cover
Contact Name
Tanendri Arrizqiyani
Contact Email
p3m@stikes-bth.ac.id
Phone
+6281321180268
Journal Mail Official
jkbth@stikes-bth.ac.id
Editorial Address
Jl.Cilolohan No 36 Tasikmalaya
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
ISSN : 1979004X     EISSN : 26214660     DOI : https://dx.doi.org/10.36465
Core Subject : Health,
This is the an open access journal specialized in Nursing Sciences, Health Analyst, Pharmacy and other relevant fields JKBTH was registered e-ISSN: 2621-4660 with SK no. 0005.26214660/JI.3.1./SK.ISSN/2018 and p-ISSN : 1979-004X with SK no. 0005.07/Jl.3.02/SK.ISSN/2008. JKBTH which was established in 2019 and published 2 (two) times a year in February and August, has been accredited by Directorate General of Higher Education (DGHE) Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia.
Articles 361 Documents
IDENTIFIKASI BAKTERI POTENSIAL PENGHASIL ENZIM AMILASE, SELULASE, XILANASE DAN LIPASE PADA FASE TERMOFILIK KOMPOS MANUR SAPI Fatmawati, Fenti; Warganegara, Fida Madayanti; Puspasari, Made
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 16, No 1 (2016): Agustus 2016
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.236 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v16i1.168

Abstract

Kebutuhan akan enzim di Indonesia cukup besar namun pasokannya masih dipenuhi oleh impor. Keaneka ragaman hayati di Indonesia yang begitu melimpah dapat menjadi alternatif dalam mencari sumber- sumber enzim potensial yang banyak digunakan dalam industri. Amilase, selulase, xilanase dan lipase merupakan enzim yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kompos dari kotoran sapi adalah kompos yang menggunakan limbah kotoran sapi sebagai bahan campurannya. Proses pengomposan dapat terbagi menjadi beberapa tahap yaitu fase mesofilik awal, fase termofilik, mesofilik akhir dan fase pematangan. Perbedaan fase tersebut berdasarkan atas perbedaan suhu yang menyebabkan perubahan komunitas bakteri di dalamnya. Pada fase termofilik terjadi peningkatan suhu yang signifikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bakteri potensial yang dapat menghasilkan enzim amilase, selulase, xilanase dan lipase pada fase termofilik kompos manur sapi. Pada penelitian ini dilakukan isolasi mikroba pada fase termofilik lalu dilakukan skrining enzim. Kemudian dilakukan identifikasi secara genetik dengan metode penentuan urutan nukleotida gen 16S rRNA untuk mengetahui spesies bakteri tersebut. Dari hasil skrining dipilih koloni bakteri F3A pada fase termofilik dimana bakteri tersebut dapat menghasilkan enzim amilase, selulase, xilanase dan lipase. Koloni bakteri tersebut memiliki ukuran sebesar 20.000 pb. DNA kromosom hasil isolasi ini selanjutnya digunakan sebagai templat dalam proses PCR untuk mendapatkan gen secara utuh. Hasil PCR menunjukkan bahwa proses amplifikasi telah berhasil dilakukan yang ditunjukkan diperolehnya ukuran fragmen DNA yang berukuran 1500 pb. Setelah diamplifikasi lalu dilakukan sequensing. Berdasarkan urutan homologi dengan analisis BLAST dan analisis filogenetik dengan menggunakan program MEGA 5 diketahui bahwa bakteri F3A memiliki kemiripan 93% dengan Ureibacillus thermosphaericus.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG POSYANDU YANG MEMILIKI BALITA DENGAN KUNJUNGAN POSYANDU DI DESA PAYUNG AGUNG KECAMATAN PANUMBANGAN KABUPATEN CIAMIS Winda, Nova
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 19, No 2 (2019)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.659 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v19i2.498

