cover
Contact Name
Ahmad Nimatullah Al-Baarri, PhD
Contact Email
redaksi@ift.or.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi@ift.or.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 4 (2015): November 2015" : 5 Documents clear
Peningkatan Akseptabilitas Susu Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) dengan Adisi Bahan Penstabil dan Jus Jahe Chiara Wijaya; Leonardus Broto Sugeng Kardono; Jeremia Manuel Halim
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.647 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v4i4.1

Abstract

Rendahnya atensi masyarakat terhadap pemanfaatan kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) sebagai sumber protein alternatif disebabkan oleh rasa langu dari biji kecipir yang telah diproses. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan akseptabilitas susu kecipir dengan penambahan bahan penstabil dan jus jahe. Metode blansir dengan air panas maupun uap secara signifikan tidak mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap aroma, rasa, viskositas, dan akseptabilitas susu kecipir secara keseluruhan. Evaluasi terhadap efek berbagai rasio biji kecipir dengan air dan konsentrasi bahan penstabil pada stabilitas susu kecipir serta tingkat penerimaan konsumen menunjukkan bahwa susu yang dibuat dengan rasio 1:8 (biji kecipir:air) memiliki laju pengendapan terendah sebesar 0,0002±0,0001 ppm/m dan sifat organoleptik yang lebih disukai konsumen. Hasil uji Consumer Rejection Threshold (CRT) untuk konsentrasi jus jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah yang ditambahkan ke dalam formulasi susu kecipir masing-masing adalah 26,91%, 12,27%, dan 5,57%. Tingkat akseptabilitas susu kecipir yang dibuat dengan rasio 1:8 (biji kecipir:air), 0,01% kappa karagenan, dan 12,27% jus jahe emprit meningkat secara signifikan. Hasil uji fisikokimia menunjukkan bahwa susu kecipir yang dihasilkan memiliki nilai kecerahan warna 52,75, viskositas 16,18 mPa.s, pH 6,92, kandungan total fenol 0,27 mg EAG/g sampel, kandungan flavonoid 0,24 mg EK/g sampel, kapasitas antioksidan sebesar 14,53 mg EVC/L sampel (26,62% SA), dan kandungan tanin sebesar 0,24 mg EK/g sampel. Kandungan total padatan, protein, dan lemak dalam susu kecipir; yaitu masing-masing sebesar 10,29%, 1,58%, dan 0,88% membuat produk ini memenuhi standar dan dapat disetarakan dengan produk minuman berbasis kedelai lainnya; namun kandungan nutrisinya masih lebih rendah daripada susu kedelai.
Evaluasi Pertumbuhan Isolat Probiotik (L. casei dan L. plantarum) dalam Medium Fermentasi Berbasis Ubi Jalar (Ipomoea batatas l.) Selama Proses Fermentasi (Kajian Jenis Isolat dan Jenis Tepung Ubi Jalar) Irma Sarita Rahmawati; Elok Zubaidah; Ella Saparianti
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.092 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v4i4.3

Abstract

Ubi Jalar mengandung komponen serat fraksi oligosakarida seperti raffinosa, verbakosa, dan stakhiosa yang berpotensi sebagai prebiotik, yaitu subtrat yang dapat menstimulasi pertumbuhan bakteri probiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan viabilitas bakteri probiotik seperti L. plantarum dan L. casei pada medium fermentasi berbasis tepung ubi jalar dan untuk mengetahui perubahan komponen tepung ubi jalar dari tiga jenis ubijalar selama proses fermentasi.  Penelitian ini menggunakan dua faktor: jenis bakteri probiotik (L. casei dan L. plantarum) dan jenis tepung ubi jalar (tepung ubi jalar putih, kuning dan ungu). Data dianalisis dengan ANNOVA dengan nilai α<5%. Perlakuan terbaik dipilih dengan metode Multiple atrribute. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan jenis ubi jalar mempengaruhi viabilitas L. casei dan L. plantarum selama proses fermentasi. Perbedaan jenis tepung ubi jalar secara signifikan berbeda nyata terhadap nilai pH, total asam, total BAL, gula reduksi sedangkan perbedaan jenis bakteri probiotik sangat mempengaruhi nilai pH, total asam, total BAL, total gula, serat kasar, gula reduksi, total nitrogen dan kadar pati. Perbedaan jenis tepung ubi jalar dan bakteri probiotik memiliki perbedaan signifikan (nilai α<1%)  terhadap pH, total asam, total BAL dan gula reduksi. Perlakuan terbaik adalah medium terfermentasi dari tepung ubi jalar ungu (10% b/v) oleh L. plantarum dengan total BAL yaitu 1,55x1010 CFU/ml, total asam 0,953%, nilai pH 4,267 total gula 1,647%, kadar pati 2,567%, serat kasar 0,066%, gula reduksi 3,139% dan total N 0,023%.
Pengaruh Whey dan Ekstrak Buah terhadap Total Bakteri Asam Laktat, Nilai pH, dan Adhesiveness Yoghurt Wihardi Wihardi; Setya Budi Muhammad Abduh; Ahmad Ni’matullah Al-Baarri; Yoyok Budi Pramono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.756 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v4i4.4

