mengiris, maupun menyayat benda-benda yang cukup lunak. Ada kemungkinan bahwa alat-alat paleolitik tersebut tidak berfungsi spesifik namun multi fungsi. Disamping berfungsi langsung sebagai alat perburuan, pengumpulan dan pengolahan makanan, alat-alat tersebut juga digunakan untuk membuat alat lain dari bahan berbeda, seperti kayu atau bambu misalnya.
Artefak Litik Ceruk Layah, Sampung : Kajian Teknoekonomi Indah Asikin Nurani
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2867.598 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.857

Abstract

Aktivitas multi fungsi Gua Lawa meliputi aktivitas pengolahan makan (dapur) yang dibuktikan dengan temuan ekofak (sisa makanan berupa fragmen tulang dan cangkang moluska), aktivitas pembuatan alat (bengkel) dengan bukti temuan artefak baik alat, limbah, maupun bahan baku, dan kubur (temuan rangka manusia). Sedangkan aktivitas tunggal di Ceruk Layah dibuktikan dengan temuan yang didominasi artefak litik baik temuan berupa limbah, produk alat, maupun bahan baku serta batu inti. Perbedaan aktivitas dan di lain pihak kualitas bahan baku di mana semakin tinggi lahan memiliki kualitas baik, menuntut mereka melakukan pengaturan pemanfaatan lahan gua dalam beradaptasi dengan lingkungan alam sekitarnya. Gua Lawa yang memiliki lahan luas dan terletak dekat sungai dimanfaatkan sebagai tempat untuk aktivitas mulit fungsi, sedangkan Ceruk Layah di mana daerah sekitarnya merupakan sumber bahan baku dimanfaatkan sebagai tempat pembuatan alat litik. Berdasarkan perbedaan aktivitas dan kualitas bahan baku tersebut dalam menyiasati dan beradaptasi lingkungan alam sekitarnya, menunjukkan adanya karakter tersendiri dalam pola permukiman yang berlangsung di kawasan ini. Selanjutnya berdasarkan pengamatan teknologi dan tipologi dari Ceruk Layah, menunjukkan bahwa manusia saat itu mengeksploiter alam secara maksimal. Efektivitas energi dan teknologi dalam menghasilkan alat litik tampak tinggi, meskipun secara tipologis cenderung rendah.
Pola Permukiman Megalitik Di Situs Kodedek, Bondowoso Priyatno Hadi Sulistyarto
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2009.434 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.858

Abstract

Berdasarkan kajian permukiman megalitik di situs Kodedek, Bondowoso, Jawa Timur diketahui bahwa eksistensi budaya megalitik di situs tersebut masih kuat. Selain itu, dalam tulisan ini dapat diketahui bagaimana penerapan studi permukiman pada tingkat meso / semi-mikro atau pada satuan ruang tingkat situs. Diharapkan untuk penelitian-penelitian mendatang pada wilayah yang sarna dapat dikaji situs-situs megalitik di kawasan Bondowoso dalam kerangka studi permukiman tingkat makro atau pada satuan ruang tingkat kawasan. Mengingat bahwa di kawasan Bondowoso terdapat situs-situs sejenis dalam jumlah yang banyak.
Kematian, Monumen Kubur, Dan Pelapisan Sosial Masyarakat Di Sumba Timur Diman Suryanto
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1773.855 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.859

Abstract

Status sosial seseorang dapat diketahui dari upacara-upacara yang diadakan pada waktu kematian, di samping dapat pula dilihat dari bentuk kubur kubur atau retinya. Melalui pengarnatan secara diskriptif dapat pula dibedakan antara reti yang mempunyai hiasan dan tanpa hiasan. Adapun hiasan yang umum, adalah pola hias binatang, misalnya kerbau, kura-kura, kadal dan ada pula pola hias manusia. Pola hias ini terdapat di bagian depan dan belakang batu yang disangga. Pola hias kerbau kebanyakan hanya dilukiskan bagian kepala lengkap dengan tanduknya, tetapi kadang-kadang cukup tanduknya saja. Pola hias kerbau, kura-kura dan kadal ini ditemukan di desa Paraiyawang (kecamatan RindiumaluJu). Selain pola hias tersebut di atas ada pula pola hias lingkaran, hiasan tumpal, misalnya ditemukan di desa Lambanapu (kecamatan Paraliu).
Arti Simbolis Pahatan Naga Di Bawah Cerat Yoni Dari Singasari Rita Istari
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1827.907 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.860