Abstract

Posyandu merupakan salah satu pelayanan kesehatan di desa yang memudahkan masyarakat untukmengetahui atau memeriksakan kesehatan terutama ibu hamil dan anak balita. Keaktifan keluarga padasetiap kegiatan posyandu tentu akan berpengaruh pada keadaan status gizi anak balitanya, karena salahsatu tujuan posyandu adalah memantau peningkatan status gizi masyarakat terutama anak balita danibu hamil. Posyandu menjadi pelayanan kesehatan penting untuk bayi dan balita yang paling awal,namun pada kenyataannya di posyandu warga masyarakat sendiri banyak yang tidak memanfaatkanposyandu untuk memantau tumbuh kembang anakaya dengan alasan sibuk kerja atau tidak sempatmembawa anak balitanya ke posyandu dan kurangnya pengetahuan tentang pentingnya pemantauantumbuh dan kembang pada anak balita. Penelitian ini bertujuan untuk hubungan tingkat pengetahuanibu tentang posyandu yang memiliki balita dengan kunjungan posyandu di Desa Payung AgungKecamatan Panumbangan Kabupten Ciamis. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatifkuantitatif deagan metode deskriptif analitik. Pelaksanaan penelitian pada bulan April-Mei 20I6dengan sampel sebanyak 76 responden. Instrumen menggunakan kuesioner. Kesimpulan dari hasilpenelitian ini adalah sebagian besar responden 52,6% memiliki pengetahuan baik, sehingga ibu datangke posyandu sedangkan sebagian kecil 22,4% memiliki pengetahuan kurang sehingga ibu tidak datangke posyandu. Saran yang dapat peneliti berikan diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukanbagi Dinas Kesehatan untuk lebih meningkatkan Program posyandu di desa-desa dan diharapkan agaribu lebih disiplin untuk datang ke posyandu agar ibu bisa mengetahui tumbuh kembang balitanya.
DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL 70% DAUN ASHITABA (Angelica keiskei) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus YANG DIISOLASI DARI LUKA DIABETES Suhartati, Rochmanah; Virgianti, Dewi Peti
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v14i1.126

Abstract

Ashitaba (Angelica keiskei) merupakan salah satu jenis tanaman obat,tanaman ini merupakan tanaman introduksi yang belum banyak dikenal di Indonesia sedangkan di Jepang tanaman ashitaba dikonsumsi sebagai sayuran, tanaman ini merupakan sayuran yang populer, berpotensi sebagai antibakteri, antijamur, antitumor, antiinflamasi. Tanaman ini mirip dengan seledri hanya memiliki perawakan lebih besar sehingga di Indonesia khususnya di Jawa Barat dikenal dengan nama seledri Jepang atau seledri Raja.Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan daya hambat ekstrak etanol 70% daun ashitaba terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus dan mengetahui nilai Minimun Inhitirory Concentration (MIC) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Metode yang digunakan difusi agar Kirby Bauer dengan kontrol positif antibiotik tetrasiklin 0,01g/mL dan kontrol negatif pelarut akuades steril. Parameter yang diukur ialah besarnya diameter daya hambat yang terbentuk disekitar kertas cakram. Ekstraksi daun Ashitaba dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% diperoleh ekstrak kental sebanyak 33,67%. Variasi konsentrasi ekstrak yang digunakan (1,0; 0,8; 0,6; 0,4; 0,2; 0,1; 0,08; 0,06; 0,04; 0,02; 0,01)g/mL dengan ulangan sebanyak 4 kali.Hasil penelitian menunjukan rata-rata diameter daya hambat yang terbentuk dengan perlakuan ekstrak konsentrasi1,0; 0,8; 0,6; 0,4; 0,2; 0,1; 0,08; 0,06; 0,04; 0,02; 0,01 g/mL secara berturut-turut ialah18,06; 16,01, 13,55; 12,24; 11,26; 10,50; 9,90, 0,00; 0,00; 0,00; dan 0,00 mm. Sedangkan rata-rata diameter hambat untuk kontrol positif tetrasiklin 0,01 mg/mL adalah 29,05 mm dan kontrol negatif Aquadest adalah 0,00 mm. Nilai MIC ekstrak etanol 70% daun ashitaba terhadap bakteri S. aureus adalah 0,1g/mL.Penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% daun ashitaba memiliki perbedaan daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus pada konsentrasi 0,1 -1,0g/mL dan nilai MIC adalah 0,1g/mLKata kunci : Ashitaba, Angelica keiskei, S. aureus.
PENGALAMAN MENJADI IBU DI USIA DINI DI DESA LEO-LEO RAO, KECAMATAN MOROTAI SELATAN BARAT, KABUPATEN PULAU RAO, PROVINSI MALUKU UTARA Nusawakan, Arwyn Weynan
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : STIKes BTH Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.689 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v18i1.306