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh whey dan ekstrak buah, antara lain alpukat, salak, dan lengkeng dalam yoghurt untuk Bakteri Asam Laktat (BAL), pH, dan adhesiveness yoghurt bahan baku susu peternakan rakyat. Yoghurt dibuat melalui beberapa langkah, yaitu formulasi, inaktivasi bakteri oleh sistem Lactoperoxidase (LPOs) selama 30 menit, BAL inokulasi pada 3% (v/v), dan inkubasi pada 37°C selama 4 jam. Sebagai perlakuan, yoghurt diperkaya dengan whey dan ekstrak buah (3%, v/v) sebelum inaktivasi oleh bakteri. BAL, pH, dan adhesiveness diamati setiap jam. Kualitas yoghurt yang diperkaya dengan whey, alpukat, salak, dan lengkeng diukur pada jam ke-4 inkubasi. BAL untuk whey, alpukat, salak, lengkeng dan yoghurt kontrol masing-masing adalah 7,01; 7,21; 7,19; 7,13; dan 7,17 log CFU/ml. Nilai pH yang diperoleh untuk whey, alpukat, salak, lengkeng dan kontrol yoghurt masing-masing adalah 5,11; 4,61; 4,68; 4,67; dan 4,77, sedangkan adhesiveness masing-masing 2,56; 3,13; 2,70; 3,13; 2,96 gs. Semua hasil antar perlakuan tidak berbeda nyata. Dapat disimpulkan bahwa tambahan whey dan ekstrak buah-buahan di yoghurt memberikan kualitas yang sama (P> 0,05) dan memenuhi SNI. Selain itu, ekstrak alpukat di yoghurt mengakibatkan tingkat pertumbuhan tercepat spesifik inokulum, yaitu sebesar 0,67 CFU/s.
Perubahan Kelembaban dan Kadar Air Teh Selama Penyimpanan pada Suhu dan Kemasan yang Berbeda Aninda Ayu Arizka; Joko Daryatmo
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.912 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v4i4.6

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengemasan dan suhu penyimpanan terhadap kualitas teh hitam dan teh hijau. Kemasan yang digunakan untuk mengemas kedua teh ini adalah plastik bening, karung plastik, dan paper sack. Masing-masing teh dengan kemasan tersebut disimpan selama 10 minggu pada suhu 30oC dan 10oC. Variabel primer yang akan dianalisis adalah kelembaban dan kadar air teh pada beberapa jenis kemasan dan pada suhu penyimpanan yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa selama penyimpanan, kadar air teh dalam kemasan bertambah karena pengaruh kelembaban udara dan suhu ruangan penyimpanan. Penyimpanan teh pada suhu 10oC dinilai lebih mampu mempertahankan kualitas teh hijau dan berpotensi mempertahankan kualitas teh hitam dibandingkan penyimpanan pada suhu 30oC. Dibandingkan dengan plastik bening dan karung plastik, kemasan paper sack merupakan kemasan yang berpotensi paling baik dalam mempertahankan kualitas teh hitam dan teh hijau. Semakin rendah permeabilitas suatu kemasan, maka semakin tinggi kemampuan kemasan mencegah peningkatan kadar air.
Perbedaan Karateristik Oligofruktosa dan Komposisi Serat Inulin Hasil Hidrolisis dan tanpa Hidrolisis Enzim Inulinase Acremonium Sp-Cbs3 dari Umbi Dahlia Merah (Dahlia sp. L) Lokal untuk Anti Kolesterol Agustine Susilowati; Puspa D Lotulung; Yetti Mulyati Iskandar; Aspiyanto Aspiyanto
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.782 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v4i4.5

Abstract

Fruktooligosakarida (FOS) yang dihasilkan oleh umbi dahlia merah (Dahlia sp. L) Sukabumi melalui ekstraksi secara kimia maupun hidrolisis enzimatik berpotensi sebagai serat larut air (SDF) untuk anti kolesterol. Ekstraksi inulin secara kimia dihasilkan inulin A, sedangkan hidrolisis enzimatik dilakukan terhadap inulin A menggunakan enzim inulinase kasar kapang Acremonium sp-CBS3 dihasilkan hidrolisat inulin B. Karakterisasi dilakukan terhadap komposisi kimia dan idensifikasi oligomer menggunakan LCMS. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan komposisi dan karateristik oligomer kedua bahan tersebut. Berdasarkan intensitas dan jumlah keluaran peak pada kromatogram diketahui bahwa hidrolisat inulin B lebih banyak menghasilkan peak (5) dibandingkan dengan inulin tanpa hidrolisis(A) (1 peak). Pada keadaan ini hidrolisat inulin menghasilkan oligomer dengan intensitas 100% berturut-turut sebagai T 1,9, T 2,4, T 2,6, T 3,1 danT 3,4 yang di dominasi oligomer berberat molekul berturut-turut sebesar 186, 202, 174, 174 dan 174 Da dengan kata lain oligomer berberat molekul 174 Da lebih mendominasi dibandingkan oligomer yang lain, sedangkan gel inulin didominasi oligomer berberat molekul lebih tinggi (181 Da) yang ditunjukkan pada mass spektra dari T 3,3. Hal ini menunjukkan bahwa  perolehan SDF melalui hidrolisis menggunakan kapang Acremonium sp-CBS3 menghasilkan oligomer dengan berat molekul rata-rata yang lebih rendah sehingga dimungkinkan lebih tinggi sifat fungsionalnya sebagai anti kolesterol

Page 1 of 1 | Total Record : 5