Abstract

Yoni yang dibuat dari batu andesit, rupa-rupaoya juga mempunyai arti sendiri-sendiri. Batu untuk yoni dari proses terjadinya dapat digolongkan menjadi empat jenis yaitu: batu amat muda (bala), batu muda (Yuya), batu tengah (Madnya) dan batu tua (wreddha). Di samping itu juga dapat digolongkan menjadi: batu jantan, batu betina dan batu netral. Wama batu juga mempunyai arti sendiri pula yaitu: putih melambangkan kesamaan, merah melambangkan kejayaan, kuning melambangkan kesejahteraan dan hitam melambangkan kesuburan. Batu untuk yoni biasanya jenis batu betina. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa yoni adalah unsur perempuan. Sebagian besar yoni terbuat dari batu andesit wama hitam, hal ini selaras dengan arti yoni sebagai lambing perempuan yang berhubungao dengan kesuburan.

Filter by Year

1980 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 2 (2022) Vol 42 No 1 (2022) Vol 41 No 2 (2021) Vol 41 No 1 (2021) Vol 17 No 2 (1997) Vol 40 No 2 (2020) Vol 40 No 1 (2020) Vol 13 No 1 (1993) Vol 39 No 2 (2019) Vol 39 No 1 (2019) Vol 38 No 2 (2018) Vol 38 No 1 (2018) Vol 37 No 2 (2017) Vol 37 No 1 (2017) Vol 36 No 2 (2016) Vol 36 No 1 (2016) Vol 35 No 2 (2015) Vol 35 No 1 (2015) Vol 34 No 2 (2014) Vol 34 No 1 (2014) Vol 33 No 2 (2013) Vol 33 No 1 (2013) Vol 32 No 2 (2012) Vol 32 No 1 (2012) Vol 31 No 2 (2011) Vol 31 No 1 (2011) Vol 30 No 2 (2010) Vol 30 No 1 (2010) Vol 29 No 2 (2009) Vol 29 No 1 (2009) Vol 28 No 2 (2008) Vol 28 No 1 (2008) Vol 27 No 2 (2007) Vol 27 No 1 (2007) Vol 26 No 2 (2006) Vol 26 No 1 (2006) Vol 25 No 1 (2005) Vol 24 No 1 (2004) Vol 23 No 2 (2003) Vol 23 No 1 (2003) Vol 22 No 1 (2002) Vol 21 No 2 (2001) Vol 21 No 1 (2001) Vol 20 No 1 (2000) Vol 19 No 2 (1999) Vol 19 No 1 (1999) Vol 18 No 2 (1998) Vol 18 No 1 (1998): Edisi Khusus Vol 17 No 1 (1997) Vol 16 No 2 (1996) Vol 16 No 1 (1996) Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus Vol 15 No 2 (1995) Vol 15 No 1 (1995) Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus Vol 14 No 1 (1994) Vol 13 No 3 (1993): Edisi Khusus Vol 13 No 2 (1993) Vol 12 No 1 (1991) Vol 11 No 1 (1990) Vol 10 No 2 (1989) Vol 10 No 1 (1989) Vol 9 No 2 (1988) Vol 9 No 1 (1988) Vol 8 No 2 (1987) Vol 8 No 1 (1987) Vol 7 No 2 (1986) Vol 7 No 1 (1986) Vol 6 No 2 (1985) Vol 6 No 1 (1985) Vol 5 No 2 (1984) Vol 5 No 1 (1984) Vol 4 No 2 (1983) Vol 4 No 1 (1983) Vol 3 No 1 (1982) Vol 2 No 1 (1981) Vol 1 No 1 (1980) More Issue