cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Arkeologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Arjuna Subject : -
Articles 756 Documents
Penyusunan Bangunan Bata Candi Gayatri (Kajian Teknologi Berdasarkan Analisis Laboratorium) Ni Komang Ayu Astiti
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2406.757 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.861

Abstract

Hasil analis laboratoris membuktikan bahwa pada jaman dahulu dalam pembangunan Candi Gayatri sudah memperhatikan kontruksi dan kualitas bahan baku bangunan untuk mendapatkan bangunan candi yang kuat, kokoh dan tahan terhadap gangguan karena faktor lingkungan. Kuat dan kokohnya bangunan candi yang menggunakan bahan utama bata merah tergantung dari kualitas bahan bakunya dan teknologi pembuatnnya. Bata merah yang dipergunakan pada bangunan candi Gayatri ini mempunyai kandungan silikat (SiO2) dan senyawa kapur (CaC03) yang tinggi. Gabungan kedua senyawa ini membuat bata merah menjadi kuat dan kokoh, jika terjadi sebaliknya maka bata merah yang dihasilkan menjadi sangat rapuh dan mudah patah. Suatu bangunan dapat berdiri kokoh dan tahan lama jika pondasi suatu bangunan di buat dengan bahan yang mempunyai kualitas yang tinggi jika dibandingkan dengan kualitas bahan bangunan yang ada di atasnya.
Analisis Teknologi Laboratoris Gerabah Dari Situs Leran Fadhlan S. Intan
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2192.47 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.862

Abstract

Secara umum gerabah dari Situs Leran, Gresik, Jawa Timur, termasuk dalam kategori gerabah dengan kualitas yang cukup baik, dengan ditemukannya mineral mafic dan mineral felsic, yang sangat berpengaruh terhadap warna-wama gerabah. Tingkat kekerasan yang rendah (2-4 Skala Mohs), lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungan tempat gerabah-gerabah tersebut ditemukan, yaitu berada pada suatu lingkungan yang berair, sehingga berpengaruh terhadap ikatan-ikatan antar mineral, yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kekerasan gerabah tersebut.
Islam Dan Sinkretisme Di Jawa nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1479.682 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.863

Abstract

Strategi yang diterapkan oleh para tokoh penyebar Islam, di daerah pesisir utara Jawa berbeda dengan strategi yang diterapkan di beberapa daerah di pedalaman Jawa, yaitu strategi perdagangan merupakan langkah yang dominan, disamping juga dilakukan dengan pendidikan, perkawinan dan rnengadopsi kesenian lokal dengan dimasuki muatan-muatan Islam. Akan tetapi pada periode berikutnya setrategi yang dominan diterapkan oleh para tokoh penyebar Islam di beberapa daerah pedalaman Jawa adalah melalui pendidikan dengan lembaga-lembaga seperti pesantren dan organisasi-organisasi tarekat yang rnerupakan aktualisasi dari ajaran-ajaran tasawwuf. Meskipun demikian, telah berlangsung suatu proses sinkretisasi yang menitik beratkan pada aspek kognitif dan aspek perilaku rnasyarakat jawa, sebagai akibat adanya dua budaya (pra-Islam dan Islam) yang sating bersentuhan, kemudian diolah sedemikian rupa sehinga tidak terjadi adanya pertentangan atau konflik. Dan pada akhirnya Islam dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat Jawa.
Bahaya Disintegrasi Bangsa Akibat Otonomi Daerah Pada Masa Mataram Islam Sambung Widodo
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.052 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.864

Abstract

Pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, pemerintahan raja sebenarnya merupakan hubungan yang hierarkis antara satuan-satuan kekuasaan yang berdiri sendiri, sangat otonom dan dapat mencukupi kebutuhan sendiri, yang secara vertical dihubungkan oleh ikatan-ikatan perorangan diantara beberapa pemegang kekuasaan (bupati). Selain dari ikatan-ikatan penghubung berupa pengabdian dan kesetiaan kepada satu orang yang sama, yaitu raja, nampaknya tidak ada hubungan administrative secara horizontal yang dapat memastikan atau melindungi kemerdekaan para bupati dari satu sama lainnya. Dalam kenyataannya tindakan sewenang-wenang terhadap sesama pejabat raja mudah terjadi bila daya pengawasan pemerintah pusat menjadi lemah. Keadaan yang demikian menggoda para pejabat raja (para bupati) untuk bertindak sewenang-wenang terhadap sesamanya, sebab otonomi yang diberikan kepada para pejabat (bupati) itu disertai dengan hak untuk memiliki Angkatan bersenjata sendiri.
Bentuk Makam-Makam Belanda Di Cilacap Dan Purworejo Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.241 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.865

Abstract

Makam-makam Belanda yang terdapat di Indonesia - khususnya Jawa, lebih khusus lagi di Cilacap dan Purworejo - mempunyai bentuk yang khas. Bentuk-bentuk tersebut sangat berbeda dengan bentuk-bentuk makam orang-orang pribumi pada umumnya. Perbedaan tersebut tidak hanya pada bentuk makam, tetapi juga ukuran, dan variasinya. Dengan mempelajari bentuk-bentuk makam Belanda tersebut dapat diketahui latar belakang adanya perbedaan bentuk makam antara satu individu dengan individu yang lain dalarn masyarakat Belanda di Indonesia.
Tradisi Yang Berkembang Di Seputar Situs Candi Petirtaan Cabean Kunti Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2289.597 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.866