Abstract

Pernikahan yang ideal bagi seorang perempuan adalah umur 21-25 tahun hal ini dikarenakan pada usia tersebut organ reproduksi perempuan sudah berkembang dengan baik dan matang. Namun pada kenyataannya masih banyak kita jumpai pernikahan pada usia dini atau dibawah umur, padahal perkawinan yang sukses membutuhkan kedewasaan tanggungjawab secara fisik maupun mental untuk bisa mewujudkan harapan yang ideal dalam kehidupan berumah tangga. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan pengalaman menjadi ibu di usia dini di Desa Leo-Leo Rao, Kecamatan Morotai Selatan Barat, Kabupaten pulau Rao, Provinsi Maluku Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara, dan validasi data menggunakan triangulasi teknik yaitu mengobservasi keseharian partisipan. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan pada Mei 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menikah diusia dini mengalami ketidaksiapan untuk menjadi ibu, dikarenakan usia ibu yang masih muda. Ibu juga dapat mengalami permasalahan saat kehamilan dan persalinan seperti melahirkan sebelum waktunya (prematur), perdarahan dan keguguran akibat kondisi fisik ibu yang belum siap untuk melakukan persalinan. Disisi lain ibu juga mengalami kesusahan saat akan memberi ASI terhadap bayinya karena ibu tidak tahu bagaimana cara memposisikan bayi saat menyusui, dan beberapa ibu mengalami ASI tidak keluar. Pengetahuan mengenai IMD (Inisiasi Menyusui Dini) juga masih sangat kurang karena rata-rata tingkat pendidikan ibu hanya sampai tingkat SD dan SMP.
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA INFUSUM TEH HIJAU DAN TEH HITAM (Camellia sinensis (L.) Kuntze) TERHADAP Escherichia coli DAN Candida albicans Redjeki, Sri
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.459 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v11i1.50

Abstract

Teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) mengandung senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antimikroba, sehingga dilakukan pengkajian lebih lanjut. Teh hijau dan teh hitam diekstraksi dengan infundasi, kemudian diuji aktivitasnya terhadap Escherichia coli dan Candida albicans dengan menggunakan metode difusi agar. Hasil menunjukan bahwa teh hijau memiliki nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) 15% terhadap Escherichia coli setara dengan 0,85% Tertrasiklin HCl, dan konsentrasi hambat minimum 20% terhadap Candida albicans setara dengan 0,89% Nistatin. Teh hitam memiliki konsentrasi hambat minimum 19% terhadap Escherichia coli setara dengan 0,6% Tertrasiklin HCl, dan konsentrasi hambat minimum 20% terhadap Candida albicans setara dengan 0,85% Nistatin. Jadi teh hijau dan teh hitam memiliki aktivitas antimikroba lebih besar terhadap Escherichia coli dibandingkan Candida albicans,dan teh hijau memiliki aktivitas lebih besar dibandingkan teh hitam. Kata kunci       :           Teh hitam, Teh hijau, Escherichia coli, Candida albicans,KHM.
UJI EFEKTIVITAS ANTIOKSIDAN KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN KATUK (Sauropus androgynus (L) Merr) TERHADAP DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil) Nurdianti, Lusi
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 17, No 1 (2017)
Publisher : STIKes BTH Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.182 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v17i1.194

Abstract

Daun katuk ( Sauropus androgynous (L) Merr ) adalah tanaman sayuran yang banyak terdapat di Asia Tenggara ( Utami, 2008). Penelitian ini mengenai aktivitas antioksidan senyawa flavonoid dari daun katuk telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai IC50, sifat fisik dan kimia serta aktivitas antioksidan krim ekstrak etanol daun katuk dibandingkan dengan kontrol negatif formula yang tanpa ekstrak. Penelitian ini dilakukan dengan metode DPPH secara spektrofotometri pada λ maks 516 nm. Krim terdiri dari 4 formula dengan variasi konsentrasi ekstrak daun katuk yaitu F1 tanpa ekstrak, F2 1%, F3 2% dan F4 3% terhadap total bobot krim. Evaluasi sifat fisik dan kimia meliputi uji organoleptik, pH, viskositas dan uji hedonik, dilakukan juga pengujian tipe emulsi serta uji aktivitas antioksidan dari formula terbaik dengan metode DPPH. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa aktivitas antioksidan dari ekstrak daun katuk adalah sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 32,04 ppm, sedangkan aktivitas antioksidan dari formula terbaik secara stabilitas penyimpanan selama 28 hari adalah formula 4 dengan nilai IC50 sebesar 55,85 ppm dengan konsentrasi ekstrak daun katuk 3%
PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN SIRSAK (Annona muricata Linn) SELAMA 28 HARI TERHADAP KADAR KREATININ, BUN, SGPT, SGOT SERTA PROTEINUREA DAN BILIRUBIN Nofianti, Tita
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.442 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v13i1.19

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian infusa daun sirsak (Annona muricata Linn) pada mencit jantan galur swiss webster terhadap kadar kreatinin, Blood Urea Nitrogen (BUN), SGOT, SGPT, Proteinurea dan Biliruin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian infusa daun sirsak selama 28 hari terhadap parameter kerusakan fungsi ginjal dan fungsi hati. Penelitian ini menggunakan 15 ekor mencit jantan, yang dibagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok normal (diberi air putih), kelompok dosis uji I (0,011 g/20 g BB mencit), dan kelompok dosis uji II (0,022 g/20 g BB mencit). Kadar proteinurea diukur dengan metode dipstik menggunakan sampel urin pagi, hasil pengamatan menunjukkan tidak adanya pengaruh pemberian infusa daun sirsak terhadap proteinurea. Pengamatan kualitatif bilirubin dengan menggunakan carik celup (dip-and-read test strip, reagen strip), diperoleh hasil yang negatif terhadap semua kelompok mencit, artinya urin daripada mencit mulai dari kelompok normal, kelompok dosis uji I dan kelompok dosis uji II tidak mengandung bilirubin. Sampel darah yang digunakan dalam pemeriksaan biokimia darah ini diambil melaui vena jugularis, kemudian disentrifuge dan diambil serumnya sebagai sampel pemeriksaan. Berdasarkan uji statistik pemeriksaan biokimia darah menunjukkan bahwa pemberian infusa daun sirsak dengan dosis 0,011 g/20 g BB dan dosis 0,022 g/20 g BB mencit selama 28 hari tidak mempengaruhi kadar kreatinin dan Blood Urea Nitrogen (BUN), SGOT SGPT. Kata kunci : Kreatinin, Blood Urea Nitrogen (BUN), Proteinurea, SGOT, SGPT, Bilirubin, Infusa Daun Sirsak
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERAWEATAN BAYI BARU LAHIRMPADA IBU PRIMIPARA DI R. 7 RSUD DR. SOEKARDJO TASIKMALAYA Nurliawati, Enok
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 16, No 1 (2016): Agustus 2016
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.249 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v16i1.159