Abstract

Daerah lereng gunung Merapi dan Merbabu, rupa-rupanya merupakan tempat yang sejak jaman dahulu selalu ramai. Di daerah Boyolali pada lereng timur Gunung Merapi banyak dijumpai candi-candi petirtaan, diantaranya situs Cabean Kunti/ Sumur pitu. Tradisi yang masih hidup adalan tradisi Nguras Lepen yang dilakukan secara massal oleh seluruh warga Desa Cabean Kunti, dan tradisi Ngirim Lepen yang dilakukan oleh perorangan. Dua tradisi yang masih hidup sama-sama ditujukan kepada penguasa alam raya/ Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat yang diberikan berupa air yang memberikan kehidupan bagi seluruh warga desa.
Bibliografi Beranotasi Tentang Situs Keraton Ratu Boko Nurhadi Rangkuti
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1819.726 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.867

Abstract

Situs Keraton Ratu Boko yang terletak di alas bukit di daerah Prambanan, Yogyakarta, merupakan peninggalan arkeologi masa Kerajaan Mataram Kuna (abad ke-8-10 Masehi). Kompleks percandian ini terdiri dari tiga kelompok bangunan, yaitu (1) Bagian barat, berupa halaman bertingkat tiga. Ketiga halaman tersebut dihubungkan oleh gapura-gapura yang tertutup (paduraksa). Pada halaman-halaman tersebut terdapat sisa-sisa bangunan yang sekarang sudah dipugar, (2) Bagian tenggara, berupa sekelompok bangunan yang terdiri atas dua bagian. Satu bagian berupa lantai batu dengan pagar keliling dari batu. Bangunan ini disebut "pendopo". Bagian lainnya berupa kolam-kolam dengan bangunan-bangunan yang disebut "keputren", dan di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan kecil berbentuk candi yang terletak di atas kolam-kolam, (3) bagian timurlaut, merupakan tiga buah gua yang terletak di lereng bukit. Selain ketiga kelompok tersebut, masih banyak peninggalan-peninggalan lain yang bentuk maupun fungsinya tidak jelas.
Pemasyarakatan Hasil Penelitian Arkeologi: Sebuah Kerangka Sugeng Riyanto
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2381.282 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.868

Abstract

Tidak akan ada yang menganggap salah jika kegiatan seperti penerbitan hasil penelitian arkeologi, pameran, penyuluhan, pertemuan ilmiah, atau bentuk publikasi yang lain dikategorikan sebagai "pemasyarakatan" hasil penelitian arkeologi. Pada dasarnya kegiatan-kegiatan tersebut adalah upaya untuk menginformasikan hasil penelitian arkeologi kepada masyarakat. Namun tentu saja tujuannya tidak sekedar memberikan informasi tanpa peduli apakah efeknya sesuai dengan yang diharapkan dan direncanakan. Sementara itu informasi menjadi operasional melalui komunikasi. Oleh karena itu penting artinya untuk memandang dan menempatkan pemasyarakatan basil penelitian arkeologi di dalam bingkai prinsip-prinsip komunikasi.
Cover Volume 23 No. 2 November 2003 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.929 KB)

Abstract

Frontmatter Volume 23 No. 2 November 2003 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.593 KB)

Abstract


Filter by Year

1980 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 2 (2022) Vol 42 No 1 (2022) Vol 41 No 2 (2021) Vol 41 No 1 (2021) Vol 17 No 2 (1997) Vol 40 No 2 (2020) Vol 40 No 1 (2020) Vol 13 No 1 (1993) Vol 39 No 2 (2019) Vol 39 No 1 (2019) Vol 38 No 2 (2018) Vol 38 No 1 (2018) Vol 37 No 2 (2017) Vol 37 No 1 (2017) Vol 36 No 2 (2016) Vol 36 No 1 (2016) Vol 35 No 2 (2015) Vol 35 No 1 (2015) Vol 34 No 2 (2014) Vol 34 No 1 (2014) Vol 33 No 2 (2013) Vol 33 No 1 (2013) Vol 32 No 2 (2012) Vol 32 No 1 (2012) Vol 31 No 2 (2011) Vol 31 No 1 (2011) Vol 30 No 2 (2010) Vol 30 No 1 (2010) Vol 29 No 2 (2009) Vol 29 No 1 (2009) Vol 28 No 2 (2008) Vol 28 No 1 (2008) Vol 27 No 2 (2007) Vol 27 No 1 (2007) Vol 26 No 2 (2006) Vol 26 No 1 (2006) Vol 25 No 1 (2005) Vol 24 No 1 (2004) Vol 23 No 2 (2003) Vol 23 No 1 (2003) Vol 22 No 1 (2002) Vol 21 No 2 (2001) Vol 21 No 1 (2001) Vol 20 No 1 (2000) Vol 19 No 2 (1999) Vol 19 No 1 (1999) Vol 18 No 2 (1998) Vol 18 No 1 (1998): Edisi Khusus Vol 17 No 1 (1997) Vol 16 No 2 (1996) Vol 16 No 1 (1996) Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus Vol 15 No 2 (1995) Vol 15 No 1 (1995) Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus Vol 14 No 1 (1994) Vol 13 No 3 (1993): Edisi Khusus Vol 13 No 2 (1993) Vol 12 No 1 (1991) Vol 11 No 1 (1990) Vol 10 No 2 (1989) Vol 10 No 1 (1989) Vol 9 No 2 (1988) Vol 9 No 1 (1988) Vol 8 No 2 (1987) Vol 8 No 1 (1987) Vol 7 No 2 (1986) Vol 7 No 1 (1986) Vol 6 No 2 (1985) Vol 6 No 1 (1985) Vol 5 No 2 (1984) Vol 5 No 1 (1984) Vol 4 No 2 (1983) Vol 4 No 1 (1983) Vol 3 No 1 (1982) Vol 2 No 1 (1981) Vol 1 No 1 (1980) More Issue