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ibu primipara pada umumnya mempunyai kesulitan dalam melakukan perawatan bayi baru lahir karena belum mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang kurang memadai. Pengetahuan ibu yang rendah beresiko tinggi terjadinya masalah kesehatan pada bayi baru lahir mereka dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan yang tinggi. Adapun tujuanya adalah untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat pengetahuan tentang perawatan bayi baru lahir pada ibu primipara. Desain penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif dan pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling dalam waktu empat minggu. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan kurang yaitu sebanyak 64 orang (50.79%), mempunyai tingkat pengetahuan cukup sebanyak 49 orang (38.89%) dan sebagian kecil yaitu sebanyak 13 orang (10.32%) mempunyai tingkat pengetahuan baik. Disarankan bagi petugas kesehatan terutama perawat atau bidan yang bertugas dibagian nifas diharapkan dapat memberikan penyuluhan tentang perawatan bayi baru lahir terutama untuk ibu post partum primipara.
PERAN PUSKESMAS DALAM IDENTIFIKASI DINI PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA LANSIA Sujana, Treesia
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 19, No 1 (2019): .
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.601 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v19i1.456

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya glukosa darah didalam tubuh yang disebabkan karena jumlah insulin yang kurang. DM banyak terjadi pada kelompok lanjut usia (lansia) yang disebabkan faktor degeneratif. Angka kejadian DM pada lansia cukup banyak terjadi oleh karena itu dibutuhkan identifikasi dini penyakit  DM khususnya di Puskesmas. Puskesmas berperan untuk mengenali tanda dan gejala DM melalui program-program yang di jalankan Puskesmas sehingga peningkatan prevalensi DM pada lansia dapat di cegah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana peran tenaga kesehatan di Puskesmas dalam mengidentifikasi dini penyakit DM pada lansia di Halmahera Utara Kecamatan Tobelo. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 4 orang yang ditentukan dengan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara, kemudian data diolah dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mendapatkan empat tema yaitu (1)peran tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan pada lansia, (2) program Puskesmas pada lansia dengan DM (3) kendala dalam mengidentifikasi penyakit DM pada lansia dan (4) pengalaman perawat dalam menangani penyakit DM pada lansia. Kesimpulan dari penelitian ini adalah peran Puskesmas dalam mengidentifikasi dini penyakit Diabetes Melitus pada lansia sudah terlaksanakan di Puskesmas Tobelo melalui perannya sebagai edukator, konsultan, dan kolabolator dalam memberikan pelayanan. Kata Kunci: DM, Lansia, Program Puskesmas
EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN KECOMBRANG (Etlingera elatior) SEBAGAI ANTIOVIPOSISI NYAMUK Aedes aegypti Virgianti, Dewi Peti; Masfufah, Shofi
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.117 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v14i1.117

Abstract

Kecombrang (Etlingera elatior) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai biopeptisida. Kecombrang mengandung senyawa flavonoid dan saponin. Selain itu, kecombrang juga mengandung polifenol dan minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak daun kecombrang sebagai antioviposisi nyamuk Aedes aegypti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Digunakan 75 ekor nyamuk Aedes aegypti betina yang telah kenyang darah (blood feed). Konsentrasi ekstrak daun kecombrang (Etlingera elatior) yang digunakan yaitu 15%, 20%, 25%, dan 30% dengan tiga kali pengulangan perlakukan. Masing-masing perlakuan digunakan 25 ekor nyamuk. Pengamatan dilakukan setiap hari selama tiga hari setelah perlakuan dengan menghitung jumlah telur yang ada. Sehingga diperoleh hasil rata-rata persentase telur yang diletakkan nyamuk Aedes aegypti pada ekstrak daun kecombrang adalah 19,6% pada konsentrasi 15%; 3,6% pada konsentrasi 20%; 2,3% pada konsentrasi 25%; dan 1,6% pada konsentrasi 30%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa konsentrasi ekstrak daun kecombrang (Etlingera elatior) dengan konsentrasi lebih dari 15% efektif sebagai antioviposisi nyamuk Aedes aegypti. Kata kunci : Etlingera elatior, Aedes aegypti, antioviposisi.

Page 10 of 37 | Total Record : 361